Tag Archives: Rating: D

Review: Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020)

Do we really (like really, really) need a sequel to Sebelum Iblis Menjemput (2018)? Tentu, film arahan Timo Tjahjanto tersebut mampu mengumpulkan lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa perilisannya. Namun, bangunan cerita yang dibentuk oleh Tjahjanto bagi Sebelum Iblis Menjemput sebenarnya tidak menyimpan cukup banyak ruang untuk mendapatkan pengembangan lanjutan dan dapat diakhiri begitu saja. But, anyway, here we are. Dalam sekuel film yang berjudul Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, Tjahjanto menyeret dua karakter dari film pendahulu ke sebuah konflik yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar membutuhkan kehadiran mereka. Mendengar apa yang terjadi pada kakak beradik, Alfie (Chelsea Islan) dan Nara (Hadijah Shahab), sekelompok sahabat, Laksmi (Shareefa Daanish), Jenar (Lutesha), Martha (Karina Salim), Leo (Arya Vasco), Gadis (Widika Sidmore), dan Budi (Baskara Mahendra) lantas memberanikan diri untuk meminta bantuan Alfie untuk membantu mereka atas permasalahan serupa yang juga sedang mereka alami. Awalnya, tentu saja, Alfie menolak permintaan tersebut. Namun, guna menghindari resiko alur kisah Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 berakhir hanya dalam 30 menit, Alfie lantas memutuskan untuk memberikan bantuan pada enam orang yang sama-sama pernah menghabiskan masa kecil mereka di sebuah panti asuhan tersebut. Continue reading Review: Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020)

Review: Brahms: The Boy II (2020)

Brahms? Well… di tengah gempuran horor yang menghadirkan Annabelle atau Chucky sebagai deretan boneka yang memiliki ketertarikan khusus untuk membunuh orang-orang yang berada di sekitarnya, mungkin memang sedikit mudah untuk melupakan sosok Brahms. Dihadirkan pertama kali lewat The Boy (William Brent Bell, 2016), pengisahan yang diberikan bagi karakter Brahms memang bukanlah sebuah presentasi cerita yang benar-benar istimewa. Cenderung medioker yang membuatnya sukar untuk tampil menonjol diantara banyaknya film-film horor buatan Hollywood. Namun, dengan keberhasilan untuk meraih keuntungan komersial sebesar lebih dari US$64 juta dari biaya produksi minimalis yang hanya sebesar US$10 juta, The Boy jelas menjadi sasaran baru bagi Hollywood untuk mengeruk pendapatan dengan mudah. Kengerian teror yang dihadirkan oleh sosok Brahms lantas dilanjutkan Bell lewat Brahms: The Boy II dengan naskah cerita yang masih digarap oleh penulis naskah cerita The Boy, Stacey Menear. Hasilnya? Tidak begitu mengejutkan untuk melihat film ini hadir dengan kualitas tatanan cerita yang tidak terlalu berbeda dari film pendahulunya. Continue reading Review: Brahms: The Boy II (2020)

Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)

Well… jika Anda masih merasa belum terpuaskan akan kisah romansa dari pasangan karakter Dilan dan Milea setelah pengisahan Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019), sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq kembali menuturkan kisah cinta antara kedua karakter tersebut lewat Milea: Suara dari Dilan. Diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Baiq, Milea: Suara dari Dilan bertutur mengenai perjalanan cerita cinta antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) namun kini dihadirkan dari sudut pandang karakter Dilan. Semua alur kisah dan konflik yang diceritakan dalam film ini tidak mengalami banyak perubahan yang berarti: Dilan berkenalan dengan Milea; Dilan melancarkan barisan rayuan puitis nan gombalnya; Milea secara perlahan mulai jatuh hati; Dilan dan Milea meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih; berbagai konflik yang terjadi akibat ketidaksukaan Milea pada Dilan sebagai pemimpin geng motor; serta berbagai perbedaan yang lantas membuat Dilan dan Milea akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Masih kisah yang sama. Hanya kali ini penonton ditemani oleh narasi yang dituturkan oleh Ramadhan dengan membuka beberapa sudut pandang baru akan karakter yang ia perankan. Continue reading Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)

Review: The Turning (2020)

The Turning bukanlah film pertama yang alur ceritanya diadaptasi dari novela karangan Henry James, The Turn of the Screw (1898). Tercatat, industri film dunia telah berulangkali memberikan interpretasi mereka atas kisah horor tersebut, termasuk The Innocents (Jack Clayton, 1961) yang kini dianggap sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa serta prekuelnya yang berjudul The Nightcomers (Michael Winner, 1971) yang dibintangi oleh aktor Marlon Brando. The Turning sendiri merupakan usaha dari Steven Spielberg, yang menjadi salah satu produser eksekutif bagi film ini, untuk menceritakan ulang The Turn of the Screw dengan menempatkan Juan Carlos Fresnadillo (28 Weeks Later, 2007) sebagai sutradara bagi proyek film yang mulai dikembangkan dengan judul Haunted semenjak tahun 2016 ini. Perbedaan visi antara Spielberg dengan Fresnadillo lantas menghentikan pengembangan Haunted, membuat Spielberg kemudian menempatkan Floria Sigismondi (The Runaways, 2010) untuk menggantikan posisi Fresnadillo sebagai sutradara, serta sekaligus mengganti judul film menjadi The Turning. Continue reading Review: The Turning (2020)

Review: Anak Garuda (2020)

Meskipun sama-sama berkisah tentang kehidupan para pelajar dari sekolah Selamat Pagi Indonesia, sama-sama memiliki barisan karakter dengan nama serta potongan kisah yang serupa, serta sama-sama diarahkan oleh Faozan Rizal berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio, Anak Garuda bukanlah sebuah sekuel dan sama sekali tidak memiliki keterikatan penceritaan dengan Say I Love You yang dahulu sempat dirilis di penghujung tahun 2019. Sebuah reboot berusia dini? Mungkin saja. Jika Say I Love You memiliki konsentrasi cerita yang berada pada sosok karakter Sheren dan Robet, maka kedua karakter tersebut kini menjadi bagian dari tatanan pengisahan yang lebih luas dalam jalan cerita Anak Garuda. Sayangnya, menghadirkan skala cerita dalam ukuran lebih besar tidak serta merta menjadikan sebuah film menjadi lebih baik. Kehadiran banyak karakter yang coba mengisi linimasa penceritaan Anak Garuda justru membuat film ini tidak memiliki fokus cerita yang kuat sekaligus bangunan konflik yang benar-benar menarik. Continue reading Review: Anak Garuda (2020)

Review: Dolittle (2020)

Setelah Doctor Dolittle (Richard Fleischer, 1967) – yang berhasil meraih sembilan nominasi, termasuk nominasi di kategori Best Picture, dari ajang The 40th Annual Academy Awards – serta Doctor Dolittle (Betty Thomas, 1998) – yang dibintangi Eddie Murphy dan mampu meraih sukses besar secara komersial sehingga dibuatkan empat film sekuelnya, Hollywood seperti masih belum akan berhenti mencoba untuk mengadaptasi seri buku Doctor Dolittle yang ditulis oleh Hugh Lofting. Kali ini, adaptasi dari seri buku cerita anak-anak popular tersebut hadir lewat Dolittle yang diarahkan oleh Stephen Gaghan (Gold, 2016) dan menampilkan Robert Downey Jr. sebagai pemeran sang karakter utama. Apakah kisah klasik petualangan Doctor Dolittle yang dapat berkomunikasi dengan hewan-hewan yang berada di sekitarnya masih mampu untuk menarik perhatian penonton yang jelas kini banyak berasal dari generasi yang berbeda? Well… Biaya produksi sebesar lebih dari US$175 juta yang dikucurkan oleh Universal Pictures mungkin berhasil menciptakan gambar-gambar dengan unsur efek visual khusus yang cukup meyakinkan. Namun, sayangnya, kualitas paparan cerita dan pengarahan Gaghan yang jauh dari mengesankan membuat Dolittle hadir menjadi presentasi film keluarga yang monoton dan begitu membosankan. Continue reading Review: Dolittle (2020)

Review: The Grudge (2020)

Seperti tiga film pendahulunya, The Grudge (Takashi Shimizu, 2004), The Grudge 2 (Shimizu, 2006), dan The Grudge 3 (Toby Wilkins, 2009), versi teranyar dari The Grudge juga digarap dengan tata pengisahan yang bercerita tentang beberapa karakter dari latar belakang waktu yang berbeda-beda. Fokus ceritanya sendiri berada pada sosok Detective Muldoon (Andrea Riseborough) dan Detective Goodman (Demián Bichir) yang sedang menyelidiki kasus temuan mayat yang diduga telah berada di tengah belantara hutan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ditemukan. Penemuan mayat tersebut secara perlahan membawa Detective Muldoon pada sebuah kasus pembunuhan satu keluarga yang pernah diselidiki oleh Detective Goodman bersama dengan rekannya, Detective Wilson (William Sadler), di tahun 2004 yang lalu. Keengganan Detective Goodman untuk dilibatkan justru semakin menambah rasa penasaran Detective Muldoon terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada kasus pembunuhan tersebut. Tanpa ia sadari, pilihan untuk terus menyelidiki kasus tersebut ternyata membangkitkan sebuah teror dari masa lalu yang kini terus mengikuti dan bahkan mengancam nyawanya. Continue reading Review: The Grudge (2020)

Review: Si Manis Jembatan Ancol (2019)

Merupakan kali ketiga legenda urban asal Betawi ini kisahnya diangkat sebagai sebuah presentasi film layar lebar – setelah film arahan Turino Djunaidy yang dirilis pada tahun 1973 dan film arahan Atok Suharto pada tahun 1994, Si Manis Jembatan Ancol kini kembali diperkenalkan kepada barisan penikmat film dari generasi baru melalui film yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Suzzanna: Bernafas dalam Kubur, 2018) dan Bounty Umbara (Insya Allah Sah 2, 2018). Alur pengisahannya sendiri bercerita tentang kehidupan rumah tangga antara Maryam (Indah Permatasari) dan Roy (Arifin Putra) yang sedang berada diambang kehancuran. Cemburu melihat kedekatan istrinya dengan seorang pelukis muda bernama Yuda (Randy Pangalila), Roy secara gelap mata lantas meminta bantuan sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Bang Ozi (Ozy Syahputra) untuk menculik sekaligus membunuh Maryam dan Yuda. Meskipun sempat berhasil melarikan diri, Bang Ozi dan kawanannya berhasil melaksanakan tugas yang diberikan Roy kepada mereka. Seperti yang dapat diduga, kematian tersebut lantas membuat Maryam menjadi sosok arwah penasaran yang lantas mulai menghantui setiap orang yang telah menjahatinya guna membalaskan dendamnya. Continue reading Review: Si Manis Jembatan Ancol (2019)

Review: Black Christmas (2019)

Para penggemar horor jelas telah merasa familiar dengan Black Christmas (Bob Clark, 1974). Meskipun ketika masa perilisan awal film tersebut mendapatkan respon yang kurang menyenangkan dari para kritikus film, secara perlahan, Black Christmas mampu meraih popularitasnya – film tersebut dianggap sebagai salah satu slasher pertama yang dirilis secara luas oleh Hollywood, mendapatkan semakin banyak penggemar seiring dengan perjalanan waktu, serta memberikan banyak pengaruh pada film-film sejenis yang dirilis sesudahnya, termasuk Halloween (1978) arahan John Carpenter. Popularitas Black Christmas yang terus bertahan tersebut, tentu saja, menggoda Hollywood untuk kembali mereplikasi, memperbaharui, dan mengenalkannya pada barisan generasi penonton film yang berbeda. Sutradara Glen Morgan mengarahkan versi buat ulang Black Christmas di tahun 2006 yang dibintangi barisan aktris muda papan atas Hollywood di era tersebut seperti Katie Cassidy, Michelle Trachtenberg, Mary Elizabeth Winstead, dan Lacey Chabert namun gagal untuk meraih pujian dari segi kualitas presentasi cerita maupun mendapatkan keuntungan secara komersial dalam jumlah yang signifikan. Continue reading Review: Black Christmas (2019)

Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Masih ingat dengan Rumah Kentang (2012)? Film horor garapan Jose Poernomo yang mendasarkan kisahnya pada urban legend mengenai rumah yang selalu beraroma kentang bernuansa mistis di malam hari? Mungkin tidak banyak yang (masih mau) mengingat film yang juga menandai kali pertama Shandy Aulia terlibat dalam sebuah film horor tersebut – Aulia kemudian melanjutkan karirnya sebagai aktris dengan membintangi sederatan film horor yang mendominasi filmografinya. Ketika dirilis, Rumah Kentang mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari banyak kritikus film yang memberikan sorotan tajam pada kualitas penulisan naskah ceritanya. Meskipun begitu, film yang juga menjadi film pertama yang diproduksi oleh Hitmaker Studios tersebut tetap mampu mengumpulkan lebih dari 400 ribu penonton dan menjadikannya sebagai salah satu film horor dengan jumlah penonton terbanyak di tahun 2012. Berkaca dari kesuksesan minor tersebut, tujuh tahun semenjak perilisan Rumah Kentang dan terlepas dari fakta bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan sekuel bagi film tersebut, Hitmaker Studios merilis Rumah Kentang: The Beginning yang kali ini menempatkan Rizal Mantovani (Kuntilanak 2, 2019) di kursi penyutradaraannya. Continue reading Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Review: Gemini Man (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh David Benioff (Brothers, 2009), Billy Ray (Overlord, 2018), dan Darren Lemke (Goosebumps, 2015), film terbaru arahan Ang Lee yang berjudul Gemini Man berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Henry Brogan (Will Smith) yang berniat untuk pensiun dari pekerjaannya seusai melaksanakan tugas terakhirnya. Alih-alih dapat menikmati masa pensiunnya dengan tenang, Henry Brogan lantas mengetahui bahwa dirinya telah menjadi korban pengkhianatan rekan kerjanya yang kini membuatnya dikejar oleh seorang pembunuh bayaran lainnya. Demi menyelamatkan nyawanya, Henry Brogan memulai masa pelarian sembari mulai mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai siapa dalang penyebab nasib buruk yang kini mengikutinya. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Henry Brogan memiliki kecerdasan yang menyerupai dirinya, ketangguhan yang menyerupai dirinya, serta… tampilan wajah dan fisik yang juga menyerupai dirinya. Continue reading Review: Gemini Man (2019)

Review: Perburuan (2019)

Seperti halnya Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019), Perburuan adalah sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Jika Bumi Manusia memuat kisah yang berlatarbelakang masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Perburuan menghadirkan ceritanya pada momen-momen terakhir penjajahan Jepang di tanah Indonesia. Fokus penceritaannya sendiri berada pada karakter Hardo (Adipati Dolken), seorang mantan pemimpin peleton Pembela Tanah Air yang bersama dengan rekan-rekan yang sepemikiran dengannya kemudian melakukan pemberontakan demi menuntut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Sial, usaha pemberontakan tersebut mendapatkan pengkhianatan dan gagal terlaksana. Tentara Jepang jelas tidak tinggal diam. Hardo dan rekan-rekannya diburu dan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Hardo berhasil melarikan diri. Selama beberapa waktu, Hardo terus berlari dan mengasingkan dirinya dari keramaian. Bukan perkara mudah. Kesendirian diri dan rasa rindu pada sosok orang-orang yang dicintai secara perlahan mulai membuat Hardo kehilangan akal sehatnya. Continue reading Review: Perburuan (2019)

Review: Makmum (2019)

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Alim Sudio (Kuntilanak 2, 2019) dan Vidya Talisa Ariestya berdasarkan film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi, Makmum berkisah tentang Rini (Titi Kamal) yang diminta oleh kepala asrama tempat dirinya dahulu menuntut ilmu, Kinanti (Jajang C. Noer), kembali dan membantunya di asrama tersebut. Sesampainya disana, Rini bertemu dengan kepala asrama baru, Rosa (Reny Yuliana), dan tiga siswi, Nurul (Tissa Biani), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri), yang tidak diperbolehkan keluar dari asrama selama masa liburan akibat nilai mereka yang rendah. Dari penuturan ketiga siswi tersebut, Rini mengetahui bahwa para penghuni asrama tersebut belakangan sering diganggu oleh sosok supranatural yang disebut sebagai Hantu Makmum karena keberadaannya muncul saat mereka sedang melaksanakan ibadah shalat. Setelah usahanya untuk menyampaikan masalah tersebut pada Rosa ditanggapi dengan dingin, Rini kini berusaha mencari solusi sendiri agar ketiga siswi tersebut tidak lagi mendapatkan gangguan. Continue reading Review: Makmum (2019)