Review: Mencuri Raden Saleh (2022)


Apakah Mencuri Raden Saleh adalah film bertemakan pencurian pertama yang dibuat oleh sineas Indonesia? Tidak. The Professionals (Affandi Abdul Rachman, 2016) – dengan departemen akting yang diisi nama-nama besar seperti Fachri Albar, Arifin Putra, Lukman Sardi, hingga Imelda Therinne – telah mengeksplorasi wilayah pengisahan tersebut terlebih dahulu – meskipun dengan hasil akhir yang jauh dari memuaskan. Gelar “film heist pertama buatan sineas Indonesia” bahkan cukup gencar digunakan The Professionals di sepanjang masa promosinya. Kini, Angga Dwimas Sasongko mencoba menjejakkan kakinya di ranah penceritaan tersebut. Dan dengan bantuan barisan pelakon muda serta naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Husein M. Atmodjo (22 Menit, 2018), Sasongko tidak hanya berhasil menggarap sebuah heist movie yang efektif namun juga mampu menghadirkan film terbaik di sepanjang karir pengarahannya hingga saat ini.

Awal alur pengisahan Mencuri Raden Saleh akan memperkenalkan penontonnya pada sosok karakter bernama Piko (Iqbaal Ramadhan), seorang mahasiswa seni rupa yang bersama dengan rekannya yang seorang peretas, Ucup (Angga Yunanda), memalsukan lukisan-lukisan terkenal dan bersejarah untuk memenuhi keperluan hidup mereka. Pemalsuan juga dilakoni Piko demi mengumpulkan uang untuk dapat membebaskan sang ayah, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. Sebuah tawaran dengan imbalan teramat besar kemudian datang kepada Piko dan Ucup: memalsukan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang ikonik dan kemudian menukarkan lukisan palsu tersebut dengan lukisan aslinya yang kini dipajang di Istana Negara. Tawaran berbahaya yang kemudian tidak dapat ditolak oleh Piko ketika sang ayah turut terancam nyawanya jika ia tidak menerima tawaran tersebut. Bersama dengan Ucup, Piko dengan segera memutar otak untuk dapat menyusun rencana serta mengumpulkan tim yang dapat membantunya mengeksekusi rencana pencurian besar tersebut.

What makes a good heist movie? Meskipun disusun dengan formula penuturan yang cenderung serupa, heist movie memang membutuhkan perhatian ekstra dalam pembangunan latar konflik, penggalian sekaligus pendalaman rencana tatanan aksi, hingga paparan karakter-karakter yang menjalankan aksi tersebut. Oh, dan, tentu saja, kehadiran sejumlah kejutan yang akan membuat intensitas ketegangan cerita semakin mengikat. Kualitas paparan cerita yang ditunjukkan Sasongko lewat Mencuri Raden Saleh jelas menunjukkan bahwa sang sutradara telah merancang sebuah “rencana pencurian” yang cukup matang – termasuk dengan mendapatkan banyak inspirasi dari berbagai film bertemakan pencurian popular seperti Inside Man (Spike Lee, 2006) dan Ocean’s 8 (Gary Ross, 2018) yang bahkan sempat direferensikan Sasongko dan Atmodjo pada sejumlah dialog dalam naskah cerita garapan mereka.

Dengan durasi pengisahan yang mencapai 154 menit, Mencuri Raden Saleh memberikan ruang yang cukup luas dalam membangun pondasi cerita yang nantinya akan mengalasi rentetan aksi yang akan dihadirkan pada paruh pengisahan selanjutnya. Tiap karakter dihadirkan dengan porsi cerita yang mumpuni untuk penonton dapat memahami alasan keberadaan mereka dalam linimasa penceritaan film. Lebih beruntung lagi, Sasongko mampu mengumpulkan barisan pengisi departemen akting yang tidak hanya dapat membuat karakter maupun peran mereka terasa meyakinkan namun juga menghasilkan jalinan interaksi yang semakin mendorong kompleksitas dan keepikan rencana pencurian yang dijabarkan di sepanjang alur cerita. Mulai dari duet solid antara Ramadhan dan Yunanda, penampilan bernuansa misteri yang diberikan Atiqah Hasiholan, sikap antagonis yang (tentu saja) begitu kuat dari kehadiran Tio Pakusadewo, hingga kharisma yang mencuat dalam penampilan Aghniny Haque yang akan meninggalkan kesan begitu mendalam pada tiap mata yang menyaksikannya.

Naskah cerita Mencuri Raden Saleh juga tidak melulu menyoal strategi untuk mendapatkan kekayaan ataupun barang berharga. Berbekal dengan tema serta cara penggambaran adegan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh tentara Belanda dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro – dimana Saleh menyimbolkan kelicikan para tentara Belanda dalam penangkapan tersebut dengan penggambaran fisik mereka sebagai sosok yang kerdil, Sasongko dan Atmodjo menyelami kisah akan kelicikan dan pengkhianatan serta usaha untuk mengakali kembali (baca: membalas) kelicikan dan pengkhianatan tersebut dalam barisan konflik Mencuri Raden Saleh dengan lugas. Balutan plot ini yang membuat motivasi dari para karakter terasa lebih luas namun semakin relatable sekaligus memposisikan para karakter utama sebagai karakter yang mudah untuk disukai.

Bukan berarti alur penuturan film ini melangkah tanpa masalah. Untuk film yang berkisah tentang usaha pencurian sebuah mahakarya seni yang menjadi koleksi Museum Kepresidenan, plot tentang keterlibatan pihak kepolisian terasa tidak diolah dengan matang – jika tidak ingin menyebut kehadirannya hanya berkesan tempelan atau mekanisme plot klise belaka. Begitu juga dengan sejumlah olahan detil dari beberapa karakter ataupun susunan rencana pencurian yang beberapa kali bergantung pada faktor kebetulan daripada keakuratan rencana yang dibangun. Kehadiran karakter yang diperankan Reza Hilman di paruh ketiga – dan kemudian menghasilkan momen aksi yang cukup memikat bersama dengan Haque – juga tanpa substansi yang jelas dan kuat. Kemungkinan besar memang dijadikan teaser bagi adanya sekuel di masa yang akan datang namun porsi ceritanya tetap tak terasa efektif.

Terlepas dari sejumlah kelemahannya, Mencuri Raden Saleh jelas telah berhasil menunjukkan warna berbeda dalam kapabilitas pengarahan seorang Sasongko. Perhatian yang erat terhadap berbagai komponen cerita yang dipadu dengan kemampuan untuk mengendalikan ritme penuturan membuat film ini mampu melaju dengan mulus menghantarkan ketegangan sekaligus hiburan secara maksimal. Begitu pula dengan kelihaian Sasongko dalam mengolah departemen produksi untuk mendukung tatanan cerita filmnya – mulai dari pergerakan kamera yang begitu dinamis, sinematografi, desain produksi, hingga iringan musik garapan Abel Huray yang “mencuri” pola iringan musik yang diterapkan pada seri film Ocean’s (2001 – 2018) dalam menangkap momen-momen ketegangan ataupun komedi yang sedang digelar dalam linimasa pengisahan film. Sangat, sangat menyenangkan!

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn2

mencuri-raden-saleh-angga-dwimas-sasongko-movie-posterMencuri Raden Saleh (2022)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Cristian Imanuell Written by Angga Dwimas Sasongko, Husein M. Atmodjo Starring Iqbaal Ramadhan, Angga Yunanda, Rachel Amanda, Umay Shahab, Aghniny Haque, Ari Irham, Ganindra Bimo, Andrea Dian, Tio Pakusadewo, Muhammad Khan, Dwi Sasono, Tegar Satrya, Atiqah Hasiholan, Ratna Riantiarno, Jenny Zhang, Reza Hilman Music by Abel Huray Cinematography Bagoes Tresna Aji Edited by Hendra Adhi Susanto Production companies Visinema Pictures/Blibli/Jagartha/Astro Shaw Running time 154 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s