Review: Asih (2018)

Well… dengan kesuksesan luar biasa dari dua seri Danur, Danur: I Can See Ghosts (2017) dan Danur 2: Maddah (2018) arahan Awi Suryadi yang keduanya berhasil menarik minat lebih dari dua juta penonton meskipun mendapatkan tanggapan yang medioker dari para kritikus film, Suryadi dan MD Pictures melanjutkan perjalanan untuk mengembangkan semesta pengisahan Danur dengan Asih. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh penulis naskah dua seri Danur sebelumnya, Lele Laila, berdasarkan buku berjudul sama karangan Risa Saraswati, Asih diniatkan hadir untuk menggali secara lebih dalam mengenai pengisahan sosok karakter supranatural bernama Asih yang dahulu popular setelah ditampilkan dalam Danur: I Can See Ghosts. Sayangnya, tidak banyak hal menarik yang dapat diperoleh dari presentasi film ini. Pengembangan cerita yang berjalan monoton menyebabkan Asih sering terasa membosankan – meskipun Suryadi mampu menghadirkan kualitas pengarahan yang, sekali lagi, tampil lebih baik. Continue reading Review: Asih (2018)

Advertisements

Review: First Man (2018)

That’s one small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Sebagai sebuah film yang berkisah tentang kehidupan Neil Armstrong – seorang astronot asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai manusia pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan, tentu mudah untuk membayangkan jika First Man digarap layaknya Apollo 13 (Ron Howard, 1995) atau film-film bertema angkasa luar lainnya atau malah film-film lain yang bercerita tentang pasang surut kehidupan seorang karakter nyata sebelum ia mencapai kesuksesannya. Namun, hal yang berkesan biasa jelas bukanlah presentasi yang diinginkan oleh sutradara berusia 33 tahun, Damien Chazelle, yang pada usianya ke 32 tahun berhasil memenangkan sebuah Academy Award untuk kategori Best Director lewat film musikal arahannya, La La Land (2016), dan menjadikannya sebagai sutradara termuda di sepanjang catatan sejarah yang berhasil meraih gelar tersebut. Alih-alih mengemas biopik yang diadaptasi dari buku karya James R. Hansen berjudul First Man: The Life of Neil A. Armstrong ini menjadi sebuah biopik dengan standar pengisahan familiar a la Hollywood, Chazelle memilih untuk menjadikan First Man sebagai sebuah ajang bermain bagi kecerdasan visual dan teknikalnya sekaligus, di saat yang bersamaan, tempatnya bermeditasi mengenai arti sebuah perjalanan hidup. Sounds a bit too deep eh? Continue reading Review: First Man (2018)

Review: Papillon (2018)

Jika judul film ini terdengar cukup familiar bagi Anda… well… hal itu mungkin disebabkan karena sebagian naskah cerita film ini diadaptasi dari buku otobiografi popular berjudul Papillon (1969) yang ditulis oleh Henri Charrière berdasarkan kisah nyata usahanya untuk melarikan diri dari penjara yang dikelola oleh pemerintah Perancis yang berlangsung selama lebih dari 14 tahun. Sebelumnya, pengalaman fantastis Charrière tersebut juga pernah difilmkan oleh Franklin J. Schaffner dengan judul Papillon. Dibintangi oleh Steve McQueen dan Dustin Hoffman, Papillon berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, sebuah nominasi di kategori Best Music, Original Dramatic Score untuk tata musik ikonik garapan Jerry Goldsmith pada ajang The 46th Annual Academy Awards, serta kesuksesan komersial yang luar biasa ketika dirilis pada tahun 1973. Rentetan keberhasilan tersebut kini coba dirangkai ulang oleh sutradara asal Denmark, Michael Noer (Northwest, 2013), dengan memberikan interpretasi baru bagi pengalaman hidup Charrière. Continue reading Review: Papillon (2018)

Review: Venom (2018)

