Review: Perburuan (2019)

Seperti halnya Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019), Perburuan adalah sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Jika Bumi Manusia memuat kisah yang berlatarbelakang masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Perburuan menghadirkan ceritanya pada momen-momen terakhir penjajahan Jepang di tanah Indonesia. Fokus penceritaannya sendiri berada pada karakter Hardo (Adipati Dolken), seorang mantan pemimpin peleton Pembela Tanah Air yang bersama dengan rekan-rekan yang sepemikiran dengannya kemudian melakukan pemberontakan demi menuntut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Sial, usaha pemberontakan tersebut mendapatkan pengkhianatan dan gagal terlaksana. Tentara Jepang jelas tidak tinggal diam. Hardo dan rekan-rekannya diburu dan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Hardo berhasil melarikan diri. Selama beberapa waktu, Hardo terus berlari dan mengasingkan dirinya dari keramaian. Bukan perkara mudah. Kesendirian diri dan rasa rindu pada sosok orang-orang yang dicintai secara perlahan mulai membuat Hardo kehilangan akal sehatnya. Continue reading Review: Perburuan (2019)

Review: Bumi Manusia (2019)

Merupakan buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan dari tahun 1980 hingga tahun 1988, Manusia Bumi mungkin merupakan salah satu buku paling popular – dan paling penting – di dunia kesusastraan Indonesia. Pelarangan terbit dan edar yang diberlakukan pemerintah Republik Indonesia terhadap buku tersebut dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme pada tahun 1981 hingga masa jatuhnya rezim Orde Baru tidak pernah mampu meredupkan kepopulerannya. Manusia Bumi bahkan mendapatkan perhatian khalayak internasional dan kemudian diterbitkan dalam 33 bahasa. Usaha untuk menterjemahkan narasi Manusia Bumi dari bentuk buku menjadi tatanan pengisahan audio visual sendiri telah dimulai semenjak tahun 2004 dan sempat melibatkan nama-nama sineas kenamaan Indonesia seperti Deddy Mizwar, Garin Nugroho, hingga Mira Lesmana dan Riri Riza. Langkah nyata untuk membawa Bumi Manusia ke layar lebar akhirnya benar-benar terwujud pada tahun 2018 ketika Falcon Pictures mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan memproduksi film adaptasi Bumi Manusia dengan Hanung Bramantyo (Sultan Agung, 2018) bertindak sebagai sutradara.

Continue reading Review: Bumi Manusia (2019)

Review: Makmum (2019)

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Alim Sudio (Kuntilanak 2, 2019) dan Vidya Talisa Ariestya berdasarkan film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi, Makmum berkisah tentang Rini (Titi Kamal) yang diminta oleh kepala asrama tempat dirinya dahulu menuntut ilmu, Kinanti (Jajang C. Noer), kembali dan membantunya di asrama tersebut. Sesampainya disana, Rini bertemu dengan kepala asrama baru, Rosa (Reny Yuliana), dan tiga siswi, Nurul (Tissa Biani), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri), yang tidak diperbolehkan keluar dari asrama selama masa liburan akibat nilai mereka yang rendah. Dari penuturan ketiga siswi tersebut, Rini mengetahui bahwa para penghuni asrama tersebut belakangan sering diganggu oleh sosok supranatural yang disebut sebagai Hantu Makmum karena keberadaannya muncul saat mereka sedang melaksanakan ibadah shalat. Setelah usahanya untuk menyampaikan masalah tersebut pada Rosa ditanggapi dengan dingin, Rini kini berusaha mencari solusi sendiri agar ketiga siswi tersebut tidak lagi mendapatkan gangguan. Continue reading Review: Makmum (2019)

Review: The Divine Fury (2019)

Sukses dengan Midnight Runners (2017) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film namun juga, secara mengejutkan, mampu meraih kesuksesan komersial dan menjadi salah satu film Korea Selatan tersukses pada tahun perilisannya, sutradara Kim Joo-hwan dan aktor Park Seo-joon kembali berkolaborasi dalam The Divine Fury. Seperti halnya Midnight Runners, Kim masih mengedepankan nada pengisahan aksi pada The Divine Fury meskipun kali ini sajian aksi tersebut dihadirkan dalam balutan penceritaan horor. Lewat naskah cerita film yang juga digarapnya sendiri, Kim terasa berusaha ingin menciptakan tata cerita layaknya Constantine (Francis Lawrence, 2005) dengan memadukan elemen-elemen horor dari film-film seperti The Exorcist (William Friedkin, 1973) dan Stigmata (Rupert Wainwright, 1999). Menarik – walau, di saat yang bersamaan, Kim masih kurang mampu memaksimalkan berbagai potensi dari paduan aksi dan horor yang telah dirancangnya. Continue reading Review: The Divine Fury (2019)

Review: Mahasiswi Baru (2019)

Merupakan film arahan Monty Tiwa keempat yang dirilis tahun ini setelah Matt & Mou, Pohon Terkenal, dan Pocong the Origin, Mahasiswi Baru berkisah mengenai seorang wanita bernama Lastri (Widyawati) yang berusaha mewujudkan impiannya untuk berkuliah. Dengan usianya yang kini tidak lagi muda, hasrat Lastri tersebut jelas mendapat tentangan dari anaknya, Anna (Karina Suwandi). Lastri memilih untuk mengacuhkan tentangan sang anak dan lantas mendaftarkan dirinya ke sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Sama dengan reaksi yang didapatkannya dari Anna, kehadiran sosok Lastri yang memiliki usia jauh lebih tua dari para mahasiswa di perguruan tinggi tersebut juga menghasilkan tatapan aneh dan menjadi perbincangan banyak pihak. Beruntung, semangat Lastri dalam menjalani mimpinya tidak luntur begitu saja. Lastri bahkan berhasil membentuk jalinan persahabatan erat dengan Danny (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa) yang semakin membuat masa perkuliahan Lastri semakin menyenangkan. Namun, ketika dirinya gagal untuk meraih nilai yang memuaskan pada semester pertamanya berkuliah, Lastri harus menghadapi ancaman akan dikeluarkan dari dekan fakultasnya, Chaerul Umam (Slamet Rahardjo). Continue reading Review: Mahasiswi Baru (2019)

Review: Dora and the Lost City of Gold (2019)

Menyusul deretan serial animasi yang diproduksi oleh saluran televisi asal Amerika Serikat, Nickelodeon, seperti Rugrats, Jimmy Neutron, Hey Arnold!, The Wild Thornberrys, hingga SpongeBob SquarePants, Dora the Explorer kini turut diadaptasi menjadi sebuah presentasi cerita film layar lebar. Berbeda dengan serial animasi yang telah disebutkan sebelumnya, adaptasi Dora the Explorer mendapatkan perlakukan yang sedikit berbeda. Alih-alih disajikan tetap dengan teknik pengisahan animasi, kisah terbaru Dora the Explorer dihadirkan sebagai live-action namun dengan mempertahankan karakter-karakter ikoniknya serta tata cerita khasnya yang telah begitu familiar. Hasilnya, film yang kemudian diberi judul Dora and the Lost City of Gold dan diarahkan oleh James Bobin (The Muppets, 2011) ini berhasil menghadirkan kesegaran penceritaan yang akan cukup mampu menarik perhatian para penonton dewasa dan, di saat yang bersamaan, juga tetap tampil begitu menghibur bagi para penonton muda yang memang menjadi target pasar filmnya. Continue reading Review: Dora and the Lost City of Gold (2019)

Review: Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Dirilis perdana pada tahun 1981, Scary Stories to Tell in the Dark adalah judul dari buku cerita anak-anak yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Alvin Schwartz, yang berisi kumpulan kisah pendek bernuansa horor yang kental dipengaruhi oleh dongeng maupun mitos yang telah familiar bagi masyarakat Amerika Serikat. Kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark lantas menginspirasi Schwartz untuk merilis dua sekuel lanjutan untuk bukunya, More Scary Stories to Tell in the Dark yang dirilis pada tahun 1984 dan Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones yang dirilis pada tahun 1991, sekaligus menggoda Guillermo del Toro (The Shape of Water, 2017) untuk membawa dan menghidupkan kumpulan kisah horor tersebut menjadi sebuah presentasi film layar lebar. Bekerjasama dengan dua penulis naskah Dan Hageman dan Kevin Hageman – yang sebelumnya juga menuliskan naskah bagi serial animasi garapannya, Trollhunters: Tales of Arcadia (2016 – 2018) – del Toro lantas menyeleksi sejumlah cerita pendek dari seri buku Scary Stories to Tell in the Dark dan kemudian menyatukannya menjadi sebuah kisah petualangan horor bagi para karakternya. Apakah del Toro akan berhasil menterjemahkan kengerian Scary Stories to Tell in the Dark pada bentuk media pengisahannya yang baru? Continue reading Review: Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Review: Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)

Suka atau tidak, sulit untuk membantah bahwa keterlibatan Dwayne Johnson pada Fast Five (Justin Lin, 2011) telah memberikan energi baru yang sangat dibutuhkan oleh seri film The Fast and the Furious. Setelah kesuksesan The Fast and the Furious (Rob Cohen, 2001), dua sekuel yang mengikutinya, 2 Fast 2 Furious (John Singleton, 2003) dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (Lin, 2006), tidak mampu menyamai raihan komersial yang didapatkan oleh film perdana dari seri film yang telah melambungkan nama Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, dan Jordana Brewster ini. Film keempat, Fast & Furious (Lin, 2009), memang bernasib sedikit lebih baik dari dua film sebelumnya namun, tetap saja, masih terasa berada di bawah capaian The Fast and the Furious. Keberadaan Johnson di Fast Five dan tiga sekuel berikutnya terbukti mampu meningkatkan daya tarik seri film ini bagi banyak penikmat film dunia dengan raihan komersial yang terus meningkat di setiap film – dengan Fast & Furious 7 (James Wan, 2015) dan Fast & Furious 8 (F. Gary Gray, 2017) mampu meraih pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar – dan bahkan secara perlahan turut menarik hati para kritikus film yang mulai memandang seri film The Fast and the Furious sebagai salah satu seri film aksi paling menghibur di era modern Hollywood. Continue reading Review: Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)

Review: Ma (2019)

The Help (2011) jelas bukanlah kali pertama Octavia Spencer membintangi film yang diarahkan oleh Tate Taylor. Sebelumnya, bersama dengan Allison Janney yang juga membintangi The Help, Spencer turut berperan dalam film pendek yang menjadi debut pengarahan Taylor, Chicken Party (2003), serta Pretty Ugly People (2008) yang menjadi kali pertama Taylor mengarahkan sebuah film panjang. Namun, penampilannya dalam The Help jelas menghasilkan batu loncatan tersendiri bagi Spencer untuk menjadi salah satu aktris paling dikenal di Hollywood. Selain berhasil memenangkannya sebuah Oscar untuk Best Actress in a Supporting Role di ajang The 84th Annual Academy Awards, penampilan Spencer di film tersebut juga mampu membawanya untuk membintangi film-film kaliber Academy Awards lain seperti Hidden Figures (Theodore Melfi, 2016) dan The Shape of Water (Guillermo del Toro, 2017) serta berbagai film produksi Hollywood lainnya – yang kebanyakan menempatkan Spencer sebagai pemeran pendukung. Continue reading Review: Ma (2019)

Review: Stuber (2019)

Dibintangi oleh Kumail Nanjiani dan Dave Bautista, Stuber berkisah mengenai seorang supir Uber bernama Stu Prasad (Nanjiani) yang terpaksa memenuhi permintaan seorang polisi, Vic Manning (Bautista), untuk membawanya ke beberapa tempat di wilayah Los Angeles guna menangkap seorang pimpinan gembong penjual narkotika dan obat-obatan terlarang, Oka Tedjo (Iko Uwais), yang telah lama diincarnya. Awalnya, Stu Prasad mengikuti seluruh permintaan Vic Manning agar dirinya mendapatkan rating sempurna untuk meningkatkan penilaian kualitas kerjanya sehingga ia tidak diberhentikan sebagai supir Uber. Jelas, pekerjaan untuk menemani seorang polisi dalam mengejar sosok kriminal adalah sebuah pekerjaan yang berbahaya. Stu Prasad sempat ragu atas pilihannya untuk terus mengikuti perjalanan Vic Manning. Namun, secara perlahan, Stu Prasad dan Vic Manning mulai saling memahami dan menghormati posisi satu sama lain serta membentuk kerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Continue reading Review: Stuber (2019)

Review: The Hustle (2019)

Di tahun 1988, Steve Martin dan Michael Caine membintangi komedi Dirty Rotten Scoundrels arahan Frank Oz yang merupakan versi buat ulang dari Bedtime Story (Ralph Levy, 1964) dan berkisah mengenai dua orang penipu yang saling bersaing untuk merebut perhatian seorang wanita kaya untuk mendapatkan hartanya. Di tahun 2019, Bedtime Story dan Dirty Rotten Scoundrels dijadikan basis bagi jalan pengisahan The Hustle yang masih menawarkan premis serupa namun kini menempatkan dua sosok karakter perempuan sebagai karakter sentral cerita. Merupakan film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Chris Addison, The Hustle bercerita tentang dua orang wanita, Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) dan Penny Rust (Rebel Wilson), yang sama-sama memiliki kegemaran untuk menipu para pria hidung belang guna mendapatkan uang mereka. Persaingan keduanya memuncak ketika Josephine Chesterfield dan Penny Rust sama-sama mengincar seorang milyuner internet, Thomas Westerburg (Alex Sharp), yang membuat keduanya mengeluarkan strategi terbaik mereka untuk dapat mengalahkan pesaing mereka. Continue reading Review: The Hustle (2019)

Review: Child’s Play (2019)

Jika deretan boneka hidup dalam Annabelle Comes Home (Gary Dauberman, 2019) maupun Toy Story 4 (Josh Cooley, 2019) belum cukup untuk memberikan Anda mimpi buruk… Wellhere comes Chuc… Buddi! Disutradarai oleh Lars Klevberg (Polaroid, 2019), versi teranyar dari Child’s Play, tentu saja, merupakan sebuah buat ulang dari film horor berjudul sama arahan Tom Holland yang dahulu dirilis pada tahun 1988 sekaligus menjadi penanda bagi awal pengisahan baru bagi seri film Child’s Play yang telah berusia 30 tahun dan menghasilkan tujuh film – dengan Cult of Chucky arahan Don Mancini dirilis pada tahun 2017 yang lalu. Child’s Play terbaru sendiri tidak terpaku pada pola pengisahan yang telah diterapkan oleh pendahulunya. Karakter Buddi/Chucky kini bukanlah sosok boneka yang dirasuki oleh arwah penasaran seorang penjahat namun merupakan produk berteknologi tinggi yang kemudian menghasilkan efek negatif yang mematikan. Sebuah sentuhan cerita yang membuat Child’s Play terbaru dapat saja dijadikan satu episode khusus dari serial popular Black Mirror rilisan Netflix dan ternyata menjadi elemen yang kemudian mampu menjadikan film horor ini tampil cukup memikat. Continue reading Review: Child’s Play (2019)

Review: The Lion King (2019)

In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight.”

Setelah Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), Dumbo (Tim Burton, 2019), dan Aladdin (Guy Ritchie, 2019), Walt Disney Pictures melanjutkan “pembaharuan” terhadap deretan film animasi klasik yang dahulu telah diproduksi dan membangun reputasinya dengan merilis versi teranyar dari The Lion King. Selain lagu The Lion Sleeps Tonight atau Can You Feel the Love Tonight atau Circle of Life yang berasal dari adegan-adegan di dalam filmnya dan telah begitu melegenda, film animasi The Lion King (Roger Allers, Rob Minkoff, 1994) memiliki catatan prestasi spesial tersendiri jika dibandingkan beberapa film animasi klasik produksi Walt Disney Pictures lainnya. Selain tercatat berhasil meraih empat nominasi – dan memenangkan dua diantaranya – di ajang The 67th Annual Academy Awards, The Lion King juga mampu meraih sukses besar di saat perilisannya. Selain mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, The Lion King juga berhasil mampu menarik minat banyak penikmat film yang lantas kemudian menjadikannya sebagai salah satu film animasi tersukses sepanjang masa secara global. Tidak dapat disangkal, The Lion King adalah salah satu film animasi yang paling dikenal dan begitu disukai oleh banyak orang – yang membuat ekspektasi terhadap versi baru dari filmnya jelas membumbung tinggi. Continue reading Review: The Lion King (2019)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar