Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Dalam film terbaru arahan Ody C. Harahap (Sweet 20, 2017), Orang Kaya Baru the Movie, seorang ibu (Cut Mini) dan ketiga anaknya, Duta (Derby Romero), Tika (Raline Shah), dan Dodi (Fatih Unru), yang terbiasa dengan kehidupan perekonomian yang terbatas secara tiba-tiba mendapatkan kejutan dari almarhum suami dan ayah mereka (Lukman Sardi) yang baru saja meninggal dunia berupa sejumlah uang yang… well… cukup untuk memenuhi kebutuhan sang ibu dan ketiga anaknya selama bertahun-tahun mendatang. Sang ayah selama ini ternyata menyembunyikan usaha suksesnya untuk mengajarkan arti hidup secara sederhana kepada keluarganya. Jadilah kini Ibu mampu membeli setiap perhiasan yang selalu diidam-idamkannya, Duta mampu mewujudkan impiannya untuk menggarap sebuah drama panggung yang akan ia sutradarai, Tika dapat melanjutkan kuliahnya di jurusan Arsitektur dengan tenang, serta Dodi yang kini tidak lagi rendah diri ketika bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Namun, apakah memiliki uang yang berlimpah dan berkecukupan sama artinya dengan memiliki kehidupan yang berbahagia? Continue reading Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Review: The Kid Who Would Be King (2019)

Well… tidak terlalu lama semenjak perilisan King Arthur (Antoine Fuqua, 2004) dan King Arthur: Legend of the Sword (Guy Ritchie, 2017), Hollywood kembali menghadirkan kisah mengenai King Arthur dan pedang legendarisnya, Excalibur, lewat film terbaru arahan Joe Cornish (Attack of the Block, 2011), The Kid Who Would Be King. Berbeda dengan film arahan Fuqua dan Ritchie, kisah hidup King Arthur hanya dijadikan inspirasi bagi linimasa penceritaan The Kid Who Would Be King yang kemudian berfokus pada petualangan sekelompok anak-anak yang melakukan perjalanan ke tanah kelahiran King Arthur guna menyelamatkan dunia dari sosok jahat yang berasal dari masa lalu dan berniat untuk kembali menguasai dunia. Formula ceritanya mungkin terasa bagai paduan antara legenda King Arthur dengan kisah petualangan yang telah dihadirkan Cornish sebelumnya lewat Attack of the Block. Namun, dengan pengarahan dan penggarapan naskah yang efektif, Cornish mampu memberikan sentuhan menyegarkan atas legenda King Arthur – yang mungkin merupakan salah satu kisah paling familiar bagi kebanyakan umat manusia yang ada di permukaan Bumi – dan menghadirkan sebuah sajian film keluarga yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: The Kid Who Would Be King (2019)

The 91st Annual Academy Awards Nominations List

The Favourite is the favourite! Film terbaru arahan sutradara Yorgos Lanthimos sukses menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di ajang The 91st Annual Academy Awards. The Favourite berhasil meraih sepuluh nominasi, termasuk nominasi di kategori Best Picture, Best Director untuk Lanthimos – yang menjadi nominasi Best Director perdana bagi sutradara kelahiran Yunani tersebut, Best Actress untuk Olivia Colman, Best Supporting Actress untuk Rachel Weisz dan Emma Stone, serta untuk Best Original Screenplay. Namun, The Favourite tidak melangkah sendirian. Film arahan Alfonso Cuarón, Roma, juga berhasil meraih jumlah perolehan nominasi yang sama dan bahkan akan turut bersaing dengan The Favourite dalam lima kategori utama yang telah disebutkan sebelumnya. Bergabung bersama The Favourite dan Roma dalam persaingan memperebutkan gelar Best Picture adalah Black Panther (Ryan Coogler, 2018), BlacKkKlansman (Spike Lee, 2018), Bohemian Rhapsody (Bryan Singer, 2018), Green Book (Peter Farrelly, 2018), A Star is Born (Bradley Cooper, 2018), dan Vice (Adam McKay, 2018). Continue reading The 91st Annual Academy Awards Nominations List

Review: Glass (2019)

Selalu ada kejutan yang berhasil diterapkan sutradara M. Night Shyamalan dalam setiap film yang diarahkannya. Kejutan tersebut bukan hanya datang dari pelintiran plot penceritaan dalam filmnya namun, seperti yang diketahui oleh para penikmat film-filmnya, juga hampir selalu datang dari kualitas presentasi keseluruhan film-film tersebut. Setelah meraih sukses besar sekaligus mendapatkan kredibilitas tinggi sebagai sosok sutradara yang cerdas lewat film-filmnya seperti The Sixth Sense (1999) – yang memberikannya nominasi Best Director di ajang The 72nd Annual Academy Awards, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004), siapa yang dapat menyangka jika karir Shyamalan akan mendapatkan hantaman beruntun ketika film-filmnya Lady in the Water (2006), The Happening (2008), The Last Airbender (2010), dan After Earth (2013) tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film dunia namun juga gagal untuk mendapatkan kesuksesan komersial yang maksimal. Namun, tentu saja, karir Shyamalan tidak lantas mati dan berhenti pada deretan kegagalan tersebut. Bekerjasama dengan produser Jason Blum, Shyamalan merilis The Visit (2015) dan Split (2017) yang sekali lagi – kejutan! – membangkitkan ketertarikan dunia pada kemampuan sutradara berkewarganegaraan Amerika Serikat tersebut dalam merangkai kisah-kisah tak biasanya. Continue reading Review: Glass (2019)

