Review: Pacific Rim Uprising (2018)

Berbeda dengan seri film Transformers (2007 – 2017) yang sebelumnya telah dirilis dan mempopulerkan kembali keberadaan para robot-robot raksasa, Pacific Rim garapan Guillermo del Toro yang dirilis pada tahun 2013 menawarkan sebuah sentuhan pengisahan yang sedikit berbeda. Berbekal pengisahan yang cenderung kelam (dan lebih dewasa) seperti kebanyakan film-film del Toro lainnya, Pacific Rim mampu menangkap perhatian para kritikus film meskipun tetap mendapatkan catatan khusus mengenai lemahnya pengembangan konflik dan karakter yang dihadirkan. Sayangnya, pemilihan alur yang sedikit berbeda dari film-film Transformers juga menjadi salah satu penyebab mengapa penonton akhirnya sedikit menjaga jarak dari keberadaan Pacific Rim. Dengan biaya produksi yang mencapai hampir sebesar US$200 juta, Pacific Rim “hanya mampu” mendapatkan raihan komersial sebesar US$411 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Jelas sebuah pencapaian yang cukup mengecewakan dari bagian awal sebuah seri film yang tadinya diperkirakan akan menjadi lumbung yang terbaru bagi rumah produksi Legendary Pictures. Continue reading Review: Pacific Rim Uprising (2018)

Advertisements

Review: Love for Sale (2018)

Siapa yang tidak akan terpesona dengan sosok Arini Kusuma (Della Dartyan)? Figur fisiknya jelas akan mampu menggoda setiap pecinta wanita yang mengenalnya. Tidak hanya itu, Arini adalah sosok yang memiliki kepribadian yang juga mampu tampil memikat – mulai dari pengetahuannya soal dunia sepakbola, keahlian memasak, hingga urusan ranjang. Namun, berbeda dengan gadis-gadis lainnya, Arini bukanlah sosok wanita yang dapat ditemukan di sembarang tempat. Oleh Richard Achmad (Gading Marten) – sesosok pria yang telah terlalu lama hidup menyendiri, Arini Kusuma ditemukan di sebuah aplikasi percintaan yang membiarkan penggunanya untuk bertemu dengan gadis impiannya setelah mereka membayar sejumlah uang. Richard Achmad sendiri awalnya hanya ingin Arini Kusuma menemaninya ke sebuah pesta pernikahan sahabatnya. Daya tarik Arini Kusuma-lah yang secara perlahan mengubah kehidupan Richard Achmad dan membuatnya mampu merasakan sebuah perasaan cinta yang sebenarnya telah sangat lama tidak pernah dirasakannya. Continue reading Review: Love for Sale (2018)

Review: A Wrinkle in Time (2018)

Ketika dirilis perdana pada tahun 1962, buku A Wrinkle in Time yang ditulis oleh novelis asal Amerika Serikat, Madeleine L’Engle, mampu mencuri perhatian dan memicu perbincangan di kalangan pecinta literatur dunia berkat struktur penceritaan buku tersebut yang membaurkan tema-tema seperti fantasi, agama, fiksi ilmiah, serta berbagai isu sosial yang memang sedang hangat dibicarakan di saat tersebut. Berkat penceritaan L’Engle yang apik, A Wrinkle in Time kemudian berhasil memenangkan banyak penghargaan di bidang sastra sekaligus menjadi salah satu buku paling popular dan berpengaruh di lingkungan sastra Amerika Serikat. Kepopuleran A Wrinkle in Time – yang nantinya dilanjutkan L’Engle lewat empat seri buku berikutnya – lantas membuat buku tersebut diadaptasi ke berbagai bentuk medium, mulai dari buku audio, novel grafis, drama panggung, opera, hingga film televisi. Yang terbaru, Walt Disney Pictures – rumah produksi yang juga memproduksi adaptasi film televisi dari A Wrinkle in Time (John Kent Harrison, 2003) – berusaha untuk menterjemahkan kekuatan cerita A Wrinkle in Time ke dalam bentuk film layar lebar dengan arahan dari sutradara Ava DuVernay (Selma, 2014). Continue reading Review: A Wrinkle in Time (2018)

Review: Game Night (2018)

Jum’at malam itu harusnya berlangsung layaknya Jum’at malam lainnya bagi pasangan suami istri, Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams), yang selalu menghabiskan malam akhir pekan mereka bermain berbagai jenis permainan bersama dengan teman-teman mereka, Ryan (Billy Magnussen), Sarah (Sharon Hogan), Kevin (Lamorne Morris), dan Michelle (Kylie Bunbury). Namun, kedatangan abang kandung Max, Brooks (Kyle Chandler), akhirnya mengubah rencana tersebut. Brooks mengusulkan agar mereka melakukan sebuah permainan peran: salah seorang pemain akan menjadi korban penculikan sementara para pemain lainnya akan berusaha menemukan dimana keberadaan korban penculikan tersebut. Brooks bahkan menjanjikan untuk memberikan mobil mewahnya bagi pemain yang berhasil keluar sebagai pemenang pada permainan tersebut. Dengan bantuan beberapa aktor yang berperan sebagai penculik dan detektif yang memberikan petunjuk kepada para pemain, Max, Annie, dan teman-temannya awalnya merasa senang saja dengan permainan tersebut. Sial, setelah beberapa lama terlibat dalam permainan tersebut, Max, Annie, dan teman-temannya mulai menyadari bahwa mereka sedang terlibat dalam sebuah aksi kejahatan yang jelas dapat membahayakan nyawa mereka. Continue reading Review: Game Night (2018)

Review: The Strangers: Prey at Night (2018)

Ketika dirilis satu dekade lalu, The Strangers (Bryan Bertino, 2008) mampu menjelma dari sebuah film horor dengan premis sederhana menjadi sajian yang berhasil menarik perhatian banyak penikmat film dunia. Dengan bujet produksi yang “hanya” membutuhkan biaya sebesar US$9 juta, film yang dibintangi Liv Tyler dan Scott Speedman tersebut kemudian berhasil meraih pendapatan sebesar lebih dari US$82 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Tiga karakter antagonisnya – Dollface, Pin-up Girl dan Man in the Mask yang selalu mengenakan topeng dan tidak berbicara selama menjalankan aksinya – bahkan menjadi karakter horor ikonik dan dihadirkan dalam film The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2012) bersanding dengan karakter-karakter horor ikonik lainnya. Kesuksesan The Strangers tersebut kini berusaha dilanjutkan melalui sekuelnya, The Strangers: Prey at Night, yang diarahkan Johannes Roberts (47 Meters Down, 2017). Masih menawarkan premis yang sama sederhana dengan jumlah karakter yang kini lebih banyak, The Strangers: Prey at Night jelas menjanjikan sajian slasher yang lebih brutal dari pendahulunya. Namun, apakah Roberts berhasil mempertahankan kualitas atmosfer penceritaan film secara keseluruhan? Continue reading Review: The Strangers: Prey at Night (2018)

Review: Winchester (2018)

Dengan jalan cerita yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata, Winchester berkisah mengenai seorang wanita, Sarah Winchester (Helen Mirren), yang dirundung duka mendalam setelah kematian suami dan puterinya. Paduan rasa duka dan berbagai kejadian aneh yang menghampiri dirinya kemudian meyakinkan Sarah Winchester bahwa dirinya telah dikutuk oleh para arwah penasaran orang-orang yang tewas dikarenakan oleh senjata api buatan Winchester Repeating Arms Company – perusahaan yang dimiliki oleh sang suami dan kini sebagian kepemilikannya telah berpindah ke tangan Sarah Winchester. Atas saran seorang penasehat spiritual, Sarah Winchester kemudian melakukan renovasi besar-besaran secara terus menerus kepada rumahnya untuk membangun kamar-kamar baru yang nantinya akan ditempati arwah-arwah penasaran yang mengusik kehidupannya. Tentu saja, tindakan aneh Sarah Winchester tersebut membuat para pemegang saham Winchester Repeating Arms Company merasa khawatir akan kesehatan mentalnyaa. Mereka akhirnya mengirimkan seorang dokter, Eric Price (Jason Clarke), yang ditugaskan untuk bermalam di rumah Sarah Winchester dan menganalisa kesehatan mentalnya. Continue reading Review: Winchester (2018)

Review: Sekala Niskala (2018)

Pada banyak bagiannya, Sekala Niskala terasa memiliki garisan genetik yang sama dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) (2011) – film yang menjadi debut pengarahan layar lebar bagi Kamila Andini. Struktur pengisahan kedua film tersebut dikendalikan dari perspektif seorang karakter anak-anak akan dunia di sekitarnya. Dan seperti halnya The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang memiliki latar belakang lokasi di wilayah Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan warna pengisahannya kental dengan kultur Suku Bajo yang mendiami wilayah tersebut, Andini membawa penontonnya untuk menyelami keindahan alam dan kultur budaya Bali lewat Sekala Niskala. Terlepas dari berbagai kemiripan tersebut, Sekala Niskala menawarkan struktur penceritaan yang mempertemukan antara dunia imaji dengan dunia nyata yang jelas jauh berbeda dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang lebih bernuansa realis. Continue reading Review: Sekala Niskala (2018)

Review: Mata Dewa (2018)

Digadang sebagai film Indonesia pertama yang bertema tentang olahraga basket, Mata Dewa berkisah mengenai pelatih basket SMA Wijaya, Miko (Nino Fernandez), yang bermimpi untuk membawa tim basket asuhannya untuk memenangkan kompetisi basket antar sekolah terbesar di Indonesia, Developmental Basketball League Indonesia. Harus diakui, tim Jayhawk – sebutan untuk tim basket milik SMA Wijaya – memang memiliki beberapa pemain berbakat, seperti Dewa (Kenny Austin) yang selalu dapat diandalkan dalam setiap pertandingan. Namun, di saat yang bersamaan, tidak adanya kekompakan antar sesama pemain membuat tim Jayhawk selalu bermain buruk dan berakhir dengan kekalahan. Tim Jayhawk kemudian menemui titik terendah mereka ketika Dewa mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan salah satu matanya. Tidak menyerah begitu saja, Dewa berusaha untuk bangkit dan mengenyampingkan kelemahan fisiknya untuk tetap dapat berkiprah di tim basketnya. Usaha Dewa tersebut secara perlahan memberikan inspirasi bagi Miko dan rekan-rekannya untuk kembali berjuang dan bersatu untuk memenangkan kompetisi di hadapan mereka. Continue reading Review: Mata Dewa (2018)

Review: Tomb Raider (2018)

Walau pemilihan Angelina Jolie untuk memerankan karakter ikonik dari permainan video Tomb Raider, Lara Croft, menghasilkan begitu banyak keluhan dari barisan penggemar permainan video tersebut – yang menilai Jolie tidak memiliki karakteristik fisik yang sesuai untuk memerankan Lara Croft, namun penampilan Jolie yang begitu meyakinkan-lah yang kemudian menjadi satu-satunya energi kuat bagi pengisahan Lara Croft: Tomb Raider (Simon West, 2001). Dengan garapan cerita yang tidak begitu mengesankan – dan menambah panjang daftar adaptasi permainan video yang berkualitas buruk – Jolie menjadi faktor utama kesuksesan komersial film tersebut sekaligus menjadikan karakter Lara Croft menjadi begitu melekat pada dirinya. Sayang, sekuel Lara Croft: Tomb Raider, Lara Croft: Tomb Raider – The Cradle of Life (Jan de Bont, 2003), sekali lagi mendapatkan tanggapan negatif dari mayoritas kritikus film dunia dan, sialnya, kemudian gagal untuk meraih kesuksesan komersial yang setara dengan film pendahulunya. Harapan untuk menyaksikan Jolie kembali beraksi sebagai sosok Lara Croft secara perlahan menghilang dan tenggelam begitu saja. Continue reading Review: Tomb Raider (2018)

