Review: Black Panther (2018)

Ada sesuatu yang berbeda pada presentasi film pahlawan super terbaru garapan Marvel Studios yang berjudul Black Panther. Merupakan sebuah origin story yang memperkenalkan sosok pahlawan super baru dalam rangkaian pengisahan Marvel Cinematic Universe, Black Panther menghadirkan deretan karakter yang didominasi oleh karakter-karakter berkulit hitam dengan latar belakang lokasi penceritaan yang juga berada di benua Afrika. Tidak hanya itu. Dibandingkan dengan film-film pahlawan super lainnya yang telah dirilis oleh Marvel Studios, naskah cerita Black Panther yang ditulis oleh sutradara film ini, Ryan Coogler (Creed, 2015), bersama dengan Joe Robert Cole, juga menawarkan jalinan cerita yang memiliki nuansa politis yang cukup kental. Warna penceritaan yang cukup mampu memberikan nafas segar bagi kisah heroik a la Marvel Studios yang harus diakui telah terasa berjalan cukup monoton pada beberapa film garapan mereka akhir-akhir ini. Continue reading Review: Black Panther (2018)

Advertisements

Review: Pai Kau (2018)

Setelah menjadi penata kamera bagi film-film Indonesia seperti D’bijis (2007) dan Merah itu Cinta (2008) – yang keduanya diarahkan oleh Rako Prijanto – serta Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) dan Postcards from the Zoo (2010) – yang keduanya diarahkan oleh Edwin, nama Sidi Saleh mulai dikenal lebih luas sebagai seorang sutradara ketika ia turut ambil bagian dalam film omnibus Belkibolang (2010) dimana Saleh turut menyutradarai salah satu segmen yang berjudul Full Moon. Namun, tentu saja, para pemerhati dan penikmat film Indonesia menjadi lebih familiar dengan nama Saleh ketika film pendek arahannya, Maryam, memenangkan Orrizonti Award sebagai Film Pendek Terbaik di ajang The 71st Annual Venice International Film Festival yang berlangsung pada tahun 2014 lalu. Kini, dengan bantuan produser Tekun Ji dan Irina Chiu, Saleh merilis debut pengarahan film panjangnya yang berjudul Pai Kau – sebuah film drama suspense yang sepertinya ingin membawa penontonnya kembali pada era keemasan film-film thriller bertemakan organisasi kejahatan buatan Hong Kong maupun Republik Rakyat Tiongkok pada tahun ‘90an. Continue reading Review: Pai Kau (2018)

Review: Pad Man (2018)

Film terbaru arahan sutradara R. Balki (Ki & Ka, 2016), Pad Man, menghabiskan 140 menit durasi pengisahannya untuk berbicara mengenai menstruasi. Yes, you read that right. Diinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang aktivis sosial asal India bernama Arunachalam Muruganantham, Pad Man memulai kisahnya ketika Lakshmikant Chauhan (Akhsay Kumar) baru menyadari bahwa istrinya, Gayatri Chauhan (Radhika Apte), menggunakan potongan-potongan kain yang tidak terjamin kebersihannya sebagai pengganti pembalut akibat mahalnya harga bantalan yang digunakan kaum perempuan di saat mereka sedang menjalani masa menstruasi tersebut. Tidak ingin sang istri mengalami masalah kesehatan, Lakshmikant Chauhan lantas berusaha untuk membuat sendiri pembalut yang nantinya dapat digunakan sang istri. Namun, akibat pandangan sosial bahwa menstruasi adalah hal yang tabu untuk dibicarakan – khususnya oleh para pria, tindakan Lakshmikant Chauhan tersebut justru dinilai membawa aib bagi dirinya dan seluruh keluarganya. Lakshmikant Chauhan kemudian memutuskan untuk keluar dari desanya dan berjanji baru akan kembali jika ia telah dapat menemukan cara untuk memproduksi pembalut murah yang dapat berfungsi dan digunakan istrinya. Continue reading Review: Pad Man (2018)

Review: 12 Strong (2018)

12 Strong jelas bukanlah film produksi Hollywood perdana yang membawakan tema mengenai serangan teroris ke Amerika Serikat pada 11 September 2001. Namun, berbeda dengan film-film seperti Flight 93 (Paul Greengrass, 2006), World Trade Center (Oliver Stone, 2006), Remember Me (Allen Coulter, 2010), atau Extremely Loud and Incredibly Closer (Stephen Daldry, 2011) yang membawa penontonnya ke detik-detik terjadinya tragedi tersebut, 12 Strong menghadirkan sebuah kisah nyata yang tidak banyak diketahui publik tentang pengiriman tim militer Amerika Serikat ke Afghanistan untuk menemukan sosok yang berada di balik serangan teror tersebut. Merupakan debut pengarahan dari Nicolai Fuglsig, 12 Strong mendapatkan dukungan solid dari deretan pengisi departemen aktingnya yang mampu menciptakan deretan karakter yang tampil begitu meyakinkan. Sayangnya, dengan durasi pengisahan yang mencapai 129 menit dan tema pengisahan yang sebenarnya memiliki susunan intrik yang kuat, 12 Strong justru gagal hadir dengan jalinan cerita yang lebih mengikat. Continue reading Review: 12 Strong (2018)

Review: Hoax (2018)

Telah menyelesaikan proses produksinya beberapa tahun yang tahun lalu, film arahan Ifa Isfansyah (Pesantren Impian, 2016) tersebut kemudian dihadapkan pertama kali ke muka publik melalui penayangannya pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival di bulan Desember 2012 dengan menggunakan judul Rumah dan Musim Hujan. Oleh para produsernya, film yang memiliki judul internasional One Day When the Rain Falls tersebut kemudian dibawa berkelana ke berbagai festival film dunia sebelum akhirnya menghilang dan tak terdengar lagi kabar keberadaannya – walau, sebenarnya, adalah hal yang wajar bagi para pembuat film untuk menghasilkan film yang kemudian hanya dirilis untuk ditayangkan di berbagai ajang festival film. Kini, setelah melalui proses penataan gambar ulang yang dikabarkan mengubah beberapa susunan ceritanya, Rumah dan Musim Hujan atau One Day When the Rain Falls dirilis secara luas di bioskop Indonesia dengan menggunakan judul yang baru… Hoaxa not so convincing title, eh? Continue reading Review: Hoax (2018)

Review: Downsizing (2017)

Setelah memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita yang mereka tulis bagi film The Descendants (2011), Alexander Payne dan Jim Taylor kembali berkolaborasi dalam film terbaru arahan Payne, Downsizing. Kali ini, keduanya menawarkan sebuah kisah satir sosial yang dibungkus dengan pola pengisahan fiksi ilmiah yang jelas memiliki warna yang cukup berbeda dengan film-film arahan Payne sebelumnya. Harus diakui, ide cerita yang dimiliki oleh Payne dan Taylor – tentang penemuan prosedur penyusutan ukuran tubuh manusia dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kepunahan – jelas terdengar sebagai sebuah premis pengisahan yang segar sekaligus fantastis. Sayangnya, ide besar tersebut kemudian seringkali tidak mampu untuk mendapatkan pengembangan yang lebih kuat sehingga gagal tampil untuk menjadi presentasi cerita yang lebih mengikat. Continue reading Review: Downsizing (2017)

Review: Wonderstruck (2017)

Dengan filmografi yang diisi oleh film-film seperti Safe (1995), Velvet Goldmine (1998), Far from Heaven (2002), I’m Not There (2007), dan Carol (2015) – yang seringkali mendapatkan pujian luas dari para kritikus film sekaligus dicintai oleh para penikmatnya, jelas cukup sulit untuk tidak merasakan antusiasme yang tinggi pada film terbaru arahan Todd Haynes. Namun, berbeda dengan film-film yang telah disebutkan tadi, Wonderstruck menyajikan sebuah warna penceritaan yang cukup berbeda bagi kemampuan pengarahan Haynes. Menjauh dari new queer cinema yang biasa menjadi identitas bagi film-filmnya, Wonderstruck tampil sebagai sebuah film drama misteri keluarga dengan karakter anak-anak memegang penuh kontrol penceritaan. Menyegarkan, meskipun kali ini Haynes harus terhambat oleh kualitas penulisan naskah cerita yang terasa hadir dengan pengembangan yang kurang matang. Continue reading Review: Wonderstruck (2017)

Review: Padmaavat (2018)

Setelah tampil dalam Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela (2013) dan Bajirao Mastani (2015), Deepika Padukone dan Ranveer Singh kembali berada di bawah arahan sutradara Sanjay Leela Bhansali untuk film terbarunya, Padmaavat. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Bhansali bersama dengan penulis naskah Bajirao Mastani, Prakash Kapadia, berdasarkan puisi epik klasik karya Malik Muhammad Jayasi yang berjudul Padmavat, Padmaavat berkisah mengenai usaha dari Sultan Delhi, Alauddin Khilji (Singh), untuk menembus dan menguasai Chittor Fort milik Kerajaan Mewar yang dipimpin oleh King Ratan Singh (Shahid Kapoor). Hasrat menggebu-gebu Alauddin Khilji untuk menguasai Kerajaan Mewar bukannya tanpa alasan. Selain untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Alauddin Khilji termotivasi untuk memiliki Padmavati (Padukone) yang merupakan istri dari King Ratan Singh yang terkenal akan kecantikan dan kecerdasannya. Tentu saja, King Ratan Singh dan pasukannya melakukan usaha terkuat mereka untuk bertahan dari serangan pasukan milik Alauddin Khilji. Namun, ketika kondisi King Ratan Singh semakin terdesak, Padmavati telah bersiap untuk melakukan pengorbanan diri untuk menghindari dirinya dari tangkapan Alauddin Khilji. Continue reading Review: Padmaavat (2018)

Review: Dilan 1990 (2018)

Seperti halnya Galih dan Ratna (Galih & Ratna, 2017), Nathan dan Salma (Dear Nathan, 2017), serta Yudhis dan Lala (Posesif, 2017), Dilan 1990 berkisah mengenai romansa remaja yang terbentuk antara seorang remaja pria, Dilan (Iqbaal Ramadhan), dengan seorang remaja wanita yang baru saja pindah ke sekolahnya, Milea (Vanesha Prescilla). Meskipun mengemban jabatan sebagai “panglima tempur” di sebuah geng motor, memiliki jiwa pemberontak, dan sanggup untuk bertarung secara fisik dengan orang-orang yang memusuhi dirinya, namun Dilan berubah menjadi sosok yang begitu romantis ketika berada di dekat Milea. Milea sendiri sebenarnya telah mengetahui reputasi kurang menyenangkan yang dimiliki Dilan. Meskipun begitu, dengan usaha Dilan yang teramat gigih, tembok pertahanan hati Milea secara perlahan mulai dapat diruntuhkan. Benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Continue reading Review: Dilan 1990 (2018)

Review: Maze Runner: The Death Cure (2018)

Maze Runner: The Death Cure adalah film ketiga dari seri film Maze Runner yang diadaptasi dari seri buku berjudul sama karya James Dashner. Berdasarkan naskah cerita yang masih ditulis oleh penulis naskah The Maze Runner (2014) dan Maze Runner: The Scorch Trials (2015), T. S. Nowlin, Maze Runner: The Death Cure melanjutkan perjalanan kisah karakter-karakternya tepat dimana pengisahan film sebelumnya berakhir. Thomas (Dylan O’Brien), Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan Frypan (Dexter Darden) berusaha untuk mencari dan menemukan teman mereka, Minho (Ki Hong Lee) yang diculik dan dijadikan kelinci percobaan oleh kelompok WCKD pimpinan Ava Paige (Patricia Clarkson). Usaha tersebut sempat menemui jalan buntu dan hampir mengambil nyawa ketiganya jika mereka tidak bertemu dengan Jorge (Giancarlo Esposito) dan Brenda (Rosa Salazar) yang menyelamatkan dan kemudian bergabung dengan perjalanan mereka. Tantangan tidak bertambah mudah namun Thomas dan teman-temannya telah bertekad untuk menyelamatkan Minho sekaligus meruntuhkan kekuasaan WCKD. Continue reading Review: Maze Runner: The Death Cure (2018)

Review: Darkest Hour (2017)

Jika Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) membawa penontonnya melaju ke medan perang ketika pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, maka Darkest Hour berkisah mengenai bagaimana pasukan Inggris dapat terlibat dalam situasi tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai ketika Winston Churchill (Gary Oldman) dipilih untuk menggantikan posisi Neville Chamberlain (Ronald Pickup) sebagai Perdana Menteri Inggris yang dinilai kurang mampu untuk menangani permasalahan keamanan negara. Dengan Perang Dunia II yang sedang berkecamuk, posisi sebagai seorang Perdana Menteri memberikan tekanan kuat bagi Winston Churchill dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Namun, tekanan terbesar datang ketika pasukan Inggris yang sedang berperang bersama pasukan sekutu untuk melawan pasukan Jerman mulai menderita kekalahan. Demi menyelamatkan nyawa ribuan tentaranya, anggota parlemen Inggris lantas meminta Winston Churchill untuk berunding dan melakukan perdamaian dengan Jerman. Suatu permintaan yang jelas tidak dapat diterima Winston Churchill begitu saja. Continue reading Review: Darkest Hour (2017)

The 90th Annual Academy Awards Nominations List

Film arahan Guillermo del Toro, The Shape of Water, menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak pada ajang The 90th Annual Academy Awards. Film tersebut mendapatkan nominasi di 13 kategori termasuk Best Picture, Best Director, Best Actress in a Leading Role untuk Sally Hawkins serta Best Original Screenplay untuk naskah cerita yang ditulis oleh del Toro bersama dengan Vanessa Taylor. Bersaing bersama The Shape of Water di kategori Best Picture adalah Call Me by Your Name (Luca Guadagnino, 2017), Darkest Hour (Joe Wright, 2017), Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), Get Out (Jordan Peele, 2017), Lady Bird (Greta Gerwig, 2017), Phantom Thread (Paul Thomas Anderson, 2017), The Post (Steven Spielberg, 2017), dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (Martin McDonagh, 2017). Nolan, Peele, Gerwig, dan Anderson juga berhasil mendapatkan nominasi di kategori Best Director bersama dengan del Toro. Continue reading The 90th Annual Academy Awards Nominations List

Review: The Commuter (2018)

Dalam film teranyarnya bersama sutradara Jaume Collet-Serra (The Shallows, 2016), The Commuter, Liam Neeson berperan sebagai sosok pria paruh baya yang terjebak dalam situasi sulit yang membuatnya seringkali harus terlibat dalam banyak adegan adu fisik yang intens. Yes. You’ve been here before. Sosok karakter yang terdengar familiar karena Neeson pada dasarnya memerankan karakter yang hampir serupa dengan karakter-karakter yang dahulu ia perankan dalam Unknown (2011), Non-Stop (2014), dan Run All Night (2015) yang juga diarahkan oleh Collet-Serra. So what makes The Commuter different then? Tidak banyak. Bahkan, meskipun tetap didampingi penampilan prima dari Neeson, The Commuter gagal untuk hadir dengan pengarahan yang mampu membuat laju penceritaan film ini mengikat kuat para penontonnya. Continue reading Review: The Commuter (2018)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar