Review: Mariposa (2020)

Menyusul sukses besar Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019), Angga Yunanda dan Adhisty Zara kembali tampil bersama dalam Mariposa – sebuah film drama romansa remaja arahan Fajar Bustomi (Milea: Suara dari Dilan, 2020) yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio (Twivortiare, 2019), Mariposa berkisah tentang berbagai usaha yang dilakukan Acha (Zara) untuk mendekati Iqbal (Yunanda). Kesempatan Acha untuk merebut hati pemuda yang di sekolahnya dikenal sebagai sosok tampan, pintar, namun dapat bersikap begitu dingin tersebut mulai terbuka lebar setelah Acha bersama dengan Iqbal dipilih untuk mewakili sekolah mereka untuk bertanding di sebuah olimpiade sains tingkat nasional. Sayang, walaupun telah melakukan berbagai cara agar Iqbal mau menjadikannya sebagai seorang pacar, Iqbal – yang telah bertekad untuk selalu fokus pada kegiatan dan pelajaran sekolahnya – ternyata tetap tak bergeming. Namun, Acha tidak mau menyerah begitu saja. Bagi Acha, jika hati Iqbal adalah sebuah batu, maka dirinya siap menjadi air yang menetes setiap waktu hingga batu tersebut akhirnya rapuh dan luluh. Continue reading Review: Mariposa (2020)

Review: Onward (2020)

Merupakan film animasi ke-22 yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan menjadi film dengan alur pengisahan orisinal pertama yang dirilis oleh rumah produksi milik The Walt Disney Studios tersebut semenjak Coco (Lee Unkrich, 2017), Onward bercerita mengenai sebuah dunia fantastis dimana magis pernah menjadi elemen krusial dalam kehidupan dan makhluk-makhluk mitologis menjalani keseharian mereka layaknya umat manusia di dunia nyata. Dalam dunia tersebut, dua kakak beradik, Barley (Chris Pratt) dan Ian Lightfoot (Tom Holland), baru saja mengetahui bahwa mereka dapat menghabiskan waktu selama sehari bersama dengan ayah mereka yang telah meninggal dunia dengan bantuan sebuah tongkat sihir, batu permata, dan mantra yang sang ayah berikan kepada ibu mereka, Laurel Lightfoot (Julia Louis-Dreyfus). Sebuah kesempatan yang jelas tidak akan dilewatkan oleh keduanya – khususnya Ian Lightfoot yang seumur hidup belum pernah bertemu dengan ayahnya. Namun, karena belum pernah sama sekali terlibat dalam hal-hal magis, Barley dan Ian Lightfoot gagal untuk memunculkan sosok sang ayah. Tidak mau menyerah, keduanya kemudian memulai perjalanan untuk menemukan sebuah batu permata lain yang dapat membantu kelancaran pembacaan mantra yang dapat membawa ayah mereka untuk hidup sehari lagi. Continue reading Review: Onward (2020)

Review: Guns Akimbo (2020)

Perjalanan karir Daniel Radcliffe dalam mengumpulkan peran-peran eksentrik nan menantang kembali berlanjut dalam Guns Akimbo. Jika Horns (Alexandre Aja, 2014) menghadirkan Radcliffe sebagai sosok pria yang memiliki tanduk dan Swiss Army Man (Daniel Scheinert, Daniel Kwan, 2016) menjadikan Radcliffe sebagai mayat hidup yang gemar kentut, maka Guns Akimbo menampilkan Radcliffe untuk berperan sebagai Miles, seorang pemuda yang aktif menggunakan internet namun menemukan dirinya dalam bahaya ketika komentar-komentar yang diberikannya di dunia maya kemudian mengundang kematian. Tidak senang dengan komentar-komentar keras yang diberikan Miles, sekelompok orang asing lantas menculiknya, membaut dua buah senjata api di genggaman tangannya, dan membuat Miles harus bertarung melawan Nix (Samara Weaving) yang merupakan seorang petarung tak terkalahkan dalam sebuah permainan mematikan yang disiarkan langsung di internet bernama Skizm. Jelas, Miles harus segera beradaptasi dengan berbagai kesialan yang baru saja menimpa dirinya untuk dapat melarikan diri dari kejaran Nix dan menyelamatkan nyawanya. Continue reading Review: Guns Akimbo (2020)

Review: Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020)

Do we really (like really, really) need a sequel to Sebelum Iblis Menjemput (2018)? Tentu, film arahan Timo Tjahjanto tersebut mampu mengumpulkan lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa perilisannya. Namun, bangunan cerita yang dibentuk oleh Tjahjanto bagi Sebelum Iblis Menjemput sebenarnya tidak menyimpan cukup banyak ruang untuk mendapatkan pengembangan lanjutan dan dapat diakhiri begitu saja. But, anyway, here we are. Dalam sekuel film yang berjudul Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, Tjahjanto menyeret dua karakter dari film pendahulu ke sebuah konflik yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar membutuhkan kehadiran mereka. Mendengar apa yang terjadi pada kakak beradik, Alfie (Chelsea Islan) dan Nara (Hadijah Shahab), sekelompok sahabat, Laksmi (Shareefa Daanish), Jenar (Lutesha), Martha (Karina Salim), Leo (Arya Vasco), Gadis (Widika Sidmore), dan Budi (Baskara Mahendra) lantas memberanikan diri untuk meminta bantuan Alfie untuk membantu mereka atas permasalahan serupa yang juga sedang mereka alami. Awalnya, tentu saja, Alfie menolak permintaan tersebut. Namun, guna menghindari resiko alur kisah Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 berakhir hanya dalam 30 menit, Alfie lantas memutuskan untuk memberikan bantuan pada enam orang yang sama-sama pernah menghabiskan masa kecil mereka di sebuah panti asuhan tersebut. Continue reading Review: Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 (2020)

Review: #TemanTapiMenikah2 (2020)

#TemanTapiMenikah (Rako Prijanto, 2018) adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Meskipun digarap dengan formula yang telah begitu familiar, namun naskah cerita yang cukup berwarna, arahan Prijanto yang membuat filmnya mampu bertutur dengan lancar, serta chemistry hangat dan sangat meyakinkan dari Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla menjadikan #TemanTapiMenikah begitu menyenangkan untuk diikuti kisahnya. Tidak mengejutkan jika film ini kemudian berhasil mengumpulkan 1,6 juta penonton selama masa tayangnya di seluruh layar bioskop Indonesia. Dengan kesuksesan kualitas dan komersial tersebut, juga tidak mengejutkan jika Falcon Pictures kemudian memutuskan untuk menggarap sekuel bagi #TemanTapiMenikah yang, tentunya, akan melanjutkan alur kisah romansa antara karakter Ditto dan Ayu yang diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh pasangan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Hasilnya? Jika #TemanTapiMenikah mengeksplorasi hubungan persahabatan yang tumbuh menjadi hubungan romansa percintaan, maka #TemanTapiMenikah2 memberikan eksplorasi lanjutan tentang bagaimana satu pasangan muda menjalani hari mereka dalam sebuah kehidupan pernikahan yang jelas baru dan masih terasa aneh bagi keduanya. Continue reading Review: #TemanTapiMenikah2 (2020)

Review: The Invisible Man (2020)

Di tahun 2017, menjelang perilisan versi buat ulang dari The Mummy (Alex Kurtzman, 2017) yang dibintangi Tom Cruise, Universal Pictures mengumumkan bahwa pihaknya akan merilis sejumlah film yang nantinya akan mengumpulkan dan mempersatukan versi teranyar dari film-film klasik bertema monster milik studio film tersebut seperti The Invisible Man, Wolf Man, Frankeinstein dan Dracula, untuk nantinya dikisahkan dalam satu semesta penceritaan yang disebut dengan Dark Universe. Universal Pictures bahkan telah mengumumkan keterlibatan sejumlah nama aktor papan atas Hollywood seperti Johnny Depp, Russell Crowe, dan Javier Bardem untuk membintangi film-film dalam semesta pengisahan tersebut. Sial, ketika The Mummy yang digadang menjadi pembuka bagi Dark Universe dirilis, film tersebut tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film namun juga gagal untuk menarik perhatian banyak penonton. Singkat cerita, kerugian finansial yang diperkirakan mencapai US$95 juta akibat kegagalan The Mummy membuat Universal Pictures lalu mengakhiri pengembangan lanjutan Dark Universe serta mengubah secara total strategi pengisahan dan perilisan film-film yang tadinya terkait dalam semesta penceritaan tersebut. Continue reading Review: The Invisible Man (2020)

Review: Sonic the Hedgehog (2020)

Setelah berbagai niatan Hollywood untuk membawa permainan video milik Sega, Sonic the Hedgehog, ke layar lebar yang dimulai semenjak awal 1990an, film adaptasi dari salah satu judul permainan video paling popular di dunia sepanjang masa tersebut akhirnya mendapatkan masa rilisnya oleh Paramount Pictures pada awal tahun 2020. Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Jeff Fowler, Sonic the Hedgehog berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara sesosok makhluk angkasa luar bernama Sonic (Ben Schwartz) dengan seorang manusia bernama Tom Wachowski (James Marsden) yang secara perlahan menumbuhkan benih hubungan persahabatan antara keduanya. Namun, jalinan persahabatan antara Sonic dan Tom Wachowski menemui hambatan ketika seorang ilmuwan yang dikenal dengan nama Dr. Robotnik (Jim Carrey) mengetahui keberadaan Sonic dan kemudian terobsesi untuk menemukannya. Tom Wachowski jelas harus memutar otak untuk mencari cara agar Sonic tetap aman dari incaran Dr. Robotnik. Continue reading Review: Sonic the Hedgehog (2020)

Review: Toko Barang Mantan (2020)

Diarahkan oleh Viva Westi (Koki-koki Cilik 2, 2019) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Milea: Suara dari Dilan, 2020) dan Priesnanda Dwisatria (Rompis, 2018), Toko Barang Mantan berkisah tentang seorang pemuda bernama Tristan (Reza Rahadian) yang rela meninggalkan bangku kuliahnya demi membangun dan mengembangkan usaha Toko Barang Mantan yang ia miliki. Toko yang dimiliki oleh Tristan memang unik. Toko tersebut menerima dan menjual kembali barang-barang milik mereka yang telah ditinggalkan atau merasa kecewa dengan mantan kekasih mereka. Tristan sendiri harus berhadapan kembali dengan kisah romansa dari masa lalu ketika mantan kekasihnya, Laras (Marsha Timothy), datang ke Toko Barang Mantan untuk menghantarkan undangan pernikahannya. Walau berpura-pura tegar di hadapan Laras maupun di hadapan kedua pegawainya, Amel (Dea Panendra) dan Rio (Iedil Dzuhrie Alaudin), pertemuan tersebut membuat Tristan mempertanyakan kembali alasan berakhirnya hubungan romansa yang dahulu terjalin antara dirinya dengan Laras. Continue reading Review: Toko Barang Mantan (2020)

Review: The Call of the Wild (2020)

The Call of the Wild yang menjadi film live-action pertama yang diarahkan sutradara Chris Sanders yang sebelumnya mengarahkan film-film animasi seperti Lilo & Stitch (2000), How to Train Your Dragon (2010), dan The Croods (2013), bukanlah film pertama yang mengadaptasi novel legendaris berjudul sama yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Jack London. Tercatat, novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1903 tersebut telah berulangkali diadaptasi ke berbagai media seperti komik, film televisi, anime, hingga, tentu saja, film. Adaptasi film dari novel The Call of the Wild bahkan sempat dibintangi oleh nama-nama aktor besar Hollywood seperti Clark Gable (1935), Charlton Heston (1972), hingga Rutger Hauer (1997). Fun fact: Adaptasi The Call of the Wild arahan William A. Wellman yang dirilis pada tahun 1935 merupakan film terakhir yang dirilis oleh Twentieth Century Pictures sebelum akhirnya bergabung dengan rumah produksi Fox Film Corporation dan berganti nama menjadi 20th Century Fox. Entah disengaja atau tidak, adaptasi teranyar The Call of the Wild menjadi film pertama yang dirilis oleh 20th Century Studios setelah The Walt Disney Studios membeli 20th Century Fox dan akhirnya mengembalikan nama lama dari rumah produksi tersebut. Continue reading Review: The Call of the Wild (2020)

Review: Brahms: The Boy II (2020)

Brahms? Well… di tengah gempuran horor yang menghadirkan Annabelle atau Chucky sebagai deretan boneka yang memiliki ketertarikan khusus untuk membunuh orang-orang yang berada di sekitarnya, mungkin memang sedikit mudah untuk melupakan sosok Brahms. Dihadirkan pertama kali lewat The Boy (William Brent Bell, 2016), pengisahan yang diberikan bagi karakter Brahms memang bukanlah sebuah presentasi cerita yang benar-benar istimewa. Cenderung medioker yang membuatnya sukar untuk tampil menonjol diantara banyaknya film-film horor buatan Hollywood. Namun, dengan keberhasilan untuk meraih keuntungan komersial sebesar lebih dari US$64 juta dari biaya produksi minimalis yang hanya sebesar US$10 juta, The Boy jelas menjadi sasaran baru bagi Hollywood untuk mengeruk pendapatan dengan mudah. Kengerian teror yang dihadirkan oleh sosok Brahms lantas dilanjutkan Bell lewat Brahms: The Boy II dengan naskah cerita yang masih digarap oleh penulis naskah cerita The Boy, Stacey Menear. Hasilnya? Tidak begitu mengejutkan untuk melihat film ini hadir dengan kualitas tatanan cerita yang tidak terlalu berbeda dari film pendahulunya. Continue reading Review: Brahms: The Boy II (2020)

Review: The Gentlemen (2020)

Digarap dengan nada pengisahan yang setara dengan Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) dan Snatch (2000) yang dahulu begitu berhasil mempopulerkan nama Guy Ritchie kepada banyak penikmat film dunia, The Gentlemen berkisah mengenai seorang pemilik bisnis ganja terbesar di kota London, Inggris, bernama Mickey Pearson (Matthew McConaughey) yang kini berniat untuk pensiun agar dirinya dapat beristirahat dengan tenang bersama sang istri, Rosalind Pearson (Michelle Dockery). Atas keputusannya tersebut, Mickey Pearson lantas menawarkan bisnis ganjanya kepada seorang milyuner asal Amerika Serikat, Matthew Berger (Jeremy Strong), dengan harga sebesar US$400 juta. Di saat yang bersamaan, seorang pimpinan kelompok kriminal yang dikenal dengan sebutan Dry Eye (Henry Golding) juga menawarkan diri untuk membeli bisnis ganja milik Mickey Pearson – sebuah tawaran yang ditolak oleh Mickey Pearson karena dirinya tidak menyukai sosok Dry Eye. Tidak disangka, penolakan Mickey Pearson terhadap Dry Eye menimbulkan berbagai intrik dan gejolak bisnis yang, tentunya, seringkali berujung pada kematian. Continue reading Review: The Gentlemen (2020)

Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)

Well… jika Anda masih merasa belum terpuaskan akan kisah romansa dari pasangan karakter Dilan dan Milea setelah pengisahan Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019), sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq kembali menuturkan kisah cinta antara kedua karakter tersebut lewat Milea: Suara dari Dilan. Diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Baiq, Milea: Suara dari Dilan bertutur mengenai perjalanan cerita cinta antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) namun kini dihadirkan dari sudut pandang karakter Dilan. Semua alur kisah dan konflik yang diceritakan dalam film ini tidak mengalami banyak perubahan yang berarti: Dilan berkenalan dengan Milea; Dilan melancarkan barisan rayuan puitis nan gombalnya; Milea secara perlahan mulai jatuh hati; Dilan dan Milea meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih; berbagai konflik yang terjadi akibat ketidaksukaan Milea pada Dilan sebagai pemimpin geng motor; serta berbagai perbedaan yang lantas membuat Dilan dan Milea akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Masih kisah yang sama. Hanya kali ini penonton ditemani oleh narasi yang dituturkan oleh Ramadhan dengan membuka beberapa sudut pandang baru akan karakter yang ia perankan. Continue reading Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)

Review: Blumhouse’s Fantasy Island (2020)

Merupakan kali kedua Jeff Wadlow mengarahkan film yang diproduksi oleh Blumhouse Productions setelah Blumhouse’s Truth or Dare (2018), Blumhouse’s Fantasy Island bercerita tentang seorang pengusaha, Mr. Roarke (Michael Peña), yang berniat untuk mempromosikan hotel serta pulau yang ia kelola dengan cara mengundang sejumlah orang untuk datang dan menjanjikan bahwa setiap mimpi dan fantasi mereka akan terwujud selama berada di pulau tersebut. Lewat sebuah sayembara, terpilihlah Gwen Olsen (Maggie Q) yang berharap bahwa segala penyesalannya dari masa lalu dapat terhapus; Melanie Cole (Lucy Hale) yang berharap dirinya dapat membalaskan dendam terhadap teman masa sekolahnya, Sloane Maddison (Portia Doubleday), yang selalu melakukan hal-hal buruk kepada dirinya; Patrick Sullivan (Austin Stowell) yang berharap dapat mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang tentara; serta dua bersaudara, JD (Ryan Hansen) dan Brax (Jimmy O. Yang), yang bermimpi untuk menjadi seorang jutawan. Tanpa disangka, berbagai mimpi dan fantasi tersebut dapat terwujud. Namun, di saat yang bersamaan, terwujudnya mimpi dan fantasi tersebut kemudian menghadirkan sebuah konsekuensi yang dapat membahayakan hidup. Continue reading Review: Blumhouse’s Fantasy Island (2020)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar