Review: Candyman (2021)

Seperti halnya Halloween (David Gordon Green, 2018) yang alur pengisahannya bertugas sebagai sekuel bagi Halloween (John Carpenter, 1978) dengan mengacuhkan film-film lain dalam seri Halloween lainnya yang telah dirilis, garapan terbaru sutradara Nia DaCosta (Little Woods, 2018) bersama dengan produser Jordan Peele (Us, 2019) untuk film Candyman juga akan bertindak sebagai sekuel serta memiliki alur pengisahan yang terkoneksi dengan alur pengisahan film perdana Candyman (1992) arahan Bernard Rose dengan tidak memiliki keterkaitan cerita apapun terhadap film lain dalam seri Candyman yang berada diantaranya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DaCosta bersama dengan Peele dan Win Rosenfeld, Candyman (2021) memberikan pengembangan yang lebih mendalam terhadap sosok karakter Candyman yang dahulu digambarkan pada Candyman (1992) dan menjadikan kisahnya tampil relevan dengan berbagai perbincangan tentang isu sosial dan politik seputar ras di era sekarang. Continue reading Review: Candyman (2021)

Review: Halloween Kills (2021)

Meskipun tidak menawarkan tata pengisahan yang benar-benar baru (ataupun menarik), kembalinya sosok karakter pembunuh Michael Myers bersama dengan karakter Laurie Strode yang kembali diperankan oleh Jamie Lee Curtis dalam garapan teranyar Halloween (2018) yang dikerjakan oleh sutradara David Gordon Green bersama dengan produser Jason Blum ternyata cukup mampu menarik perhatian banyak penikmat film horor dunia. Dengan proses produksi yang hanya menghabiskan biaya sebesar US$10 juta, film yang linimasa pengisahannya dimaksudkan bertugas sebagai sekuel bagi Halloween (John Carpenter, 1978) tersebut mampu mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$255 juta di masa perilisannya yang sekaligus menggeser posisi Scream (Wes Craven, 1996) sebagai film slasher dengan pendapatan terbesar sepanjang masa. Pencapaian yang jelas mengesankan bagi sebuah seri film yang usia keberadaannya telah mencapai lebih dari empat dekade. Continue reading Review: Halloween Kills (2021)

Review: The Medium (2021)

The Medium adalah film horor yang menjadi buah kerjasama antara sutradara berkewarganegaraan Thailand, Banjong Pisanthanakun – yang dikenal untuk film-filmnya seperti Shutter (2004), Alone (2007), sebuah segmen di film omnibus 4bia (2008) dan Phobia 2 (2009), serta Pee Mak (2013), dan One Day (2016), dengan sutradara yang berasal dari Korea Selatan, Na Hong-jin – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti The Chaser (2008), The Yellow Sea (2010), dan The Wailing (2016). Untuk film ini, Pisanthanakun dan Na sama-sama bertugas sebagai produser, dengan Na juga menuliskan naskah cerita bersama dengan Chantavit Dhanasevi (Hello Stranger, 2010) sementara Pisanthanakun juga duduk di bangku penyutradaraan. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup dapat menggambarkan horor jenis apa yang dapat diharapkan ketika menyaksikan The Medium: secara perlahan membangun pondasi pengisahan horornya, namun tidak ragu untuk kemudian bergerak cepat dan brutal guna menakuti para penontonnya. Continue reading Review: The Medium (2021)

Review: Don’t Breathe 2 (2021)

Dengan biaya produksi sebesar kurang dari US$10 juta yang kemudian berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$150 juta di sepanjang masa perilisannya, jelas tidak mengejutkan jika Fede Álvarez dan Sam Raimi kemudian berusaha keras untuk menghasilkan sekuel bagi Don’t Breathe (Álvarez, 2016). Namun, baru pada awal tahun 2020 kejelasan tentang keberadaan sekuel Don’t Breathe diumumkan dengan Álvarez hanya akan bertindak sebagai produser dan penulis naskah cerita sementara posisinya sebagai sutradara digantikan oleh Rodo Sayagues yang bersama dengan Álvarez juga menuliskan naskah cerita untuk Don’t Breathe dan sekuelnya, Don’t Breathe 2. Selain dari kehadiran kembali dari karakter Norman Nordstorm yang diperankan oleh Stephen Lang, alur cerita Don’t Breathe 2 tidak memiliki koneksi langsung dengan berbagai konflik yang sebelumnya dikisahkan dalam film pendahulunya. Lalu, apakah film ini mampu untuk menghasilkan intensitas teror horor yang sama? Continue reading Review: Don’t Breathe 2 (2021)

Review: A World Without (2021)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Nia Dinata setelah Ini Kisah Tiga Dara (2016), A World Without memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 2030 – sepuluh tahun semenjak terjadinya pandemi yang membuat kualitas hidup manusia secara keseluruhan menurun drastis. Sebuah komunitas yang menyebut diri mereka sebagai The Light milik pasangan Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia Khan (Ayushita) muncul dan menjadi popular berkat misi mereka untuk mengembangkan bakat serta kemampuan setiap remaja terpilih untuk kemudian menikahkan para remaja tersebut ketika usia mereka telah menginjak 17 tahun agar dapat membentuk keluarga baru yang berkualitas. Tiga sahabat yang datang dari latar kehidupan yang berbeda, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja terpilih untuk bergabung bersama The Light. Sejumlah harapan untuk masa depan yang lebih cerah jelas terlintas di benak ketiganya. Namun, secara perlahan, berbagai sisi gelap dari komunitas tersebut mulai terungkap. Tiga gadis muda tersebut terjebak didalamnya. Continue reading Review: A World Without (2021)

Review: Dune (2021)

Kompleksnya pengembangan tema, konflik, karakter, serta bangunan dunia yang menjadi latar belakang penceritaan dari novel fiksi ilmiah Dune garapan penulis asal Amerika Serikat, Frank Herbert, telah memikat banyak penikmat karya sastra semenjak diterbitkan pertama kali pada tahun 1965. Rumitnya penuturan Dune juga yang kemudian membuat novel tersebut sukar untuk diadaptasi ke dalam berbagai bentuk media pengisahan yang lain. Bukan berarti tidak ada yang berani untuk mencoba. Di tahun 1970an, sutradara Alejandro Jodorowsky menghabiskan waktu tiga tahun untuk mengadaptasi Dune menjadi sebuah film berdurasi sepuluh jam yang direncanakan akan dibintangi nama-nama seperti Salvador Dalí, Orson Welles, David Carradine, Alain Delon, Udo Kier, dan Mick Jagger sebelum akhirnya menyerah dikarenakan perkiraan biaya produksi yang terus meningkat. Continue reading Review: Dune (2021)

Review: Jungle Cruise (2021)

Memulai karir penyutradaraannya dengan mengarahkan film horor House of Wax (2005) dan Orphan (2009) untuk kemudian secara perlahan mendapatkan rekognisi lebih luas berkat kesuksesan film-film aksi dan thriller berskala kecil namun dengan pengisahan yang sangat efektif seperti Unknown (2011), Non-Stop (2014), Run All Night (2015), dan The Commuter (2018) – yang kesemuanya dibintangi Liam Neeson, Jaume Collet-Serra kini didapuk DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film pahlawan super Black Adam yang dibintangi Dwayne Johnson. Namun, sebelum Collet-Serra merilis film lepasan dari Shazam! (David F. Sandberg, 2019) yang akan menjadi film kesebelas dalam seri film DC Extended Universe tersebut, Collet-Serra dan Johnson bekerjasama untuk film petualangan Jungle Cruise yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan, seperti halnya seri film Pirates of the Caribbean (2003 – 2017), alur ceritanya diinspirasi dari wahana atraksi bernama sama yang terdapat di Disneyland. Continue reading Review: Jungle Cruise (2021)

Review: Malignant (2021)

Setelah mengarahkan Aquaman (2018) yang menjadi salah satu film tersukses (dan terbaik) dalam seri film DC Extended Universe, James Wan kembali hadir dengan Malignant yang menjadi film horor pertama yang disutradarainya setelah The Conjuring 2 (2016). Malignant juga menandai cerita orisinal pertama yang diarahkan oleh Wan semenjak mengarahkan The Conjuring (2013). Malignant sendiri membawa Wan pada warna pengisahan horor yang baru dan menjauh dari horor akan teror supranatural seperti yang dihadirkan oleh seri film Insidious (2010 – 2018) dan The Conjuring (2013 – 2021) serta sejumlah film lepasan yang diproduksi oleh Wan. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah semenjak lama mengikuti karir penyutradaraan Wan jelas dapat merasakan bahwa elemen misteri serta ketegangan yang dipenuhi dengan tumpahan darah yang dihadirkan dalam film ini jelas dipengaruhi oleh tata pengisahan yang dahulu pernah dipamerkan Wan dalam Saw (2003) maupun Dead Silence (2007). Continue reading Review: Malignant (2021)

Festival Film Indonesia 2021 Nominations List

Penyalin Cahaya (2021), film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Wregas Bhanuteja, mampu melampaui para pesaingnya dengan menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2021. Film yang dirilis secara internasional dengan judul Photocopier tersebut berhasil mengumpulkan 17 nominasi, termasuk di kategori Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik untuk naskah cerita yang ditulis oleh Bhanuteja bersama dengan Henricus Pria, serta nominasi di seluruh kategori akting; Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Chicco Kurniawan, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Shenina Cinnamon, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Guilio Parengkuan dan Jerome Kurnia, serta Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Dea Panendra. Continue reading Festival Film Indonesia 2021 Nominations List

Review: Stillwater (2021)

Pernah mendengar riuhnya kisah hidup dari seorang perempuan muda berkebangsaan Amerika Serikat bernama Amanda Knox yang mendapatkan vonis hukuman penjara oleh pengadilan negara Italia atas tuduhan tindak pembunuhan yang, setelah beberapa tahun menjalani masa hukuman dan berbagai liputan media yang kerapkali menyudutkan dirinya, kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah? Perjalanan proses penyelidikan kasus hingga masa peradilan yang dihadapi oleh Knox selama hampir satu dekade menginspirasi perilisan sejumlah buku dan film, termasuk sebuah dokumenter berjudul Amanda Knox (Rod Blackhurst, Brian McGinn, 2016) yang dirilis oleh Netflix. Insiden yang menimpa Knox juga dijadikan ilham bagi Tom McCarthy (Spotlight, 2015) dalam mengembangkan naskah cerita film arahannya terbaru, Stillwater, bersama dengan penulis naskah Marcus Hinchey (All Good Things, 2010), Thomas Bigedain (A Prophet, 2009), dan Noé Debré (Dheepan, 2015) – meskipun Knox kemudian mengkritisi McCarthy dan Stillwater yang dianggap mengambil keuntungan komersial dari pembelokan fakta atas kisah tragisnya. Continue reading Review: Stillwater (2021)

Review: Mass (2021)

Lebih dikenal lewat perannya dalam serial televisi seperti Frasier (1998), Dollhouse (2009), atau Ballers (2018) serta deretan film seperti Orange County (Jake Kasdan, 2002), Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (David Bowers, 2011), atau The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2011) yang kebanyakan memiliki nada pengisahan komedi, mungkin cukup sukar untuk mengira bahwa film dengan warna cerita sekelam Mass ditulis dan diarahkan oleh aktor Fran Kranz. Premis ceritanya memang berjalan cukup sederhana. Namun, Kranz sepertinya tidak ingin hanya menyajikan sebuah penuturan drama biasa. Untuk menghasilkan efek emosional cerita yang lebih mendalam, Kranz mengambil sebuah jalur beresiko dengan menggunakan jumlah karakter terbatas yang kemudian saling berinteraksi di satu tempat yang sama di sepanjang pengisahan film. Berhasil? Continue reading Review: Mass (2021)

Review: No Time to Die (2021)

15 tahun semenjak dirinya menggantikan posisi Pierce Brosnan dengan membintangi film ke-21 dari seri James Bond, Casino Royale (Martin Campbell, 2006), serta, dalam perjalanannya, kemudian membintangi tiga film lanjutan, termasuk Skyfall (Sam Mendes, 2012) yang menjadi film pertama dalam seri petualangan sang agen rahasia yang berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$1 milyar selama masa perilisannya di seluruh dunia, Daniel Craig menyudahi tugasnya dalam memerankan karakter James Bond  melalui film teranyar dari seri film tersebut, No Time to Die. Diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga (Jane Eyre, 2011) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya bersama dengan Neal Purvis dan Robert Wade – yang telah menjadi penulis naskah bagi seluruh seri film James Bond semenjak The World is Not Enough (Michael Apted, 1999) – serta Phoebe Waller-Bridge, No Time to Die terasa melengkapi perjalanan karakterisasi dari karakter James Bond yang semenjak diperankan oleh Craig dihadirkan sebagai sosok yang lebih serius dan lebih kelam jika dibandingkan dengan karakter James Bond ketika diperankan oleh barisan pemeran sebelum Craig. Continue reading Review: No Time to Die (2021)

Review: Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Dengan kesuksesan yang mampu diraih oleh Black Panther (Ryan Coogler, 2018) yang diiringi dengan semakin membesarnya tuntutan sosial agar Marvel Studios (serta rumah produksi Hollywood lainnya) memberikan ruang yang lebih besar bagi karakter-karakter berkulit warna, Marvel Cinematic Universe memperkenalkan sosok pahlawan super barunya bernama Shang-Chi yang menjadi sosok pahlawan super dengan latar Asia pertama bagi seri film tersebut. Shang-Chi sendiri bukanlah sosok karakter baru dalam barisan buku komik yang dirilis oleh Marvel Comics. Juga dikenal sebagai Master of Kung Fu dan Brother Hand, karakter yang diciptakan oleh Steve Englehart dan Jim Starlin tersebut muncul pertama kali dalam Special Marvel Edition yang diterbitkan pada tahun 1973. Semenjak tahun 1980an, karakter Shang-Chi bahkan sempat berulang kali akan difilmkan dengan melibatkan sejumlah sutradara seperti Stephen Norrington (Blade, 1998) dan Yuen Woo-ping (Fist of Legend, 1994) namun selalu menemui kegagalan sebelum akhirnya, tentu saja, deretan kisah maupun karakter garapan Marvel Comics dikelola oleh Marvel Studios bersama dengan Walt Disney Studios. Continue reading Review: Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar