Tag Archives: Stanley Tucci

Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Yes. It’s Transformers bish! Mahakarya garapan Michael Bay yang telah menemani penikmat film dunia selama sepuluh tahun terakhir ini kembali hadir dengan seri terbarunya, Transformers: The Last Knight. Tentu saja, bagi sebagian penonton, memori mereka akan sebuah film Transformers diisi dengan deretan adegan kekacauan yang melibatkan banyak robot yang seringkali sukar untuk diidentifikasi, karakter-karakter manusia dengan pengisahan yang terbatas serta sosok wanita dengan penampilan fisik yang cukup memanjakan mata. Namun, bagi sebagian penonton lainnya, Transformers merupakan seri film yang secara konsisten menghadirkan sajian aksi yang memikat dengan bantuan tata efek visual yang begitu memukau – walau mereka tetap tidak akan mampu membantah lemahnya kualitas penulisan naskah cerita dalam setiap seri film ini. Lalu bagaimana dengan seri kelima – dan dikabarkan akan menjadi seri terakhir Transformers di bawah pengarahan Bay – ini? Apakah akan mampu mengubah pendapat mereka yang terlanjur merasa antipati dengan seri film ini? Continue reading Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Advertisements

Review: Beauty and the Beast (2017)

Film animasi produksi Walt Disney Pictures, Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991), jelas merupakan salah satu film animasi terpopular sepanjang masa. Dengan jalinan cerita serta karakter-karakter yang kuat plus deretan lagu-lagu garapan Alan Menken dan Howard Ashman yang begitu memikat, film yang juga berhasil mencatatkan sejarah sebagai film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang Academy Awards – bahkan disaat nominasi Best Picture hanya dapat diisi oleh lima film(!) – tersebut mampu menjadi film favorit banyak penikmat film dunia hingga saat ini. Dengan status tersebut, tidak mengherankan bila kemudian keputusan Walt Disney Pictures untuk memproduksi ulangbuat Beauty and the Beast dalam versi live action – seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya lewat Alice in Wonderland (Tim Burton, 2010), Maleficent (Robert Stromberg, 2014), Cinderella (Kenneth Brannagh, 2015) dan The Jungle Book (Jon Favreau, 2016) – menerima cukup banyak kritikan tajam dari beberapa pihak. Namun, Walt Disney Pictures juga tidak akan begitu saja merusak salah satu karya terbaik mereka. Kembali bekerjasama dengan Menken untuk mengkomposisi deretan musik yang mengiringi perjalanan cinta antara Si Cantik dan Si Buruk Rupa serta menempatkan Bill Condon (Dreamgirls, 2006) untuk duduk di kursi penyutradaraan, Walt Disney Pictures jelas berusaha keras agar filmnya mampu memiliki daya tarik yang sama kuat dengan film pendahulunya. Berhasil? Continue reading Review: Beauty and the Beast (2017)

Review: Wild Card (2015)

wild-card-posterLet’s be honest. Meskipun para produser meletakkan nama-nama besar seperti Stanley Tucci, Milo Ventimiglia, Hope Davis, Anne Heche, Jason Alexander dan Sofía Vergara di poster film hingga berusaha membesarkan fakta bahwa naskah film ini dikerjakan oleh William Goldman yang pernah dua kali memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita Butch Cassidy and the Sundance Kid (1969) serta All the President’s Men (1976), alasan utama untuk menyaksikan Wild Card jelas adalah untuk menyaksikan penampilan Jason Statham. Well… Jason Statham dan aksinya yang membabi buta dalam menghancurkan setiap lawan yang dihadapinya. Lalu apakah Wild Card mampu memenuhi ekspektasi itu? Tentu saja!

Berada di bawah arahan Simon West untuk ketiga kalinya setelah The Mechanic (2011) dan The Expendables 2 (2012), Statham lagi-lagi berperan sebagai sosok pria tangguh yang memiliki talenta mampu berkelahi dengan berbagai perlengkapan yang ada di sekitar dirinya – tangan, kaki, senjata api, potongan kayu hingga sendok dan garpu. West dan Statham mampu menggarap setiap adegan aksi dalam Wild Card hadir dengan balutan tata koreografi aksi yang mengagumkan. Bagian terburuknya? Hanya ada tiga adegan aksi dalam film ini. Yep. Tiga adegan aksi yang masing-masing berdurasi kurang lebih dua menit dalam film yang secara keseluruhan berdurasi 92 menit. Cukup mengecewakan, khususnya jika Anda memang menyaksikan film ini hanya untuk menanti adegan aksi Statham.

Namun, terlepas dari berbagai ekspektasi tersebut, film yang diadaptasi Goldman dari novelnya sendiri yang berjudul Heat – dan sebelumnya telah pernah diangkat ke layar lebar dengan judul Heat (1986) yang dibintangi Burt Reynolds – Wild Card harus diakui tidak mampu menawarkan penceritaan menarik apapun kepada penontonnya. Jalan cerita Wild Card yang secara garis besar menghadirkan tiga plot cerita – hubungan karakter Nick Wild (Statham) dengan temannya Holly (Dominik Garcia-Lorido) yang kemudian menyebabkan permasalahan dengan seorang pemimpin mafia, Danny DeMarco (Milo Ventimiglia), tugas Nick dalam mengawal seorang milyuner muda, Cyrus Kinnick (Michael Angarano), serta masalah pribadi Nick yang kecanduan judi – gagal untuk dipresentasikan dengan baik. Setiap permasalahan dihadirkan begitu datar dengan tanpa adanya pendalaman kisah maupun karakter yang berarti. Hadir dan berlalu begitu saja.

Kedangkalan itulah yang menyebabkan kehadiran Tucci, Ventimiglia, Davis, Heche, Alexander dan Vergara sama sekali tidak berarti di film ini – plus karakter mereka juga hadir dalam durasi yang begitu singkat dan tidak memadai penceritaannya. Statham sendiri hadir dalam kapasitas… well… sebagaimana seorang Jason Statham yang dikenal publik umum. Karakter antagonis utama yang diperankan Ventimiglia hadir datar, bahkan seringkali terasa hanya hadir sebagai korban tanpa melakukan perlawanan yang berarti. Michael Angarano yang tampil dalam durasi penceritaan yang cukup banyak mampu mengimbangi penampilan Statham – meskipun chemistry keduanya masih tampil dalam kapasitas yang seadanya. Stanley Tucci justru mampu menunjukkan kelasnya sebagai seorang aktor handal dengan memberikan penampilan akting yang mengesankan meskipun dalam durasi yang begitu singkat. [D]

Wild Card (2015)

Directed by Simon West Produced by Jason Statham, Steve Chasman Written by William Goldman (screenplay), William Goldman (novel, Heat), William Goldman (1986 movie, Heat) Starring Jason Statham, Stanley Tucci, Sofía Vergara, Milo Ventimiglia, Michael Angarano, Anne Heche, Hope Davis, Jason Alexander, Cedric the Entertainer, Max Casella, Chris Browning, Dominik Garcia-Lorido, Arielle B. Brown, Boyana Balta, Lara Grice, Shanna Forrestall, D’arcy Allen, Codie Rimmer, Joshua Braud Music by Dario Marianelli Cinematography Shelly Johnson Edited by Padraic McKinley Production company Current Entertainment/Quad Films/SJ Pictures/Sierra / Affinity Running time 92 minutes Country United States Language English

Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)
Mr. Peabody & Sherman (DreamWorks Animation/Pacific Data Images/Bullwinkle Studios/Classic Media Productions, 2014)

Dengan naskah yang ditulis oleh Craig Wright berdasarkan karakter-karakter yang diambil dari segmen Peabody’s Improbable History dalam serial televisi animasi yang popular di tahun 1960an, The Rocky and Bullwinkle Show, Mr. Peabody & Sherman berkisah mengenai seekor anjing tercerdas di dunia yang dikenal dengan nama Mr. Peabody (Ty Burrell). Kecerdasan Mr. Peabody bukan hanya membuatnya mampu berbicara dan mengerti bahasa yang digunakan oleh manusia namun juga berhasil menjadikannya seorang pengusaha sukses, jutawan, penemu, ilmuwan, ahloi masak yang handal, penerima penghargaan Nobel sekaligus peraih medali Olimpiade. Quite an achievement huh? Suatu hari, Mr. Peabody menemukan seorang bayi yang ditelantarkan oleh kedua orangtuanya. Setelah melalui proses hukum untuk melakukan adopsi, Mr. Peabody mengasuh bayi tersebut, menamakannya Sherman (Max Charles) serta berusaha keras mendidiknya agar menjadi seorang sosok manusia yang cerdas.

