Review: Sayap Sayap Patah (2022)


Lebih dari dua dekade semenjak kolaborasi mereka dalam Ada Apa dengan Cinta? (2001) yang melegenda, Nicholas Saputra kembali diarahkan oleh sutradara Rudi Soedjarwo untuk Sayap Sayap Patah. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Monty Tiwa (Madu Murni, 2022), Eric Tiwa (Pocong the Origin, 2019), dan Alim Sudio (Ranah 3 Warna, 2022), film ini mendasarkan alur ceritanya pada kisah nyata peristiwa Kerusuhan Mako Brimob di tahun 2018 dimana para narapidana terorisme yang ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat menguasai tempat penahanan mereka sekaligus menyandera anggota polisi yang bertugas di tempat tersebut selama 36 jam. Premis yang terdengar menegangkan serta menjanjikan banyak presentasi aksi. Tidak terlalu salah, meskipun Sayap Sayap Patah meleburkan sajian aksinya dengan elemen drama yang terasa cukup dominan.

Saputra berperan sebagai Ipda Aji, seorang anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Negara Republik Indonesia yang bersama dengan sejumlah rekannya, Aiptu Aryo (Khiva Iskak), Aipda Ridwan (Revaldo), dan Aipda Kuntadi (Gibran Marten), sedang bertugas untuk memberantas pelaku terorisme di Surabaya, Jawa Timur. Target mereka adalah Leong (Iwa K), sosok yang dianggap memiliki pengaruh kuat untuk merekrut banyak teroris baru. Dedikasi yang tinggi terhadap tugas yang sedang diemban membuat Ipda Aji sering melewatkan waktu untuk menemani sang istri, Nani (Ariel Tatum), yang sedang berada dalam kondisi hamil tua. Nani sebenarnya telah berusaha untuk memahami posisi dan kewajiban dari sang suami. Tetap saja, ketidakhadiran Ipda Aji dalam keseharian Nani membuat hubungan mereka sering terasa merenggang. Kepanikan melanda hubungan Ipda Aji dan Nani ketika salah seorang kaki tangan Leong melakukan serangan di kantor tempat Ipda Aji bertugas.

Pilihan untuk melandasi kisah terjadinya kerusuhan besar yang jelas akan dipenuhi adegan-adegan kekacauan serta kekerasan dengan elemen drama harus diakui mampu menjadikan Sayap Sayap Patah sebagai sajian dengan kedalaman cerita yang terasa humanis. Soedjarwo beserta dengan barisan penulis naskah filmnya memberikan ruang yang cukup leluasa bagi dua linimasa cerita utama – alur kisah hubungan romansa yang terjalin antara karakter Ipda Aji dengan karakter Nani serta alur tentang terorisme – untuk sama-sama berkembang sebelum akhirnya saling “bertubrukan” di paruh akhir cerita film. Pengembangan yang cukup mumpuni bagi setiap karakter yang hadir juga menghindarkan kesan glorifikasi (baca: propaganda) yang berlebihan bagi kisah yang bertautan dengan elemen kepolisian di sepanjang penuturan film. Terasa jauh dari kesan karikatural karena setiap karakter yang hadir mampu diberikan dukungan plot pengisahan yang, setidaknya, dapat meninggalkan kesan tersendiri bagi tema utama yang dibawakan film ini.

Penuturan Sayap Sayap Patah sendiri bukannya hadir tanpa kendala. Meskipun dihidupkan dengan sangat baik oleh Saputra dan Tatum, plot akan bentrokan antara dunia kerja dengan kehidupan rumah tangga yang dijalani oleh kedua karakter yang mereka perankan seringkali berkesan stagnan dan monoton – khususnya ketika dibandingkan dengan plot tentang penyelidikan kasus terorisme yang terus bergerak dinamis dalam pengisahannya. Sebagai film yang memiliki nilai kampanye anti terorisme, Sayap Sayap Patah juga terasa terlalu menahan diri untuk memberikan galian karakter yang lebih mendalam bagi sejumlah karakter yang digambarkan terlibat dalam aksi terorisme yang ingin dituturkannya. Mungkin film ini ingin bermain aman tanpa melibatkan senggolan terhadap sejumlah kelompok tertentu. Namun, di saat yang bersamaan, minimalisnya galian karakter atau latar kisah yang diberikan pada karakter-karakter seperti Leong, Murod (Edward Akbar), atau Rosyid (Aden Bajaj) membuat plot terorisme yang melibatkan mereka menjadi tidak setajam yang seharusnya.

Terlepas dari sejumlah permasalahan tersebut, harus diakui Sayap Sayap Patah adalah presentasi drama aksi yang mumpuni berkat kelihaian pengarahan Soedjarwo. Ritme penuturan yang mampu bergerak secara lancar dalam menyeimbangkan dua elemen kisah yang dibawakan alur ceritanya membuat film ini mampu secara perlahan mengikat perhatian sekaligus memberikan sentuhan emosional. Soedjarwo juga mendapatkan dukungan yang solid dari penampilan para pengisi departemen akting filmnya. Chemistry antara Saputra dan Tatum memang diberikan sorotan utama namun penampilan-penampilan yang diberikan oleh jajaran pemeran pendukung seperti Iwa K, Poppy Sovia, Nugie, dan Aden Bajaj juga menjadikan presentasi cerita Sayap Sayap Patah terasa begitu berkelas.

popcornpopcornpopcornpopcorn-half popcorn2

sayap-sayap-patah-nicholas-saputra-movie-posterSayap Sayap Patah (2022)

Directed by Rudi Soedjarwo Produced by Yoen K. Written by Monty Tiwa, Eric Tiwa, Alim Sudio Starring Nicholas Saputra, Ariel Tatum, Poppy Sovia, Iwa K, Nugie, Dewi Irawan, Ariyo Wahab, Khiva Iskak, Edward Akbar, Aden Bajaj, Revaldo, Gibran Marten, Asri Welas, Royhan Hidayat, Agla Artalidia, Volland Humonggio, Laras Ardhia, Fajar Gomez, Arief Nilman, Achmad Ali Sukarno, Iboy As, Saad Afero, Chika Audhika, Josephine Putri Music by Andi Rianto Cinematography Arfian Edited by Wawan I. Wibowo Production company Denny Siregar Production/Maxima Pictures Running time 110 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Sayap Sayap Patah (2022)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s