Tag Archives: Rating: B

Review: Pad Man (2018)

Film terbaru arahan sutradara R. Balki (Ki & Ka, 2016), Pad Man, menghabiskan 140 menit durasi pengisahannya untuk berbicara mengenai menstruasi. Yes, you read that right. Diinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang aktivis sosial asal India bernama Arunachalam Muruganantham, Pad Man memulai kisahnya ketika Lakshmikant Chauhan (Akhsay Kumar) baru menyadari bahwa istrinya, Gayatri Chauhan (Radhika Apte), menggunakan potongan-potongan kain yang tidak terjamin kebersihannya sebagai pengganti pembalut akibat mahalnya harga bantalan yang digunakan kaum perempuan di saat mereka sedang menjalani masa menstruasi tersebut. Tidak ingin sang istri mengalami masalah kesehatan, Lakshmikant Chauhan lantas berusaha untuk membuat sendiri pembalut yang nantinya dapat digunakan sang istri. Namun, akibat pandangan sosial bahwa menstruasi adalah hal yang tabu untuk dibicarakan – khususnya oleh para pria, tindakan Lakshmikant Chauhan tersebut justru dinilai membawa aib bagi dirinya dan seluruh keluarganya. Lakshmikant Chauhan kemudian memutuskan untuk keluar dari desanya dan berjanji baru akan kembali jika ia telah dapat menemukan cara untuk memproduksi pembalut murah yang dapat berfungsi dan digunakan istrinya. Continue reading Review: Pad Man (2018)

Advertisements

Review: Downsizing (2017)

Setelah memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita yang mereka tulis bagi film The Descendants (2011), Alexander Payne dan Jim Taylor kembali berkolaborasi dalam film terbaru arahan Payne, Downsizing. Kali ini, keduanya menawarkan sebuah kisah satir sosial yang dibungkus dengan pola pengisahan fiksi ilmiah yang jelas memiliki warna yang cukup berbeda dengan film-film arahan Payne sebelumnya. Harus diakui, ide cerita yang dimiliki oleh Payne dan Taylor – tentang penemuan prosedur penyusutan ukuran tubuh manusia dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kepunahan – jelas terdengar sebagai sebuah premis pengisahan yang segar sekaligus fantastis. Sayangnya, ide besar tersebut kemudian seringkali tidak mampu untuk mendapatkan pengembangan yang lebih kuat sehingga gagal tampil untuk menjadi presentasi cerita yang lebih mengikat. Continue reading Review: Downsizing (2017)

Review: Padmaavat (2018)

Setelah tampil dalam Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela (2013) dan Bajirao Mastani (2015), Deepika Padukone dan Ranveer Singh kembali berada di bawah arahan sutradara Sanjay Leela Bhansali untuk film terbarunya, Padmaavat. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Bhansali bersama dengan penulis naskah Bajirao Mastani, Prakash Kapadia, berdasarkan puisi epik klasik karya Malik Muhammad Jayasi yang berjudul Padmavat, Padmaavat berkisah mengenai usaha dari Sultan Delhi, Alauddin Khilji (Singh), untuk menembus dan menguasai Chittor Fort milik Kerajaan Mewar yang dipimpin oleh King Ratan Singh (Shahid Kapoor). Hasrat menggebu-gebu Alauddin Khilji untuk menguasai Kerajaan Mewar bukannya tanpa alasan. Selain untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Alauddin Khilji termotivasi untuk memiliki Padmavati (Padukone) yang merupakan istri dari King Ratan Singh yang terkenal akan kecantikan dan kecerdasannya. Tentu saja, King Ratan Singh dan pasukannya melakukan usaha terkuat mereka untuk bertahan dari serangan pasukan milik Alauddin Khilji. Namun, ketika kondisi King Ratan Singh semakin terdesak, Padmavati telah bersiap untuk melakukan pengorbanan diri untuk menghindari dirinya dari tangkapan Alauddin Khilji. Continue reading Review: Padmaavat (2018)

Review: Darkest Hour (2017)

Jika Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) membawa penontonnya melaju ke medan perang ketika pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, maka Darkest Hour berkisah mengenai bagaimana pasukan Inggris dapat terlibat dalam situasi tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai ketika Winston Churchill (Gary Oldman) dipilih untuk menggantikan posisi Neville Chamberlain (Ronald Pickup) sebagai Perdana Menteri Inggris yang dinilai kurang mampu untuk menangani permasalahan keamanan negara. Dengan Perang Dunia II yang sedang berkecamuk, posisi sebagai seorang Perdana Menteri memberikan tekanan kuat bagi Winston Churchill dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Namun, tekanan terbesar datang ketika pasukan Inggris yang sedang berperang bersama pasukan sekutu untuk melawan pasukan Jerman mulai menderita kekalahan. Demi menyelamatkan nyawa ribuan tentaranya, anggota parlemen Inggris lantas meminta Winston Churchill untuk berunding dan melakukan perdamaian dengan Jerman. Suatu permintaan yang jelas tidak dapat diterima Winston Churchill begitu saja. Continue reading Review: Darkest Hour (2017)

Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)

Dengan apa yang dipresentasikannya pada Dogtooth (2009) dan The Lobster (2015), rasanya tidak akan ada yang begitu terkejut dengan narasi yang dihadirkan Yorgos Lanthimos dalam The Killing of a Sacred Deer. Mendasarkan naskah cerita yang ia tulis bersama Efthymis Filippou pada drama panggung kuno asal Yunani, Iphigenia in Aulis, karangan Euripides – dimana dikisahkan Raja Yunani, Agamemnon, diharuskan untuk mengorbankan puterinya, Iphigenia, sebagai hukuman akibat ketidaksengajaannya membunuh salah satu rusa milik Dewi Artemis – Lanthimos sekali lagi membuktikan kejeniusannya dalam merangkai metafora cerita untuk menyampaikan pengisahannya yang (seperti biasa) dipenuhi oleh satir mengenai kehidupan umat manusia. Sebuah petualangan “gila” yang tidak akan dilupakan oleh para penontonnya begitu saja. Continue reading Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)

Review: The Greatest Showman (2017)

Mendasarkan naskah ceritanya pada sekelumit kisah nyata kehidupan Phineas Taylor Barnum – seorang penghibur sekaligus pemilik wahana sirkus asal Amerika Serikat yang lebih dikenal dengan nama panggilan P.T. Barnum, The Greatest Showman menampilkan sang karakter utama (Hugh Jackman) ketika berusaha membangun sebuah bisnis hiburan dengan mengumpulkan sekumpulan manusia yang dinilai memiliki karakteristik maupun talenta yang unik (baca: aneh). Usaha tersebut awalnya mendapatkan cibiran dari banyak orang. Namun, dengan kerja keras dan dukungan penuh dari sang istri, Charity Barnum (Michelle Williams), P.T. Barnum mampu membuktikan bahwa usaha hiburannya – yang kemudian disebut sebagai Barnum’s Circus – secara perlahan mampu mendapatkan antusiasme yang tinggi dari penonton. Continue reading Review: The Greatest Showman (2017)

Review: The Post (2017)

Di tahun 1971, Amerika Serikat (dan dunia) dihebohkan dengan perilisan dokumen-dokumen rahasia milik negara di halaman depan harian The New York Times yang memuat detil keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam mulai dari tahun 1945 hingga tahun 1967. Yang membuat banyak warga negara Amerika Serikat lebih murka lagi, dalam dokumen yang kemudian dikenal dengan sebutan Pentagon Papers tersebut, terdapat sebuah analisa yang mengungkapkan fakta dan data bahwa pasukan militer Amerika Serikat sebenarnya tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan Perang Vietnam – sebuah kenyataan yang diketahui dan kemudian disembunyikan oleh empat Presiden Amerika Serikat di kala itu: Harry S. Truman, Dwight D. Eisenhower, John F. Kennedy, dan Lyndon B. Johnson. Alasan mengapa pemerintahan Amerika Serikat tetap bertahan di Perang Vietnam? Sederhana: menghindari diri dari rasa malu atas sebuah kekalahan di medan perang. Continue reading Review: The Post (2017)

Review: Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dirilis lebih dari dua dekade semenjak perilisan Jumanji (Joe Johnston, 1995), Jumanji: Welcome to the Jungle dihadirkan sebagai sekuel – meskipun tampil berdiri sendiri – bagi film fantasi petualangan yang dibintangi oleh Robin Williams tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai a la The Breakfast Club (John Hughes, 1985) ketika empat orang pelajar dari Brantford High School yang sedang ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan hukuman, Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony Johnson atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Fridge (Ser’Darius Blain), dan Martha Kaply (Morgan Turner), memainkan sebuah mesin permainan video usang yang mereka temukan di ruangan tersebut. Tidak disangka, keempat pelajar tersebut secara ajaib masuk ke dalam permainan yang berjudul Jumanji dan berubah menjadi karakter-karakter yang terdapat di dalamnya: Spencer Gilpin berubah menjadi Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Fridge berubah menjadi Franklin Finbar (Kevin Hart), Martha Kaply berubah menjadi Ruby Roundhouse (Karen Gillan), dan Bethany Walker, sialnya, berubah wujud menjadi karakter pria paruh baya bernama Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Walau awalnya merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada mereka, keempat pelajar tersebut akhirnya menyadari bahwa mereka harus menyelesaikan permainan Jumanji atau mereka akan tertahan – atau bahkan tewas – selamanya di dalam permainan petualangan tersebut. Continue reading Review: Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Review: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Seperti halnya In Bruges (2008) maupun Seven Psychopaths (2012), film terbaru arahan Martin McDonagh, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, adalah sebuah paduan yang eksentrik antara black comedy dan crime drama dengan sentuhan pengisahan yang kental akan pengaruh berbagai isu sosial maupun politik. Dengan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri berkisah mengenai Mildred Hayes (Frances McDormand) yang baru saja kehilangan puterinya dalam sebuah peristiwa kejahatan tragis. Delapan bulan semenjak tragedi tersebut dan pihak kepolisian masih belum dapat menemukan sosok tersangka, Mildred Hayes akhirnya memilih untuk mengambil tindakan sendiri: ia menyewa tiga papan reklame berukuran raksasa untuk menyampaikan perasaan kecewanya pada kinerja pihak kepolisian melalui tulisan “RAPED WHILE DYING / AND STILL NO ARRESTS / HOW COME, CHIEF WILLOUGHBY?” Jelas saja, tulisan tersebut kemudian menghasilkan provokasi pada masyarakat sekitar dan, khususnya, para anggota satuan kepolisian yang merasa bahwa Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) telah melakukan banyak hal untuk memecahkan kasus tersebut meskipun akhirnya gagal dalam menemukan jalan penyelesaiannya. Secara perlahan, Mildred Hayes mulai kehilangan rasa simpati dari banyak orang yang selama ini masih begitu memperhatikan keberadaannya. Continue reading Review: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Review: Wonder (2017)

Diarahkan oleh Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower, 2012), Wonder berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Tremblay), atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Auggie, yang semenjak lahir menderita kelainan bentuk wajah yang sangat langka yang membuatnya belum pernah benar-benar bersosialisasi dengan dunia luar. Namun, setelah beberapa tahun menjalani homeschooling, kedua orangtuanya, Nate (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts), memutuskan sudah saatnya bagi Auggie untuk mendapatkan pendidikannya di sekolah umum. Meskipun menyadari bahwa dunia luar dapat menjadi sebuah tempat yang begitu kejam bagi seorang anak dengan kelainan seperti yang dimiliki oleh Auggie, kedua orangtua Auggie dan kakaknya, Via (Izabela Vidovic), memberikan dukungan penuh agar Auggie dapat tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri. Continue reading Review: Wonder (2017)

Review: The Florida Project (2017)

Meski bukanlah film layar lebar perdananya, nama Sean Baker baru mendapatkan rekognisi lebih luas setelah film kelimanya, Tangerine, ditayangkan untuk pertama kali pada Sundance Film Festival di tahun 2015. Film tersebut, yang sepenuhnya dibuat melalui bantuan kamera iPhone 5s serta dibintangi dua artis transgender yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berakting, terbukti mampu memenangkan hati banyak kritikus film dunia sekaligus menjadikan Tangerine sebagai salah satu film terbaik yang dirilis di tahun tersebut. Kembali bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Chris Bergoch, film terbaru arahan Baker, The Florida Project, masih menampilkan semangat yang sama seperti yang ditampilkan oleh gaya pengisahan Tangerine: sebuah kisah dengan sentuhan kisah sosial yang kental namun disajikan dengan penceritaan yang kuat sekaligus hangat melalui penampilan akting yang handal dari deretan pemerannya. Continue reading Review: The Florida Project (2017)

Review: Coco (2017)

Dalam Coco, Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios bertualang ke Meksiko dan menjadikan perayaan budaya negara tersebut, Día de Muertos atau juga sering disebut sebagai Day of the Dead, sebagai inspirasi jalan ceritanya. Diarahkan oleh Lee Unkrich (Toy Story 3, 2010) dengan bantuan dari penulis naskah Adrian Molina, Coco berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) yang bercita-cita untuk menjadi seorang musisi. Sayangnya, Miguel Rivera berasal dari keluarga dimana seluruh kegiatan yang berhubungan dengan musik dinyatakan sebagai kegiatan terlarang – sebuah ultimatum yang muncul setelah kakek buyut mereka meninggalkan nenek buyut dan keluarga mereka untuk mengejar karirnya sebagai seorang musisi. Tidak tinggal diam, Miguel Rivera berniat untuk menunjukkan bakat musiknya di hari perayaan Día de Muertos. Namun, sebuah keajaiban terjadi dan Miguel Rivera kini terjebak di dunia para arwah – yang disebut dengan Land of the Dead. Kini, Miguel Rivera harus menemukan arwah para keluarganya dan meminta restu mereka agar dirinya dapat kembali ke dunia nyata. Continue reading Review: Coco (2017)

Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Malang benar nasib Marlina (Marsha Timothy). Setelah kematian janin bayi yang sedang dikandungnya kini wanita asal Sumba tersebut harus hidup sebatang kara setelah suaminya turut meninggal dunia – dengan mayat sang suami yang telah diawetkan masih terbujur kaku di ruang tamu rumah akibat ketidakmampuan Marlina membiayai ritual upacara pemakaman. Nasib buruk tidak berhenti disana. Sekelompok pria yang dipimpin oleh Markus (Egi Fadly) yang berperawakan tinggi besar datang ke rumah Marlina dan berencana untuk mengambil seluruh harta benda miliknya. Oh. Sekumpulan pria tersebut juga berencana untuk memperkosa Marlina secara bergantian selepas makan malam. Namun, walau dengan penampilan yang tenang dan terkesan lemah, Marlina menolak untuk menyerah begitu saja. Berbekal sebilah parang dan olahan sup ayam yang menjadi menu andalannya, Marlina bertekad untuk membuat Markus dan gerombolannya menyesal telah melangkahkan kaki mereka ke rumah Marlina hari itu. Continue reading Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)