Tag Archives: Asian Cinema

Review: Partikelir (2018)

Nama Pandji Pragiwaksono jelas bukanlah nama baru di industri perfilman Indonesia. Semenjak namanya popular sebagai seorang komika, Pragiwaksono juga telah berkesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya lewat film-film seperti Make Money (Sean Monteiro, 2013), Comic 8 (Anggy Umbara, 2014), {rudy habibie} (Hanung Bramantyo, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017). Mengikuti jejak rekan-rekan komikanya seperti Kemal Palevi, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Bayu Skak, Pragiwaksono kini menguji kemampuannya dalam penyutradaraan sebuah film lewat Partikelir. Juga berperan sebagai aktor dan penulis naskah cerita bagi film drama komedi aksi ini, Partikelir menghadirkan elemen-elemen komedi yang mungkin telah terasa familiar bagi para penggemar celotehan Pragiwaksono. Sayang, sebagai sebuah presentasi cerita keseluruhan, Partikelir tidak mampu berbicara banyak dan seringkali terasa goyah dalam banyak bagian pengisahannya. Continue reading Review: Partikelir (2018)

Advertisements

Review: Jelita Sejuba (2018)

Jika biasanya film-film yang berlatar kehidupan para tentara mengambil sudut pandang dari karakter para tentaranya itu sendiri – lihat saja Merah Putih II: Darah Garuda (Yadi Sugandi, Conor Allyn, 2010), Doea Tanda Cinta (Rick Soerafani, 2015), atau Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), maka Jelita Sejuba mencoba berkisah mengenai kehidupan sang istri dari tentara dalam mendampingi sosok yang harus membagi perhatiannya antara keluarga dengan negara. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab untuk naskah cerita Doea Tanda Cinta, Jelita Sejuba tampil cukup manis dalam penggambaran hubungan romansa antara kedua karakter utamanya meskipun sering terasa kehilangan keseimbangan pengisahan, khususnya pada paruh akhir penceritaan. Penampilan prima dari Putri Marino juga memberikan kontribusi besar bagi kualitas presentasi keseluruhan film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Ray Nayoan ini. Continue reading Review: Jelita Sejuba (2018)

Review: Bluebell (2018)

Setelah serangkaian film berwarna horor dan thriller yang telah ia tekuni semenjak melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Jinx (2010), Muhammad Yusuf mencoba mengarahkan sebuah genre berbeda untuk film teranyarnya, Bluebell. Film drama romansa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Dwitasari ini berkisah mengenai pertemuan antara Bluebell (Regina Rengganis) dan Mario (Qausar Harta Yudana) yang secara singkat tumbuh menjadi perasaan suka antara satu dengan yang lain. Sayangnya, pertemuan antara Bluebell dan Mario terjadi di saat pemuda tersebut sedang merasa gundah akan hubungannya dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora), yang akan segera berlanjut ke jenjang pernikahan. Sial, ketika Mario berusaha menentukan keputusan hatinya, Bluebell mengetahui tentang status hubungan asmara Mario. Patah hati, Bluebell memilih untuk menjauh dan berusaha untuk melupakan pemuda itu. Continue reading Review: Bluebell (2018)

Review: Arini (2018)

Diadaptasi dari novel karya Mira W., Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat, Arini memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang wanita bernama Arini (Aura Kasih) dengan seorang mahasiswa bernama Nick (Morgan Oey) dalam sebuah perjalanan kereta api di Jerman. Pertemuan tersebut begitu memberikan kesan mendalam bagi Nick yang lantas terus memburu Arini guna menyatakan rasa cintanya. Walau awalnya merasa perbedaan usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Nick menjadi sebuah faktor penghalang namun secara perlahan Arini mulai membuka hatinya terhadap pemuda tampan tersebut. Di saat yang bersamaan, masa lalu Arini datang menghantui ketika ia bertemu dengan mantan suaminya, Helmi (Haydar Salishz), sekembalinya ia ke Indonesia. Luka mendalam akan percintaannya di masa lampau lantas menghalangi hubungan romansa yang sedang mekar antara Arini dan Nick. Continue reading Review: Arini (2018)

Review: Danur 2: Maddah (2018)

Setelah kesuksesan film pertamanya, Danur: I Can See Ghosts (Awi Suryadi, 2017), yang sempat meraih predikat sebagai film horor Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa – sebelum gelar tersebut kemudian direbut oleh Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), Danur 2: Maddah melanjutkan cerita mengenai Risa (Prilly Latuconsina) dan kemampuannya dalam melihat makhluk-makhluk dari alam supranatural. Dikisahkan, ketika kedua orangtuanya sedang berada dalam perjalanan ke luar negeri, Risa dan adiknya, Riri (Sandrinna M. Skornicki), memilih untuk menghabiskan banyak waktu mereka di rumah keluarga pamannya, Ahmad (Bucek Depp). Awalnya, kunjungan Risa dan Riri ke rumah paman mereka berjalan biasa saja. Namun, secara perlahan, Risa bersama dengan bibi, Tina (Sophia Latjuba), dan puteranya, Angki (Shawn Adrian), mulai merasakan terjadinya perubahan pada sikap Ahmad. Walau awalnya mengira ada wanita lain dalam kehidupan pamannya, Risa akhirnya menyadari bahwa ada keterlibatan kekuatan supranatural yang mengganggu kehidupan keluarga pamannya. Continue reading Review: Danur 2: Maddah (2018)

Review: #TemanTapiMenikah (2018)

#TemanTapiMenikah adalah film terbaru arahan Rako Prijanto (Bangkit!, 2016) yang naskah ceritanya diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh pasangan suaami istri, Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Jalan cerita yang diinspirasi oleh kisah romansa pasangan penulis buku tersebut dimulai dengan Ditto (Adipati Dolken) yang telah sekian lama memendam rasa sukanya pada Ayu (Vanesha Prescilla). Hubungan persahabatan yang telah semenjak lama terjalin antara gadis yang juga merupakan seorang bintang serial televisi tersebut membuat Ditto terus menahan hasratnya untuk menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Ayu. Suatu hari, Ayu menyatakan bahwa dirinya telah dilamar oleh kekasihnya (Refal Hady). Di saat itu pula, Ditto baru menyadari bahwa momen tersebut merupakan momen terbaik untuk menyatakan perasaannya kepada Ayu. Continue reading Review: #TemanTapiMenikah (2018)

Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

Merupakan film panjang kedua arahan Andri Cung setelah The Sun, The Moon & The Hurricane (2014), Kenapa Harus Bule? berkisah mengenai perjuangan yang harus dilalui oleh Pipin Kartika (Putri Ayudya) untuk memenuhi obsesinya dalam mendapatkan jodoh seorang pria bule. Terus-menerus gagal dalam menemukan sosok pria bule yang tepat untuknya di Jakarta, Pipin Kartika lantas nekat untuk meninggalkan pekerjaan serta kehidupannya di ibukota dan lantas pindah dan tinggal bersama sahabatnya, Arik (Michael Kho), di Bali. Tidak lama setelah kepindahannya tersebut, Pipin Kartika berkenalan dengan seorang pria tampan berdarah Italia, Gianfranco Battaglia (Cornelio Sunny), yang dengan segera mampu mencuri perhatian dan hati Pipin Kartika. Namun, di saat yang bersamaan, Pipin Kartika bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Buyung (Natalius Chendana), yang kini telah tumbuh sebagai seorang pria tampan sekaligus mapan. Buyung telah berulangkali menunjukkan perhatian dan rasa sukanya pada Pipin Kartika. Meskipun begitu, Pipin Kartika telah bertekad untuk mendapatkan seorang pria bule untuk mendampinginya di pelaminan – meskipun secara perlahan Pipin Kartika mulai menyadari bahwa Gianfranco seringkali berbohong pada dirinya. Continue reading Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

Review: Guru Ngaji (2018)

Enam tahun semenjak merilis debut pengarahan film layar lebarnya, Rumah di Seribu Ombak (2012) – yang berhasil meraih beberapa nominasi Festival Film Indonesia termasuk di kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, Erwin Arnada kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan dua film yang dikeluarkan pada paruh awal tahun 2018. Film pertama, sebuah horor berjudul Nini Thowok yang dibintangi Natasha Wilona, menawarkan sebuah premis sederhana tentang sebuah urban legend berbau mistis namun gagal untuk dikembangkan dengan lebih apik. Film kedua, sebuah drama berjudul Guru Ngaji dimana kredit penyutradaraan bagi Arnada dituliskan dengan hanya menggunakan nama depannya, juga hadir dengan premis yang sama sederhana namun, untungnya, berhasil disajikan dengan kualitas pengisahan yang lebih baik. Banyak menghadirkan momen-momen kuat dan menyentuh meskipun masih terasa hadir dengan pengembangan cerita yang cenderung dangkal. Continue reading Review: Guru Ngaji (2018)

Review: Love for Sale (2018)

Siapa yang tidak akan terpesona dengan sosok Arini Kusuma (Della Dartyan)? Figur fisiknya jelas akan mampu menggoda setiap pecinta wanita yang mengenalnya. Tidak hanya itu, Arini adalah sosok yang memiliki kepribadian yang juga mampu tampil memikat – mulai dari pengetahuannya soal dunia sepakbola, keahlian memasak, hingga urusan ranjang. Namun, berbeda dengan gadis-gadis lainnya, Arini bukanlah sosok wanita yang dapat ditemukan di sembarang tempat. Oleh Richard Achmad (Gading Marten) – sesosok pria yang telah terlalu lama hidup menyendiri, Arini Kusuma ditemukan di sebuah aplikasi percintaan yang membiarkan penggunanya untuk bertemu dengan gadis impiannya setelah mereka membayar sejumlah uang. Richard Achmad sendiri awalnya hanya ingin Arini Kusuma menemaninya ke sebuah pesta pernikahan sahabatnya. Daya tarik Arini Kusuma-lah yang secara perlahan mengubah kehidupan Richard Achmad dan membuatnya mampu merasakan sebuah perasaan cinta yang sebenarnya telah sangat lama tidak pernah dirasakannya. Continue reading Review: Love for Sale (2018)

Review: Sekala Niskala (2018)

Pada banyak bagiannya, Sekala Niskala terasa memiliki garisan genetik yang sama dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) (2011) – film yang menjadi debut pengarahan layar lebar bagi Kamila Andini. Struktur pengisahan kedua film tersebut dikendalikan dari perspektif seorang karakter anak-anak akan dunia di sekitarnya. Dan seperti halnya The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang memiliki latar belakang lokasi di wilayah Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan warna pengisahannya kental dengan kultur Suku Bajo yang mendiami wilayah tersebut, Andini membawa penontonnya untuk menyelami keindahan alam dan kultur budaya Bali lewat Sekala Niskala. Terlepas dari berbagai kemiripan tersebut, Sekala Niskala menawarkan struktur penceritaan yang mempertemukan antara dunia imaji dengan dunia nyata yang jelas jauh berbeda dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang lebih bernuansa realis. Continue reading Review: Sekala Niskala (2018)

Review: Mata Dewa (2018)

Digadang sebagai film Indonesia pertama yang bertema tentang olahraga basket, Mata Dewa berkisah mengenai pelatih basket SMA Wijaya, Miko (Nino Fernandez), yang bermimpi untuk membawa tim basket asuhannya untuk memenangkan kompetisi basket antar sekolah terbesar di Indonesia, Developmental Basketball League Indonesia. Harus diakui, tim Jayhawk – sebutan untuk tim basket milik SMA Wijaya – memang memiliki beberapa pemain berbakat, seperti Dewa (Kenny Austin) yang selalu dapat diandalkan dalam setiap pertandingan. Namun, di saat yang bersamaan, tidak adanya kekompakan antar sesama pemain membuat tim Jayhawk selalu bermain buruk dan berakhir dengan kekalahan. Tim Jayhawk kemudian menemui titik terendah mereka ketika Dewa mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan salah satu matanya. Tidak menyerah begitu saja, Dewa berusaha untuk bangkit dan mengenyampingkan kelemahan fisiknya untuk tetap dapat berkiprah di tim basketnya. Usaha Dewa tersebut secara perlahan memberikan inspirasi bagi Miko dan rekan-rekannya untuk kembali berjuang dan bersatu untuk memenangkan kompetisi di hadapan mereka. Continue reading Review: Mata Dewa (2018)

Review: Pai Kau (2018)

Setelah menjadi penata kamera bagi film-film Indonesia seperti D’bijis (2007) dan Merah itu Cinta (2008) – yang keduanya diarahkan oleh Rako Prijanto – serta Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Postcards from the Zoo (2010) – yang keduanya diarahkan oleh Edwin, nama Sidi Saleh mulai dikenal lebih luas sebagai seorang sutradara ketika ia turut ambil bagian dalam film omnibus Belkibolang (2010) dimana Saleh turut menyutradarai salah satu segmen yang berjudul Full Moon. Namun, tentu saja, para pemerhati dan penikmat film Indonesia menjadi lebih familiar dengan nama Saleh ketika film pendek arahannya, Maryam, memenangkan Orrizonti Award sebagai Film Pendek Terbaik di ajang The 71st Annual Venice International Film Festival yang berlangsung pada tahun 2014 lalu. Kini, dengan bantuan produser Tekun Ji dan Irina Chiu, Saleh merilis debut pengarahan film panjangnya yang berjudul Pai Kau – sebuah film drama suspense yang sepertinya ingin membawa penontonnya kembali pada era keemasan film-film thriller bertemakan organisasi kejahatan buatan Hong Kong maupun Republik Rakyat Tiongkok pada tahun ‘90an. Continue reading Review: Pai Kau (2018)

Review: Pad Man (2018)

Film terbaru arahan sutradara R. Balki (Ki & Ka, 2016), Pad Man, menghabiskan 140 menit durasi pengisahannya untuk berbicara mengenai menstruasi. Yes, you read that right. Diinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang aktivis sosial asal India bernama Arunachalam Muruganantham, Pad Man memulai kisahnya ketika Lakshmikant Chauhan (Akhsay Kumar) baru menyadari bahwa istrinya, Gayatri Chauhan (Radhika Apte), menggunakan potongan-potongan kain yang tidak terjamin kebersihannya sebagai pengganti pembalut akibat mahalnya harga bantalan yang digunakan kaum perempuan di saat mereka sedang menjalani masa menstruasi tersebut. Tidak ingin sang istri mengalami masalah kesehatan, Lakshmikant Chauhan lantas berusaha untuk membuat sendiri pembalut yang nantinya dapat digunakan sang istri. Namun, akibat pandangan sosial bahwa menstruasi adalah hal yang tabu untuk dibicarakan – khususnya oleh para pria, tindakan Lakshmikant Chauhan tersebut justru dinilai membawa aib bagi dirinya dan seluruh keluarganya. Lakshmikant Chauhan kemudian memutuskan untuk keluar dari desanya dan berjanji baru akan kembali jika ia telah dapat menemukan cara untuk memproduksi pembalut murah yang dapat berfungsi dan digunakan istrinya. Continue reading Review: Pad Man (2018)