Tag Archives: Asian Cinema

A Milestone: KKN di Desa Penari is Now Indonesia’s Highest-Grossing Film of All Time

Setelah sejumlah penundaan rilis akibat pandemi COVID-19 yang mendera dunia semenjak awal tahun 2020 – serta keraguan yang muncul akibat masa rilisnya yang berdekatan dengan dengan film keluaran Marvel Studios terbaru, Doctor Strange in the Multiverse of Madness (Sam Raimi, 2022) – film horor arahan Awi Suryadi, KKN di Desa Penari, berhasil membuktikan kemampuannya dalam meraup jumlah penonton. Kurang dari tiga minggu setelah masa perilisannya – 19 hari, untuk tepatnya, dan dengan jumlah penonton yang kini telah mencapai lebih dari tujuh juta penonton, KKN di Desa Penari berhasil menggeser posisi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 sebagai film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar sepanjang masa yang telah diduduki oleh film arahan Anggy Umbara tersebut semenjak perilisannya di tahun 2016 lalu. Capaian KKN di Desa Penari bahkan terasa lebih impresif mengingat situasi industri bioskop yang masih belum sepenuhnya pulih dari efek pandemi COVID-19. Selamat! Continue reading A Milestone: KKN di Desa Penari is Now Indonesia’s Highest-Grossing Film of All Time

Review: Kuntilanak 3 (2022)

Ada sesuatu yang berbeda dari presentasi cerita Kuntilanak 3. Seperti halnya Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019), film ini masih diarahkan oleh Rizal Mantovani berdasarkan naskah cerita yang ditulis Alim Sudio. Namun, berbeda dengan dua film pendahulunya yang kental akan nuansa horor dalam penuturan ceritanya – well… penuturan horor yang ditujukan bagi kalangan penonton muda, Kuntilanak 3 melangkah sedikit menjauh dari warna horor dengan menghadirkan bangunan cerita berkesan fantasi yang akan dengan segera mengingatkan banyak penontonnya pada film-film dalam seri Harry Potter (2001 – 2011). Sebuah pilihan kreatif yang jelas diambil guna semakin memperluas jangkauan wilayah pengisahan Jagat Sinema Kuntilanak – yang didalamnya juga mengikutsertakan film Mangkujiwo (2020) arahan Azhar Kinoi Lubis dan akan terhubung dengan trilogi Kuntilanak (2006 – 2008) sebelumnya – garapan Mantovani bersama dengan MVP Pictures. Continue reading Review: Kuntilanak 3 (2022)

Review: Gara-gara Warisan (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh aktor sekaligus komika, Muhadkly Acho – yang menjadikan film ini sebagai debut penyutradaraan film cerita panjangnya, Gara-gara Warisan memulai linimasa penceritaannya ketika seorang pemilik penginapan, Dahlan (Yayu Unru), berusaha untuk menemukan sosok yang tepat diantara ketiga anak-anaknya, Adam (Oka Antara), Laras (Indah Permatasari), dan Dicky (Ge Pamungkas), untuk menggantikan posisinya dalam mengelola penginapan ketika mengetahui dirinya mengidap penyakit yang sukar untuk disembuhkan. Dengan masalah perekonomian yang sedang menghimpit ketiganya, Adam, Laras, dan Dicky bersaing keras untuk memperebutkan warisan sang ayah yang jelas diharapkan dapat membantu kehidupan mereka. Di saat yang bersamaan, persaingan tersebut secara perlahan membuka kembali berbagai perseteruan, duka, hingga luka yang dirasakan setiap anggota keluarga tersebut semenjak lama. Continue reading Review: Gara-gara Warisan (2022)

Review: KKN di Desa Penari (2022)

Awalnya direncanakan rilis pada awal tahun 2020, KKN di Desa Penari adalah salah satu film yang terus tertunda penayangannya akibat keberadaan pandemi COVID-19. Padahal, film ini sempat digadang akan mampu mengundang jutaan penonton ke bioskop berkat kepopuleran masif materi sumber pengisahannya yaitu utasan cuitan kisah horor berdasarkan kisah nyata yang diberi judul serupa dan disampaikan via akun Twitter @SimpleMan.  Versi film dari KKN di Desa Penari sendiri dibangun dengan naskah cerita yang ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit serta arahan dari Awi Suryadi – Suryadi dan Laila sendiri telah bekerjasama di sejumlah film dari semesta pengisahan seri film Danur. Harus diakui, Suryadi mampu memberikan visual yang kuat akan deretan teror horor yang ingin dihadirkan oleh linimasa pengisahan film ini. Sayang, dengan pengembangan kisah dan karakter yang kurang matang, banyak potensi penceritaan KKN di Desa Penari berakhir dengan kesan gagal dituturkan secara utuh. Continue reading Review: KKN di Desa Penari (2022)

Review: RRR (2022)

Setelah menyelesaikan dwilogi Baahubali yang terdiri dari Baahubali: The Beginning (2015) – yang sempat memuncaki daftar film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – dan Baahubali: The Conclusion (2017) – yang saat ini memegang gelar sebagai film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – sutradara S. S. Rajamouli kembali menyajikan presentasi epik terbarunya lewat RRR. Naskah cerita RRR – yang merupakan singkatan dari Raama Roudra Rushitam dalam bahasa Telugu atau Rise Roar Revolt dalam terjemahan Bahasa Inggris – yang ditulis oleh Rajamouli sendiri bertutur tentang kisah fiktif akan persahabatan dua tokoh nyata revolusi India, Alluri Sitarama Raju (Ram Charan) dan Komaram Bheem (Jr NTR), yang kemudian bersatu untuk melawan kesewenangan Kemaharajaan Britania yang menguasai daratan India di masa tersebut. Seperti yang dapat diharapkan dari presentasi cerita Rajamouli, RRR disajikan sebagai epik dengan momen-momen yang tidak hanya akan dapat memukau namun juga mengundang rasa kekaguman dari setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: RRR (2022)

Review: Gangubai Kathiawadi (2022)

Setelah Padmaavat (2018), Sanjay Leela Bhansali kembali duduk di kursi penyutradaraan lewat Gangubai Kathiawadi. Merupakan adaptasi bebas dari buku berjudul Mafia Queens of Mumbai yang ditulis oleh S. Hussain Zaidi, Gangubai Kathiawadi merupakan kisah nyata tentang sesosok gadis bernama Ganga Jagjivandas (Alia Bhatt) yang terjebak ke dunia prostitusi ketika kekasihnya, Ramnik Lal (Varun Kapoor), menjualnya ke sebuah rumah pelacuran yang dikelola oleh Sheela Mausi (Seema Pahwa). Jelas, tidak hanya sakit dan patah hati akibat pengkhianatan sang kekasih yang dirasakan oleh Ganga Jagjivandas. Gadis tersebut bahkan sempat berniat untuk mengakhiri hidupnya ketika Sheela Mausi mulai menawarkan tubuhnya pada para pelanggan rumah pelacurannya. Namun, secara perlahan, Ganga Jagjivandas mulai tersadar dirinya tidak boleh menyerah begitu saja meskipun terjerembab ke dasar jurang kehidupan. Ganga Jagjivandas mengubah identitasnya menjadi Gangubai Kathiawadi dan, memanfaatkan kepopulerannya yang terus meningkat di kalangan pengguna layanan prostitusi, mulai merebut kekuasaan dari tangan Sheela Mausi. Continue reading Review: Gangubai Kathiawadi (2022)

Review: Garis Waktu (2022)

Menjadi film arahan Jeihan Angga kedua setelah Just Mom (2021) yang dirilis secara luas di layar bioskop pada tahun ini, Garis Waktu merupakan drama romansa yang alur pengisahannya ditulis oleh Benni Setiawan (Merindu Cahaya de Amstel, 2021) berdasarkan novel berjudul sama garapan penulis sekaligus pemusik Fiersa Besari. Linimasa ceritanya dimulai ketika April (Michelle Ziudith) bertemu dan berkenalan dengan Senandika (Reza Rahadian). Kepribadian Senandika yang menarik dengan segera mampu menarik perhatian April. Gadis itu bahkan tidak segan mengenalkan Senandika kepada sahabatnya, Sanya (Anya Geraldine), yang diharapkan dapat membantu Senandika untuk mengembangkan karirnya sebagai seorang musisi. Sayang, kedekatan April dengan Senandika tidak disukai oleh sang ayah, Halim (Bambang Paningron). Guna memisahkan April dengan Senandika, Halim mengirimkan sang putri untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Di saat yang bersamaan, keberadaan Sanya secara perlahan mulai mengisi keseharian Senandika setelah dirinya ditinggal April. Continue reading Review: Garis Waktu (2022)

Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Mahfrizha Kifani berdasarkan novel garapannya yang berjudul sama, film drama Pelangi Tanpa Warna yang diarahkan oleh sutradara Dear Nathan (2017) dan Dear Nathan Hello Salma (2018), Indra Gunawan, memiliki premis yang mungkin telah terasa begitu familiar. Pengisahan film ini berfokus pada kehidupan rumah tangga yang terjalin antara pasangan Fedi (Rano Karno) dan Kirana (Maudy Koesnaedi) bersama dengan putra tunggal mereka, Divo (Zayyan Sakha). Tidak ada yang benar-benar istimewa dari kehidupan keseharian pasangan tersebut. Namun, ketika Kirana mulai melupakan berbagai hal – mulai dari perlengkapan rumah tangga yang selalu dipakai, rutinitas keseharian, hingga sejumlah sosok yang mengisi kehidupannya – Fedi menyadari bahwa kehidupannya telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Kirana bahkan hanya memiliki sedikit waktu sebelum daya ingatnya benar-benar menghapus seluruh kenangan akan kehidupan yang telah dilaluinya. Continue reading Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Aktor muda yang baru akan menginjak usia 21 tahun pada 16 Februari mendatang, Umay Shahab, melakukan debut pengarahan film cerita panjangnya lewat Kukira Kau Rumah – sebuah drama romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Monty Tiwa (Ghibah, 2021) dan Imam Salimy (Will You Marry Me, 2016) berdasarkan lirik dari lagu berjudul sama yang dibawakan oleh kelompok musik Amigdala. Linimasa pengisahannya akan memperkenalkan penonton pada seorang gadis dengan gangguan bipolar, Niskala (Prilly Latuconsina), yang merasa dirinya bagai hidup dalam kurungan kedua orangtuanya, Dedi (Kiki Narendra) dan Mella (Unique Priscilla), yang bersikap overprotektif akibat kondisi mental yang dimilikinya. Beban perasaan yang dirasakan oleh Niskala mulai terasa menghilang ketika ia berkenalan dan menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Pram (Jourdy Pranata). Hubungannya dengan Pram secara perlahan mengubah sikap Niskala dalam keseharian, termasuk sikapnya terhadap teman-teman terdekatnya, Dinda (Shenina Cinnamon) dan Octavianus (Raim Laode). Continue reading Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Review: Ben & Jody (2022)

Ada yang berbeda dalam presentasi cerita Ben & Jody – film ketiga yang mengikuti perjalanan kehidupan dua karakter penikmat kopi yang saling bersahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto), yang kisahnya sebelumnya dihadirkan lewat dua seri film Filosofi Kopi garapan Angga Dwimas Sasongko. Jika Filosofi Kopi the Movie (2015) dan Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017) bergumul dalam nada drama terkait dengan kisah tentang usaha kedua karakter tersebut dalam mengelola sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi ataupun berbagai intrik yang mewarnai kisah persahabatan mereka, maka Ben & Jody tampil dengan lingkup penceritaan yang lebih kental akan nuansa aksi. Manuver cerita yang cukup berani, meskipun jelas tidak terlalu mengejutkan jika ditilik dari sejumlah tema maupun konflik yang sempat dihadirkan Sasongko dalam dua film Filosofi Kopi sebelumnya. Continue reading Review: Ben & Jody (2022)

Review: Just Mom (2021)

Setelah debut pengarahan film cerita panjangnya, Mekah, I’m Coming (2020), yang hangat dan menyenangkan, Jeihan Angga kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk film drama keluarga Just Mom. Diadaptasi dari buku berjudul Ibu, Doa yang Hilang yang ditulis oleh Bagas D. Bawono – yang sebelumnya juga menuliskan cerita pendek yang kemudian diadaptasi menjadi film Hasduk Berpola (Harris Nizam, 2013), Just Mom bercerita tentang perempuan bernama Siti (Christine Hakim) yang bertemu dengan dan kemudian memilih untuk merawat seorang gelandangan dengan gangguan jiwa yang tengah hamil tua, Murni (Ayushita Nugraha). Keputusan tersebut mendapatkan tentangan dari kedua anaknya, Damar (Ge Pamungkas) dan Pratiwi (Niken Anjani), yang menilai sang ibu telah mengambil sebuah keputusan yang ceroboh. Di saat yang bersamaan, usaha Siti untuk merawat Murni secara perlahan mulai menutup duka yang selama ini rasakan atas rasa kerinduan yang sering tidak berbalas kepada anak-anaknya yang kini telah dewasa dan tidak lagi tinggal bersama dengan dirinya. Continue reading Review: Just Mom (2021)

Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Twivortiare, 2019) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Arumi E – yang konon juga terinspirasi dari kisah nyata perjalanan spiritual seorang gadis mualaf asal Belanda, film Merindu Cahaya de Amstel arahan Hadrah Daeng Ratu (A Perfect Fit, 2021) memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang gadis bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) dengan seorang fotografer jurnalistik bernama Nicholas van Dijck (Bryan Domani). Secara tidak sengaja, figur Khadija Veenhoven terekam dalam salah satu gambar yang diambil oleh Nicholas van Dijck yang kemudian menginspirasi fotografer tersebut bersama dengan rekan kerjanya, Joko (Ridwan Remin), untuk menuliskan artikel tentang kehidupan wanita Muslim di Eropa. Sayang, permintaan Nicholas van Dijck agar dirinya dapat menggunakan foto Khadija Veenhoven untuk artikelnya ditolak karena perempuan yang dalam kesehariannya mengenakan hijab tersebut merasa khawatir masa lalu yang coba dilupakan akan kembali menghantuinya. Continue reading Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Review: Makmum 2 (2021)

Merupakan salah satu film horor Indonesia dengan kualitas cerita yang jelas jauh dari kata memuaskan, Makmum (Hadrah Daeng Ratu, 2019) masih mampu menarik minat banyak penonton, termasuk penonton di negara tetangga dimana film yang dibintangi Titi Kamal tersebut berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai Film Indonesia Terlaris di Malaysia 2018 – 2019. Sure. Kesuksesan tersebut, tentu saja, kini diikuti oleh sebuah sekuel yang masih menampilkan Kamal sebagai pemeran utama namun dengan sutradara, Guntur Soeharjanto (Belok Kanan Barcelona, 2018), serta penulis naskah cerita, Rafki Hidayat (Kafir, 2018), yang berbeda dari film pendahulunya. Akankah mampu mendorong kualitas presentasi cerita Makmum 2? Tidak juga. Continue reading Review: Makmum 2 (2021)