Tag Archives: Rating: D

Review: Satu Hari Nanti (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Salman Aristo (Cinta dalam Kardus, 2013), Satu Hari Nanti berkisah mengenai dua pasang kekasih yang juga saling bersahabat, Bima (Deva Mahenra) dan Alya (Adinia Wirasti) serta Din (Ringgo Agus Rahman) dan Chorina (Ayushita Nugraha), yang sedang bekerja sekaligus mengejar mimpi mereka di negara Swiss. Hubungan kedua pasangan tersebut bukannya berjalan tanpa tantangan: karir bermusik Bima yang berjalan di tempat terasa menghalangi mimpi Alya untuk menjadi seorang chocolatier yang handal sementara Din tidak pernah berhenti untuk berselingkuh dengan wanita lain di belakang Chorina. Setelah terjadi sebuah pertengkaran besar antara Bima dan Alya, keduanya lantas menyadari bahwa mereka telah jatuh hati dengan sosok lain – sahabat mereka sendiri. Jalinan kisah cinta baru tersebut secara perlahan mulai mengubah hidup Bima, Alya, Din, dan Chorina sekaligus mimpi dan cara pandang mereka mengenai masa depan. Continue reading Review: Satu Hari Nanti (2017)

Advertisements

Review: Daddy’s Home Two (2017)

Daddy’s Home, film komedi arahan Sean Anders yang mempertemukan kembali Mark Wahlberg dengan Will Ferrell setelah kesuksesan mereka lewat The Other Guys (Adam McKay, 2010), adalah sebuah kejutan yang cukup menyenangkan ketika dirilis menjelang liburan Natal pada tahun 2015. Meskipun tidak begitu disenangi oleh para kritikus film dunia namun dengan kekuatan humornya yang kental film tersebut mampu mendapatkan raihan komersial sebesar lebih dari US$242 juta dari biaya produksi sebesar US$69 juta. Dua tahun setelah perilisan film pertamanya, Anders, Wahlberg, dan Ferrell kembali bekerjasama untuk memproduksi sekuel Daddy’s Home yang kini juga menghadirkan penampilan akting dari John Lithgow dan Mel Gibson – bahkan dengan bujet produksi yang tidak berubah dari seri sebelumnya. Wellmaybe lightning never strikes the same place twice. Dengan formula pengisahan yang relatif tidak berubah namun disajikan dengan kerangka cerita yang semakin minimalis, Daddy’s Home Two kini tampil melelahkan dan berubah menjadi sebuah sajian komedi yang kehilangan seluruh daya tariknya. Continue reading Review: Daddy’s Home Two (2017)

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Review: Petak Umpet Minako (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Billy Christian berdasarkan novel berjudul sama karya @manhalfgod – No, seriously. – Petak Umpet Minako berkisah mengenai pertemuan kembali seorang gadis bernama Vindha (Regina Rengganis) dengan teman-temannya di masa sekolah pada hari reuni mereka. Vindha sendiri bukanlah sosok yang populer diantara teman-temannya. Semasa sekolah dahulu, ia bahkan seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh beberapa pelajar lain. Berbekal penampilannya yang telah berubah semenjak berkuliah di Jepang, Vindha kini mampu melepas imejnya terdahulu sebagai seorang gadis penyendiri yang lugu. Gadis itu bahkan berhasil meyakinkan teman-temannya untuk turut bermain dalam sebuah permainan petak umpet a la Jepang yang dikenal dengan sebutan Hitori Kakurenbo ketika mereka mengunjungi gedung sekolah mereka. Sial, permainan yang melibatkan ritual pemanggilan arwah tersebut kemudian berakhir sebagai bencana ketika mereka yang terlibat dalam permainan tersebut satu demi satu ditemukan tak bernyawa lagi. Continue reading Review: Petak Umpet Minako (2017)

Review: Amityville: The Awakening (2017)

Ditulis dan diarahkan oleh Franck Khalfoun (Maniac, 2012), Amityville: The Awakening adalah film horor kesembilan belas – keenam yang diproduksi dan kemudian tayang di layar lebar – yang mendasarkan kisahnya pada legenda mengenai sebuah rumah berhantu yang berada di Amityville, New York, Amerika Serikat, dan pernah menjadi lokasi terjadinya sebuah tragedi pembunuhan massal di tahun 1974. Amityville: The Awakening sendiri menghadirkan sebuah penceritaan (fiksi) baru yang berbeda dengan pengisahan yang dihadirkan dalam The Amityville Horror (Stuart Rosenberg, 1979) maupun versi remake (Andrew Douglas, 2005) yang dibintangi oleh Ryan Reynolds – yang sama-sama popular dan sempat direferensikan dalam salah satu adegan film ini. Premis mengenai kisah horor di sebuah rumah berhantu legendaris mungkin terdengar menjanjikan. Namun, sayangnya, Khalfoun adalah seorang pencerita yang buruk dan kemudian gagal untuk menghadirkan presentasi horor yang menarik maupun menakutkan. Continue reading Review: Amityville: The Awakening (2017)

Review: Jab Harry Met Sejal (2017)

Setelah Rab Ne Bana Di Jodi (Aditya Chopra, 2008) dan Jab Tak Hai Jaan (Yash Chopra, 2012), Shah Rukh Khan kembali bertemu dengan Anushka Sharma dalam film yang ditulis dan diarahkan oleh Imtiaz Ali (Tamasha, 2016), Jab Harry Met Sejal. Kisah yang dihadirkan film ini sebenarnya cukup sederhana. Berawal dari tugasnya sebagai pemandu wisata bagi Sejal Zaveri (Sharma) dan keluarganya, Harinder Singh Nehra atau yang sering dipanggil dengan sebutan Harry (Khan) kini bertugas untuk mengawal dan menemani Sejal menjelajahi negara-negara Eropa untuk mencari cincin pertunangannya yang hilang. Walau awalnya merasa berat hati untuk menemani gadis yang dianggap telah mengganggu kehidupannya tersebut, Harry secara perlahan mulai jatuh hati kepada Sejal. Perasaan yang ternyata juga dirasakan oleh Sejal dan harus disembunyikannya mengingat status dirinya yang telah bertunangan dengan pria lain. Continue reading Review: Jab Harry Met Sejal (2017)