Tag Archives: Rating: D

Review: 12 Cerita Glen Anggara (2022)

Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Luluk HF, 12 Cerita Glen Anggara disajikan sebagai film lepasan dari Mariposa (2020) yang masih diarahkan oleh Fajar Bustomi. 12 Cerita Glen Anggara sendiri memberikan fokus penceritaannya pada sosok karakter Glen Anggara (Junior Roberts) yang merupakan sahabat dari salah satu karakter utama dalam cerita Mariposa, Iqbal (Angga Yunanda). Dikisahkan, Glen Anggara yang belum pernah berpacaran sebelumnya, mendapatkan ajakan untuk berpacaran dari kakak kelasnya, Shena Rose (Prilly Latuconsina). Ajakan tersebut bukan tanpa sebab. Shena Rose mengidap gagal ginjal kronis yang membuat dokter memvonis hidupnya tidak lama lagi. Shena Rose lantas membuat daftar 12 hal yang ingin ia lakukan sebelum ajal menjemputnya dan berpacaran adalah hal pertama yang berada di daftar tersebut. Awalnya, Glen Anggara menolak permintaan aneh tersebut. Namun, setelah mengetahui kondisi Shena Rose, Glen Anggara setuju untuk menjadi pacar sekaligus bertekad untuk membantu gadis tersebut mewujudkan seluruh daftar keinginannya. Continue reading Review: 12 Cerita Glen Anggara (2022)

Review: Ivanna (2022)

Dengan keberhasilan setiap film yang berada dalam semesta pengisahannya untuk mengumpulkan minimal 1,7 juta penonton – kecuali Asih 2 (Rizal Mantovani, 2020) yang entah mengapa dilepas ke layar bioskop ketika pandemi COVID-19 masih memuncak sehingga “hanya mampu” mendapatkan 300 ribuan penonton, MD Pictures kembali melanjutkan pengembangan teror dari semesta pengisahan Danur dengan Ivanna. Jika dua film Asih dikembangkan dari sosok karakter supranatural yang awalnya dikenalkan pada pengisahan Danur (Awi Suryadi, 2017), maka Ivanna menjadi film sempalan yang didasarkan pada sosok karakter supranatural bernama sama yang sebelumnya sempat muncul pada alur cerita Danur 2: Maddah (Suryadi, 2018). Menempatkan Kimo Stamboel (Ratu Ilmu Hitam, 2019) untuk duduk di kursi penyutradaraan, Ivanna juga menghadirkan unsur slasher yang kental bagi warna penceritaan horornya. Continue reading Review: Ivanna (2022)

Review: Madu Murni (2022)

Diarahkan oleh Monty Tiwa (Layla Majnun, 2021) berdasarkan naskah garapan Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010), Madu Murni memulai linimasa pengisahannya dengan memperkenalkan sang karakter utama, Mustaqim (Ammar Zoni), seorang mantan guru mengaji yang kini bekerja sebagai penagih hutang bersama dengan rekannya, Rojak (Tanta Ginting), demi mendapatkan penghasilan lebih banyak. Sayang, profesi barunya tersebut ditentang oleh sang istri, Murni (Irish Bella). Sebanyak apapun uang yang dibawa pulang oleh Mustaqim, Murni enggan untuk menerima. Kesal dengan perlakuan Murni, Mustaqim memutuskan untuk mencari sosok pendamping yang lebih dapat menerima dirinya. Sosok tersebut ia temukan pada diri Yati (Aulia Sarah), seorang janda muda yang selama ini memang sebenarnya telah menaruh perhatian pada sosok Mustaqim yang memiliki penampilan fisik rupawan. Sial, di malam pertama pernikahan mereka, Mustaqim tidak mampu untuk memberikan kepuasan biologis pada Yati. Hal yang kemudian justru menambah pelik permasalahan dalam kehidupan Mustaqim. Continue reading Review: Madu Murni (2022)

Review: Satria Dewa: Gatotkaca (2022)

Membutuhkan cukup banyak kesabaran untuk dapat benar-benar mengikuti perjalanan Satria Dewa: Gatotkaca – cita rasa pertama bagi semesta pengisahan Jagad Satria Dewa yang berisi barisan cerita pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari kisah pewayangan Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Satria Dewa: Gatotkaca berusaha untuk memperkenalkan asal usul maupun awal mula cerita dari sang karakter utama dengan beberapa plot penyerta yang memberikan akses kepada penonton untuk melihat kilasan gambaran akan semesta pengisahan lebih besar yang akan melibatkan sang karakter utama di masa yang akan datang. Penuturan yang cukup mendasar. Sial, naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Hanung Bramantyo (Tersanjung the Movie, 2020), bersama dengan Rahabi Mandra (Guru-guru Gokil, 2020) tidak pernah mampu untuk bertutur secara lugas. Berusaha untuk menjabarkan tatanan cerita yang kompleks namun dengan runutan kisah yang seringkali kelewat dangkal. Continue reading Review: Satria Dewa: Gatotkaca (2022)

Review: The Doll 3 (2022)

Menjadi film keempat dalam film seri The Doll garapan Rocky Soraya – mengikuti The Doll (2016) dan The Doll 2 (2017) beserta film sempalannya, Sabrina (2018), The Doll 3 kembali menghadirkan plot tentang teror sesosok boneka mengerikan yang mengancam nyawa orang-orang yang berada di sekitarnya. Plot familiar yang telah direka berulang kali oleh Soraya bersama Riheam Junianti selaku penulis naskah cerita seri film ini yang, tentu saja, tidak lupa dibalut dengan adegan-adegan yang terasa mendapatkan pengaruh dari banyak film horor asing popular yang telah dirilis sebelumnya. Berbeda dengan film-film lain yang berada di semesta pengisahan The Doll, The Doll 3 menjadi kali pertama seri film ini benar-benar merengkuh warna pengisahan horor slasher-nya secara utuh dengan menyajikan lebih banyak adegan brutal yang penuh dengan limbahan darah dan gelimang nyawa deretan karakternya. Terdengar menyenangkan namun, sayangnya, masih dihantui akan berbagai kelemahan penuturan cerita yang selalu berada dalam tiap film arahan Soraya. Continue reading Review: The Doll 3 (2022)

Review: Kuntilanak 3 (2022)

Ada sesuatu yang berbeda dari presentasi cerita Kuntilanak 3. Seperti halnya Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019), film ini masih diarahkan oleh Rizal Mantovani berdasarkan naskah cerita yang ditulis Alim Sudio. Namun, berbeda dengan dua film pendahulunya yang kental akan nuansa horor dalam penuturan ceritanya – well… penuturan horor yang ditujukan bagi kalangan penonton muda, Kuntilanak 3 melangkah sedikit menjauh dari warna horor dengan menghadirkan bangunan cerita berkesan fantasi yang akan dengan segera mengingatkan banyak penontonnya pada film-film dalam seri Harry Potter (2001 – 2011). Sebuah pilihan kreatif yang jelas diambil guna semakin memperluas jangkauan wilayah pengisahan Jagat Sinema Kuntilanak – yang didalamnya juga mengikutsertakan film Mangkujiwo (2020) arahan Azhar Kinoi Lubis dan akan terhubung dengan trilogi Kuntilanak (2006 – 2008) sebelumnya – garapan Mantovani bersama dengan MVP Pictures. Continue reading Review: Kuntilanak 3 (2022)

Review: Morbius (2022)

Setelah kesuksesan Venom (Ruben Fleischer, 2018) dan Venom: Let There Be Carnage (Andy Serkis, 2021), Sony Pictures melanjutkan pengembangan semesta pengisahan Sony’s Spider-Man Universe yang dibentuk berdasarkan barisan kisah dan karakter dalam seri komik Spider-Man rilisan Marvel Comics dengan Morbius. Tidak seperti karakter Venom yang mungkin telah cukup dikenal keberadaannya berkat penampilannya yang menonjol pada alur pengisahan Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007), Morbius menjadi kali pertama bagi karakter yang diciptakan oleh komikus Roy Thomas dan Gil Kane tersebut ditampilkan secara maksimal dalam sebuah presentasi film cerita panjang – karakter Morbius sempat akan muncul secara kameo dalam satu adegan film Blade (Stephen Norrington, 1998) sebelum adegan tersebut kemudian dipotong dan tidak digunakan dalam versi Blade yang dirilis di layar lebar. Sayangnya, kualitas yang dihadirkan oleh sutradara Daniel Espinosa (Life, 2017) bagi film perdana untuk karakter Morbius ini jauh dari kesan yang baik maupun memuaskan. Sangat buruk, bahkan. Continue reading Review: Morbius (2022)

Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Mahfrizha Kifani berdasarkan novel garapannya yang berjudul sama, film drama Pelangi Tanpa Warna yang diarahkan oleh sutradara Dear Nathan (2017) dan Dear Nathan Hello Salma (2018), Indra Gunawan, memiliki premis yang mungkin telah terasa begitu familiar. Pengisahan film ini berfokus pada kehidupan rumah tangga yang terjalin antara pasangan Fedi (Rano Karno) dan Kirana (Maudy Koesnaedi) bersama dengan putra tunggal mereka, Divo (Zayyan Sakha). Tidak ada yang benar-benar istimewa dari kehidupan keseharian pasangan tersebut. Namun, ketika Kirana mulai melupakan berbagai hal – mulai dari perlengkapan rumah tangga yang selalu dipakai, rutinitas keseharian, hingga sejumlah sosok yang mengisi kehidupannya – Fedi menyadari bahwa kehidupannya telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Kirana bahkan hanya memiliki sedikit waktu sebelum daya ingatnya benar-benar menghapus seluruh kenangan akan kehidupan yang telah dilaluinya. Continue reading Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Review: Moonfall (2022)

Setelah Midway (2019), Patrick Wilson kembali tampil dalam film terbaru arahan Roland Emmerich, Moonfall. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Emmerich bersama dengan Harald Kloser – yang merupakan produser dan penata musik regular di film-film arahan Emmerich namun juga turut menuliskan naskah cerita untuk 10,000 BC (2008) dan 2012 (2009) – dan Spenser Cohen (Extinction, 2018), Moonfall berkisah mengenai dua astronot, Jocinda Fowler (Halle Berry) dan Brian Harper (Wilson), yang berusaha menemukan cara untuk menyelamatkan Bumi ketika Bulan terdeteksi keluar dari orbitnya dan diprediksi akan segera menabrak Bumi. Bukan sebuah persoalan mudah karena keduanya juga harus melawan pemerintah Amerika Serikat yang lebih memilih untuk meledakkan Bulan tanpa memperhitungkan efeknya secara ilmiah bagi Bumi di masa yang akan datang. Dengan bantuan seorang pengamat teori konspirasi, K.C. Houseman (John Bradley), Jocinda Fowler dan Brian Harper mulai menyusun rencana mereka. Continue reading Review: Moonfall (2022)

Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Aktor muda yang baru akan menginjak usia 21 tahun pada 16 Februari mendatang, Umay Shahab, melakukan debut pengarahan film cerita panjangnya lewat Kukira Kau Rumah – sebuah drama romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Monty Tiwa (Ghibah, 2021) dan Imam Salimy (Will You Marry Me, 2016) berdasarkan lirik dari lagu berjudul sama yang dibawakan oleh kelompok musik Amigdala. Linimasa pengisahannya akan memperkenalkan penonton pada seorang gadis dengan gangguan bipolar, Niskala (Prilly Latuconsina), yang merasa dirinya bagai hidup dalam kurungan kedua orangtuanya, Dedi (Kiki Narendra) dan Mella (Unique Priscilla), yang bersikap overprotektif akibat kondisi mental yang dimilikinya. Beban perasaan yang dirasakan oleh Niskala mulai terasa menghilang ketika ia berkenalan dan menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Pram (Jourdy Pranata). Hubungannya dengan Pram secara perlahan mengubah sikap Niskala dalam keseharian, termasuk sikapnya terhadap teman-teman terdekatnya, Dinda (Shenina Cinnamon) dan Octavianus (Raim Laode). Continue reading Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Twivortiare, 2019) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Arumi E – yang konon juga terinspirasi dari kisah nyata perjalanan spiritual seorang gadis mualaf asal Belanda, film Merindu Cahaya de Amstel arahan Hadrah Daeng Ratu (A Perfect Fit, 2021) memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang gadis bernama Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) dengan seorang fotografer jurnalistik bernama Nicholas van Dijck (Bryan Domani). Secara tidak sengaja, figur Khadija Veenhoven terekam dalam salah satu gambar yang diambil oleh Nicholas van Dijck yang kemudian menginspirasi fotografer tersebut bersama dengan rekan kerjanya, Joko (Ridwan Remin), untuk menuliskan artikel tentang kehidupan wanita Muslim di Eropa. Sayang, permintaan Nicholas van Dijck agar dirinya dapat menggunakan foto Khadija Veenhoven untuk artikelnya ditolak karena perempuan yang dalam kesehariannya mengenakan hijab tersebut merasa khawatir masa lalu yang coba dilupakan akan kembali menghantuinya. Continue reading Review: Merindu Cahaya de Amstel (2022)

Review: Makmum 2 (2021)

Merupakan salah satu film horor Indonesia dengan kualitas cerita yang jelas jauh dari kata memuaskan, Makmum (Hadrah Daeng Ratu, 2019) masih mampu menarik minat banyak penonton, termasuk penonton di negara tetangga dimana film yang dibintangi Titi Kamal tersebut berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai Film Indonesia Terlaris di Malaysia 2018 – 2019. Sure. Kesuksesan tersebut, tentu saja, kini diikuti oleh sebuah sekuel yang masih menampilkan Kamal sebagai pemeran utama namun dengan sutradara, Guntur Soeharjanto (Belok Kanan Barcelona, 2018), serta penulis naskah cerita, Rafki Hidayat (Kafir, 2018), yang berbeda dari film pendahulunya. Akankah mampu mendorong kualitas presentasi cerita Makmum 2? Tidak juga. Continue reading Review: Makmum 2 (2021)

Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)

Meskipun masih mampu mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$312 juta dari perilisannya di seluruh dunia, capaian komersial Resident Evil: The Final Chapter (Paul W. S. Anderson, 2016) yang kurang maksimal di negara asalnya, Amerika Serikat, serta kualitas cerita yang terus mendapatkan kritikan tajam baik dari para kritikus film maupun banyak penggemar permainan video Resident Evil yang menjadi dasar pengisahan bagi seri film tersebut ternyata memberikan kekhawatiran tersendiri bagi para pembuatnya. Tidak mengherankan, bahkan ketika Resident Evil: The Final Chapter masih ditayangkan, ide untuk membuat ulang seri Resident Evil dengan menggunakan konsep, jalan cerita, serta barisan pemeran yang berbeda mulai berkumandang. Ide tersebut sempat menarik perhatian James Wan – yang, sayangnya, kemudian mundur dan memilih untuk memproduseri reboot film adaptasi permainan video lainnya, Mortal Kombat (Simon McQuoid, 2021). Perjalanan penggarapan seri film baru bagi adaptasi permainan video Resident Evil terus bergulir dengan pemilihan Johannes Roberts (47 Meters Down: Uncaged, 2019) untuk duduk di kursi penyutradaraan dan proses pengambilan gambar yang dilakukan di sepanjang tahun 2020. Continue reading Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)