Review: Ghost Stories (2018)

Diarahkan oleh Andy Nyman dan Jeremy Dyson, Ghost Stories bercerita mengenai Professor Phillip Goodman (Nyman) yang mendedikasikan hidupnya untuk membuka tabir kebohongan yang sering diungkapkan para cenayang palsu guna menipu dan mendapatkan keuntungan dari para orang-orang yang dengan mudah percaya begitu saja dengan berbagai hal-hal yang berbau supranatural. Suatu hari, Professor Phillip Goodman dihadapkan pada tiga kasus bernuansa mistis yang dihadapi oleh tiga orang yang berbeda: seorang penjaga malam bernama Tony Matthews (Paul Whitehouse), seorang remaja bernama Simon Rifkind (Alex Lather), serta seorang pengusaha bernama Mike Priddle (Martin Freeman). Professor Phillip Goodman percaya bahwa kasus-kasus mistis yang dihadapi oleh ketiga orang tersebut dapat dijelaskan secara rasional dan terjadi akibat refleksi ketakutan sekaligus tekanan mental yang mereka alami. Namun, seiring dengan semakin mendalamnya penelitian yang ia lakukan, Professor Phillip Goodman menemukan berbagai sisi supranatural yang kemudian menantang segala kepercayaan yang ia anut selama ini. Continue reading Review: Ghost Stories (2018)

Advertisements

Tribe Hadirkan Miniseri Kolaborasi Tiga Negara dalam DO(S)A

Untuk semakin memperkuat barisan tayangan yang disediakan di aplikasinya, Tribe baru-baru ini meluncurkan program KolaboraSEA yang menghadirkan deretan serial orisinal yang diproduksi oleh Tribe bekerjasama dengan para sineas dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sebelumnya, KolaboraSEA berhasil meraih sukses besar dengan Gantung. Serial bernuansa horor tersebut mendasarkan penceritaannya pada novel berjudul sama yang ditulis oleh penulis asal Malaysia, Nadia Khan. Paduan kisah horor yang menarik dengan penampilan aktor dan aktris muda popular asal Indonesia dan Malaysia seperti Randy Pangalila, Brandon Salim, Mentari de Marelle, Ikmal Amry, dan Hafreez Adam mampu membuat Gantung mendapatkan banyak penggemar ceritanya. Continue reading Tribe Hadirkan Miniseri Kolaborasi Tiga Negara dalam DO(S)A

Review: Please Stand By (2018)

Setelah keberhasilannya dalam mengarahkan The Sessions (2012) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial namun juga memberikan sebuah nominasi Academy Awards di kategori Best Actress in a Supporting Role untuk Helen Hunt pada ajang The 85th Annual Academy Awards, sutradara asal Australia, Ben Lewin, kini merilis film terbarunya yang berjudul Please Stand By. Hampir serupa dengan The Sessions yang berkisah tentang kehidupan seorang penderita penyakit polio dalam interaksi kesehariannya, Lewin juga menjadikan Please Stand By sebagai media penggambarannya mengenai jalinan rumit keseharian seorang penderita Sindrom Asperger untuk tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Diberkahi oleh penampilan gemilang dari Dakota Fanning, Please Stand By mampu menyajikan banyak momen menyentuh yang dipastikan dapat membuat para penontonnya terhanyut meskipun beberapa kali terjebak dalam tata cara pengisahan yang cenderung terlalu familiar. Continue reading Review: Please Stand By (2018)

Review: Blumhouse’s Truth or Dare (2018)

Diarahkan oleh sutradara Jeff Wadlow (Kick-Ass 2, 2013), Blumhouse’s Truth or Dare memulai pengisahannya dengan perjalanan yang dilakukan oleh sekelompok sahabat, Olivia Barron (Lucy Hale), Markie Cameron (Violett Beane) dan kekasihnya, Lucas Moreno (Tyler Posey), Brad Chang (Hayden Szeto), serta Tyson Curran (Nolan Gerard Funk) dan kekasihnya, Penelope Amari (Sophia Ali), untuk berliburan ke Meksiko. Liburan tersebut awalnya berjalan dengan mulus hingga kemudian Olivia Barron dan teman-temannya berkenalan dengan Carter (Landon Liboiron) yang mengajak mereka untuk menghabiskan malam bersama sembari memainkan permainan Truth or Dare. Terdengar sebagai sebuah ajakan yang bersahabat. Namun, ketika permainan sedang berlangsung, Carter mengungkapkan bahwa Truth or Dare yang mereka mainkan adalah sebuah permainan supernatural dan Olivia Barron serta teman-temannya harus memenuhi setiap aturan permainan jika tidak ingin kehilangan nyawa mereka. Continue reading Review: Blumhouse’s Truth or Dare (2018)

Review: Avengers: Infinity War (2018)

Bayangkan beban yang harus diemban oleh Anthony Russo dan Joe Russo. Tidak hanya mereka harus menggantikan posisi Joss Whedon yang telah sukses mengarahkan The Avengers (2012) dan Avengers: Age of Ultron (2015), tugas mereka dalam menyutradarai Avengers: Infinity Warjuga akan menjadi penanda bagi sepuluh tahun perjalanan Marvel Studios semenjak memulai perjalanan Marvel Cinematic Universe ketika merilis Iron Man (Jon Favreau, 2008) sekaligus menjadi film kesembilan belas dalam semesta penceritaan film tersebut. Bukan sebuah tugas yang mudah, tentu saja, khususnya ketika mengingat The Russo Brothers juga harus bertugas untuk mengarahkan seluruh (!) karakter pahlawan super yang berada dalam Marvel Cinematic Universe dalam satu linimasa yang sama. Namun, The Russo Brothers sendiri bukanlah sosok yang baru bagi seri film ini. Dengan pengalaman mereka dalam mengarahkan Captain America: The Winter Soldier (2014), dan Captain America: Civil War (2016), keduanya telah memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjadikan Avengers: Infinity War menjadi sebuah presentasi kisah pahlawan super yang mampu tampil mengesankan. Continue reading Review: Avengers: Infinity War (2018)

Review: Gringo (2018)

Dengan barisan pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Joel Edgerton, Charlize Theron, David Oyelowo, Amanda Seyfried, Sharlto Copley, hingga Thandie Newton, serta alur pengisahan bernada black comedy dengan sentuhan deretan adegan aksi yang kadang tampil begitu brutal, adalah mudah untuk melihat Gringo sebagai sebuah film arahan Quention Tarantino maupun Joel dan Ethan Coen. But it’s not. Gringo merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan Nash Edgerton setelah kesuksesan debut pengarahannya, The Square (2008). Seperti yang diungkapkan sebelumnya, Gringo memiliki formula yang dapat saja menyamai film-film buatan Tarantino atau The Coen Brothers. Sayangnya, dengan segala potensi tersebut, Gringo gagal tampil bercerita dengan kuat akibat lemahnya bangunan pengisahan film hingga pengarahan Nash Edgerton yang sering terasa tampil berantakan. Continue reading Review: Gringo (2018)

Review: The Man with the Iron Heart (2017)

Layaknya Darkest Hour (Joe Wright, 2017) yang menjadi “menu pelengkap” bagi kehadiran Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), film terbaru arahan sutradara Cédric Jimenez, The Man with the Iron Heart, juga menghadirkan sebuah sisi pengisahan lain dari kejadian bersejarah mengenai usaha pembunuhan salah satu perwira tinggi Partai Nazi, General Reinhard Heydrich, yang dikenal dengan sebutan Operation Anthropoid dan sebelumnya dikisahkan dalam film Anthropoid (Sean Ellis, 2016). Jika Anthropoid menyelami seluk beluk usaha dari karakter-karakter kaum pemberontak untuk membunuh karakter General Reinhard Heydrich maka The Man with the Iron Heart juga menghadirkan pengisahan yang sama sembari memberikan pengisahan mengenai kehidupan pribadi dari karakter General Reinhard Heydrich. Sebuah usaha yang cukup pelik namun pengarahan Jimenez yang handal, dan penampilan para pengisi departemen akting yang apik, mampu menjadikan The Man with the Iron Heart begitu menarik untuk diikuti. Continue reading Review: The Man with the Iron Heart (2017)

Review: Beirut (2018)

Dalam film terbaru arahan Brad Anderson (The Call, 2013), Beirut, yang berlatarbelakang pengisahan di awal tahun ‘80an, Jon Hamm berperan sebagai Mason Skiles, seorang mantan diplomat Amerika Serikat yang sekarang bekerja sebagai seorang negosiator yang sering mabuk-mabukan akibat depresi yang ia rasakan setelah kehilangan sang istri, Nadia (Leïla Bekhti), dalam sebuah tragedi di Beirut, Lebanon, sepuluh tahun yang lalu. Masa lalu seakan kembali menghampiri Mason Skiles ketika ia dihubungi oleh pihak Central Intelligence Agency yang kemudian meminta bantuannya untuk bernegosiasi dengan pihak penculik salah satu agen mereka, Cal Riley (Mark Pellegrino), yang sedang bertugas di Beirut. Walau awalnya ingin menghindar akibat kenangan buruknya di kota tersebut, Mason Skiles akhirnya berangkat ke Beirut dan memulai proses negosiasi yang panjang dengan para penculik Cal Riley. Sebuah pilihan yang lantas mempertemukan Mason Skiles dengan sosok yang krusial dengan kisah tragis yang dialami oleh almarhumah istrinya. Continue reading Review: Beirut (2018)

Review: 7 Days in Entebbe (2018)

Diarahkan oleh José Padilha, 7 Days in Entebbe bercerita tentang kisah nyata mengenai dibajaknya sebuah pesawat Air France yang sedang terbang dari Tel Aviv Israel ke Paris, Perancis melalui Athena, Yunani oleh dua orang anggota Popular Front for the Liberation of Palestine serta dua orang anggota pergerakan Revolutionary Cells yang berkewarganegaraan Jerman, Brigitte Kuhlmann (Rosamund Pike) dan Wilfried Böse (Daniel Brühl) yang sempat menghebohkan dunia pada tahun 1976. Tujuan dari pembajakan tersebut adalah untuk mendukung sekaligus mempopularkan perjuangan rakyat Palestina yang wilayah negaranya telah direbut oleh Israel dengan meminta tebusan uang sebesar US$5 juta serta pembebasan sejumlah militan pendukung gerakan pembebasan Palestina. Pesawat Air France yang membawa 260 penumpang dan kru pesawat – dengan hampir separuhnya berkewarganegaraan Israel, kemudian diarahkan untuk mendarat di Bandara Entebbe yang berada di wilayah Entebbe, Uganda, untuk kemudian ditahan disana selama proses negosiasi dengan pemerintahan Israel berlangsung. Continue reading Review: 7 Days in Entebbe (2018)

Review: Rampage (2018)

Merupakan kali ketiga sutradara Brad Peyton mengarahkan aktor Dwayne Johnson – setelah Journey 2: The Mysterious Island (2012) dan San Andreas (2015) yang sama-sama mendapatkan tinjauan buruk dari mayoritas kritikus film dunia namun berhasil meraih kesuksesan komersial yang cukup besar sepanjang masa rilisnya, Rampage merupakan sebuah film yang deretan karakter dan konfliknya diadaptasi dari permainan video popular berjudul sama yang diproduksi oleh Midway Games. Well… mereka yang tidak begitu menggemari dua film hasil kerjasama Peyton dan Johnson sebelumnya seharusnya tidak berharap banyak pada Rampage. Seperti halnya Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas, Rampage menitikberatkan presentasi ceritanya pada tampilan visual yang megah dengan seringkali mengenyampingkan fungsi kehadiran cerita dan karakter. Terdengar menyenangkan? Continue reading Review: Rampage (2018)

Review: Partikelir (2018)

Nama Pandji Pragiwaksono jelas bukanlah nama baru di industri perfilman Indonesia. Semenjak namanya popular sebagai seorang komika, Pragiwaksono juga telah berkesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya lewat film-film seperti Make Money (Sean Monteiro, 2013), Comic 8 (Anggy Umbara, 2014), {rudy habibie} (Hanung Bramantyo, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017). Mengikuti jejak rekan-rekan komikanya seperti Kemal Palevi, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Bayu Skak, Pragiwaksono kini menguji kemampuannya dalam penyutradaraan sebuah film lewat Partikelir. Juga berperan sebagai aktor dan penulis naskah cerita bagi film drama komedi aksi ini, Partikelir menghadirkan elemen-elemen komedi yang mungkin telah terasa familiar bagi para penggemar celotehan Pragiwaksono. Sayang, sebagai sebuah presentasi cerita keseluruhan, Partikelir tidak mampu berbicara banyak dan seringkali terasa goyah dalam banyak bagian pengisahannya. Continue reading Review: Partikelir (2018)

Review: Jelita Sejuba (2018)

Jika biasanya film-film yang berlatar kehidupan para tentara mengambil sudut pandang dari karakter para tentaranya itu sendiri – lihat saja Merah Putih II: Darah Garuda (Yadi Sugandi, Conor Allyn, 2010), Doea Tanda Cinta (Rick Soerafani, 2015), atau Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), maka Jelita Sejuba mencoba berkisah mengenai kehidupan sang istri dari tentara dalam mendampingi sosok yang harus membagi perhatiannya antara keluarga dengan negara. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab untuk naskah cerita Doea Tanda Cinta, Jelita Sejuba tampil cukup manis dalam penggambaran hubungan romansa antara kedua karakter utamanya meskipun sering terasa kehilangan keseimbangan pengisahan, khususnya pada paruh akhir penceritaan. Penampilan prima dari Putri Marino juga memberikan kontribusi besar bagi kualitas presentasi keseluruhan film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Ray Nayoan ini. Continue reading Review: Jelita Sejuba (2018)

Review: Bluebell (2018)

Setelah serangkaian film berwarna horor dan thriller yang telah ia tekuni semenjak melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Jinx (2010), Muhammad Yusuf mencoba mengarahkan sebuah genre berbeda untuk film teranyarnya, Bluebell. Film drama romansa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Dwitasari ini berkisah mengenai pertemuan antara Bluebell (Regina Rengganis) dan Mario (Qausar Harta Yudana) yang secara singkat tumbuh menjadi perasaan suka antara satu dengan yang lain. Sayangnya, pertemuan antara Bluebell dan Mario terjadi di saat pemuda tersebut sedang merasa gundah akan hubungannya dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora), yang akan segera berlanjut ke jenjang pernikahan. Sial, ketika Mario berusaha menentukan keputusan hatinya, Bluebell mengetahui tentang status hubungan asmara Mario. Patah hati, Bluebell memilih untuk menjauh dan berusaha untuk melupakan pemuda itu. Continue reading Review: Bluebell (2018)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar