Review: Cry Macho (2021)

Merupakan film ke-39 yang diarahkan oleh Clint Eastwood yang sekaligus menandai tahun ke-50 karir penyutradaraan yang ia mulai semenjak mengarahkan Play Misty for Me di tahun 1971, Cry Macho yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan N. Richard Nash telah mengalami sejumlah kegagalan untuk dieksekusi menjadi presentasi cerita layar lebar. Bermula di tahun 1988, produser Albert S. Ruddy menawarkan Eastwood untuk menjadi pemeran utama dalam Cry Macho yang kemudian ditolak karena komitmen Eastwood untuk membintangi sekuel teranyar dari seri film Dirty Harry, The Dead Pool (Buddy Van Horn, 1988). Proses pembuatan versi film dari Cry Macho kemudian melibatkan nama-nama seperti Robert Mitchum, Roy Scheider, Burt Lancaster, Pierce Brosnan, hingga Arnold Scwarzenegger sebagai pemeran utama namun tak satupun proyek film tersebut dapat terselesaikan. Lebih dari tiga dekade kemudian, tepatnya di tahun 2020, Warner Bros. Pictures mengumumkan bahwa Eastwood akan mengarahkan sekaligus membintangi Cry Macho yang masih menggunakan naskah cerita asli garapan Nash dengan sejumlah modifikasi yang dilakukan oleh Nick Schenk (The Judge, 2014). Continue reading Review: Cry Macho (2021)

Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Diadaptasi dari film dokumenter yang berjudul sama garapan Fenton Bailey dan Randy Barbato yang dirilis pada tahun 2000 silam, The Eyes of Tammy Faye memperkenalkan penontonnya pada pasangan penceramah agama di televisi Jim Bakker (Andrew Garfield) dan Tammy Faye Bakker (Jessica Chastain) yang sempat menjadi salah satu ikon industri pertelevisian Amerika Serikat di tahun 1970an sampai dengan tahun 1980an. Seperti kebanyakan film biopik lainnya, film ini memulai pengisahannya dari masa kecil karakter Tammy Faye Bakker yang terlahir dari pasangan orangtua yang berprofesi sebagai penceramah agama yang kemudian menginspirasinya untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya di bidang keagamaan dimana ia bertemu – dan kemudian menikah – dengan karakter Jim Bakker. Merasa bahwa televisi adalah media dakwah terbaik dengan jangkauan luas untuk menyampaikan syiar agama, Jim Bakker dan Tammy Faye Bakker memulai karir mereka di industri televisi dengan bekerja bersama pendeta Pat Robertson (Gabriel Olds) yang memiliki jaringan televisi dakwah popular, Christian Broadcasting Network. Dengan tekad serta kerja keras, keduanya mulai memperoleh perhatian dari khalayak luas hingga akhirnya mampu membangun jaringan televisi serta media dakwah milik mereka sendiri. Continue reading Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Viu Hadirkan Viu Original Lovers of the Red Sky

Sempat mengambil jeda dari industri hiburan Korea Selatan karena masalah kesehatannya di tahun 2018, perlahan, aktris Kim Yoo Jung mulai aktif dan hadir kembali di dunia seni peran. Setelah membintangi 16 episode dari serial televisi Backstreet Rookie (Myoungwoo Lee, 2020) serta turut tampil dalam film horor garapan sutradara Kim Tae-hyoung yang berjudul The 8th Night (2021), Kim kini bersiap untuk mencuri perhatian serta hati para pecinta seri drama Korea romantis dalam Viu Original Lovers of the Red Sky dimana dirinya akan menjadi salah seorang pemeran utamanya. Continue reading Viu Hadirkan Viu Original Lovers of the Red Sky

Review: Cinderella (2021)

Gadis yatim piatu. Ibu dan saudara tiri yang selalu menyakiti hati. Pangeran yang sedang mencari cinta. Sepatu kaca. Yes, it’s a tale as old as time. Enam tahun semenjak Kenneth Branagh menghadirkan Cinderella (2015) yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial di sepanjang masa penayangannya namun juga berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, Kay Cannon (Blockers, 2018) kini menghadirkan interpretasinya atas kisah klasik yang kepopulerannya berawal dari cerita berjudul Cendrillon ou la petite pantoufle de verre yang diterbitkan pada tahun 1697 oleh penulis dongeng asal Perancis, Charles Perrault. Disampaikan dengan struktur pengisahan musikal, presentasi film cerita panjang layar lebar teranyar dari Cinderella yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Cannon ini berusaha untuk menghadirkan lingkup cerita dan karakter yang lebih modern dengan sentuhan sudut pandang feminis yang kental. Berhasil? Continue reading Review: Cinderella (2021)

Review: Cruella (2021)

Masih ingat dengan karakter perancang busana bernama Cruella de Vil yang begitu terobsesi untuk membuat berbagai jenis pakaian dengan menggunakan corak yang terdapat pada kulit hewan dalam 101 Dalmatians (Stephen Herek, 1996)? Seperti halnya karakter Maleficent dari film Sleeping Beauty (Clyde Geronimi, Eric Larson, Wolfgang Reitherman, Les Clark, 1959), Walt Disney Pictures kini menghadirkan Cruella yang tidak hanya akan memberikan fokus utama pengisahan pada karakter antagonis tersebut namun juga galian lebih mendalam terhadap asal-usul hingga berbagai konflik di masa lalu sang karakter yang kemudian membentuknya menjadi sosok karakter yang banyak dikenal oleh para penikmat film hingga saat ini. Diarahkan oleh Craig Gillespie (I, Tonya, 2017) yang menempatkan Emma Stone untuk memerankan karakter yang dahulu diperankan secara ikonik oleh Glenn Close, Cruella mampu dihadirkan sebagai sajian drama komedi dengan berbagai warna intrik dari glamornya dunia mode yang menghibur. Continue reading Review: Cruella (2021)

Review: Nobody (2021)

Menit-menit awal penuturan Nobody akan menggambarkan sosok karakter utama yang diperankan oleh Bob Odenkirk, seorang pria paruh baya bernama Hutch Mansell yang kehidupannya diisi dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Membosankan. Hal tersebut berubah ketika pada satu malam dua orang asing (Humberly González dan Edsson Morales) masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri barang-barang miliknya. Aksi kedua pencuri berhasil dipergoki oleh Hutch Mansell, namun, di saat yang bersamaan, kejadian tersebut membangkitkan sebuah sisi lain dari kepribadian Hutch Mansell yang selama ini telah disembunyikannya. Sisi lain yang kemudian membuatnya berani untuk melawan sekawanan pemuda yang sedang mengganggu seorang perempuan muda dalam bus yang sama-sama mereka tumpangi. Sial, sekawanan pemuda tersebut ternyata memiliki hubungan dengan seorang mafia Rusia bengis, Yulian Kuznetsov (Alexey Serebryakov), yang dengan segera menjadikan Hutch Mansell sebagai sosok yang paling dicari keberadaannya. Continue reading Review: Nobody (2021)

Review: Wrath of Man (2021)

Dalam film teranyarnya, Wrath of Man, Guy Ritchie (The Gentlemen, 2019) kembali mengarahkan Jason Statham yang sebelumnya turut berperan dalam tiga film yang mengawali karir penyutradaraan Ritchie, Lock, Stock & Two Smoking Barrells (1998), Snatch (2000), dan Revolver (2005). Statham berperan sebagai Patrick Hill, seorang pria yang baru saja mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan keamanan pengelola mobil lapis baja bernama Fortico Security. Bertugas untuk menghantarkan barang berharga atau uang dalam jumlah besar, Patrick Hill dan rekan-rekannya seringkali harus berhadapan dengan bahaya yang datang dari kawanan penjahat yang berusaha untuk merebut bawaan mereka. Meskipun begitu, berbekal pengalamannya bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Eropa, Patrick Hill tidak ragu untuk melawan jika ada yang berusaha untuk mengganggu pekerjaannya – hal yang dibuktikan ketika ia dan dua rekannya, Haiden Blaire (Holt McCallany) dan Dave Hancock (Josh Hartnett), dihadang oleh sekelompok perampok dalam tugas mereka. Di saat yang bersamaan, kemampuan Patrick Hill untuk melawan membuat sejumlah orang lantas mempertanyakan siapa sosok Patrick Hill yang sebenarnya. Continue reading Review: Wrath of Man (2021)

Review: Serigala Langit (2021)

Diarahkan oleh Reka Wijaya (Sule Detektif Tokek, 2013) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Milea: Suara dari Dilan, 2020) dan Rifki Ardisha, Serigala Langit bercerita tentang Gadhing Baskara (Deva Mahenra) yang merupakan seorang penerbang pesawat tempur bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan baru saja bergabung dengan Skadron Serigala Langit. Sebagai lulusan terbaik di Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Gadhing Baskara sempat merasa dirinya memiliki kemampuan yang lebih baik dari rekan-rekannya – sikap yang lantas membuat keberadaannya kurang disenangi oleh sejumlah seniornya. Karena langkah awal yang salah, Gadhing Baskara kini harus berjuang keras untuk membuktikan kelayakan dirinya untuk bergabung di Skadron Serigala Langit. Di saat yang bersamaan, Gadhing Baskara juga sedang dihantui oleh hubungannya yang memburuk dengan sang ayah (Nugie) yang kini sedang terbaring di rumah sakit dan terus menanyakan keberadaan dirinya. Continue reading Review: Serigala Langit (2021)

Review: Notebook (2021)

Dimas Anggara dan Amanda Rawles kembali tampil bersama untuk film Notebook yang menandai debut pengarahan film cerita panjang layar lebar bagi Karsono Hadi yang sebelumnya dikenal sebagai penata gambar bagi film-film seperti Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988), Taksi (Arifin C. Noer, 1991), dan Bibir Mer (Noer, 1992) yang memenangkannya sebuah Piala Citra untuk kategori Penata Gambar Terbaik di Festival Film Indonesia 1992. Hadi juga berhasil meraih nominasi di kategori Penulis Skenario Terbaik dari ajang Festival Film Indonesia 2004 untuk film Marsinah: Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001). Untuk Notebook sendiri, Hadi mengarahkan naskah cerita yang ditulis oleh Sukhdev Singh dan Tisa TS yang merupakan penulis naskah bagi tiga film yang telah mempertemukan Anggara dan Rawles, Promise (Asep Kusdinar, 2017), London Love Story 3 (Kusdinar, 2018), dan The Perfect Husband (Rudi Aryanto, 2018). Continue reading Review: Notebook (2021)

Review: Reminiscence (2021)

Meraih rekognisi lebih luas berkat kesuksesan serial televisi Westworld (2016) yang mereka ciptakan, Lisa Joy dan Jonathan Nolan kembali berkolaborasi untuk memproduseri film fiksi ilmiah, Reminiscence, yang juga menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Joy. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Joy, Reminiscence memiliki latar belakang waktu pengisahan di masa depan dimana dua orang veteran, Nick Bannister (Hugh Jackman) dan Emily Sanders (Thandiwe Newton), membuka sebuah usaha yang memanfaatkan teknologi terkini untuk dapat menghidupkan kembali ingatan tertentu bagi mereka yang menginginkannya. Teknologi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh seorang penyanyi klub malam, Mae (Rebecca Ferguson), untuk dapat mengingat kembali dimana keberadaan kunci-kuncinya. Tidak hanya mendapatkan kembali kunci-kuncinya, Mae juga berhasil menarik perhatian Nick Bannister. Romansa dengan segera tumbuh diantara keduanya. Namun, setelah beberapa saat menjalin hubungan, Mae meninggalkan Nick Bannister dan menghilang tanpa jejak begitu saja. Continue reading Review: Reminiscence (2021)

Review: Selesai (2021)

Merupakan film cerita panjang kedua yang diarahkan oleh Tompi (Pretty Boys, 2019) sekaligus menandai kali kedua kolaborasinya bersama dengan penulis naskah Imam Darto, Selesai adalah sebuah drama (drama komedi?) yang akan membawa para penontonnya ke sebuah perseteruan rumah tangga yang berlangsung antara karakter-karakternya. Linimasa pengisahannya bermula ketika Ayu (Ariel Tatum) yang berniat untuk menuntut cerai dan meninggalkan rumah yang ia tempati bersama suaminya, Broto (Gading Marten), setelah mengetahui bahwa sang suami kembali menjalin hubungan asmara dengan Anya (Anya Geraldine) yang sebenarnya telah menjadi sosok ketiga dalam pernikahan mereka dalam dua tahun terakhir. Langkah Ayu untuk keluar dari rumah terhenti ketika, di saat yang bersamaan, ibu mertuanya, Bu Sri (Marini), datang dan memilih untuk tinggal bersama anak dan menantunya guna menghabiskan masa isolasi wilayah yang sedang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran infeksi di masa pandemi. Ayu lantas memberikan sejumlah waktu pada Broto untuk dapat menjelaskan kondisi pernikahan mereka pada sang ibu sebelum ia benar-benar angkat kaki dari rumah tersebut. Continue reading Review: Selesai (2021)

Review: The East (2020)

Menjadi film cerita panjang ketiga yang diarahkan oleh Jim Taihuttu setelah Rabat (2011) dan Wolf (2013), The East memiliki latar waktu pengisahan di tahun 1946 ketika Hindia Belanda memasuki masa Revolusi Nasional Indonesia. Dikisahkan, seorang pemuda asal Belanda bernama Johan de Vries (Martijn Lakemeier) yang menjadi seorang tentara relawan dan lantas dikirimkan ke daerah Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, untuk bertugas sebagai salah satu penjaga keamanan rakyat di Hindia Belanda yang sedang diwarnai konflik sipil selepas menyatakan kemerdekaannya dari jajahan Jepang. Awalnya, Johan de Vries dan rekan-rekannya merasa keseharian mereka begitu membosankan karena minimnya konflik maupun pertarungan yang harus mereka hadapi. Johan de Vries kemudian berkenalan dengan seorang pria karismatik yang dikenal dengan sebutan The Turk (Marwan Kenzari) yang lantas membimbing sekaligus memberikan infomasi lebih mendalam tentang medan perang yang sedang mereka jalani. Johan de Vries, secara perlahan, menjadi salah satu orang kepercayaan bagi The Turk. Sebuah posisi yang tanpa disangka kemudian menjebaknya dalam rangkaian pertumpahan darah yang membuatnya mempertanyakan makna perang sekaligus memberikan trauma di sepanjang sisa hidupnya. Continue reading Review: The East (2020)

Review: CODA (2021)

Diadaptasi dari film Perancis berjudul La Famille Bélier (Éric Lartigau, 2014), CODA yang ditulis dan diarahkan oleh sutradara Siân Heder (Tallulah, 2016) berkisah mengenai kehidupan seorang remaja perempuan dengan kemampuan pendengaran normal bernama Ruby Rossi (Emilia Jones) yang terlahir dari pasangan tuli, Frank (Troy Kotsur) dan Jackie Rossi (Marlee Matlin). Dengan kemampuannya tersebut, keseharian Ruby Rossi dimulai dengan membantu ayah dan kakaknya – yang juga memiliki kondisi tuli, Leo Rossi (Daniel Durant), dalam usaha penangkapan ikan mereka. Ruby Rossi bahkan telah memiliki rencana untuk bergabung dengan usaha keluarganya sebagai pekerjaan tetap ketika dirinya telah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya. Namun, rencana tersebut berubah ketika Ruby Rossi bergabung dengan kegiatan paduan suara sekolahnya.

Continue reading Review: CODA (2021)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar