Tag Archives: Rating: B

Review: Mencuri Raden Saleh (2022)

Apakah Mencuri Raden Saleh adalah film bertemakan pencurian pertama yang dibuat oleh sineas Indonesia? Tidak. The Professionals (Affandi Abdul Rachman, 2016) – dengan departemen akting yang diisi nama-nama besar seperti Fachri Albar, Arifin Putra, Lukman Sardi, hingga Imelda Therinne – telah mengeksplorasi wilayah pengisahan tersebut terlebih dahulu – meskipun dengan hasil akhir yang jauh dari memuaskan. Gelar “film heist pertama buatan sineas Indonesia” bahkan cukup gencar digunakan The Professionals di sepanjang masa promosinya. Kini, Angga Dwimas Sasongko mencoba menjejakkan kakinya di ranah penceritaan tersebut. Dan dengan bantuan barisan pelakon muda serta naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Husein M. Atmodjo (22 Menit, 2018), Sasongko tidak hanya berhasil menggarap sebuah heist movie yang efektif namun juga mampu menghadirkan film terbaik di sepanjang karir pengarahannya hingga saat ini. Continue reading Review: Mencuri Raden Saleh (2022)

Review: Sayap Sayap Patah (2022)

Lebih dari dua dekade semenjak kolaborasi mereka dalam Ada Apa dengan Cinta? (2001) yang melegenda, Nicholas Saputra kembali diarahkan oleh sutradara Rudi Soedjarwo untuk Sayap Sayap Patah. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Monty Tiwa (Madu Murni, 2022), Eric Tiwa (Pocong the Origin, 2019), dan Alim Sudio (Ranah 3 Warna, 2022), film ini mendasarkan alur ceritanya pada kisah nyata peristiwa Kerusuhan Mako Brimob di tahun 2018 dimana para narapidana terorisme yang ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat menguasai tempat penahanan mereka sekaligus menyandera anggota polisi yang bertugas di tempat tersebut selama 36 jam. Premis yang terdengar menegangkan serta menjanjikan banyak presentasi aksi. Tidak terlalu salah, meskipun Sayap Sayap Patah meleburkan sajian aksinya dengan elemen drama yang terasa cukup dominan. Continue reading Review: Sayap Sayap Patah (2022)

Review: Emergency Declaration (2021)

Setelah The Show Must Go On (2007) dan The Face Reader (2013), aktor Song Kang-ho kembali diarahkan oleh sutradara Han Jae-rim untuk thriller yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Han, Emergency Declaration. Juga dibintangi oleh Lee Byung-hun, Emergency Declaration bercerita tentang sekelompok kru dan penumpang sebuah pesawat terbang, termasuk Jae-hyuk (Lee) dan puterinya, Soo-min (Kim Bo-min), yang terjebak dalam situasi hidup atau mati ketika pesawat mereka berada dalam ancaman teror biologis yang dapat membunuh orang-orang yang terinfeksi dalam waktu singkat. Di daratan, kepanikan juga dirasakan oleh detektif In-ho (Song). Bukan hanya karena dirinya dan satuan kepolisian tempatnya bekerja telah menerima petunjuk mengenai sosok pelaku dari teror biologis, namun juga dikarenakan sang istri, Hye-yoon (Woo Mi-hwa), merupakan salah satu dari penumpang dari pesawat yang berangkat dari Seoul, Korea Selatan menuju Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat tersebut. Continue reading Review: Emergency Declaration (2021)

Review: Bullet Train (2022)

Sutradara Atomic Blonde (2017), Deadpool 2 (2018), dan Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019), David Leitch, kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Bullet Train, sebuah film aksi komedi yang diadaptasi dari novel berjudul Maria Beetle yang ditulis oleh Kōtarō Isaka. Fokus pengisahannya berada pada sosok pembunuh bayaran yang dikenal dengan sebutan Ladybug (Brad Pitt) yang mendapatkan tugas untuk mencuri tas berisi uang sejumlah US$10 juta yang sedang dibawa oleh duo pembunuh bayaran asal Inggris yang dikenal dengan sebutan Tangerine (Aaron Taylor-Johnson) dan Lemon (Brian Tyree Henry) dalam perjalanan kereta api dari kota Tokyo menuju Kyoto. Ladybug dapat dengan mudah menjalankan tugas tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, keberadaannya di kereta api tersebut ternyata mencuri perhatian “sejumlah orang” yang berprofesi dan memiliki niatan yang sama dengan Ladybug. Kekacauan yang jelas akan menjanjikan simbahan darah. Continue reading Review: Bullet Train (2022)

Review: Decision to Leave (2022)

