Review: Mine (2016)

Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi duo sutradara asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro, Mine berkisah mengenai seorang anggota pasukan tentara Amerika Serikat yang sedang bertugas di Afrika Utara, Mike Stevens (Armie Hammer). Setelah sebuah misi yang gagal untuk dieksekusi, ia dan rekannya, Tommy Madison (Tom Cullen), harus berjalan menempuh luas dan panasnya daratan gurun pasir untuk kembali ke pangkalan militer mereka. Sial, di tengah perjalanan, keduanya secara tidak sengaja menginjak ranjau darat yang kemudian membunuh Tommy Madison. Sendirian di tengah gurun, Mike Stevens harus memutar otak untuk dapat menyelamatkan hidupnya, baik dari ranjau darat yang dapat meledak kapan saja maupun dari berbagai tantangan yang dapat menghampirinya dari berbagai penjuru gurun tersebut. Continue reading Review: Mine (2016)

Advertisements

Review: The Wall (2017)

Dengan film-film yang memiliki tampilan efek bombastis seperti The Bourne Identity (2002), Mr. & Mrs. Smith (2005) dan Edge of Tomorrow (2014) berada di dalam filmografinya, mungkin sedikit mengherankan untuk mengetahui bahwa The Wall adalah sebuah film yang juga diarahkan oleh Doug Liman. Berbeda dengan film yang telah disebutkan sebelumnya, The Wall memiliki presentasi yang begitu sederhana: departemen akting yang hanya diisi oleh dua aktor (dan seorang pengisi suara yang tak pernah terlihat wujud fisiknya), alur kisah yang dipenuhi oleh deretan dialog antar karakter serta tampilan visual yang… well… sesuai dengan bujet produksi film ini yang “hanya” mencapai US$3 juta. Namun apakah Liman memiliki kemampuan untuk menghadirkan kualitas pengarahan yang kuat untuk film yang sederhana dan personal seperti The Wall? Continue reading Review: The Wall (2017)

Review: 47 Meters Down (2017)

Diarahkan oleh Johannes Roberts (The Other Side of the Door, 2016), 47 Meters Down berkisah mengenai pasangan kakak beradik yang mengalami kecelakaan ketika sedang berliburan di lautan Meksiko yang kemudian memaksa mereka untuk bertahan hidup dari kumpulan hiu yang siap untuk menyerang mereka. Well… dirilis setahun setelah sukses besar yang diraih The Shallows yang memiliki pola pengisahan yang cukup serupa – karakter wanita yang harus berjuang di tengah lautan dari serangan kawanan hiu – perbandingan pada film arahan Jaume Collet-Serra tersebut jelas tidak dapat dihindari.  47 Meters Down, sayangnya, tidak memiliki bangunan karakter sebaik bangunan karakter yang diciptakan untuk karakter yang diperankan Blake Lively dalam The Shallows. Meskipun begitu, seperti halnya Collet-Serra, Roberts mampu menggarap 47 Meters Down dengan pengarahan yang apik sehingga film ini berhasil hadir dengan deretan momen menegangkan yang jelas akan sukses membuat penonton menahan nafas mereka. Continue reading Review: 47 Meters Down (2017)

Review: Mantan (2017)

Mantan, sebuah drama romansa yang menjadi debut pengarahan bagi Svetlana Dea, memiliki premis yang sebenarnya sangat sederhana namun cukup menarik perhatian. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Gandhi Fernando, yang juga bertanggungjawab sebagai produser serta berperan sebagai karakter utama dalam film ini, Mantan berkisah mengenai Adi (Fernando), seorang penulis yang kini sedang dilanda rasa keraguan menjelang pernikahannya dengan sang tunangan. Meskipun sangat mencintai sang tunangan, Adi masih merasa bahwa ia butuh untuk bertemu dengan beberapa mantan kekasihnya untuk memastikan ia akan menikahi orang yang tepat dan tidak meninggalkan sosok yang harusnya menjadi pendamping hidupnya. Guna menjawab keraguannya tersebut, Adi lantas melakukan perjalanan ke lima kota di Indonesia untuk mengunjungi lima orang mantan kekasihnya: Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kymberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan dan kemudian kembali ke Jakarta untuk menemui Deedee (Citra Scholastika). Continue reading Review: Mantan (2017)

Review: The Mummy (2017)

Jika Marvel Studios dan Walt Disney Pictures memiliki Marvel Cinematic Universe, Warner Bros. Pictures memiliki DC Extended Universe yang bekerjasama dengan DC Films dan MonsterVerse yang bekerjasama dengan Legendary Pictures, maka Universal Pictures memiliki Dark Universe. Dark Universe nantinya akan mengumpulkan dan mempersatukan versi buat ulang dari film-film klasik bertema monster milik Universal Pictures seperti Invisible Man, Wolf Man, Frankeinstein dan Dracula, untuk nantinya dikisahkan dalam satu semesta penceritaan yang sama. Dark Universe sendiri dimulai dengan The Mummy, sebuah film arahan Alex Kurtzman (People Like Us, 2012) yang meskipun menghadirkan monster yang sama namun sama sekali tidak memiliki hubungan pengisahan dengan seri film The Mummy dalam rangkaian film Universal Monsters (1942 – 1955) atau film-film The Mummy buatan Hammer Film Productions (1959 – 1971) maupun trilogi The Mummy (1999 – 2008) arahan Stephen Sommers. Dibintangi oleh Tom Cruise dan Russell Crowe, mampukah The Mummy menarik perhatian dan minat penikmat film dunia sekaligus membuka jalan bagi deretan film Dark Universe berikutnya untuk meraih kesuksesan? Continue reading Review: The Mummy (2017)

Review: The Merciless (2017)

Diarahkan oleh Byun Sung-hyun berdasarkan naskah cerita yang juga ditulis oleh Byun sendiri, The Merciless berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara Han Jae-ho (Sol Kyung-gu) dan Jae Hyun-soo (Im Si-wan) ketika mereka sama-sama menjalani masa hukuman mereka di dalam penjara. Setelah melalui berbagai tantangan di dalam penjara, termasuk beberapa kekacauan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara para narapidana, Jae-ho memutuskan untuk memperkenalkan Hyun-soo pada organisasi kriminalnya yang dipimpin Ko Byung-Chul (Lee Kyeong-yeong) sekaligus mengajaknya untuk bergabung selepas masa hukuman mereka berakhir. Berkat hubungan persahabatan keduanya yang kental itulah organisasi kriminal mereka meraih banyak kesuksesan. Namun, di saat yang bersamaan, seorang polisi yang bertekad untuk membongkar berbagai kejahatan yang telah dilakukan oleh organisasi kriminal tersebut, Cheon In-sook (Jeon Hye-jin), telah memiliki rencana untuk dapat meraih tujuannya, termasuk dengan membongkar rahasia dan masa lalu dari Han Jae-ho dan Jae Hyun-soo. Continue reading Review: The Merciless (2017)

Review: The Lost City of Z (2017)

Dengan film-film seperti The Immigrant (2013), Two Lovers (2008) atau We Own the Night (2007) berada dalam filmografinya, The Lost City of Z jelas merupakan sebuah wilayah pengarahan yang jauh berbeda bagi seorang James Gray. Berbeda dengan film-film arahan Gray sebelumnya yang memiliki nada pengisahan drama dengan latar kota New York dan desain produksi minimalis, The Lost City of Z merupakan sebuah petualangan berskala epik yang membutuhkan garapan produksi yang megah. Beruntung, tantangan tersebut bukanlah sebuah masalah besar bagi pengarahan cerdas seperti yang selalu ditunjukkan oleh Gray dalam film-filmnya. Dengan kehandalannya, Gray mampu mengeksekusi film ini menjadi sebuah presentasi yang puitis sekaligus begitu mengikat secara emosional serta tampil dengan deretan keindahan gambar yang sangat membuai. Sebuah pencapaian yang menjadikan The Lost City of Z sebagai film terbaik arahan Gray hingga saat ini. Continue reading Review: The Lost City of Z (2017)

Review: Wonder Woman (2017)

Cukup mengherankan untuk melihat baik DC Films maupun Marvel Studios (atau rumah produksi Hollywood lainnya) membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya menggarap sebuah film pahlawan super dengan sosok karakter wanita berada di barisan terdepan. Terlebih, film-film bertema pahlawan super tersebut saat ini sedang begitu digemari oleh banyak penikmat film sehingga mampu mendatangkan jutaan penonton – khususnya para penonton wanita. Marvel Studios sebenarnya memiliki kesempatan tersebut ketika mereka memperkenalkan karakter Black Widow yang diperankan Scarlett Johansson pada Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010) dan The Avengers (Joss Whedon, 2012) yang akhirnya kemudian begitu mencuri perhatian. Entah karena masih kurang percaya diri atau merasa karakter Black Widow belum terlalu menjual, ide pembuatan film solo untuk Black Widow akhirnya terkubur dalam hingga saat ini. Johansson sendiri kemudian mampu membuktikan nilai jualnya ketika ia membintangi Lucy (Luc Besson, 2014), Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014), dan Ghost in the Shell (Rupert Sanders, 2017) yang menempatkannya sebagai semacam sosok pahlawan super wanita sekaligus berhasil meraih kesuksesan secara komersial ketika masa perilisannya. Continue reading Review: Wonder Woman (2017)

