Tag Archives: Rating: D

Review: The Nun (2018)

Setelah Annabelle (John R. Leonetti, 2014) dan Annabelle: Creation (David F. Sandberg, 2017), usaha James Wan untuk melebarkan wilayah pengisahan The Conjuring Universe kini ditambah dengan kehadiran The Nun. Seperti halnya Annabelle dan Annabelle: Creation – yang menggali lebih dalam mengenai pengisahan salah satu karakter supranatural yang hadir dalam jalan cerita The Conjuring (Wan, 2013), The Nun juga memberikan penontonnya sudut pengisahan yang lebih luas mengenai salah satu karakter supranatural bernama Valak yang sebelumnya ditampilkan – dan mencuri perhatian – pada presentasi cerita The Conjuring 2 (Wan, 2016). Diarahkan oleh Corin Hardy (The Hallow, 2015) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Gary Dauberman (It, 2017), The Nun mampu menyajikan atmosfer horor yang cukup mencekam meskipun gagal untuk berkisah dengan lebih tajam akibat kehambaran dan ketidaktegasan tujuan dari pengisahan film ini secara keseluruhan. Continue reading Review: The Nun (2018)

Advertisements

Review: Mile 22 (2018)

Setelah Lone Survivor (2013), Deepwater Horizon (2016), dan Patriots Day (2016), sutradara Peter Berg dan aktor Mark Wahlberg kembali bekerjasama lewat drama aksi, Mile 22. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Lea Carpenter, Mile 22 berkisah mengenai sekelompok agen rahasia Central Intelligence Agency pimpinan James Silva (Wahlberg) yang berusaha untuk membawa seorang mantan anggota pasukan khusus asal Indonesia, Li Noor (Iko Uwais), keluar dari negaranya guna menghindar dari serangan sekelompok orang yang tidak menginginkan informasi yang dimiliki Li Noor jatuh ke tangan orang lain. Bukan sebuah usaha yang mudah. Dalam perjalanan sejauh 22 mil yang harus ditempuh untuk mencapai lokasi dimana sebuah pesawat telah disiapkan untuk menjemput mereka, James Silva dan Li Noor dipaksa menghadapi gabungan polisi-polisi korup dan gembong penjahat kelas berat yang telah disiapkan untuk mencegah Li Noor mendapatkan kebebasannya. Continue reading Review: Mile 22 (2018)

Review: Slender Man (2018)

Para pengguna internet jelas telah familiar dengan keberadaan Slender Man. Karakter horor nan misterius yang digambarkan sebagai sosok pria bertubuh sangat kurus, sangat tinggi, memiliki tampilan struktur wajah yang tidak dapat dikenali, serta memiliki hobi untuk mengikuti dan menculik manusia tersebut awalnya diciptakan seorang pengguna forum internet Something Awful di tahun 2009 dan secara perlahan kemudian meraih popularitasnya sekaligus menjelma menjadi meme internet.  Seberapa besar popularitas Slender Man? Well… selain meme internetnya masih digunakan dan dikenali oleh jutaan pengguna internet dunia hingga saat ini, beberapa rumah produksi Hollywood telah mengumumkan rencana mereka untuk memproduksi kisah dari karakter tersebut dalam bentuk permainan video, serial televisi, dan film. Not bad eh? Dan salah satu film yang akan menampilkan Slender Man dalam jalan ceritanya tersebut adalah film horor arahan Sylvain White (The Losers, 2010) yang berjudul… Slender Man. Continue reading Review: Slender Man (2018)

Review: Sabrina (2018)

Walau terdengar lebih menakutkan, film horor teranyar arahan Rocky Soraya yang berjudul Sabrina sama sekali tidak berkisah tentang sebuah situasi dimana sesosok karakter dipaksa untuk membayar dan mendengarkan lagu-lagu cover version yang dinyanyikan secara akustik oleh seorang penyanyi bernama Sabrina selama 113 menit. Film ini merupakan bagian dari semesta pengisahan film The Doll arahan Soraya yang dua seri sebelumnya sukses ketika dirilis pada tahun 2016 dan 2017. Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara, Sabrina sendiri memiliki alur pengisahan yang bertindak sebagai kelanjutan kisah atau sekuel bagi The Doll 2. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perbaikan – baik dari kemampuan pengarahan Soraya maupun kualitas naskah cerita garapan Junianti dan Umbara – bagi presentasi keseluruhan Sabrina sepertinya harus bersiap untuk gigit jari. Sabrina hadir dengan kualitas yang mampu menyaingi buruknya dua seri The Doll sebelumnya. Continue reading Review: Sabrina (2018)

Review: Dimsum Martabak (2018)

Dalam film terbaru arahan Andreas Sullivan (Revan & Reina, 2018), Dimsum Martabak, penonton diperkenalkan kepada dua karakter utama, Mona (Ayu Ting Ting) dan Soga (Boy William). Walau keduanya berasal dari dua lingkungan ekonomi yang berbeda namun baik Mona maupun Soga sedang berada dalam usaha mereka masing-masing untuk membuktikan kemampuan diri mereka: Mona berusaha menunjukkan pada sang ibu (Meriam Bellina) bahwa dirinya dapat menjadi sosok tulang punggung keluarga yang bertanggungjawab semenjak meninggalnya sang ayah sementara Soga sedang membangun usahanya sendiri untuk keluar dari bayang-bayang sang ayah, Eric Guntara (Ferry Salim), yang merupakan salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Keduanya kemudian bertemu ketika Mona baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai seorang pramusaji di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) dan lantas mendapatkan pekerjaan di foodtruck martabak yang dikelola Soga bersama sahabatnya, Dudi (Muhadkly Acho) – yang, dapat dengan mudah ditebak, lantas turut menebar benih romansa antara keduanya. Continue reading Review: Dimsum Martabak (2018)

Review: Anon (2018)

Andrew Niccol (Good Kill, 2015) membawa penontonnya ke masa depan lewat film terbarunya, Anon. Di masa tersebut, setiap manusia memiliki implan yang ditanamkan ke retina mata yang menyebabkan setiap orang dapat mendapatkan informasi yang mereka butuhkan mengenai seseorang atau sesuatu yang mereka jumpai secara cepat dan tepat. Tidak hanya itu, setiap detil tindakan atau perkataan juga dapat terekam dan tersimpan dengan baik – suatu hal yang jelas kemudian memudahkan pihak kepolisian untuk meneliti setiap kasus kejahatan kriminal yang mereka tangani dengan hanya memutar ulang kembali rekaman ingatan setiap orang yang mereka jadikan sebagai tersangka. Tetap saja, hal tersebut tidak menghentikan langkah beberapa pelaku kriminal untuk dapat menjalankan aksi mereka. Dalam sebuah kasus terbaru, seorang pembunuh meretas sistem informasi penglihatan para korbannya sehingga mata mereka tidak dapat melihat siapa pembunuh mereka dan justru menyaksikan sendiri bagaimana mereka terbunuh. Cukup sadis. Continue reading Review: Anon (2018)

Review: Blumhouse’s Truth or Dare (2018)

Diarahkan oleh sutradara Jeff Wadlow (Kick-Ass 2, 2013), Blumhouse’s Truth or Dare memulai pengisahannya dengan perjalanan yang dilakukan oleh sekelompok sahabat, Olivia Barron (Lucy Hale), Markie Cameron (Violett Beane) dan kekasihnya, Lucas Moreno (Tyler Posey), Brad Chang (Hayden Szeto), serta Tyson Curran (Nolan Gerard Funk) dan kekasihnya, Penelope Amari (Sophia Ali), untuk berliburan ke Meksiko. Liburan tersebut awalnya berjalan dengan mulus hingga kemudian Olivia Barron dan teman-temannya berkenalan dengan Carter (Landon Liboiron) yang mengajak mereka untuk menghabiskan malam bersama sembari memainkan permainan Truth or Dare. Terdengar sebagai sebuah ajakan yang bersahabat. Namun, ketika permainan sedang berlangsung, Carter mengungkapkan bahwa Truth or Dare yang mereka mainkan adalah sebuah permainan supernatural dan Olivia Barron serta teman-temannya harus memenuhi setiap aturan permainan jika tidak ingin kehilangan nyawa mereka. Continue reading Review: Blumhouse’s Truth or Dare (2018)

Review: Bluebell (2018)

Setelah serangkaian film berwarna horor dan thriller yang telah ia tekuni semenjak melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Jinx (2010), Muhammad Yusuf mencoba mengarahkan sebuah genre berbeda untuk film teranyarnya, Bluebell. Film drama romansa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Dwitasari ini berkisah mengenai pertemuan antara Bluebell (Regina Rengganis) dan Mario (Qausar Harta Yudana) yang secara singkat tumbuh menjadi perasaan suka antara satu dengan yang lain. Sayangnya, pertemuan antara Bluebell dan Mario terjadi di saat pemuda tersebut sedang merasa gundah akan hubungannya dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora), yang akan segera berlanjut ke jenjang pernikahan. Sial, ketika Mario berusaha menentukan keputusan hatinya, Bluebell mengetahui tentang status hubungan asmara Mario. Patah hati, Bluebell memilih untuk menjauh dan berusaha untuk melupakan pemuda itu. Continue reading Review: Bluebell (2018)

Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

Merupakan film panjang kedua arahan Andri Cung setelah The Sun, The Moon & The Hurricane (2014), Kenapa Harus Bule? berkisah mengenai perjuangan yang harus dilalui oleh Pipin Kartika (Putri Ayudya) untuk memenuhi obsesinya dalam mendapatkan jodoh seorang pria bule. Terus-menerus gagal dalam menemukan sosok pria bule yang tepat untuknya di Jakarta, Pipin Kartika lantas nekat untuk meninggalkan pekerjaan serta kehidupannya di ibukota dan lantas pindah dan tinggal bersama sahabatnya, Arik (Michael Kho), di Bali. Tidak lama setelah kepindahannya tersebut, Pipin Kartika berkenalan dengan seorang pria tampan berdarah Italia, Gianfranco Battaglia (Cornelio Sunny), yang dengan segera mampu mencuri perhatian dan hati Pipin Kartika. Namun, di saat yang bersamaan, Pipin Kartika bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Buyung (Natalius Chendana), yang kini telah tumbuh sebagai seorang pria tampan sekaligus mapan. Buyung telah berulangkali menunjukkan perhatian dan rasa sukanya pada Pipin Kartika. Meskipun begitu, Pipin Kartika telah bertekad untuk mendapatkan seorang pria bule untuk mendampinginya di pelaminan – meskipun secara perlahan Pipin Kartika mulai menyadari bahwa Gianfranco seringkali berbohong pada dirinya. Continue reading Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

Review: Mata Dewa (2018)

Digadang sebagai film Indonesia pertama yang bertema tentang olahraga basket, Mata Dewa berkisah mengenai pelatih basket SMA Wijaya, Miko (Nino Fernandez), yang bermimpi untuk membawa tim basket asuhannya untuk memenangkan kompetisi basket antar sekolah terbesar di Indonesia, Developmental Basketball League Indonesia. Harus diakui, tim Jayhawk – sebutan untuk tim basket milik SMA Wijaya – memang memiliki beberapa pemain berbakat, seperti Dewa (Kenny Austin) yang selalu dapat diandalkan dalam setiap pertandingan. Namun, di saat yang bersamaan, tidak adanya kekompakan antar sesama pemain membuat tim Jayhawk selalu bermain buruk dan berakhir dengan kekalahan. Tim Jayhawk kemudian menemui titik terendah mereka ketika Dewa mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan salah satu matanya. Tidak menyerah begitu saja, Dewa berusaha untuk bangkit dan mengenyampingkan kelemahan fisiknya untuk tetap dapat berkiprah di tim basketnya. Usaha Dewa tersebut secara perlahan memberikan inspirasi bagi Miko dan rekan-rekannya untuk kembali berjuang dan bersatu untuk memenangkan kompetisi di hadapan mereka. Continue reading Review: Mata Dewa (2018)

