Review: Satu Hari Nanti (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Salman Aristo (Cinta dalam Kardus, 2013), Satu Hari Nanti berkisah mengenai dua pasang kekasih yang juga saling bersahabat, Bima (Deva Mahenra) dan Alya (Adinia Wirasti) serta Din (Ringgo Agus Rahman) dan Chorina (Ayushita Nugraha), yang sedang bekerja sekaligus mengejar mimpi mereka di negara Swiss. Hubungan kedua pasangan tersebut bukannya berjalan tanpa tantangan: karir bermusik Bima yang berjalan di tempat terasa menghalangi mimpi Alya untuk menjadi seorang chocolatier yang handal sementara Din tidak pernah berhenti untuk berselingkuh dengan wanita lain di belakang Chorina. Setelah terjadi sebuah pertengkaran besar antara Bima dan Alya, keduanya lantas menyadari bahwa mereka telah jatuh hati dengan sosok lain – sahabat mereka sendiri. Jalinan kisah cinta baru tersebut secara perlahan mulai mengubah hidup Bima, Alya, Din, dan Chorina sekaligus mimpi dan cara pandang mereka mengenai masa depan. Continue reading Review: Satu Hari Nanti (2017)

Advertisements

Review: Wonder (2017)

Diarahkan oleh Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower, 2012), Wonder berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Tremblay), atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Auggie, yang semenjak lahir menderita kelainan bentuk wajah yang sangat langka yang membuatnya belum pernah benar-benar bersosialisasi dengan dunia luar. Namun, setelah beberapa tahun menjalani homeschooling, kedua orangtuanya, Nate (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts), memutuskan sudah saatnya bagi Auggie untuk mendapatkan pendidikannya di sekolah umum. Meskipun menyadari bahwa dunia luar dapat menjadi sebuah tempat yang begitu kejam bagi seorang anak dengan kelainan seperti yang dimiliki oleh Auggie, kedua orangtua Auggie dan kakaknya, Via (Izabela Vidovic), memberikan dukungan penuh agar Auggie dapat tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri. Continue reading Review: Wonder (2017)

Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Tidak berada jauh dari masa perilisan (dan kualitas pengisahan) Daddy’s Home Two (Sean Anders, 2017), duo sutradara, Jon Lucas dan Scott Moore, menghadirkan sekuel bagi film komedi dewasa mereka, Bad Moms, yang berjudul A Bad Moms Christmas. Seperti halnya Daddy’s Home (Anders, 2015), Bad Moms berhasil memberikan kejutan pada Hollywood ketika film komedi yang dibintangi trio Mila Kunis, Kristen Bell, dan Kathryn Hahn tersebut mampu meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan raihan pendapatan sebesar lebih dari US$183 juta dari biaya produksi sebesar US$20 juta. Percaya atau tidak, A Bad Moms Christmas bahkan memiliki alur penceritaan yang hampir serupa dengan Daddy’s Home Two dengan Cheryl Hines, Christine Baranski, dan Susan Sarandon memerankan karakter ibu bagi ketiga karakter utama. Sial, juga seperti Daddy’s Home Two, A Bad Moms Christmas tampil inferior jika dibandingkan dengan film pendahulunya – meskipun masih memiliki beberapa momen menyenangkan maupun menyentuh yang tergarap dengan cukup baik. Continue reading Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Review: Daddy’s Home Two (2017)

Daddy’s Home, film komedi arahan Sean Anders yang mempertemukan kembali Mark Wahlberg dengan Will Ferrell setelah kesuksesan mereka lewat The Other Guys (Adam McKay, 2010), adalah sebuah kejutan yang cukup menyenangkan ketika dirilis menjelang liburan Natal pada tahun 2015. Meskipun tidak begitu disenangi oleh para kritikus film dunia namun dengan kekuatan humornya yang kental film tersebut mampu mendapatkan raihan komersial sebesar lebih dari US$242 juta dari biaya produksi sebesar US$69 juta. Dua tahun setelah perilisan film pertamanya, Anders, Wahlberg, dan Ferrell kembali bekerjasama untuk memproduksi sekuel Daddy’s Home yang kini juga menghadirkan penampilan akting dari John Lithgow dan Mel Gibson – bahkan dengan bujet produksi yang tidak berubah dari seri sebelumnya. Wellmaybe lightning never strikes the same place twice. Dengan formula pengisahan yang relatif tidak berubah namun disajikan dengan kerangka cerita yang semakin minimalis, Daddy’s Home Two kini tampil melelahkan dan berubah menjadi sebuah sajian komedi yang kehilangan seluruh daya tariknya. Continue reading Review: Daddy’s Home Two (2017)

Review: The Florida Project (2017)

Meski bukanlah film layar lebar perdananya, nama Sean Baker baru mendapatkan rekognisi lebih luas setelah film kelimanya, Tangerine, ditayangkan untuk pertama kali pada Sundance Film Festival di tahun 2015. Film tersebut, yang sepenuhnya dibuat melalui bantuan kamera iPhone 5s serta dibintangi dua artis transgender yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berakting, terbukti mampu memenangkan hati banyak kritikus film dunia sekaligus menjadikan Tangerine sebagai salah satu film terbaik yang dirilis di tahun tersebut. Kembali bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Chris Bergoch, film terbaru arahan Baker, The Florida Project, masih menampilkan semangat yang sama seperti yang ditampilkan oleh gaya pengisahan Tangerine: sebuah kisah dengan sentuhan kisah sosial yang kental namun disajikan dengan penceritaan yang kuat sekaligus hangat melalui penampilan akting yang handal dari deretan pemerannya. Continue reading Review: The Florida Project (2017)

Review: Murder on the Orient Express (2017)

Jika judul Murder on the Orient Express terdengar sangat familiar bagi Anda… then yes… film arahan Kenneth Branagh (Cinderella, 2015) ini merupakan adaptasi terbaru dari novel misteri popular berjudul sama karangan Agatha Christie. Murder on the Orient Express sendiri telah beberapa kali diadaptasi ke media audio visual – termasuk sebuah film layar lebar arahan Sidney Lumet yang berhasil meraih kesuksesan komersial ketika dirilis pada tahun 1974 serta mendapatkan lima nominasi dan memenangkan Ingrid Bergman piala Oscar ketiganya di ajang The 47th Annual Academy Awards. Selain melakukan perubahan pada tatanan nama maupun latar belakang beberapa karakternya, versi terbaru Murder on the Orient Express arahan Branagh tidak menawarkan arah maupun sudut pengisahan yang benar-benar baru. Sebuah pilihan yang membuat versi terbaru dari Murder on the Orient Express memiliki atmosfer pengisahan whodunit tradisional yang kental namun tetap mampu tampil modern berkat pengarahan Branagh yang cukup kuat. Continue reading Review: Murder on the Orient Express (2017)

Review: Coco (2017)

Dalam Coco, Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios bertualang ke Meksiko dan menjadikan perayaan budaya negara tersebut, Día de Muertos atau juga sering disebut sebagai Day of the Dead, sebagai inspirasi jalan ceritanya. Diarahkan oleh Lee Unkrich (Toy Story 3, 2010) dengan bantuan dari penulis naskah Adrian Molina, Coco berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) yang bercita-cita untuk menjadi seorang musisi. Sayangnya, Miguel Rivera berasal dari keluarga dimana seluruh kegiatan yang berhubungan dengan musik dinyatakan sebagai kegiatan terlarang – sebuah ultimatum yang muncul setelah kakek buyut mereka meninggalkan nenek buyut dan keluarga mereka untuk mengejar karirnya sebagai seorang musisi. Tidak tinggal diam, Miguel Rivera berniat untuk menunjukkan bakat musiknya di hari perayaan Día de Muertos. Namun, sebuah keajaiban terjadi dan Miguel Rivera kini terjebak di dunia para arwah – yang disebut dengan Land of the Dead. Kini, Miguel Rivera harus menemukan arwah para keluarganya dan meminta restu mereka agar dirinya dapat kembali ke dunia nyata. Continue reading Review: Coco (2017)

Review: Call Me by Your Name (2017)

Merupakan film ketiga dalam trilogi Desire milik Luca Guadagnino – yang dimulai dengan I Am Love (2009) dan diikuti dengan A Bigger Splash (2015), Call Me by Your Name adalah sebuah drama romansa yang naskah ceritanya diadaptasi oleh James Ivory (The Divorce, 2003) berdasarkan novel berjudul sama karya André Aciman. Seperti halnya I Am Love dan A Bigger Splash, Guadagnino juga menggunakan keindahan alam negara Italia sebagai latar belakang lokasi pengisahan film terbarunya. Bercerita mengenai keindahan sekaligus kepedihan yang dirasakan oleh seorang remaja ketika ia mengalami jatuh cinta dan patah hati pertamanya, Guadagnino merangkai Call Me by Your Name dengan penuturan khasnya yang penuh kelembutan untuk menjadikan film ini dipenuhi dengan momen-momen emosional yang akan mampu menyentuh setiap penontonnya. Continue reading Review: Call Me by Your Name (2017)

Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Malang benar nasib Marlina (Marsha Timothy). Setelah kematian janin bayi yang sedang dikandungnya kini wanita asal Sumba tersebut harus hidup sebatang kara setelah suaminya turut meninggal dunia – dengan mayat sang suami yang telah diawetkan masih terbujur kaku di ruang tamu rumah akibat ketidakmampuan Marlina membiayai ritual upacara pemakaman. Nasib buruk tidak berhenti disana. Sekelompok pria yang dipimpin oleh Markus (Egi Fadly) yang berperawakan tinggi besar datang ke rumah Marlina dan berencana untuk mengambil seluruh harta benda miliknya. Oh. Sekumpulan pria tersebut juga berencana untuk memperkosa Marlina secara bergantian selepas makan malam. Namun, walau dengan penampilan yang tenang dan terkesan lemah, Marlina menolak untuk menyerah begitu saja. Berbekal sebilah parang dan olahan sup ayam yang menjadi menu andalannya, Marlina bertekad untuk membuat Markus dan gerombolannya menyesal telah melangkahkan kaki mereka ke rumah Marlina hari itu. Continue reading Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Review: Jigsaw (2017)

Sebelum film-film horor supranatural seperti Paranormal Activity (Oren Peli, 2009) atau Insidious (James Wan, 2010) atau The Conjuring (Wan, 2013) mengambil alih Hollywood, para penikmat horor dunia terlebih dahulu telah merasakan teror dari film-film bertema torture porn – sebutan untuk film-film yang mengedepankan adegan kekerasan dan penyiksaan fisik maupun mental para karakternya – yang dipopulerkan oleh film Saw yang juga dikreasikan oleh Wan bersama aktor Leigh Whannell. Begitu popularnya Saw ketika dirilis pertama kali pada tahun 2004, enam sekuel film tersebut kemudian secara regular mengisi minggu perayaan Halloween di Amerika Serikat hingga tahun 2010. Dan, tentu saja, kesuksesan seri film Saw menginspirasi deretan rumah produksi Hollywood (dan dunia) untuk memproduksi film-film bertema sama. Continue reading Review: Jigsaw (2017)

Review: My Generation (2017)

It’s a tale as old as time: Kisah mengenai para anak manusia yang sedang beranjak dewasa dan berusaha untuk menemukan jati diri mereka namun kemudian menyadari bahwa dunia berada di pihak yang berlawanan dengan mereka. Sebuah bahasan klasik yang sebenarnya pernah disinggung oleh sutradara film ini, Upi, dalam beberapa film yang ia garap sebelumnya seperti Realita Cinta dan Rock’n’Roll (2005) dan Radit dan Jani (2008). Lewat My Generation, Upi ingin membawa penontonnya untuk berkenalan dengan Generasi Z – meskipun film ini melabeli mereka dengan sebutan generasi milenial – atau yang disebut juga dengan iGeneration karena kedekatan dan keakraban generasi ini dengan teknologi internet dalam kehidupan keseharian mereka. Meskipun dengan konflik maupun pengembangan plot pengisahan yang cenderung sederhana, observasi Upi atas sebuah generasi yang ia presentasikan lewat film ini mampu tampil menyenangkan dan begitu mengikat. Continue reading Review: My Generation (2017)

Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Diadaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul sama karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni berkisah mengenai hubungan asmara antara dua orang dosen, Pingkan (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Sebelum Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, Sarwono meminta bantuan gadis tersebut untuk menemaninya menyelesaikan sebuah tugas di kota Manado, Sulawesi Utara – yang juga merupakan kota kelahiran Pingkan. Kepulangan Pingkan kembali ke kampung halamannya jelas disambut dengan senang hati oleh keluarganya. Namun, di saat yang bersamaan, kedatangan Pingkan juga disambut oleh sepupu tirinya, Benny (Baim Wong), yang semenjak lama telah menaruh hati pada Pingkan. Ditambah dengan deretan pertanyaan yang hadir dari keluarga Pingkan mengenai perbedaan kepercayaan yang mereka nilai tidak dapat menyatukan Pingkan dengan dirinya, membuat Sarwono mulai mempertanyakan kekuatan hubungan asmara yang ia jalin selama ini. Continue reading Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Walaupun semasa perilisannya kurang mampu untuk meraih perhatian besar dari penikmat film Indonesia dan tayang dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan film-film peraih nominasi Film Terbaik lainnya namun Night Bus (2017) ternyata masih mampu meraih mayoritas suara dewan juri untuk memenangkan kategori utama di ajang Festival Film Indonesia 2017. Selain menjadi pemenang Film Terbaik, film arahan Emil Heradi tersebut juga memenangkan lima kategori lainnya termasuk memberikan dua Piala Citra bagi Teuku Rifnu Wikana yang memenangkannya lewat kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar