Tag Archives: Asian Cinema

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Advertisements

Review: The Promise (2017)

Mereka yang pernah mengunjungi Thailand dan familiar dengan berbagai “lokasi wisata” negara tersebut kemungkinan besar (pasti?) pernah mendengar tentang keberadaan Ghost Tower. Gedung setinggi 47 lantai yang aslinya bernama Sathorn Unique Tower tersebut awalnya mulai dibangun pada tahun 1990 dan diniatkan untuk menjadi sebuah kondominium mewah nan ikonik yang terletak di tengah kota Bangkok. Sayang, ketika krisis ekonomi menerpa Thailand dan menyebabkan lumpuhnya pasar properti di negara tersebut pada tahun 1997, pembangunan Sathorn Unique Tower (dan ratusan gedung pencakar langit lainnya di kota Bangkok) menjadi terhambat dan secara perlahan akhirnya benar-benar terhenti. Seiring dengan berjalannya waktu, Sathorn Unique Tower berubah menjadi bangunan kumuh yang terabaikan keberadaannya namun kemudian mulai menarik perhatian banyak turis lokal maupun asing yang tertarik akan sejarah dan bentuk bangunan tersebut… serta berbagai rumor mengenai aktivitas supranatural yang menghantuinya. Continue reading Review: The Promise (2017)

Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Di tengah industri yang terus berjuang untuk dapat meraih kembali kepercayaan penonton, jelas tidaklah salah jika beberapa pembuat film memilih untuk “bermain aman” dengan memproduksi film-film yang memang terbukti mampu menarik perhatian penonton. Tahun ini, dengan keberhasilan besar yang diraih Danur (Awi Suryadi, 2017), Jailangkung (Rizal Mantovani, Jose Poernomo, 2017), dan Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), horor jelas menjadi lahan emas yang ingin dirasakan oleh banyak orang. Ruqyah: The Exorcism sendiri menjadi film horor kedua arahan Poernomo yang dirilis tahun ini setelah Jailangkung yang ia arahkan bersama Mantovani dan Gasing Tengkorak yang direncanakan akan rilis November mendatang. Sayangnya, bahkan lebih buruk dari Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism hadir dalam kualitas pengisahan yang cukup menyedihkan. Continue reading Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: The Mimic (2017)

Merupakan film pertama dari sutradara Huh Jung setelah meraih kesuksesan besar lewat debut pengarahan film layar lebarnya, Hide and Seek (2013), The Mimic berkisah mengenai pasangan suami istri, Min-ho (Park Hyuk-kwon) dan Hee-yeon (Yum Jung-ah), yang bersama dengan puteri mereka, Joon-hee (Bang Yu-seol), dan ibu dari Min-ho, Soon-ja (Heo Jin), memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota setelah kehilangan putera mereka. Tidak lama setelah kepindahan tersebut, wilayah tempat mereka tinggal dihebohkan dengan penemuan sesosok jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya. Di saat yang bersamaan, Hee-yeon bertemu dengan seorang gadis kecil (Shin Rin-ah) yang ia duga tersesat dan terpisah dari orangtuanya. Hee-yeon lantas memutuskan untuk mengajak gadis tersebut untuk tinggal bersamanya sebelum nantinya ia melaporkan penemuan gadis tersebut ke pihak kepolisian. Namun, deretan kejadian aneh mulai mewarnai kehidupan Hee-yeon dan sekaligus membuat kebahagiaan keluarganya secara perlahan mulai terasa menghilang. Continue reading Review: The Mimic (2017)

Review: Pengabdi Setan (2017)

Merupakan film horor supranatural perdana Joko Anwar, Pengabdi Setan merupakan interpretasi ulang Anwar atas film horor Indonesia berjudul sama arahan Sisworo Gautama Putra yang sempat begitu populer ketika dirilis pertama kali pada tahun 1980. Meskipun sebuah versi ulang buat, namun Pengabdi Setan garapan Anwar tidak sepenuhnya mengikuti alur cerita yang telah diterapkan oleh film pendahulunya. Mereka yang telah familiar dengan film-film maupun gaya penceritaan Anwar jelas dapat merasakan bahwa pemenang Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk filmnya A Copy of My Mind (2015) tersebut tetap memasukkan sentuhan penceritaan khasnya di berbagai sudut pengisahan Pengabdi Setan terbaru. Hasilnya, selain pengisahan Pengabdi Setan tetap mampu terasa segar dan relevan bagi para penonton yang kebanyakan datang dari kalangan generasi baru, Anwar juga berhasil merangkai Pengabdi Setan miliknya menjadi sajian horor Indonesia yang sangat menyenangkan (dan menakutkan) untuk disaksikan. Continue reading Review: Pengabdi Setan (2017)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)

Review: Midnight Runners (2017)

Berkisah mengenai sepasang siswa akademi kepolisian yang terlibat dalam pengungkapan sebuah kasus kriminal dan disajikan dalam warna pengisahan komikal, Midnight Runners sekilas terdengar sebagai sebuah interpretasi dari 21 Jump Street (Phil Lord, Chris Miller, 2012). Tidak sepenuhnya salah. Namun, berbeda dengan film yang dibintangi Channing Tatum dan Jonah Hill tersebut, Midnight Runners secara tidak terduga turut menyertakan beberapa bagian pengisahan yang cukup terasa kelam dalam penceritaannya. And there’s absolutely nothing wrong with that. Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Kim Joo-Hwan (Koala, 2013) sekaligus mengandalkan chemistry yang luar biasa hangat dan sangat meyakinkan dari dua pemeran utamanya, Park Seo-joon dan Kang Ha-neul, Midnight Runners berhasil tampil sebagai sebuah buddy cop movie yang tidak hanya menghibur namun juga mampu memberikan beberapa komentar sosial yang kuat dalam presentasinya. Continue reading Review: Midnight Runners (2017)

Review: Petak Umpet Minako (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Billy Christian berdasarkan novel berjudul sama karya @manhalfgod – No, seriously. – Petak Umpet Minako berkisah mengenai pertemuan kembali seorang gadis bernama Vindha (Regina Rengganis) dengan teman-temannya di masa sekolah pada hari reuni mereka. Vindha sendiri bukanlah sosok yang populer diantara teman-temannya. Semasa sekolah dahulu, ia bahkan seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh beberapa pelajar lain. Berbekal penampilannya yang telah berubah semenjak berkuliah di Jepang, Vindha kini mampu melepas imejnya terdahulu sebagai seorang gadis penyendiri yang lugu. Gadis itu bahkan berhasil meyakinkan teman-temannya untuk turut bermain dalam sebuah permainan petak umpet a la Jepang yang dikenal dengan sebutan Hitori Kakurenbo ketika mereka mengunjungi gedung sekolah mereka. Sial, permainan yang melibatkan ritual pemanggilan arwah tersebut kemudian berakhir sebagai bencana ketika mereka yang terlibat dalam permainan tersebut satu demi satu ditemukan tak bernyawa lagi. Continue reading Review: Petak Umpet Minako (2017)

Review: Bad Genius (2017)

Masih ingat dengan The Perfect Score (Brian Robbins, 2004)? Film yang dibintangi Chris Evans dan Scarlett Johansson tersebut berkisah mengenai sekelompok remaja yang berusaha mencuri lembar jawaban dari materi ujian Scholastic Assessment Test agar mereka dapat diterima di universitas pilihan mereka masing-masing. Well… kisah yang hampir serupa kini dituturkan oleh Bad Genius, sebuah drama remaja arahan Nattawut Poonpiriya yang sebelumnya sukses menyutradarai film horor berjudul Countdown (2012) yang sempat terpilih untuk mewakili Thailand untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language di ajang The 86th Annual Academy Awards. Meskipun memiliki premis pengisahan yang terdengar serupa, Bad Genius adalah sebuah presentasi cerita yang berbeda jika dibandingkan dengan The Perfect Score. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Poonpiriya bersama dengan Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna, Bad Genius dikemas sebagai sebuah drama dengan sentuhan banyak momen-momen cerdas nan menegangkan yang akan sanggup menghipnotis setiap penontonnya. Jelas tampil kuat sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Continue reading Review: Bad Genius (2017)

Review: The Battleship Island (2017)

Terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di masa penjajahan Jepang atas Korea pada tahun 1910 – 1945, The Battleship Island berkisah mengenai 400 orang warga Korea yang dibawa – sebagian besar dengan cara paksa – oleh pasukan Jepang untuk bekerja di sebuah tambang batubara yang terletak di Hashima Island, Jepang. Di sana, para warga Korea tersebut diharuskan untuk bekerja secara terus menerus dengan upah yang sangat rendah – kaum pria bertugas untuk menggali lapisan batubara sementara kaum wanita dijadikan sebagai penghibur bagi para tentara Jepang. Tidak tahan dengan perlakuan kasar dan semena-mena dari pihak Jepang, beberapa orang pekerja mulai menyusun rencana dan strategi untuk dapat melawan para tentara Jepang dan keluar dari pulau tersebut. Dan ketika mereka mendengar kabar bahwa pihak militer Jepang mulai mengalami kesulitan dan kekalahan dari perang mereka terhadap tentara sekutu – yang berasal dari Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet dan Republik Tiongkok, pada saat itu pula mereka tahu kalau mereka harus segera bersatu untuk dapat meraih momen kemerdekaan hidup mereka. Continue reading Review: The Battleship Island (2017)

Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Dua bulan setelah perilisan Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2017) – yang dirilis dua bulan setelah kesuksesan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – aktor muda, Jefri Nichol, kembali hadir dalam sebuah film drama remaja berjudul A: Aku, Benci & Cinta. Juga menghadirkan penampilan aktris Amanda Rawles – yang turut mendampingi Nichol dalam Jailangkung dan Dear Nathan – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Rizki Balki ini berkisah mengenai konflik percintaan yang membelit para karakter-karakter remajanya. Of course. Namun, berbeda dengan film-film remaja sepantarannya, A: Aku, Benci & Cinta berusaha menghadirkan lebih banyak lapisan pengisahan dengan balutan komedi yang cukup kental dalam presentasi ceritanya. Berhasil? Continue reading Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Review: Toilet: Ek Prem Katha (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh penata dialog dari film Brothers (Karan Malhotra, 2015) yang juga dibintangi oleh Akhsay Kumar, Siddharth Singh dan Garima Wahal, Toilet: Ek Prem Katha – dalam Bahasa Inggris berarti Toilet: A Love Story – adalah sebuah drama satir yang diproduksi untuk mendukung program Clean India Mission yang dicanangkan oleh pemerintah Republik India melalui Perdana Menteri-nya, Narendra Modi, pada tahun 2014. Program tersebut bertujuan untuk memperbaiki kondisi sanitasi di seluruh Republik India, khususnya dengan berusaha untuk menghapuskan budaya buang air besar di tempat-tempat terbuka yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat di wilayah pinggiran. Dibungkus dalam tatanan kisah cinta yang terbentuk antara dua karakter utamanya, Toilet: Ek Prem Katha mampu menjadi sebuah film romansa yang tampil memikat sekaligus kuat berbicara mengenai susunan tradisi dan budaya yang kadang masih dianggap tabu untuk dibahas oleh khalayak ramai. Continue reading Review: Toilet: Ek Prem Katha (2017)