Continue reading Review: Mr. Peabody & Sherman (2014)

Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

the-hunger-games-catching-fire-header

Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, dunia dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak mengherankan memang. Selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan  faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

Continue reading Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Review: Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)

percy-jackson-sea-of-monsters-header

Well… selain 20th Century Fox yang berharap untuk mengulang kembali kesuksesan finansial Percy Jackson and the Lightning Thief (2010) – yang berhasil mengumpulkan total pendapatan lebih dari US$226 juta dari bujet produksi yang “hanya” sebesar US$95 juta, sepertinya tidak ada seorangpun yang benar-benar mengharapkan sebuah sekuel untuk film yang diadaptasi dari seri novel popular Percy Jackson and the Olympians karya Rick Riordan ini. But then again… Hollywood sepertinya masih berusaha keras untuk menemukan pengganti franchise Harry Potter yang meraih kesuksesan global di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2001 sampai 2011 yang lalu. Untungnya, meskipun benar-benar terasa medioker, Chris Columbus – yang juga menangani dua seri pertama Harry Potter, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001) dan Harry Potter and the Chambers of Secrets (2002), berhasil mengarahkan Percy Jackson and the Lightning Thief menjadi sebuah sajian yang cukup menghibur, khususnya bagi penonton yang berasal dari kalangan muda. Namun, apa yang akan terjadi pada franchise ini ketika Columbus tidak lagi duduk di kursi penyutradaraan?

Continue reading Review: Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)

Review: The Company You Keep (2012)

the-company-you-keep-header

Perbincangan mengenai dunia politik sepertinya tidak akan dapat dijauhkan dari setiap film yang diarahkan oleh Robert Redford. Setelah sebelumnya merilis Lion for Lambs (2007) dan The Conspirator (2010), kini Redford menghadirkan The Company You Keep, sebuah thriller politik dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Lem Dobbs (Haywire, 2011) dari novel berjudul sama karya Neil Gordon. Menyinggung masalah politik, terorisme hingga perkembangan dunia jurnalisme modern, The Company You Keep jelas memiliki momen-momen dimana film ini mampu tampil sangat meyakinkan dalam ceritanya, khususnya berkat dukungan jajaran pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan baik. Namun sayangnya, seperti yang juga dapat dirasakan pada dua film Redford sebelumnya, The Company You Keep secara perlahan kehilangan intensitas penceritaannya justru di saat-saat film ini membutuhkan kapasitas penceritaan yang lebih kuat – hal yang membuat The Company You Keep kemudian berakhir dengan datar dan terkesan begitu… pointless.

Continue reading Review: The Company You Keep (2012)

Review: Jack the Giant Slayer (2013)

jack_the_giant_slayer_header

Well… Hollywood sepertinya masih belum akan berhenti untuk melakukan interpretasi ulang dari berbagai kisah dongeng klasik dunia. Setelah Alice In Wonderland (2010), dua versi pengisahan terbaru dari Snow White, Mirror Mirror (2012) dan Snow White and the Huntsman (2012), serta Hansel & Gretel: Witch Hunters yang dirilis pada awal tahun, kini giliran dua kisah dongeng asal Inggris, Jack and the Beanstalk serta Jack the Giant Killer, yang dipadukan menjadi sebuah presentasi film berjudul Jack the Giant Slayer dengan Bryan Singer (Superman Returns, 2006) bertugas sebagai sutradaranya. Walau harus diakui bahwa Singer masih mampu memberikan momen-momen menyenangkan melalui penampilan para jajaran pemeran serta penampilan tata visualnya yang berkelas, namun jelas tidak dapat disangkal bahwa Jack the Giant Slayer tampil begitu dangkal dalam penceritaannya yang membuat banyak bagian film ini menjadi terasa sangat membosankan.

Continue reading Review: Jack the Giant Slayer (2013)

Review: Margin Call (2011)

Dalam dunia keuangan, khususnya pada bursa saham, margin call adalah sebuah bentuk peringatan yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan pialang atau otoritas bursa apabila suatu marjin atau jumlah jaminan yang wajib diletakkan oleh seorang investor berada pada titik minimum jumlah marjin yang telah ditetapkan sebelumnya. Terdengar membingungkan? Namun istilah margin call, dan berbagai istilah dunia keuangan lainnya, akan menjadi menu utama yang akan penonton hadapi ketika mereka memilih untuk menyaksikan Margin Call, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar bagi sutradara asal Amerika Serikat, J.C. Chandor. Ketakutan jika film ini akan mengalienasi Anda yang sama sekali tidak familiar dengan istilah dunia saham dan keuangan? Tidak perlu. Chandor memastikan bahwa filmnya hadir dengan bahasa keuangan yang sesederhana mungkin dan dengan dukungan naskah cerita yang mampu dieksekusi dengan begitu rapi akan mampu dinikmati oleh kalangan luas.

Continue reading Review: Margin Call (2011)

Review: The Hunger Games (2012)

Ketika pertama kali kabar bahwa trilogi novel The Hunger Games (2008 – 2010) karya Suzanne Collins akan diadaptasi ke layar lebar, banyak pihak yang mengharapkan bahwa versi film dari trilogi tersebut akan memiliki pengaruh komersial yang sama besarnya dengan versi adaptasi film dari The Twilight Saga (2005 – 2008) karya Stephanie Meyer. Tentu saja, harapan tersebut muncul karena kedua seri novel tersebut sama-sama menghadirkan kisah cinta segitiga yang biasanya dapat dengan mudah menarikj perhatian para penonton muda. Kisah romansa memang menjadi salah satu bagian penting dalam penceritaan The Hunger Games. Namun, kisah romansa tersebut hanyalah salah satu bagian kecil dari tema penceritaan The Hunger Games yang tersusun dari deretan kisah yang lebih kompleks, dewasa dan jauh lebih kelam dari apa yang dapat ditawarkan oleh The Twilight Saga.

Continue reading Review: The Hunger Games (2012)

Review: Captain America: The First Avenger (2011)

Tidak ada satu bagianpun dalam kisah Captain America: The First Avenger yang belum pernah Anda saksikan sebelumnya dalam berbagai versi cerita film-film bertemakan superhero lainnya. Anda dapat memandang hal ini sebagai sebuah usaha untuk mempertahankan kisah tradisional komik Captain America yang bertemakan sikap patriotisme sang karakter utama dalam membela negaranya. Namun, pada banyak bagian, Captain America: The First Avenger terasa bagaikan rangkaian kisah kepahlawanan yang cheesy, begitu mudah ditebak dan gagal dalam menghadirkan sebuah kisah petualangan yang mampu untuk tampil menarik dan berbeda jika disandingkan dengan film-film bertema sama yang akhir-akhir ini banyak diproduksi Hollywood.

Continue reading Review: Captain America: The First Avenger (2011)

Review: Easy A (2010)

This is it, Emma Stone! This is the exact moment that you’ve been waiting for! The real road to stardom! Ya… Emma Stone jelas bukan seorang aktris baru yang ditemukan sutradara Will Gluck untuk membintangi film yang menjadi karya keduanya, Easy A. Sebelumnya, Stone telah menunjukkan bakat yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang aktris dengan bakat komedi yang sangat menyegarkan di Superbad (2007), The House Bunny (2008) dan Zombieland (2009), namun dengan porsi peran yang tidak begitu besar. Namun lewat Easy A, sebuah film drama komedi remaja yang memiliki kualitas cerita yang jauh berada di atas film-film sepantarannya, Emma Stone benar-benar diberikan kesempatan untuk bersinar terang. Dan ia melakukannya dengan baik. Dengan sangat baik!

Continue reading Review: Easy A (2010)

Review: Burlesque (2010)

Burlesque merupakan debut penyutradaraan layar lebar bagi Steven Antin, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai seorang aktor dan sutradara dari beberapa video musik. Selain menjadi seorang sutradara, Antin juga menulis naskah film ini bersama Diablo Cody (Juno, 2008), sebelum akhirnya naskah tersebut mendapatkan revisi dan diedit kembali oleh Susannah Grant (Erin Brockovich, 2000). Sayangnya, meskipun telah ditangani oleh dua penulis naskah kaliber Academy Awards, naskah cerita Burlesque masih menyerupai naskah cerita yang ditulis oleh seorang amatiran: berisi jalan cerita dan karakterisasi yang dangkal serta deretan dialog yang kadang terdengar sangat konyol.

Continue reading Review: Burlesque (2010)