Tag Archives: Asian Cinema

Review: Jailangkung (2017)

“Jelangkung. Jelangkung. Disini ada pesta kecil-kecilan. Datang tak dijemput. Pulang tak diantar.” Masih ingat dengan mantra tersebut? Mantra tersebut sempat menjadi barisan kalimat yang begitu popular di kalangan masyarakat Indonesia setelah kesuksesan fenonemal yang diraih oleh film horor arahan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo, Jelangkung (2001). Tidak hanya berhasil untuk menarik perhatian penikmat film Indonesia untuk datang dan menyaksikannya di bioskop, kesuksesan Jelangkung bahkan mampu “menginspirasi” para produser film Indonesia lainnya untuk memproduksi puluhan (ratusan?) film horor lainnya untuk dirilis ke pasar film nasional – yang secara perlahan kemudian membuat layar bioskop Indonesia didominasi oleh judul-judul horor selama bertahun-tahun. Jelangkung sendiri kemudian diikuti oleh tiga film berikutnya yang berada dalam seri film tersebut: dua buah sekuel berjudul Tusuk Jelangkung (Dimas Djayadiningrat, 2003) dan Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko) serta sebuah subseri berjudul Angkerbatu (Poernomo, 2007). Continue reading Review: Jailangkung (2017)

Advertisements

Review: Tubelight (2017)

Setelah meraih sukses besar lewat Bajrangi Bhaijaan (2015) – yang dengan pendapatan komersial sebesar US$97 juta kini menempati posisi sebagai film produksi Bollywood dengan raihan pendapatan terbesar kelima sepanjang masa di dunia  – sutradara Kabir Khan dan aktor Salman Khan kembali bekerjasama dalam Tubelight. Juga menjadi film kedelapan Khan yang dirilis pada masa libur Idulfitri semenjak memulai tradisi tersebut lewat Wanted (Prabhu Deva, 2009), Tubelight memiliki pengisahan yang jelas sangat sesuai dengan kondisi sosial banyak lapisan masyarakat dunia saat ini. Suatu kondisi sosial dimana prasangka seringkali memicu keberadaan konflik antara kelompok yang satu dengan yang lain. Tema penceritaan yang mulia namun, sayangnya, seringkali gagal tersampaikan dengan baik justru akibat penampilan akting sang pemeran utamanya. Continue reading Review: Tubelight (2017)

Review: Mantan (2017)

Mantan, sebuah drama romansa yang menjadi debut pengarahan bagi Svetlana Dea, memiliki premis yang sebenarnya sangat sederhana namun cukup menarik perhatian. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Gandhi Fernando, yang juga bertanggungjawab sebagai produser serta berperan sebagai karakter utama dalam film ini, Mantan berkisah mengenai Adi (Fernando), seorang penulis yang kini sedang dilanda rasa keraguan menjelang pernikahannya dengan sang tunangan. Meskipun sangat mencintai sang tunangan, Adi masih merasa bahwa ia butuh untuk bertemu dengan beberapa mantan kekasihnya untuk memastikan ia akan menikahi orang yang tepat dan tidak meninggalkan sosok yang harusnya menjadi pendamping hidupnya. Guna menjawab keraguannya tersebut, Adi lantas melakukan perjalanan ke lima kota di Indonesia untuk mengunjungi lima orang mantan kekasihnya: Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kymberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan dan kemudian kembali ke Jakarta untuk menemui Deedee (Citra Scholastika). Continue reading Review: Mantan (2017)

Review: The Merciless (2017)

Diarahkan oleh Byun Sung-hyun berdasarkan naskah cerita yang juga ditulis oleh Byun sendiri, The Merciless berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara Han Jae-ho (Sol Kyung-gu) dan Jae Hyun-soo (Im Si-wan) ketika mereka sama-sama menjalani masa hukuman mereka di dalam penjara. Setelah melalui berbagai tantangan di dalam penjara, termasuk beberapa kekacauan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara para narapidana, Jae-ho memutuskan untuk memperkenalkan Hyun-soo pada organisasi kriminalnya yang dipimpin Ko Byung-Chul (Lee Kyeong-yeong) sekaligus mengajaknya untuk bergabung selepas masa hukuman mereka berakhir. Berkat hubungan persahabatan keduanya yang kental itulah organisasi kriminal mereka meraih banyak kesuksesan. Namun, di saat yang bersamaan, seorang polisi yang bertekad untuk membongkar berbagai kejahatan yang telah dilakukan oleh organisasi kriminal tersebut, Cheon In-sook (Jeon Hye-jin), telah memiliki rencana untuk dapat meraih tujuannya, termasuk dengan membongkar rahasia dan masa lalu dari Han Jae-ho dan Jae Hyun-soo. Continue reading Review: The Merciless (2017)

Review: Critical Eleven (2017)

Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures. Continue reading Review: Critical Eleven (2017)

Review: Siam Square (2017)

Mereka yang pernah berkunjung ke Thailand jelas akan merasa familiar dengan wilayah Siam Square – sebuah wilayah yang menjadi pusat hiburan dan perbelanjaan yang terletak di ibukota Negara Gajah Putih tersebut. Namun, film Siam Square yang menjadi debut pengarahan layar lebar perdana bagi sinematografer Pairach Khumwan – setelah sebelumnya mengarahkan sebuah segmen cerita dalam film Love, Not Yet (2011) – bukanlah film yang ingin mengisahkan lokasi tersebut sebagai sebuah tempat wisata. Siam Square justru tampil sebagai sebuah film horor yang ingin berkisah tentang misteri kelam nan terselubung dari lokasi yang juga dikenal sebagai wilayah tempat bergaul dan berkumpulnya para remaja Bangkok itu. Well… atau begitulah harapan yang sebenarnya ingin dicapai Khumwan bagi film ini. Continue reading Review: Siam Square (2017)

Review: Membabi-buta (2017)

Prisia Nasution menghabiskan paruh awal 2017 untuk tampil dalam film-film dari genre horor. Setelah film produksi Malaysia, Interchange (Dain Iskandar Said, 2016), yang dirilis terbatas di layar bioskop Indonesia awal tahun ini dan kemudian disusul dengan The Curse (Muhammad Yusuf, 2017), hattrick Nasution dalam membintangi film horor di tahun ini hadir lewat Membabi-buta. Merupakan film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi Joel Fadly, naskah cerita Membabi-buta yang digarap oleh Anggi Septianto (Algojo: Perang Santet, 2016) sendiri tidak memiliki cukup konflik untuk mengisi banyak ruang penceritaan film ini. Beruntung, Fadly menyimpan beberapa amunisi dari teknik pengarahannya yang mampu membuat Membabi-buta setidaknya tidak pernah terasa membosankan terlepas dari berbagai kelemahan presentasi ceritanya. Continue reading Review: Membabi-buta (2017)

Review: The Curse (2017)

Dengan naskah yang ditulis dan diarahkan oleh Muhammad Yusuf, The Curse berkisah mengenai Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara asal Indonesia yang sedang bekerja di sebuah firma hukum ternama di Australia. Kehidupan Shelina saat ini sedang dirundung banyak masalah: ia harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang cukup rumit, menghadapi urusan perceraiannya dengan sang suami dan, di tengah-tengah permasalahan tersebut, Shelina mulai merasakan adanya gangguan supranatural yang mulai mengusik kesehariannya. Walau awalnya berusaha tidak mengindahkan gangguan tersebut, Shelina lantas memutuskan untuk memanggil seorang paranormal untuk membantu permasalahannya. Melalui sang paranormal, Shelina mengetahui bahwa dirinya sedang diikuti oleh sesosok roh halus yang berkaitan dengan permasalahan yang pernah dihadapinya di masa lalu. Dan untuk menghilangkan gangguan supranatural, Shelina kini diharuskan untuk kembali menghadapi sekaligus menyelesaikan permasalahan tersebut. Continue reading Review: The Curse (2017)

Review: Surau dan Silek (2017)

Merupakan debut pengarahan dari Arief Malinmudo – yang juga bertugas sebagai penulis naskah cerita bagi film ini, Surau dan Silek berkisah tentang tiga anak laki-laki, Adil (Muhammad Razi), Kurip (Bintang Khairafi), dan Dayat (Bima Jousant), yang baru saja ditinggal pelatih silat mereka, Rustam (Gilang Dirga), beberapa bulan sebelum ketiganya mengikuti sebuah kejuaraan. Tidak menyerah begitu saja, ketiganya lantas memulai usaha mereka untuk mencari seorang guru silat yang baru. Beruntung, melalui perantaraan teman sekelas mereka, Rani (Randu Arini), ketiganya dikenalkan kepada Johar (Yusril Katil), seorang penulis sekaligus dosen yang dahulunya juga merupakan seorang juara silat. Walau awalnya Johar merasa enggan untuk melatih ketiga anak tersebut karena motivasi mereka dalam mempelajari silat hanya untuk memenangkan sebuah kompetisi, Johar secara perlahan berhasil memberikan didikan arti silat sebenarnya sekaligus melatih Adil, Kurip, dan Dayat untuk mampu bersaing dalam pertandingan yang akan mereka ikuti. Continue reading Review: Surau dan Silek (2017)

Review: Stip & Pensil (2017)

Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi. Continue reading Review: Stip & Pensil (2017)

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: The Guys (2017)

Lewat Hangout (2016), Raditya Dika memberikan kejutan pada banyak penikmat film Indonesia. Thriller comedy yang kemudian berhasil mengundang hampir tiga juta penonton selama masa penayangannya tersebut membuktikan bahwa pengarahan Dika mampu tumbuh dewasa dengan baik sekaligus memberikan warna baru bagi penceritaan komedi yang memang telah begitu melekat pada dirinya. Film terbaru arahan Dika, The Guys, juga hadir dengan nada pengisahan yang sama dewasanya dengan Hangout meskipun Dika kembali menghadirkan sajian komedi romansa dalam naskah cerita yang ia garap bersama Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro – dua penulis naskah yang sebelumnya telah bekerjasama dengan dirinya lewat Single (2015). Sayangnya, naskah yang sepertinya berusaha untuk menyentuh begitu banyak problema dari karakter-karakternya membuat pengarahan Dika terasa kehilangan banyak fokus yang berujung pada kegagalan The Guys untuk tampil dengan pengisahan yang lebih tajam. Continue reading Review: The Guys (2017)

Review: Night Bus (2017)

Film terbaru arahan Emil Heradi (Sagarmatha, 2013) adalah sebuah spesies langka pada industri perfilman Indonesia. Seperti halnya Get Out – debut pengarahan Jordan Peele yang dirilis di minggu yang sama di Indonesia – Night Bus adalah sebuah thriller yang naskah ceritanya digarap kental dengan sentuhan isu sosial dan politik yang jelas terinspirasi dari berbagai situasi yang pernah maupun tengah dihadapi oleh banyak lapisan masyarakat Indonesia. Tenang, tidak seperti kebanyakan film Indonesia bermuatan “pesan moral” yang sama dan lantas sering terasa sebagai presentasi yang menjemukan, Heradi mampu menggarap Night Bus menjadi sajian cerita penuh ketegangan yang sama sekali tidak pernah kehilangan pegangannya pada bangunan konflik yang menjadi perhatian utama bagi film ini. Sebuah eksekusi yang jelas terasa begitu menyegarkan. Continue reading Review: Night Bus (2017)