Tag Archives: Netflix

Review: A World Without (2021)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Nia Dinata setelah Ini Kisah Tiga Dara (2016), A World Without memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 2030 – sepuluh tahun semenjak terjadinya pandemi yang membuat kualitas hidup manusia secara keseluruhan menurun drastis. Sebuah komunitas yang menyebut diri mereka sebagai The Light milik pasangan Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia Khan (Ayushita) muncul dan menjadi popular berkat misi mereka untuk mengembangkan bakat serta kemampuan setiap remaja terpilih untuk kemudian menikahkan para remaja tersebut ketika usia mereka telah menginjak 17 tahun agar dapat membentuk keluarga baru yang berkualitas. Tiga sahabat yang datang dari latar kehidupan yang berbeda, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja terpilih untuk bergabung bersama The Light. Sejumlah harapan untuk masa depan yang lebih cerah jelas terlintas di benak ketiganya. Namun, secara perlahan, berbagai sisi gelap dari komunitas tersebut mulai terungkap. Tiga gadis muda tersebut terjebak didalamnya. Continue reading Review: A World Without (2021)

Review: Passing (2021)

Mengikuti jejak nama-nama seperti Barbra Streisand, Sofia Coppola, Greta Gerwig, Olivia Wilde, serta Regina King, aktris Rebecca Hall terjun ke balik layar dan mengarahkan Passing, sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi oleh Hall dari novel berjudul sama yang ditulis oleh novelis Nella Larsen. Passing sendiri bukanlah sebuah karya literatur biasa. Diterbitkan pertama kali di kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1929 di era dimana perlakuan diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam di berbagai aspek kehidupan masih dianggap sebagai tatanan normal dalam keseharian, Passing mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan berkat kemampuan (dan keberanian) Larsen untuk menyelami sejumlah konflik yang berkenaan dengan ras, kelas, gender, dan seksualitas. Beruntung, Hall cukup lugas dalam menterjemahkan berbagai tema yang ingin disampaikan oleh Larsen dalam novelnya menjadi presentasi cerita yang tidak hanya kuat namun juga relevan bagi kondisi kehidupan modern saat ini. Continue reading Review: Passing (2021)

Review: Vivo (2021)

Setelah In the Heights (Jon M. Chu, 2021), Vivo menjadi film kedua dari empat film yang melibatkan aktor sekaligus penyanyi sekaligus penulis lagu sekaligus produser sekaligus penulis naskah drama panggung, Lin-Manuel Miranda, yang direncanakan untuk rilis di tahun ini. Berdasarkan ide cerita oleh penulis naskah In the Heights, Quiara Alegría Hudes, bersama dengan Peter Barsocchini yang dikenal berkat naskah cerita yang ia tulis untuk seri film televisi High School Musical (2006 – 2008), Miranda sebenarnya telah mulai mengembangkan Vivo di tahun 2010 ketika film animasi ini awalnya akan diproduksi oleh DreamWorks Animation. Namun, setelah DreamWorks Animation memutuskan untuk tidak melanjutkan proses produksi Vivo pada tahun 2015, film animasi musikal tersebut kemudian ditangani oleh Sony Pictures Animation semenjak tahun 2016 dengan Kirk DeMicco (The Croods, 2013) duduk di kursi penyutradaraan sekaligus menggarap naskah cerita bersama dengan Hudes. Miranda sendiri terus dilibatkan untuk menulis sebelas lagu yang akan ditampilkan di sepanjang pengisahan Vivo sekaligus menjadi pengisi suara bagi karakter bernama sama dengan judul film ini. Continue reading Review: Vivo (2021)

Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Menjadi film pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Israel, Navot Papushado, secara solo – setelah sebelumnya mengarahkan Rabies (2010) dan Big Bad Wolves (2013) bersama dengan Aharon Keshales, Gunpowder Milkshake berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Sam (Karen Gillan) yang ditugaskan untuk membunuh seorang pria, David (Samuel Anderson), karena telah mencuri sejumlah uang dari perusahaan tempat Sam sekarang bekerja, The Firm. Sebagai seorang pembunuh bayaran profesional, tugas tersebut jelas bukanlah sebuah hal yang sulit. Namun, ketika mengetahui bahwa David mencuri uang tersebut untuk digunakan sebagai tebusan bagi putrinya, Emily (Chloe Coleman), yang sedang diculik, hati Sam kemudian tergerak untuk membantu. Sam sendiri yang kemudian menghantarkan uang tebusan tersebut kepada sang penculik dengan maksud untuk kembali merebut uang tersebut dan mengembalikannya ke perusahaan setelah Emily berhasil ia dapatkan. Sial, rencana tersebut menemui kegagalan yang bahkan menyebabkan uang hasil curian lenyap. Sam, yang biasa memburu dan membunuh orang-orang yang telah ditentukan oleh The Firm, kini menjadi buruan karena dugaan telah melarikan uang perusahaan. Continue reading Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Dirancang sebagai sebuah trilogi yang masing-masing bagian pengisahannya dirilis tiap minggu secara berurutan oleh Netflix, seri film Fear Street mengakhiri perjalanan kisahnya dengan perilisan Fear Street Part Three: 1666. Dengan naskah cerita yang digarap oleh sutradara film ini, Leigh Janiak, bersama dengan Phil Graziadei dan Kate Trefry, Fear Street Part Three: 1666 akan membawa penontonnya semakin jauh ke masa lalu untuk menggali secara mendalam kisah dari seorang perempuan bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dikisahkan, di pemukiman yang dikenal dengan nama Union – yang di masa depan akan berkembang menjadi kota modern, Sunnyvale dan Shadyside, sebuah kekuatan misterius menyebabkan bahan makanan menjadi membusuk, hewan ternak mati, dan, puncaknya, Pastor Cyrus Miller (Michael Chandler) ditemukan telah membunuh murid-muridnya. Panik, warga Union mulai berkumpul dan memutuskan bahwa kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka adalah merupakan akibat perbuatan sihir. Kepanikan warga tersebut kemudian dimanfaatkan oleh seorang pemuda bernama Caleb (Jeremy Ford) untuk membalaskan dendamnya pada Sarah Fier dan Hannah Miller (Olivia Scott Welch) yang dahulu pernah mempermalukannya. Continue reading Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Review: A Perfect Fit (2021)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Hadrah Daeng Ratu (Makmum, 2019), bersama dengan Garin Nugroho (99 Nama Cinta, 2019), A Perfect Fit berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara Saski (Nadya Arina), seorang penulis di bidang fesyen, dengan Rio (Refal Hady), yang secara perlahan berujung pada kedekatan antara keduanya. Padahal, Saski telah bertunangan dengan Deni Wijaya (Giorgino Abraham), seorang pemuda yang sebentar lagi akan meneruskan bisnis hotel milik ayahnya (Mathias Muchus). Di saat yang bersamaan, oleh sang ibu (Unique Priscilla), Rio juga sedang dijodohkan dengan teman masa kecilnya, Tiara (Anggika Bolsterli), yang kini telah menjelma menjadi seorang pengusaha dan turut berniat untuk mengembangkan toko sepatu yang dimiliki oleh Rio. Meskipun telah memiliki sosok lain yang akan segera mendampingi mereka dalam kehidupan pernikahan, namun baik Saski dan Rio tidak dapat membantah kenyamanan yang mereka rasakan ketika keduanya sedang bercengkrama bersama. Continue reading Review: A Perfect Fit (2021)

Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Melanjutkan laju pengisahan Fear Street Part One: 1994 (Leigh Janiak, 2021), Fear Street Part Two: 1978, yang masih diarahkan oleh Janiak dengan naskah cerita yang ditulis oleh Janiak bersama dengan Zak Olkewicz berdasarkan seri buku Fear Street karangan R. L. Stine, akan menguak lebih dalam mengenai misteri keberadaan seorang perempuan bernama Sarah Fier yang di tahun 1666 dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dengan latar belakang waktu pengisahan di tahun 1978, film ini memperkenalkan dua bersaudara yang berasal dari kota Shadyside, Ohio, Amerika Serikat, Cindy (Emily Rudd) dan Christine Berman atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Ziggy (Sadie Sink), yang sedang mengikuti perkemahan musim panas di Camp Nightwing. Meskipun bersaudara, Cindy dan Ziggy Berman memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kesehariannya: Cindy Berman berfokus penuh untuk mewujudkan seluruh impiannya agar dapat keluar dari Shadyside sementara Ziggy Berman lebih memilih untuk menikmati hidup meskipun akhirnya sering terjebak dalam berbagai masalah. Hubungan keduanya kemudian mendapatkan ujian ketika Camp Nightwing mendapatkan teror dari seorang sosok bertopeng yang bersiap untuk membunuh setiap orang yang ditemuinya. Continue reading Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Review: The 8th Night (2021)

Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara sekaligus penulis naskah Kim Tae-hyoung, alur penceritaan The 8th Night dimulai ketika seorang biksu muda, Cheong-seok (Nam Da-reum), ditugaskan oleh gurunya, Ha-jeong (Lee Eol), untuk membawa sebuah bungkusan kepada seorang mantan biksu, Park Jin-soo (Lee Sung-min), sekaligus memperingatkannya bahwa sesosok makhluk jahat yang dahulu pernah berusaha untuk membuka pintu neraka telah kembali dan bersiap untuk mengulangi kembali aksinya. Bukan usaha yang mudah. Selain Cheong-seok harus menemukan Park Jin-soo yang tidak terlalu jelas lokasi keberadaannya, Park Jin-soo menyimpan kenangan akan masa lalu yang kelam dan membuatnya tidak lagi percaya akan berbagai ajaran yang dulu diterimanya sebagai seorang biksu. Di saat yang bersamaan, seorang detektif bernama Kim Ho-tae (Park Hae-joon), sedang dilanda kebingungan ketika dirinya harus mengungkap kasus pembunuhan aneh dimana para korban ditemukan dengan kondisi mayat telah mengering. Continue reading Review: The 8th Night (2021)

Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Sebelum namanya popular berkat seri novel horor Goosebumps (1992) yang ditujukan bagi para pembaca dari kalangan anak-anak, R. L. Stine sebelumnya telah merilis serangkaian novel yang juga bertema horor berjudul Fear Street (1989) dengan alur pengisahan yang lebih berorientasi pada para pembaca dari kalangan remaja. Meskipun kesuksesannya tidak sefenomenal Goosebumps, Fear Street tetap berhasil mengumpulkan sejumlah besar penggemar sekaligus menarik perhatian Hollywood yang kemudian berusaha untuk mengadaptasi seri novel tersebut menjadi serial televisi maupun film – khususnya setelah kesuksesan yang diraih oleh Scream (Wes Craven, 1996). Serial televisi yang didasarkan pada seri novel Fear Street dan ditayangkan pada tahun 1998, sayangnya, gagal untuk menemukan peminat. Sementara itu, adaptasi film dari Fear Street baru benar-benar menemukan titik terang pada tahun 2015 ketika Chernin Entertainment mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan mengembangkan Fear Street sebagai sebuah film trilogi dengan Leigh Janiak (Honeymoon, 2014) duduk di kursi penyutradaraan. Proses produksi trilogi Fear Street sendiri telah selesai pada tahun 2019 dan kini Netflix akan merilis setiap film dari seri tersebut di setiap minggu pada bulan Juli 2021, dimulai dengan Fear Street Part One: 1994. Continue reading Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Diarahkan oleh Lucky Kuswandi (Galih & Ratna, 2017) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Gina S. Noer (Dua Garis Biru, 2019), Ali & Ratu Ratu Queens bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Ali (Iqbaal Ramadhan) untuk menemukan kebahagiannya di kota New York, Amerika Serikat. Mengapa New York? Karena di kota itulah sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang semenjak lama telah meninggalkan dirinya dan sang ayah, Hasan (Ibnu Jamil), demi mengejar mimpi untuk menjadi seorang penyanyi, kini berada. Berbekal sejumlah uang, tiket penerbangan yang dahulu pernah dikirimkan oleh ibunya, serta sedikit informasi tentang lokasi keberadaan sang ibu, Ali memulai perjalanannya. Sial, sesampainya di sebuah apartemen yang menjadi tujuannya di wilayah Queens, New York, Ali diberitahu bahwa kini ibunya tidak lagi tinggal disana. Di saat yang bersamaan, Ali bertemu dengan empat imigran asal Indonesia, Party (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Chinta (Happy Salma), serta Ance (Tika Panggabean), yang kemudian bersedia untuk menampung Ali serta membantunya untuk menemukan keberadaan sang ibu. Continue reading Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Review: Wish Dragon (2021)

Merupakan film kedua garapan Sony Pictures Animation yang ditayangkan di Netflix pada tahun ini setelah The Mitchells vs. the Machine (Mike Rianda, 2021), Wish Dragon adalah sebuah film animasi yang memiliki alur penceritaan yang mungkin akan mengingatkan penontonnya pada animasi klasik milik Walt Disney Pictures, Aladdin (John Musker, Ron Clements, 1992). Filmnya bercerita tentang Din Song (Jimmy Wong), seorang pemuda yang berasal dari kelas menengah yang bermimpi untuk kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Li Na Wang (Natasha Liu Bordizzo), yang karena kesuksesan sang ayah, Mr. Wang (Will Yun Lee), kini telah hidup sebagai keluarga berada nan kaya raya. Suatu hari, Din Song mendapatkan sebuah teko teh dari seorang pria tua (Ronny Chieng) yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang dewa. Awalnya, Din Song mengacuhkan teko teh yang diterimanya tersebut. Namun, ketika sesosok naga bernama Long (John Cho) keluar dari teko teh tersebut dan bersedia untuk mengabulkan tiga permintaannya, Din Song dengan segera tahu apa yang ingin diwujudkannya. Continue reading Review: Wish Dragon (2021)

Review: Ghost Lab (2021)

Setelah turut berkontribusi dalam sejumlah film omnibus seperti Phobia (2008), Phobia 2 (2009), dan Seven Something (2012), sutradara Paween Purijitpanya kembali hadir lewat Ghost Lab yang sekaligus menjadi film cerita panjang pertama yang ia arahkan semenjak Body (2007). Dengan naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Vasudhorn Piyaromna (Bad Genius, 2017) dan Tossaphon Riantong (Brother of the Year, 2018), Ghost Lab berkisah tentang persahabatan antara dua orang dokter muda, Wee (Thanapob Leeratanakajorn) dan Gla (Paris Intarakomalyasut), yang sama-sama berambisi untuk menemukan bukti ilmiah akan keberadaan hantu serta berbagai makhluk supranatural lainnya. Terinspirasi dari pertemuan keduanya akan seorang sosok hantu di rumah sakit tempat mereka bekerja, penelitian Wee dan Gla awalnya berlangsung dengan serius namun tetap menyenangkan. Namun, setelah berulangkali gagal untuk benar-benar mendapatkan cara maupun teori ilmiah yang benar untuk menemukan para makhluk supranatural, keduanya mulai memiliki ide untuk mengambil langkah yang lebih ekstrem: mendekati kematian secara langsung dengan melakukan usaha untuk bunuh diri. Continue reading Review: Ghost Lab (2021)

Review: Army of the Dead (2021)

Sebelum namanya (lebih) popular sebagai sutradara andalan DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film-film pahlawan super seperti Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), hingga Zack Snyder’s Justice League (2021) serta dilibatkan dalam seluruh film-film yang berada dalam semesta pengisahan DC Extended Universe, Zack Snyder memulai karir penyutradaraan film cerita panjangnya dengan mengarahkan sebuah film aksi horor berjudul Dawn of the Dead (2004) yang berkisah tentang kekacauan yang terjadi akibat serbuan sekaligus penyerangan para mayat hidup terhadap manusia. Merupakan versi buat ulang dari film legendaris berjudul sama arahan George A. Romero yang dahulu dirilis pada tahun 1978, Dawn of the Dead garapan Snyder sering dinobatkan sebagai salah satu film horor bertemakan mayat hidup terbaik yang pernah diproduksi Hollywood oleh para kritikus film dunia sekaligus menjadi film terbaik yang pernah diarahkan Snyder hingga saat ini. Continue reading Review: Army of the Dead (2021)