Tag Archives: Rating: D

Review: Kuntilanak 3 (2022)

Ada sesuatu yang berbeda dari presentasi cerita Kuntilanak 3. Seperti halnya Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019), film ini masih diarahkan oleh Rizal Mantovani berdasarkan naskah cerita yang ditulis Alim Sudio. Namun, berbeda dengan dua film pendahulunya yang kental akan nuansa horor dalam penuturan ceritanya – well… penuturan horor yang ditujukan bagi kalangan penonton muda, Kuntilanak 3 melangkah sedikit menjauh dari warna horor dengan menghadirkan bangunan cerita berkesan fantasi yang akan dengan segera mengingatkan banyak penontonnya pada film-film dalam seri Harry Potter (2001 – 2011). Sebuah pilihan kreatif yang jelas diambil guna semakin memperluas jangkauan wilayah pengisahan Jagat Sinema Kuntilanak – yang didalamnya juga mengikutsertakan film Mangkujiwo (2020) arahan Azhar Kinoi Lubis dan akan terhubung dengan trilogi Kuntilanak (2006 – 2008) sebelumnya – garapan Mantovani bersama dengan MVP Pictures. Continue reading Review: Kuntilanak 3 (2022)

Review: Morbius (2022)

Setelah kesuksesan Venom (Ruben Fleischer, 2018) dan Venom: Let There Be Carnage (Andy Serkis, 2021), Sony Pictures melanjutkan pengembangan semesta pengisahan Sony’s Spider-Man Universe yang dibentuk berdasarkan barisan kisah dan karakter dalam seri komik Spider-Man rilisan Marvel Comics dengan Morbius. Tidak seperti karakter Venom yang mungkin telah cukup dikenal keberadaannya berkat penampilannya yang menonjol pada alur pengisahan Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007), Morbius menjadi kali pertama bagi karakter yang diciptakan oleh komikus Roy Thomas dan Gil Kane tersebut ditampilkan secara maksimal dalam sebuah presentasi film cerita panjang – karakter Morbius sempat akan muncul secara kameo dalam satu adegan film Blade (Stephen Norrington, 1998) sebelum adegan tersebut kemudian dipotong dan tidak digunakan dalam versi Blade yang dirilis di layar lebar. Sayangnya, kualitas yang dihadirkan oleh sutradara Daniel Espinosa (Life, 2017) bagi film perdana untuk karakter Morbius ini jauh dari kesan yang baik maupun memuaskan. Sangat buruk, bahkan. Continue reading Review: Morbius (2022)

Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Mahfrizha Kifani berdasarkan novel garapannya yang berjudul sama, film drama Pelangi Tanpa Warna yang diarahkan oleh sutradara Dear Nathan (2017) dan Dear Nathan Hello Salma (2018), Indra Gunawan, memiliki premis yang mungkin telah terasa begitu familiar. Pengisahan film ini berfokus pada kehidupan rumah tangga yang terjalin antara pasangan Fedi (Rano Karno) dan Kirana (Maudy Koesnaedi) bersama dengan putra tunggal mereka, Divo (Zayyan Sakha). Tidak ada yang benar-benar istimewa dari kehidupan keseharian pasangan tersebut. Namun, ketika Kirana mulai melupakan berbagai hal – mulai dari perlengkapan rumah tangga yang selalu dipakai, rutinitas keseharian, hingga sejumlah sosok yang mengisi kehidupannya – Fedi menyadari bahwa kehidupannya telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Kirana bahkan hanya memiliki sedikit waktu sebelum daya ingatnya benar-benar menghapus seluruh kenangan akan kehidupan yang telah dilaluinya. Continue reading Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Review: Moonfall (2022)

Setelah Midway (2019), Patrick Wilson kembali tampil dalam film terbaru arahan Roland Emmerich, Moonfall. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Emmerich bersama dengan Harald Kloser – yang merupakan produser dan penata musik regular di film-film arahan Emmerich namun juga turut menuliskan naskah cerita untuk 10,000 BC (2008) dan 2012 (2009) – dan Spenser Cohen (Extinction, 2018), Moonfall berkisah mengenai dua astronot, Jocinda Fowler (Halle Berry) dan Brian Harper (Wilson), yang berusaha menemukan cara untuk menyelamatkan Bumi ketika Bulan terdeteksi keluar dari orbitnya dan diprediksi akan segera menabrak Bumi. Bukan sebuah persoalan mudah karena keduanya juga harus melawan pemerintah Amerika Serikat yang lebih memilih untuk meledakkan Bulan tanpa memperhitungkan efeknya secara ilmiah bagi Bumi di masa yang akan datang. Dengan bantuan seorang pengamat teori konspirasi, K.C. Houseman (John Bradley), Jocinda Fowler dan Brian Harper mulai menyusun rencana mereka. Continue reading Review: Moonfall (2022)

Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Aktor muda yang baru akan menginjak usia 21 tahun pada 16 Februari mendatang, Umay Shahab, melakukan debut pengarahan film cerita panjangnya lewat Kukira Kau Rumah – sebuah drama romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Monty Tiwa (Ghibah, 2021) dan Imam Salimy (Will You Marry Me, 2016) berdasarkan lirik dari lagu berjudul sama yang dibawakan oleh kelompok musik Amigdala. Linimasa pengisahannya akan memperkenalkan penonton pada seorang gadis dengan gangguan bipolar, Niskala (Prilly Latuconsina), yang merasa dirinya bagai hidup dalam kurungan kedua orangtuanya, Dedi (Kiki Narendra) dan Mella (Unique Priscilla), yang bersikap overprotektif akibat kondisi mental yang dimilikinya. Beban perasaan yang dirasakan oleh Niskala mulai terasa menghilang ketika ia berkenalan dan menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Pram (Jourdy Pranata). Hubungannya dengan Pram secara perlahan mengubah sikap Niskala dalam keseharian, termasuk sikapnya terhadap teman-teman terdekatnya, Dinda (Shenina Cinnamon) dan Octavianus (Raim Laode). Continue reading Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Twivortiare, 2019) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Arumi E – yang konon juga terinspirasi dari kisah nyata perjalanan spiritual seorang gadis mualaf asal Belanda, film Merindu Cahaya de Amstel arahan Hadrah Daeng Ratu (A Perfect Fit, 2021) memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang gadis bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) dengan seorang fotografer jurnalistik bernama Nicholas van Dijck (Bryan Domani). Secara tidak sengaja, figur Khadija Veenhoven terekam dalam salah satu gambar yang diambil oleh Nicholas van Dijck yang kemudian menginspirasi fotografer tersebut bersama dengan rekan kerjanya, Joko (Ridwan Remin), untuk menuliskan artikel tentang kehidupan wanita Muslim di Eropa. Sayang, permintaan Nicholas van Dijck agar dirinya dapat menggunakan foto Khadija Veenhoven untuk artikelnya ditolak karena perempuan yang dalam kesehariannya mengenakan hijab tersebut merasa khawatir masa lalu yang coba dilupakan akan kembali menghantuinya. Continue reading Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Review: Makmum 2 (2021)

Merupakan salah satu film horor Indonesia dengan kualitas cerita yang jelas jauh dari kata memuaskan, Makmum (Hadrah Daeng Ratu, 2019) masih mampu menarik minat banyak penonton, termasuk penonton di negara tetangga dimana film yang dibintangi Titi Kamal tersebut berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai Film Indonesia Terlaris di Malaysia 2018 – 2019. Sure. Kesuksesan tersebut, tentu saja, kini diikuti oleh sebuah sekuel yang masih menampilkan Kamal sebagai pemeran utama namun dengan sutradara, Guntur Soeharjanto (Belok Kanan Barcelona, 2018), serta penulis naskah cerita, Rafki Hidayat (Kafir, 2018), yang berbeda dari film pendahulunya. Akankah mampu mendorong kualitas presentasi cerita Makmum 2? Tidak juga. Continue reading Review: Makmum 2 (2021)

Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)

Meskipun masih mampu mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$312 juta dari perilisannya di seluruh dunia, capaian komersial Resident Evil: The Final Chapter (Paul W. S. Anderson, 2016) yang kurang maksimal di negara asalnya, Amerika Serikat, serta kualitas cerita yang terus mendapatkan kritikan tajam baik dari para kritikus film maupun banyak penggemar permainan video Resident Evil yang menjadi dasar pengisahan bagi seri film tersebut ternyata memberikan kekhawatiran tersendiri bagi para pembuatnya. Tidak mengherankan, bahkan ketika Resident Evil: The Final Chapter masih ditayangkan, ide untuk membuat ulang seri Resident Evil dengan menggunakan konsep, jalan cerita, serta barisan pemeran yang berbeda mulai berkumandang. Ide tersebut sempat menarik perhatian James Wan – yang, sayangnya, kemudian mundur dan memilih untuk memproduseri reboot film adaptasi permainan video lainnya, Mortal Kombat (Simon McQuoid, 2021). Perjalanan penggarapan seri film baru bagi adaptasi permainan video Resident Evil terus bergulir dengan pemilihan Johannes Roberts (47 Meters Down: Uncaged, 2019) untuk duduk di kursi penyutradaraan dan proses pengambilan gambar yang dilakukan di sepanjang tahun 2020. Continue reading Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)

Review: The King’s Man (2021)

Merupakan prekuel bagi dua film dalam seri Kingsman arahan Matthew Vaughn, Kingsman: The Secret Service (2014) dan Kingsman: The Golden Circle (2017), The King’s Man membawa penontonnya jauh ke awal tahun 1900an ketika dunia sedang bersiap untuk menghadapi pecahnya Perang Dunia I. Tidak ingin dunia – khususnya negaranya, Britania Raya – terjebak dalam peperangan, seorang bangsawan bernama Duke Orlando Oxford (Ralph Fiennes) bersama dengan putranya, Conrad Oxford (Harris Dickinson), dan dua pembantunya, Shola (Djimon Hounsou) dan Polly (Gemma Arterton), membentuk sebuah jaringan mata-mata yang dinamakan The Kingsmen Agency. The Kingsmen Agency lantas menemukan fakta adanya pihak yang mencoba mengadu domba pemimpin Britania Raya, King George (Tom Hollander), dengan para sepupunya yang juga pemimpin Kekaisaran Jerman, Kaiser Wilhelm (masih diperankan Holander), dan pemimpin Kekaisaran Rusia, Tsar Nicholas (juga diperankan oleh Hollander). Di saat yang bersamaan, ketika perang mulai berkecamuk, Conrad Oxford memilih untuk meninggalkan misi sang ayah bersama dengan The Kingsmen Agency dan bergabung dengan para tentara Britania Raya di medan peperangan. Continue reading Review: The King’s Man (2021)

Review: Red Notice (2021)

Dengan biaya produksi yang dilaporkan mencapai US$200 juta, film terbaru arahan sutradara Rawson Marshall Thurber yang kembali mempertemukannya dengan aktor Dwayne Johnson setelah Central Intelligence (2016) dan Skyscraper (2018), Red Notice, menjadi film blockbuster pertama sekaligus termahal yang dirilis oleh Netflix. Tidak begitu mengherankan. Selain Johnson, Red Notice juga menghadirkan penampilan akting dari Ryan Reynolds dan Gal Gadot – dua pemeran yang namanya jelas sedang berada di puncak popularitas saat ini. Tidak lupa, layaknya sebuah blockbuster yang mengedepankan adegan aksi, Red Notice juga dieksekusi sebagai sajian dengan tatanan audio dan visual berskala besar yang tentunya digunakan untuk semakin meningkatkan daya pikatnya kepada penonton. Namun, tentu saja, tanpa naskah cerita yang benar-benar mumpuni, paduan kehadiran barisan pemeran popular dengan tampilan presentasi yang berkelas tidak begitu saja dapat menyokong kualitas penceritaan sebuah film. Hal tersebut, sayangnya, terjadi pada film ini. Continue reading Review: Red Notice (2021)

Review: Halloween Kills (2021)

Meskipun tidak menawarkan tata pengisahan yang benar-benar baru (ataupun menarik), kembalinya sosok karakter pembunuh Michael Myers bersama dengan karakter Laurie Strode yang kembali diperankan oleh Jamie Lee Curtis dalam garapan teranyar Halloween (2018) yang dikerjakan oleh sutradara David Gordon Green bersama dengan produser Jason Blum ternyata cukup mampu menarik perhatian banyak penikmat film horor dunia. Dengan proses produksi yang hanya menghabiskan biaya sebesar US$10 juta, film yang linimasa pengisahannya dimaksudkan bertugas sebagai sekuel bagi Halloween (John Carpenter, 1978) tersebut mampu mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$255 juta di masa perilisannya yang sekaligus menggeser posisi Scream (Wes Craven, 1996) sebagai film slasher dengan pendapatan terbesar sepanjang masa. Pencapaian yang jelas mengesankan bagi sebuah seri film yang usia keberadaannya telah mencapai lebih dari empat dekade. Continue reading Review: Halloween Kills (2021)

Review: A World Without (2021)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Nia Dinata setelah Ini Kisah Tiga Dara (2016), A World Without memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 2030 – sepuluh tahun semenjak terjadinya pandemi yang membuat kualitas hidup manusia secara keseluruhan menurun drastis. Sebuah komunitas yang menyebut diri mereka sebagai The Light milik pasangan Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia Khan (Ayushita) muncul dan menjadi popular berkat misi mereka untuk mengembangkan bakat serta kemampuan setiap remaja terpilih untuk kemudian menikahkan para remaja tersebut ketika usia mereka telah menginjak 17 tahun agar dapat membentuk keluarga baru yang berkualitas. Tiga sahabat yang datang dari latar kehidupan yang berbeda, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja terpilih untuk bergabung bersama The Light. Sejumlah harapan untuk masa depan yang lebih cerah jelas terlintas di benak ketiganya. Namun, secara perlahan, berbagai sisi gelap dari komunitas tersebut mulai terungkap. Tiga gadis muda tersebut terjebak didalamnya. Continue reading Review: A World Without (2021)

Review: Selesai (2021)

Merupakan film cerita panjang kedua yang diarahkan oleh Tompi (Pretty Boys, 2019) sekaligus menandai kali kedua kolaborasinya bersama dengan penulis naskah Imam Darto, Selesai adalah sebuah drama (drama komedi?) yang akan membawa para penontonnya ke sebuah perseteruan rumah tangga yang berlangsung antara karakter-karakternya. Linimasa pengisahannya bermula ketika Ayu (Ariel Tatum) yang berniat untuk menuntut cerai dan meninggalkan rumah yang ia tempati bersama suaminya, Broto (Gading Marten), setelah mengetahui bahwa sang suami kembali menjalin hubungan asmara dengan Anya (Anya Geraldine) yang sebenarnya telah menjadi sosok ketiga dalam pernikahan mereka dalam dua tahun terakhir. Langkah Ayu untuk keluar dari rumah terhenti ketika, di saat yang bersamaan, ibu mertuanya, Bu Sri (Marini), datang dan memilih untuk tinggal bersama anak dan menantunya guna menghabiskan masa isolasi wilayah yang sedang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran infeksi di masa pandemi. Ayu lantas memberikan sejumlah waktu pada Broto untuk dapat menjelaskan kondisi pernikahan mereka pada sang ibu sebelum ia benar-benar angkat kaki dari rumah tersebut. Continue reading Review: Selesai (2021)