Tag Archives: Rating: D

Review: Perburuan (2019)

Seperti halnya Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019), Perburuan adalah sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Jika Bumi Manusia memuat kisah yang berlatarbelakang masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Perburuan menghadirkan ceritanya pada momen-momen terakhir penjajahan Jepang di tanah Indonesia. Fokus penceritaannya sendiri berada pada karakter Hardo (Adipati Dolken), seorang mantan pemimpin peleton Pembela Tanah Air yang bersama dengan rekan-rekan yang sepemikiran dengannya kemudian melakukan pemberontakan demi menuntut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Sial, usaha pemberontakan tersebut mendapatkan pengkhianatan dan gagal terlaksana. Tentara Jepang jelas tidak tinggal diam. Hardo dan rekan-rekannya diburu dan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Hardo berhasil melarikan diri. Selama beberapa waktu, Hardo terus berlari dan mengasingkan dirinya dari keramaian. Bukan perkara mudah. Kesendirian diri dan rasa rindu pada sosok orang-orang yang dicintai secara perlahan mulai membuat Hardo kehilangan akal sehatnya. Continue reading Review: Perburuan (2019)

Review: Makmum (2019)

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Alim Sudio (Kuntilanak 2, 2019) dan Vidya Talisa Ariestya berdasarkan film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi, Makmum berkisah tentang Rini (Titi Kamal) yang diminta oleh kepala asrama tempat dirinya dahulu menuntut ilmu, Kinanti (Jajang C. Noer), kembali dan membantunya di asrama tersebut. Sesampainya disana, Rini bertemu dengan kepala asrama baru, Rosa (Reny Yuliana), dan tiga siswi, Nurul (Tissa Biani), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri), yang tidak diperbolehkan keluar dari asrama selama masa liburan akibat nilai mereka yang rendah. Dari penuturan ketiga siswi tersebut, Rini mengetahui bahwa para penghuni asrama tersebut belakangan sering diganggu oleh sosok supranatural yang disebut sebagai Hantu Makmum karena keberadaannya muncul saat mereka sedang melaksanakan ibadah shalat. Setelah usahanya untuk menyampaikan masalah tersebut pada Rosa ditanggapi dengan dingin, Rini kini berusaha mencari solusi sendiri agar ketiga siswi tersebut tidak lagi mendapatkan gangguan. Continue reading Review: Makmum (2019)

Review: The Hustle (2019)

Di tahun 1988, Steve Martin dan Michael Caine membintangi komedi Dirty Rotten Scoundrels arahan Frank Oz yang merupakan versi buat ulang dari Bedtime Story (Ralph Levy, 1964) dan berkisah mengenai dua orang penipu yang saling bersaing untuk merebut perhatian seorang wanita kaya untuk mendapatkan hartanya. Di tahun 2019, Bedtime Story dan Dirty Rotten Scoundrels dijadikan basis bagi jalan pengisahan The Hustle yang masih menawarkan premis serupa namun kini menempatkan dua sosok karakter perempuan sebagai karakter sentral cerita. Merupakan film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Chris Addison, The Hustle bercerita tentang dua orang wanita, Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) dan Penny Rust (Rebel Wilson), yang sama-sama memiliki kegemaran untuk menipu para pria hidung belang guna mendapatkan uang mereka. Persaingan keduanya memuncak ketika Josephine Chesterfield dan Penny Rust sama-sama mengincar seorang milyuner internet, Thomas Westerburg (Alex Sharp), yang membuat keduanya mengeluarkan strategi terbaik mereka untuk dapat mengalahkan pesaing mereka. Continue reading Review: The Hustle (2019)

Review: The Lion King (2019)

In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight.”

Setelah Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), Dumbo (Tim Burton, 2019), dan Aladdin (Guy Ritchie, 2019), Walt Disney Pictures melanjutkan “pembaharuan” terhadap deretan film animasi klasik yang dahulu telah diproduksi dan membangun reputasinya dengan merilis versi teranyar dari The Lion King. Selain lagu The Lion Sleeps Tonight atau Can You Feel the Love Tonight atau Circle of Life yang berasal dari adegan-adegan di dalam filmnya dan telah begitu melegenda, film animasi The Lion King (Roger Allers, Rob Minkoff, 1994) memiliki catatan prestasi spesial tersendiri jika dibandingkan beberapa film animasi klasik produksi Walt Disney Pictures lainnya. Selain tercatat berhasil meraih empat nominasi – dan memenangkan dua diantaranya – di ajang The 67th Annual Academy Awards, The Lion King juga mampu meraih sukses besar di saat perilisannya. Selain mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, The Lion King juga berhasil mampu menarik minat banyak penikmat film yang lantas kemudian menjadikannya sebagai salah satu film animasi tersukses sepanjang masa secara global. Tidak dapat disangkal, The Lion King adalah salah satu film animasi yang paling dikenal dan begitu disukai oleh banyak orang – yang membuat ekspektasi terhadap versi baru dari filmnya jelas membumbung tinggi. Continue reading Review: The Lion King (2019)

Review: Men in Black: International (2019)

They’re back! Tujuh tahun semenjak perilisan Men in Black 3 arahan Barry Sonnenfeld, kisah mengenai petualangan para agen rahasia Men in Black yang berpakaian, tentu saja, dalam atribut serba berwarna hitam serta bertugas untuk mengamankan Bumi dari ancaman makhluk angkasa luar kini hadir kembali dalam format pengisahan yang (tidak terlalu) baru. Jika tiga seri Men in Black sebelumnya menghadirkan duo Agent K (Tommy Lee Jones) dan Agent J (Will Smith), Men in Black: International mengalihkan fokusnya pada pasangan agen rahasia baru dengan latar belakang lokasi pengisahan yang baru dan berbeda pula. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Art Marcum dan Matt Holloway yang sebelumnya juga menuliskan naskah cerita untuk film-film seperti Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan Transformers: The Last Knight (Michael Bay, 2017), Men in Black: International, sayangnya, terasa kesulitan untuk memberikan pengisahan yang menarik dan setidaknya mampu mengimbangi kualitas pengisahan tiga film pendahulunya. Hambar. Continue reading Review: Men in Black: International (2019)

Review: Single Part 2 (2019)

Apakah dunia masih membutuhkan sebuah film lain tentang merananya kehidupan seorang pria melajang yang ditulis, diarahkan, dan dibintangi oleh Raditya Dika? Tema pengisahan tersebut sepertinya menjadi tema wajib bagi Dika di sepanjang karirnya di dunia film – baik ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Dika di Kambing Jantan the Movie (Rudy Soedjarwo, 2009), Cinta Brontosaurus (Fajar Nugros, 2013), Manusia Setengah Salmon (Herdanius Larobu, 2013), Marmut Merah Jambu (Dika, 2014), dan Koala Kumal (Dika, 2016), atau ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Miko di Cinta Dalam Kardus (Salman Aristo, 2013) dan Malam Minggu Miko the Movie (Dika, 2014). Tidak mengherankan. Film-film tersebut memang mampu digarap secara cukup menyenangkan oleh Dika dan kemudian berhasil menarik perhatian penonton dalam jumlah yang tidak sedikit. Film terakhir Dika yang bertema sama – sebelum akhirnya Dika mengeksplorasi tema pengisahan lain dalam tiga film terakhirnya: Hangout (2016), The Guys (2017), dan Target (2018) – Single yang dirilis pada akhir tahun 2015 bahkan masih mampu meraih lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa penayangannya. Continue reading Review: Single Part 2 (2019)

Review: Sekte (2019)

Setelah mengarahkan beberapa film pendek – termasuk mengarahkan salah satu segmen dalam film omnibus 3Sum (2013), William Chandra melakukan debut pengarahan film panjangnya melalui Sekte. Filmnya sendiri berkisah mengenai seorang gadis (Asmara Abigail) yang kehilangan ingatannya ketika terbangun setelah tidak sadarkan diri akibat kecelakaan yang ia alami. Beruntung, selama masa tidak sadarkan diri tersebut, sang gadis diselamatkan oleh Dewi (Gesata Stella) dan beberapa temannya yang hidup di satu rumah yang menurut Dewi menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang merasa terasingkan oleh dunia. Awalnya, sang gadis merasa aman dan nyaman dengan sikap bersahabat yang ditunjukkan Dewi bersama dengan teman-temannya selama ia dirawat. Namun, secara perlahan, sang gadis mulai merasakan berbagai hal aneh yang terjadi di lingkungan rumah tersebut. Dan ketika sang gadis mulai menyadari bahwa Dewi dan teman-temannya memiliki rahasia kelam yang dapat membahayakan nyawanya, sang gadis mulai mencari cara untuk segera keluar dari rumah tersebut. Continue reading Review: Sekte (2019)

Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Well… jika Anda belum jenuh dengan eksplorasi akan semesta pengisahan The Conjuring, James Wan kembali menghadirkan sebuah bangunan kisah horor baru yang diikutsertakan dalam semesta pengisahan tersebut. Dengan mengambil inspirasi dari salah satu dongeng asal Meksiko yang berkisah tentang sosok supranatural yang dikenal dengan sebutan La Llorona, The Curse of the Weeping Woman memiliki latar belakang waktu penceritaan pada tahun 1970an dengan cerita yang berfokus pada kehidupan seorang ibu yang bekerja sebagai seorang pekerja sosial, Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini), serta kedua anaknya, Chris (Roman Christou) dan Samantha Garcia (Jaynee-Lynne Kinchen). Ketika sedang menangani sebuah kasus kematian dua orang anak, Anna Tate-Garcia baru menyadari bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu kehidupan kedua anaknya. Tidak tinggal diam, Anna Tate-Garcia lantas meminta bantuan pihak gereja untuk membantunya mengusir sosok yang semenjak lama dikenal dengan sebutan La Llorona dan memang gemar menculik para anak-anak manusia untuk dijadikannya sebagai anaknya sendiri. Continue reading Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Review: Ave Maryam (2019)

Cinta terlarang mungkin adalah tema pengisahan yang telah terasa begitu familiar. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sutradara Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita, 2011) lewat film terbarunya yang berjudul Ave Maryam, jelas masih ada banyak ruang untuk memberikan berbagai sentuhan baru pada tema cerita yang telah familiar tersebut. Berdasarkan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Ave Maryam berkisah mengenai kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang dalam kesehariannya bertugas untuk merawat para suster sepuh. Suatu hari, sembari membawa seorang suster sepuh baru bernama Suster Monic (Tutie Kirana) untuk dirawat, Romo Martin (Joko Anwar) memperkenalkan Suster Maryam pada Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang direncanakan akan mengajarkan kemampuan bermusiknya di gereja. Berbeda dengan Suster Maryam yang cenderung selalu bersikap kaku, Romo Yosef adalah sosok yang lebih bebas dalam setiap tingkah laku dan perkataannya. Sebuah perbedaan yang secara perlahan mulai menarik hati Suster Maryam. Continue reading Review: Ave Maryam (2019)

Review: DreadOut (2019)

Menyusul Timo Tjahjanto yang telah mengarahkan Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan The Night Comes for Us (2018) secara solo, belahan jiwa Mo Brothers lainnya, Kimo Stamboel, kini memamerkan kemampuan penyutradaraannya lewat DreadOut. Diatas kertas, premis yang ditawarkan film ini jelas terdengar menarik. Bukan sebuah film horor biasa, jalan cerita DreadOut diadaptasi dari sebuah permainan video bertema horor buatan Indonesia yang telah cukup popular di kalangan para penikmat permainan video baik dalam skala lokal maupun dalam skala internasional – yang menjadikan DreadOut sebagai film adaptasi permainan video pertama di Indonesia. Begitu pula dengan deretan pengisi departemen aktingnya yang dipenuhi nama-nama aktor dan aktris muda Indonesia seperti Jefri Nichol, Caitlin Halderman, Marsha Aruan, hingga Susan Sameh yang jelas telah memiliki kredibilitas kemampuan akting yang cukup meyakinkan. Then what could go wrong? Banyak hal, ternyata… khususnya ketika penceritaan film tidak mendapatkan dukungan kualitas naskah cerita yang solid. Continue reading Review: DreadOut (2019)

Review: Billionaire Boys Club (2018)

