Tag Archives: Movies

Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca? Continue reading Review: Rebecca (2020)

Review: I Carry You with Me (2020)

Meskipun I Carry You with Me menjadi film narasi panjang pertama yang diarahkan olehnya, film drama yang berjudul Te Llevo Conmigo dalam Bahasa Spanyol tersebut bukanlah debut Heidi Ewing sebagai seorang sutradara. Karir Ewing sebagai sutradara lebih dahulu dikenal sebagai seorang pengarah film-film dokumenter. Bahkan, salah satu film dokumenter arahan Ewing, Jesus Camp (2006), berhasil mendapatkan nominasi di kategori Best Documentary Feature di ajang The 79th Annual Academy Awards. Berkisah tentang seorang imigran ilegal asal Meksiko yang mencoba untuk mengubah nasib dan kehidupannya dengan pindah ke Amerika Serikat, benih kisah film ini juga awalnya sempat akan dibentuk sebagai sebuah film dokumenter sebelum akhirnya ditata kembali oleh Ewing bersama dengan penulis naskah Alan Page Arriaga menjadi presentasi film narasi panjang. Continue reading Review: I Carry You with Me (2020)

Review: The Professor and the Madman (2019)

Berkisah mengenai proses penyusunan buku The New English Dictionary on Historical Principles – atau yang sekarang dikenal luas dengan Oxford English Dictionary, The Professor and the Madman memiliki sejarah yang cukup rumit sebelum akhirnya dapat dirilis dan disaksikan oleh banyak penontonnya. Awalnya akan diarahkan oleh Mel Gibson, Gibson lantas menyerahkan kursi penyutradaraan pada penulis naskah Farhad Safinia – yang sebelumnya pernah bekerjasama untuk menuliskan naskah cerita film arahan Gibson, Apocalypto (2006) – dengan Gibson masih akan berperan sebagai karakter utama film ini bersama dengan Sean Penn. Memulai masa produksinya pada tahun 2016, Gibson dan Safinia harus menghadapi konflik yang berasal dari rumah produksi Voltage Pictures yang dinilai telah melanggar kesepakatan awal produksi dan bahkan menolak untuk memberikan Safinia hak untuk menentukan hasil akhir film arahannya. Proses hukum yang berlarut-larut akhirnya menghambat perilisan The Professor and the Madman serta membuat Gibson dan Safinia memilih untuk menarik keterlibatan mereka dalam proses lanjutan film – posisi Safinia sebagai sutradara dan penulis naskah lantas dicabut dan The Professor and the Madman dirilis dengan nama sutradara dan penulis naskah samaran P. B. Shemran. Continue reading Review: The Professor and the Madman (2019)

Review: Pelukis Hantu (2020)

Setelah sebelumnya terlibat sebagai penulis naskah bagi film arahan Riri Riza, Kulari ke Pantai (2018), aktor yang juga dikenal sebagai seorang komika, Arie Kriting, melakukan debut pengarahan film layar lebarnya lewat Pelukis Hantu. Film bernuansa horor komedi yang naskah ceritanya juga dikerjakan oleh Kriting ini dibintangi oleh Ge Pamungkas yang berperan sebagai Tutur, seorang pelukis amatiran yang kemudian menerima tawaran untuk menjadi pelukis hantu di sebuah program televisi karena sedang membutuhkan uang untuk pengobatan sang ibu (Aida Nurmala). Siapa sangka, pekerjaan tersebut ternyata mampu memberikan pengaruh besar pada kehidupan personalnya. Sosok kuntilanak yang ia lihat sekaligus lukis dalam acara yang berjudul Arwah itu ternyata membawa sejumlah pesan dari masa lalu Tutur. Penasaran ingin berkomunikasi dengan makhluk supranatural tersebut, Tutur lantas menghubungi Amanda (Michelle Ziudith) yang gemar menulis dan meneliti tentang alam gaib dan meminta bantuannya. Continue reading Review: Pelukis Hantu (2020)

Review: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Boy Candra is at it. AGAIN!

Masih ingat momen-momen buruk ketika Anda menyaksikan Malik & Elsa (Eddy Prasetya, 2020) yang dirilis MAX Pictures bersama Disney+ Hotstar pada minggu lalu? Well… novel-novel karangan Candra sepertinya memang tengah menjadi komoditas terhangat untuk diadaptasi oleh para produser film Indonesia. Tidak lama setelah perilisan Malik & Elsa, kini giliran IFI Sinema dan Screenplay Films yang bekerjasama dengan Netflix untuk merilis Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi yang alur kisahnya juga diambil dari novel tulisan Candra yang berjudul sama. Keberadaan Jefri Nichol sebagai pemeran utama, Lasja F. Susatyo (Cinta dari Wamena, 2013) di kursi penyutradaraan, serta Upi (#TemantapiMenikah, 2018) sebagai penulis naskah memang memberikan secercah harapan pada film drama romansa remaja ini. Sayang, talenta-talenta industri perfilman Indonesia tersebut ternyata tidak mampu membalut kualitas dasar cerita yang sepertinya memang tidak dapat diselamatkan lagi. Continue reading Review: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Review: The Glorias (2020)

Diadaptasi dari autobiografi milik aktivis perempuan Gloria Steinem yang berjudul My Life on the Road, The Glorias bertutur tentang perjalanan kehidupan Steinem semenjak dirinya kecil, remaja, hingga dewasa dan dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan kaum perempuan di Amerika Serikat hingga saat ini. Alur pengisahan film ini dimulai dengan mengenalkan penonton pada kehidupan Gloria Steinem pada masa kecilnya (Ryan Kiera Armstrong dan Lulu Wilson) yang harus berhadapan dengan berbagai masalah akibat perceraian kedua orangtuanya (Timothy Hutton dan Enid Graham). Beruntung, berbagai tantangan di masa kecil tersebut justru mengasah Gloria Steinem untuk menjadi sosok yang kuat dan kritis – khususnya ketika berhubungan dengan berbagai permasalahan yang harus dihadapi kaum perempuan ketika berhadapan dengan kaum pria dalam keseharian mereka. Perkenalannya dengan banyak aktivis perempuan lain semakin mendidik dan mempertajam pemikiran Gloria Steinem dewasa (Alicia Vikander dan Julianne Moore) dalam perjuangannya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi kaumnya. Continue reading Review: The Glorias (2020)

Review: Malik & Elsa (2020)

Dingkat dari novel karangan Boy Candra yang berjudul sama, alur penceritaan Malik & Elsa dimulai dengan penuturan Malik (Endy Arfian) tentang tekad dan niatnya untuk berkuliah meskipun dirinya berasal dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. Di hari pertama dirinya duduk di bangku kuliah, Malik berkenalan dengan seorang gadis bernama Elsa (Salshabilla Adriani) yang kemudian secara perlahan mulai menjadi sosok yang begitu dekat dalam keseharian Malik. Hubungan antara Malik dan Elsa ternyata memicu banyak tantangan. Kakak kelas Elsa di bangku sekolah, yang kini juga menjadi kakak kelas Malik dan Elsa di kampus mereka, Liandra (Muhamad Yahya Nur Ibrahim), ternyata memendam perasaan pada Elsa yang membuat dirinya sering memanasi teman-temannya untuk mengganggu Malik. Ibu Elsa (Nina Rahma) juga menilai kehadiran Malik memberikan pengaruh buruk pada Elsa. Tidak ingin memberikan lebih banyak masalah pada Elsa, Malik mulai mempertimbangkan gadis yang sangat disukainya itu. Continue reading Review: Malik & Elsa (2020)

Review: Scare Me (2020)

Berani untuk mencoba sesuatu yang berbeda? Dalam debut pengarahan film layar lebarnya, Josh Ruben menghadirkan Scare Me, sebuah film yang berisi sejumlah kisah horor. Terdengar laksana premis bagi ribuan film antologi yang telah dirilis sebelumnya? Well… alur pengisahan Scare Me berkisah tentang seorang penulis amatir bernama Fred (Ruben) yang sengaja mengasingkan diri ke sebuah kabin demi memulai usahanya untuk menulis sebuah novel. Disana, Fred secara tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan Fanny (Aya Cash), seorang penulis yang novel horor teranyarnya berhasil menjadi salah satu novel tersukses dan terpopular di Amerika Serikat. Meskipun awalnya menganggap Fanny adalah sosok yang angkuh, komunikasi antara keduanya mulai terbangun intens setelah keduanya mencoba untuk menemani satu sama lain di kala terjadinya pemadaman listrik di wilayah tempat tinggal mereka. Bersaing untuk membuktikan kehandalan mereka dalam bercerita, Fred dan Fanny kemudian mencoba saling menakuti dengan cerita-cerita menyeramkan yang mereka tuturkan. Continue reading Review: Scare Me (2020)

Review: Alone (2020)

Alur cerita Alone dimulai ketika seorang wanita, Jessica (Jules Willcox), berusaha untuk melupakan salah satu momen terburuk dalam hidupnya dengan cara pindah dari kediaman lamanya. Dengan mengendarai sebuah mobil kargo sewaan guna membawa seluruh barang-barangnya, Jessica memulai perjalanan darat yang direncanakan akan berlangsung selama empat hari tersebut. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar mulai menemui gangguan setelah sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang pria asing (Marc Menchaca) mengikuti mobil yang dikendarai Jessica dan hampir saja menyebabkan mobil Jessica terserempet dan terjebak dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tidak berhenti disitu, pria asing tersebut ternyata berniat untuk menculik Jessica. Meskipun telah berulang kali berusaha untuk menghindar, Jessica akhirnya terperangkap oleh kejaran sang pria asing yang lantas menyekap dan mengancam untuk membunuhnya. Continue reading Review: Alone (2020)

Review: Possessor (2020)

Delapan tahun setelah merilis film layar lebar perdananya, Antiviral (2012), Brandon Cronenberg kembali hadir dengan film arahan terbarunya yang diberi judul Possessor. Dengan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Possessor memberikan fokus kisahnya pada sosok pembunuh bayaran bernama Tasya Vos (Andrea Riseborough). Berbeda dengan pembunuh bayaran biasa, Tasya Vos bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki kemampuan untuk menanamkan implan ke otak seseorang agar orang tersebut dapat dikontrol kelakuannya oleh pembunuh bayaran yang telah ditugaskan dan lantas membunuh target yang telah ditentukan sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri. Tasya Vos adalah salah satu pembunuh bayaran terpercaya yang menjadi andalan perusahaannya. Namun, tugas baru yang harus dilaksanakannya yaitu untuk mengontrol tubuh dan otak dari seorang pria bernama Colin Tate (Christopher Abbott) dengan tujuan untuk membunuh seorang konglomerat terkenal bernama John Parse (Sean Bean) terbukti memberikan tantangan dan bahaya tersendiri bagi diri Tasya Vos dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Continue reading Review: Possessor (2020)

Review: Monsoon (2020)

Merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Inggris, Hong Khaou, setelah sebelumnya merilis Lilting (2014), Monsoon bercerita tentang seorang pria asal Inggris, Kit (Henry Golding), yang kembali mengunjungi negara kelahirannya di Vietnam. Bertujuan untuk menebar abu kremasi orangtuanya, kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama Kit setelah kedua orangtuanya membawa dirinya dan saudaranya keluar dari Vietnam guna menghindar dari bahaya akibat perang yang sedang berkecamuk disana. Tentu saja, 30 tahun setelah kepergiannya, Kit tidak lagi familiar dengan situasi wilayah Vietnam maupun mampu berbicara menggunakan bahasa ibunya. Beruntung, dengan dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Lee (David Tran), Kit dapat memulai penjelajahan dan perjalanan dari Saigon ke Hanoi untuk mencari lokasi persemayaman yang tepat bagi orangtuanya sekaligus menemukan kembali jejak masa lalunya di Vietnam. Continue reading Review: Monsoon (2020)

Review: Enola Holmes (2020)

Setelah berkarir selama lebih dari dua dekade di dunia pertelevisian – termasuk menjadi sutradara bagi sejumlah episode di beberapa serial televisi paling popular selama beberapa tahun terakhir seperti Fleabag (2016), Killing Eve (2018), dan Ramy (2019) – sutradara asal Inggris, Harry Bradbeer, melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Enola Holmes. Diadaptasi dari seri buku The Enola Holmes Mysteries garapan penulis asal Amerika Serikat, Nancy Springer, karakter Enola Holmes merupakan karakter sempalan dari rangkaian novel misteri Sherlock Holmes yang ditulis oleh Arthur Conan Doyle. Enola Holmes, sayangnya, bukanlah bagian dari seri film Sherlock Holmes (2009 – 2011) arahan Guy Ritchie serta dibintangi duo Robert Downey, Jr. dan Jude Law yang kelanjutan kisahnya telah cukup banyak dinanti tersebut. Meskipun begitu, garapan Bradbeer terhadap Enola Holmes mampu memberikan ruang pengisahan petualangan misteri a la kisah-kisah Sherlock Holmes yang tidak hanya menarik namun juga berhasil memberikan jangkauan kisah yang baru dan segar bagi cerita Sherlock Holmes yang melandasinya. Continue reading Review: Enola Holmes (2020)

Review: The Devil All the Time (2020)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock – yang juga bertugas sebagai narator bagi jalan pengisahan film ini, The Devil All the Time akan membawa penontonnya ke dalam perjalanan sepanjang dua dekade bersama dengan sejumlah karakter yang jelas merupakan karakter-karakter terburuk – dalam artian sifat, bukan dari kualitas penulisan – yang pernah ditampilkan dalam sebuah linimasa pengisahan sebuah film. Dengan durasi penceritaan sepanjang 138 menit, sutradara Antonio Campos (Christine, 2016) secara perlahan membedah setiap karakter, membangun konflik yang menghubungkan antara satu karakter dengan yang lain, sekaligus menghadirkan kengerian akan berbagai hal buruk yang dapat dilakukan oleh manusia. Bukan sebuah perjalanan cerita yang cukup mudah untuk diikuti – khususnya ketika Campos memilih untuk membalut filmnya dengan atmosfer gambar dan pengisahan yang lumayan kelam. Namun, di saat yang bersamaan, tatanan pengisahan pilihan Campos mampu secara efekif meninggalkan kesan mendalam yang jelas tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja. Continue reading Review: The Devil All the Time (2020)