Tag Archives: Netflix

Review: Hillbilly Elegy (2020)

Nama J. D. Vance serta judul memoar yang ditulisnya, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis, yang bercerita tentang masa kecilnya memang tidak begitu familiar di telinga orang-orang di luar negara Amerika Serikat. Namun, ketika dirilis pada tahun 2016 lalu – berdekatan dengan masa pemilihan presiden di Amerika Serikat, buku garapan Vance mendapatkan banyak sorotan akan pengisahannya mengenai kaum hillbilly yang dikenal sebagai sekelompok masyarakat Amerika Serikat berkulit putih yang sering dinilai konservatif serta memiliki watak dan perangai keseharian yang keras. Banyak pihak yang menilai penggambaran yang dilakukan Vance tentang kaum hillbilly dalam memoar yang ditulisnya dihadirkan secara dangkal. Terlepas dari berbagai sorotan dan kontroversi, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis berhasil meraih sukses secara komersial, menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di tahun 2016 dan 2017, mempopulerkan nama Vance, dan, tentu saja, dilirik oleh Hollywood untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Continue reading Review: Hillbilly Elegy (2020)

Review: The Boys in the Band (2020)

Mereka yang menyaksikan film The Boys in the Band versi teranyar rilisan Netflix jelas dapat merasakan bagaimana banyak bagian dari alur cerita film ini terasa cukup usang jika dibandingkan dengan film-film bertema serupa yang dirilis pada beberapa tahun terakhir. Mengulik seputar kehidupan kaum homoseksual di kota New York, Amerika Serikat, The Boys in the Band mendasarkan kisahnya pada sebuah drama panggung berjudul sama garapan Mart Crowley yang ditampilkan untuk pertama kali pada tahun 1968 – suatu era dimana kaum homoseksual masih belum diterima keberadaannya oleh khalayak luas di Amerika Serikat. Dengan tema cerita yang saat itu masih dinilai kontroversial dan belum banyak diangkat untuk konsumsi publik luas, drama panggung The Boys in the Band ternyata mampu menarik banyak perhatian sekaligus mencetak sukses besar selama masa pementasannya. Hollywood lantas mencoba untuk menterjemahkan kesuksesan tersebut melalui sebuah adaptasi film layar lebar yang diarahkan William Friedkin yang dirilis pada tahun 1970. Continue reading Review: The Boys in the Band (2020)

Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Tim Hill – yang sebelumnya bertugas sebagai penulis naskah bagi The SpongeBob SquarePants Movie (2004), The SpongeBob Movie: Sponge on the Run menghadirkan sebuah petualangan baru bagi SpongeBob SquarePants, Patrick Star, serta rekan-rekannya dari Bikini Bottom. Dikisahkan, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan Patrick Star (Bill Fagerbakke) melakukan perjalanan ke Lost City of Atlantic City untuk menyelamatkan Gary the Snail (juga diisisuarakan oleh Kenny) yang telah diculik oleh King Poseidon (Matt Berry). Jelas bukan sebuah petualangan mudah. Selain harus bersiap untuk menghadapi King Poseidon dan pasukannya, SpongeBob SquarePants dan Patrick Star juga harus menghadapi berbagai tantangan lain dalam perjalanan mereka menuju Lost City of Atlantic City. Beruntung, kedua sahabat tersebut kemudian mendapatkan bimbingan dari Sage (Keanu Reeves) serta rekan-rekan mereka dari Bikini Bottom, Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Mr. Krabs (Clancy Brown), dan Plankton (Mr. Lawrence), yang segera menyusul SpongeBob SquarePants dan Patrick Star setelah mengetahui jika keduanya sedang berada dalam masalah. Continue reading Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Review: His House (2020)

Sepasang suami istri pindah ke sebuah rumah dengan segala rencana untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Sayang, kepindahan keduanya justru disambut dengan berbagai teror yang secara perlahan mulai mengusik hubungan keduanya. Premis yang terdengar tidak asing? Tunggu dulu. Merupakan debut pengarahan bagi sutradara asal Inggris, Remi Weekes, His House menawarkan barisan mimpi buruk akan sebuah rumah berhantu yang bertujuan lebih dari sekedar untuk menakut-nakuti para penontonnya. Lewat naskah cerita yang digarap Weekes berdasarkan ide cerita dari Felicity Evans dan Toby Venables, His House juga memberikan galian mendalam nan emosional tentang trauma dari masa lampau, duka akan kehilangan sosok kesayangan, hingga berbagai ketakutan dalam menghadapi sebuah lingkungan baru. Capaian yang membuat His House menjadi salah satu rilisan horor paling mengesankan di sepanjang tahun ini. Continue reading Review: His House (2020)

Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca? Continue reading Review: Rebecca (2020)

Review: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Boy Candra is at it. AGAIN!

Masih ingat momen-momen buruk ketika Anda menyaksikan Malik & Elsa (Eddy Prasetya, 2020) yang dirilis MAX Pictures bersama Disney+ Hotstar pada minggu lalu? Well… novel-novel karangan Candra sepertinya memang tengah menjadi komoditas terhangat untuk diadaptasi oleh para produser film Indonesia. Tidak lama setelah perilisan Malik & Elsa, kini giliran IFI Sinema dan Screenplay Films yang bekerjasama dengan Netflix untuk merilis Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi yang alur kisahnya juga diambil dari novel tulisan Candra yang berjudul sama. Keberadaan Jefri Nichol sebagai pemeran utama, Lasja F. Susatyo (Cinta dari Wamena, 2013) di kursi penyutradaraan, serta Upi (#TemantapiMenikah, 2018) sebagai penulis naskah memang memberikan secercah harapan pada film drama romansa remaja ini. Sayang, talenta-talenta industri perfilman Indonesia tersebut ternyata tidak mampu membalut kualitas dasar cerita yang sepertinya memang tidak dapat diselamatkan lagi. Continue reading Review: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Review: Enola Holmes (2020)

Setelah berkarir selama lebih dari dua dekade di dunia pertelevisian – termasuk menjadi sutradara bagi sejumlah episode di beberapa serial televisi paling popular selama beberapa tahun terakhir seperti Fleabag (2016), Killing Eve (2018), dan Ramy (2019) – sutradara asal Inggris, Harry Bradbeer, melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Enola Holmes. Diadaptasi dari seri buku The Enola Holmes Mysteries garapan penulis asal Amerika Serikat, Nancy Springer, karakter Enola Holmes merupakan karakter sempalan dari rangkaian novel misteri Sherlock Holmes yang ditulis oleh Arthur Conan Doyle. Enola Holmes, sayangnya, bukanlah bagian dari seri film Sherlock Holmes (2009 – 2011) arahan Guy Ritchie serta dibintangi duo Robert Downey, Jr. dan Jude Law yang kelanjutan kisahnya telah cukup banyak dinanti tersebut. Meskipun begitu, garapan Bradbeer terhadap Enola Holmes mampu memberikan ruang pengisahan petualangan misteri a la kisah-kisah Sherlock Holmes yang tidak hanya menarik namun juga berhasil memberikan jangkauan kisah yang baru dan segar bagi cerita Sherlock Holmes yang melandasinya. Continue reading Review: Enola Holmes (2020)

Review: The Devil All the Time (2020)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Donald Ray Pollock – yang juga bertugas sebagai narator bagi jalan pengisahan film ini, The Devil All the Time akan membawa penontonnya ke dalam perjalanan sepanjang dua dekade bersama dengan sejumlah karakter yang jelas merupakan karakter-karakter terburuk – dalam artian sifat, bukan dari kualitas penulisan – yang pernah ditampilkan dalam sebuah linimasa pengisahan sebuah film. Dengan durasi penceritaan sepanjang 138 menit, sutradara Antonio Campos (Christine, 2016) secara perlahan membedah setiap karakter, membangun konflik yang menghubungkan antara satu karakter dengan yang lain, sekaligus menghadirkan kengerian akan berbagai hal buruk yang dapat dilakukan oleh manusia. Bukan sebuah perjalanan cerita yang cukup mudah untuk diikuti – khususnya ketika Campos memilih untuk membalut filmnya dengan atmosfer gambar dan pengisahan yang lumayan kelam. Namun, di saat yang bersamaan, tatanan pengisahan pilihan Campos mampu secara efekif meninggalkan kesan mendalam yang jelas tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja. Continue reading Review: The Devil All the Time (2020)

Review: Cuties (2020)

Cuties, sebuah film drama asal Perancis yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Maïmouna Doucouré, telah mendapatkan begitu banyak kecaman bahkan jauh sebelum film tersebut ditayangkan secara luas melalui Netflix. Penyebabnya tidak lain dikarenakan pemasangan poster yang dipilihkan oleh Netflix untuk mempromosikan film tersebut yang memuat gambaran sekelompok perempuan dibawah umur dalam pose dan pakaian yang dinilai provokatif. Ratusan ribu petisi daring lantas mendorong agar penayangan Cuties dibatalkan, mengajak agar pengguna Netflix membatalkan layanan berlangganan mereka, hingga memberikan ancaman kematian kepada Doucouré. Doucouré meminta maaf. Netflix, sepantasnya, turut meminta maaf. Dan Cuties mempertahankan jadwal penayangannya. Sebuah keputusan yang jelas sangat tepat karena – mereka yang terlanjur membenci Cuties tanpa memberikan kesempatan untuk menyaksikannya tidak akan pernah tahu tentang hal ini – film ini adalah sebuah tamparan kuat akan kehidupan nyata tentang bagaimana para perempuan muda seringkali secara sadar atau tidak harus mengubah jati dirinya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Continue reading Review: Cuties (2020)

Review: #Alive (2020)

Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara asal Korea Selatan, Il Cho, #Alive berkisah mengenai sebuah penyakit menular misterius yang menjangkiti penduduk di wilayah Korea Selatan yang mengubah mereka menjadi sosok mayat hidup serta membuat mereka saling menyerang dan memakan satu sama lain. Terjebak di tengah kekacauan yang telah gagal dikendalikan oleh pemerintah tersebut, seorang pemuda bernama Oh Joon-woo (Yoo Ah-in), berusaha untuk bertahan hidup dengan bersembunyi di dalam apartemennya. Bukan sebuah usaha yang mudah khususnya karena rasa kesepian dan kelaparan akibat semakin menipisnya persediaan makanan secara perlahan mulai mengganggu kesehatan mentalnya. Beruntung, Oh Joon-woo kemudian berkenalan dengan seorang gadis bernama Kim Yoo-bin (Park Shin-hye) yang juga sedang mencoba untuk menghindar dari ancaman kejaran para mayat hidup. Berdua, Oh Joon-woo dan Kim Yoo-bin mulai menyusun rencana untuk menyelamatkan diri sekaligus keluar dari wilayah apartemen yang mereka tinggali. Continue reading Review: #Alive (2020)

Review: Guru-guru Gokil (2020)

Awalnya, film terbaru arahan Sammaria Simanjuntak (Demi Ucok, 2013), Guru-guru Gokil, akan menjadi film layar lebar perdana bagi Dian Sastrowardoyo dimana dirinya tidak hanya tampil menjadi seorang aktris namun juga turut berperan sebagai produser. Rencana untuk menayangkan Guru-guru Gokil di bioskop, sayangnya, terpaksa dibatalkan akibat pandemi COVID-19 yang mendera dunia. Beruntung, Guru-guru Gokil kemudian menemukan rumah barunya ketika Netflix mengakuisi film tersebut, menjadikannya sebagai film Indonesia kedua dengan label Netflix Original yang tayang perdana di layanan streaming terbesar dunia tersebut setelah The Night Comes for Us (Timo Tjahjanto, 2018), serta membuatnya dapat dinikmati oleh lebih dari 183 juta pelanggan Netflix dari 190 negara. Jelas bukan capaian yang mengecewakan – setidaknya jika Anda tidak mengaitkannya dengan kualitas cerita medioker yang disajikan oleh film ini. Continue reading Review: Guru-guru Gokil (2020)