Tag Archives: Rating: A

Review: Nomadland (2020)

Menjadi film ketiga yang naskah ceritanya ditulis dan diarahkan oleh Chloé Zhao setelah Songs My Brothers Taught Me (2015) dan The Rider (2017), Nomadland berkisah mengenai seorang perempuan bernama Fern (Frances McDormand) yang setelah kehilangan pekerjaan serta kematian suaminya kemudian memutuskan untuk menjual seluruh harta bendanya, membeli sebuah mobil van, dan hidup serta tinggal di dalam mobil tersebut sembari melakukan perjalanan dan mencari pekerjaan sementara ke berbagai tempat di penjuru negeri. Fern bukanlah orang pertama maupun satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut. Dalam perjalanannya, Fern bertemu dengan berbagai wajah dan nama asing yang seperti dirinya juga memutuskan untuk melepaskan “kehidupan normal” mereka dan memilih untuk “hidup di jalanan.” Pilihan hidup yang diambilnya bukannya tanpa konsekuensi. Dalam kesendiriannya, rasa kesepian seringkali mulai merasuk ke benak Fern yang membuatnya merindukan kehadiran almarhum suaminya atau mempertanyakan lagi berbagai pilihan hidup yang telah diambilnya. Continue reading Review: Nomadland (2020)

Review: Soul (2020)

Di tahun 2019, selepas merilis Toy Story 4 (Josh Cooley) di tahun tersebut, Pixar Animation Studios memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi memproduksi sekuel dari film-film rilisan mereka terdahulu. Sebuah pernyataan yang jelas disambut baik oleh para penikmat, penggemar, sekaligus pecinta film-film animasi buatan rumah produksi rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut. Harus diakui, selain beberapa rilisan seperti Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), Inside Out (Pete Docter, 2015), dan Coco (Unkrich, 2017), filmografi Pixar Animation Studios pada satu dekade lalu memang lebih banyak diisi dengan film-film sekuel maupun film-film dengan cerita orisinal yang kualitasnya jelas terasa medioker – tentu saja, “medioker” dalam ukuran film yang dihasilkan oleh rumah produksi sekelas Pixar Animation Studios. Membuka dekade baru, Pixar Animation Studios merilis Onward (2020) arahan Dan Scanlon yang tampil cukup meyakinkan sebagai sebuah sajian hiburan. Namun, Pixar Animation Studios benar-benar menunjukkan tajinya sebagai rumah produksi film animasi paling prestisius di dunia lewat film terbaru arahan Docter, Soul. Continue reading Review: Soul (2020)

Review: First Cow (2019)

Diadaptasi dari novel The Half Life yang ditulis oleh Jonathan Raymond, First Cow memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 1820 dan bercerita tentang persahabatan antara seorang juru masak bernama Otis Figowitz atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Cookie (John Magaro) dengan seorang imigran asal Tiongkok bernama King-Lu (Orion Lee). Mengetahui bahwa sahabatnya memiliki latar belakang pekerjaan sebagai seorang asisten pembuat roti, King-Lu lalu mengusulkan agar Cookie memasak kue agar mereka dapat menjualnya di pasar. Untuk memperkaya rasa kue yang dibuat oleh Cookie, kedua pria tersebut secara sembunyi-sembunyi memeras susu dari sapi yang dimiliki oleh seorang pria kaya yang dikenal dengan sebutan Chief Factor (Toby Jones) dan menggunakannya dalam olahan kue tersebut. Berhasil! Kue buatan Cookie dengan segera laris terjual ketika dijajakan di pasar serta menjadi bahan perbincangan banyak pihak karena keenakan rasanya. Kepopuleran tersebut dengan segera menambah pundi-pundi uang yang dimiliki Cookie dan King-Lu serta, di saat yang bersamaan, juga memberikan ancaman pada nyawa keduanya karena mereka harus terus mencuri susu dari satu-satunya sapi yang berada di wilayah tempat tinggal mereka. Continue reading Review: First Cow (2019)

Review: Little Women (2019)

Jelas merupakan salah satu novel terpopular sepanjang masa di Amerika Serikat – bahkan dunia, Little Women (1868) yang ditulis oleh Louisa May Alcott telah diadaptasi ke berbagai media, mulai dari film, film televisi, serial televisi, drama panggung, hingga drama radio. Hollywood sendiri, semenjak tahun 1917, tercatat telah menghasilkan tujuh film yang alur kisahnya diadaptasi dari Little Women dengan nama-nama aktris besar seperti Katharine Hepburn, Elizabeth Taylor, Janet Leigh, Winona Ryder, Kirsten Dunst, Claire Danes, dan Susan Sarandon pernah turut terlibat didalamnya. Adaptasi terbaru dari Little Women hadir dalam arahan Greta Gerwig (Lady Bird, 2017) berdasarkan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan film adaptasi Little Women sebelumnya yang memberikan fokus pengisahan yang besar bagi sosok Jo March, Gerwig membuka ruang pengisahan yang lebih luas bagi karakter kakak beradik March lainnya meskipun tetap menjadikan karakter Jo March menjadi sosok sentral bagi pengisahan film. Pilihan berani nan cerdas yang ternyata berhasil menjadikan pengisahan Little Women tampil lebih hidup. Continue reading Review: Little Women (2019)

Review: 1917 (2019)

Selepas mengarahkan Skyfall (2012) dan Spectre (2015) – yang menjadi dua film dari seri James Bond dengan raihan kesuksesan komersial terbesar sepanjang masa – Sam Mendes kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk 1917. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Mendes bersama dengan Krysty Wilson-Cairns berdasarkan penuturan sang kakek, Alfred Mendes, yang merupakan seorang novelis sekaligus veteran perang, 1917 digarap Mendes sebagai sebuah pengalaman sinematis dimana para penontonnya akan menyaksikan perjalanan sang karakter utama dalam sebuah kesatuan linimasa cerita yang utuh – tanpa adanya interupsi dari konflik maupun karakter pendukung lain. Premis kisahnya sendiri terdengar sederhana: Berlatarbelakang masa Perang Dunia I di April 1917, dua orang prajurit Inggris, Lance Corporal Tom Blake (Dean-Charles Chapman) dan Lance Corporal William Schofield (George MacKay), ditugaskan oleh pimpinan mereka, General Erinmore (Colin Firth), untuk menyampaikan pesan ke sebuah batalyon di Resimen Devonshire bahwa pasukan Jerman telah menyiapkan sebuah serangan jebakan yang dapat membunuh seisi batalyon tersebut. Mendes, hebatnya, memberikan garapan yang berhasil membuat setiap menit perjalanan cerita film ini tampil begitu memukau. Continue reading Review: 1917 (2019)

Review: Midsommar (2019)

Walau tidak secemerlang atau semengesankan tahun sebelumnya – dimana Jordan Peele merilis Get Out (2017) yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang The 90th Annual Academy Awards, Yorgos Lanthimos menghadirkan The Killing of a Sacred Deer, adaptasi layar lebar dari It (Andy Muschietti, 2017) menjadi film horor terlaris sepanjang masa, Split (2017) yang kembali memamerkan kehandalan tata cerita dan pengarahan M. Night Shyamalan, atau Joko Anwar yang menerapkan standar baru pengisahan horor bagi industri film Indonesia lewat Pengabdi Setan (2017) – rilisan horor di tahun 2018 jelas tidak tampil mengecewakan. Di tengah rilisan semacam A Quiet Place (John Krasinski, 2018), Suspiria (Luca Guadagnino, 2018), atau Annihilation (Alex Garland, 2018), penikmat film dunia menyaksikan kelahiran seorang pencerita kisah-kisah menyeramkan handal terbaru ketika Ari Aster merilis Hereditary (2018). Lewat film yang ia tulis dan arahkan tersebut, Aster mampu mengemas tema yang sebenarnya telah cukup familiar – yang secara kebetulan juga dapat ditemukan pada tiga film horor nasional yang dirilis secara berdekatan; Pengabdi Setan, Kafir (Azhar Kinoi Lubis, 2018), dan Sebelum Iblis Menjemput (Timo Tjahjanto, 2018) – menjadi sajian yang tidak hanya menakutkan namun juga berkelas, khususnya dengan adanya penampilan prima Toni Collette. Tidak salah jika banyak kritikus film menasbihkan film layar lebar perdana Aster tersebut sebagai sebuah film horor klasik yang baru. Continue reading Review: Midsommar (2019)

Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Bahkan semenjak merilis film layar lebar pertama yang diarahkannya, Reservoir Dogs (1992), Hollywood beserta seluruh isi dan pemujanya telah mengetahui bahwa Quentin Tarantino memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan setiap kisah yang ingin diceritakannya. Pilihan untuk menggunakan barisan dialog yang cenderung padat, adegan bernuansa kekerasan yang dieksekusi dengan kesan yang begitu nyata, struktur cerita yang seringkali jauh dari kesan teratur, hingga penggunaan lagu-lagu yang banyak berasal dari era ‘60an hingga ‘70an untuk mengisi banyak adegan filmnya memang membuat film-film arahan Tarantino tidak mudah diakses oleh kalangan penikmat film dalam skala yang lebih besar. Namun, di saat yang bersamaan, kejeniusan Tarantino dalam menggarap setiap filmnya telah membuat berbagai elemen pengisahan yang cenderung tidak biasa tersebut menjadi sebuah ciri khas yang mendorong nama Tarantino untuk dikenal sebagai salah satu sutradara dengan filmografi paling mengesankan di Hollywood. Well… kualitas filmografi yang mengesankan tersebut semakin solid dengan kehadiran film terbarunya, Once Upon a Time in… Hollywood. Continue reading Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Review: Us (2019)

Setahun setelah kesuksesan luar biasa dari Get Out (2017) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$255 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia namun juga sukses mendapatkan pujian luas dari para kritikus film serta meraih empat nominasi dan memenangkan satu diantaranya pada ajang The 90th Annual Academy Awards, Jordan Peele kembali merilis film terbarunya yang berjudul Us. Meskipun memiliki nada pengisahan thriller yang serupa dengan Get Out, Peele mengeksekusi Us sebagai jalinan pengisahan yang penuh dengan momen-momen menegangkan yang tersaji secara jauh lebih gamblang. Tentu saja, Us bukanlah hanya sebuah film yang mencoba untuk menawarkan kengerian kepada para penontonnya. Melalui naskah cerita yang juga digarapnya, Peele kembali membuka perbincangan mengenai ras, kelas, serta status sosial yang seringkali menimbulkan benih-benih konflik dalam kehidupan bersosial manusia. Sajian berkelas yang dengan mudah akan membuat siapapun kembali terpesona oleh kemampuan bercerita Peele yang begitu cerdas. Continue reading Review: Us (2019)

Review: Hereditary (2018)

Jika Anda belum familiar dengan nama Ari Aster sebelumnya, Hereditary dapat dipastikan akan membuat Anda mengingat nama sekaligus hasil debut pengarahan film layar lebarnya tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Anda bahkan juga berkemungkinan akan berusaha untuk mencari film-film pendek yang ia arahkan sebelumnya hanya untuk mempertegas rasa kekaguman Anda pada pola pemikiran horornya yang cukup eksentrik – sekaligus mengisi waktu guna menunggu film arahan terbarunya di masa yang akan datang. Diarahkan berdasarkan naskah yang juga digarapnya sendiri, Aster menjadikan Hereditary sebagai sebuah meditasi terhadap rasa duka mendalam yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam jalan ceritanya sekaligus membungkusnya dengan berbagai jejak horor klasik – namun jauh dari kesan klise – yang kemudian mendorong film ini untuk tampil begitu mencekam (baca: mengganggu). Sebuah pengalaman akan teror horor yang mampu memberikan rasa ketidaknyamanan yang begitu mendalam bagi para penontonnya. Continue reading Review: Hereditary (2018)

Review: The Shape of Water (2017)

This review was originally published on December 19, 2017 and being republished as the movie hits Indonesian theaters today.

Berlatarbelakang lokasi pengisahan di Amerika Serikat pada masa terjadinya Perang Dingin di tahun 1960an, The Shape of Water bercerita tentang seorang petugas kebersihan bisu bernama Elisa Esposito (Sally Hawkins) yang bekerja di sebuah laboratorium milik pemerintah. Suatu hari, laboratorium tempat Elisa Esposito bekerja menerima “aset” berupa sebuah makhluk hidup yang berbentuk seperti paduan antara manusia dan ikan (Doug Jones) yang berhasil ditangkap Colonel Richard Strickland (Michael Shannon) di perairan Amerika Selatan. Penasaran, Elisa Esposito lantas mengunjungi makhluk tersebut secara diam-diam, memberikannya makanan, dan mengenalkannya pada musik – yang secara perlahan mendapatkan tanggapan dari makhluk tersebut. Elisa Esposito, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasakan bahwa kehadiran dirinya diinginkan oleh seseorang. Gadis tersebut jatuh cinta. Sial, atas perintah pemerintahan Amerika Serikat, Colonel Richard Strickland berencana untuk membunuh makhluk tersebut dan menggunakan tubuhnya untuk bahan penelitian. Tidak menyerah begitu saja, Elisa Esposito bersama dengan dua sahabatnya, Giles (Richard Jenkins) dan Zelda Fuller (Octavia Spencer), berencana untuk membawa pergi makhluk tersebut dari dalam laboratorium dengan tingkat keamanan tinggi tersebut. Continue reading Review: The Shape of Water (2017)

Review: Call Me by Your Name (2017)

Merupakan film ketiga dalam trilogi Desire milik Luca Guadagnino – yang dimulai dengan I Am Love (2009) dan diikuti dengan A Bigger Splash (2015), Call Me by Your Name adalah sebuah drama romansa yang naskah ceritanya diadaptasi oleh James Ivory (The Divorce, 2003) berdasarkan novel berjudul sama karya André Aciman. Seperti halnya I Am Love dan A Bigger Splash, Guadagnino juga menggunakan keindahan alam negara Italia sebagai latar belakang lokasi pengisahan film terbarunya. Bercerita mengenai keindahan sekaligus kepedihan yang dirasakan oleh seorang remaja ketika ia mengalami jatuh cinta dan patah hati pertamanya, Guadagnino merangkai Call Me by Your Name dengan penuturan khasnya yang penuh kelembutan untuk menjadikan film ini dipenuhi dengan momen-momen emosional yang akan mampu menyentuh setiap penontonnya. Continue reading Review: Call Me by Your Name (2017)

Review: Wind River (2017)

Memulai karirnya sebagai seorang aktor dengan membintangi serial televisi seperti Veronica Mars dan Sons of Anarchy, nama Taylor Sheridan mulai mendapatkan rekognisi yang lebih besar setelah keterlibatannya sebagai penulis naskah bagi film Sicario (Denis Villeneuve, 2015). Karirnya sebagai seorang penulis naskah bahkan semakin diperhitungkan setelah naskah ceritanya untuk film Hell or High Water (David Mackenzie, 2016) berhasil mendapatkan nominasi Best Original Screenplay di ajang The 89th Annual Academy Awards. Kini, setelah sebelumnya sempat mengarahkan sebuah film horor berjudul Vile yang dirilis pada tahun 2011, Sheridan kembali ke kursi penyutradaraan untuk mengarahkan film yang naskah ceritanya ia tulis sendiri, Wind River. Terinspirasi dari minimnya catatan kepolisian mengenai kasus menghilangnya para perempuan yang berasal dari Penduduk Asli Amerika, Sheridan menggarap Wind River sebagai sebuah pengisahan yang mungkin terasa familiar dan begitu sederhana namun mampu memberikan sentuhan emosional yang luar biasa mendalam. Continue reading Review: Wind River (2017)

Review: It (2017)

Another week, another Stephen King’s adaptation. Wellnot really. Namun tahun 2017 jelas merupakan salah satu tahun yang menyenangkan bagi para penikmat tulisan-tulisan King. Tidak kurang dari enam karya penulis asal Amerika Serikat tersebut mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi menjadi serial dan film di sepanjang tahun ini: David E. Kelley (Big Little Lies, 2017) mengadaptasi Mr. Mercedes menjadi sebuah serial televisi yang tayang di saluran Audience, Netflix memproduksi The Mist sebagai serial serta Gerald’s Game dan 1922 dalam bentuk film yang tayang di layanan streaming mereka sementara para penonton film bioskop mendapatkan kesempatan untuk menikmati adaptasi The Dark Tower dan It. Berbeda dengan The Dark Tower yang baru pertama kali diadaptasi ke media audio visual maka versi film dari It akan menjadi kali kedua bagi novel tersebut setelah sebelumnya sempat diangkat – dan begitu populer – sebagai sebuah miniseri pada tahun 1990. Continue reading Review: It (2017)