Tag Archives: Netflix

Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Menjadi film pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Israel, Navot Papushado, secara solo – setelah sebelumnya mengarahkan Rabies (2010) dan Big Bad Wolves (2013) bersama dengan Aharon Keshales, Gunpowder Milkshake berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Sam (Karen Gillan) yang ditugaskan untuk membunuh seorang pria, David (Samuel Anderson), karena telah mencuri sejumlah uang dari perusahaan tempat Sam sekarang bekerja, The Firm. Sebagai seorang pembunuh bayaran profesional, tugas tersebut jelas bukanlah sebuah hal yang sulit. Namun, ketika mengetahui bahwa David mencuri uang tersebut untuk digunakan sebagai tebusan bagi putrinya, Emily (Chloe Coleman), yang sedang diculik, hati Sam kemudian tergerak untuk membantu. Sam sendiri yang kemudian menghantarkan uang tebusan tersebut kepada sang penculik dengan maksud untuk kembali merebut uang tersebut dan mengembalikannya ke perusahaan setelah Emily berhasil ia dapatkan. Sial, rencana tersebut menemui kegagalan yang bahkan menyebabkan uang hasil curian lenyap. Sam, yang biasa memburu dan membunuh orang-orang yang telah ditentukan oleh The Firm, kini menjadi buruan karena dugaan telah melarikan uang perusahaan. Continue reading Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Dirancang sebagai sebuah trilogi yang masing-masing bagian pengisahannya dirilis tiap minggu secara berurutan oleh Netflix, seri film Fear Street mengakhiri perjalanan kisahnya dengan perilisan Fear Street Part Three: 1666. Dengan naskah cerita yang digarap oleh sutradara film ini, Leigh Janiak, bersama dengan Phil Graziadei dan Kate Trefry, Fear Street Part Three: 1666 akan membawa penontonnya semakin jauh ke masa lalu untuk menggali secara mendalam kisah dari seorang perempuan bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dikisahkan, di pemukiman yang dikenal dengan nama Union – yang di masa depan akan berkembang menjadi kota modern, Sunnyvale dan Shadyside, sebuah kekuatan misterius menyebabkan bahan makanan menjadi membusuk, hewan ternak mati, dan, puncaknya, Pastor Cyrus Miller (Michael Chandler) ditemukan telah membunuh murid-muridnya. Panik, warga Union mulai berkumpul dan memutuskan bahwa kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka adalah merupakan akibat perbuatan sihir. Kepanikan warga tersebut kemudian dimanfaatkan oleh seorang pemuda bernama Caleb (Jeremy Ford) untuk membalaskan dendamnya pada Sarah Fier dan Hannah Miller (Olivia Scott Welch) yang dahulu pernah mempermalukannya. Continue reading Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Review: A Perfect Fit (2021)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Hadrah Daeng Ratu (Makmum, 2019), bersama dengan Garin Nugroho (99 Nama Cinta, 2019), A Perfect Fit berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara Saski (Nadya Arina), seorang penulis di bidang fesyen, dengan Rio (Refal Hady), yang secara perlahan berujung pada kedekatan antara keduanya. Padahal, Saski telah bertunangan dengan Deni Wijaya (Giorgino Abraham), seorang pemuda yang sebentar lagi akan meneruskan bisnis hotel milik ayahnya (Mathias Muchus). Di saat yang bersamaan, oleh sang ibu (Unique Priscilla), Rio juga sedang dijodohkan dengan teman masa kecilnya, Tiara (Anggika Bolsterli), yang kini telah menjelma menjadi seorang pengusaha dan turut berniat untuk mengembangkan toko sepatu yang dimiliki oleh Rio. Meskipun telah memiliki sosok lain yang akan segera mendampingi mereka dalam kehidupan pernikahan, namun baik Saski dan Rio tidak dapat membantah kenyamanan yang mereka rasakan ketika keduanya sedang bercengkrama bersama. Continue reading Review: A Perfect Fit (2021)

Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Melanjutkan laju pengisahan Fear Street Part One: 1994 (Leigh Janiak, 2021), Fear Street Part Two: 1978, yang masih diarahkan oleh Janiak dengan naskah cerita yang ditulis oleh Janiak bersama dengan Zak Olkewicz berdasarkan seri buku Fear Street karangan R. L. Stine, akan menguak lebih dalam mengenai misteri keberadaan seorang perempuan bernama Sarah Fier yang di tahun 1666 dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dengan latar belakang waktu pengisahan di tahun 1978, film ini memperkenalkan dua bersaudara yang berasal dari kota Shadyside, Ohio, Amerika Serikat, Cindy (Emily Rudd) dan Christine Berman atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Ziggy (Sadie Sink), yang sedang mengikuti perkemahan musim panas di Camp Nightwing. Meskipun bersaudara, Cindy dan Ziggy Berman memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kesehariannya: Cindy Berman berfokus penuh untuk mewujudkan seluruh impiannya agar dapat keluar dari Shadyside sementara Ziggy Berman lebih memilih untuk menikmati hidup meskipun akhirnya sering terjebak dalam berbagai masalah. Hubungan keduanya kemudian mendapatkan ujian ketika Camp Nightwing mendapatkan teror dari seorang sosok bertopeng yang bersiap untuk membunuh setiap orang yang ditemuinya. Continue reading Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Review: The 8th Night (2021)

Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara sekaligus penulis naskah Kim Tae-hyoung, alur penceritaan The 8th Night dimulai ketika seorang biksu muda, Cheong-seok (Nam Da-reum), ditugaskan oleh gurunya, Ha-jeong (Lee Eol), untuk membawa sebuah bungkusan kepada seorang mantan biksu, Park Jin-soo (Lee Sung-min), sekaligus memperingatkannya bahwa sesosok makhluk jahat yang dahulu pernah berusaha untuk membuka pintu neraka telah kembali dan bersiap untuk mengulangi kembali aksinya. Bukan usaha yang mudah. Selain Cheong-seok harus menemukan Park Jin-soo yang tidak terlalu jelas lokasi keberadaannya, Park Jin-soo menyimpan kenangan akan masa lalu yang kelam dan membuatnya tidak lagi percaya akan berbagai ajaran yang dulu diterimanya sebagai seorang biksu. Di saat yang bersamaan, seorang detektif bernama Kim Ho-tae (Park Hae-joon), sedang dilanda kebingungan ketika dirinya harus mengungkap kasus pembunuhan aneh dimana para korban ditemukan dengan kondisi mayat telah mengering. Continue reading Review: The 8th Night (2021)

Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Sebelum namanya popular berkat seri novel horor Goosebumps (1992) yang ditujukan bagi para pembaca dari kalangan anak-anak, R. L. Stine sebelumnya telah merilis serangkaian novel yang juga bertema horor berjudul Fear Street (1989) dengan alur pengisahan yang lebih berorientasi pada para pembaca dari kalangan remaja. Meskipun kesuksesannya tidak sefenomenal Goosebumps, Fear Street tetap berhasil mengumpulkan sejumlah besar penggemar sekaligus menarik perhatian Hollywood yang kemudian berusaha untuk mengadaptasi seri novel tersebut menjadi serial televisi maupun film – khususnya setelah kesuksesan yang diraih oleh Scream (Wes Craven, 1996). Serial televisi yang didasarkan pada seri novel Fear Street dan ditayangkan pada tahun 1998, sayangnya, gagal untuk menemukan peminat. Sementara itu, adaptasi film dari Fear Street baru benar-benar menemukan titik terang pada tahun 2015 ketika Chernin Entertainment mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan mengembangkan Fear Street sebagai sebuah film trilogi dengan Leigh Janiak (Honeymoon, 2014) duduk di kursi penyutradaraan. Proses produksi trilogi Fear Street sendiri telah selesai pada tahun 2019 dan kini Netflix akan merilis setiap film dari seri tersebut di setiap minggu pada bulan Juli 2021, dimulai dengan Fear Street Part One: 1994. Continue reading Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Diarahkan oleh Lucky Kuswandi (Galih & Ratna, 2017) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Gina S. Noer (Dua Garis Biru, 2019), Ali & Ratu Ratu Queens bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Ali (Iqbaal Ramadhan) untuk menemukan kebahagiannya di kota New York, Amerika Serikat. Mengapa New York? Karena di kota itulah sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang semenjak lama telah meninggalkan dirinya dan sang ayah, Hasan (Ibnu Jamil), demi mengejar mimpi untuk menjadi seorang penyanyi, kini berada. Berbekal sejumlah uang, tiket penerbangan yang dahulu pernah dikirimkan oleh ibunya, serta sedikit informasi tentang lokasi keberadaan sang ibu, Ali memulai perjalanannya. Sial, sesampainya di sebuah apartemen yang menjadi tujuannya di wilayah Queens, New York, Ali diberitahu bahwa kini ibunya tidak lagi tinggal disana. Di saat yang bersamaan, Ali bertemu dengan empat imigran asal Indonesia, Party (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Chinta (Happy Salma), serta Ance (Tika Panggabean), yang kemudian bersedia untuk menampung Ali serta membantunya untuk menemukan keberadaan sang ibu. Continue reading Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Review: Wish Dragon (2021)

Merupakan film kedua garapan Sony Pictures Animation yang ditayangkan di Netflix pada tahun ini setelah The Mitchells vs. the Machine (Mike Rianda, 2021), Wish Dragon adalah sebuah film animasi yang memiliki alur penceritaan yang mungkin akan mengingatkan penontonnya pada animasi klasik milik Walt Disney Pictures, Aladdin (John Musker, Ron Clements, 1992). Filmnya bercerita tentang Din Song (Jimmy Wong), seorang pemuda yang berasal dari kelas menengah yang bermimpi untuk kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Li Na Wang (Natasha Liu Bordizzo), yang karena kesuksesan sang ayah, Mr. Wang (Will Yun Lee), kini telah hidup sebagai keluarga berada nan kaya raya. Suatu hari, Din Song mendapatkan sebuah teko teh dari seorang pria tua (Ronny Chieng) yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang dewa. Awalnya, Din Song mengacuhkan teko teh yang diterimanya tersebut. Namun, ketika sesosok naga bernama Long (John Cho) keluar dari teko teh tersebut dan bersedia untuk mengabulkan tiga permintaannya, Din Song dengan segera tahu apa yang ingin diwujudkannya. Continue reading Review: Wish Dragon (2021)

Review: Ghost Lab (2021)

Setelah turut berkontribusi dalam sejumlah film omnibus seperti Phobia (2008), Phobia 2 (2009), dan Seven Something (2012), sutradara Paween Purijitpanya kembali hadir lewat Ghost Lab yang sekaligus menjadi film cerita panjang pertama yang ia arahkan semenjak Body (2007). Dengan naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Vasudhorn Piyaromna (Bad Genius, 2017) dan Tossaphon Riantong (Brother of the Year, 2018), Ghost Lab berkisah tentang persahabatan antara dua orang dokter muda, Wee (Thanapob Leeratanakajorn) dan Gla (Paris Intarakomalyasut), yang sama-sama berambisi untuk menemukan bukti ilmiah akan keberadaan hantu serta berbagai makhluk supranatural lainnya. Terinspirasi dari pertemuan keduanya akan seorang sosok hantu di rumah sakit tempat mereka bekerja, penelitian Wee dan Gla awalnya berlangsung dengan serius namun tetap menyenangkan. Namun, setelah berulangkali gagal untuk benar-benar mendapatkan cara maupun teori ilmiah yang benar untuk menemukan para makhluk supranatural, keduanya mulai memiliki ide untuk mengambil langkah yang lebih ekstrem: mendekati kematian secara langsung dengan melakukan usaha untuk bunuh diri. Continue reading Review: Ghost Lab (2021)

Review: Army of the Dead (2021)

Sebelum namanya (lebih) popular sebagai sutradara andalan DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film-film pahlawan super seperti Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), hingga Zack Snyder’s Justice League (2021) serta dilibatkan dalam seluruh film-film yang berada dalam semesta pengisahan DC Extended Universe, Zack Snyder memulai karir penyutradaraan film cerita panjangnya dengan mengarahkan sebuah film aksi horor berjudul Dawn of the Dead (2004) yang berkisah tentang kekacauan yang terjadi akibat serbuan sekaligus penyerangan para mayat hidup terhadap manusia. Merupakan versi buat ulang dari film legendaris berjudul sama arahan George A. Romero yang dahulu dirilis pada tahun 1978, Dawn of the Dead garapan Snyder sering dinobatkan sebagai salah satu film horor bertemakan mayat hidup terbaik yang pernah diproduksi Hollywood oleh para kritikus film dunia sekaligus menjadi film terbaik yang pernah diarahkan Snyder hingga saat ini. Continue reading Review: Army of the Dead (2021)

Review: The Woman in the Window (2021)

Well… Anda tidak salah jika merasa bahwa telah begitu familiar dengan judul The Woman in the Window. Film ini sebenarnya telah menyelesaikan proses produksinya pada akhir tahun 2018 dengan jadwal rilis pada akhir tahun 2019. Namun, sejumlah perubahan terus menunda perilisan film yang diarahkan oleh Joe Wright (Darkest Hour, 2017) ini. Walt Disney Studios Motion Pictures, yang merupakan pemilik baru dari rumah produksi 20th Century Fox yang memproduksi film ini, dikabarkan tidak puas dengan hasil akhir film ini pada saat tersebut dan meminta untuk dilakukan sejumlah pengambilan gambar ulang. Trent Reznor dan Atticus Ross yang awalnya bertugas sebagai penata musik film juga memilih untuk tidak melanjutkan kinerja mereka yang lantas digantikan oleh komposer Danny Elfman. Dan, tentu saja, pandemi COVID-19 juga memberikan andil dalam menggagalkan rencana rilis The Woman in the Window yang baru di awal tahun 2020. Setelah penundaan demi penundaan, yang masih ditambah dengan kondisi pandemi yang masih belum membaik, membuat Walt Disney Studios Motion Pictures kemudian memilih untuk menjual hak rilis film ini kepada Netflix yang lantas merilisnya pada awal tahun 2021 – dua tahun dari jadwal awal perilisan film ini di layar bioskop. Continue reading Review: The Woman in the Window (2021)

Review: The Disciple (2020)

Enam tahun setelah merilis debut pengarahan film layar lebarnya yang gemilang melalui Court (2014) – yang tidak hanya mendapatkan pujian sekaligus pengakuan dari banyak kritikus film dunia namun juga berhasil terpilih mewakili India untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film di ajang The 88th Annual Academy Awards – sutradara Chaitanya Tamhane kini kembali dengan film terbarunya, The Disciple. Berfokus pada sosok-sosok karakter yang menekuni musik tradisional India dalam kehidupan mereka, naskah cerita yang ditulis oleh Tamhane dan digarap semenjak tahun 2015 menarik perhatian sutradara Alfonso Cuarón (Roma, 2018) yang kemudian bergabung sebagai produser eksekutif bagi film ini, membantu Tamhane untuk mengembangkan ide cerita dari film arahannya, serta memberikan sejumlah masukan untuk capaian teknikal film. Hasilnya tidak mengecewakan. Terlepas dari keterlibatan Cuarón, Tamhane dengan lugas menunjukkan kemampuan berceritanya yang terasa begitu personal sekaligus kuat dalam menyampaikan setiap titik poin kisahnya. Continue reading Review: The Disciple (2020)

Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Sempat direncanakan rilis di layar bioskop dengan judul Connected pada tahun 2020, The Mitchells vs the Machines adalah film animasi terbaru yang diproduseri oleh Phil Lord dan Christopher Miller yang, tentu saja, dikenal dengan film-film yang mereka arahkan dan produseri sebelumnya seperti Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), The LEGO Movie (2014), dan Spider-Man: Into the Spider-Verse (Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman, 2018). Merupakan film animasi yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara Mike Rianda – serta co-director Jeff Rowe yang bersama dengan Rianda menuliskan naskah cerita film, The Mitchells vs the Machines mencoba meneruskan kesuksesan Sony Pictures Animation lewat Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam menghadirkan tatanan visual animasi dengan citarasa animasi yang berbeda dari kebanyakan film animasi modern. Untuk film ini, hal tersebut dilakukan dengan menyajikan serta memadukan teknik animasi tradisional dan animasi komputer, memberikan sejumlah sentuhan live-action di beberapa adegan, dan membungkusnya dengan warna-warna terang yang akan dengan segera mencuri perhatian. Berhasil? Continue reading Review: The Mitchells vs the Machines (2021)