Masih ingat dengan Venom – sosok antagonis yang muncul akibat perpaduan dari karakter seorang jurnalis bernama Eddie Brock (Topher Grace) dengan sesosok makhluk angkasa luar yang disebut dengan “symbiote” – yang dahulu sempat muncul sebagai salah satu musuh bagi Peter Parker/Spider-Man dalam Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007)? Well… setelah melalui proses pengembangan selama bertahun-tahun, Sony Pictures yang bekerjasama dengan Marvel Entertainment akhirnya berhasil memproduksi film tunggal bagi karakter tersebut yang sekaligus akan menjadi salah satu film pemula bagi Sony’s Universe of Marvel Characters – semesta pengisahan yang dibentuk dan diproduksi oleh Sony Pictures berdasarkan kisah dan karakter buatan Marvel Comics. Diarahkan oleh Ruben Fleischer (Gangster Squad, 2013), film yang diberi judul Venom ini tampil sebagai sebuah origin story yang bercerita mengenai asal muasal dari sang karakter utama. Cukup menjanjikan, khususnya ketika Fleischer berhasil memberikan kualitas garapan yang cukup seimbang dengan film-film hasil adaptasi dari Marvel Comics lainnya. Continue reading Review: Venom (2018)

Review: Johnny English Strikes Again (2018)

He’s back! Merupakan film pertamanya dalam tujuh tahun, Rowan Atkinson kembali hadir untuk memerankan salah satu karakter ikoniknya – No, not that oneJohnny English, yang sebelumnya telah ia perankan lewat Johnny English (Peter Howitt, 2003) dan Johnny English Reborn (Oliver Parker, 2011). Masih mengedepankan ritme pengisahan sebagai parodi dari film-film aksi bertema spionase, Johnny English Strikes Again berkisah mengenai Johnny English (Atkinson), yang telah pensiun menjadi agen rahasia MI7 dan kini bekerja sebagai seorang guru, namun kemudian dipanggil kembali oleh negara melalui perintah sang Perdana Menteri (Emma Thompson) akibat terjadinya sebuah serangan siber yang menyerang dan kemudian membuka identitas seluruh agen rahasia milik MI7. Bersama dengan sahabatnya, Jeremy Bough (Ben Miller), Johnny English ditugaskan untuk menyelidiki siapa dalang dibalik terjadinya serangkaian serangan siber tersebut. Tugas tersebut membawa Johnny English ke Perancis dimana ia berkenalan dengan Ophelia (Olga Kurylenko), seorang wanita cantik yang ternyata juga merupakan agen rahasia asal Rusia dan berupaya agar Johnny English gagal dalam menjalankan misi spionasenya. Continue reading Review: Johnny English Strikes Again (2018)

Review: Something in Between (2018)

Dalam Something in Between – yang menandai kali keenam keduanya tampil bersama dalam jangka waktu satu tahun terakhir, Jefri Nichol dan Amanda Rawles berperan sebagai Gema dan Maya, dua murid sekolah menengah atas dengan dua kepribadian yang berbeda. Jika Maya merupakan seorang murid cerdas yang kini berada di kelas unggulan maka Gema merupakan sosok pemuda yang tidak begitu peduli dengan arti pentingnya pendidikan dan hidup bebas sesuai dengan kemauan hatinya. Namun, sikap Gema secara perlahan berubah ketika dirinya mulai mengenal Maya. Demi menarik perhatian sang gadis, Gema mulai serius menekuni setiap mata pelajaran yang diikutinya. Berhasil. Tidak hanya ketekunan belajarnya membuat Gema kemudian dipindahkan ke kelas unggulan, Maya juga akhirnya menaruh perhatian dan jatuh hati padanya. Layaknya dua remaja yang saling jatuh cinta lainnya, Gema dan Maya memadu janji untuk saling setia kepada satu sama lain untuk selamanya. Sebuah janji yang kemudian akan mengubah hidup mereka di masa sekarang… dan masa yang akan datang. Continue reading Review: Something in Between (2018)

Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dilan 1990, 2018) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak, Aruna & Lidahnya bercerita mengenai perjalanan dinas yang dilakukan oleh seorang ahli wabah bernama Aruna (Dian Sastrowardoyo) untuk meneliti kebenaran kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti penduduk di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai seorang penikmat kuliner sejati, Aruna lantas memanfaatkan tugasnya tersebut sekaligus untuk melakukan wisata kuliner dengan menikmati berbagai makanan khas dari daerah-daerah yang ia kunjungi bersama dengan sahabatnya, seorang juru masak bernama Bono (Nicholas Saputra). Perjalanan tersebut semakin ramai setelah kehadiran Nadezhda (Hannah Al Rashid) – seorang penulis yang merupakan sahabat dari Aruna dan Bono yang diam-diam telah lama disukai oleh Bono – serta Farish (Oka Antara) – seorang dokter yang juga mantan rekan kerja Aruna dan dulu sempat disukainya namun kini kehadirannya membuat lidah Aruna terasa mati rasa. Perjalanan yang penuh intrik, bukan hanya karena adanya pergulatan perasaan yang sedang berlangsung di hati keempat karakter tersebut namun juga dikarenakan kehadiran sebuah misteri yang meliputi tugas yang sedang dijalani Aruna. Continue reading Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Review: Munafik 2 (2018)

Selain karena memang telah direncanakan untuk hadir sebagai sebuah pengisahan trilogi, kesuksesan besar yang diraih Munafik ketika dirilis pada awal tahun 2016 yang lalu jelas menjadi alasan kuat lain mengapa sekuelnya kemudian diproduksi dan dirilis ke layar bioskop. Dengan pendapatan sebesar RM17.04 juta dari masa edarnya di Malaysia, film yang menjadi film kesembilan sekaligus film horor kedua yang diarahkan oleh Syamsul Yusof ini berhasil tercatat sebagai menjadi film dengan raihan komersial terbesar di negeri jiran pada tahun rilisnya. Kesuksesan komersial tersebut juga dilengkapi dengan kesuksesan secara kritikal ketika Munafik mampu meraih sembilan nominasi dan memenangkan lima diantaranya – termasuk kategori Pengarah Terbaik dan Penyunting Terbaik yang keduanya dimenangkan oleh Yusof – dari ajang penghargaan film tertinggi di Malaysia, Festival Filem Malaysia ke-28. Munafik 2 – yang telah dirilis di Malaysia sejak akhir Agustus lalu dan berhasil menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa dengan raihan sebanyak RM40 juta – masih menyajikan kisah horor dengan balutan nuansa Islami yang kental dengan kembali mengikuti perjalanan hidup dari sang karakter utama, Ustadz Adam (Yusof), yang bekerja sebagai pendakwah sekaligus pengusir setan.  Continue reading Review: Munafik 2 (2018)

Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan: Barcelona! yang ditulis oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita – dengan Mulya bertugas untuk menggarap naskah cerita film ini, Belok Kanan Barcelona berkisah mengenai persahabatan antara Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Ucup (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang telah terjalin semenjak masa SMA. Meski kini mereka telah tinggal di empat negara berbeda dalam menjalani karir mereka, Francis, Retno, Ucup, dan Farah masih menjaga hubungan dan komunikasi mereka dengan baik. Suatu hari, ketika keempatnya sedang berkomunikasi melalui perantaraan video conference, Francis mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), dan menggelar pesta pernikahan mereka di Barcelona, Spanyol. Sebuah pernyataan yang tidak hanya terkesan tiba-tiba bagi teman-teman Francis namun juga memicu munculnya kembali perasaan dan memori dari masa lampau yang kemudian menghantui hubungan persahabatan keempatnya. Continue reading Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Review: The House with a Clock in its Wall (2018)

Seorang anak laki-laki yang baru saja menjadi yatim piatu dan kini tinggal bersama sang paman menyadari bahwa terdapat kekuatan magis yang melingkupi kehidupan kesehariannya dan bahkan mengajak dirinya untuk mengikuti serta mempelajari kekuatan tersebut. Bukan. Premis tersebut bukanlah berasal dari film yang diadaptasi dari seri buku popular yang lebih-baik-tidak-disebutkan-judulnya itu. Diadaptasi dari buku berjudul sama karangan John Bellairs – yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1973 dan jauh sebelum J. K. Rowling merilis seri buku miliknya, The House with a Clock in its Wall menjadi presentasi yang monumental bagi Eli Roth dimana film ini menjadi kali pertama bagi sutradara film-film “berdarah” semacam Cabin Fever (2002), Hostel (2005), dan The Green Inferno (2013) tersebut menggarap sebuah film dengan pengisahan yang dapat disaksikan oleh seluruh kalangan umur. Lalu, bagaimana performa kualitas film keluarga pertama arahan Roth ini? Continue reading Review: The House with a Clock in its Wall (2018)

Review: Peppermint (2018)

Diarahkan oleh Pierre Morel (Taken, 2008) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Chad St. John (London Has Fallen, 2016), Peppermint memulai pengisahannya dengan sebuah tragedi ketika Riley North (Jennifer Garner) harus kehilangan suami, Chris North (Jeff Hephner), dan putri mereka, Carly (Cailey Fleming), setelah keduanya tewas terbunuh oleh gempuran tembakan dari sekelompok penjahat anggota kartel narkotika dan obat-obatan terlarang pimpinan Diego Garcia (Juan Pablo Raba). Tidak berhenti disana, akibat pengaruh Diego Garcia yang begitu besar, tidak seorang pun saksi yang mau membela Riley North dalam proses hukum untuk menangkap Diego Garcia beserta anggota organisasi kriminalnya. Pengadilan lantas memilih untuk menutup kasus tersebut dengan dasar kurangnya bukti maupun saksi yang dapat mendukung berlanjutnya proses hukum tersebut. Riley North tidak tinggal diam dan menyerah. Lima tahun semenjak kematian suami dan anaknya, Riley North mulai menyusun rencana untuk mendapatkan keadilan dari para penegak hukum yang dinilai telah meninggalkan dirinya dan, tentu saja, Diego Garcia dan kawanan kriminalnya yang telah menyengsarakan kehidupannya. Continue reading Review: Peppermint (2018)

Review: The Predator (2018)

Merupakan film keempat dalam seri film Predator yang mengikuti Predator (John McTiernan, 1987), Predator 2 (Stephen Hopkins, 1990), dan Predators (Nimród Antal, 2010) – dan film keenam jika Anda turut menghitung keberadaan Alien vs. Predator (Paul W. S. Anderson, 2004) dan Alien vs. Predator: Requiem (The Brothers Strause, 2007), The Predator memiliki alur pengisahan yang linimasanya terletak di belakang Predator 2namun mendahului linimasa penceritaan dari Predators. Meskipun begitu, terlepas dari beberapa referensi akan film-film pendahulu yang disajikan sebagai benang merah, The Predator mampu tampil dan dapat dinikmati sebagai sebuah film mandiri. Pengarahan cerita yang kini dikendalikan oleh Shane Black (The Nice Guys, 2016) juga membuat film ini memiliki warna pengisahan yang cukup berbeda dengan film-film lain dalam seri Predator: berjalan dengan ritme yang lebih cepat dan tampil dengan unsur black comedyyang kental. Sebuah penyegaran yang menyenangkan bagi seri film ini. Continue reading Review: The Predator (2018)

Review: 7 Days (2018)

Ditulis dan diarahkan oleh Panjapong Kongkanoy (The Moment, 2017), 7 Days berkisah mengenai hubungan romansa yang terjalin antara seorang juru masak, Tan (Kan Kantathavorn), dengan seorang kritikus masakan, Meen (Nittha Jirayungyurn), yang telah berjalan selama lima tahun. Tan sebenarnya telah berniat untuk melamar Meen dan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan namun tuntutan karir ternyata mengharuskannya untuk pindah ke kota New York, Amerika Serikat – sebuah kenyataan yang kemudian membuat keduanya terlibat dalam adu argumen yang panjang. Sebuah peristiwa aneh kemudian terjadi. Keesokan harinya, ketika Tan terbangun dari tidurnya, Tan menyadari bahwa dirinya terbangun dalam tubuh sosok yang bukan dirinya. Parahnya, Tan sama sekali tidak dapat mengingat hal apapun yang terjadi sebelum peristiwa aneh tersebut menimpa dirinya. Tentu saja, kini Tan harus berusaha untuk menemukan jalan agar jiwanya dapat kembali ke tubuhnya. Continue reading Review: 7 Days (2018)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar