Tag Archives: Reza Rahadian

Review: Abracadabra (2020)

Sutradara Habibie & Ainun (2012), Faozan Rizal, menghadirkan sebuah presentasi cerita yang baru dan cukup berbeda dalam film terbarunya, Abracadabra. Berdasarkan naskah cerita yang juga ditulisnya, Abracadabra berkisah mengenai seorang pesulap ternama bernama Lukman (Reza Rahadian) yang memutuskan untuk mundur dari profesi yang digelutinya selama ini. Dalam pertunjukan terakhirnya, Lukman telah menyusun rencana agar trik sulap yang ia tunjukkan gagal. Trik yang ia tampilkan adalah trik untuk melenyapkan seseorang setelah ia memasuki kotak yang dibawa Lukman. Sebuah trik sulap yang cukup familiar. Abracadabra! Sosok yang dipilih Lukman untuk masuk ke dalam kotak tersebut ternyata benar-benar menghilang. Sialnya, Lukman sendiri tidak mengetahui kemana orang itu pergi atau menghilang serta bagaimana cara mengembalikan keberadaannya. Jelas saja Lukman kemudian menjadi buruan pihak kepolisian yang menuduhnya telah melakukan tindak penculikan orang. Continue reading Review: Abracadabra (2020)

Review: Imperfect (2019)

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Ernest Prakasa bersama dengan Meira Anastasia dari buku karangan Anastasia sendiri yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-Acceptance, Imperfect bertutur tentang rasa tidak percaya diri yang dimiliki oleh seorang gadis bernama Rara (Jessica Mila) akibat postur tubuhnya yang gemuk serta kulitnya yang berwarna gelap. Meskipun telah memiliki Dika (Reza Rahadian) yang dengan sesungguh hati telah begitu mencintainya, rasa rendah diri yang dimiliki Rara tidak pernah menghilang dan secara perlahan mulai mempengaruhi karir dan hubungan sosialnya. Sebuah tamparan keras bagi Rara datang ketika atasannya, Kelvin (Dion Wiyoko), mengungkapkan bahwa satu-satu halangan bagi Rara untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah penampilannya yang sering dianggap tidak pantas untuk menduduki posisi penting di kantornya. Tidak mau dirinya terus disudutkan, Rara akhirnya bertekad untuk mengubah penampilannya secara total. Continue reading Review: Imperfect (2019)

Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Seperti yang dapat diduga, dua film Indonesia terbaik yang dirilis di sepanjang tahun ini, Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) dan Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho, 2018), berhasil mengumpulkan raihan nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2019. Kedua film tersebut sama-sama mampu meraih 12 nominasi, termasuk di kategori Film Cerita Panjang Terbaik serta Noer dan Nugroho akan bersaing untuk memperebutkan gelar Sutradara Terbaik. Selain Dua Garis Biru dan Kucumbu Tubuh Indahku, film Bumi Manusia (2019) yang diarahkan Hanung Bramantyo juga, secara mengejutkan, mampu mengumpulkan jumlah nominasi yang setara. Nama Bramantyo bahkan menggeser beberapa nama sutradara lain yang sebelumnya difavoritkan untuk mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik untuk bersanding bersama Noer, Nugroho, Ravi L. Bharwani (27 Steps of May, 2019) dan Riri Riza (Bebas, 2019) di kategori tersebut. 27 Steps of May dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019) turut melengkapi daftar peraih nominasi Film Cerita Panjang Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Review: Bebas (2019)

Sunny mungkin merupakan salah satu film drama komedi bertema persahabatan terbaik sekaligus paling hangat yang pernah diproduksi oleh industri film Korea Selatan. Dirilis pada tahun 2011, film arahan sutradara Kang Hyeong-cheol tersebut tidak hanya berhasil meraih kesuksesan secara komersial – dengan pendapatan sebesar US$51.1 juta, Sunny merupakan film dengan raihan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2011 dan menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan hingga saat ini – namun juga mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus film serta meraih sembilan nominasi di ajang The 48th Annual Grand Bell Awards dan memenangkan dua diantaranya, Best Director dan Best Editing. Seperti halnya kesuksesan Miss Granny (Hwang Dong-hyuk, 2015) – yang di Indonesia diadaptasi dan dirilis dengan judul Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Sunny lantas diadaptasi menjadi film layar lebar di sejumlah negara lain. Kolaborasi antara produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza yang sebelumnya telah menghasilkan Athirah (2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) dan Kulari ke Pantai (2018) menangani adaptasi Sunny di Indonesia dan merilisnya sebagai Bebas. Continue reading Review: Bebas (2019)

Review: Twivortiare (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015), bersama dengan penulis naskah Alim Sudio (Makmum, 2019) berdasarkan novel Divortiare dan Twivortiare karya Ika Natassa, Twivortiare adalah romansa yang berkisah tentang kehidupan percintaan dari pasangan Beno Wicaksono (Reza Rahadian) dan Alexandra Rhea (Raihaanun). Dua tahun setelah pernikahan mereka, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea memutuskan untuk bercerai setelah merasa lelah dengan berbagai konflik dan pertengkaran yang terus mewarnai keseharian mereka. Perceraian ternyata tidak lantas menghilangkan rasa cinta, sayang, maupun kekaguman yang terbentuk antara keduanya. Secara perlahan, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea berusaha belajar lagi tentang satu sama lain yang kemudian berlanjut dengan pernikahan kembali antara kedua pasangan muda tersebut. Mencoba menjadi dewasa dan berusaha untuk saling mengerti memang bukanlah sikap yang mudah dilakukan. Dalam pernikahan keduanya, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea masih saja menemukan berbagai konflik dan rintangan yang coba menghalangi perjalanan hubungan mereka. Continue reading Review: Twivortiare (2019)

Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Tiga tahun setelah kesuksesan film perdananya – yang berhasil meraih lebih dari tiga juta penonton selama masa penayangannya – Falcon Pictures merilis sekuel bagi My Stupid Boss, My Stupid Boss 2. Masih diarahkan oleh Upi (My Generation, 2017) berdasarkan naskah cerita yang masih diadaptasi dari seri buku berjudul sama karangan Chaos@work, My Stupid Boss 2 melanjutkan cerita akan pengalaman buruk dari Diana (Bunga Citra Lestari) dan rekan-rekannya, Mr. Kho (Chew Kinwah), Norahsikin (Atikah Suhaime), Adrian (Iedil Putra), dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen), ketika bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang lebih dikenal dengan sebutan Bossman (Reza Rahadian). Kali ini, akibat semakin banyaknya pekerja perusahaan yang mengundurkan diri akibat tidak nyaman dengan banyak peraturan semena-mena dari Bossman, Bossman kemudian mengajak Diana, Mr. Kho, dan Adrian untuk mencari pekerja dengan upah murah di Vietnam. Seperti yang dapat diduga, perilaku tidak menyenangkan dari Bossman kembali menyebabkan mereka terjebak dalam berbagai masalah. Sementara itu, Norahsikin dan Azahari yang ditugaskan untuk tetap bertugas di kantor juga harus menghadapi masalah ketika sekumpulan preman mendatangi kantor untuk menagih hutang yang dimiliki oleh Bossman. Continue reading Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Review: The Gift (2018)

Hanung Bramantyo jelas merupakan salah seorang sutradara paling aktif di industri film Indonesia. Lihat saja setahun belakangan. Tidak kurang dari lima film Indonesia yang berasal dari berbagai genre berhasil ia arahkan – mulai dari Kartini (2017) yang kembali memberikannya nominasi Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia, Jomblo (2017) yang merupakan versi buat ulang dari salah satu film terbaiknya yang berjudul sama (2006), Seteru (2017) yang dirilis dan melintas begitu saja dari layar bioskop Indonesia, Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017) yang kembali berhasil menarik banyak penonton namun mendapatkan banyak reaksi negatif dari para kritikus film, hingga Benyamin Biang Kerok (2018) yang tidak hanya kembali mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film namun juga gagal untuk mendapatkan jumlah penonton yang signifikan meskipun telah dipromosikan secara besar-besaran. Kini, Bramantyo kembali hadir dengan film teranyarnya yang berjudul The Gift. Berbeda dengan film-film arahan Bramantyo yang tadi telah disebutkan, The Gift memiliki citarasa pengarahan yang cenderung intim, personal, dan jauh dari kesan komersial. Jelas sebuah pilihan yang cukup menarik dari seorang Bramantyo. Continue reading Review: The Gift (2018)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)

Review: Banda the Dark Forgotten Trail (2017)

Pada abad pertengahan, Kepulauan Banda – sebuah kumpulan pulau vulkanis yang tersebar di wilayah Laut Banda dan kini berada di bawah pemerintahan daerah Provinsi Maluku, Republik Indonesia – memiliki peran yang krusial bagi pergerakan ekonomi dunia. Di masa tersebut, rempah-rempah menjadi komoditas yang bahkan lebih berharga dari emas dan Kepulauan Banda – yang merupakan satu-satunya tempat dimana pohon-pohon penghasil buah pala dapat tumbuh – adalah surga yang dicari, diburu dan diperebutkan setiap orang. Di saat yang bersamaan, surga tersebut secara perlahan menjadi neraka bagi para penghuni asli Kepulauan Banda ketika rumah yang telah mereka tempati sepanjang hayat kemudian dipenuhi oleh ketamakan yang turut menyertai kedatangan bangsa-bangsa pendatang. Film dokumenter arahan Jay Subyakto, Banda the Dark Forgotten Trail, berusaha memaparkan sejarah panjang (dan kelam) dari Kepulauan Banda dari era keemasannya hingga sekarang – ketika nama kepulauan tersebut dan buah pala yang dihasilkannya hampir dilupakan dunia. Continue reading Review: Banda the Dark Forgotten Trail (2017)

Review: Insya Allah Sah (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015) berdasarkan buku yang berjudul sama karya Achi TM, Insya Allah Sah berkisah tentang pertemuan yang tidak disengaja antara Silvi (Titi Kamal) dengan Raka (Pandji Pragiwaksono) ketika mereka terjebak di dalam sebuah lift yang sedang bermasalah. Dalam kepanikannya, Silvi lantas bernazar bahwa jika ia dapat keluar dengan selamat maka ia akan berubah menjadi sosok muslimah yang lebih taat akan aturan dan perintah Tuhan. Tidak lama setelah ia mengucapkan nazar tersebut, pintu lift pun terbuka dan Silvi dapat bertemu kembali dengan kekasihnya, Dion (Richard Kyle). Kejadian tersebut bahkan mendorong Dion untuk segera melamar Silvi. Tanpa disangka-sangka, Raka, seorang sosok pemuda yang lugu dan religius, kemudian menghubungi Silvi dan terus mengingatkannya akan nazar yang telah ia ucapkan. Dorongan Raka agar Silvi segera menjalankan nazarnya secara perlahan mulai mengganggu kehidupan Silvi dan rencana pernikahannya dengan Dion. Continue reading Review: Insya Allah Sah (2017)

Review: Critical Eleven (2017)

Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures. Continue reading Review: Critical Eleven (2017)

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

guru-bangsa-tjokroaminoto-posterMembuat sebuah film biopik jelas bukanlah sebuah perkara mudah. Masalah terbesar? Lupakan bagaimana cara untuk menemukan pemeran yang tepat – dan, ada baiknya, memiliki karakteristik fisik yang serupa – untuk memerankan karakter tersebut. Yes. It sure is a big problem. Namun menyajikan rangkuman perjalanan panjang kehidupan satu karakter dalam sebuah alur penceritaan dengan sebuah batasan waktu jelas adalah masalah yang lebih pelik. Masalah itulah yang seringkali menghantui banyak film biopik – buatan lokal maupun internasional, tidak terkecuali pada film biopik terbaru garapan Garin Nugroho mengenai salah satu tokoh pelopor pergerakan Indonesia, Oemar Said Tjokroaminoto, yang berjudul Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Naskah cerita Guru Bangsa Tjokroaminoto yang digarap oleh Ari Syarif dan Erik Supit berdasarkan ide cerita yang mereka kembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho dan Kemal Pasha Hidayat sendiri sebenarnya telah membatasi perjalanan film ini untuk hanya meliputi masa perjuangan Oemar Said Tjokroaminoto yakni ketika ia mendirikan organisasi Sarekat Islam pada tahun 1912 hingga ia kemudian ditahan oleh pihak Belanda pada tahun 1921 – dengan sekelumit kisah tambahan dari berbagai dimensi kehidupannya. Namun, dengan kehadiran banyaknya plot cerita hingga karakter pendukung yang berada dalam kehidupannya, kisah Oemar Said Tjokroaminoto masih tetap terasa cukup kompleks bahkan untuk dipadatkan dalam durasi penceritaan sepanjang 161 menit.

Penumpukan konflik dan karakter dalam Guru Bangsa Tjokroaminoto benar-benar terasa di bagian awal penceritaan. Garapan Garin Nugroho yang menyajikan kisahnya dengan tempo yang lumayan cepat juga tidak banyak membantu: penonton jelas akan merasa sedikit dipusingkan dengan kehadiran banyak konflik maupun karakter yang secara silih berganti hadir di hadapan mereka tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengenal konflik maupun karakter tersebut dengan lebih seksama. Pun begitu, seiring dengan melambannya tempo pengisahan cerita sekaligus mengerucutnya konflik dan karakter yang hadir dalam jalan cerita, Guru Bangsa Tjokroaminoto baru menemukan pijakan penceritaan yang pas. Garin secara perlahan mulai memberikan ruang yang cukup bagi setiap konflik untuk berkembang dengan baik maupun setiap karakter untuk mendapatkan fungsi penceritaan mereka dengan tepat. Membutuhkan waktu namun jelas kemudian mampu tampil dengan garapan yang kuat.

Berbeda dengan film biopik Soegija (2012) garapan Garin sebelumnya yang dipenuhi dengan berbagai kiasan maupun metafora, Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas terasa lebih mudah diakses kisahnya. Garin tetap menghadirkan satu, dua metafora dalam penceritaan film ini – bersuasana teatrikal dengan tujuan untuk lebih memadatkan jalan cerita – namun tetap terasa ringan sekaligus emosional untuk diikuti. Tidak lupa, Garin juga menyajikan filmnya dengan tatanan teknikal yang benar-benar berkelas. Sinematografi arahan Ipung Rachmat Syaiful yang puitis melengkapi kekuatan jalan penceritaan Guru Bangsa Tjokroaminoto. Begitu pula dengan tata musik garapan Andi Rianto yang begitu mampu meningkatkan sisi emosional dari setiap adegan film tanpa pernah membuatnya terasa mendayu-dayu secara berlebihan. Bahkan, adalah cukup adil untuk meletakkan komposisi musik Andi Rianto untuk film ini sebagai salah satu komposisi musik film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. It’s that good!

Dipimpin oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai sang karakter utama, departemen akting Guru Bangsa Tjokroaminoto juga tergarap dengan sangat baik – jika Anda tidak ingin menyebutnya sempurna. Anda lelah dengan kehadiran Reza Rahadian dalam setiap film Indonesia yang Anda saksikan? Mungkin saja. Namun, dengan melihat dedikasi kuatnya dalam berperan sebagai Oemar Said Tjokroaminoto, siapapun jelas tidak akan mampu memungkiri bahwa Reza Rahadian adalah aktor terbaik di generasinya. Aktor yang dapat memerankan setiap karakter dengan begitu sempurna – dan membuat aktingnya terlihat begitu mudah untuk dilakukan.

Penampilan Reza juga didukung dengan penampilan dan chemistry yang sangat erat dari Putri Ayudya yang berperan sebagai istri dari karakter Oemar Said Tjokroaminoto, Soeharsikin. Penampilan menarik lain datang dari Deva Mahenra – yang terlihat sangat meyakinkan sebagai sosok Soekarno muda yang begitu polos, Chelsea Islan – yang semakin mampu menunjukkan kematangan aktingnya serta Ibnu Jamil, Tanta Ginting dan Ade Firman Hakim yang masing-masing mampu menghidupkan karakter mereka dengan begitu baik. Tidak lupa, dukungan dari aktor dan aktris senior seperti Soedjiwo Tedjo, Christine Hakim dan Didi Petet juga semakin memperkuat kualitas departemen akting film ini. Jangan pula lewatkan penampilan komikal dari seniman ludruk asal Jawa Timur bernama Unit yang perannya sebagai Mbok Toen dalam film ini akan sangat mampu mencuri perhatian tiap penonton.

Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas sekali lagi membuktikan kehandalan seorang Garin Nugroho. Meskipun hadir dengan beberapa masalah penumpukan konflik dan karakter khususnya di awal pengisahan namun secara keseluruhan Guru Bangsa Tjokroaminoto tetap mampu hadir sebagai sebuah film biopik yang mampu hadir kuat dengan garapan tata teknikal yang berkelas, penampilan para pengisi departemen akting yang sangat solid serta, tentu saja, pengarahan cerita yang akan sangat mampu membuat setiap penontonnya tergugah mengenai bagaimana situasi politik Indonesia saat ini tidak begitu banyak berubah dari masa pergerakan yang dikawal oleh Oemar Said Tjokroaminoto. Indonesia’s finest period piece since Sang Penari (2011). A grand beauty! [B]

Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Directed by Garin Nugroho Produced by Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, Ari Syarif Written by Ari Syarif, Erik Supit (screenplay), Ari Syarif, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho, Kemal Pasha Hidayat (story) Starring Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Alex Komang, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Sudjiwo Tejo, Egi Fedly, Christoffer Nelwan, Deva Mahenra, Didi Petet, Ade Firman Hakim, Alex Abbad, Gunawan Maryanto, Jay Widjajanto, Arjan Onderdenwijngaard, Gerard Mosterd, Rudi Corens, Martin Van Bommel, Joanna Dudley, Paul Agusta Music by Andi Rianto Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Wawan I. Wibowo Studio Pic[k]lock Production/Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto/MSH Films Running time 161 minutes Country Indonesia Language Indonesian