Review: Early Man (2018)

Sukses besar dengan Shaun the Sheep Movie (Richard Starzak, Mark Burton, 2015) – yang sekuelnya, Farmageddon: A Shaun the Sheep Movie, sedang dipersiapkan untuk rilis tahun depan – Aardman Animations kembali merilis film animasi terbarunya yang berjudul Early Man. Diarahkan oleh Nick Park yang merupakan sutradara dari film yang masih memegang gelar sebagai film tersukses milik rumah produksi asal Inggris tersebut, Chicken Run (2000), Early Man masih menampilkan presentasi kisahnya dalam teknik stop-motion clay animation yang memang telah menjadi ciri khas dari film-film animasi buatan Aardman Animations. Mereka yang menikmati warna guyonan dari film-film seperti Chicken Run atau Shaun the Sheep Movie atau Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit (Park, Steve Box, 2005) – yang berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature di ajang The 78th Annual Academy Awards – jelas akan dapat menikmati Early Man. Sayangnya, lebih dari itu, Early Man gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih kuat untuk dapat dinikmati para pecinta film animasi dalam skala yang lebih luas. Continue reading Review: Early Man (2018)

Review: Loving Vincent (2017)

Loving Vincent bukanlah sebuah film animasi biasa. Diinspirasi oleh lukisan-lukisan karya Vincent van Gogh – yang sebagian kisah kehidupannya menjadi fokus utama penceritaan film ini, Loving Vincent dibuat dengan bantuan 125 pelukis yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang kemudian menghasilkan sekitar 65 ribu frame gambar berupa lukisan cat minyak yang nantinya dipadukan untuk mengisi deretan adegan cerita film ini. Sebuah teknik yang jelas rumit dan akhirnya menghabiskan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan seluruh proses produksi film ini. Namun, sebagaimana layaknya sebuah lukisan yang menjadi mahakarya para pembuatnya, Loving Vincent yang digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman ini juga mampu hadir dengan kualitas akhir yang begitu memuaskan: deretan gambar dalam film ini tampil begitu indah untuk disaksikan dengan jalan cerita yang menyertainya bahkan mampu disajikan dengan sentuhan emosional yang begitu mengikat. Continue reading Review: Loving Vincent (2017)

The 90th Annual Academy Awards Winners List

ROGER DEAKINS WINS!

Setelah dinominasikan sebanyak 14 kali, Roger Deakins akhirnya berhasil memenangkan piala Best Cinematography dari ajang The 90th Annual Academy Awards. Deakins memenangkan kategori tersebut untuk film arahan Denis Villeneuve, Blade Runner 2049 (2017). Continue reading The 90th Annual Academy Awards Winners List

Review: Lady Bird (2017)

Sekilas, Lady Bird mungkin terlihat seperti film-film drama remaja sepantarannya: menampilkan sosok remaja yang sedang berusaha mencari jati dirinya dan, dalam perjalanan tersebut, menghasilkan konflik dengan orang-orang terdekatnya. Familiar. Meskipun begitu, dengan kehandalannya dalam mengeksplorasi setiap karakter maupun friksi pengisahan yang dihadirkannya, film yang menjadi debut pengarahan bagi aktris Greta Gerwig ini mampu menjadikan elemen kefamiliaran kisah tersebut menjadi senjata kuat guna mengikat perhatian setiap penontonnya. Juga didukung dengan penampilan prima para pemerannya – mulai dari Saoirse Ronan, Timothée Chalamet, hingga Laurie Metcalf, Lady Bird berhasil menjadi sebuah presentasi pengisahan coming-of-age yang hangat dan seringkali mampu menyentuh dan jelas tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Continue reading Review: Lady Bird (2017)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar