Review: The Guys (2017)

Lewat Hangout (2016), Raditya Dika memberikan kejutan pada banyak penikmat film Indonesia. Thriller comedy yang kemudian berhasil mengundang hampir tiga juta penonton selama masa penayangannya tersebut membuktikan bahwa pengarahan Dika mampu tumbuh dewasa dengan baik sekaligus memberikan warna baru bagi penceritaan komedi yang memang telah begitu melekat pada dirinya. Film terbaru arahan Dika, The Guys, juga hadir dengan nada pengisahan yang sama dewasanya dengan Hangout meskipun Dika kembali menghadirkan sajian komedi romansa dalam naskah cerita yang ia garap bersama Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro – dua penulis naskah yang sebelumnya telah bekerjasama dengan dirinya lewat Single (2015). Sayangnya, naskah yang sepertinya berusaha untuk menyentuh begitu banyak problema dari karakter-karakternya membuat pengarahan Dika terasa kehilangan banyak fokus yang berujung pada kegagalan The Guys untuk tampil dengan pengisahan yang lebih tajam. Continue reading Review: The Guys (2017)

Advertisements

Review: Night Bus (2017)

Film terbaru arahan Emil Heradi (Sagarmatha, 2013) adalah sebuah spesies langka pada industri perfilman Indonesia. Seperti halnya Get Out – debut pengarahan Jordan Peele yang dirilis di minggu yang sama di Indonesia – Night Bus adalah sebuah thriller yang naskah ceritanya digarap kental dengan sentuhan isu sosial dan politik yang jelas terinspirasi dari berbagai situasi yang pernah maupun tengah dihadapi oleh banyak lapisan masyarakat Indonesia. Tenang, tidak seperti kebanyakan film Indonesia bermuatan “pesan moral” yang sama dan lantas sering terasa sebagai presentasi yang menjemukan, Heradi mampu menggarap Night Bus menjadi sajian cerita penuh ketegangan yang sama sekali tidak pernah kehilangan pegangannya pada bangunan konflik yang menjadi perhatian utama bagi film ini. Sebuah eksekusi yang jelas terasa begitu menyegarkan. Continue reading Review: Night Bus (2017)

Review: Get Out (2017)

Dikenal sebagai separuh nyawa dari duo komedian Key & Peele yang, bersama dengan Keegan-Michael Key, memiliki serial televisi berjudul sama yang pernah memenangkan Emmy Awards, Jordan Peele melakukan debut pengarahan film layar lebarnya lewat Get Out. Namun, berbeda dengan Key & Peele atau imej komedian yang selama ini melekat pada dirinya, Get Out adalah sebuah thriller mencekam yang menjanjikan momen-momen menegangkan bagi para penontonnya. Jika ingin dilirik dari susunan materi yang ingin disampaikan, Get Out sebenarnya tidak menawarkan sebuah formula yang benar-benar baru dalam pengisahannya. Meskipun begitu, Peele secara berani menyelipkan isu sosial mengenai pandangan ras masyarakat Amerika Serikat ke dalam naskah cerita yang ia susun. Ditambah dengan kecerdasannya dalam mengarahkan sekaligus menjaga intensitas cerita, Peele berhasil menyajikan sebuah thriller yang efektif sekaligus akan cukup sanggup menjadi refleksi sosial bagi mereka yang menyaksikan. Continue reading Review: Get Out (2017)

Review: Labuan Hati (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Salawaku, 2017), film terbaru arahan Lola Amaria (Jingga, 2016), Labuan Hati, berkisah mengenai pertemuan sekaligus perkenalan yang tidak disengaja antara Indi (Nadine Chandrawinata) dan Bia (Kelly Tandiono) ketika keduanya sama-sama sedang berliburan di Labuan Bajo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Bia adalah seorang ibu beranak satu yang sedang melarikan diri dari permasalahan pernikahannya sementara Indi adalah seorang wanita yang telah bertunangan dengan sosok pria yang sepertinya berusaha untuk mengatur setiap sisi kehidupan wanita tersebut. Melihat Indi yang sedang berlibur sendirian, Bia akhirnya mengajak Indi untuk ikut dalam paket wisata yang sedang diikutinya. Ditemani oleh seorang pemandu turis bernama Maria (Ully Triani) dan seorang instruktur selam bernama Mahesa (Ramon Y. Tungka), Indi dan Bia memulai eksplorasi mereka akan keindahan alam di sekitaran wilayah tersebut. Dalam waktu singkat, hubungan Indi, Bia dan Maria tumbuh menjadi persahabatan antara tiga orang wanita yang erat… hingga akhirnya sesosok pria datang dan membuat hubungan tersebut berubah menjadi perang dingin antara ketiganya. Continue reading Review: Labuan Hati (2017)

Review: The Boss Baby (2017)

Pada awal kemunculannya, DreamWorks Animation sering dipandang sebagai pesaing utama bagi kedigdayaan Pixar Animation Studios dalam menghasilkan film-film animasi. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak merilis film animasi layar lebar perdana mereka, Antz (Eric Darnell, Tim Johnson, 1998), DreamWorks Animation terasa telah memilih untuk mengambil arah perjalanan yang berbeda dari pesaingnya tersebut. Ketika rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut masih berusaha untuk tampil dengan ide-ide cerita segar dan terobosan animasi yang menempatkan film-film mereka seperti WALL·E (Andrew Stanton, 2008), Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010) atau Inside Out (Pete Docter, 2015) yang berada di kelas kualitas berbeda dengan kebanyakan film-film animasi milik rumah produksi lainnya, maka DreamWorks Animation justru terlihat semakin nyaman untuk memproduksi film-film yang murni tampil hanya untuk menghibur para penontonnya seperti Turbo (David Soren, 2013), Penguins of Madagascar (Eric Darnell, Simon J. Smith, 2014) atau Trolls (Mike Mitchell, 2016). Bukan keputusan yang buruk, tentu saja, khususnya ketika mengingat peta persaingan yang semakin ketat dengan kemunculan banyak rumah produksi animasi lain dalam beberapa tahun belakangan. Continue reading Review: The Boss Baby (2017)

Review: Danur (2017)

Diangkat dari buku berjudul Gerbang Dialog Danur yang ditulis oleh Risa Saraswati, Danur memulai pengisahannya ketika seorang anak perempuan bernama Risa (Asha Kenyeri Bermudez) membuat sebuah permohonan agar ia mendapatkan teman di hari ulang tahunnya. Permohonan tersebut terkabul ketika ia kemudian berkenalan dengan tiga orang anak-anak yang tiba-tiba hadir secara misterius, William (Wesley Andrew), Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh) dan Peter (Gamaharitz). Kehadiran ketiga sahabat baru Risa ternyata disambut dingin oleh ibunya, Elly (Kinaryosih). Tidak mau anaknya terganggu oleh ketiga anak-anak asing tersebut, Elly lantas membawa pergi Risa dari rumah yang dimiliki oleh nenek mereka (Ingrid Widjanarko) itu. Sembilan tahun kemudian, Risa yang kini telah beranjak dewasa (Prilly Latuconsina) kembali ke rumah tersebut bersama dengan adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Seperti yang dapat diduga, kehadiran keduanya kemudian mengundang berbagai kejadian aneh. Kehadiran seorang perawat bernama Asih (Shareefa Daanish) bahkan menambah kepelikan masalah yang harus dihadapi Risa dan Riri. Continue reading Review: Danur (2017)

Review: Ghost in the Shell (2017)

Tidak dapat disangkal, The Ghost in the Shell merupakan salah satu manga ikonik sekaligus paling berpengaruh yang pernah dirilis hingga saat ini. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1989, The Ghost in the Shell kemudian diadaptasi ke berbagai media termasuk permainan video, serial televisi hingga beberapa film animasi layar lebar dengan Ghost in the Shell (Mamoru Oshii, 1995) menjadi produk adaptasi paling populernya. Jelas tidak mengherankan bila kemudian Hollywood turut serta melirik kesempatan untuk memproduksi dan merilis hasil adaptasi mereka sendiri. Dimulai pada tahun 2008, rumah produksi DreamWorks Pictures membeli hak adaptasi The Ghost in the Shell yang sekaligus mengawali proses pembuatan versi live-action Hollywood dari manga yang ditulis oleh Masamune Shirow tersebut. Setelah sempat mengalami beberapa pergantian pemeran dan kru produksi, DreamWorks Pictures kemudian mengumumkan di tahun 2014 bahwa Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman, 2012) akan duduk di kursi sutradara serta aktris Scarlett Johansson akan menjadi pemeran utama bagi Ghost in the Shell – sebuah keputusan yang kemudian memicu kontroversi karena karakter utama dalam manga tersebut adalah sesosok wanita yang memiliki latar belakang ras Asia. Continue reading Review: Ghost in the Shell (2017)

Review: Smurfs: The Lost Village (2017)

They’re back! Meski tidak seorangpun sepertinya begitu antusias terhadap kembalinya kumpulan makhluk berwarna biru ini – khususnya dengan raihan kualitas dan komersial The Smurfs 2 (Raja Gosnell, 2013) yang semakin menurun jika dibandingkan dengan film pendahulunya – namun Sony Pictures Animation sepertinya masih berusaha (baca: memaksa) semua orang untuk menyukai produk adaptasi layar lebar dari komik berjudul sama buatan Peyo tersebut. Smurfs: The Lost Village sendiri tidak memiliki jalinan hubungan cerita dengan dua seri film The Smurfs sebelumnya dan memulai sebuah garis pengisahan yang baru. Yeap. Hanya dalam jangka waktu enam tahun semenjak perilisan film pertama, Sony Pictures Animation memutuskan untuk melakukan reboot terhadap seri film The Smurfs dengan melakukan perombakan total pada barisan pemeran dan kru produksinya serta mengubahnya menjadi sebuah film animasi secara keseluruhan daripada sebuah paduan animasi dan live-action seperti pada dua film The Smurfs terdahulu. Dengan kursi penyutradaraan yang kini ditempati oleh Kelly Asbury (Gnomeo & Juliet, 2011), apakah seluruh perubahan tersebut mampu memberikan sebuah daya tarik yang baru bagi seri film The Smurfs? Continue reading Review: Smurfs: The Lost Village (2017)

Review: Life (2017)

First of allAfter movies like Gravity (Alfonso Cuarón, 2013), Interstellar (Christopher Nolan, 2014) and The Martian (Ridley Scott, 2015), why would anyone on their right minds named their space-themed movie with a boring, bland title like Life? Come on. Really? Seriously? Untungnya, terlepas dari judul berkualitas pasaran yang akan membuat semua orang kebingungan dalam beberapa tahun mendatang – jika mereka masih mampu mengingat keberadaan film ini, Life adalah sebuah film bertema angkasa luar yang mampu tergarap dengan cukup baik. Baiklah, garis pengisahan garapan duo penulis naskah Rhett Reese dan Paul Wernick (Deadpool, 2016) mungkin tidaklah menawarkan sesuatu hal yang baru bagi mereka penikmat film-film fiksi ilmiah sejenis. Namun, tidak dapat disangkal, arahan sutradara Daniel Espinosa (Safe House, 2012) berhasil meningkatkan kualitas penyajian film dengan menjaga penuh ritme pengisahannya sehingga dapat menghadirkan deretan ketegangan yang akan membuat setiap penonton film ini menahan nafas sekaligus berpegangan erat pada kursi mereka. Continue reading Review: Life (2017)

Review: Power Rangers (2017)

Berawal dari sebuah seri televisi berjudul Mighty Morphin Power Rangers yang tayang perdana di saluran Fox Kids pada tahun 1993, kesuksesan mendunia dari serial tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah film layar lebar berjudul Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (Bryan Spicer, 1995) yang diproduksi 20th Fox Century juga dibintangi para bintang serial televisinya. Meskipun mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia, Mighty Morphin Power Rangers: The Movie berhasil mendapatkan raihan pendapatan komersial yang tidak mengecewakan. Dua tahun setelah perilisan film pertama, 20th Fox Century merilis Turbo: A Power Rangers Movie yang diarahkan oleh Shuki Levy dan David Winning dengan jalinan cerita yang menjembatani musim keempat dan musim kelima serial televisi Mighty Morphin Power Rangers sekaligus memperkenalkan deretan pemeran yang baru. Sayang, seiring dengan berkurangnya penggemar serial televisi tersebut, Turbo: A Power Rangers Movie juga gagal untuk menyamai kesuksesan film pendahulunya sekaligus menjadi kali terakhir Mighty Morphin Power Rangers diadaptasi ke layar lebar. Continue reading Review: Power Rangers (2017)

Review: Dear Nathan (2017)

Sekilas, Dear Nathan terlihat sebagai drama remaja yang biasa disajikan oleh deretan film Indonesia sejenis lainnya: kisah mengenai sesosok remaja pria dengan masa lalu kelam yang mencoba untuk mendekati seorang remaja perempuan cerdas sekaligus jelita di sekolahnya yang tentu saja kemudian diikuti dengan deretan drama khas remaja yang menghiasi hubungan mereka. Dear Nathan, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Erisca Febriani, memang harus diakui tidak mampu menghindari dirinya dari sejumlah konflik klise yang sering ditemukan dalam film-film drama remaja Indonesia. Namun, naskah cerita film yang digarap bersama oleh Bagus Bramanti (Talak 3, 2016) dan Gea Rexy serta pengarahan yang sangat dinamis dari Indra Gunawan (Hijrah Cinta, 2014) justru berhasil mengolah segala ke-klise-an konflik drama remaja tersebut menjadi sebuah sajian cerita yang kuat dan bahkan seringkali terasa emosional. Padanan tepat yang jelas akan membuat drama remaja yang satu ini mampu mencuri hati banyak penontonnya – dan tidak hanya akan berasal dari kalangan remaja saja. Continue reading Review: Dear Nathan (2017)

Review: Moon Cake Story (2017)

Setelah Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (Guntur Soeharjanto, 2016), Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari kembali tampil berpasangan dalam film terbaru arahan Garin Nugroho (Guru Bangsa Tjokroaminoto, 2015) yang diproduseri oleh Tahir Foundation, Moon Cake Story. Filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara seorang pengusaha bernama David (Oey) dengan seorang joki 3-in-1 bernama Asih (Lestari). Sama-sama memendam duka akibat ditinggal oleh sosok yang mereka cintai, pertemuan tersebut kemudian membawa David ke masa lalunya ketika ia dan ibunya masih tinggal di daerah kumuh dan berjuang untuk bertahan hidup dengan membuat kue bulan di keseharian mereka. Mengetahui bahwa Asih memiliki bakat memasak, David lantas menawarkan Asih cetakan dan resep kue bulan milik ibunya agar Asih dapat memulai usahanya sendiri. Walau awalnya merasa janggal dengan pemberian David, Asih akhirnya menerima dan mulai membuat kue bulannya sendiri. Continue reading Review: Moon Cake Story (2017)

Review: Bid’ah Cinta (2017)

Art imitates life. Dan film, sebagai salah satu bentuk produk kesenian, seringkali merefleksikan kondisi politik, sosial maupun budaya yang pernah atau sedang dialami para pembuatnya. Film terbaru arahan Nurman Hakim, Bid’ah Cinta, sepertinya berusaha menjadi cermin mengenai kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sedang menghangat belakangan ini, khususnya dari kalangan pemeluk agama Islam. Kondisi sosial dimana beberapa kelompok merasa bahwa ajaran Islam yang mereka peluk lebih “murni” dan “kuat” dibandingkan dengan ajaran Islam yang dipeluk dan dipraktekkan oleh beberapa kelompok lain sehingga membuat mereka berusaha keras agar kelompok yang berbeda tersebut mau untuk “bertobat” dan kemudian mengikuti ajaran Islam mereka yang lebih “murni” dan “kuat” tersebut. Tentu, sebuah bahasan yang cukup kompleks untuk dijabarkan dalam sebuah jalan pengisahan yang berdurasi 128 menit. Namun, dengan kelihaiannya bercerita, Hakim mampu menggarap Bid’ah Cinta dengan ritme yang tepat sehingga filmnya tetap tajam dalam berkisah dan tidak pernah terasa membosankan dalam pemaparannya. Continue reading Review: Bid’ah Cinta (2017)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar