Tag Archives: Rating: B

Review: Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Dirilis perdana pada tahun 1981, Scary Stories to Tell in the Dark adalah judul dari buku cerita anak-anak yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Alvin Schwartz, yang berisi kumpulan kisah pendek bernuansa horor yang kental dipengaruhi oleh dongeng maupun mitos yang telah familiar bagi masyarakat Amerika Serikat. Kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark lantas menginspirasi Schwartz untuk merilis dua sekuel lanjutan untuk bukunya, More Scary Stories to Tell in the Dark yang dirilis pada tahun 1984 dan Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones yang dirilis pada tahun 1991, sekaligus menggoda Guillermo del Toro (The Shape of Water, 2017) untuk membawa dan menghidupkan kumpulan kisah horor tersebut menjadi sebuah presentasi film layar lebar. Bekerjasama dengan dua penulis naskah Dan Hageman dan Kevin Hageman – yang sebelumnya juga menuliskan naskah bagi serial animasi garapannya, Trollhunters: Tales of Arcadia (2016 – 2018) – del Toro lantas menyeleksi sejumlah cerita pendek dari seri buku Scary Stories to Tell in the Dark dan kemudian menyatukannya menjadi sebuah kisah petualangan horor bagi para karakternya. Apakah del Toro akan berhasil menterjemahkan kengerian Scary Stories to Tell in the Dark pada bentuk media pengisahannya yang baru? Continue reading Review: Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Review: Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)

Suka atau tidak, sulit untuk membantah bahwa keterlibatan Dwayne Johnson pada Fast Five (Justin Lin, 2011) telah memberikan energi baru yang sangat dibutuhkan oleh seri film The Fast and the Furious. Setelah kesuksesan The Fast and the Furious (Rob Cohen, 2001), dua sekuel yang mengikutinya, 2 Fast 2 Furious (John Singleton, 2003) dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (Lin, 2006), tidak mampu menyamai raihan komersial yang didapatkan oleh film perdana dari seri film yang telah melambungkan nama Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, dan Jordana Brewster ini. Film keempat, Fast & Furious (Lin, 2009), memang bernasib sedikit lebih baik dari dua film sebelumnya namun, tetap saja, masih terasa berada di bawah capaian The Fast and the Furious. Keberadaan Johnson di Fast Five dan tiga sekuel berikutnya terbukti mampu meningkatkan daya tarik seri film ini bagi banyak penikmat film dunia dengan raihan komersial yang terus meningkat di setiap film – dengan Fast & Furious 7 (James Wan, 2015) dan Fast & Furious 8 (F. Gary Gray, 2017) mampu meraih pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar – dan bahkan secara perlahan turut menarik hati para kritikus film yang mulai memandang seri film The Fast and the Furious sebagai salah satu seri film aksi paling menghibur di era modern Hollywood. Continue reading Review: Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019)

Review: Dua Garis Biru (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Gina S. Noer – yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis naskah untuk film-film seperti Hari Untuk Amanda (Angga Dwimas Sasongko, 2010), Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012), Posesif (Edwin, 2017), dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019), Dua Garis Biru bercerita tentang kehamilan di luar nikah yang dialami oleh pasangan remaja, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Awalnya, agar tidak mengganggu masa kelulusan sekolah mereka, Dara dan Bima merahasiakan tentang kehamilan tersebut. Rencana tersebut gagal setelah pihak sekolah mengetahui tentang kehamilan Dara. Dara kemudian dipecat dari sekolah dan bahkan ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing), yang kalut dan marah akibat kejadian tersebut. Kini, Dara tinggal bersama Bima dan kedua orangtuanya, Rudy (Arswendy Bening Swara) dan Yuni (Cut Mini), sembari memikirkan ulang berbagai rencana dan tindakan yang akan dilakukan dengan bayi yang kini sedang berada di kandungannya. Continue reading Review: Dua Garis Biru (2019)

Review: Crawl (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo penulis naskah Michael Rasmussen dan Shawn Rasmussen (The Ward, 2010), Crawl memulai pengisahannya ketika Haley Keller (Kaya Scodelario) terpaksa melakukan perjalanan ke pinggiran kota Florida untuk memeriksa keadaan sang ayah, Dave Keller (Barry Pepper), sebelum sebuah bencana badai datang menghampiri. Sial, ketika dirinya tiba di rumah sang ayah, Haley Keller menemukan ayahnya dalam kondisi pingsan dan terluka cukup parah. Dengan kondisi lingkungan sekitar rumah yang telah dievakuasi oleh satuan keamanan, Haley Keller harus berjuang sendirian untuk menyelamatkan sang ayah. Namun, waktu yang semakin menyempit seiring dengan mendekatnya kedatangan bencana badai bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dihadapi oleh Haley Keller. Sekelompok buaya dengan ukuran raksasa yang terdampar akibat dibawa arus banjir ternyata telah mengintai dan siap untuk memangsa makhluk hidup yang berada di sekitar mereka. Continue reading Review: Crawl (2019)

Review: Parasite (2019)

Memulai karir pengarahan film layar lebarnya lewat Barking Dogs Never Bite (2000) yang kemudian diikuti dengan lima film lain yang berada di dalam filmografinya, termasuk Memories of Murder (2003), The Host (2006), Mother (2009), dan Okja (2017) – yang seluruhnya mendapatkan kesempatan ditayangkan di Cannes Film Festival – serta debut film berbahasa Inggrisnya, Snowpiercer (2013), yang merupakan film dengan biaya produksi terbesar sekaligus menjadi salah satu film tersukses sepanjang masa di Korea Selatan, tidak terbantahkan nama Bong Joon-ho telah menjadi salah satu ikon sutradara asal Korea Selatan yang paling dicintai sekaligus dihormati baik di negaranya maupun di kalangan penikmat film dari belahan dunia lainnya. Kemampuan Bong dalam memberikan interpretasi mendalam mengenai berbagai isu sosial, budaya, maupun politik yang sedang menghangat dan membalutnya dengan narasi yang kuat baik dalam nada pengisahan drama, thriller, atau fiksi ilmiah menjadikan setiap filmnya begitu mengesankan. Continue reading Review: Parasite (2019)

Review: Toy Story 4 (2019)

Do we need another Toy Story movie? Seri Toy Story jelas merupakan salah satu elemen paling krusial dalam sejarah perjalanan Pixar Animation Studios. Toy Story (John Lasseter, 1995) merupakan film animasi panjang pertama – sekaligus film animasi perdana yang menggunakan teknologi Computer-Generated Imagery secara utuh di Hollywood – yang dirilis oleh rumah produksi yang kini dimiliki oleh Walt Disney Pictures tersebut. Berbeda dengan kebanyakan seri film lain – termasuk beberapa yang juga diproduksi oleh Pixar Animation Studios, seri film Toy Story berhasil digarap dengan kualitas cerita dan produksi yang tampil berkelas secara konsisten. Tidak mengherankan jika trio film Toy Story, Toy Story 2 (Lasseter, 1999), dan Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010) seringkali dinilai sebagai salah satu trilogi film terbaik sepanjang masa serta begitu dicintai oleh para penggemarnya. Tidak mengherankan, ketika Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios mengumumkan bahwa mereka akan melanjutkan kisah petualangan Woody dan rekan-rekan mainannya, banyak penikmat film dunia yang lantas kurang mendukung keputusan tersebut. Continue reading Review: Toy Story 4 (2019)

Review: Ghost Writer (2019)

Setelah menuliskan naskah cerita untuk beberapa film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016) dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Bene Dion Rajagukguk kini mengarahkan film layar lebar perdananya lewat Ghost Writer. Memadukan unsur horor dengan komedi, film yang naskah ceritanya digarap oleh Rajagukguk bersama dengan Nonny Boenawan ini bercerita mengenai seorang penulis novel, Naya (Tatjana Saphira), yang menemukan sebuah buku harian yang lantas dijadikannya inspirasi cerita bagi novel terbaru yang sedang digarapnya. Sial, buku harian tersebut ternyata pernah dimiliki oleh seorang pemuda bernama Galih (Ge Pamungkas) yang telah meninggal dunia akibat bunuh diri dan kini menghantui Naya karena tidak setuju isi buku hariannya dijadikan konsumsi publik. Ketakutan dengan teror yang dilakukan oleh Galih, Naya akhirnya mencoba berbicara dengan arwah penasaran tersebut yang kemudian ternyata menghasilkan sebuah kerjasama beda dunia antara mereka berdua. Continue reading Review: Ghost Writer (2019)

Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Sekilas, film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Lee Won-tae setelah Man of Will (2017), The Gangster, The Cop, The Devil, terasa sebagai paduan antara Infernal Affairs (Andrew Lau, Alan Mak, 2002) dengan I Saw the Devil (Kim Jee-oon, 2010). Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Lee, The Gangster, The Cop, The Devil bercerita mengenai seorang pimpinan kelompok kriminal, Jang Dong-soo (Ma Dong-seok), yang terpaksa bekerjasama dengan seorang polisi yang selama ini memusuhinya, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), setelah dirinya menjadi korban penyerangan seorang pembunuh berantai. Jang Dong-soo memang berhasil menyelamatkan diri dari serangan pembunuh yang telah mengambil nyawa beberapa orang dan kini menjadi buronan pihak kepolisian Korea Selatan tersebut. Namun, reputasinya sebagai seorang pimpinan kelompok kriminal menjadi terancam oleh serangan tersebut. Lain halnya dengan Jung Tae-suk. Sebagai seorang polisi, ia ingin membuktikan kehandalan sekaligus kemampuan dirinya dengan menangkap sang pembunuh berantai. Dengan alasan-alasan personal tersebut, Jang Dong-soo dan Jung Tae-suk mengesampingkan perbedaan mereka untuk kemudian bersatu sekaligus berpacu dalam menangkap sang pembunuh berantai. Continue reading Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Review: Aladdin (2019)

Selang beberapa bulan semenjak perilisan Dumbo arahan Tim Burton, Walt Disney Pictures melanjutkan petualangannya dalam mengadaptasi film-film animasi klasiknya menjadi sajian live-action melalui Aladdin. Meskipun mendapat kritikan tajam atas beberapa elemen ceritanya yang dinilai kurang sensitif dalam penggambaran ras maupun kultur, versi animasi dari Aladdin (Ron Clements, John Musker, 1992) berhasil mengikuti jejak kesuksesan The Little Mermaid (Clements, Musker, 1989) dan Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991) dalam mendapatkan reaksi positif baik dari para penonton – yang menghasilkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$500 juta – maupun dari para kritikus film – yang mampu mendorong Aladdin untuk meraih lima nominasi di ajang The 65th Annual Academy Awards termasuk memenangkan dua diantaranya. Ekspektasi yang cukup tinggi jelas telah terbeban pada Guy Ritchie (King Arthur: Legend of the Sword, 2017) dan versi live-action dari Aladdin arahannya untuk, setidaknya, meraih kesuksesan yang setara. Continue reading Review: Aladdin (2019)

Review: Long Shot (2019)

Setelah 50/50 (2011) – yang jelas merupakan film terbaik yang pernah ia arahkan hingga saat ini – dan The Night Before (2015), sutradara Jonathan Levine kembali berkolaborasi dengan aktor sekaligus/dan produser, Seth Rogen dan Evan Goldberg, untuk film terbaru arahannya, Long Shot. Merupakan sebuah drama komedi romansa, Long Shot berkisah tentang pertemuan kembali antara seorang jurnalis, Fred Flarsky (Rogen), dengan mantan pengasuhnya, Charlotte Field (Charlize Theron), yang kini telah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan telah berencana untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada pemilihan umum selanjutnya. Berbekal kecerdasannya dalam menulis sekaligus pengalaman personal antara keduanya di masa lampau, Charlotte Field lantas meminta Fred Flarsky untuk ambil bagian menjadi salah satu anggota tim sukses kemenangan kampanye kepresidenannya. Keputusan tersebut ternyata berbuah manis. Secara perlahan, pidato-pidato yang dituliskan Fred Flarsky mampu menambah kepopuleran sekaligus elektabilitas dari Charlotte Field. Tidak berhenti disana, hubungan personal antara Fred Flarsky dan Charlotte Field juga tumbuh semakin dekat – hal yang kemudian dinilai tim sukses Charlotte Field sebagai sesuatu yang akan merusak reputasinya. Continue reading Review: Long Shot (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Avengers: Endgame (2019)

Lima tahun setelah Thanos (Josh Brolin) menjentikkan jarinya dan menghapus separuh peradaban manusia dari atas permukaan Bumi – seperti yang dikisahkan pada Avengers: Inifinity War (Anthony Russo, Joe Russo, 2018), para anggota Avengers yang tersisa, Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans), Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson), Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner), dan James Rhodes/War Machine (Don Cheadle), masih berupaya melupakan kepedihan hati mereka atas kekalahan di medan peperangan sekaligus hilangnya orang-orang yang mereka cintai. Di saat yang bersamaan, para anggota Avengers yang tersisa tersebut juga masih terus mencari cara untuk menemukan keberadaan Thanos dan membuatnya memperbaiki segala kerusakan yang telah ia sebabkan ketika menggunakan Infinity Stones. Harapan muncul ketika Scott Lang/Ant-Man (Paul Rudd) yang ternyata selamat dari tragedi yang disebabkan jentikan jari Thanos dan kemudian mendatangi markas Avengers dengan sebuah ide yang dapat menghadapkan kembali para Avengers dengan  musuh besar mereka. Continue reading Review: Avengers: Endgame (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)