Tag Archives: Rating: B

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)

Review: Hotel Mumbai (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara asal Australia, Anthony Maras, Hotel Mumbai adalah sebuah film yang mencoba untuk merekonstruksi menit-menit horor terjadinya serangan terorisme di kota Mumbai, India pada tahun 2008 dengan fokus utama diberikan pada serangan yang terjadi pada The Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan salah satu hotel tertua di India. Jalan ceritanya sendiri menjadikan beberapa karakter sebagai penentu arah pengisahan film: pasangan David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang menginap di hotel tersebut bersama anak mereka dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey); seorang pramusaji bernama Arjun (Dev Patel) yang bekerja di bawah arahan atasannya, Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher); serta seorang mantan anggota militer Rusia, Vasili (Jason Isaacs), yang merupakan pengunjung tetap hotel tersebut dan telah dikenal dengan sikap arogannya. Bersama dengan ratusan penghuni The Taj Mahal Palace lainnya, karakter-karakter tersebut terjebak selama empat hari di dalam hotel ketika sekelompok anggota teroris datang dan mulai melakukan aksi sadisnya. Continue reading Review: Hotel Mumbai (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: Friend Zone (2019)

Seperti yang dapat ditangkap dengan mudah dari judulnya, Friend Zone berkisah mengenai hubungan persahabatan yang terjalin antara Gink (Pimchanok Luevisadpaibul) dan Palm (Naphat Siangsomboon). Palm sebenarnya telah menyimpan perasaan cinta terhadap sahabatnya tersebut semenjak di bangku kuliah. Namun perasaan tersebut ternyata hanya bertepuk sebelah tangan karena Gink hanya tertarik untuk menjadikan Palm sebagai teman dekat dimana ia dapat berkeluh kesah mengenai permasalahan hidup, termasuk permasalahan asmara yang selalu ia dapati ketika sedang menjalin hubungan asmara dengan pria lain. Ketika hubungan asmara yang dijalin Gink dengan kekasih terakhirnya, Ted (Jason Young), juga terjerembab dalam masalah dan kemudian berakhir, Palm mulai menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Gink dan meminta gadis tersebut untuk melihatnya tidak lagi hanya sebagai seorang sahabat. Sebuah permintaan yang, sialnya, justru ditolak oleh Gink karena ia menilai hubungan asmara dirinya dengan Palm hanya akan merusak persahabatan erat yang telah terjalin antara keduanya selama ini. Continue reading Review: Friend Zone (2019)

Review: Captain Marvel (2019)

Sebelas tahun semenjak perilisan Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan sembilan belas film lain yang dirilis guna mengisi linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Marvel Studios merilis Captain Marvel yang menandai kali perdana dimana sosok pahlawan super perempuan menjadi karakter utamanya. Seperti halnya film-film pertama para pahlawan super buatan Marvel Studios sebelumnya, Captain Marvel juga merupakan sebuah origin story yang akan memperkenalkan pada penonton mengenai sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampirinya ketika ia berusaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki tersebut. Sebuah plot pengisahan yang cukup mendasar bagi sebuah film yang berasal dari semesta cerita tentang kehidupan para pahlawan super. Namun, terlepas dari berbagai elemen familiar dari penceritaan tersebut, garapan duo sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck (It’s Kind of a Funny Story, 2010) berhasil mengemas Captain Marvel tetap menjadi sajian yang terasa segar dan sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Captain Marvel (2019)

Review: Extreme Job (2019)

Film terbaru arahan Lee Byeong-heon (What a Man Wants, 2018), Extreme Job, sebenarnya menawarkan garisan penceritaan yang cukup sederhana: kisah sekelompok detektif yang berusaha untuk membongkar dan menangkap sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Dalam usaha tersebut, Chief Go (Ryu Seung-ryong), Detective Jang (Lee Hanee), Detective Young-ho (Lee Dong-hwi), Detective Ma (Jin Seon-kyu), dan Detective Jae-hoon (Gong Myung), menyamar menjadi satu keluarga yang memiliki usaha restoran penjual ayam goreng agar dapat memantau lokasi yang diduga menjadi tempat berkumpulnya para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut. Tanpa terduga, restoran yang mereka kelola sebagai kedok penyamaran justru mampu menarik minat pembeli dalam jumlah besar dan mendadak menjadi begitu popular ke seantero Korea Selatan akibat racikan resep ayam goreng dari Detective Ma yang benar-benar enak. Jelas saja, kesibukan dalam mengelola restoran secara perlahan memecah konsentrasi kelima detektif dalam menjalankan tugas mereka sekaligus membuat para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang mulai dapat mencium keberadaan mereka. Continue reading Review: Extreme Job (2019)

Review: Cold Pursuit (2019)

Seperti halnya Michael Haneke yang di tahun 2007 membuat ulang kembali filmnya, Funny Games (1997), untuk konsumsi Hollywood, Cold Pursuit juga merupakan versi buat ulang dari film asal Norwegia, In Order of Disappearance (2014), dengan sutradara aslinya, Hans Petter Moland, kembali duduk di kursi penyutradaraan. Alur ceritanya sendiri sangat familiar dengan barisan film-film yang sebelumnya telah dibintangi oleh pemeran utama film ini, Liam Neeson. Dikisahkan, kehidupan tenang Nels Coxman (Neeson) sebagai seorang pembersih salju di sebuah resor ski di sebuah kota bersalju bernama Kehoe di Colorado, Amerika Serikat, tiba-tiba terusik setelah putranya, Kyle (Micheál Richardson), ditemukan tewas akibat penyalahgunaan heroin. Istrinya, Grace (Laura Dern), lantas memilih untuk meninggalkan Nels Coxman akibat tidak mampu menahan rasa dukanya. Nels Coxman juga hampir melakukan tindakan bunuh diri… sebelum akhirnya dia mengetahui bahwa kematian putranya bukan disebabkan oleh penyalahgunaan heroin namun akibat dibunuh oleh kartel narkotika dan obat-obatan terlarang. Nels Coxman yang dikenal seluruh warga Kehoe sebagai sosok yang tenang dan bersahabat kemudian berubah menjadi sosok pria penuh dendam yang bersiap untuk membunuh siapapun yang terlibat atas kematian anaknya. Continue reading Review: Cold Pursuit (2019)

Review: Happy Death Day 2U (2019)

Jika Happy Death Day (Christopher Landon, 2017) menawarkan alur pengisahan yang membuatnya digelari sebagai versi horor dari Groundhog Day (Harold Ramis, 1993) maka jalan cerita sekuelnya, Happy Death Day 2U, mungkin akan membuat banyak orang memberikannya perbandingan dengan Back to the Future (Robert Zemeckis, 1985) – meskipun, tentu saja, masih menjadikan Groundhog Day sebagai basis premis utamanya. Perbandingan tersebut bukannya dibuat secara asal. Alih-alih menjadikan Happy Death Day 2U hanya sebagai mesin penghasil uang dengan memberikan ulangan atau perubahan minimalis pada jalan ceritanya, Landon – yang juga menggarap naskah cerita film menggantikan posisi penulis naskah cerita seri sebelumnya, Scott Lobdell – justru memberikan olahan konflik dan karakter yang lebih berwarna serta membungkusnya dengan jalinan pengisahan bernuansa fiksi ilmiah yang kuat. Langkah berani yang ternyata menjadikan penampilan Happy Death Day 2U semakin berkelas. Continue reading Review: Happy Death Day 2U (2019)

Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Lima tahun setelah film pertamanya – dengan The LEGO Batman Movie (Chris McKay, 2017) dan The LEGO Ninjago Movie (Charlie Bean, Paul Fisher, Bob Logan, 2017) menjadi dua film sempalan yang dirilis diantaranya – The LEGO Movie 2 hadir sebagai sekuel langsung bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Chris Miller, 2014). Walau masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bagi film ini, Lord dan Miller sendiri menyerahkan kursi penyutradaraan pada Mike Mitchell (Trolls, 2016). Para penggemar The LEGO Movie sepertinya tidak akan mengeluhkan perubahan tersebut. Pengaruh besar Lord dan Miller jelas masih dapat dirasakan dalam alur pengisahan The LEGO Movie 2: film ini masih tampil dengan humor yang kuat dan penuh dengan referensi kultur pop teranyar, tampilan visual penuh warna yang memikat, serta disajikan dengan ritme pengisahan yang mengalun cepat. Tidak menawarkan sesuatu yang baru? Jangan khawatir. Lord dan Miller menyediakan ruang konflik yang lebih besar sehingga membuka celah yang cukup luas pula bagi beberapa sentuhan segar dalam pengisahan The LEGO Movie 2. Continue reading Review: The LEGO Movie 2 (2019)

Review: Alita: Battle Angel (2019)

Mereka yang telah familiar dengan James Cameron (Avatar, 2009) pasti telah cukup memahami bahwa setiap rilisan film yang melibatkan namanya – baik sebagai sutradara maupun produser – akan menghabiskan waktu yang cukup lama dalam tahapan produksinya. Sebagian besar waktu tersebut digunakan Cameron untuk mengembangkan teknologi yang mendukung penampilan teknologi audio maupun visual dari filmnya. Alita: Battle Angel, yang sempat akan diarahkan Cameron sebelum akhirnya diambil alih oleh Robert Rodriguez (Machete Kills, 2013), juga mengalami masa proses kreatif yang sama. Diadaptasi dari seri manga berjudul Battle Angel Alita, Cameron telah mengumumkan niatnya untuk memproduksi film ini semenjak tahun 2003. Setelah melalui berbagai rintangan – mulai dari masa pengembangan naskah, pergantian posisi sutradara yang lantas menempatkan Cameron untuk duduk di kursi produser bersama dengan Jon Landau, hingga usaha untuk menghasilkan teknologi termutakhir untuk digunakan (yang lantas semakin menambah besar beban biaya produksi film ini) – Alita: Battle Angel memasuki masa produksinya pada tahun 2016 dengan rencana rilis pada pertengahan tahun 2018 sebelum akhirnya mendapatkan revisi jadwal tayang pada awal tahun 2019. Continue reading Review: Alita: Battle Angel (2019)

Review: Terlalu Tampan (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Sabrina Rochelle Kalangie, yang bersama dengan Nurita Anandia juga bertugas sebagai penulis naskah bagi film ini, Terlalu Tampan berkisah mengenai seorang remaja bernama Mas Kulin (Ari Irham) yang sepanjang hidupnya lebih memilih untuk berada di dalam rumah akibat penampilan fisiknya yang terlalu tampan sehingga sering menyebabkan kekacauan bagi orang-orang di sekitarnya – bagi kaum perempuan, untuk tepatnya. Kondisi tersebut membuat kedua orangtua, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan Bu Suk (Iis Dahlia), serta kakak Mas Kulin, Mas Okis (Tarra Budiman), menjadi khawatir dengan perkembangan kepribadian Mas Kulin di masa yang akan datang. Pak Archewe, Bu Suk, dan Mas Okis kemudian menyusun sebuah rencana agar Mas Kulin mau melanjutkan pendidikannya di sekolah umum. Dan berhasil. Mas Kulin lantas bersekolah di sebuah sekolah umum layaknya para remaja lain dan, tentu saja, membuat banyak kaum hawa panik setiap kali melihat kehadirannya. Namun, di saat yang bersamaan, Mas Kulin mulai mengenal sosok seperti Kibo (Calvin Jeremy) dan Rere (Rachel Amanda) yang bersedia menjadi temannya tanpa pernah melihat bagaimana penampilan fisiknya. Continue reading Review: Terlalu Tampan (2019)

Review: Green Book (2018)

Berlatar belakang di tahun 1960an ketika perlakuan diskriminasi dan segregasi terhadap orang-orang kulit berwarna di Amerika Serikat masih berlangsung, film terbaru arahan Peter Farrelly (The Three Stooges, 2012), Green Book, memulai pengisahannya ketika mantan penjaga klub malam yang merupakan seorang Italia-Amerika, Frank “Tony Lip” Vallelonga (Viggo Mortensen), dipekerjakan oleh seorang musisi jazz berdarah Afrika-Amerika, Don Shirley (Mahershala Ali), untuk menjadi supir sekaligus penjaga keamanannya ketika sedang melakukan tur keliling Amerika Serikat yang akan berjalan selama delapan minggu. Jelas bukan sebuah pekerjaan yang mudah. Selain keduanya harus bersiap menghadapi berbagai kendala yang akan muncul akibat identitas ras yang dimiliki Don Shirley, Frank “Tony Lip” Vallelonga dan Don Shirley sendiri seringkali merasa bahwa mereka bukanlah rekan kerja yang tepat akibat berbagai perbedaan yang ada dalam kepribadian mereka. Namun, menghabiskan masa selama delapan minggu bersama, keduanya mulai saling mengenal, membuka diri, dan bahkan melindungi satu sama lain. Continue reading Review: Green Book (2018)

Review: The Upside (2019)

Masih ingat dengan film drama komedi asal Perancis yang berjudul Intouchables? Ketika dirilis pada tahun 2011, film arahan Olivier Nakache dan Éric Toledano tersebut mampu meraih kesuksesan komersial besar di negara asalnya – dengan biaya produksi yang “hanya” mencapai US$10.8 juta, Intouchables lantas mampu mengumpulkan pendapatan sebesar US$412.9 juta di sepanjang masa perilisannya di Perancis. Tidak hanya sukses secara komersial, Intouchables juga mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus film, mendapatkan delapan nominasi dari ajang The 37th Annual César Awards – dan memenangkan kategori Best Actor untuk Omar Sy, serta akhirnya dipilih Perancis untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film pada The 85th Annual Academy Awards – walau kemudian gagal untuk mendapatkan nominasi. Kesuksesan Intouchables bahkan mampu merambah negara-negara di luar Perancis, seperti Jerman, Korea Selatan, Jepang, Italia, bahkan Amerika Serikat. Tidak mengherankan, beberapa sineas luar negeri lantas merasa tertarik untuk mengadaptasi jalan cerita Intouchables. Sutradara asal India, Vamsi Paidipally, mengarahkan adaptasi berbahasa Telugu dan Tamil dengan judul Oopiri dan merilisnya pada tahun 2016. Di tahun yang sama, sineas asal Argentina, Marcos Carnevale, juga merilis adaptasi Intouchables-nya yang berjudul Inseparables. Continue reading Review: The Upside (2019)