Menjadi film cerita panjang pertama yang ditulis dan diarahkan oleh Park Chan-wook setelah The Handmaiden (2016), Decision to Leave adalah presentasi yang memadukan unsur misteri dengan romansa dalam balutan intrik serta konflik berlapis yang, tentu saja, selalu dapat diharapkan hadir dalam setiap film garapan Park. Alur pengisahannya berfokus pada sosok karakter Hae-jun (Park Hae-il), seorang detektif kepolisian yang begitu menikmati pekerjaannya, khususnya ketika ia harus menguntit seorang terduga tersangka dalam kasus yang sedang ditanganinya. Tugasnya tersebut lantas membawa Hae-jun untuk mendalami gerak-gerik Seo-rae (Tang Wei), seorang imigran asal Tiongkok yang suaminya baru ditemukan meninggal dunia. Hasil forensik serta penyelidikan pihak kepolisian sebenarnya menunjukkan bahwa kematian suami dari Seo-rae disebabkan oleh bunuh diri. Namun, insting Hae-jun merasakan ada sesuatu yang janggal dari Seo-rae. Insting yang juga membuat sang detektif secara perlahan tidak dapat melepaskan perhatiannya dari sosok perempuan misterius tersebut. Continue reading Review: Decision to Leave (2022)

Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Rasanya tidak mengherankan jika Marvel Studios mendapuk Taika Waititi untuk kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film keempat Thor, Thor: Love and Thunder. Setelah racikan Alan Taylor untuk Thor: The Dark World (2013) gagal untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan Kenneth Branagh dalam Thor (2011) – yang bahkan menjadikan film tersebut sebagai salah satu produk dengan kualitas terlemah dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Waititi sukses memberikan penyegaran bagi tata penuturan seri film Thor ketika ia menghadirkan Thor: Ragnarok (2017) dengan sentuhan komedi yang begitu menyenangkan sekaligus begitu berbeda dengan tuturan komedi yang sebelumnya pernah ditampilkan oleh film-film yang tergabung dalam semesta pengisahan sinematik milik Marvel. Bekerjasama dengan penulis naskah Jennifer Kaytin Robinson (Unpregnant, 2020), Waititi berusaha untuk mengulang kembali penuturan komikal Thor: Ragnarok sekaligus memadukannya dengan sejumlah paparan dramatis yang bernilai emosional. Dan lumayan berhasil. Continue reading Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Review: Keluarga Cemara 2 (2022)

Tiga tahun setelah perilisan Keluarga Cemara – adaptasi dari serial televisi berjudul sama garapan Arswendo Atmowiloto yang selama masa rilisnya berhasil mendatangkan lebih dari 1,7 juta penonton serta memenangkan dua dari enam kategori yang dinominasikan dari ajang Festival Film Indonesia 2019, sekuelnya akhirnya datang untuk menyapa. Terjadi sejumlah perubahan di balik layar Keluarga Cemara 2 yang kini menempatkan Ismail Basbeth (Arini, 2018) untuk duduk di kursi penyutradaraan dan mengarahkan naskah cerita yang dituliskan oleh M. Irfan Ramly (Generasi 90an: Melankolia, 2020). Kehadiran Basbeth tak ayal memang memberikan warna baru bagi tata penceritaan film ini. Jika film pertama terasa bertutur layaknya drama keluarga ringan yang mengalir hangat dan cenderung emosional, arahan Basbeth membuat Keluarga Cemara 2 tak lagi (terlalu) lantang dalam menyentuh sisi emosional penontonnya dengan penuturan yang minim konflik besar dan sentuhan simbolisasi yang acap ditemukan dalam karya-karya Basbeth. Continue reading Review: Keluarga Cemara 2 (2022)

Review: Broker (2022)

Broker, film teranyar arahan sutradara berkewarganegaraan Jepang, Hirokazu Kore-eda, memiliki kedekatan tema pengisahan dengan Shoplifters (2018) – film arahan Kore-eda yang berhasil memenangkan penghargaan tertinggi Palme d’Or dari ajang The 71st Annual Cannes International Film Festival serta menjadi film kedua Kore-eda setelah Nobody Knows (2004) yang dikirimkan Jepang untuk berkompetisi di kategori Best International Feature Film-nya Academy Awards. Seperti halnya Shoplifters, Broker berkisah tentang sekelompok karakter yang awalnya saling merasa asing namun dalam perjalanannya kemudian mulai saling memahami dan membentuk ikatan emosional antara satu dengan yang lain. Chosen family. Dan seperti yang dapat diduga dari setiap presentasi cerita garapan Kore-eda, Broker dihadirkan dengan sejumlah lapisan cerita yang tidak hanya menyentuh namun juga terasa begitu dekat, hangat, dan humanis. Continue reading Review: Broker (2022)

Review: The Roundup (2022)

Merupakan sekuel bagi The Outlaws (Kang Yoon-sung, 2017) yang berhasil mendapatkan pujian luas dari kalangan kritikus film, memenangkan sejumlah penghargaan, serta meraih kesuksesan komersial yang menjadikannya sebagai salah satu film terlaris di Korea Selatan di sepanjang tahun 2017, The Roundup kembali menghadirkan aktor Ma Dong-seok untuk memerankan karakter Ma Seok-do yang dikenal sebagai sosok polisi yang tidak mengenal takut dalam menjalankan tugasnya. Kali ini, Ma Seok-do ditugaskan untuk mengawal atasannya, Captain Jeon Il-man (Choi Gwi-hwa), untuk berangkat ke Vietnam guna menjemput seorang kriminal yang selama ini telah dicari-cari oleh pihak kepolisian Korea Selatan. Tanpa diduga, pertemuan keduanya dengan sosok kriminal tersebut membuka tabir akan masalah baru bernama Kang Hae-sang (Son Seok-koo) yang merupakan dalang dari berbagai tindak penculikan dan pembunuhan terhadap turis-turis asing yang mengunjungi Vietnam dan negara-negara di sekitarnya. Dengan segera, Kang Hae-sang menjadi lawan baru bagi perjalanan Ma Seok-do dalam menegakkan hukum. Continue reading Review: The Roundup (2022)

Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Bene Dion Rajagukguk memulai karir penyutradaraannya dengan gemilang. Setelah menghabiskan sejumlah waktu berkecimpung sebagai penulis naskah bagi film-film seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Rajagukguk menunjukkan kebolehannya sebagai penulis sekaligus pengarah cerita yang handal lewat film komedi horor Ghost Writer (2019). Untuk film kedua yang diarahkannya, Rajagukguk mengadaptasi novel karyanya yang berjudul sama, Ngeri-ngeri Sedap, yang merupakan tuturan drama keluarga dengan latar belakang kehidupan suku Batak. Dengan alur pengisahan yang ditulis berdasarkan pengalaman kehidupan pribadi sang sutradara, tidak mengherankan jika Ngeri-ngeri Sedap terasa personal di banyak bagiannya. Di saat yang bersamaan, penuturan Rajagukguk yang lugas menjadikan kisah yang disampaikannya mampu menghasilkan sentuhan emosional nan hangat yang begitu universal. Continue reading Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Review: Top Gun: Maverick (2022)

Tiga puluh enam tahun setelah perilisan Top Gun (Tony Scott, 1986), serta dua belas tahun semenjak Paramount Pictures mulai mengembangkan ide kelanjutan cerita bagi film dengan pendapatan komersial terbesar di sepanjang tahun 1986 tersebut, Tom Cruise kembali membintangi sekuel dari Top Gun yang berjudul Top Gun: Maverick. Diarahkan oleh Joseph Kosinski – yang sebelumnya mengarahkan Cruise untuk Oblivion (2013), film ini disajikan dengan garapan eksekusi yang terasa jauh lebih megah dari film pendahulunya. Bahkan, dengan naskah cerita yang ditulis oleh Christopher McQuarrie – yang kini sepertinya menjadi kolaborator andalan Cruise setelah berperan sebagai penulis naskah, sutradara, maupun produser untuk film-film seperti Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014), Jack Reacher: Never Go Back (Edward Zwick, 2016), The Mummy (Alex Kurtzman, 2017), serta dua seri Mission: Impossible arahan McQuarrie, Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) dan Mission: Impossible: Fallout (2018) – bersama dengan Ehren Kruger (Ghost in the Shell, 2017) dan Eric Warren Singer (Only the Brave, 2017), Top Gun: Maverick berhasil hadir dalam tatanan kualitas kisah yang semakin kokoh. Continue reading Review: Top Gun: Maverick (2022)

Review: The Northman (2022)

Setelah The VVitch (2015) dan The Lighthouse (2019) yang berhasil melejitkan sekaligus memantapkan posisinya sebagai salah satu sutradara dengan visi serta gaya bercerita paling memikat dalam beberapa tahun terakhir, Robert Eggers kembali hadir dengan presentasi cerita terbarunya, The Northman. Berbeda dengan dua film perdananya yang banyak mengandalkan simbolisme dalam tata penuturannya, Eggers membalut The Northman dalam tuturan plot, konflik, maupun karakter yang terasa lebih mudah untuk dinikmati penonton dalam skala jangkauan yang lebih luas (baca: tidak hanya terpaku hanya pada para penikmat film-film berkelas arthouse). The Northman juga dihadirkan dengan skala produksi yang jauh lebih megah dibandingkan The VVitch maupun The Lighthouse. Meskipun begitu, bahkan dengan berbagai tata eksekusi cerita yang berkesan “baru” tersebut, The Northman tetap mempertahankan atmosfer kelam, brutal, dan dingin yang sepertinya telah menjadi ciri pengarahan Eggers. Continue reading Review: The Northman (2022)

Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Enam tahun jelas merupakan jangka waktu yang cukup lama untuk merilis sekuel bagi sebuah seri film yang sedang berjalan. Namun, layaknya banyak karakter dalam setiap seri film yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, karakter Doctor Stephen Strange yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch juga telah muncul di berbagai film lain yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe semenjak penampilan perdananya di Doctor Strange (Scott Derrickson, 2016) – mulai dari Thor: Ragnarok (Taika Waititi, 2017), Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2018 – 2019), hingga menjadi bagian krusial bagi penceritaan Spider-Man: No Way Home (Jon Watts, 2021). Tidak mengherankan jika film kedua dalam seri film Doctor Strange, Doctor Strange in the Multiverse of Madness, telah berjalan jauh melampaui linimasa cerita yang sebelumnya dihadirkan pada film pertamanya. Continue reading Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)