Review: Insidious: The Last Key (2018)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang filmografinya diisi oleh film-film horor seperti The Taking of Deborah Logan (2014) dan Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015), film keempat dalam seri film Insidious, Insidious: The Last Key, kini menempatkan karakter Elise Rainier yang diperankan oleh Lin Shaye pada garda terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya. Jelas suatu hal yang tidak mengherankan mengingat naskah cerita Insidious: The Last Key berusaha menyelami karakter Elise Rainier secara personal yang sekaligus menjadikan film ini sebagai bagian pertama dari seri film Insidious jika dirunut berdasarkan kronologi pengisahannya. Shaye memang mampu menjadikan karakter yang ia perankan tampil begitu mengikat namun, sayangnya, naskah garapan Leigh Whannell tidak pernah bergerak dari berbagai taktik horor yang sebelumnya telah diterapkan oleh film-film Insidious sebelumnya. Hasilnya, Insidious: The Last Key berakhir sebagai sebuh presentasi cerita yang cenderung monoton dan membosankan. Continue reading Review: Insidious: The Last Key (2018)

Review: Surat Cinta untuk Starla the Movie (2017)

Berawal dari sebuah lagu berjudul sama milik vokalis Virgoun – yang begitu populer hingga judulnya menjadi kata kunci paling dicari di Google Search Indonesia pada sepanjang tahun 2017, Surat Cinta untuk Starla kemudian dikembangkan menjadi sebuah webseries berjudul sama yang dirilis sebanyak tujuh episode melalui YouTube. Dibintangi oleh Jefri Nichol dan Caitlin Halderman, webseries tersebut juga berhasil memperoleh kepopuleran yang sama dengan setiap episode telah disaksikan rata-rata sebanyak lebih dari dua juta kali. Berbekal kesuksesan tersebut, Screenplay Films dan Legacy Pictures menugaskan duo penulis naskah yang sebelumnya bertanggungjawab atas naskah cerita film-film arahan Asep Kusdinar seperti Magic Hour (2015), London Love Story (2016), dan Promise (2017), Sukhdev Singh dan Tisa TS, untuk menggarap naskah cerita versi film dari Surat Cinta untuk Starla. Hasilnya? Well… mungkin Surat Cinta untuk Starla the Movie dibuat murni untuk menghibur para penggemar berat lagu dan webseries Surat Cinta Untuk Starla karena, lebih dari itu, film ini tampil nyaris mati rasa di setiap bagian penceritaannya. Continue reading Review: Surat Cinta untuk Starla the Movie (2017)

Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)

Desir pasir di padang tandus

Hampir satu dekade semenjak masa perilisan film perdananya, kisah cinta sejuta umat – well… tiga juta lima ratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh tujuh jika ingin menghitung jumlah raihan penonton yang berhasil didapatkan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008) – kembali hadir untuk melanjutkan pengisahannya. Masih diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, jalan cerita Ayat-ayat Cinta 2 tidak lagi berputar di sekitar melodrama kisah cinta segitiga antara Fahri, Maria, dan Aisha. Melalui novelnya, El Shirazy sepertinya ingin menjangkau tema pengisahan yang lebih luas atau universal mengenai cinta – meskipun, tentu saja, dengan tetap menggunakan sebuah alur kisah cinta sebagai jangkarnya. Sebuah tujuan yang dapat dirasakan… ummm… mulia namun sayang hadir dengan eksekusi yang terlalu mentah. Continue reading Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)