Diarahkan oleh James Cox (Straight A’s, 2013) berdasarkan naskah yang ia tulis bersama dengan Captain Mauzner (Factory Girl, 2006), Billionaire Boys Club memulai alur pengisahannya ketika dua pemuda yang dahulu pernah bersahabat dekat ketika masih duduk di bangku sekolah, Joe Hunt (Ansel Elgort) dan Dean Karny (Taron Egerton), kembali bertemu dan kemudian memutuskan untuk menjalani bisnis bersama. Dengan memanfaatkan modal yang diperoleh dengan mudah melalui teman-teman sekolah mereka yang memang berasal dari keluarga kaya raya, bisnis investasi yang dibangun oleh Joe Hunt dan Dean Karny – yang dilangsungkan dengan menjalankan Skema Ponzi – mulai menarik perhatian banyak pemodal besar termasuk Ron Levin (Kevin Spacey) yang merupakan seorang pebisnis besar dengan banyak koneksi yang menjanjikan dan kemudian bergabung bersama Joe Hunt dan Dean Karny sebagai penasehat mereka. Layaknya banyak bisnis yang menggunakan Skema Ponzi, investasi yang dijalankan Joe Hunt dan Dean Karny berjalan mulus dan segera menjadikan mereka sebagai sosok muda yang bergelimang harta. Namun, sebuah tindak pengkhianatan lantas mulai menghancurkan bisnis tersebut… dan bahkan menyeret Joe Hunt dan Dean Karny dalam kasus pembunuhan. Continue reading Review: Billionaire Boys Club (2018)

Review: The Returning (2018)

Merupakan passion project dari film bloggerturnedfilmmaker, Witra Asliga – yang bahkan telah mulai dikembangkan sebelum dirinya terlibat untuk mengarahkan salah satu segmen dalam omnibus 3 Sum (Asliga, William Chandra, Andri Cung, 2013), The Returning membuka perjalanan kisahnya dengan menggambarkan kehidupan Natalie (Laura Basuki) dan kedua anaknya, Maggie (Tissa Biani Azzahra) dan Dom (Muzakki Ramdhan), setelah suaminya, Colin (Ario Bayu), dinyatakan hilang saat panjat tebing. Tiga bulan setelah hilangnya Colin, semua orang mulai berusaha untuk meyakinkan Natalie agar dirinya merelakan kepergian sang suami dan segera melanjutkan hidup. Namun, rasa cintanya yang besar kepada Colin, dan jenazah Colin yang tak kunjung ditemukan, membuat Natalie masih yakin akan adanya peluang bahwa suaminya masih berada dalam keadaan hidup. Kejutan. Satu malam, Colin benar-benar kembali ke rumahnya untuk menemui Natalie dan kedua anak mereka. Sebuah reuni yang jelas menghadirkan lagi kebahagiaan bagi keluarga tersebut. Namun, secara perlahan, kembalinya Colin turut menghadirkan deretan teror bagi Natalie, Maggie, dan Dom. Apakah Colin benar-benar telah kembali pada keluarganya? Continue reading Review: The Returning (2018)

Review: Asih (2018)

Well… dengan kesuksesan luar biasa dari dua seri Danur, Danur: I Can See Ghosts (2017) dan Danur 2: Maddah (2018) arahan Awi Suryadi yang keduanya berhasil menarik minat lebih dari dua juta penonton meskipun mendapatkan tanggapan yang medioker dari para kritikus film, Suryadi dan MD Pictures melanjutkan perjalanan untuk mengembangkan semesta pengisahan Danur dengan Asih. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh penulis naskah dua seri Danur sebelumnya, Lele Laila, berdasarkan buku berjudul sama karangan Risa Saraswati, Asih diniatkan hadir untuk menggali secara lebih dalam mengenai pengisahan sosok karakter supranatural bernama Asih yang dahulu popular setelah ditampilkan dalam Danur: I Can See Ghosts. Sayangnya, tidak banyak hal menarik yang dapat diperoleh dari presentasi film ini. Pengembangan cerita yang berjalan monoton menyebabkan Asih sering terasa membosankan – meskipun Suryadi mampu menghadirkan kualitas pengarahan yang, sekali lagi, tampil lebih baik. Continue reading Review: Asih (2018)