Review: Swing Kids (2018)

Berlatar belakang lokasi pengisahan di Kamp Tahanan Geoje yang berada di Korea Selatan – yang digunakan untuk menahan para tawanan perang di saat berkecamuknya Perang Korea pada awal tahun 1950an, Swing Kids menyajikan sebuah kisah fiksi tentang persahabatan yang terjalin antara seorang tentara Amerika Serikat berkulit hitam, Jackson (Jared Grimes), seorang tentara Komunis asal Korea Utara, Ro Ki-soo (Do Kyung-soo), seorang tentara China bernama Xiao Fang (Kim Min-ho), seorang anti Komunis yang sedang berusaha menemukan kembali istrinya, Kang Byung-sam (Oh Jung-se), serta seorang wanita yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup, Yang Pan-rae (Park Hye-su). Meskipun memiliki ideologi dan tujuan hidup yang berbeda-beda, kelimanya kemudian disatukan oleh rasa cinta mereka pada seni tari yang mereka anggap mampu membebaskan jiwa mereka di saat fisik mereka terpenjara akibat peperangan yang tak kunjung usai. Jalinan hubungan cinta dan persahabatan yang lantas mampu membawa mereka bertahan melalui berbagai problema kehidupan. Continue reading Review: Swing Kids (2018)

Review: Escape Room (2019)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang mengawali karir penyutradaraannya secara cukup menjanjikan melalui The Taking of Deborah Logan (2014) namun lantas melanjutkannya dengan Insidious: The Last Key (2018) yang menjadi bagian terburuk dalam seri film Insidious hingga saat ini, Escape Room berkisah mengenai enam orang karakter yang berusaha untuk keluar dari sebuah permainan yang menjebak mereka. Zoey Davis (Taylor Russell), Ben Miller (Logan Miller), Amanda Harper (Deborah Ann Woll), Mike Nolan (Tyler Labine), Jason Walker (Jay Ellis), dan Danny Khan (Nik Dodani) awalnya mendapat undangan untuk mengikuti sebuah permainan yang mengharuskan mereka untuk memecahkan deretan teka-teki dengan hadiah sebesar US$10 ribu jika mereka dapat menyelesaikan permainan tersebut. Tanpa disangka, permainan yang awalnya dikira hanya untuk bersenang-senang kemudian berubah menjadi perangkap dengan setiap tahapan permainannya menghadirkan bahaya yang dapat membunuh mereka. Continue reading Review: Escape Room (2019)

Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Masih ingat dengan Hiccup dan Toothless? Setelah How to Train Your Dragon (Chris Sanders, Dean DeBlois, 2010) yang berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature di ajang The 83rd Annual Academy Awards dan How to Train Your Dragon 2 (DeBlois, 2014) yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$600 juta yang mengungguli pendapatan komersial seri pendahulunya, DreamWorks Animation kini merilis film teranyar dari seri How to Train Your Dragon – yang juga digadang menjadi seri terakhir, How to Train Your Dragon: The Hidden World. Layaknya dua film pendahulunya, film yang masih diarahkan oleh DeBlois ini terus mengeksplorasi hubungan antara sang ketua suku Viking dari kelompok Berk, Hiccup (Jay Baruchel), dengan naga yang dipeliharanya semenjak kecil, Toothless, dengan kini membawa eksplorasi hubungan tersebut pada kemampuan Hiccup untuk menggantikan sang ayah, Stoick the Vast (Gerard Butler), menjadi pemimpin bagi suku mereka. Mampukah How to Train Your Dragon: The Hidden World menghasilkan daya tarik yang setara dengan daya tari yang dihasilkan oleh dua film terdahulu? Continue reading Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Review: DreadOut (2019)

Menyusul Timo Tjahjanto yang telah mengarahkan Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan The Night Comes for Us (2018) secara solo, belahan jiwa Mo Brothers lainnya, Kimo Stamboel, kini memamerkan kemampuan penyutradaraannya lewat DreadOut. Diatas kertas, premis yang ditawarkan film ini jelas terdengar menarik. Bukan sebuah film horor biasa, jalan cerita DreadOut diadaptasi dari sebuah permainan video bertema horor buatan Indonesia yang telah cukup popular di kalangan para penikmat permainan video baik dalam skala lokal maupun dalam skala internasional – yang menjadikan DreadOut sebagai film adaptasi permainan video pertama di Indonesia. Begitu pula dengan deretan pengisi departemen aktingnya yang dipenuhi nama-nama aktor dan aktris muda Indonesia seperti Jefri Nichol, Caitlin Halderman, Marsha Aruan, hingga Susan Sameh yang jelas telah memiliki kredibilitas kemampuan akting yang cukup meyakinkan. Then what could go wrong? Banyak hal, ternyata… khususnya ketika penceritaan film tidak mendapatkan dukungan kualitas naskah cerita yang solid. Continue reading Review: DreadOut (2019)

Review: Keluarga Cemara (2019)

Harta yang paling berharga adalah keluarga…”

Seperti halnya Si Doel Anak SekolahanKeluarga Cemara merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Hadir pertama kali pada tahun 1996 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang diadaptasi dari seri novel berjudul sama karangan Arswendo Atmowiloto tersebut berhasil merebut hati banyak penontonnya dengan kisah mengenai kehidupan keseharian sebuah keluarga yang meskipun sederhana namun dipenuhi warna serta dinamika yang begitu terasa erat dengan kehidupan banyak lapisan sosial masyarakat Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun semenjak episode terakhirnya mengudara, dan mengikuti jejak adaptasi layar lebar Si Doel Anak Sekolahan yang dirilis pertengahan tahun lalu, produser Anggia Kharisma (Buka’an 8, 2017) dan Gina S. Noer kembali menghadirkan Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam versi film Keluarga Cemara dengan arahan dari sutradara Yandy Laurens. Continue reading Review: Keluarga Cemara (2019)

The 20 Best Movies of 2018

Alright. It’s time to recap the best and most memorable movies of 2018.

Berikut adalah dua puluh film yang At the Movies nilai sebagai yang terbaik di sepanjang tahun 2018, termasuk sebuah film yang dipilih sebagai Movie of the Year. Disusun secara alfabetis. Continue reading The 20 Best Movies of 2018

The 20 Best Movie Performances of 2018

What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama.

Berikut adalah dua puluh penampilan akting yang paling berkesan dalam sebuah film yang dirilis di sepanjang tahun 2018, termasuk sebuah penampilan yang At the Movies pilih sebagai Performance of the Year. Disusun secara alfabetis.

Continue reading The 20 Best Movie Performances of 2018

Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Dengan inspirasi yang didapat dari lirik lagu milik kelompok musik Armada yang berjudul sama, Asal Kau Bahagia berkisah mengenai hubungan asmara antara dua remaja, Aliando (Aliando Syarief) dan Aurora (Aurora Ribero), yang berjalan lancar hingga akhirnya Aliando mendapat kecelakaan parah yang membuatnya harus terbaring koma. Namun, meskipun tubuhnya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, jiwa Aliando ternyata mampu berkelana serta melihat setiap aktivitas yang terjadi di sekitarnya. Sebuah keajaiban terjadi ketika jiwa Aliando mampu berinteraksi dengan sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana). Dengan kemampuan tersebut, Aliando lantas meminta Dewa untuk menjaga sekaligus menghibur Aurora selama dirinya dirawat di rumah sakit. Tidak disangka, ketika jiwanya sedang mengikuti Aurora, Aliando mendengar percakapan telepon yang terjadi antara Aurora dengan seorang pemuda bernama Rassya (Teuku Rassya) yang ternyata telah menjadi kekasih Aurora selama beberapa bulan terakhir. Continue reading Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Review: Mary Poppins Returns (2018)

Memiliki latar belakang waktu pengisahan 25 tahun semenjak berbagai konflik yang dikisahkan pada Mary Poppins (Robert Stevenson, 1964), Mary Poppins Returns bercerita tentang kembalinya sang pengasuh yang memiliki kekuatan magis, Mary Poppins (Emily Blunt), ke kediaman keluarga Banks untuk menemui Michael Banks (Ben Whishaw) dan Jane Banks (Emily Mortimer) yang kini telah menjelma menjadi sosok pria dan wanita dewasa. Kembalinya Mary Poppins bukannya tanpa alasan. Setelah istrinya meninggal dunia, Michael Banks dilanda kekalutan dalam usahanya untuk merawat ketiga anaknya, Annabel Banks (Pixie Davis), John Banks (Nathanael Saleh), dan Georgie Banks (Joel Dawson), dengan hanya dibantu oleh Jane Banks dan pengurus rumah mereka, Ellen (Julie Walters). Problema keluarga Banks menjadi semakin rumit setelah Michael Banks lupa untuk membayar cicilan pinjamannya ke bank yang membuat rumah kediamannya bersama anak-anaknya terancam untuk disita. Seperti yang dialami Michael Banks dan Jane Banks di masa kecilnya, Mary Poppins lantas mengambil alih tugas untuk merawat anak-anak ketika Michael Banks kemudian berpacu dengan waktu untuk mendapatkan solusi agar tidak kehilangan rumah yang telah menjadi bagian dirinya seumur hidup. Continue reading Review: Mary Poppins Returns (2018)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar