Tag Archives: Idris Elba

Review: Thor: Ragnarok (2017)

Masih ingat dengan Thor: The Dark World (Alan Taylor, 2013)? Well… tidak akan ada yang menyalahkan jika Anda telah melupakan sepenuhnya mengenai jalan cerita maupun pengalaman menonton dari sekuel perdana bagi film yang bercerita tentang Raja Petir dari Asgard tersebut. Berada di bawah arahan Taylor yang mengambil alih kursi penyutradaraan dari Kenneth Branagh, Thor: The Dark World harus diakui memang gagal untuk melebihi atau bahkan menyamai kualitas pengisahan film pendahulunya. Tidak berniat untuk mengulang kesalahan yang sama, Marvel Studios sepertinya berusaha keras untuk memberikan penyegaran bagi seri ketiga Thor, Thor: Ragnarok: mulai dari memberikan kesempatan pengarahan pada sutradara Taika Waititi yang baru saja meraih kesuksesan lewat dua film indie-nya, What We Do in the Shadows (2014) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), menghadirkan naskah cerita yang menjauh dari kesan kelam, hingga memberikan penampilan-penampilan kejutan dalam presentasi filmnya. Berhasil? Mungkin. Continue reading Review: Thor: Ragnarok (2017)

Advertisements

Review: The Dark Tower (2017)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen King – dan merupakan salah satu dari lima tulisan King yang tahun ini diadaptasi menjadi film layar lebar dan serial televisi, The Dark Tower berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama Jake Chambers (Tom Taylor) yang mengalami serangkaian mimpi dimana ia dapat menyaksikan seorang penembak yang berusaha menghentikan usaha seorang pria berpakaian hitam dalam meruntuhkan sebuah menara yang selama ini dipercaya memiliki kekuatan untuk mencegah kekuatan jahat mengganggu kehidupan di dunia. Melalui petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan dalam mimpinya itu pula, Jake Chambers kemudian berhasil menemukan pintu gerbang berteknologi tinggi yang membawanya berpindah ke sebuah dunia yang dikenal dengan sebutan Mid-World. Disana, Jake Chambers akhirnya bertemu dengan sang penembak yang bernama Roland Deschain (Idris Elba) dan menceritakan bahwa dunia sedang berada dibawah ancaman seorang penyihir bernama Walter Padick (Matthew McConaughey) yang bersama dengan pasukannya sedang berusaha untuk menyebarkan kekuatan kegelapan di dunia. Continue reading Review: The Dark Tower (2017)

Review: Avengers: Age of Ultron (2015)

avengers-age-of-ultron-posterSetelah kesuksesan luar biasa dari The Avengers (2012) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga mampu menarik perhatian penonton dan menjadikannya sebagai film dengan kesuksesan komersial terbesar ketiga di dunia setelah Avatar (2009) dan Titanic (1997) – kumpulan pahlawan dari Marvel Comics kembali hadir lewat Avengers: Age of Ultron. Masih disutradarai oleh Joss Whedon, Avengers: Age of Ultron memberikan sedikit perubahan radikal dalam warna penceritaannya. Berbeda dengan The Avengers yang menghadirkan banyak sentuhan komedi melalui deretan dialognya, film yang juga menjadi film kesebelas dalam rangkaian film dari Marvel Cinematic Universe ini tampil dengan deretan konflik yang lebih kompleks sekaligus kelam dari pendahulunya – atau bahkan dari seluruh film-film produksi Marvel Studios sebelumnya. Sebuah pilihan yang cukup beresiko dan, sayangnya, gagal untuk dieksekusi secara lebih dinamis oleh Whedon.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bekerjasama dengan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk menghasilkan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang awalnya ditujukan untuk membantu The Avengers dalam melaksanakan setiap tugas mereka. Sial, program yang diberi nama Ultron (James Spader) tersebut justru berbalik arah. Dengan tingkat kecerdasan tinggi yang diberikan kepadanya, Ultron justru merasa bahwa The Avengers adalah ancaman bagi kedamaian dunia dan akhirnya memilih untuk memerangi mereka. Dibantu dengan pasangan kembar Pietro (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kecepatan super dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi jalan pemikiran orang lain, Ultron memberikan sebuah tantangan berat yang tidak hanya mengancam keberadaan The Avengers namun juga keberadaan seluruh umat manusia yang ada di atas pemukaan Bumi.

Pilihan untuk tampil “lebih dewasa” lewat jalan penceritaan lebih kompleks dan kelam yang dituliskan oleh Joss Whedon sendiri sebenarnya bukanlah sebuah pilihan yang buruk untuk Avengers: Age of Ultron. Namun, dengan banyaknya karakter serta beberapa konflik personal lain yang masih tetap ingin diberikan ruang penceritaan khusus oleh Whedon, Avengers: Age of Ultron akhirnya justru terasa dibebani terlalu banyak permasalahan dengan ruang yang lebih sempit bagi konflik-konflik tersebut untuk berkembang dan hadir dengan porsi cerita yang memuaskan. Ketiadaan fokus yang kuat bagi setiap masalah yang dihadirkan inilah yang membuat Avengers: Age of Ultron terasa bertele-tele dalam mengisahkan penceritaannya dan akhirnya turut mempengaruhi pengembangan kisah personal beberapa karakter yang sebelumnya justru menjadi salah satu poin terbaik dari pengisahan The Avengers.

Berbicara mengenai Ultron, karakter antagonis yang satu ini harus diakui gagal tersaji secara lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter antagonis dari seri sebelumnya, Loki. Terlepas dari kecerdasan luar biasa yang ia miliki, Ultron terasa hanyalah sebagai sebuah variasi karakter antagonis standar dalam film-film bertema sejenis yang berniat untuk memberikan ujian fisik dan mental bagi para karakter utama hingga akhirnya dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup mereka: menjadi penguasa dunia. Vokal James Spader sendiri mampu memberikan warna karakteristik dingin yang sangat sesuai bagi Ultron namun hal tersebut tetap saja tidak mampu membuat Ultron tampil lebih menarik lagi.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Avengers: Age of Ultron sendiri masih mampu dengan beberapa sentuhan humanis dalam penceritaannya. Beberapa plot pendukung seperti hubungan romansa yang sepertinya mulai terbangun antara karakter Bruce Banner dan Natasha Romanoff serta latar belakang keluarga yang dimiliki oleh karakter Clint Barton membuat sisi drama dari film ini tampil dengan kualitas yang cukup istimewa. Whedon, sayangnya, gagal memberikan porsi pengisahan yang sesuai untuk dua karakter baru, Pietro dan Wanda Maximoff, sehingga kehadiran keduanya seringkali terasa tidak lebih dari sekedar karakter tambahan tanpa esensi cerita yang cukup kuat untuk tampil lebih menarik.

Layaknya seri pendahulunya, Whedon masih mampu merangkai Avengers: Age of Ultron dengan kualitas departemen produksi yang sangat memikat. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga hadir dengan penampilan akting yang semakin dinamis dengan chemistry yang semakin menguat antara satu dengan yang lain. Seandainya Whedon mau menghilangkan beberapa plot pendukung yang kurang esensial dan memilih untuk mengembangkan konflik utama film dengan lebih tajam, Avengers: Age of Ultron mungkin mampu hadir menyaingi kualitas penceritaan The Avengers – meskipun dengan nada penceritaan yang tetap hadir lebih kelam dan serius. Avengers: Age of Ultron tetap mampu memberikan beberapa momen khas film-film karya Marvel Studios yang akan dapat dinikmati penggemarnya. Namun lebih dari itu, film ini terasa dibebani terlalu banyak konflik yang akhirnya justru membuatnya gagal untuk berkembang dengan penceritaan yang lebih baik. [C]

Avengers: Age of Ultron (2015)

Directed by Joss Whedon Produced by Kevin Feige Written by Joss Whedon (screenplay), Zak Penn, Joss Whedon (story), Stan Lee, Jack Kirby (comics, The AvengersStarring Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, Anthony Mackie, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skarsgård, James Spader, Samuel L. Jackson,  Linda Cardellini, Thomas Kretschmann, Claudia Kim, Andy Serkis, Julie Delpy, Stan Lee Music by Brian Tyler, Danny Elfman Cinematography Ben Davis Editing by Jeffrey Ford, Lisa Lassek Studio Marvel Studios Running time 141 minutes Country United States Language English

Review: The Gunman (2015)

the-gunman-posterDalam The Gunman, Sean Penn mencoba peruntungannya untuk menambah panjang daftar deretan aktor senior yang mencoba menyegarkan kembali karir mereka dengan bermain dalam sebuah film aksi – daftar yang telah diisi oleh nama-nama seperti Liam Neeson, Colin Firth, Tom Cruise, Harrison Ford bahkan Helen Mirren. Dan jelas tidak mengejutkan jika kemudian film aksi Penn tersebut diarahkan oleh Pierre Morel – sutradara yang sebelumnya pernah mengarahkan Neeson dalam film aksi perdananya, Taken (2009). Kabar buruk: Penn tidak akan mengalami nasib sebaik Neeson. Kharismanya sebagai seorang aktor laga masih (sangat) jauh jika dibandingkan dengan aktor asal Irlandia tersebut. Oh. Dan The Gunman juga adalah sebuah film yang akan menemui kesulitan besar dalam mengesankan para penontonnya.

Diadaptasi oleh Penn bersama dengan Don Macpherson dan Pete Travis dari novel berjudul The Prone Gunman karya Jean-Patrick Manchette, The Gunman berkisah mengenai Jim Terrier (Penn) yang bekerja sebagai anggota pasukan keamanan khusus di Kongo yang bersama dengan teman-temannya kemudian direkrut untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Usai melaksanakan tugasnya, Jim terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, Annie (Jasmine Trinca), di negara tersebut untuk menghilangkan segala jejak perbuatannya. Sayang, delapan tahun kemudian, masa lalu Jim yang kelam kembali hadir menghantuinya dan bahkan hampir saja merenggut nyawanya. Tidak tinggal diam, Jim akhirnya memulai pencariannya akan siapa orang yang bertanggungjawab atas hadirnya kembali masa lalu yang sebenarnya telah ia tinggalkan tersebut.

Sebagai aktor yang pernah memenangkan dua Academy Awards, penampilan akting Penn memang tidak perlu diragukan lagi – termasuk dalam menyajikan adegan laga dalam banyak adegan. Namun, untuk perannya dalam film ini, penampilan Penn terasa begitu datar. Bukan salah Penn sepenuhnya memang. Naskah cerita film ini menyajikan terlalu banyak intrik dalam penceritaan yang seringkali membuat karakter-karakternya menjadi tenggelam. Berbeda dengan film-film aksi yang dibintangi oleh Neeson, The Gunman harus diakui memiliki sentuhan sosial, hukum dan politik dalam penyajian kisahnya. Karakter Jim Terrier yang diperankan Penn juga dihadirkan dengan sebuah penyakit parah yang dikisahkan dapat kapan saja mengambil nyawanya. Sayangnya, dengan penataan kedalaman cerita yang kurang memadai, sentuhan-sentuhan tersebut justru menjadi terasa kompleks tanpa pernah mampu menjadi bagian esensial film. Rumit sehingga sulit untuk dinikmati dan mudah terlupakan begitu saja.

Plot cerita yang berisi lebih banyak dialog dan konflik yang sedikit lebih rumit sepertinya menjadi penghalang tersendiri bagi Morel untuk dapat bercerita secara lancar. The Gunman seringkali terasa terbata-bata dalam pengisahannya. Terbentur antara penyajian adegan laga dengan beberapa dialog panjang mengenai permasalahan yang dihadirkan dalam film. Untungnya, Morel cukup berhasil dalam merangkai film ini dengan sajian tatanan teknis yang unggul sehingga The Gunman masih terlihat sangat layak untuk disaksikan dalam sepanjang 115 menit durasinya.

Hadir dengan departemen akting yang diisi nama-nama seperti Javier Bardem, Idris Elba, Ray Winstone hingga Mark Rylance juga tidak banyak membantu pesona film ini. Karakter-karakter yang mereka perankan tidak pernah terusung secara sempurna. Meskipun begitu, kualitas akting yang ditampilkan para aktor tersebut memang hadir dalam skala yang memuaskan. Karakter antagonis yang diperankan Bardem hadir meyakinkan. Begitu pula chemistry antara Penn dengan Trinca yang terasa hangat dalam setiap kehadirannya pada adegan cerita. Meskipun sangat singkat – dan karakter yang benar-benar dangkal penulisan kisahnya, Elba tetap mampu tampil mencuri perhatian. [C-]

The Gunman (2015)

Directed by Pierre Morel Produced by Adrián Guerra, Sean Penn, Peter McAleese, Andrew Rona, Joel Silver Written by Don Macpherson, Pete Travis, Sean Penn (screenplay), Jean-Patrick Manchette (novel, The Prone Gunman) Starring Sean Penn, Jasmine Trinca, Javier Bardem, Ray Winstone, Mark Rylance, Idris Elba, Peter Franzén, Billy Billingham, Daniel Adegboyega, Ade Oyefeso Music by Marco Beltrami Cinematography Flavio Martinez Labiano Edited by Frédéric Thoraval Production company Anton Capital Entertainment/Canal+/Nostromo Pictures/Silver Pictures/TF1 Films Production Running time 115 minutes Country United States, France, Spain Language English

The 71st Annual Golden Globe Awards Nominations List

golden-globesHollywood Foreign Press Association baru saja mengumkan daftar peraih nominasi untuk The 71st Annual Golden Globe Awards. Untuk barisan film layar lebar, berada di garda depan sebagai peraih nominasi terbanyak adalah film terbaru arahan Steve McQueen, 12 Years a Slave, serta film American Hustle arahan David O. Russell yang sama-sama meraih tujuh nominasi. Pun begitu, 12 Years a Slave dan American Hustle hanya akan sama-sama bersaing di dua kategori, Best Director dan Best Screenplay, mengingat Golden Globe Awards memberikan penghargaan yang terpisah bagi film dengan genre Drama (12 Years a Slave) dan Comedy or Musical (American Hustle). Di kategori Best Motion Picture – Drama sendiri, 12 Years a Slave akan bersaing dengan Captain Phillips, Gravity, Philomena dan Rush. Sementara American Hustle akan bersaing dengan Her, Inside Llewyn Davies, Nebraska dan The Wolf of Wall Street di kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical.

Continue reading The 71st Annual Golden Globe Awards Nominations List

Review: Thor: The Dark World (2013)

thor-the-dark-world-header

Let’s do a little recap. Terlepas dari pengalamannya yang lebih banyak mengarahkan film-film adaptasi dari karya sastra William Shakespeare, Marvel Studios memberikan kekuasaan pada Kenneth Branagh untuk mengarahkan Thor (2011) yang diadaptasi dari komik superhero berjudul sama karya Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby yang diproduksi oleh Marvel Comics. Dengan kelihaiannya dalam merangkai cerita sekaligus mengarahkan para jajaran pemerannya, Branagh berhasil menggarap Thor menjadi sebuah presentasi yang tidak hanya menghibur selayaknya film-film karya Marvel Studios lainnya namun juga tetap memiliki sisi penuturan drama yang kuat a la film-film Shakespeare yang pernah diarahkannya. Tidak mengherankan, Thor kemudian mampu meraih kesuksesan secara komersial, mendapatkan banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus menjadi film produksi Marvel Studios terbaik hingga saat ini.

Continue reading Review: Thor: The Dark World (2013)

Review: Pacific Rim (2013)

pacific-rim-header

Kebanyakan penonton yang memilih untuk menyaksikan Pacific Rim jelas tahu pasti apa yang akan mereka dapatkan dari film ini. Yes. Pacific Rim is a movie about giant robots versus giant monsters. Namun, berbeda dari kebanyakan film-film blockbuster yang dirilis Hollywood di kala musim panas, Pacific Rim adalah film tentang giant robots versus giants monsters yang disutradarai oleh Guillermo del Toro: seorang sutradara yang secara legendaris dikenal mampu memberikan jiwa dan kehidupan pada setiap fantasi yang dapat terlintas dalam setiap pemikiran umat manusia serta menghasilkan film-film seperti Mimic (1997), Hellboy (2004) serta Pan’s Labyrinth (2006). Sayangnya, jiwa dan kehidupan mungkin adalah hal terakhir yang dapat ditemukan penonton dalam Pacific Rim karena sentuhan del Toro benar-benar minim dapat dirasakan di sepanjang presentasi film ini.

Continue reading Review: Pacific Rim (2013)

Review: Prometheus (2012)

Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

Continue reading Review: Prometheus (2012)

Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)

Sekilas info: Nicolas Cage akan bergabung bersama Steve Carell, Jack Black, Catherine Keener dan Elizabeth Banks dalam film terbaru arahan sutradara sekaligus penulis naskah Charlie Kaufman, Frank or Francis, yang direncanakan akan rilis pada tahun 2013 mendatang. Jelas sebuah film dengan prospek yang sangat menjanjikan mengingat Kaufman dikenal dengan naskah-naskah filmnya seperti Being John Malkovich (1999) dan Adaptation (2002) yang meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Original Screenplay serta Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) yang akhirnya memenangkan Kaufman sebuah Academy Awards. Sementara menunggu perilisan Frank or Francis, Anda dapat menyaksikan penampilan Cage dalam film Ghost Rider: Spirit of Vengeance – yang mudah-mudahan akan menjadi memori terakhir Anda mengenai betapa akrabnya Cage dengan film-film berkualitas medioker.

Continue reading Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)

Review: Thor (2011)

Walau telah terbit dalam bentuk seri komik yang dirilis oleh Marvel Comics semenjak tahun 1966, tidak hingga tahun 2001 Thor akhirnya mampu menarik perhatian Hollywood untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Pun begitu, semenjak ditinggalkan oleh Sam Raimi – sutradara pertama yang berminat dan telah mengembangkan konsep cerita adaptasi kisah Thor ke layar lebar – Thor menjadi terbengkalai sebelum akhirnya hak adaptasi layar lebar dari seri komik tersebut dibeli oleh Paramount Pictures di tahun 2006. Setelah lagi-lagi ditinggalkan oleh beberapa sutradara, Kenneth Branagh akhirnya terpilih sebagai sutradara Thor di tahun 2008. Terkenal sebagai seorang yang bertangan dingin dalam mengadaptasi karya-karya William Shakespeare, Branagh ternyata memiliki kemampuan yang cukup hangat untuk menangani sebuah adaptasi kisah seri komik dan menjadikan Thor ringan dan menyenangkan untuk disaksikan namun tetap tidak kehilangan esensi ceritanya secara keseluruhan.

Continue reading Review: Thor (2011)

Review: Takers (2010)

Tidak banyak sebenarnya yang dapat ditawarkan oleh Takers. Tentu saja, sebagai sebuah film yang menawarkan cerita mengenai sekelompok perampok bank profesional, Takers masih sempat menawarkan beberapa adegan action yang dibumbui dengan beberapa adegan ledakan yang mungkin cukup untuk memacu adrenalin beberapa penontonnya. Namun hanya hal itulah yang dapat ditawarkan oleh film yang menjadi karya kedua sutradara John Luessenhop setelah Lockdown (2000) ini. Tidak lebih.

Continue reading Review: Takers (2010)

Review: The Losers (2010)

Sylvain White, sutradara dari film I’ll Always Know What You Did Last Summer (2006) — sekuel I Know What You Did Last Summer yang langsung dirilis ke DVD — dan kemudian mencoba naik kelas dengan menyutradarai sebuah film drama yang bertema tarian, Stomp The Yard (2007), mencoba menyutradarai sebuah film action yang diadaptasi dari sebuah seri komik rilisan Vertigo, The Losers. Terdengar aneh? Sangat! Apakah berhasil? You’ll be the judge.

Continue reading Review: The Losers (2010)