Review: Yowis Ben II (2019)

Terlepas dari barisan dialognya yang didominasi oleh Bahasa Jawa, perilisan Yowis Ben (Fajar Nugros, Bayu Skak, 2018) mampu memberikan kejutan ketika film tersebut berhasil mencuri perhatian banyak penikmat film Indonesia. Secara perlahan, film komedi yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi Skak tersebut menyaingi keberadaan film-film lokal dan internasional lain yang dirilis di saat yang bersamaan, bertahan cukup lama di banyak layar bioskop – khususnya yang berada di Pulau Jawa, untuk kemudian sukses mengumpulkan lebih dari sembilan ratus ribu penonton selama masa tayangnya. Dengan ukiran prestasi tersebut, tidak mengherankan bila Nugros dan Skak kembali bekerjasama dan berusaha untuk mengulang (atau malah memperbesar) kesuksesan mereka dengan merilis sebuah sekuel bagi Yowis Ben. Dan dengan formula cerita dan guyonan yang masih setia dengan film pendahulunya, Yowis Ben 2 dipastikan akan tetap dapat menghibur para barisan penggemarnya – dan bahkan mungkin akan mampu mendapatkan beberapa penggemar baru. Continue reading Review: Yowis Ben II (2019)

Review: A Private War (2018)

Merupakan film cerita perdana yang disutradarai oleh Matthew Heineman yang sebelumnya lebih dikenal atas pengarahannya bagi film-film dokumenter seperti Cartel Land (2015) – yang mendapatkan nominasi Best Documentary Feature di ajang The 88th Annual Academy Awards – serta City of Ghosts (2017), A Private War adalah sebuah drama yang mengupas sekelumit kisah dari kehidupan wartawan perang legendaris asal Amerika Serikat, Marie Colvin. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Arash Amel (Grace of Monaco, 2014) berdasarkan artikel tentang Colvin, Marie Colvin’s Private War, yang ditulis oleh Marie Brenner untuk majalah Vanity Fair, A Private War mencoba untuk menyelami jiwa dan pemikiran Colvin (Rosamund Pike) yang terus mendorongnya untuk maju ke garda terdepan deretan konflik dan peperangan yang ada di berbagai belahan dunia guna mendapatkan sajian berita dengan nilai kebenaran yang akurat. Keberanian (dan kejujuran) yang membuatnya menjadi salah satu jurnalis paling dihormati dunia hingga saat ini. Continue reading Review: A Private War (2018)

Review: Captain Marvel (2019)

Sebelas tahun semenjak perilisan Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan sembilan belas film lain yang dirilis guna mengisi linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Marvel Studios merilis Captain Marvel yang menandai kali perdana dimana sosok pahlawan super perempuan menjadi karakter utamanya. Seperti halnya film-film pertama para pahlawan super buatan Marvel Studios sebelumnya, Captain Marvel juga merupakan sebuah origin story yang akan memperkenalkan pada penonton mengenai sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampirinya ketika ia berusaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki tersebut. Sebuah plot pengisahan yang cukup mendasar bagi sebuah film yang berasal dari semesta cerita tentang kehidupan para pahlawan super. Namun, terlepas dari berbagai elemen familiar dari penceritaan tersebut, garapan duo sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck (It’s Kind of a Funny Story, 2010) berhasil mengemas Captain Marvel tetap menjadi sajian yang terasa segar dan sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Captain Marvel (2019)

Review: Dilan 1991 (2019)

Setelah Dilan 1990 (Fajar Bustomi, Pidi Baiq, 2018), kisah cinta Dilan dan Milea kini berlanjut lewat Dilan 1991. Dengan naskah cerita yang masih ditulis oleh Titien Wattimena berdasarkan novel berjudul Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 yang ditulis oleh Baiq, Dilan 1991 berkisah mengenai hubungan antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang kini telah resmi berpacaran. Kebahagiaan hubungan asmara pasangan muda tersebut, sayangnya, kemudian mendapatkan rintangan ketika Dilan kembali terlibat dalam sebuah perkelahian yang menyebabkan dirinya ditahan oleh pihak kepolisian dan terancam untuk dikeluarkan dari sekolahnya. Milea jelas merasa kesal dengan perilaku Dilan dan mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka jika Dilan tidak berhenti terlibat dalam berbagai perseteruan bersama dengan geng motornya. Tanpa disangka, karena tidak suka merasa dikekang oleh siapapun, Dilan malah memilih untuk meninggalkan hubungan asmaranya dan kemudian mulai menjauhi Milea. Continue reading Review: Dilan 1991 (2019)

Review: Extreme Job (2019)

Film terbaru arahan Lee Byeong-heon (What a Man Wants, 2018), Extreme Job, sebenarnya menawarkan garisan penceritaan yang cukup sederhana: kisah sekelompok detektif yang berusaha untuk membongkar dan menangkap sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Dalam usaha tersebut, Chief Go (Ryu Seung-ryong), Detective Jang (Lee Hanee), Detective Young-ho (Lee Dong-hwi), Detective Ma (Jin Seon-kyu), dan Detective Jae-hoon (Gong Myung), menyamar menjadi satu keluarga yang memiliki usaha restoran penjual ayam goreng agar dapat memantau lokasi yang diduga menjadi tempat berkumpulnya para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut. Tanpa terduga, restoran yang mereka kelola sebagai kedok penyamaran justru mampu menarik minat pembeli dalam jumlah besar dan mendadak menjadi begitu popular ke seantero Korea Selatan akibat racikan resep ayam goreng dari Detective Ma yang benar-benar enak. Jelas saja, kesibukan dalam mengelola restoran secara perlahan memecah konsentrasi kelima detektif dalam menjalankan tugas mereka sekaligus membuat para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang mulai dapat mencium keberadaan mereka. Continue reading Review: Extreme Job (2019)

Review: Foxtrot Six (2019)

Dengan departemen akting yang diisi oleh nama-nama popular di dunia seni peran tanah air seperti Oka Antara, Julie Estelle, Chicco Jerikho, Rio Dewanto, hingga Arifin Putra, premis cerita yang menjanjikan deretan adegan aksi dengan tingkat mematikan, bujet yang dikabarkan mencapai lebih dari Rp70,5 miliar, hingga keterlibatan Mario Kassar – yang popular berkat keterlibatannya sebagai produser bagi film-film aksi legendaris buatan Hollywood seperti Rambo: First Blood (Ted Kotcheff, 1982), Totall Recall (Paul Verhoeven, 1990), hingga Universal Soldier (Roland Emmerich, 1992), jelas cukup mudah untuk memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Foxtrot Six. Sebuah film aksi yang berniat untuk menyaingi kedigdayaan dwilogi The Raid (Gareth Evans, 2012 – 2014) sebagai film aksi terbaik Indonesia sepanjang masa? Sure, why not. Sayang, film yang menjadi debut pengarahan bagi Randy Korompis ini terasa terlalu mengandalkan premis aksinya yang bombastis tanpa pernah sekalipun berusaha untuk menghidupkan kualitas barisan konflik dan ceritanya. Akhirnya, alih-alih menjadi sajian aksi yang mengikat dan menarik, Foxtrot Six berakhir menjadi sebuah tayangan yang monoton dan menjemukan. Continue reading Review: Foxtrot Six (2019)

Review: Anak Hoki (2019)

It’s quite hard not to feel sorry for Anak Hoki. Pertama kali diumumkan pada awal tahun lalu sebagai film yang akan mengadaptasi kisah kehidupan masa remaja dari mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, keberadaannya kemudian mulai tersaingi oleh A Man Called Ahok (Putrama Tuta, 2018) yang diangkat dari buku berjudul sama dan juga mengulik seputar kehidupan sang mantan Gubernur. A Man Called Ahok lantas mendapatkan masa rilis terlebih dahulu dan, bagaikan menabur garam di atas luka, berhasil meraih perhatian besar dan jumlah penonton yang signifikan – lebih dari 1.4 juta penonton hingga akhirnya film tersebut turun layar. Jelas sebuah pencapaian yang akan membayangi Anak Hoki pada masa tayangnya. Kini, tiga bulan setelah A Man Called Ahok dirilis, Anak Hoki akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Dan… well… mungkin ada baiknya membiarkan A Man Called Ahok menjadi satu-satunya film yang berkisah tentang Basuki Tjahaja Purnama untuk saat ini. Continue reading Review: Anak Hoki (2019)

The 91st Annual Academy Awards Winners List

Berbekal lima nominasi yang diraihnya, Green Book berhasil menyingkirkan film-film favorit lain seperti The Favourite, Roma, A Star is Born, dan Bohemian Rhapsody untuk memenangkan Best Picture di ajang The 91st Annual Academy Awards. Selain memenangkan kategori paling prestisius di ajang penghargaan tersebut, Green Book juga berhasil meraih kemenangan di kategori Best Original Screenplay dan Best Actor in a Supporting Role untuk Mahershala Ali. Kemenangan Green Book, yang hadir tanpa nominasi Best Director, menandai kali kelima sebuah film dapat memenangkan Best Picture tanpa meraih nominasi Best Director mengikuti kemenangan Wings (William A. Wellman, Harry d’Abbadie d’Arrast, 1927), Grand Hotel (Edmund Goulding, 1932), Driving Miss Daisy (Bruce Beresford, 1989), dan Argo (Ben Affleck, 2012). Continue reading The 91st Annual Academy Awards Winners List

Review: Second Act (2018)

Cukup menyenangkan untuk melihat Jennifer Lopez tampil dalam Second Act. Setelah membintangi What to Expect when You’re Expecting (Kirk Jones, 2012), Lopez seakan berusaha untuk melepas imej dirinya sebagai seorang bintang film-film drama komedi romantis yang dahulu sempat membantu membesarkan namanya di Hollywood. Langkah tersebut bukannya tidak berhasil. Beberapa film yang ia bintangi seperti film animasi Ice Age: Continental Drift (Steve Martino, Michael Thurmeier, 2012) dan Home (Tim Johnson, 2015), film drama aksi Parker (Taylor Hackford, 2015) dan Lila & Eve (Charles Stone III, 2015), serta thriller erotis The Boy Next Door (Rob Cohen, 2015) cukup mampu menarik perhatian penonton sekaligus memberikan sudut pandang baru terhadap karir akting Lopez. Namun, keberhasilan film-film tersebut jelas masih terasa minimalis jika dibandingkan dengan film-film drama komedi romantis sukses yang dibintangi Lopez seperti The Wedding Planner (Adam Shankman, 2001), Maid in Manhattan (Wayne Wang, 2002), atau Monster-in-Law (Robert Luketic, 2005). Para penggemar film-film drama komedi romantis yang dibintangi Lopez jelas akan berharap banyak pada Second Act. Continue reading Review: Second Act (2018)

Review: Cold Pursuit (2019)

Seperti halnya Michael Haneke yang di tahun 2007 membuat ulang kembali filmnya, Funny Games (1997), untuk konsumsi Hollywood, Cold Pursuit juga merupakan versi buat ulang dari film asal Norwegia, In Order of Disappearance (2014), dengan sutradara aslinya, Hans Petter Moland, kembali duduk di kursi penyutradaraan. Alur ceritanya sendiri sangat familiar dengan barisan film-film yang sebelumnya telah dibintangi oleh pemeran utama film ini, Liam Neeson. Dikisahkan, kehidupan tenang Nels Coxman (Neeson) sebagai seorang pembersih salju di sebuah resor ski di sebuah kota bersalju bernama Kehoe di Colorado, Amerika Serikat, tiba-tiba terusik setelah putranya, Kyle (Micheál Richardson), ditemukan tewas akibat penyalahgunaan heroin. Istrinya, Grace (Laura Dern), lantas memilih untuk meninggalkan Nels Coxman akibat tidak mampu menahan rasa dukanya. Nels Coxman juga hampir melakukan tindakan bunuh diri… sebelum akhirnya dia mengetahui bahwa kematian putranya bukan disebabkan oleh penyalahgunaan heroin namun akibat dibunuh oleh kartel narkotika dan obat-obatan terlarang. Nels Coxman yang dikenal seluruh warga Kehoe sebagai sosok yang tenang dan bersahabat kemudian berubah menjadi sosok pria penuh dendam yang bersiap untuk membunuh siapapun yang terlibat atas kematian anaknya. Continue reading Review: Cold Pursuit (2019)

Review: Antologi Rasa (2019)

Merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karangan Ika Natassa setelah Critical Eleven (Monty Tiwa, Robert Ronny, 2017), Antologi Rasa berkisah mengenai kisah cinta segi empat yang terjalin antara empat sahabat, Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime). Bagaimana rumitnya jalinan persahabatan dan asmara yang terbentuk antara keempat karakter tersebut? Well… Harris telah memendam rasa suka terhadap Keara semenjak pertama kali mereka berkenalan. Namun, di saat yang bersamaan, Keara justru menaruh hati kepada Ruly. Sial, Ruly ternyata begitu mengagumi serta tidak dapat melupakan sosok Denise yang juga merupakan teman kecilnya dan kini telah menikah dengan pria lain. Baik Harris, Keara, dan Ruly memilih untuk menyimpan rasa suka yang mereka rasakan demi menjaga dan tidak merusak hubungan persahabatan yang telah terbentuk sekian lama. Tentu saja, tidak peduli seberapa keras mereka telah berusaha untuk menyembunyikan perasaan masing-masing, Harris, Keara, dan Ruly akhirnya terjerat dalam kebimbangan hati yang semakin lama justru menghadirkan ruang dan jarak dalam hubungan mereka. Continue reading Review: Antologi Rasa (2019)

Review: Happy Death Day 2U (2019)

Jika Happy Death Day (Christopher Landon, 2017) menawarkan alur pengisahan yang membuatnya digelari sebagai versi horor dari Groundhog Day (Harold Ramis, 1993) maka jalan cerita sekuelnya, Happy Death Day 2U, mungkin akan membuat banyak orang memberikannya perbandingan dengan Back to the Future (Robert Zemeckis, 1985) – meskipun, tentu saja, masih menjadikan Groundhog Day sebagai basis premis utamanya. Perbandingan tersebut bukannya dibuat secara asal. Alih-alih menjadikan Happy Death Day 2U hanya sebagai mesin penghasil uang dengan memberikan ulangan atau perubahan minimalis pada jalan ceritanya, Landon – yang juga menggarap naskah cerita film menggantikan posisi penulis naskah cerita seri sebelumnya, Scott Lobdell – justru memberikan olahan konflik dan karakter yang lebih berwarna serta membungkusnya dengan jalinan pengisahan bernuansa fiksi ilmiah yang kuat. Langkah berani yang ternyata menjadikan penampilan Happy Death Day 2U semakin berkelas. Continue reading Review: Happy Death Day 2U (2019)

Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Lima tahun setelah film pertamanya – dengan The LEGO Batman Movie (Chris McKay, 2017) dan The LEGO Ninjago Movie (Charlie Bean, Paul Fisher, Bob Logan, 2017) menjadi dua film sempalan yang dirilis diantaranya – The LEGO Movie 2 hadir sebagai sekuel langsung bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Chris Miller, 2014). Walau masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bagi film ini, Lord dan Miller sendiri menyerahkan kursi penyutradaraan pada Mike Mitchell (Trolls, 2016). Para penggemar The LEGO Movie sepertinya tidak akan mengeluhkan perubahan tersebut. Pengaruh besar Lord dan Miller jelas masih dapat dirasakan dalam alur pengisahan The LEGO Movie 2: film ini masih tampil dengan humor yang kuat dan penuh dengan referensi kultur pop teranyar, tampilan visual penuh warna yang memikat, serta disajikan dengan ritme pengisahan yang mengalun cepat. Tidak menawarkan sesuatu yang baru? Jangan khawatir. Lord dan Miller menyediakan ruang konflik yang lebih besar sehingga membuka celah yang cukup luas pula bagi beberapa sentuhan segar dalam pengisahan The LEGO Movie 2. Continue reading Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar