Tag Archives: Netflix

Review: The Disciple (2020)

Enam tahun setelah merilis debut pengarahan film layar lebarnya yang gemilang melalui Court (2014) – yang tidak hanya mendapatkan pujian sekaligus pengakuan dari banyak kritikus film dunia namun juga berhasil terpilih mewakili India untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film di ajang The 88th Annual Academy Awards – sutradara Chaitanya Tamhane kini kembali dengan film terbarunya, The Disciple. Berfokus pada sosok-sosok karakter yang menekuni musik tradisional India dalam kehidupan mereka, naskah cerita yang ditulis oleh Tamhane dan digarap semenjak tahun 2015 menarik perhatian sutradara Alfonso Cuarón (Roma, 2018) yang kemudian bergabung sebagai produser eksekutif bagi film ini, membantu Tamhane untuk mengembangkan ide cerita dari film arahannya, serta memberikan sejumlah masukan untuk capaian teknikal film. Hasilnya tidak mengecewakan. Terlepas dari keterlibatan Cuarón, Tamhane dengan lugas menunjukkan kemampuan berceritanya yang terasa begitu personal sekaligus kuat dalam menyampaikan setiap titik poin kisahnya. Continue reading Review: The Disciple (2020)

Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Sempat direncanakan rilis di layar bioskop dengan judul Connected pada tahun 2020, The Mitchells vs the Machines adalah film animasi terbaru yang diproduseri oleh Phil Lord dan Christopher Miller yang, tentu saja, dikenal dengan film-film yang mereka arahkan dan produseri sebelumnya seperti Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), The LEGO Movie (2014), dan Spider-Man: Into the Spider-Verse (Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman, 2018). Merupakan film animasi yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara Mike Rianda – serta co-director Jeff Rowe yang bersama dengan Rianda menuliskan naskah cerita film, The Mitchells vs the Machines mencoba meneruskan kesuksesan Sony Pictures Animation lewat Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam menghadirkan tatanan visual animasi dengan citarasa animasi yang berbeda dari kebanyakan film animasi modern. Untuk film ini, hal tersebut dilakukan dengan menyajikan serta memadukan teknik animasi tradisional dan animasi komputer, memberikan sejumlah sentuhan live-action di beberapa adegan, dan membungkusnya dengan warna-warna terang yang akan dengan segera mencuri perhatian. Berhasil? Continue reading Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Review: Generasi 90an: Melankolia (2020)

Merupakan penulis naskah bagi film-film seperti Surat dari Praha (Angga Dwimas Sasongko, 2016), Love for Sale (Andibachtiar Yusuf, 2018), hingga Story of Kale: When Someone’s in Love (Sasongko, 2020), M. Irfan Ramli kini melakukan debut pengarahannya melalui film Generasi 90an: Melankolia. Seperti halnya Nanti Kita Cerita tentang Hari ini (Sasongko, 2020) – yang salah satu karakternya diberikan ruang penceritaan tersendiri lewat Story of Kale: When Someone’s in Love, Generasi 90an: Melankolia juga merupakan adaptasi bebas dari buku yang ditulis oleh Marchella FP. Bebas, dalam artian jika buku yang berjudul Generasi 90an yang dijadikan basis cerita dari film ini merupakan buku yang berisi berbagai kenangan akan film, musik, dandanan, permainan, bacaan, hingga makanan yang sempat populer di era tersebut, maka film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Ramli ini akan menuturkan garisan kisah yang dialami oleh sejumlah karakter. Continue reading Review: Generasi 90an: Melankolia (2020)

Review: Geez & Ann (2021)

Alur pengisahan dari film terbaru arahan sutradara Rizki Balki (Laundry Show, 2019), Geez & Ann, dimulai dengan pertemuan dua karakter utamanya, Gazza Cahyadi yang dalam keseharian dipanggil dengan sebutan Geez (Junior Roberts) dan Keana Amanda yang akrab disapa sebagai Ann (Hanggini). Pertemuan singkat yang terjadi dalam sebuah pagelaran pentas seni yang dilaksanakan oleh sekolah tempat Ann belajar – dan Geez merupakan salah satu alumninya – segera tumbuh menjadi benih hubungan romansa bagi keduanya. Kisah kasih antara dua remaja tersebut menemui tantangan besar ketika Geez harus memenuhi keinginan sang ibu (Dewi Rezer) agar dirinya melanjutkan pendidikannya di Berlin, Jerman selama empat tahun mendatang. Tidak ingin hubungannya dengan Ann kandas begitu saja, Geez lantas berjanji bahwa dirinya akan selalu pulang untuk menemui Ann di setiap hari ulang tahun gadis yang memiliki cita-cita sebagai dokter itu. Continue reading Review: Geez & Ann (2021)

Review: I Care a Lot (2020)

Awal Februari lalu, sebagai bagian dari serial dokumenter investigatifnya yang berjudul The New York Times Presents, The New York Times merilis Framing Britney Spears (Samantha Stark, 2021). Dokumenter berdurasi 74 menit tersebut tidak hanya berbicara tentang bagaimana popularitas Britney Spears memiliki dampak besar pada kultur kehidupan di industri hiburan dan media Amerika Serikat (baca: dunia) namun juga mengupas masalah perwalian yang telah diterapkan pada kehidupan Spears semenjak tahun 2008 yang diduga telah disalahgunakan oleh sang ayah, Jamie Spears, dan orang-orang yang berada disekitar Spears yang lantas memicu gerakan #FreeBritney dari para penggemarnya. Framing Britney Spears sukses menghasilkan reaksi dari banyak kalangan yang kembali mempertanyakan perlakuan masyarakat secara umum terhadap seorang perempuan serta, khususnya, hukum tentang perwalian yang awalnya dibentuk untuk melindungi orang dewasa yang dianggap “tidak mampu” untuk menjaga diri mereka sendiri namun kemudian dijadikan ladang bisnis untuk menghasilkan keuntungan bagi sejumlah orang yang terlibat dalam pengaplikasian sistem perwalian tersebut. Continue reading Review: I Care a Lot (2020)

Review: Layla Majnun (2021)

Setelah Test Pack: You Are My Baby (2012), sutradara Monty Tiwa kembali mempertemukan Reza Rahadian dengan Acha Septriasa dalam film arahannya yang terbaru, Layla Majnun. Merasa familiar dengan judul tersebut? Meskipun bukanlah adaptasi langsung dari kumpulan puisi legendaris Layla and Majnun karangan sastrawan asal Azerbaijan, Nezami Ganjavi, namun naskah cerita film yang ditulis oleh Alim Sudio (Mariposa, 2020) masih menggunakan esensi serta tema cerita senada seperti yang diusung oleh barisan puisi karya Ganjavi yang alur kisahnya mendapat julukan The Romeo and Julie of the East karena kandungan cerita cinta tak berbalasnya yang mengingatkan banyak orang pada kisah Romeo and Juliet yang ditulis oleh William Shakespeare. Lalu bagaimana eksplorasi cerita yang dilakukan oleh Tiwa dan Sudio dalam mengelola alur dan konflik romansa yang sebenarnya telah dituturkan berulang kali? Continue reading Review: Layla Majnun (2021)

Review: Malcolm & Marie (2021)

Sukses dengan kerjasama mereka dalam serial televisi Euphoria – yang berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus sekaligus memenangkan sejumlah penghargaan prestisius di industri pertelevisian dunia, termasuk Outstanding Lead Actress in a Drama Series pada The 72nd Primetime Emmy Awards, aktris Zendaya bersama dengan sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson kembali berkolaborasi dalam film Malcolm & Marie. Merupakan film perdana yang ditulis, didanai, dan diproduksi oleh Hollywood selama masa pandemi COVID-19, Malcolm & Marie memiliki penuturan yang cukup sederhana dalam 106 menit durasi presentasi pengisahannya. Sutradara Malcolm Elliott (John David Washington) dikisahkan baru saja pulang dari perayaan pemutaran perdana film yang ia tulis dan arahkan bersama dengan kekasihnya, Marie Jones (Zendaya). Lewat tengah malam dan merasa kelaparan, Marie Jones lantas memilih untuk memasak hidangan makaroni dan keju untuk dinikmati sang kekasih. Sembari menunggu hidangan masak, Malcolm Elliott dan Marie Jones terlibat dalam gulungan dialog mengenai industri perfilman, kondisi lingkungan sosial, serta, tentu saja, hubungan romansa mereka yang telah terjalin selama lima tahun. Continue reading Review: Malcolm & Marie (2021)

Review: The Dig (2021)

The Dig, yang menjadi film kedua yang diarahkan oleh sutradara asal Australia, Simon Stone, setelah The Daughter (2015), berkisah mengenai penggalian situs arkeologi di wilayah Sutton Hoo, Suffolk, Inggris, yang dimulai pada tahun 1939. Berdasarkan kisah nyata, penggalian tersebut dimulai ketika sang pemilik tanah, Edith Pretty (Carey Mulligan), mempekerjakan seorang arkeologi sekaligus penggali otodidak, Basil Brown (Ralph Fiennes), untuk menggali beberapa gundukan kuburan yang berada di sekitaran tanah miliknya dan selama ini diduga menjadi lokasi keberadaan sejumlah artefak yang berasal dari era kejayaan bangsa Viking – meskipun, menurut penilaian Basil Brown, artefak yang berada di lokasi tersebut kemungkinan juga berasal dari bangsa Anglo-Saxon yang merupakan nenek moyang dari masyarakat Britania Raya modern. Benar saja, setelah beberapa lama melakukan penggalian, Basil Brown mulai menemukan bukti bahwa wilayah penggaliannya merupakan sebuah situs arkeologi penting yang akan membuka lembaran sejarah baru tentang masa lalu dari bangsa Anglo-Saxon. Continue reading Review: The Dig (2021)

Review: June & Kopi (2021)

Kisah persahabatan yang terjalin antara manusia dengan anjing telah ambil bagian dalam plot pengisahan banyak film dari berbagai jenis warna cerita – mulai dari Turner & Hooch (Roger Spottiswoode, 1989), Must Love Dogs (Gary David Goldberg, 2005), I Am Legend (Francis Lawrence, 2007), Marley & Me (David Frankel, 2008), Hachiko: A Dog’s Story (Lasse Hallström, 2009), hingga The Call of the Wild (Chris Sanders, 2020). Cukup berbeda dengan Hollywood, Anda harus menyibak kembali rentangan waktu hingga ke tahun 1974 untuk menemukan Boni & Nancy yang menjadi film Indonesia pertama dan satu-satunya yang mengeksplorasi tema serupa dalam penceritaannya. Kini, film arahan John Tjasmadi itu tidak akan lagi menjadi film Indonesia satu-satunya yang bertutur tentang persahabatan antara manusia dengan mamalia yang bergelar peliharaan dan sahabat tertua manusia tersebut. Film kedua yang diproduseri, diarahkan, sekaligus ditulis ceritanya oleh Noviandra Santosa, June & Kopi, akan melalui jejak serupa yang sebelumnya telah dibuat dan dilalui oleh Boni & Nancy. Continue reading Review: June & Kopi (2021)

Review: Affliction (2021)

Menjelang dekade ketiga dalam karir penyutradaraan film layar lebarnya, sutradara Teddy Soeriaatmadja (Menunggu Pagi, 2018) mengeksplorasi ranah pengisahan horor untuk film terbaru arahannya, Affliction. Dibintangi Raihaanun dan Tutie Kirana yang sebelumnya turut berperan dalam dua film dari Trilogy of Intimacy garapan Soeriaatmadja, Lovely Man (2011) dan About a Woman (2014), Affliction berkisah tentang pasangan Hasan (Ibnu Jamil) dan Nina (Raihaanun) yang bersama dengan kedua anaknya, Tasya (Tasya Putri) dan Ryan (Abiyyu Barakbah), melakukan perjalanan untuk kembali ke kampung halaman Hasan guna menjemput sang ibu (Kirana) yang merupakan seorang penderita Alzheimer. Bukan tugas yang mudah. Selain sang ibu kini sering terlupa akan identitas orang-orang yang berada di hadapannya, ibu juga menolak untuk meninggalkan rumah yang selama ini telah ia tempati. Lebih buruk, Nina, yang memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal yang berasal dari dunia supranatural, mulai merasakan adanya sosok misterius yang mencoba untuk mengganggu keberadaan keluarganya di rumah tersebut. Continue reading Review: Affliction (2021)

Review: Sobat Ambyar (2021)

Seperti yang dapat dicerna dari judulnya, Sobat Ambyar adalah sebuah film yang mencoba untuk menangkap fenomena popularitas dari sosok Didi Kempot yang dikenal karena lagu-lagu campursari berbahasa Jawa-nya yang banyak bertemakan patah hati dan rasa kehilangan. Namun, jangan salah, film yang diarahkan oleh Charles Gozali (Nada untuk Asa, 2015) bersama dengan Bagus Bramanti ini bukanlah sebuah biopik yang ingin bertutur tentang seluk beluk kehidupan penyanyi yang telah tutup usia pada pertengahan tahun lalu tersebut. Disajikan sebagai sebuah drama romansa, Sobat Ambyar lebih tertarik untuk mengangkat kisah tentang bagaimana lagu-lagu yang dinyanyikan Kempot digunakan oleh para pendengarnya sebagai pelarian untuk menghibur rasa duka maupun lara yang sedang mengendap di hati mereka. Terbukti, lagu-lagu milik Kempot yang mengiringi banyak adegan film menjadi faktor kesuksesan Sobat Ambyar dalam menghasilkan momen-momen terbaik pengisahannya. Continue reading Review: Sobat Ambyar (2021)

Review: Pieces of a Woman (2020)

Nama sutradara Kornél Mundruczó mungkin masih belum terdengar familiar di telinga banyak penikmat film dunia. Meskipun begitu, film-film arahan dari sutradara asal Hungaria tersebut telah malang-melintang di berbagai festival film bergengsi mulai dari Cannes Film Festival hingga Sundance Film Festival. Film yang ia rilis di tahun 2014 lalu, White God, bahkan berhasil meraih Prix Un Certain Regard dari The 67th Cannes Film Festival sekaligus dipilih untuk mewakili Hungaria untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Pieces of a Woman menandai kali pertama Mundruczó mengarahkan sebuah film dalam Bahasa Inggris. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Kata Wéber – yang sebelumnya telah bekerjasama dengan Mundruczó untuk penulisan naskah film White GodPieces of a Woman diadaptasi dari drama panggung garapan Mundruczó dan Wéber yang alur kisahnya sendiri diinspirasi dari pengalaman hidup keduanya sebagai pasangan yang mengalami keguguran anak. Continue reading Review: Pieces of a Woman (2020)

Review: The White Tiger (2021)

Cukup wajar jika beberapa orang memberikan perbandingan antara film terbaru arahan Ramin Bahrani (99 Homes, 2015), The White Tiger, dengan film Slumdog Millionaire (2008) yang diarahkan oleh Danny Boyle. Seperti halnya film yang memenangkan gelar Best Picture dari ajang The 81st Annual Academy Awards tersebut, The White Tiger juga berbicara mengenai ketidakadilan serta perjuangan kelas pada masyarakat kelas bawah di India. Namun, jika Boyle mengemas Slumdog Millionaire dengan balutan kisah romansa yang kemungkinan besar akan mampu menempatkan senyuman di wajah setiap penonton pada akhir presentasi filmnya, Bahrani menghadirkan The White Tiger sebagai sajian kisah yang lebih realis tentang kerasnya kehidupan kaum miskin. Tidak ada sosok pemuda miskin yang dengan keberuntungannya kemudian mampu menyelesaikan masalah hidupnya dengan memenangkan sejumlah uang dari sebuah acara kuis di televisi – sebuah singgungan yang sempat disampaikan Bahrani lewat salah satu dialog yang dilontarkan oleh karakter utama dalam filmnya.

Continue reading Review: The White Tiger (2021)