Tag Archives: Rating: B

Review: The Medium (2021)

The Medium adalah film horor yang menjadi buah kerjasama antara sutradara berkewarganegaraan Thailand, Banjong Pisanthanakun – yang dikenal untuk film-filmnya seperti Shutter (2004), Alone (2007), sebuah segmen di film omnibus 4bia (2008) dan Phobia 2 (2009), serta Pee Mak (2013), dan One Day (2016), dengan sutradara yang berasal dari Korea Selatan, Na Hong-jin – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti The Chaser (2008), The Yellow Sea (2010), dan The Wailing (2016). Untuk film ini, Pisanthanakun dan Na sama-sama bertugas sebagai produser, dengan Na juga menuliskan naskah cerita bersama dengan Chantavit Dhanasevi (Hello Stranger, 2010) sementara Pisanthanakun juga duduk di bangku penyutradaraan. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup dapat menggambarkan horor jenis apa yang dapat diharapkan ketika menyaksikan The Medium: secara perlahan membangun pondasi pengisahan horornya, namun tidak ragu untuk kemudian bergerak cepat dan brutal guna menakuti para penontonnya. Continue reading Review: The Medium (2021)

Review: Malignant (2021)

Setelah mengarahkan Aquaman (2018) yang menjadi salah satu film tersukses (dan terbaik) dalam seri film DC Extended Universe, James Wan kembali hadir dengan Malignant yang menjadi film horor pertama yang disutradarainya setelah The Conjuring 2 (2016). Malignant juga menandai cerita orisinal pertama yang diarahkan oleh Wan semenjak mengarahkan The Conjuring (2013). Malignant sendiri membawa Wan pada warna pengisahan horor yang baru dan menjauh dari horor akan teror supranatural seperti yang dihadirkan oleh seri film Insidious (2010 – 2018) dan The Conjuring (2013 – 2021) serta sejumlah film lepasan yang diproduksi oleh Wan. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah semenjak lama mengikuti karir penyutradaraan Wan jelas dapat merasakan bahwa elemen misteri serta ketegangan yang dipenuhi dengan tumpahan darah yang dihadirkan dalam film ini jelas dipengaruhi oleh tata pengisahan yang dahulu pernah dipamerkan Wan dalam Saw (2003) maupun Dead Silence (2007). Continue reading Review: Malignant (2021)

Review: Stillwater (2021)

Pernah mendengar riuhnya kisah hidup dari seorang perempuan muda berkebangsaan Amerika Serikat bernama Amanda Knox yang mendapatkan vonis hukuman penjara oleh pengadilan negara Italia atas tuduhan tindak pembunuhan yang, setelah beberapa tahun menjalani masa hukuman dan berbagai liputan media yang kerapkali menyudutkan dirinya, kemudian dibebaskan karena tidak terbukti bersalah? Perjalanan proses penyelidikan kasus hingga masa peradilan yang dihadapi oleh Knox selama hampir satu dekade menginspirasi perilisan sejumlah buku dan film, termasuk sebuah dokumenter berjudul Amanda Knox (Rod Blackhurst, Brian McGinn, 2016) yang dirilis oleh Netflix. Insiden yang menimpa Knox juga dijadikan ilham bagi Tom McCarthy (Spotlight, 2015) dalam mengembangkan naskah cerita film arahannya terbaru, Stillwater, bersama dengan penulis naskah Marcus Hinchey (All Good Things, 2010), Thomas Bigedain (A Prophet, 2009), dan Noé Debré (Dheepan, 2015) – meskipun Knox kemudian mengkritisi McCarthy dan Stillwater yang dianggap mengambil keuntungan komersial dari pembelokan fakta atas kisah tragisnya. Continue reading Review: Stillwater (2021)

Review: Mass (2021)

Lebih dikenal lewat perannya dalam serial televisi seperti Frasier (1998), Dollhouse (2009), atau Ballers (2018) serta deretan film seperti Orange County (Jake Kasdan, 2002), Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules (David Bowers, 2011), atau The Cabin in the Woods (Drew Goddard, 2011) yang kebanyakan memiliki nada pengisahan komedi, mungkin cukup sukar untuk mengira bahwa film dengan warna cerita sekelam Mass ditulis dan diarahkan oleh aktor Fran Kranz. Premis ceritanya memang berjalan cukup sederhana. Namun, Kranz sepertinya tidak ingin hanya menyajikan sebuah penuturan drama biasa. Untuk menghasilkan efek emosional cerita yang lebih mendalam, Kranz mengambil sebuah jalur beresiko dengan menggunakan jumlah karakter terbatas yang kemudian saling berinteraksi di satu tempat yang sama di sepanjang pengisahan film. Berhasil? Continue reading Review: Mass (2021)

Review: No Time to Die (2021)

15 tahun semenjak dirinya menggantikan posisi Pierce Brosnan dengan membintangi film ke-21 dari seri James Bond, Casino Royale (Martin Campbell, 2006), serta, dalam perjalanannya, kemudian membintangi tiga film lanjutan, termasuk Skyfall (Sam Mendes, 2012) yang menjadi film pertama dalam seri petualangan sang agen rahasia yang berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$1 milyar selama masa perilisannya di seluruh dunia, Daniel Craig menyudahi tugasnya dalam memerankan karakter James Bond  melalui film teranyar dari seri film tersebut, No Time to Die. Diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga (Jane Eyre, 2011) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya bersama dengan Neal Purvis dan Robert Wade – yang telah menjadi penulis naskah bagi seluruh seri film James Bond semenjak The World is Not Enough (Michael Apted, 1999) – serta Phoebe Waller-Bridge, No Time to Die terasa melengkapi perjalanan karakterisasi dari karakter James Bond yang semenjak diperankan oleh Craig dihadirkan sebagai sosok yang lebih serius dan lebih kelam jika dibandingkan dengan karakter James Bond ketika diperankan oleh barisan pemeran sebelum Craig. Continue reading Review: No Time to Die (2021)

Review: Black Widow (2021)

Lebih dari satu dekade semenjak diperkenalkan pertama kali melalui Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), tampil di sembilan film yang menjadi bagian Marvel Cinematic Universe, serta menyaksikan rekan-rekannya sesama karakter pahlawan super perempuan yang diadaptasi dari seri komik seperti Captain Marvel dan Wonder Woman mendapatkan film tunggal mereka terlebih dahulu, Marvel Studios akhirnya memberikan kesempatan – atau penghormatan, mengingat apa yang terjadi dalam linimasa Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2019) – pada karakter Natasha Romanoff/Black Widow untuk membintangi film yang akan bercerita tentang karakter tersebut secara seutuhnya. Meskipun menjadi film pertama dalam fase keempat pengisahan Marvel Cinematic Universe, linimasa pengisahan utama Black Widow sendiri bertautan dengan sejumlah konflik yang sebelumnya digambarkan pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Continue reading Review: Black Widow (2021)

Review: Passing (2021)

Mengikuti jejak nama-nama seperti Barbra Streisand, Sofia Coppola, Greta Gerwig, Olivia Wilde, serta Regina King, aktris Rebecca Hall terjun ke balik layar dan mengarahkan Passing, sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi oleh Hall dari novel berjudul sama yang ditulis oleh novelis Nella Larsen. Passing sendiri bukanlah sebuah karya literatur biasa. Diterbitkan pertama kali di kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1929 di era dimana perlakuan diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam di berbagai aspek kehidupan masih dianggap sebagai tatanan normal dalam keseharian, Passing mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan berkat kemampuan (dan keberanian) Larsen untuk menyelami sejumlah konflik yang berkenaan dengan ras, kelas, gender, dan seksualitas. Beruntung, Hall cukup lugas dalam menterjemahkan berbagai tema yang ingin disampaikan oleh Larsen dalam novelnya menjadi presentasi cerita yang tidak hanya kuat namun juga relevan bagi kondisi kehidupan modern saat ini. Continue reading Review: Passing (2021)

Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Diadaptasi dari film dokumenter yang berjudul sama garapan Fenton Bailey dan Randy Barbato yang dirilis pada tahun 2000 silam, The Eyes of Tammy Faye memperkenalkan penontonnya pada pasangan penceramah agama di televisi Jim Bakker (Andrew Garfield) dan Tammy Faye Bakker (Jessica Chastain) yang sempat menjadi salah satu ikon industri pertelevisian Amerika Serikat di tahun 1970an sampai dengan tahun 1980an. Seperti kebanyakan film biopik lainnya, film ini memulai pengisahannya dari masa kecil karakter Tammy Faye Bakker yang terlahir dari pasangan orangtua yang berprofesi sebagai penceramah agama yang kemudian menginspirasinya untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya di bidang keagamaan dimana ia bertemu – dan kemudian menikah – dengan karakter Jim Bakker. Merasa bahwa televisi adalah media dakwah terbaik dengan jangkauan luas untuk menyampaikan syiar agama, Jim Bakker dan Tammy Faye Bakker memulai karir mereka di industri televisi dengan bekerja bersama pendeta Pat Robertson (Gabriel Olds) yang memiliki jaringan televisi dakwah popular, Christian Broadcasting Network. Dengan tekad serta kerja keras, keduanya mulai memperoleh perhatian dari khalayak luas hingga akhirnya mampu membangun jaringan televisi serta media dakwah milik mereka sendiri. Continue reading Review: The Eyes of Tammy Faye (2021)

Review: Cruella (2021)

Masih ingat dengan karakter perancang busana bernama Cruella de Vil yang begitu terobsesi untuk membuat berbagai jenis pakaian dengan menggunakan corak yang terdapat pada kulit hewan dalam 101 Dalmatians (Stephen Herek, 1996)? Seperti halnya karakter Maleficent dari film Sleeping Beauty (Clyde Geronimi, Eric Larson, Wolfgang Reitherman, Les Clark, 1959), Walt Disney Pictures kini menghadirkan Cruella yang tidak hanya akan memberikan fokus utama pengisahan pada karakter antagonis tersebut namun juga galian lebih mendalam terhadap asal-usul hingga berbagai konflik di masa lalu sang karakter yang kemudian membentuknya menjadi sosok karakter yang banyak dikenal oleh para penikmat film hingga saat ini. Diarahkan oleh Craig Gillespie (I, Tonya, 2017) yang menempatkan Emma Stone untuk memerankan karakter yang dahulu diperankan secara ikonik oleh Glenn Close, Cruella mampu dihadirkan sebagai sajian drama komedi dengan berbagai warna intrik dari glamornya dunia mode yang menghibur. Continue reading Review: Cruella (2021)

Review: Nobody (2021)

Menit-menit awal penuturan Nobody akan menggambarkan sosok karakter utama yang diperankan oleh Bob Odenkirk, seorang pria paruh baya bernama Hutch Mansell yang kehidupannya diisi dengan rutinitas yang sama setiap harinya. Membosankan. Hal tersebut berubah ketika pada satu malam dua orang asing (Humberly González dan Edsson Morales) masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri barang-barang miliknya. Aksi kedua pencuri berhasil dipergoki oleh Hutch Mansell, namun, di saat yang bersamaan, kejadian tersebut membangkitkan sebuah sisi lain dari kepribadian Hutch Mansell yang selama ini telah disembunyikannya. Sisi lain yang kemudian membuatnya berani untuk melawan sekawanan pemuda yang sedang mengganggu seorang perempuan muda dalam bus yang sama-sama mereka tumpangi. Sial, sekawanan pemuda tersebut ternyata memiliki hubungan dengan seorang mafia Rusia bengis, Yulian Kuznetsov (Alexey Serebryakov), yang dengan segera menjadikan Hutch Mansell sebagai sosok yang paling dicari keberadaannya. Continue reading Review: Nobody (2021)

Review: The East (2020)

Menjadi film cerita panjang ketiga yang diarahkan oleh Jim Taihuttu setelah Rabat (2011) dan Wolf (2013), The East memiliki latar waktu pengisahan di tahun 1946 ketika Hindia Belanda memasuki masa Revolusi Nasional Indonesia. Dikisahkan, seorang pemuda asal Belanda bernama Johan de Vries (Martijn Lakemeier) yang menjadi seorang tentara relawan dan lantas dikirimkan ke daerah Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, untuk bertugas sebagai salah satu penjaga keamanan rakyat di Hindia Belanda yang sedang diwarnai konflik sipil selepas menyatakan kemerdekaannya dari jajahan Jepang. Awalnya, Johan de Vries dan rekan-rekannya merasa keseharian mereka begitu membosankan karena minimnya konflik maupun pertarungan yang harus mereka hadapi. Johan de Vries kemudian berkenalan dengan seorang pria karismatik yang dikenal dengan sebutan The Turk (Marwan Kenzari) yang lantas membimbing sekaligus memberikan infomasi lebih mendalam tentang medan perang yang sedang mereka jalani. Johan de Vries, secara perlahan, menjadi salah satu orang kepercayaan bagi The Turk. Sebuah posisi yang tanpa disangka kemudian menjebaknya dalam rangkaian pertumpahan darah yang membuatnya mempertanyakan makna perang sekaligus memberikan trauma di sepanjang sisa hidupnya. Continue reading Review: The East (2020)

Review: The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (David Ayer, 2016)? Well… mungkin cukup bijaksana memilih untuk melupakan berbagai hal buruk yang menyangkut penampilan Jared Leto sebagai Joker ataupun kualitas buruk secara keseluruhan yang ditampilkan oleh film ketiga dalam seri DC Extended Universe tersebut. Namun, dengan raihan komersial sebesar lebih dari US$700 juta di sepanjang masa rilisnya – dan penghargaan Best Makeup and Hairstyling dari ajang The 89th Annual Academy AwardsWarner Bros. Pictures tentu memiliki sejuta alasan untuk mengenyampingkan berbagai reaksi negatif yang datang dari sejumlah kritikus maupun penonton dan kembali memproduksi versi teranyar dari Suicide Squad. James Gunn (Guardians of the Galaxy Vol. 2, 2017) kemudian dipilih untuk duduk di kursi penyutradaraan sekaligus menjadi penulis naskah bagi The Suicide Squad – judul yang diberikan bagi film yang dimaksudkan menjadi standalone sequel bagi Suicide Squad. Menghadirkan beberapa karakter serta pemeran baru dan memadukannya dengan nada pengisahan khas Gunn yang brutal namun menyenangkan, The Suicide Squad tidak mampu menjadi penyetel ulang kualitas linimasa penceritaan seri Suicide Squad namun juga berhasil tampil sebagai salah satu film terbaik bagi DC Extended Universe. Continue reading Review: The Suicide Squad (2021)

Review: Vivo (2021)

Setelah In the Heights (Jon M. Chu, 2021), Vivo menjadi film kedua dari empat film yang melibatkan aktor sekaligus penyanyi sekaligus penulis lagu sekaligus produser sekaligus penulis naskah drama panggung, Lin-Manuel Miranda, yang direncanakan untuk rilis di tahun ini. Berdasarkan ide cerita oleh penulis naskah In the Heights, Quiara Alegría Hudes, bersama dengan Peter Barsocchini yang dikenal berkat naskah cerita yang ia tulis untuk seri film televisi High School Musical (2006 – 2008), Miranda sebenarnya telah mulai mengembangkan Vivo di tahun 2010 ketika film animasi ini awalnya akan diproduksi oleh DreamWorks Animation. Namun, setelah DreamWorks Animation memutuskan untuk tidak melanjutkan proses produksi Vivo pada tahun 2015, film animasi musikal tersebut kemudian ditangani oleh Sony Pictures Animation semenjak tahun 2016 dengan Kirk DeMicco (The Croods, 2013) duduk di kursi penyutradaraan sekaligus menggarap naskah cerita bersama dengan Hudes. Miranda sendiri terus dilibatkan untuk menulis sebelas lagu yang akan ditampilkan di sepanjang pengisahan Vivo sekaligus menjadi pengisi suara bagi karakter bernama sama dengan judul film ini. Continue reading Review: Vivo (2021)