Review: Ambu (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Farid Dermawan, Ambu berkisah mengenai hubungan antara ibu dan anak yang terjalin antara tiga karakter dari tiga generasi yang berbeda. Dengan latar belakang kehidupan Orang Baduy di Provinsi Banten yang terbiasa mengisolasi diri mereka dari dunia luar, jalan cerita Ambu dimulai ketika hubungan antara Fatma (Laudya Chynthia Bella) dan ibunya, Misnah (Widyawati), merenggang akibat ketidaksetujuan sang ibu akan jalinan asmara yang dibangun Fatma dengan seorang pemuda bernama Nico (Baim Wong) yang berasal dari Jakarta. Fatma lantas memilih untuk meninggalkan sang ibu, menikah dengan Nico dan memulai hidup barunya di Jakarta. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak ia meninggalkan sang ibu dan setelah rumah tangganya dengan Nico berakhir, Fatma memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan membawa puteri tunggalnya yang telah beranjak remaja, Nona (Luthesha). Tidak mengejutkan, kedatangan Fatma dan Nona disambut dingin oleh Misnah. Fatma tidak menyerah begitu saja. Ia ingin Nona untuk tidak mengulangi kesalahannya dan berharap agar ibunya mau menerima kehadiran sang cucu dalam kehidupannya. Continue reading Review: Ambu (2019)

Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Jika John Wick (2014) memperkenalkan penikmat film dunia pada sosok mantan pembunuh bayaran bernama John Wick (Keanu Reeves) yang sedang berduka atas kematian sang istri dan lantas harus kembali melakukan aksi brutalnya setelah sekelompok penjahat secara tidak sengaja membunuh anjing (sekaligus mencuri mobil) kesayangannya dan John Wick: Chapter 2 (2017) berakhir dengan adegan dimana nyawa John Wick menjadi incaran bagi para pembunuh bayaran di seluruh dunia setelah kesalahan fatal yang ia lakukan, maka John Wick: Chapter 3 – Parabellum yang masih diarahkan oleh sutradara dua film John Wick sebelumnya, Chad Stahelski, melanjutkan kisah pelarian John Wick dari para pembunuh bayaran dan anggota kelompok kriminal yang mengincarnya. Pelarian tersebut kemudian membawa John Wick bertemu kembali dengan mantan rekan pembunuh bayarannya, Sofia (Halle Berry), guna meminta informasi mengenai keberadaan pemimpin kelompok kriminal yang telah menjebaknya dalam situasi mematikan tersebut. Di saat yang bersamaan, seorang pembunuh bayaran profesional yang dikenal dengan sebutan Zero (Mark Dacascos) beserta dengan dua muridnya, Shinobi #1 (Yayan Ruhian) dan Shinobi #2 (Cecep Arif Rahman), telah menyiapkan rencana matang untuk menyambut kedatangan John Wick. Continue reading Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Review: Brightburn (2019)

Pernah membayangkan bagaimana jika karakter Clark Kent – yang merupakan sosok bayi yang berasal dari luar angkasa, jatuh ke permukaan Bumi, dan kemudian diadopsi oleh pasangan karakter Jonathan dan Martha Kent – tidak tumbuh dewasa menjadi sosok pahlawan bernama Superman dan justru menggunakan kekuatan supernya untuk berbagai tindakan destruktif dan mematikan? Well… duo penulis naskah, Mark dan Brian Gunn (Journey 2: The Mysterious Island, 2012) mencoba menggambarkan hal tersebut lewat naskah cerita yang mereka tulis untuk Brightburn. Seperti halnya pasangan Jonathan dan Martha Kent, pasangan Kyle (David Denman) dan Tori Breyer (Elizabeth Banks) mendapatkan jawaban atas doa-doa mereka untuk memiliki seorang anak ketika mereka menemukan sesosok bayi laki-laki di belantara hutan yang berada di halaman belakang rumah mereka. Keduanya lantas memutuskan untuk merawat bayi tersebut, merawatnya hingga bayi tersebut tumbuh dewasa menjadi sosok anak laki-laki cerdas bernama Brandon Breyer (Jackson A. Dunn). Sial, seiring dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-12, Brandon Breyer mulai menunjukkan berbagai perubahan sikap yang tidak hanya mengkhawatirkan namun juga mengancam nyawa orang-orang yang berada di sekitarnya. Continue reading Review: Brightburn (2019)

Review: Pokémon Detective Pikachu (2019)

Pokémon Detective Pikachu jelas bukanlah film perdana yang membasiskan kisahnya pada waralaba sukses Pokémon – yang dimulai dari sebuah permainan video dan kemudian diadaptasi menjadi film televisi, film pendek, buku, komik, album musik, serta merchandise yang secara keseluruhan menjadikan Pokémon sebagai salah satu waralaba permainan video terlaris sepanjang masa di dunia. Tercatat, tidak kurang dari 21 film animasi telah diproduksi berdasarkan waralaba permainan video ini dengan film animasi pertama, Pokémon: The First Movie arahan Kunihiko Yuyama, dirilis pada tahun 1998 dan film animasi teranyarnya, Pokémon the Movie: The Power of Us arahan Tetsuo Yajima, dirilis pada tahun 2018 lalu. Pokémon Detective Pikachu merupakan film pertama dalam barisan film yang diadaptasi dari waralaba Pokémon yang diproduksi sebagai sebuah sajian live-action serta digarap oleh rumah produksi yang berasal dari Hollywood. Diarahkan oleh Rob Letterman (Goosebumps, 2015), Pokémon Detective Pikachu akan membawa penontonnya pada sebuah petualangan baru dengan nuansa misteri yang jelas cukup berbeda jika dibandingkan dengan pengisahan yang biasa dihadirkan dalam film-film Pokémon sebelumnya.

Continue reading Review: Pokémon Detective Pikachu (2019)

Review: Long Shot (2019)

Setelah 50/50 (2011) – yang jelas merupakan film terbaik yang pernah ia arahkan hingga saat ini – dan The Night Before (2015), sutradara Jonathan Levine kembali berkolaborasi dengan aktor sekaligus/dan produser, Seth Rogen dan Evan Goldberg, untuk film terbaru arahannya, Long Shot. Merupakan sebuah drama komedi romansa, Long Shot berkisah tentang pertemuan kembali antara seorang jurnalis, Fred Flarsky (Rogen), dengan mantan pengasuhnya, Charlotte Field (Charlize Theron), yang kini telah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan telah berencana untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada pemilihan umum selanjutnya. Berbekal kecerdasannya dalam menulis sekaligus pengalaman personal antara keduanya di masa lampau, Charlotte Field lantas meminta Fred Flarsky untuk ambil bagian menjadi salah satu anggota tim sukses kemenangan kampanye kepresidenannya. Keputusan tersebut ternyata berbuah manis. Secara perlahan, pidato-pidato yang dituliskan Fred Flarsky mampu menambah kepopuleran sekaligus elektabilitas dari Charlotte Field. Tidak berhenti disana, hubungan personal antara Fred Flarsky dan Charlotte Field juga tumbuh semakin dekat – hal yang kemudian dinilai tim sukses Charlotte Field sebagai sesuatu yang akan merusak reputasinya. Continue reading Review: Long Shot (2019)

Review: Sekte (2019)

Setelah mengarahkan beberapa film pendek – termasuk mengarahkan salah satu segmen dalam film omnibus 3Sum (2013), William Chandra melakukan debut pengarahan film panjangnya melalui Sekte. Filmnya sendiri berkisah mengenai seorang gadis (Asmara Abigail) yang kehilangan ingatannya ketika terbangun setelah tidak sadarkan diri akibat kecelakaan yang ia alami. Beruntung, selama masa tidak sadarkan diri tersebut, sang gadis diselamatkan oleh Dewi (Gesata Stella) dan beberapa temannya yang hidup di satu rumah yang menurut Dewi menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang merasa terasingkan oleh dunia. Awalnya, sang gadis merasa aman dan nyaman dengan sikap bersahabat yang ditunjukkan Dewi bersama dengan teman-temannya selama ia dirawat. Namun, secara perlahan, sang gadis mulai merasakan berbagai hal aneh yang terjadi di lingkungan rumah tersebut. Dan ketika sang gadis mulai menyadari bahwa Dewi dan teman-temannya memiliki rahasia kelam yang dapat membahayakan nyawanya, sang gadis mulai mencari cara untuk segera keluar dari rumah tersebut. Continue reading Review: Sekte (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Avengers: Endgame (2019)

Lima tahun setelah Thanos (Josh Brolin) menjentikkan jarinya dan menghapus separuh peradaban manusia dari atas permukaan Bumi – seperti yang dikisahkan pada Avengers: Inifinity War (Anthony Russo, Joe Russo, 2018), para anggota Avengers yang tersisa, Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans), Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson), Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner), dan James Rhodes/War Machine (Don Cheadle), masih berupaya melupakan kepedihan hati mereka atas kekalahan di medan peperangan sekaligus hilangnya orang-orang yang mereka cintai. Di saat yang bersamaan, para anggota Avengers yang tersisa tersebut juga masih terus mencari cara untuk menemukan keberadaan Thanos dan membuatnya memperbaiki segala kerusakan yang telah ia sebabkan ketika menggunakan Infinity Stones. Harapan muncul ketika Scott Lang/Ant-Man (Paul Rudd) yang ternyata selamat dari tragedi yang disebabkan jentikan jari Thanos dan kemudian mendatangi markas Avengers dengan sebuah ide yang dapat menghadapkan kembali para Avengers dengan  musuh besar mereka. Continue reading Review: Avengers: Endgame (2019)

Review: Pocong the Origin (2019)

Selepas kesuksesannya dalam menggarap Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), dan Mendadak Dangdut (2006), sutradara Rudi Soedjarwo lantas menguji kemampuan penyutradaraannya untuk mengarahkan sebuah film horor yang berjudul Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) yang naskah ceritanya ditulis oleh Monty Tiwa. Sayang, film yang awalnya dijadwalkan rilis pada tahun 2006 tersebut batal diputar di layar bioskop Indonesia dikarenakan gagal lulus sensor akibat adanya muatan cerita serta adegan kekerasan yang dinilai terlalu sensitif dan brutal untuk dipresentasikan pada penonton film Indonesia. Walau film seri pertamanya tidak jadi dirilis, sekuel film tersebut, Pocong 2, yang juga masih diarahkan oleh Soedjarwo berdasarkan naskah cerita garapan Tiwa, tetap dirilis di tahun 2006 dan sekuel keduanya, Pocong 3, menyusul rilis setahun kemudian dengan Tiwa mengambil alih posisi sebagai sutradara film. Continue reading Review: Pocong the Origin (2019)

Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Well… jika Anda belum jenuh dengan eksplorasi akan semesta pengisahan The Conjuring, James Wan kembali menghadirkan sebuah bangunan kisah horor baru yang diikutsertakan dalam semesta pengisahan tersebut. Dengan mengambil inspirasi dari salah satu dongeng asal Meksiko yang berkisah tentang sosok supranatural yang dikenal dengan sebutan La Llorona, The Curse of the Weeping Woman memiliki latar belakang waktu penceritaan pada tahun 1970an dengan cerita yang berfokus pada kehidupan seorang ibu yang bekerja sebagai seorang pekerja sosial, Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini), serta kedua anaknya, Chris (Roman Christou) dan Samantha Garcia (Jaynee-Lynne Kinchen). Ketika sedang menangani sebuah kasus kematian dua orang anak, Anna Tate-Garcia baru menyadari bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu kehidupan kedua anaknya. Tidak tinggal diam, Anna Tate-Garcia lantas meminta bantuan pihak gereja untuk membantunya mengusir sosok yang semenjak lama dikenal dengan sebutan La Llorona dan memang gemar menculik para anak-anak manusia untuk dijadikannya sebagai anaknya sendiri. Continue reading Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)

Review: Ave Maryam (2019)

Cinta terlarang mungkin adalah tema pengisahan yang telah terasa begitu familiar. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sutradara Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita, 2011) lewat film terbarunya yang berjudul Ave Maryam, jelas masih ada banyak ruang untuk memberikan berbagai sentuhan baru pada tema cerita yang telah familiar tersebut. Berdasarkan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Ave Maryam berkisah mengenai kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang dalam kesehariannya bertugas untuk merawat para suster sepuh. Suatu hari, sembari membawa seorang suster sepuh baru bernama Suster Monic (Tutie Kirana) untuk dirawat, Romo Martin (Joko Anwar) memperkenalkan Suster Maryam pada Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang direncanakan akan mengajarkan kemampuan bermusiknya di gereja. Berbeda dengan Suster Maryam yang cenderung selalu bersikap kaku, Romo Yosef adalah sosok yang lebih bebas dalam setiap tingkah laku dan perkataannya. Sebuah perbedaan yang secara perlahan mulai menarik hati Suster Maryam. Continue reading Review: Ave Maryam (2019)

Review: Greta (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Neil Jordan (Byzantium, 2013), bersama dengan Ray Wright (The Crazies, 2010), Greta berkisah mengenai pertemuan dan perkenalan yang terjadi antara seorang pramusaji bernama Frances McCullen (Chloë Grace Moretz) dengan seorang guru piano bernama Greta Hideg (Isabelle Huppert) setelah Frances McCullen mengembalikan tas milik Greta Hideg yang tertinggal di kereta yang mereka naiki bersama. Sosok Greta Hideg yang hidup dalam kesendirian setelah kematian sang suami dan ditinggal oleh puterinya yang menuntut ilmu ke luar negeri ternyata menyita perhatian dan simpati Frances McCullen – yang juga baru kehilangan ibu kandungnya dan memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan sang ayah, Chris McCullen (Colm Feore). Hubungan keduanya lantas berkembang menjadi hubungan persahabatan dengan jalinan komunikasi yang terjadi secara intens. Namun, ketika Frances McCullen menemukan sebuah rahasia kelam dari kehidupan Greta Hideg yang dapat membahayakan hidupnya, Frances McCullen sadar bahwa ia harus segera menjauh sekaligus mengakhiri hubungan persahabatan tersebut. Continue reading Review: Greta (2019)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar