Review: Slender Man (2018)

Para pengguna internet jelas telah familiar dengan keberadaan Slender Man. Karakter horor nan misterius yang digambarkan sebagai sosok pria bertubuh sangat kurus, sangat tinggi, memiliki tampilan struktur wajah yang tidak dapat dikenali, serta memiliki hobi untuk mengikuti dan menculik manusia tersebut awalnya diciptakan seorang pengguna forum internet Something Awful di tahun 2009 dan secara perlahan kemudian meraih popularitasnya sekaligus menjelma menjadi meme internet.  Seberapa besar popularitas Slender Man? Well… selain meme internetnya masih digunakan dan dikenali oleh jutaan pengguna internet dunia hingga saat ini, beberapa rumah produksi Hollywood telah mengumumkan rencana mereka untuk memproduksi kisah dari karakter tersebut dalam bentuk permainan video, serial televisi, dan film. Not bad eh? Dan salah satu film yang akan menampilkan Slender Man dalam jalan ceritanya tersebut adalah film horor arahan Sylvain White (The Losers, 2010) yang berjudul… Slender Man. Continue reading Review: Slender Man (2018)

Advertisements

Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Dalam episode terbaru dari “Orangtuaku Menjual Jiwa Mereka ke Setan dan Menjadikanku Sebagai Tumbal,” film arahan sutradara Timo Tjahjanto (Headshot, 2016), Sebelum Iblis Menjemput, mencoba untuk memberikan interpretasinya sendiri atas tema pengisahan yang semakin familiar dalam film-film horor belakangan. Filmnya sendiri berkisah tentang Alfie (Chelsea Islan) yang diundang oleh ibu tirinya, Laksmi (Karina Suwandi), untuk membantu saudara-saudaranya, Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab), mengumpulkan benda-benda berharga yang terdapat di vila milik keluarga mereka untuk kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan sang ayah, Lesmana (Ray Sahetapy). Alfie sebenarnya begitu membenci Lesmana setelah kematian ibu kandungnya (Kinaryosih). Namun, rasa penasaran terhadap masa lalu sang ayah akhirnya mendorong Alfie untuk datang menemui keluarga tirinya. Sebuah keputusan yang kemudian justru menghadapkan gadis tersebut pada sebuah misteri yang dapat mengancam kehidupannya. Continue reading Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Review: Dukun (2018)

Jangan merasa heran jika melihat penampilan Bront Palarae atau Chew Kin Wah yang jauh lebih muda daripada penampilan mereka di Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017) atau Susah Sinyal (Ernest Prakasa, 2017) ketika Anda menyaksikan Dukun. Film thriller arahan Dain Iskandar Said (Interchange, 2016) tersebut sebenarnya telah menyelesaikan masa produksinya lebih dari satu dekade lalu dan sempat dijadwalkan rilis pada Desember 2006. Namun, akibat pengaruh situasi sosial dan politik yang kurang mendukung – jalan cerita Dukun didasari pada peristiwa nyata mengenai terbunuhnya seorang politikus ternama Malaysia pada tahun 1993 dan memiliki pengisahan yang kental dengan nuansa magis – film yang seharusnya menjadi debut pengarahan Said tersebut baru dapat ditayangkan di negara asalnya pada April yang lalu. Walau 12 tahun telah berlalu namun kualitas Dukun sebagai sebuah thriller, untungnya, tetap mampu bertahan dengan cukup baik. Pengarahan Said yang apik ditambah dengan penampilan para pengisi departemen akting yang meyakinkan menjadikan Dukun berhasil hadir dengan banyak momen mencekam. Continue reading Review: Dukun (2018)

Review: The Meg (2018)

First of all, The Meg adalah sebuah film tentang keberadaan seekor hiu berukuran raksasa yang dibintangi oleh Jason Statham. You better know what you’re getting into. Diadaptasi dari novel berjudul Meg: A Novel of Deep Terror karangan Steve Alten, film yang diarahkan oleh Jon Turteltaub (Last Vegas, 2013) ini berkisah mengenai seorang ilmuwan sekaligus penyelam bernama Jonas Taylor (Statham) yang diminta untuk membantu menyelamatkan sekelompok ilmuwan yang terjebak di kedalaman laut ketika kapal yang mereka gunakan diserang oleh seekor ikan berukuran raksasa yang belum pernah dikenali sebelumnya. Walau awalnya merasa enggan untuk mengikuti misi penyelamatan tersebut – mengingat sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi di masa lalunya, Jonas Taylor akhirnya berangkat dan melaksanakan misi penyelamatannya. Misi tersebut mampu dieksekusi dengan baik namun, di saat yang bersamaan, masuknya Jonas Taylor dan kapal selamnya ke kedalaman laut tersebut kemudian membuka sebuah kesempatan untuk ikan berukuran raksasa tersebut untuk keluar dari wilayah hidup biasanya dan bergerak menuju lautan luas yang jelas akan menimbukan kekacauan dalam kehidupan manusia. Continue reading Review: The Meg (2018)

Review: The Spy Who Dumped Me (2018)

Diarahkan oleh Susanna Fogel – yang kembali duduk di kursi penyutradaraan setelah merilis film yang menjadi debut pengarahannya, Life Partners, pada empat tahun lalu, The Spy who Dumped Me berkisah mengenai Audrey Stockton (Mila Kunis) yang sedang merasakan kesedihan yang mendalam setelah ditinggal oleh sang kekasih, Drew Thayer (Justin Theroux). Dengan bantuan sahabat baiknya, Morgan Freeman (Kate McKinnon), Audrey Stockton akhirnya memutuskan untuk segera melupakan Drew Thayer guna dapat melanjutkan kehidupannya. Sialnya, sebelum Audrey Stockton dapat melakukannya, ia didatangi oleh dua pria yang mengaku sebagai agen rahasia Central Intelligence Agency, Sebastian Henshaw (Sam Heughan) dan Duffer (Hasan Minhaj), dan mengungkapkan bahwa Drew Thayer juga merupakan seorang agen rahasia serta keberadaannya sedang dicari karena dirinya menyimpan sebuah benda penting. Tidak disangka, benda rahasia yang disimpan oleh Drew Thayer tersebut tidak hanya dicari oleh kedua agen rahasia tersebut. Beberapa pihak yang berasal dari organisasi kriminal dunia juga turut mencari benda tersebut dan kini malah menjadikan Audrey Stockton sebagai sasaran mereka. Continue reading Review: The Spy Who Dumped Me (2018)

Review: Si Doel the Movie (2018)

Anak Betawiketinggalan zamankatenye…”

Dengan mengambil inspirasi dari film Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaja, 1972) – yang sendirinya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Aman Datuk Majoindo – Si Doel Anak Sekolahan merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Tayang perdana pada tahun 1994 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang berkisah mengenai sebuah keluarga Betawi yang terus mempertahankan nilai-nilai tradisional kehidupan meskipun di tengah gempuran arus modernisasi akibat perkembangan zaman tersebut mampu terus mengudara selama lebih dari sepuluh tahun dan memberikan banyak pengaruh pada budaya pop Indonesia serta deretan serial televisi lain yang muncul setelahnya. Continue reading Review: Si Doel the Movie (2018)

Review: Kafir (2018)

Tahun lalu, Joko Anwar memberikan “kuliah singkat” kepada para pembuat film horor Indonesia modern bagaimana cara untuk menggarap sebuah horor yang efektif meskipun dengan menggunakan premis cerita yang sebenarnya telah banyak diangkat oleh film-film horor sebelumnya. Pengabdi Setan arahan Anwar, yang merupakan versi teranyar dari film horor legendaris berjudul sama garapan Sisworo Gautama Putra, lantas berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film, mendapatkan 13 nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2017 – termasuk nominasi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, sekaligus memberikan Anwar kesuksesan komersial perdananya ketika Pengabdi Setan kemudian ditonton lebih dari empat juta penonton yang menjadikannya sebagai film horor Indonesia tersukses sepanjang masa hingga saat ini. Jelas sebuah standar kesuksesan baru – baik dari segi kualitas maupun dari segi komersial – bagi film-film horor Indonesia yang hadir setelahnya. Continue reading Review: Kafir (2018)

Review: Brother of the Year (2018)

Menyusul kesuksesan Bad Genius (Nattawut Poonpiriya, 2017) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga menjadi film Thailand yang dirilis secara internasional tersukses sepanjang masa – rumah produksi GDH 559 merilis film terbarunya yang berjudul Brother of the Year. Diarahkan oleh Witthaya Thongyooyong (The Little Comedian, 2010) dan dibintangi oleh Sunny Suwanmethanont, Urassaya Sperbund, dan Nichkhun Horvejkul – yang sebelumnya mungkin lebih dikenal sebagai anggota boyband asal Korea Selatan, 2PM, Brother of the Year berkisah mengenai hubungan pasangan kakak beradik yang kemudian merenggang setelah sang adik menjalin hubungan romansa dengan rekan kerjanya. Terdengar sederhana namun GDH 559, sekali lagi, mampu mengemasnya menjadi sebuah sajian cerita yang drama komedi yang unik dan cukup menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Brother of the Year (2018)

Review: Adrift (2018)

Diadaptasi dari buku berjudul Red Sky in Mourning: A True Story of Love, Loss, and Survival at Sea, Adrift bercerita mengenai kisah nyata dari pasangan kekasih, Tami Oldham (Shailene Woodley) dan Richard Sharp (Sam Claflin), yang melakukan perjalanan laut sepanjang 6.500 kilometer dari Tahiti ke San Diego, Amerika Serikat untuk menghantarkan sebuah kapal yang dimiliki oleh teman mereka. Sial, dalam perjalanan yang berlangsung pada tahun 1983 tersebut, keduanya terjebak dalam Badai Raymond yang kemudian merusak kapal, memberikan luka yang cukup parah, dan membuat mereka terombang-ambing di lautan luas selama 41 hari. Dengan minimnya harapan untuk datangnya kapal yang dapat menyelamatkan mereka, Tami Oldham dan Richard Sharp harus berusaha bertahan hidup dengan sisa makanan yang masih dapat ditemukan di kapal mereka sekaligus menyusun rencana untuk dapat menemukan daratan. Continue reading Review: Adrift (2018)

Review: Teen Titans Go! To the Movies (2018)

Diadaptasi dari serial televisi animasi popular berjudul Teen Titans Go! yang telah tayang di jaringan televisi Cartoon Network semenjak tahun 2013 – yang sendirinya merupakan adaptasi dari seri komik rilisan DC Comics yang berjudul Teen Titans, Teen Titans Go! To the Movies berkisah mengenai lima orang pahlawan super  remaja, Robin (Scott Menville), Beast Boy (Greg Cipes), Cyborg (Khary Payton), Raven (Tara Strong), dan Starfire (Hynden Walch), yang merasa bahwa keberadaan mereka sebagai sosok pembela kebenaran sering dipandang sebelah mata. Agar kehadiran mereka dianggap serius – dan kehidupan mereka lantas akan diadaptasi menjadi sebuah film oleh Hollywood, Teen Titans beranggapan mereka harus berhadapan dengan sosok musuh tangguh yang dapat mereka kalahkan bersama. Keinginan tersebut terpenuhi ketika mereka menghadapi Slade (Will Arnett) yang sedang berusaha untuk mencuri sebuah kristal berkekuatan super. Sial, Slade bukanlah seorang penjahat yang mudah untuk dikalahkan begitu saja. Dengan berbagai trik yang dimilikinya, Slade berhasil terus menghindar dari kejaran Teen Titans. Bahkan, secara perlahan, Slade mampu menanamkan benih perpecahan pada kelompok pahlawan super remaja tersebut. Continue reading Review: Teen Titans Go! To the Movies (2018)

Review: Mission: Impossible – Fallout (2018)

Kembali diarahkan oleh sutradara Mission: Impossible – Rogue Nation (2015), Christopher McQuarrie – yang menjadikan McQuarrie sebagai sutradara pertama yang mengarahkan dua film bagi seri Mission: Impossible, Mission: Impossible – Fallout memiliki latar belakang waktu pengisahan dua tahun semenjak berakhirnya konflik yang dikisahkan pada seri sebelumnya. Kini, kelompok kriminal The Syndicate pimpinan Solomon Lane (Sean Harris) yang telah ditangkap oleh Ethan Hunt (Tom Cruise) dan rekan-rekan agen rahasia Impossible Missions Force-nya berevolusi menjadi sebuah kelompok teroris yang menyebut dirinya sebagai The Apostles. Kelompok teroris tersebut kemudian berhasil mencuri seperangkat senjata nuklir yang mereka rencanakan akan digunakan jika Ethan Hunt tidak mengembalikan Solomon Lane kepada mereka. Jelas bukan sebuah permintaan yang akan diikuti oleh Ethan Hunt dan pihak Impossible Missions Force begitu saja. Bersama dengan dua rekan kepercayaannya, Luther Stickell (Ving Rhames) dan Benjamin Dunn (Simon Pegg), serta seorang agen rahasia Central Intelligence Agency, August Walker (Henry Cavill), yang ditugaskan untuk mengawasi kinerja mereka, Ethan Hunt mulai menyusuri jejak keberadaan The Apostles untuk dapat menemukan kembali senjata nuklir yang telah mereka curi sekaligus melenyapkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut. Continue reading Review: Mission: Impossible – Fallout (2018)

Review: Animal World (2018)

Film terbaru arahan sutradara berkewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok, Han Yan (Go Away Mr. Tumour, 2015), yang berjudul Animal World bukanlah film pertama yang diadaptasi dari seri komik popular, Ultimate Survivor Kaiji. Memuat kisah tentang seni berjudi, seri komik yang ditulis dan diilustrasikan oleh Nobuyuki Fukumoto tersebut sebelumnya telah diadaptasi menjadi dua film live-action berjudul Kaiji: The Ultimate Gambler (2009) dan Kaiji 2 (2011) yang diarahkan oleh sutradara asal Jepang, Tōya Satō. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Han, Animal World sebenarnya menawarkan sebuah sajian petualangan yang mampu menghadirkan cukup banyak momen menegangkan sekaligus menyenangkan dalam pengisahannya. Sayangnya, kehadiran terlalu banyaknya konflik lantas menjebak pengarahan Han yang kemudian membuat elemen-elemen cerita Animal World gagal mengembang secara merata. Continue reading Review: Animal World (2018)

Review: 22 Menit (2018)

Dibuat sebagai salah satu bentuk kampanye Kepolisian Republik Indonesia untuk melawan aksi terorisme, film arahan Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah, 2012) yang juga menjadi debut pengarahan bagi Myrna Paramita Pohan, 22 Menit, bercerita mengenai serangan Bom Thamrin yang terjadi di Jakarta pada 14 Januari 2016 lalu. Jalan ceritanya sendiri mengambil sudut pandang dari beberapa karakter yang terlibat dalam tragedi tersebut, mulai dari pelaku, korban, hingga pihak kepolisian yang kemudian menangani dan berhasil meringkus pelaku dalam jangka waktu 22 menit. Sebuah propaganda? Mungkin saja. Namun tidak dapat disangkal bahwa Panji dan Pohan mampu menggarap film ini menjadi sebuah sajian thriller yang cukup efektif. Continue reading Review: 22 Menit (2018)

Advertisements

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar