Tag Archives: Asian Cinema

Review: Asih (2018)

Well… dengan kesuksesan luar biasa dari dua seri Danur, Danur: I Can See Ghosts (2017) dan Danur 2: Maddah (2018) arahan Awi Suryadi yang keduanya berhasil menarik minat lebih dari dua juta penonton meskipun mendapatkan tanggapan yang medioker dari para kritikus film, Suryadi dan MD Pictures melanjutkan perjalanan untuk mengembangkan semesta pengisahan Danur dengan Asih. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh penulis naskah dua seri Danur sebelumnya, Lele Laila, berdasarkan buku berjudul sama karangan Risa Saraswati, Asih diniatkan hadir untuk menggali secara lebih dalam mengenai pengisahan sosok karakter supranatural bernama Asih yang dahulu popular setelah ditampilkan dalam Danur: I Can See Ghosts. Sayangnya, tidak banyak hal menarik yang dapat diperoleh dari presentasi film ini. Pengembangan cerita yang berjalan monoton menyebabkan Asih sering terasa membosankan – meskipun Suryadi mampu menghadirkan kualitas pengarahan yang, sekali lagi, tampil lebih baik. Continue reading Review: Asih (2018)

Advertisements

Review: Something in Between (2018)

Dalam Something in Between – yang menandai kali keenam keduanya tampil bersama dalam jangka waktu satu tahun terakhir, Jefri Nichol dan Amanda Rawles berperan sebagai Gema dan Maya, dua murid sekolah menengah atas dengan dua kepribadian yang berbeda. Jika Maya merupakan seorang murid cerdas yang kini berada di kelas unggulan maka Gema merupakan sosok pemuda yang tidak begitu peduli dengan arti pentingnya pendidikan dan hidup bebas sesuai dengan kemauan hatinya. Namun, sikap Gema secara perlahan berubah ketika dirinya mulai mengenal Maya. Demi menarik perhatian sang gadis, Gema mulai serius menekuni setiap mata pelajaran yang diikutinya. Berhasil. Tidak hanya ketekunan belajarnya membuat Gema kemudian dipindahkan ke kelas unggulan, Maya juga akhirnya menaruh perhatian dan jatuh hati padanya. Layaknya dua remaja yang saling jatuh cinta lainnya, Gema dan Maya memadu janji untuk saling setia kepada satu sama lain untuk selamanya. Sebuah janji yang kemudian akan mengubah hidup mereka di masa sekarang… dan masa yang akan datang. Continue reading Review: Something in Between (2018)

Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dilan 1990, 2018) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak, Aruna & Lidahnya bercerita mengenai perjalanan dinas yang dilakukan oleh seorang ahli wabah bernama Aruna (Dian Sastrowardoyo) untuk meneliti kebenaran kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti penduduk di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai seorang penikmat kuliner sejati, Aruna lantas memanfaatkan tugasnya tersebut sekaligus untuk melakukan wisata kuliner dengan menikmati berbagai makanan khas dari daerah-daerah yang ia kunjungi bersama dengan sahabatnya, seorang juru masak bernama Bono (Nicholas Saputra). Perjalanan tersebut semakin ramai setelah kehadiran Nadezhda (Hannah Al Rashid) – seorang penulis yang merupakan sahabat dari Aruna dan Bono yang diam-diam telah lama disukai oleh Bono – serta Farish (Oka Antara) – seorang dokter yang juga mantan rekan kerja Aruna dan dulu sempat disukainya namun kini kehadirannya membuat lidah Aruna terasa mati rasa. Perjalanan yang penuh intrik, bukan hanya karena adanya pergulatan perasaan yang sedang berlangsung di hati keempat karakter tersebut namun juga dikarenakan kehadiran sebuah misteri yang meliputi tugas yang sedang dijalani Aruna. Continue reading Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Review: Munafik 2 (2018)

Selain karena memang telah direncanakan untuk hadir sebagai sebuah pengisahan trilogi, kesuksesan besar yang diraih Munafik ketika dirilis pada awal tahun 2016 yang lalu jelas menjadi alasan kuat lain mengapa sekuelnya kemudian diproduksi dan dirilis ke layar bioskop. Dengan pendapatan sebesar RM17.04 juta dari masa edarnya di Malaysia, film yang menjadi film kesembilan sekaligus film horor kedua yang diarahkan oleh Syamsul Yusof ini berhasil tercatat sebagai menjadi film dengan raihan komersial terbesar di negeri jiran pada tahun rilisnya. Kesuksesan komersial tersebut juga dilengkapi dengan kesuksesan secara kritikal ketika Munafik mampu meraih sembilan nominasi dan memenangkan lima diantaranya – termasuk kategori Pengarah Terbaik dan Penyunting Terbaik yang keduanya dimenangkan oleh Yusof – dari ajang penghargaan film tertinggi di Malaysia, Festival Filem Malaysia ke-28. Munafik 2 – yang telah dirilis di Malaysia sejak akhir Agustus lalu dan berhasil menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa dengan raihan sebanyak RM40 juta – masih menyajikan kisah horor dengan balutan nuansa Islami yang kental dengan kembali mengikuti perjalanan hidup dari sang karakter utama, Ustadz Adam (Yusof), yang bekerja sebagai pendakwah sekaligus pengusir setan.  Continue reading Review: Munafik 2 (2018)

Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan: Barcelona! yang ditulis oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita – dengan Mulya bertugas untuk menggarap naskah cerita film ini, Belok Kanan Barcelona berkisah mengenai persahabatan antara Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Ucup (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang telah terjalin semenjak masa SMA. Meski kini mereka telah tinggal di empat negara berbeda dalam menjalani karir mereka, Francis, Retno, Ucup, dan Farah masih menjaga hubungan dan komunikasi mereka dengan baik. Suatu hari, ketika keempatnya sedang berkomunikasi melalui perantaraan video conference, Francis mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), dan menggelar pesta pernikahan mereka di Barcelona, Spanyol. Sebuah pernyataan yang tidak hanya terkesan tiba-tiba bagi teman-teman Francis namun juga memicu munculnya kembali perasaan dan memori dari masa lampau yang kemudian menghantui hubungan persahabatan keempatnya. Continue reading Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Review: 7 Days (2018)

Ditulis dan diarahkan oleh Panjapong Kongkanoy (The Moment, 2017), 7 Days berkisah mengenai hubungan romansa yang terjalin antara seorang juru masak, Tan (Kan Kantathavorn), dengan seorang kritikus masakan, Meen (Nittha Jirayungyurn), yang telah berjalan selama lima tahun. Tan sebenarnya telah berniat untuk melamar Meen dan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan namun tuntutan karir ternyata mengharuskannya untuk pindah ke kota New York, Amerika Serikat – sebuah kenyataan yang kemudian membuat keduanya terlibat dalam adu argumen yang panjang. Sebuah peristiwa aneh kemudian terjadi. Keesokan harinya, ketika Tan terbangun dari tidurnya, Tan menyadari bahwa dirinya terbangun dalam tubuh sosok yang bukan dirinya. Parahnya, Tan sama sekali tidak dapat mengingat hal apapun yang terjadi sebelum peristiwa aneh tersebut menimpa dirinya. Tentu saja, kini Tan harus berusaha untuk menemukan jalan agar jiwanya dapat kembali ke tubuhnya. Continue reading Review: 7 Days (2018)

Review: Wiro Sableng (2018)

Seperti halnya Si Doel the Movie (Rano Karno, 2018) – yang sejatinya merupakan sebuah novel karya Aman Datuk Majoindo berjudul Si Doel Anak Betawi yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah film berjudul sama (Sjuman Djaja, 1972) namun mencapai popularitas yang lebih besar ketika diadaptasi menjadi sebuah serial televisi berjudul Si Doel Anak Sekolahan (1994 – 2008), perjalanan kisah Wiro Sableng juga dimulai sebagai seri novel garapan Bastian Tito sebelum akhirnya diadaptasi menjadi sejumlah film layar lebar yang dirilis pada akhir tahun ‘80an dan serial televisi yang cukup terkenal ketika ditayangkan pada pertengahan ‘90an hingga awal tahun 2000an. Film layar lebar terbaru Wiro Sableng sendiri diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko (Buka’an 8, 2017) dengan Vino G. Bastian – yang merupakan putera dari Tito – berperan sebagai sang karakter sentral. Sasongko, sekali lagi, berhasil menonjolkan kemampuan yang apik dalam tatanan pengarahannya. Namun, jelas penampilan Bastian yang menjadi jiwa dan memberikan kehidupan bagi alur pengisahan Wiro Sableng yang berdurasi 123 menit ini. Continue reading Review: Wiro Sableng (2018)

Review: Sultan Agung (2018)

Diarahkan bersama oleh Hanung Bramantyo (Kartini, 2017) dan x.Jo (Garuda: The New Indonesian Superhero, 2015), Sultan Agung memulai intrik ceritanya ketika Raden Mas Rangsang yang masih remaja (Marthino Lio) terpaksa harus menduduki posisi sebagai pemimpin bagi Kesultanan Mataram setelah meninggalnya sang ayah. Dengan gelar sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma, dirinya tidak lagi dapat lepas bermain dengan teman-teman sebayanya maupun memadu kasih dengan wanita pilihan hatinya, Lembayung (Putri Marino) – yang kebetulan berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan dirinya. Meskipun begitu, dengan bantuan orang-orang kepercayaannya, Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memiliki mimpi dan tekad untuk menyatukan seluruh pemimpin kerajaan di tanah Jawa mampu menjelma menjadi sosok yang kuat dan dicintai oleh rakyatnya. Namun, tantangan terbesar bagi kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma dewasa (Ario Bayu) hadir ketika tanah Jawa kedatangan para “pedagang” dari negeri Belanda yang menamakan diri mereka sebagai Vereenigde Oostindische Compagnie pimpinan Jan Pieterszoon Coen (Hans de Kraker). Reputasi Vereenigde Oostindische Compagnie yang seringkali berlaku tidak adil dan memiliki sejarah kelam dengan para penduduk di Kepulauan Banda membuat Sultan Agung Hanyakrakusuma menjadi was-was dan memerintahkan pasukan Kesultanan Mataram untuk bersiap-siap jika Vereenigde Oostindische Compagnie datang untuk menyerang. Continue reading Review: Sultan Agung (2018)

Review: Rompis (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Eddy D. Iskandar, Roman Picisan (Adisoerya Abdy, 1980) berhasil menjadi salah satu drama romansa terpopular di kalangan pecinta film Indonesia sekaligus semakin mengukuhkan posisi Rano Karno dan Lydia Kandou – yang di sepanjang karir akting mereka telah membintangi lebih dari sepuluh judul film bersama – sebagai pasangan layar lebar terfavorit di masa tersebut. Kisah cinta antara karakter Roman dan Wulan dalam Roman Picisan kemudian menjadi inspirasi bagi jalan cerita serial televisi berjudul sama dan kembali mampu meraih sukses besar ketika ditayangkan oleh saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia sebanyak 107 episode pada tahun 2017. Kini, layaknya kesuksesan versi film yang menginspirasi keberadaan serial televisinya, kesuksesan Roman Picisan: The Series kemudian coba diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul Rompis dan dibintangi oleh deretan pemeran serial televisinya. Continue reading Review: Rompis (2018)

Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Dalam episode terbaru dari “Orangtuaku Menjual Jiwa Mereka ke Setan dan Menjadikanku Sebagai Tumbal,” film arahan sutradara Timo Tjahjanto (Headshot, 2016), Sebelum Iblis Menjemput, mencoba untuk memberikan interpretasinya sendiri atas tema pengisahan yang semakin familiar dalam film-film horor belakangan. Filmnya sendiri berkisah tentang Alfie (Chelsea Islan) yang diundang oleh ibu tirinya, Laksmi (Karina Suwandi), untuk membantu saudara-saudaranya, Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab), mengumpulkan benda-benda berharga yang terdapat di vila milik keluarga mereka untuk kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan sang ayah, Lesmana (Ray Sahetapy). Alfie sebenarnya begitu membenci Lesmana setelah kematian ibu kandungnya (Kinaryosih). Namun, rasa penasaran terhadap masa lalu sang ayah akhirnya mendorong Alfie untuk datang menemui keluarga tirinya. Sebuah keputusan yang kemudian justru menghadapkan gadis tersebut pada sebuah misteri yang dapat mengancam kehidupannya. Continue reading Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Review: Dukun (2018)

Jangan merasa heran jika melihat penampilan Bront Palarae atau Chew Kin Wah yang jauh lebih muda daripada penampilan mereka di Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017) atau Susah Sinyal (Ernest Prakasa, 2017) ketika Anda menyaksikan Dukun. Film thriller arahan Dain Iskandar Said (Interchange, 2016) tersebut sebenarnya telah menyelesaikan masa produksinya lebih dari satu dekade lalu dan sempat dijadwalkan rilis pada Desember 2006. Namun, akibat pengaruh situasi sosial dan politik yang kurang mendukung – jalan cerita Dukun didasari pada peristiwa nyata mengenai terbunuhnya seorang politikus ternama Malaysia pada tahun 1993 dan memiliki pengisahan yang kental dengan nuansa magis – film yang seharusnya menjadi debut pengarahan Said tersebut baru dapat ditayangkan di negara asalnya pada April yang lalu. Walau 12 tahun telah berlalu namun kualitas Dukun sebagai sebuah thriller, untungnya, tetap mampu bertahan dengan cukup baik. Pengarahan Said yang apik ditambah dengan penampilan para pengisi departemen akting yang meyakinkan menjadikan Dukun berhasil hadir dengan banyak momen mencekam. Continue reading Review: Dukun (2018)

Review: Si Doel the Movie (2018)

Anak Betawiketinggalan zamankatenye…”

Dengan mengambil inspirasi dari film Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaja, 1972) – yang sendirinya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Aman Datuk Majoindo – Si Doel Anak Sekolahan merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Tayang perdana pada tahun 1994 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang berkisah mengenai sebuah keluarga Betawi yang terus mempertahankan nilai-nilai tradisional kehidupan meskipun di tengah gempuran arus modernisasi akibat perkembangan zaman tersebut mampu terus mengudara selama lebih dari sepuluh tahun dan memberikan banyak pengaruh pada budaya pop Indonesia serta deretan serial televisi lain yang muncul setelahnya. Continue reading Review: Si Doel the Movie (2018)

Review: Kafir (2018)

Tahun lalu, Joko Anwar memberikan “kuliah singkat” kepada para pembuat film horor Indonesia modern bagaimana cara untuk menggarap sebuah horor yang efektif meskipun dengan menggunakan premis cerita yang sebenarnya telah banyak diangkat oleh film-film horor sebelumnya. Pengabdi Setan arahan Anwar, yang merupakan versi teranyar dari film horor legendaris berjudul sama garapan Sisworo Gautama Putra, lantas berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film, mendapatkan 13 nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2017 – termasuk nominasi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, sekaligus memberikan Anwar kesuksesan komersial perdananya ketika Pengabdi Setan kemudian ditonton lebih dari empat juta penonton yang menjadikannya sebagai film horor Indonesia tersukses sepanjang masa hingga saat ini. Jelas sebuah standar kesuksesan baru – baik dari segi kualitas maupun dari segi komersial – bagi film-film horor Indonesia yang hadir setelahnya. Continue reading Review: Kafir (2018)