Tag Archives: Rating: B

Review: Spider-Man: No Way Home (2021)

Harus diakui, dua film pertama Spider-Man arahan Jon Watts yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Spider-Man: Homecoming (2017) dan Spider-Man: Far from Home (2019), memang masih belum mampu meninggalkan kesan sedalam lima film Spider-Man pendahulunya – tiga film Spider-Man (2002 – 2007) yang dibintangi Tobey Maguire dan diarahkan oleh Sam Raimi serta dua film The Amazing Spider-Man (2012 – 2014) yang dibintangi Andrew Garfield dan diarahkan oleh Marc Webb. Kedua film Spider-Man arahan Watts sebenarnya memiliki konsep cerita yang terasa lebih ringan dan lebih segar daripada film-film pendahulunya serta mendapatkan dukungan barisan pengisi departemen akting yang solid namun, entah mengapa, selalu terasa setengah matang dalam perjalanan eksekusi ceritanya. Bukan sebuah presentasi yang buruk tetapi jelas tidak berhasil dalam mengembangkan banyak potensi ceritanya. Continue reading Review: Spider-Man: No Way Home (2021)

Review: West Side Story (2021)

Di tahun dimana film musikal tampil mendominasi dan menghadirkan film-film seperti In the Heights (Jon M. Chu, 2021), Vivo (Kirk DeMicco, 2021), Cinderella (Kay Cannon, 2021), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), serta tick, tick… BOOM! (Lin-Manuel Miranda, 2021), sutradara Steven Spielberg melakukan debut pengarahan film musikalnya melalui West Side Story. Terdengar familiar? West Side Story arahan Spielberg merupakan film adaptasi kedua dari drama panggung popular berjudul sama yang dibuat oleh Jerome Robbins, Leonard Bernstein, Stephen Sondheim, dan Arthur Laurents. Bersama dengan sutradara Robert Wise, Robbins mengarahkan film adaptasi pertama dari drama panggung garapannya yang berhasil meraih sukses besar di saat perilisannya pada tahun 1961: tidak hanya mampu menjadi film dengan raihan pendapatan komersial terbesar di tahun tersebut, West Side Story arahan Wise dan Robbin juga berhasil memenangkan 10 dari 11 kategori yang diraihnya pada ajang The 34th Annual Academy Awards, termasuk Best Picture dan Best Director. Hingga saat ini, West Side Story arahan Wise dan Robbins masih dianggap sebagai salah satu film musikal terbaik sepanjang masa. Jelas sebuah tantangan besar bahkan bagi sutradara sekelas Spielberg. Continue reading Review: West Side Story (2021)

Review: Yuni (2021)

Sejujurnya, cukup menggusarkan hati untuk menerima kenyataan bahwa film terbaru arahan Kamila Andini (Sekala Niskala, 2017), Yuni, didasarkan pada realita kehidupan keseharian yang masih harus dihadapi oleh kaum perempuan di sejumlah (banyak?) tempat di negara ini hingga saat ini. Meskipun jika Anda merupakan seorang laki-laki. Khususnya jika Anda adalah seorang laki-laki. Naskah cerita film yang ditulis Andini bersama dengan Prima Rusdi (Ada Apa dengan Cinta? 2, 2016) secara perlahan namun mendalam membuka berbagai luka dan duka kaum perempuan yang menjadi fokus utama linimasa pengisahan dan membuat setiap mata yang menyaksikan kisah mereka kembali diingatkan pada betapa buruknya perlakuan sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dalam proses berkehidupan dan bermasyarakat terhadap mereka. We failed them. Continue reading Review: Yuni (2021)

Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Setelah merilis Posesif (2017) dan Aruna & Lidahnya (2018) yang memiliki pendekatan cerita lebih komersial jika dibandingkan dengan film-film lain yang berada dalam filmografinya, Edwin kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama garapan Eka Kurniawan. Mungkin cukup sukar membayangkan kompleksitas konflik dan karakter dalam balutan rangkaian metafora akan isu sosial politik pada masa rezim Orde Baru yang disampaikan melalui linimasa cerita tak beraturan oleh Kurniawan dapat hidup di luar imajinasi para pembaca novelnya. Namun, dengan pengarahannya yang lugas, Edwin tidak hanya mampu menaklukkan tatanan kompleksitas tersebut. Edwin juga dapat menghasilkan jalinan kisah romansa termanis yang pernah hadir dalam film garapannya. Continue reading Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Review: Free Guy (2021)

Menjadi film cerita panjang pertama yang diarahkan oleh Shawn Levy semenjak mengarahkan Night at the Museum: Secret of the Tomb (2014), bercerita tentang sesosok karakter non-pemain dalam sebuah permainan video aksi-petualangan yang dikenal dengan sebutan Guy (Ryan Reynolds). Guy dan karakter-karakter non-pemain lain yang berada dalam permainan video bernama Free City tersebut tidak menyadari bahwa mereka adalah sekelompok karakter latar dalam permainan video yang memiliki tugas dan kegiatan yang sama dan terus berulang setiap harinya. Namun, pertemuan Guy dengan Molotovgirl – yang merupakan sesosok karakter pemain yang di dunia nyata dimainkan oleh seorang perempuan bernama Millie Rusk (Jodie Comer) – mengubah cara dirinya dalam memandang lingkungan sekitarnya. Guy masih belum menyadari dirinya hanyalah karakter non-pemain dalam sebuah permainan video namun Guy mulai memiliki hasrat untuk melakukan berbagai hal yang berbeda dalam kesehariannya. Guy juga merasakan bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan sosok karakter Molotovgirl. Continue reading Review: Free Guy (2021)

Review: Candyman (2021)

Seperti halnya Halloween (David Gordon Green, 2018) yang alur pengisahannya bertugas sebagai sekuel bagi Halloween (John Carpenter, 1978) dengan mengacuhkan film-film lain dalam seri Halloween lainnya yang telah dirilis, garapan terbaru sutradara Nia DaCosta (Little Woods, 2018) bersama dengan produser Jordan Peele (Us, 2019) untuk film Candyman juga akan bertindak sebagai sekuel serta memiliki alur pengisahan yang terkoneksi dengan alur pengisahan film perdana Candyman (1992) arahan Bernard Rose dengan tidak memiliki keterkaitan cerita apapun terhadap film lain dalam seri Candyman yang berada diantaranya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DaCosta bersama dengan Peele dan Win Rosenfeld, Candyman (2021) memberikan pengembangan yang lebih mendalam terhadap sosok karakter Candyman yang dahulu digambarkan pada Candyman (1992) dan menjadikan kisahnya tampil relevan dengan berbagai perbincangan tentang isu sosial dan politik seputar ras di era sekarang. Continue reading Review: Candyman (2021)

Review: The Medium (2021)

The Medium adalah film horor yang menjadi buah kerjasama antara sutradara berkewarganegaraan Thailand, Banjong Pisanthanakun – yang dikenal untuk film-filmnya seperti Shutter (2004), Alone (2007), sebuah segmen di film omnibus 4bia (2008) dan Phobia 2 (2009), serta Pee Mak (2013), dan One Day (2016), dengan sutradara yang berasal dari Korea Selatan, Na Hong-jin – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti The Chaser (2008), The Yellow Sea (2010), dan The Wailing (2016). Untuk film ini, Pisanthanakun dan Na sama-sama bertugas sebagai produser, dengan Na juga menuliskan naskah cerita bersama dengan Chantavit Dhanasevi (Hello Stranger, 2010) sementara Pisanthanakun juga duduk di bangku penyutradaraan. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup dapat menggambarkan horor jenis apa yang dapat diharapkan ketika menyaksikan The Medium: secara perlahan membangun pondasi pengisahan horornya, namun tidak ragu untuk kemudian bergerak cepat dan brutal guna menakuti para penontonnya. Continue reading Review: The Medium (2021)

Review: Malignant (2021)

Setelah mengarahkan Aquaman (2018) yang menjadi salah satu film tersukses (dan terbaik) dalam seri film DC Extended Universe, James Wan kembali hadir dengan Malignant yang menjadi film horor pertama yang disutradarainya setelah The Conjuring 2 (2016). Malignant juga menandai cerita orisinal pertama yang diarahkan oleh Wan semenjak mengarahkan The Conjuring (2013). Malignant sendiri membawa Wan pada warna pengisahan horor yang baru dan menjauh dari horor akan teror supranatural seperti yang dihadirkan oleh seri film Insidious (2010 – 2018) dan The Conjuring (2013 – 2021) serta sejumlah film lepasan yang diproduksi oleh Wan. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah semenjak lama mengikuti karir penyutradaraan Wan jelas dapat merasakan bahwa elemen misteri serta ketegangan yang dipenuhi dengan tumpahan darah yang dihadirkan dalam film ini jelas dipengaruhi oleh tata pengisahan yang dahulu pernah dipamerkan Wan dalam Saw (2003) maupun Dead Silence (2007). Continue reading Review: Malignant (2021)

Review: Stillwater (2021)

Pernah mendengar riuhnya kisah hidup dari seorang perempuan muda berkebangsaan Amerika Serikat bernama Amanda Knox yang mendapatkan vonis hukuman penjara oleh pengadilan negara Italia atas tuduhan tindak pembunuhan yang, setelah beberapa tahun menjalani masa hukuman dan berbagai liputan media yang kerapkali menyudutkan dirinya, kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah? Perjalanan proses penyelidikan kasus hingga masa peradilan yang dihadapi oleh Knox selama hampir satu dekade menginspirasi perilisan sejumlah buku dan film, termasuk sebuah dokumenter berjudul Amanda Knox (Rod Blackhurst, Brian McGinn, 2016) yang dirilis oleh Netflix. Insiden yang menimpa Knox juga dijadikan ilham bagi Tom McCarthy (Spotlight, 2015) dalam mengembangkan naskah cerita film arahannya terbaru, Stillwater, bersama dengan penulis naskah Marcus Hinchey (All Good Things, 2010), Thomas Bigedain (A Prophet, 2009), dan Noé Debré (Dheepan, 2015) – meskipun Knox kemudian mengkritisi McCarthy dan Stillwater yang dianggap mengambil keuntungan komersial dari pembelokan fakta atas kisah tragisnya. Continue reading Review: Stillwater (2021)

Review: Mass (2021)

Lebih dikenal lewat perannya dalam serial televisi seperti Frasier (1998), Dollhouse (2009), atau Ballers (2018) serta deretan film seperti Orange County (Jake Kasdan, 2002), Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (David Bowers, 2011), atau The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2011) yang kebanyakan memiliki nada pengisahan komedi, mungkin cukup sukar untuk mengira bahwa film dengan warna cerita sekelam Mass ditulis dan diarahkan oleh aktor Fran Kranz. Premis ceritanya memang berjalan cukup sederhana. Namun, Kranz sepertinya tidak ingin hanya menyajikan sebuah penuturan drama biasa. Untuk menghasilkan efek emosional cerita yang lebih mendalam, Kranz mengambil sebuah jalur beresiko dengan menggunakan jumlah karakter terbatas yang kemudian saling berinteraksi di satu tempat yang sama di sepanjang pengisahan film. Berhasil? Continue reading Review: Mass (2021)

Review: No Time to Die (2021)

15 tahun semenjak dirinya menggantikan posisi Pierce Brosnan dengan membintangi film ke-21 dari seri James Bond, Casino Royale (Martin Campbell, 2006), serta, dalam perjalanannya, kemudian membintangi tiga film lanjutan, termasuk Skyfall (Sam Mendes, 2012) yang menjadi film pertama dalam seri petualangan sang agen rahasia yang berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$1 milyar selama masa perilisannya di seluruh dunia, Daniel Craig menyudahi tugasnya dalam memerankan karakter James Bond  melalui film teranyar dari seri film tersebut, No Time to Die. Diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga (Jane Eyre, 2011) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya bersama dengan Neal Purvis dan Robert Wade – yang telah menjadi penulis naskah bagi seluruh seri film James Bond semenjak The World is Not Enough (Michael Apted, 1999) – serta Phoebe Waller-Bridge, No Time to Die terasa melengkapi perjalanan karakterisasi dari karakter James Bond yang semenjak diperankan oleh Craig dihadirkan sebagai sosok yang lebih serius dan lebih kelam jika dibandingkan dengan karakter James Bond ketika diperankan oleh barisan pemeran sebelum Craig. Continue reading Review: No Time to Die (2021)

Review: Black Widow (2021)

Lebih dari satu dekade semenjak diperkenalkan pertama kali melalui Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), tampil di sembilan film yang menjadi bagian Marvel Cinematic Universe, serta menyaksikan rekan-rekannya sesama karakter pahlawan super perempuan yang diadaptasi dari seri komik seperti Captain Marvel dan Wonder Woman mendapatkan film tunggal mereka terlebih dahulu, Marvel Studios akhirnya memberikan kesempatan – atau penghormatan, mengingat apa yang terjadi dalam linimasa Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2019) – pada karakter Natasha Romanoff/Black Widow untuk membintangi film yang akan bercerita tentang karakter tersebut secara seutuhnya. Meskipun menjadi film pertama dalam fase keempat pengisahan Marvel Cinematic Universe, linimasa pengisahan utama Black Widow sendiri bertautan dengan sejumlah konflik yang sebelumnya digambarkan pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Continue reading Review: Black Widow (2021)

Review: Passing (2021)

Mengikuti jejak nama-nama seperti Barbra Streisand, Sofia Coppola, Greta Gerwig, Olivia Wilde, serta Regina King, aktris Rebecca Hall terjun ke balik layar dan mengarahkan Passing, sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi oleh Hall dari novel berjudul sama yang ditulis oleh novelis Nella Larsen. Passing sendiri bukanlah sebuah karya literatur biasa. Diterbitkan pertama kali di kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1929 di era dimana perlakuan diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam di berbagai aspek kehidupan masih dianggap sebagai tatanan normal dalam keseharian, Passing mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan berkat kemampuan (dan keberanian) Larsen untuk menyelami sejumlah konflik yang berkenaan dengan ras, kelas, gender, dan seksualitas. Beruntung, Hall cukup lugas dalam menterjemahkan berbagai tema yang ingin disampaikan oleh Larsen dalam novelnya menjadi presentasi cerita yang tidak hanya kuat namun juga relevan bagi kondisi kehidupan modern saat ini. Continue reading Review: Passing (2021)