Tag Archives: Asian Cinema

Review: My Generation (2017)

It’s a tale as old as time: Kisah mengenai para anak manusia yang sedang beranjak dewasa dan berusaha untuk menemukan jati diri mereka namun kemudian menyadari bahwa dunia berada di pihak yang berlawanan dengan mereka. Sebuah bahasan klasik yang sebenarnya pernah disinggung oleh sutradara film ini, Upi, dalam beberapa film yang ia garap sebelumnya seperti Realita Cinta dan Rock’n’Roll (2005) dan Radit dan Jani (2008). Lewat My Generation, Upi ingin membawa penontonnya untuk berkenalan dengan Generasi Z – meskipun film ini melabeli mereka dengan sebutan generasi milenial – atau yang disebut juga dengan iGeneration karena kedekatan dan keakraban generasi ini dengan teknologi internet dalam kehidupan keseharian mereka. Meskipun dengan konflik maupun pengembangan plot pengisahan yang cenderung sederhana, observasi Upi atas sebuah generasi yang ia presentasikan lewat film ini mampu tampil menyenangkan dan begitu mengikat. Continue reading Review: My Generation (2017)

Advertisements

Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Diadaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul sama karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni berkisah mengenai hubungan asmara antara dua orang dosen, Pingkan (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Sebelum Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, Sarwono meminta bantuan gadis tersebut untuk menemaninya menyelesaikan sebuah tugas di kota Manado, Sulawesi Utara – yang juga merupakan kota kelahiran Pingkan. Kepulangan Pingkan kembali ke kampung halamannya jelas disambut dengan senang hati oleh keluarganya. Namun, di saat yang bersamaan, kedatangan Pingkan juga disambut oleh sepupu tirinya, Benny (Baim Wong), yang semenjak lama telah menaruh hati pada Pingkan. Ditambah dengan deretan pertanyaan yang hadir dari keluarga Pingkan mengenai perbedaan kepercayaan yang mereka nilai tidak dapat menyatukan Pingkan dengan dirinya, membuat Sarwono mulai mempertanyakan kekuatan hubungan asmara yang ia jalin selama ini. Continue reading Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Walaupun semasa perilisannya kurang mampu untuk meraih perhatian besar dari penikmat film Indonesia dan tayang dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan film-film peraih nominasi Film Terbaik lainnya namun Night Bus (2017) ternyata masih mampu meraih mayoritas suara dewan juri untuk memenangkan kategori utama di ajang Festival Film Indonesia 2017. Selain menjadi pemenang Film Terbaik, film arahan Emil Heradi tersebut juga memenangkan lima kategori lainnya termasuk memberikan dua Piala Citra bagi Teuku Rifnu Wikana yang memenangkannya lewat kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Review: Secret Superstar (2017)

Sukses dengan Dangal (Nitesh Tiwari, 2016), Aamir Khan kembali berkolaborasi dengan produser Kiran Rao untuk memproduksi Secret Superstar. Merupakan debut pengarahan bagi Advait Chandan – yang juga merupakan mantan manajer bagi Khan, Secret Superstar berkisah mengenai kehidupan seorang gadis bernama Insia Malik (Zaira Wasim) yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Baroda di Gujarat, India, dan bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Walau sang ibu, Najma Malik (Meher Vij), mendukung penuh mimpinya, namun sang ayah, Farookh Malik (Raj Arjun), yang memiliki pola pemikiran konservatif serta sering berlaku abusif, melarang keras Insia Malik untuk terlibat dalam segala kegiatan yang dinilainya tidak berguna. Atas saran sang ibu, Insia Malik lantas mengunggah rekaman video bernyanyi dirinya ke YouTube namun tetap dengan menyembunyikan wajah dan identitas aslinya. Tidak disangka, rekaman-rekaman video milik Insia Malik secara perlahan mulai memberikannya popularitas. Popularitas tersebut kemudian menarik perhatian seorang produser kenamaan, Shakti Kumar (Khan), yang berniat untuk mengajaknya rekaman. Namun, tentu saja, Insia Malik harus menghadapi hadangan sang ayah yang jelas menentang keras mimpi puterinya tersebut. Continue reading Review: Secret Superstar (2017)

Review: Posesif (2017)

Diarahkan oleh Edwin (Kebun Binatang, 2012) dalam film yang menandai kali pertama film arahannya tayang secara luas di pelbagai jaringan bioskop komersial Indonesia, Posesif merupakan sebuah drama romansa remaja yang berkisah mengenai hubungan percintaan antara Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken). Lala, seorang siswi cerdas yang juga seorang atlet loncat indah berprestasi, langsung terkesan dengan perkenalannya dengan Yudhis yang merupakan seorang siswa baru di sekolahnya. Dalam waktu singkat, Lala dan Yudhis tak lagi dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hubungannya dengan Yudhis bahkan secara perlahan membuat Lala menarik diri dari sesi latihan loncat indahnya bersama sang ayah yang juga merupakan pelatihnya (Yayu Unru) sekaligus mengurangi waktu yang ia habiskan bersama dua sahabatnya, Ega (Gritte Agatha) dan Rino (Chicco Kurniawan). Namun, seiring dengan pertambahan usia hubungannya dengan Yudhis, Lala mulai menemukan sisi gelap dari kepribadian Yudhis yang membuatnya terjebak dalam sebuah hubungan yang tak dapat dihindarinya. Continue reading Review: Posesif (2017)

Review: A Day (2017)

WellHappy Death Day (Christopher Landon, 2017) bukanlah satu-satunya film rilisan tahun ini yang menggunakan pola pengisahan time loop dalam jalan ceritanya. Film berjudul A Day yang menjadi debut penyutradaraan bagi penulis naskah asal Korea Selatan, Cho Sun-ho, juga menggunakan cara bercerita yang sama dan bahkan menyajikannya dengan elemen pengisahan drama yang lebih kompleks sekaligus emosional. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Cho, A Day berkisah mengenai seorang ahli bedah, Kim Joon-young (Kim Myung-min), yang setelah sekian lama berada di luar negeri untuk mengikuti serangkaian kegiatan amal akhirnya kembali ke Korea Selatan untuk bertemu kembali dengan puterinya, Eun-jung (Jo Eun-hyung). Sial, sebelum ia sempat bertemu dengan Eun-jung, gadis tersebut meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kim Joon-young kemudian terbangun dalam pesawat yang membawanya kembali ke kampung halamannya dan mengira bahwa rentetan tragedi yang disaksikannya hanyalah sebuah mimpi. Namun, setelah deretan kejadian yang ia kira berada dalam mimpinya kembali berulang, Kim Joon-young mulai menyadari bahwa ia harus memecahkan sebuah misteri untuk dapat menyelamatkan puterinya. Continue reading Review: A Day (2017)

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Review: The Promise (2017)

Mereka yang pernah mengunjungi Thailand dan familiar dengan berbagai “lokasi wisata” negara tersebut kemungkinan besar (pasti?) pernah mendengar tentang keberadaan Ghost Tower. Gedung setinggi 47 lantai yang aslinya bernama Sathorn Unique Tower tersebut awalnya mulai dibangun pada tahun 1990 dan diniatkan untuk menjadi sebuah kondominium mewah nan ikonik yang terletak di tengah kota Bangkok. Sayang, ketika krisis ekonomi menerpa Thailand dan menyebabkan lumpuhnya pasar properti di negara tersebut pada tahun 1997, pembangunan Sathorn Unique Tower (dan ratusan gedung pencakar langit lainnya di kota Bangkok) menjadi terhambat dan secara perlahan akhirnya benar-benar terhenti. Seiring dengan berjalannya waktu, Sathorn Unique Tower berubah menjadi bangunan kumuh yang terabaikan keberadaannya namun kemudian mulai menarik perhatian banyak turis lokal maupun asing yang tertarik akan sejarah dan bentuk bangunan tersebut… serta berbagai rumor mengenai aktivitas supranatural yang menghantuinya. Continue reading Review: The Promise (2017)

Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Di tengah industri yang terus berjuang untuk dapat meraih kembali kepercayaan penonton, jelas tidaklah salah jika beberapa pembuat film memilih untuk “bermain aman” dengan memproduksi film-film yang memang terbukti mampu menarik perhatian penonton. Tahun ini, dengan keberhasilan besar yang diraih Danur (Awi Suryadi, 2017), Jailangkung (Rizal Mantovani, Jose Poernomo, 2017), dan Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), horor jelas menjadi lahan emas yang ingin dirasakan oleh banyak orang. Ruqyah: The Exorcism sendiri menjadi film horor kedua arahan Poernomo yang dirilis tahun ini setelah Jailangkung yang ia arahkan bersama Mantovani dan Gasing Tengkorak yang direncanakan akan rilis November mendatang. Sayangnya, bahkan lebih buruk dari Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism hadir dalam kualitas pengisahan yang cukup menyedihkan. Continue reading Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: The Mimic (2017)

Merupakan film pertama dari sutradara Huh Jung setelah meraih kesuksesan besar lewat debut pengarahan film layar lebarnya, Hide and Seek (2013), The Mimic berkisah mengenai pasangan suami istri, Min-ho (Park Hyuk-kwon) dan Hee-yeon (Yum Jung-ah), yang bersama dengan puteri mereka, Joon-hee (Bang Yu-seol), dan ibu dari Min-ho, Soon-ja (Heo Jin), memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota setelah kehilangan putera mereka. Tidak lama setelah kepindahan tersebut, wilayah tempat mereka tinggal dihebohkan dengan penemuan sesosok jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya. Di saat yang bersamaan, Hee-yeon bertemu dengan seorang gadis kecil (Shin Rin-ah) yang ia duga tersesat dan terpisah dari orangtuanya. Hee-yeon lantas memutuskan untuk mengajak gadis tersebut untuk tinggal bersamanya sebelum nantinya ia melaporkan penemuan gadis tersebut ke pihak kepolisian. Namun, deretan kejadian aneh mulai mewarnai kehidupan Hee-yeon dan sekaligus membuat kebahagiaan keluarganya secara perlahan mulai terasa menghilang. Continue reading Review: The Mimic (2017)

Review: Pengabdi Setan (2017)

Merupakan film horor supranatural perdana Joko Anwar, Pengabdi Setan merupakan interpretasi ulang Anwar atas film horor Indonesia berjudul sama arahan Sisworo Gautama Putra yang sempat begitu populer ketika dirilis pertama kali pada tahun 1980. Meskipun sebuah versi ulang buat, namun Pengabdi Setan garapan Anwar tidak sepenuhnya mengikuti alur cerita yang telah diterapkan oleh film pendahulunya. Mereka yang telah familiar dengan film-film maupun gaya penceritaan Anwar jelas dapat merasakan bahwa pemenang Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk filmnya A Copy of My Mind (2015) tersebut tetap memasukkan sentuhan penceritaan khasnya di berbagai sudut pengisahan Pengabdi Setan terbaru. Hasilnya, selain pengisahan Pengabdi Setan tetap mampu terasa segar dan relevan bagi para penonton yang kebanyakan datang dari kalangan generasi baru, Anwar juga berhasil merangkai Pengabdi Setan miliknya menjadi sajian horor Indonesia yang sangat menyenangkan (dan menakutkan) untuk disaksikan. Continue reading Review: Pengabdi Setan (2017)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)