Tag Archives: Rating: B

Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Menjadi film pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Israel, Navot Papushado, secara solo – setelah sebelumnya mengarahkan Rabies (2010) dan Big Bad Wolves (2013) bersama dengan Aharon Keshales, Gunpowder Milkshake berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Sam (Karen Gillan) yang ditugaskan untuk membunuh seorang pria, David (Samuel Anderson), karena telah mencuri sejumlah uang dari perusahaan tempat Sam sekarang bekerja, The Firm. Sebagai seorang pembunuh bayaran profesional, tugas tersebut jelas bukanlah sebuah hal yang sulit. Namun, ketika mengetahui bahwa David mencuri uang tersebut untuk digunakan sebagai tebusan bagi putrinya, Emily (Chloe Coleman), yang sedang diculik, hati Sam kemudian tergerak untuk membantu. Sam sendiri yang kemudian menghantarkan uang tebusan tersebut kepada sang penculik dengan maksud untuk kembali merebut uang tersebut dan mengembalikannya ke perusahaan setelah Emily berhasil ia dapatkan. Sial, rencana tersebut menemui kegagalan yang bahkan menyebabkan uang hasil curian lenyap. Sam, yang biasa memburu dan membunuh orang-orang yang telah ditentukan oleh The Firm, kini menjadi buruan karena dugaan telah melarikan uang perusahaan. Continue reading Review: Gunpowder Milkshake (2021)

Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Melanjutkan laju pengisahan Fear Street Part One: 1994 (Leigh Janiak, 2021), Fear Street Part Two: 1978, yang masih diarahkan oleh Janiak dengan naskah cerita yang ditulis oleh Janiak bersama dengan Zak Olkewicz berdasarkan seri buku Fear Street karangan R. L. Stine, akan menguak lebih dalam mengenai misteri keberadaan seorang perempuan bernama Sarah Fier yang di tahun 1666 dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dengan latar belakang waktu pengisahan di tahun 1978, film ini memperkenalkan dua bersaudara yang berasal dari kota Shadyside, Ohio, Amerika Serikat, Cindy (Emily Rudd) dan Christine Berman atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Ziggy (Sadie Sink), yang sedang mengikuti perkemahan musim panas di Camp Nightwing. Meskipun bersaudara, Cindy dan Ziggy Berman memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kesehariannya: Cindy Berman berfokus penuh untuk mewujudkan seluruh impiannya agar dapat keluar dari Shadyside sementara Ziggy Berman lebih memilih untuk menikmati hidup meskipun akhirnya sering terjebak dalam berbagai masalah. Hubungan keduanya kemudian mendapatkan ujian ketika Camp Nightwing mendapatkan teror dari seorang sosok bertopeng yang bersiap untuk membunuh setiap orang yang ditemuinya. Continue reading Review: Fear Street Part Two: 1978 (2021)

Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Sebelum namanya popular berkat seri novel horor Goosebumps (1992) yang ditujukan bagi para pembaca dari kalangan anak-anak, R. L. Stine sebelumnya telah merilis serangkaian novel yang juga bertema horor berjudul Fear Street (1989) dengan alur pengisahan yang lebih berorientasi pada para pembaca dari kalangan remaja. Meskipun kesuksesannya tidak sefenomenal Goosebumps, Fear Street tetap berhasil mengumpulkan sejumlah besar penggemar sekaligus menarik perhatian Hollywood yang kemudian berusaha untuk mengadaptasi seri novel tersebut menjadi serial televisi maupun film – khususnya setelah kesuksesan yang diraih oleh Scream (Wes Craven, 1996). Serial televisi yang didasarkan pada seri novel Fear Street dan ditayangkan pada tahun 1998, sayangnya, gagal untuk menemukan peminat. Sementara itu, adaptasi film dari Fear Street baru benar-benar menemukan titik terang pada tahun 2015 ketika Chernin Entertainment mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan mengembangkan Fear Street sebagai sebuah film trilogi dengan Leigh Janiak (Honeymoon, 2014) duduk di kursi penyutradaraan. Proses produksi trilogi Fear Street sendiri telah selesai pada tahun 2019 dan kini Netflix akan merilis setiap film dari seri tersebut di setiap minggu pada bulan Juli 2021, dimulai dengan Fear Street Part One: 1994. Continue reading Review: Fear Street Part One: 1994 (2021)

Review: Luca (2021)

Dengan film-film seperti WALL·E (Andrew Stanton, 2008), Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), serta Inside Out (Pete Docter, 2015) dan Soul (Docter, 2020) berada di dalam filmografi Pixar Animation Studios, mungkin mudah untuk memandang premis cerita yang ditawarkan oleh Luca secara sebelah mata. Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara Enrico Casarosa – yang sebelumnya mengarahkan film pendek berjudul La Luna (2011) yang berhasil mendapatkan nominasi Best Animated Short di ajang The 84th Annual Academy Awards, Luca berkisah mengenai persahabatan antara dua monster laut, Luca Paguro (Jacob Tremblay) dan Alberto Scorfano (Jack Dylan Grazer), yang menyadari bahwa spesies mereka memiliki kemampuan untuk berubah wujud menyerupai manusia ketika sedang berada di daratan. Dengan kemampuan tersebut, keduanya kemudian berpetualang ke sebuah kota bernama Portorosso yang terletak di wilayah pesisir Italia dan bersahabat dengan seorang anak perempuan bernama Giulia Marcovaldo (Emma Berman). Meskipun jalinan persahabatan antara ketiganya terus bertambah erat, baik Luca Paguro dan Alberto Scorfano terus merasa khawatir akan sikap Giulia Marcovaldo serta warga sekitar Portorosso jika mereka mengetahui siapa sosok diri mereka yang sebenarnya. Continue reading Review: Luca (2021)

Review: Wish Dragon (2021)

Merupakan film kedua garapan Sony Pictures Animation yang ditayangkan di Netflix pada tahun ini setelah The Mitchells vs. the Machine (Mike Rianda, 2021), Wish Dragon adalah sebuah film animasi yang memiliki alur penceritaan yang mungkin akan mengingatkan penontonnya pada animasi klasik milik Walt Disney Pictures, Aladdin (John Musker, Ron Clements, 1992). Filmnya bercerita tentang Din Song (Jimmy Wong), seorang pemuda yang berasal dari kelas menengah yang bermimpi untuk kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, Li Na Wang (Natasha Liu Bordizzo), yang karena kesuksesan sang ayah, Mr. Wang (Will Yun Lee), kini telah hidup sebagai keluarga berada nan kaya raya. Suatu hari, Din Song mendapatkan sebuah teko teh dari seorang pria tua (Ronny Chieng) yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang dewa. Awalnya, Din Song mengacuhkan teko teh yang diterimanya tersebut. Namun, ketika sesosok naga bernama Long (John Cho) keluar dari teko teh tersebut dan bersedia untuk mengabulkan tiga permintaannya, Din Song dengan segera tahu apa yang ingin diwujudkannya. Continue reading Review: Wish Dragon (2021)

Review: In the Heights (2021)

Sebelum namanya mengangkasa berkat Hamilton: An American Musical (2015) – yang selain berhasil meraih pujian luas dari para kritikus teater dan memenangkan 11 kategori di ajang The 70th Annual Tony Awards dari 16 nominasi yang diraihnya, juga mampu meraih sukses besar secara komersial sekaligus menjadi perbincangan diantara kalangan pemerhati kultur pop Amerika Serikat (dan dunia) – Lin-Manuel Miranda memulai karirnya di dunia teater dengan menjadi pemeran utama serta penata musik serta penulis lirik lagu-lagu yang dihadirkan dalam drama panggung musikal In the Heights (2005). Meskipun tidak sepopular Hamilton: An American Musical, In the Heights mampu memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk Tony Awards dan Grammy Awards pertama yang dimenangkan oleh Miranda. Perbincangan untuk mengadaptasi In the Heights menjadi sebuah presentasi film musikal juga telah dimulai semenjak tahun 2008. Namun, setelah melalui beberapa perubahan dan penggantian produser serta sutradara, proses produksi versi film dari In the Heights baru benar-benar dimulai pada tahun 2018 dengan Jon M. Chu (Crazy Rich Asians, 2018) duduk di kursi penyutradaraan. Continue reading Review: In the Heights (2021)

Review: Minari (2020)

Bagi masyarakat Korea, tanaman minari – merupakan tanaman sejenis seledri air yang di Indonesia sering dimakan sebagai lalapan dengan sebutan tespong atau seladren – adalah salah satu jenis sayuran popular yang digunakan sebagai campuran di berbagai panganan khas Korea ataupun dikonsumsi sebagai obat herbal yang kaya akan serat, vitamin, dan mineral yang berguna untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Tidak hanya memiliki banyak kegunaan, tanaman minari juga dikenal sebagai tanaman yang mudah untuk ditanam dan dibudidayakan serta dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun. Berbagai ciri serta manfaat dari tanaman minari, dipadukan dengan berbagai kenangan akan masa kecilnya, yang kemudian menjadi inpirasi bagi penulis sekaligus sutradara Lee Isaac Chung untuk film arahannya, Minari, yang berkisah tentang satu keluarga imigran asal Korea Selatan yang memulai kehidupan baru dan berusaha untuk mewujudkan berbagai impian mereka di tanah Amerika Serikat. Continue reading Review: Minari (2020)

Review: The Disciple (2020)

Enam tahun setelah merilis debut pengarahan film layar lebarnya yang gemilang melalui Court (2014) – yang tidak hanya mendapatkan pujian sekaligus pengakuan dari banyak kritikus film dunia namun juga berhasil terpilih mewakili India untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film di ajang The 88th Annual Academy Awards – sutradara Chaitanya Tamhane kini kembali dengan film terbarunya, The Disciple. Berfokus pada sosok-sosok karakter yang menekuni musik tradisional India dalam kehidupan mereka, naskah cerita yang ditulis oleh Tamhane dan digarap semenjak tahun 2015 menarik perhatian sutradara Alfonso Cuarón (Roma, 2018) yang kemudian bergabung sebagai produser eksekutif bagi film ini, membantu Tamhane untuk mengembangkan ide cerita dari film arahannya, serta memberikan sejumlah masukan untuk capaian teknikal film. Hasilnya tidak mengecewakan. Terlepas dari keterlibatan Cuarón, Tamhane dengan lugas menunjukkan kemampuan berceritanya yang terasa begitu personal sekaligus kuat dalam menyampaikan setiap titik poin kisahnya. Continue reading Review: The Disciple (2020)

Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Sempat direncanakan rilis di layar bioskop dengan judul Connected pada tahun 2020, The Mitchells vs the Machines adalah film animasi terbaru yang diproduseri oleh Phil Lord dan Christopher Miller yang, tentu saja, dikenal dengan film-film yang mereka arahkan dan produseri sebelumnya seperti Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), The LEGO Movie (2014), dan Spider-Man: Into the Spider-Verse (Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman, 2018). Merupakan film animasi yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara Mike Rianda – serta co-director Jeff Rowe yang bersama dengan Rianda menuliskan naskah cerita film, The Mitchells vs the Machines mencoba meneruskan kesuksesan Sony Pictures Animation lewat Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam menghadirkan tatanan visual animasi dengan citarasa animasi yang berbeda dari kebanyakan film animasi modern. Untuk film ini, hal tersebut dilakukan dengan menyajikan serta memadukan teknik animasi tradisional dan animasi komputer, memberikan sejumlah sentuhan live-action di beberapa adegan, dan membungkusnya dengan warna-warna terang yang akan dengan segera mencuri perhatian. Berhasil? Continue reading Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Review: Tersanjung the Movie (2021)

Mengikuti jejak tiga film Si Doel the Movie (2018 – 2020) yang disajikan sebagai lanjutan penceritaan dari serial televisi Si Doel Anak Sekolahan serta Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019) yang diadaptasi dari serial televisi berjudul sama, Tersanjung the Movie menjadi presentasi teranyar dari film Indonesia yang alur kisahnya diadaptasi atau terinspirasi atau melanjutkan cerita dari sebuah serial televisi popular. Ditayangkan pertama kali pada tahun 1998 di saluran Indosiar, serial televisi Tersanjung dengan segera menarik minat jutaan mata penonton, menjadikannya sebagai serial televisi yang paling ditunggu penayangannya setiap minggu, serta, menghantarkan banyak nama pengisi barisan pemerannya seperti Lulu Tobing, Jihan Fahira, Ari Wibowo, Adam Jordan, Jeremy Thomas, hingga Leily Sagita sebagai bintang televisi yang kemudian mengisi sejumlah program televisi popular lainnya. Meskipun kepopulerannya tidak mampu bertahan cukup lama, formula pengisahan yang dihadirkan Tersanjung secara perlahan mulai diikuti oleh banyak serial televisi lain yang diproduksi dan tayang sesudahnya. Continue reading Review: Tersanjung the Movie (2021)

Review: Barb & Star Go to Vista Del Mar (2021)

They’re back! Setelah meraih sukses lewat Bridesmaids (Paul Feig, 2011) – yang tidak hanya meraih kesuksesan komersial dalam skala besar selama masa perilisannya namun juga berhasil membuahkan nominasi Best Original Screenplay dari ajang The 84th Annual Academy Awards serta kini dianggap sebagai salah satu komedi terbaik sepanjang masa – duo aktris sekaligus penulis naskah, Kristen Wiig dan Annie Mumolo, kembali bekerjasama untuk Barb & Star Go to Vista Del Mar. Jangan terburu-buru mengharapkan film ini untuk mengikuti formula emas yang telah berhasil diterapkan oleh Bridesmaids. Jika Bridesmaids adalah sebuah drama tentang persahabatan antara dua wanita yang disajikan dengan balutan komedi, maka Barb & Star Go to Vista Del Mar menghadirkan elemen komedi akan kisah tentang persahabatan antara dua wanita secara utuh dengan sejumlah sentuhan drama romansa (dan musikal) di sejumlah bagian ceritanya. Komikal, dan sering terasa seperti sebuah sketsa komedi berdurasi panjang, namun Barb & Star Go to Vista Del Mar jelas mampu menjadi sebuah presentasi yang menghibur. Continue reading Review: Barb & Star Go to Vista Del Mar (2021)

Review: Godzilla vs. Kong (2021)

Setelah merilis tiga film – Godzilla (Gareth Edwards, 2014), Kong: Skull Island (Jordan Vogt-Roberts, 2017), dan Godzilla: King of the Monsters (Michael Dougherty, 2019) – dua karakter utama dalam semesta pengisahan MonsterVerse milik Legendary Entertainment, Godzilla dan Kong, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbagi layar sekaligus linimasa penceritaan lewat Godzilla vs. Kong. Godzilla vs. Kong sendiri bukanlah kali pertama bagi kedua karakter monster tersebut untuk berada dalam satu film yang sama. Toho Studios pernah memproduksi dan merilis King Kong vs. Godzilla arahan Ishirō Honda di tahun 1962 yang turut menjadi inspirasi bagi penuturan kisah film ini. Seperti tiga film sebelumnya, film ini berhasil menawarkan sajian pertunjukan yang mengeksplorasi kualitas tata audio maupun visual secara maksimal. Di saat yang bersamaan, lewat arahan Adam Wingard (Death Note, 2017) atas naskah cerita yang ditulis oleh Eric Pearson (Thor: Ragnarok, 2017) dan Max Borenstein – yang menjadi penulis naskah bagi tiga film dalam seri MonsterVerse sebelumnya, Godzilla vs. Kong berhasil dihadirkan dengan kualitas cerita yang lebih padat dan lebih memikat. Continue reading Review: Godzilla vs. Kong (2021)

Review: Raya and the Last Dragon (2021)

Menjadi film animasi ke-59 yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios, Raya and the Last Dragon merupakan usaha teranyar dari rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut dalam melakukan diversifikasi pada karakter maupun kisah yang ditampilkan oleh film-film yang mereka rilis. Setelah Moana (Ron Clements, John Musker, 2016) yang menampilkan sosok karakter dan kisah yang didasarkan pada sejarah maupun legenda yang berasal dari gugus kepulauan Polinesia, Raya and the Last Dragon kini memberikan fokus pada barisan karakter serta kisah yang berasal dari Asia Tenggara. Dari segi pengisahan, Raya and the Last Dragon memang tidak menghadirkan tata penuturan yang begitu berbeda dengan film-film produksi Walt Disney Animation Studios lainnya. Tetap saja, dengan garapan yang apik, Raya and the Last Dragon tidak hanya mampu menjelma menjadi sajian yang menghibur sekaligus inspiratif khas film-film animasi Disney lainnya namun, di saat yang bersamaan, juga memiliki signifikansi yang begitu terhubung dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat modern saat ini.

Continue reading Review: Raya and the Last Dragon (2021)