Tag Archives: Asian Cinema

Review: Geez & Ann (2021)

Alur pengisahan dari film terbaru arahan sutradara Rizki Balki (Laundry Show, 2019), Geez & Ann, dimulai dengan pertemuan dua karakter utamanya, Gazza Cahyadi yang dalam keseharian dipanggil dengan sebutan Geez (Junior Roberts) dan Keana Amanda yang akrab disapa sebagai Ann (Hanggini). Pertemuan singkat yang terjadi dalam sebuah pagelaran pentas seni yang dilaksanakan oleh sekolah tempat Ann belajar – dan Geez merupakan salah satu alumninya – segera tumbuh menjadi benih hubungan romansa bagi keduanya. Kisah kasih antara dua remaja tersebut menemui tantangan besar ketika Geez harus memenuhi keinginan sang ibu (Dewi Rezer) agar dirinya melanjutkan pendidikannya di Berlin, Jerman selama empat tahun mendatang. Tidak ingin hubungannya dengan Ann kandas begitu saja, Geez lantas berjanji bahwa dirinya akan selalu pulang untuk menemui Ann di setiap hari ulang tahun gadis yang memiliki cita-cita sebagai dokter itu. Continue reading Review: Geez & Ann (2021)

Review: Layla Majnun (2021)

Setelah Test Pack: You Are My Baby (2012), sutradara Monty Tiwa kembali mempertemukan Reza Rahadian dengan Acha Septriasa dalam film arahannya yang terbaru, Layla Majnun. Merasa familiar dengan judul tersebut? Meskipun bukanlah adaptasi langsung dari kumpulan puisi legendaris Layla and Majnun karangan sastrawan asal Azerbaijan, Nezami Ganjavi, namun naskah cerita film yang ditulis oleh Alim Sudio (Mariposa, 2020) masih menggunakan esensi serta tema cerita senada seperti yang diusung oleh barisan puisi karya Ganjavi yang alur kisahnya mendapat julukan The Romeo and Julie of the East karena kandungan cerita cinta tak berbalasnya yang mengingatkan banyak orang pada kisah Romeo and Juliet yang ditulis oleh William Shakespeare. Lalu bagaimana eksplorasi cerita yang dilakukan oleh Tiwa dan Sudio dalam mengelola alur dan konflik romansa yang sebenarnya telah dituturkan berulang kali? Continue reading Review: Layla Majnun (2021)

Review: June & Kopi (2021)

Kisah persahabatan yang terjalin antara manusia dengan anjing telah ambil bagian dalam plot pengisahan banyak film dari berbagai jenis warna cerita – mulai dari Turner & Hooch (Roger Spottiswoode, 1989), Must Love Dogs (Gary David Goldberg, 2005), I Am Legend (Francis Lawrence, 2007), Marley & Me (David Frankel, 2008), Hachiko: A Dog’s Story (Lasse Hallström, 2009), hingga The Call of the Wild (Chris Sanders, 2020). Cukup berbeda dengan Hollywood, Anda harus menyibak kembali rentangan waktu hingga ke tahun 1974 untuk menemukan Boni & Nancy yang menjadi film Indonesia pertama dan satu-satunya yang mengeksplorasi tema serupa dalam penceritaannya. Kini, film arahan John Tjasmadi itu tidak akan lagi menjadi film Indonesia satu-satunya yang bertutur tentang persahabatan antara manusia dengan mamalia yang bergelar peliharaan dan sahabat tertua manusia tersebut. Film kedua yang diproduseri, diarahkan, sekaligus ditulis ceritanya oleh Noviandra Santosa, June & Kopi, akan melalui jejak serupa yang sebelumnya telah dibuat dan dilalui oleh Boni & Nancy. Continue reading Review: June & Kopi (2021)

Review: Happy Old Year (2019)

Selain menampilkan penampilan akting dari aktor Sunny Suwanmethanont – yang sebelumnya pernah ia arahkan dalam film Heart Attack (2015) dan Die Tomorrow (2017), film terbaru arahan sutradara Nawapol Thamrongrattanarit, Happy Old Year, juga menghadirkan aktris Chutimon Chuengcharoensukying yang popular berkat penampilan apiknya dalam Bad Genius (Nattawut Poonpiriya, 2017) serta turut tampil bersama Suwanmethanont dalam Die Tomorrow. Tidak mengherankan, kefamiliaran kinerja serta ritme kerja antara satu dengan yang lain begitu dapat dirasakan muncul dalam penampilan Chuengcharoensukying dan Suwanmethanont serta pengarahan yang diberikan oleh Thamrongrattanarit. Naskah cerita film yang juga ditulis oleh Thamrongrattanarit mengalir dengan atmosfer melankolis yang kental dalam menghantarkan kisahnya yang bertutur soal beranjak dari kenangan masa lalu. Tema yang mungkin terdengar begitu sederhana namun mampu dibangun Thamrongrattanarit dengan berbagai pemikiran yang mendalam serta menyentuh tentang kehidupan. Continue reading Review: Happy Old Year (2019)

Review: Affliction (2021)

Menjelang dekade ketiga dalam karir penyutradaraan film layar lebarnya, sutradara Teddy Soeriaatmadja (Menunggu Pagi, 2018) mengeksplorasi ranah pengisahan horor untuk film terbaru arahannya, Affliction. Dibintangi Raihaanun dan Tutie Kirana yang sebelumnya turut berperan dalam dua film dari Trilogy of Intimacy garapan Soeriaatmadja, Lovely Man (2011) dan About a Woman (2014), Affliction berkisah tentang pasangan Hasan (Ibnu Jamil) dan Nina (Raihaanun) yang bersama dengan kedua anaknya, Tasya (Tasya Putri) dan Ryan (Abiyyu Barakbah), melakukan perjalanan untuk kembali ke kampung halaman Hasan guna menjemput sang ibu (Kirana) yang merupakan seorang penderita Alzheimer. Bukan tugas yang mudah. Selain sang ibu kini sering terlupa akan identitas orang-orang yang berada di hadapannya, ibu juga menolak untuk meninggalkan rumah yang selama ini telah ia tempati. Lebih buruk, Nina, yang memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal yang berasal dari dunia supranatural, mulai merasakan adanya sosok misterius yang mencoba untuk mengganggu keberadaan keluarganya di rumah tersebut. Continue reading Review: Affliction (2021)

Review: Yang tak Tergantikan (2021)

Tidak salah untuk mengatakan bila film kedua arahan sutradara Herwin Novianto yang dirilis di Disney+ Hotstar merupakan sebuah companion piece bagi film pertamanya. Jika Sejuta Sayang Untuknya (2020) menempatkan Deddy Mizwar sebagai sosok ayah tunggal yang berjuang untuk menghidupi putri remajanya, maka Yang tak Tergantikan menghadirkan penampilan akting Lulu Tobing yang berperan sebagai seorang perempuan yang berusaha untuk tetap tangguh bertahan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan demi masa depan kehidupan tiga anaknya. Seperti halnya Sejuta Sayang Untuknya, linimasa pengisahan Yang tak Tergantikan diisi dengan barisan konflik yang berkesan sederhana dan familiar namun mampu tergarap dengan kesan nyata yang kuat. Tidak mengherankan jika kemudian film yang naskah ceritanya ditulis oleh Novianto bersama dengan Gunawan Raharja (22 Menit, 2018) akan mampu dengan mudah untuk disukai setiap penontonnya. Continue reading Review: Yang tak Tergantikan (2021)

Review: Sobat Ambyar (2021)

Seperti yang dapat dicerna dari judulnya, Sobat Ambyar adalah sebuah film yang mencoba untuk menangkap fenomena popularitas dari sosok Didi Kempot yang dikenal karena lagu-lagu campursari berbahasa Jawa-nya yang banyak bertemakan patah hati dan rasa kehilangan. Namun, jangan salah, film yang diarahkan oleh Charles Gozali (Nada untuk Asa, 2015) bersama dengan Bagus Bramanti ini bukanlah sebuah biopik yang ingin bertutur tentang seluk beluk kehidupan penyanyi yang telah tutup usia pada pertengahan tahun lalu tersebut. Disajikan sebagai sebuah drama romansa, Sobat Ambyar lebih tertarik untuk mengangkat kisah tentang bagaimana lagu-lagu yang dinyanyikan Kempot digunakan oleh para pendengarnya sebagai pelarian untuk menghibur rasa duka maupun lara yang sedang mengendap di hati mereka. Terbukti, lagu-lagu milik Kempot yang mengiringi banyak adegan film menjadi faktor kesuksesan Sobat Ambyar dalam menghasilkan momen-momen terbaik pengisahannya. Continue reading Review: Sobat Ambyar (2021)

Review: Quarantine Tales (2020)

Merupakan omnibus yang berisi lima film pendek arahan Dian Sastrowardoyo, Jason Iskandar, Ifa Isfansyah, Aco Tenri, dan Sidharta Tata, fokus pengisahan Quarantine Tales tidak hanya tentang barisan kisah mengenai sederetan karakter yang berusaha bertahan pada masa karantina dalam menghadapi pandemi COVID-19. Secara menyeluruh, tema “karantina” disajikan dengan menampilkan sosok-sosok karakter yang merasakan keterpisahan serta kehilangan – baik dari orang-orang yang mereka cintai, dari mimpi dan harapan, bahkan dari identitas diri mereka sendiri – dalam kehidupan mereka. Kehadiran Quarantine Tales juga menjadi simbol tersendiri bagi para pembuatnya ketika film ini diproduksi di tengah pandemi dalam kondisi kebiasaan baru yang serba terbatas dengan harapan untuk tetap menjaga kreativitas dan menjaga pertumbuhan industri perfilman Indonesia. Niat tulus yang berakhir gemilang ketika lima film pendek yang ditampilkan Quarantine Tales mampu tereksekusi dengan baik dalam menyampaikan seluruh alur pengisahannya. Continue reading Review: Quarantine Tales (2020)

Festival Film Indonesia 2020 Winners List

Film yang dipilih Indonesia untuk berkompetisi di kategori Best International Feature di ajang Academy Awards mendatang, Perempuan Tanah Jahanam, berhasil memenangkan kategori Film Cerita Panjang Terbaik dari Festival Film Indonesia 2020. Film arahan Joko Anwar tersebut juga menjadi film peraih penghargaan terbanyak dengan memenangkan lima kategori lainnya, termasuk Sutradara Terbaik untuk Anwar serta Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Christine Hakim – yang sekaligus menjadikan Hakim sebagai peraih Piala Citra terbanyak kedua sepanjang masa dengan sembilan piala (sepuluh jika termasuk dengan raihan Lifetime Achievement) yang diraih sepanjang karirnya. (Idris Sardi adalah pemenang Piala Citra terbanyak sepanjang masa dengan sebelas Piala Citra.) Continue reading Festival Film Indonesia 2020 Winners List

Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Jika film animasi Seoul Station (Yeon Sang-ho, 2016) memiliki peran untuk mengisahkan berbagai hal yang terjadi sebelum deretan konflik yang diceritakan dalam Train to Busan (2016), Peninsula – atau yang dirilis di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan judul Train to Busan Presents: Peninsula – memiliki latar belakang waktu pengisahan empat tahun setelahnya. Meskipun berada dalam semesta pengisahan yang sama, namun, seperti halnya Seoul Station, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Yeon bersama dengan Park Joo-suk ini tampil sebagai kisah yang berdiri sendiri dan tidak memiliki keterikatan konflik maupun karakter dengan Train to Busan. Yeon dan Park juga sepertinya merancang Train to Busan Presents: Peninsula untuk memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang berbeda. Masih berfokus pada deretan ketegangan akan usaha melarikan diri dari kejaran kumpulan mayat hidup, tentu saja, namun Train to Busan Presents: Peninsula disajikan dengan tatanan aksi yang lebih intens dan maksimal. Continue reading Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Review: Roh (2019)

Malaysia menghadirkan citarasa horor yang berbeda lewat Roh – sebuah film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Emir Ezwan. Berbeda dengan rekan-rekan sepantarannya yang seringkali hadir dengan nuansa horor yang meledak-ledak – mulai dari lampiran adegan-adegan penghasil kejutan, tata suara dan musik yang cenderung berisik, hingga plot bernada relijius yang cukup kental – Roh tampil… well… minimalis. Ezwan sepertinya mendapatkan inspirasi dari film-film horor modern seperti The VVitch (Robert Eggers, 2015), The Wailing (Na Hong-jin, 2016), atau Hereditary (Ari Aster, 2018) yang memang lebih mengedepankan atmosfer kelam daripada berusaha memberikan kejutan demi kejutan dalam tiap adegan kepada penontonnya. Didukung oleh kemampuan pengarahan Ezwan yang begitu dominan, Roh menjelma menjadi sajian horor yang efektif dalam menghantui setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: Roh (2019)

Review: True Mothers (2020)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Mizuki Tsujimura, film terbaru arahan sutradara asal Jepang, Naomi Kawase (Vision, 2018), ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang karena kondisi dan keadaannya kemudian menjadi sosok seorang ibu. True Mothers dimulai dengan kisah pasangan Satoko (Hiromi Nagasaku) dan Kiyokazu Kurihara (Arata Iura) yang setelah sekian tahun menikah namun masih belum mampu untuk memiliki anak. Keduanya lantas memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dengan bantuan sebuah agensi adopsi yang dipimpin oleh Shizue Asami (Miyoko Asada), pasangan tersebut dipertemukan dengan Hikari Katakura (Aju Makita), seorang remaja berusia 14 tahun yang memutuskan untuk menyerahkan anak hasil kehamilannya untuk diadopsi. Proses adopsi tersebut berjalan lancar. Namun, enam tahun setelah mengadopsi anak yang diberi nama Asato Kurihara (Reo Sato) tersebut, Satoko menerima telepon dari Hikari Katakura yang menginginkan agar anaknya dikembalikan padanya. Continue reading Review: True Mothers (2020)

Review: Sejuta Sayang Untuknya (2020)

Setelah Tanah Surga… Katanya (2012) yang berhasil memenangkan empat kategori, termasuk Film Terbaik, di ajang Festival Film Indonesia, sutradara Herwin Novianto kembali bekerjasama dengan aktor Deddy Mizwar untuk film Sejuta Sayang Untuknya. Alur ceritanya bertutur tentang seorang figuran film bernama Aktor Sagala (Mizwar) dalam usahanya untuk membahagiakan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup putrinya, Gina (Syifa Hadju). Aktor Sagala sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang pekerja seni peran. Namun, berperan dalam peran-peran kecil, tentu saja, tidak dapat membiayai hidup dirinya serta putri semata wayangnya. Tekanan ekonomi makin dirasakan Aktor Sagala ketika Gina membutuhkan uang dalam jumlah yang lebih besar guna menyelesaikan bangku SMA-nya sekaligus melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Tidak menyerah begitu saja, Aktor Sagala mulai memutar otak untuk mencari pekerjaan yang dapat menyokong berbagai kebutuhan sang anak. Continue reading Review: Sejuta Sayang Untuknya (2020)