Review: Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge (2017)

Enam tahun setelah perilisan Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides arahan Rob Marshall – yang meskipun meraih reaksi negatif dari banyak kritikus film namun tetap mampu mendapatkan kesuksesan komersial dengan menjadi film kedelapan dalam sejarah yang berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – Walt Disney Pictures kembali menghadirkan petualangan terbaru dari Captain Jack Sparrow lewat Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge. Dengan kursi penyutradaraan yang kini ditempati oleh duo Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki, 2012), Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge secara mengejutkan mampu tampil begitu menyenangkan. Memang belum mampu melampaui dua seri pertama Pirates of the Caribbean namun jelas jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Pirates of the Caribbean: At World’s End (Gore Verbinski, 2007) atau Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides yang menjemukan sekaligus meluluhlantakkan reputasi seri film ini. Continue reading Review: Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge (2017)

Review: The Autopsy of Jane Doe (2016)

The Autopsy of Jane Doe berkisah mengenai pasangan ayah dan anak, Tommy (Brian Cox) dan Austin Tilden (Emile Hirsch), yang bekerja sebagai petugas koroner pada sebuah rumah mati yang mereka miliki. Suatu malam, Sheriff Sheldon Burke (Michael McElhatton) menghantarkan sesosok mayat wanita yang tak dikenal (Olwen Kelly) dan meminta Tommy dan Austin untuk menyiapkan informasi mengenai penyebab kematian wanita tersebut keesokan harinya. Proses forensik yang dilaksanakan Tommy dan Austin kepada Jane Doe – sebutan yang mereka berikan bagi wanita tersebut – awalnya berjalan layaknya proses forensik biasa. Namun, secara perlahan, kedua petugas koroner tersebut mulai menemukan keanehan-keanehan pada berbagai bagian tubuh mayat wanita tersebut. Di saat yang bersamaan, Tommy dan Austin mulai merasakan bahwa teror supranatural mulai mengintai dan mengincar nyawa keduanya. Continue reading Review: The Autopsy of Jane Doe (2016)

Review: Unforgettable (2017)

Yes. We’ve all been here before. We’re all familiar with the story. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Christina Hodson (Shut In, 2016) dan David Leslie Johnson (The Conjuring 2, 2016), Unforgettable berkisah mengenai Julia Banks (Rosario Dawson), seorang wanita yang siap meninggalkan karir cemerlangnya di kota San Fransisco untuk pindah ke California setelah menerima pinangan dari kekasihnya, David Connover (Geoff Stults). Kisah bahagia Julia dan David, sayangnya, kemudian menemui halangan setelah mantan istri David, Tessa Manning (Katherine Heigl), merasa cemburu akibat kehadiran Julia. Berbagai cara dilakukan Tessa agar David mau meninggalkan Julia dan kembali padanya – termasuk dengan mengorek kelamnya masa lalu Julia. Ketika David tetap bergeming atas cintanya pada sang tunangan, Tessa akhirnya memilih sebuah cara mematikan untuk mendapatkan kembali kebahagiaan dirinya. Continue reading Review: Unforgettable (2017)

Review: Alien: Covenant (2017)

Lima tahun setelah merilis Prometheus – sebuah pembuka bagi serangkaian film yang semenjak awal telah direncanakan menjadi prekuel bagi seri film Alien (1979 – 1997), Ridley Scott melanjutkan petualangannya dalam menjelajah angkasa luar lewat Alien: Covenant. Tidak seperti Prometheus, yang dengan bantuan penulis naskah Jon Spaihts dan Damon Lindelof kemudian menjadikan film tersebut sebagai sebuah sajian yang berisi berbagai filosofi mengenai asal-usul kehidupan manusia diatas permukaan Bumi, Alien: Covenant terasa seperti usaha Scott untuk memberikan filmnya berbagai ciri khas seri film Alien yang telah begitu familiar dan dicintai oleh banyak penggemarnya. Tentu, pilihan tersebut mampu menjadikan Alien: Covenant tampil dengan warna pengisahan yang lebih menegangkan. Sayangnya, di saat yang bersamaan, pilihan untuk menyajikan formula cerita yang (terlalu) familiar justru membuat film ini kehilangan sentuhan inovatif yang biasanya selalu hadir dalam seri film Alien. Continue reading Review: Alien: Covenant (2017)

Review: Critical Eleven (2017)

Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures. Continue reading Review: Critical Eleven (2017)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

Advertisements