Tag Archives: Rating: B

Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Sony Pictures sepertinya semakin percaya diri dengan kolaborasi mereka bersama Marvel Comics. Setelah kesuksesan Spider-Man: Homecoming (Jon Watts, 2017) – yang juga menjadi film Spider-Man pertama yang diikutsertakan dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe – serta Venom (Ruben Fleischer, 2018), Sony Pictures kini memproduksi sebuah seri terbaru Spider-Man yang tidak berhubungan secara langsung dengan seri live-action Spider-Man yang sedang berjalan namun, di saat bersamaan, juga memiliki keterikatan semesta pengisahan dengan seri film tersebut. Digarap dalam bentuk animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse akan mengenalkan penonton pada sosok Spider-Man lain bernama Miles Morales yang berasal dari dimensi kehidupan yang berbeda – dimana, dalam dimensi kehidupan tersebut, karakter Peter Parker/Spider-Man dikisahkan telah meninggal dunia. Dengan pengembangan cerita dan karakter yang dilakukan oleh Phil Lord dan Christopher Miller (The LEGO Movie, 2014), Spider-Man: Into the Spider-Verse mampu dibangun menjadi sebuah presentasi yang cerdas, menyenangkan, bahkan menjadi salah satu adaptasi film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat hingga saat ini. Continue reading Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Advertisements

Review: Widows (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Steve McQueen (Shame, 2011) bersama dengan Gillian Flynn (Gone Girl, 2012) berdasarkan buku karya Lynda La Plante yang berjudul sama, Widows memulai kisahnya dengan kematian yang dialami oleh Harry Rawlings (Liam Neeson) ketika ia sedang melakukan sebuah perampokan bersama dengan rekan-rekannya, Carlos Perelli (Manuel Garcia-Rulfo), Florek Gunner (Jon Bernthal), dan Jimmy Nunn (Coburn Goss). Sial, kematian Harry Rawlings ternyata tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam kepada sang istri, Veronica Rawlings (Viola Davis). Beberapa hari setelah pemakaman jenazah sang suami, Veronica Rawlings didatangi oleh seorang politisi yang juga merupakan pemimpin sebuah kelompok kejahatan bernama Jamal Manning (Brian Tyree Henry) yang meminta agar uangnya yang telah dirampok oleh Harry Rawlings bersama dengan rekan-rekannya untuk dikembalikan. Veronica Rawlings yang sama sekali tidak terlibat kejahatan yang dilakukan oleh sang suami jelas  tidak memiliki sejumlah uang seperti yang diminta oleh Jamal Manning. Dengan tenggat waktu satu bulan yang diberikan oleh Jamal Manning untuk mengembalikan uangnya, Veronica Rawlings akhirnya mengajak para janda dari rekan-rekan suaminya, Linda Perelli (Michelle Rodriguez), Alice Gunner (Elizabeth Debicki), dan Amanda Nunn (Carrie Coon), untuk mengikuti jejak para almarhum suami mereka dan melakukan sebuah perampokan guna mendapatkan uang yang diinginkan oleh Jamal Manning. Continue reading Review: Widows (2018)

Review: One Cut of the Dead (2017)

Diarahkan oleh sutradara asal Jepang Shin’ichirô Ueda berdasarkan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, One Cut of the Dead adalah sebuah film horor komedi yang jelas akan mampu memberikan kejutan pada setiap penontonnya. Filmnya sendiri bercerita tentang usaha seorang sutradara, Takayuki Higurashi (Takayuki Hamatsu), dalam menggarap sebuah film horor dengan biaya produksi yang benar-benar terbatas. Tidak hanya terhambat dengan bujet yang seadanya, Takayuki Higurashi juga harus menghadapi jajaran pemeran film yang dinilainya tidak mampu berakting dengan meyakinkan sehingga menjadikan proses pengambilan gambar film menjadi semakin lama. Namun, berbagai kendala tersebut tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah masalah yang segera menyusul: satu per satu kru produksi filmnya berubah menjadi sosok mayat hidup yang siap untuk menyerang dan membunuh setiap orang yang berada di sekitarnya. Terdengar seperti premis familiar (dan klise) dari sebuah film horor yang berkisah tentang para mayat hidup? Tunggu dulu. Continue reading Review: One Cut of the Dead (2017)

Review: Creed II (2018)

Dikabarkan akan menjadi seri terakhir dimana Sylvester Stallone memerankan karakter ikoniknya, Rocky Balboa, Creed II memiliki linimasa pengisahan yang memiliki latar belakang waktu tiga tahun semenjak deretan konflik yang dikisahkan pada Creed (Ryan Coogler, 2015). Dikisahkan, rentetan kemenangan yang berhasil diraih oleh petinju Adonis Creed (Michael B. Jordan) bersama dengan pelatihnya, Rocky Balboa (Stallone), ternyata menarik perhatian seseorang yang berasal dan berhubungan dengan masa lalu Adonis Creed dan Rocky Balboa. Seorang mantan petinju asal Rusia, Ivan Drago (Dolph Lundgren) – yang dahulu pernah melawan ayah Adonis Creed, Apollo Creed, dan menyebabkan kematiannya sebelum akhirnya berhasil dikalahkan oleh Rocky Balboa – menawarkan sebuah proposal kepada Adonis Creed agar dirinya melawan anaknya yang juga seorang petinju profesional, Viktor Drago (Florian Munteanu). Usulan tersebut ditentang oleh Rocky Balboa yang menilai bahwa Ivan Drago hanyalah berusaha mencari ketenaran bagi petinju yang dilatihnya sekaligus membalaskan dendam kekalahannya pada dirinya. Namun, kenangan akan kematian sang ayah yang disebabkan oleh Ivan Drago ternyata masih begitu besar membekas pada diri Adonis Creed. Walau tanpa restu Rocky Balboa, Adonis Creed meneriwa tawaran tersebut dan bersiap untuk melawan Viktor Drago. Continue reading Review: Creed II (2018)

Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Merupakan kali pertama Walt Disney Animation Studios memproduksi sebuah sekuel bagi film animasinya setelah sebelumnya merilis Fantasia 2000 (Don Hahn, Pixote Hunt, Hendel Butoy, Eric Goldberg, James Algar, Francis Glebas, Paul Brizzi, Gaëtan Brizzi, 1999) yang merupakan sekuel dari Fantasia (Samuel Armstrong, James Algar, Bill Roberts, Paul Satterfield, Ben Sharpsteen, David D. Hand, Hamilton Luske, Jim Handley, Ford Beebe, T. Hee, Norman Ferguson, Wilfred Jackson, 1940), Ralph Breaks the Internet kembali menempatkan sutradara Wreck-It Ralph (2012), Richard Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan bantuan dari Phil Johnston yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village, 2017). Layaknya sebuah sekuel, Ralph Breaks the Internet memberikan sebuah semesta pengisahan yang lebih luas bagi karakter-karakternya namun tetap mempertahankan elemen cerita tentang persahabatan yang telah menjadi fokus utama semenjak film pendahulunya. Tidak mengherankan bila Ralph Breaks the Internet mampu hadir dengan tata pengisahan dan karakterisasi yang lebih berwarna sekaligus dengan ikatan emosional kepada penonton yang lebih kuat. Continue reading Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Jelas tidak mudah untuk tidak memandang sebelah mata terhadap Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah usaha murahan para produsernya untuk meraup kesuksesan komersial dengan cara memanfaatkan elemen nostalgia terhadap salah satu aktris film Indonesia paling ikonik tersebut. Dan jelas bukanlah sebuah prasangka yang salah pula – setidaknya kualitas yang ditampilkan dua seri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (Anggy Umbara, 2016 – 2017) serta Benyamin Biang Kerok (Hanung Bramantyo, 2018) layak mendapatkan prasangka tersebut. Seperti halnya dua film yang telah disebutkan sebelumnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur juga bukanlah sebuah film yang jalan ceritanya mendaur ulang pengisahan yang dahulu pernah ditampilkan dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna. Film ini memilih untuk “mengekploitasi” berbagai karakteristik peran yang membuat Suzzanna menjadi aktris horor Indonesia yang ikonik dan membingkainya dengan struktur pengisahan yang baru – meskipun bukanlah bangunan pengisahan yang benar-benar terasa segar. And strangelyit works pretty well! Continue reading Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Review: Overlord (2018)

Berlatarbelakang kisah pada masa Perang Dunia II, Overlord berkisah mengenai sekelompok pasukan lintas udara dari angkatan bersenjata Amerika Serikat yang ditugaskan untuk menghancurkan sebuah menara radio milik pasukan Jerman yang terletak di sebuah wilayah pedesaan terpencil di negara Perancis. Sial, sebelum mencapai tujuan, pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh pasukan Jerman dan membuat hanya lima orang dari pasukan tersebut yang tetap bertahan hidup: Corporal Ford (Wyatt Russell) serta empat orang tentara, Ed Boyce (Jovan Adepo), Tibbet (John Magaro), Morton Chase (Iain De Caestecker), dan Dawson (Jacob Anderson). Meskipun dengan jumlah pasukan yang begitu terbatas, Corporal Ford telah bertekad bahwa ia dan pasukannya akan tetap meneruskan misi mereka guna mengalahkan tentara Jerman. Namun, tantangan yang datang bukan hanya sekedar kontak fisik dan senjata dengan pihak lawan. Tanpa disangka, kelima pasukan Amerika Serikat yang tersisa tersebut menemukan sebuah laboratorium rahasia milik para tentara Jerman yang mencoba untuk menciptakan sekelompok pasukan super dengan eksperimen yang mengerikan dan jelas jauh dari kesan manusiawi. Continue reading Review: Overlord (2018)

Review: Dr. Seuss’ The Grinch (2018)

Merupakan adaptasi layar lebar dalam bentuk animasi pertama dari buku anak-anak popular How the Grinch Stole Christmas! yang ditulis oleh Dr. Seuss – namun merupakan kali kedua buku yang sama diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar setelah sebelumnya Ron Howard mengarahkan Dr. Seuss’ How the Grinch Stole Christmas (2000) dalam bentuk live-action dengan Jim Carrey sebagai bintangnya – Dr. Seuss’ The Grinch arahan Scott Mosier dan Yarrow Cheney (The Secret Life of Pets, 2016) harus diakui tidak memberikan dimensi pengisahan baru dari alur pengisahan yang sebelumnya telah diterapkan oleh Dr. Seuss dalam bukunya. Film ini masih setia dengan fokus yang kuat pada karakter The Grinch dan sikap ketidaksukaannya pada suasana Natal. Meskipun begitu, cukup sulit untuk mempertahankan diri dari daya tarik Dr. Seuss’ The Grinch ketika Mosier dan Cheney mampu mengemas filmnya dengan tampilan animasi yang menyenangkan dan penuh warna sekaligus nada pengisahan yang begitu hangat untuk dinikmati untuk seluruh kalangan penonton. Continue reading Review: Dr. Seuss’ The Grinch (2018)

Review: Bad Times at the El Royale (2018)

Sukses dengan debut pengarahannya, The Cabin in the Woods (2012), Drew Goddard kembali duduk di bangku penyutradaraan untuk film terbaru yang naskah ceritanya juga ia tulis sendiri, Bad Times at the El Royale. Berlatarbelakang waktu pengisahan pada tahun 1969, film ini bercerita mengenai pertemuan dan perkenalan yang tidak disengaja yang terjadi antara seorang pendeta bernama Daniel Flynn (Jeff Bridges), seorang penyanyi klub malam bernama Darlene Sweet (Cynthia Erivo), seorang wanita cantik bernama Emily Summerspring (Dakota Johnson), dan seorang agen penjualan bernama Seymour Sullivan (Jon Hamm) di sebuah hotel bernama The El Royale yang terletak tepat di garis perbatasan antara negara bagian California dan Nevada di Amerika Serikat. Dengan dibantu oleh sang penjaga hotel, Miles Miller (Lewis Pullman), keempat tamu hotel tersebut akhirnya mendapatkan kamar mereka masing-masing. Selesai? Tentu saja tidak. Walaupun tidak saling mengenal satu sama lain, namun Daniel Flynn, Darlene Sweet, Emily Summerspring, dan Seymour Sullivan memiliki tujuan dan rahasia sendiri mengapa mereka memilih untuk menginap di The El Royale malam tersebut. Tujuan dan rahasia yang secara tidak sadar kemudian perlahan menentukan garis nasib mereka. Continue reading Review: Bad Times at the El Royale (2018)

Review: First Man (2018)

That’s one small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Sebagai sebuah film yang berkisah tentang kehidupan Neil Armstrong – seorang astronot asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai manusia pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan, tentu mudah untuk membayangkan jika First Man digarap layaknya Apollo 13 (Ron Howard, 1995) atau film-film bertema angkasa luar lainnya atau malah film-film lain yang bercerita tentang pasang surut kehidupan seorang karakter nyata sebelum ia mencapai kesuksesannya. Namun, hal yang berkesan biasa jelas bukanlah presentasi yang diinginkan oleh sutradara berusia 33 tahun, Damien Chazelle, yang pada usianya ke 32 tahun berhasil memenangkan sebuah Academy Award untuk kategori Best Director lewat film musikal arahannya, La La Land (2016), dan menjadikannya sebagai sutradara termuda di sepanjang catatan sejarah yang berhasil meraih gelar tersebut. Alih-alih mengemas biopik yang diadaptasi dari buku karya James R. Hansen berjudul First Man: The Life of Neil A. Armstrong ini menjadi sebuah biopik dengan standar pengisahan familiar a la Hollywood, Chazelle memilih untuk menjadikan First Man sebagai sebuah ajang bermain bagi kecerdasan visual dan teknikalnya sekaligus, di saat yang bersamaan, tempatnya bermeditasi mengenai arti sebuah perjalanan hidup. Sounds a bit too deep eh? Continue reading Review: First Man (2018)

Review: Venom (2018)

Masih ingat dengan Venom – sosok antagonis yang muncul akibat perpaduan dari karakter seorang jurnalis bernama Eddie Brock (Topher Grace) dengan sesosok makhluk angkasa luar yang disebut dengan “symbiote” – yang dahulu sempat muncul sebagai salah satu musuh bagi Peter Parker/Spider-Man dalam Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007)? Well… setelah melalui proses pengembangan selama bertahun-tahun, Sony Pictures yang bekerjasama dengan Marvel Entertainment akhirnya berhasil memproduksi film tunggal bagi karakter tersebut yang sekaligus akan menjadi salah satu film pemula bagi Sony’s Universe of Marvel Characters – semesta pengisahan yang dibentuk dan diproduksi oleh Sony Pictures berdasarkan kisah dan karakter buatan Marvel Comics. Diarahkan oleh Ruben Fleischer (Gangster Squad, 2013), film yang diberi judul Venom ini tampil sebagai sebuah origin story yang bercerita mengenai asal muasal dari sang karakter utama. Cukup menjanjikan, khususnya ketika Fleischer berhasil memberikan kualitas garapan yang cukup seimbang dengan film-film hasil adaptasi dari Marvel Comics lainnya. Continue reading Review: Venom (2018)

Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dilan 1990, 2018) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Laksmi Pamuntjak, Aruna & Lidahnya bercerita mengenai perjalanan dinas yang dilakukan oleh seorang ahli wabah bernama Aruna (Dian Sastrowardoyo) untuk meneliti kebenaran kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti penduduk di beberapa daerah di Indonesia. Sebagai seorang penikmat kuliner sejati, Aruna lantas memanfaatkan tugasnya tersebut sekaligus untuk melakukan wisata kuliner dengan menikmati berbagai makanan khas dari daerah-daerah yang ia kunjungi bersama dengan sahabatnya, seorang juru masak bernama Bono (Nicholas Saputra). Perjalanan tersebut semakin ramai setelah kehadiran Nadezhda (Hannah Al Rashid) – seorang penulis yang merupakan sahabat dari Aruna dan Bono yang diam-diam telah lama disukai oleh Bono – serta Farish (Oka Antara) – seorang dokter yang juga mantan rekan kerja Aruna dan dulu sempat disukainya namun kini kehadirannya membuat lidah Aruna terasa mati rasa. Perjalanan yang penuh intrik, bukan hanya karena adanya pergulatan perasaan yang sedang berlangsung di hati keempat karakter tersebut namun juga dikarenakan kehadiran sebuah misteri yang meliputi tugas yang sedang dijalani Aruna. Continue reading Review: Aruna & Lidahnya (2018)

Review: Crazy Rich Asians (2018)

What’s Hollywood’s last great romantic comedy? Jawaban Anda mungkin bervariasi: mulai dari Love Actually (Richard Curtis, 2003) atau Pride & Prejudice (Joe Wright, 2005) atau The Proposal (Anne Fletcher, 2009) atau Silver Linings Playbook (David O. Russell, 2012) atau Her (Spike Jonze, 2013). Harus diakui, terlepas dari berbagai jawaban yang akan muncul, Hollywood begitu terasa semakin kesulitan untuk menghasilkan film-film komedi romantis dengan sentuhan kehangatan penceritaan yang setara film-film klasik sejenis yang dahulu sering dihasilkannya. Film terbaru arahan Jon M. Chu (Justin Bieber’s Never Say Never, 2013), Crazy Rich Asians, jelas berusaha menghadirkan kembali atmosfer romansa yang telah terasa meredup tersebut dalam presentasinya. Diadaptasi dari novel popular berjudul sama karya Kevin Kwan, kisah pertemuan seorang profesor dengan keluarga kekasihnya yang kaya raya memang tidaklah menawarkan sebuah formula pengisahan yang baru. Namun, Chu mampu mengolah formula familiar tersebut dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan paduan pengisahan komedi dan drama romansa yang tidak hanya terasa segar namun juga mampu tampil menyentuh dan menghasilkan pemikiran yang cukup mendalam identitas etnis dan budaya. Continue reading Review: Crazy Rich Asians (2018)