Tag Archives: Rating: B

Review: A Quiet Place (2018)

Karir John Krasinski sebagai seorang sutradara memang tidak sepopular (maupun secerah) karirnya sebagai seorang aktor. Dua film arahannya yang sama-sama bernada komedi, Brief Interviews with Hideous Men (2009) dan The Hollars (2016), gagal untuk mendapatkan reaksi positif baik dari kalangan kritikus film maupun dari para penikmat film – meskipun Krasinski mampu menunjukkan bakatnya sebagai seorang sutradara yang menjanjikan. Kali ketiga dirinya duduk di kursi penyutradaraan, Krasinski memilih untuk mengarahkan A Quiet Place – sebuah film horor yang ia kembangkan bersama duo sutradara sekaligus penulis naskah, Bryan Woods dan Scott Beck (Nightlight, 2015). Dibintangi Emily Blunt dan dua aktor muda, Noah Jupe – yang baru saja mencuri perhatian dalam Wonder (Stephen Chbosky, 2017) – serta Millicent Simmonds – yang menjadi bintang dari Wonderstruck (2017) arahan Todd Haynes, A Quiet Place tampil dengan premis sederhana namun mampu mendapatkan pengarahan kuat sekaligus cerdas dari Krasinski yang membuatnya menjadi sebuah horor yang sukses tampil begitu mencekam. Continue reading Review: A Quiet Place (2018)

Advertisements

Review: #TemanTapiMenikah (2018)

#TemanTapiMenikah adalah film terbaru arahan Rako Prijanto (Bangkit!, 2016) yang naskah ceritanya diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh pasangan suaami istri, Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Jalan cerita yang diinspirasi oleh kisah romansa pasangan penulis buku tersebut dimulai dengan Ditto (Adipati Dolken) yang telah sekian lama memendam rasa sukanya pada Ayu (Vanesha Prescilla). Hubungan persahabatan yang telah semenjak lama terjalin antara gadis yang juga merupakan seorang bintang serial televisi tersebut membuat Ditto terus menahan hasratnya untuk menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Ayu. Suatu hari, Ayu menyatakan bahwa dirinya telah dilamar oleh kekasihnya (Refal Hady). Di saat itu pula, Ditto baru menyadari bahwa momen tersebut merupakan momen terbaik untuk menyatakan perasaannya kepada Ayu. Continue reading Review: #TemanTapiMenikah (2018)

Review: Ready Player One (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Zak Penn (The Avengers, 2012) bersama dengan Ernest Cline berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Cline, film terbaru arahan Steven Spielberg (The Post, 2017), Ready Player One memiliki pengisahan yang berlatar belakang di tahun 2045. Di masa tersebut, dunia telah berubah menjadi sebuah tempat dimana ketidakteraturan melanda seluruh elemen sosial. Untuk melarikan diri dari berbagai permasalahan tersebut, banyak orang kemudian mengikuti sebuah permainan virtual bernama Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation yang diciptakan oleh James Halliday (Mark Rylance) dimana mereka dapat beraktivitas dengan kondisi dunia yang jelas jauh lebih baik dari dunia nyata. Secara perlahan, beberapa orang mulai menemukan sebuah permainan yang disebut Anarok’s Quest yang tersembunyi di dalam  Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation yang lantas menjanjikan bahwa orang pertama yang dapat memenangkan permainan tersebut akan dijadikan pemilik hak cipta dari Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation. Sebuah iming-iming yang jelas membuat banyak orang mulai memburu hadiah tersebut. Continue reading Review: Ready Player One (2018)

Review: Game Night (2018)

Jum’at malam itu harusnya berlangsung layaknya Jum’at malam lainnya bagi pasangan suami istri, Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams), yang selalu menghabiskan malam akhir pekan mereka bermain berbagai jenis permainan bersama dengan teman-teman mereka, Ryan (Billy Magnussen), Sarah (Sharon Hogan), Kevin (Lamorne Morris), dan Michelle (Kylie Bunbury). Namun, kedatangan abang kandung Max, Brooks (Kyle Chandler), akhirnya mengubah rencana tersebut. Brooks mengusulkan agar mereka melakukan sebuah permainan peran: salah seorang pemain akan menjadi korban penculikan sementara para pemain lainnya akan berusaha menemukan dimana keberadaan korban penculikan tersebut. Brooks bahkan menjanjikan untuk memberikan mobil mewahnya bagi pemain yang berhasil keluar sebagai pemenang pada permainan tersebut. Dengan bantuan beberapa aktor yang berperan sebagai penculik dan detektif yang memberikan petunjuk kepada para pemain, Max, Annie, dan teman-temannya awalnya merasa senang saja dengan permainan tersebut. Sial, setelah beberapa lama terlibat dalam permainan tersebut, Max, Annie, dan teman-temannya mulai menyadari bahwa mereka sedang terlibat dalam sebuah aksi kejahatan yang jelas dapat membahayakan nyawa mereka. Continue reading Review: Game Night (2018)

Review: Sekala Niskala (2018)

Pada banyak bagiannya, Sekala Niskala terasa memiliki garisan genetik yang sama dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) (2011) – film yang menjadi debut pengarahan layar lebar bagi Kamila Andini. Struktur pengisahan kedua film tersebut dikendalikan dari perspektif seorang karakter anak-anak akan dunia di sekitarnya. Dan seperti halnya The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang memiliki latar belakang lokasi di wilayah Wakatobi, Sulawesi Tenggara dan warna pengisahannya kental dengan kultur Suku Bajo yang mendiami wilayah tersebut, Andini membawa penontonnya untuk menyelami keindahan alam dan kultur budaya Bali lewat Sekala Niskala. Terlepas dari berbagai kemiripan tersebut, Sekala Niskala menawarkan struktur penceritaan yang mempertemukan antara dunia imaji dengan dunia nyata yang jelas jauh berbeda dengan The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) yang lebih bernuansa realis. Continue reading Review: Sekala Niskala (2018)

Review: Loving Vincent (2017)

Loving Vincent bukanlah sebuah film animasi biasa. Diinspirasi oleh lukisan-lukisan karya Vincent van Gogh – yang sebagian kisah kehidupannya menjadi fokus utama penceritaan film ini, Loving Vincent dibuat dengan bantuan 125 pelukis yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang kemudian menghasilkan sekitar 65 ribu frame gambar berupa lukisan cat minyak yang nantinya dipadukan untuk mengisi deretan adegan cerita film ini. Sebuah teknik yang jelas rumit dan akhirnya menghabiskan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan seluruh proses produksi film ini. Namun, sebagaimana layaknya sebuah lukisan yang menjadi mahakarya para pembuatnya, Loving Vincent yang digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman ini juga mampu hadir dengan kualitas akhir yang begitu memuaskan: deretan gambar dalam film ini tampil begitu indah untuk disaksikan dengan jalan cerita yang menyertainya bahkan mampu disajikan dengan sentuhan emosional yang begitu mengikat. Continue reading Review: Loving Vincent (2017)

Review: Lady Bird (2017)

Sekilas, Lady Bird mungkin terlihat seperti film-film drama remaja sepantarannya: menampilkan sosok remaja yang sedang berusaha mencari jati dirinya dan, dalam perjalanan tersebut, menghasilkan konflik dengan orang-orang terdekatnya. Familiar. Meskipun begitu, dengan kehandalannya dalam mengeksplorasi setiap karakter maupun friksi pengisahan yang dihadirkannya, film yang menjadi debut pengarahan bagi aktris Greta Gerwig ini mampu menjadikan elemen kefamiliaran kisah tersebut menjadi senjata kuat guna mengikat perhatian setiap penontonnya. Juga didukung dengan penampilan prima para pemerannya – mulai dari Saoirse Ronan, Timothée Chalamet, hingga Laurie Metcalf, Lady Bird berhasil menjadi sebuah presentasi pengisahan coming-of-age yang hangat dan seringkali mampu menyentuh dan jelas tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Continue reading Review: Lady Bird (2017)

Review: Red Sparrow (2018)

Kembali berada di bawah arahan sutradara Francis Lawrence – yang dahulu mengarahkannya dalam dua seri The Hunger Games, The Hunger Games: Catching Fire (2013) serta The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014) dan The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 (2015), Jennifer Lawrence tampil sebagai seorang agen rahasia berkewarganegaraan Rusia yang kehidupannya dipenuhi dengan begitu banyak intrik dalam Red Sparrow. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Jason Matthews, Red Sparrow sekilas mungkin terlihat sebagai sebuah film yang mengedepankan deretan aksi menegangkan seorang karakter agen rahasia perempuan seperti halnya Salt (Phillip Noyce, 2010) atau Atomic Blonde (David Leitch, 2017). Bukan sebuah praduga yang salah. Namun, jika ingin memberikan sebuah perbandingan, Red Sparrow lebih terasa memiliki kedekatan dengan film-film bertema sama yang diadaptasi dari buku karya John le Carré seperti Tinker Tailor Soldier Spy (Tomas Alfredson, 2011), A Most Wanted Man (Anton Corbijn, 2014), atau Our Kind of Traitor (Susanna White, 2016): memiliki intrik maupun konflik beraroma politik yang kental, deretan karakter yang hadir dengan kepribadian yang misterius, serta disampaikan dengan ritme pengisahan yang seringkali terasa bergerak cukup lamban. Pretty intriguing. Continue reading Review: Red Sparrow (2018)

Review: Molly’s Game (2017)

Sebagai seorang penulis naskah, nama Aaron Sorkin jelas bukanlah nama yang asing bagi para penikmat film maupun serial televisi buatan Hollywood. Dikenal dengan ciri khas barisan karakter kuat yang hadir dengan dialog-dialog tajam yang disampaikan dengan cepat, Sorkin telah menuliskan beberapa  naskah cerita yang begitu mengesankan dalam beberapa tahun terakhir: mulai dari naskah cerita untuk serial televisi seperti The West Wing (1999 – 2006) dan The Newsroom (2012 – 2014) hingga naskah cerita untuk film-film seperti A Few Good Man (Rob Reiner, 1992), The Social Network (David Fincher, 2010), Moneyball (Bennett Miller, 2011), dan Steve Jobs (Danny Boyle, 2015). Sorkin bahkan telah mengoleksi beberapa penghargaan Primetime Emmy Awards (untuk The West Wing) dan sebuah Academy Awards (untuk The Social Network) untuk naskah-naskah cerita garapannya. Untuk Molly’s Game sendiri, Sorkin melangkah ke sebuah wilayah yang belum pernah ia jalani sebelumnya: selain bertugas sebagai penulis naskah, Sorkin juga bertugas sebagai sutradara bagi film ini. Lalu bagaimana kinerja Sorkin dalam debut pengarahannya? Continue reading Review: Molly’s Game (2017)

Review: The Post (2017)

This review was originally published on December 27, 2017 and being republished as the movie hits Indonesian theaters today.

Di tahun 1971, Amerika Serikat (dan dunia) dihebohkan dengan perilisan dokumen-dokumen rahasia milik negara di halaman depan harian The New York Times yang memuat detil keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam mulai dari tahun 1945 hingga tahun 1967. Yang membuat banyak warga negara Amerika Serikat lebih murka lagi, dalam dokumen yang kemudian dikenal dengan sebutan Pentagon Papers tersebut, terdapat sebuah analisa yang mengungkapkan fakta dan data bahwa pasukan militer Amerika Serikat sebenarnya tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan Perang Vietnam – sebuah kenyataan yang diketahui dan kemudian disembunyikan oleh empat Presiden Amerika Serikat di kala itu: Harry S. Truman, Dwight D. Eisenhower, John F. Kennedy, dan Lyndon B. Johnson. Alasan mengapa pemerintahan Amerika Serikat tetap bertahan di Perang Vietnam? Sederhana: menghindari diri dari rasa malu atas sebuah kekalahan di medan perang. Continue reading Review: The Post (2017)

Review: Black Panther (2018)

Ada sesuatu yang berbeda pada presentasi film pahlawan super terbaru garapan Marvel Studios yang berjudul Black Panther. Merupakan sebuah origin story yang memperkenalkan sosok pahlawan super baru dalam rangkaian pengisahan Marvel Cinematic Universe, Black Panther menghadirkan deretan karakter yang didominasi oleh karakter-karakter berkulit hitam dengan latar belakang lokasi penceritaan yang juga berada di benua Afrika. Tidak hanya itu. Dibandingkan dengan film-film pahlawan super lainnya yang telah dirilis oleh Marvel Studios, naskah cerita Black Panther yang ditulis oleh sutradara film ini, Ryan Coogler (Creed, 2015), bersama dengan Joe Robert Cole, juga menawarkan jalinan cerita yang memiliki nuansa politis yang cukup kental. Warna penceritaan yang cukup mampu memberikan nafas segar bagi kisah heroik a la Marvel Studios yang harus diakui telah terasa berjalan cukup monoton pada beberapa film garapan mereka akhir-akhir ini. Continue reading Review: Black Panther (2018)

Review: Pad Man (2018)

Film terbaru arahan sutradara R. Balki (Ki & Ka, 2016), Pad Man, menghabiskan 140 menit durasi pengisahannya untuk berbicara mengenai menstruasi. Yes, you read that right. Diinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang aktivis sosial asal India bernama Arunachalam Muruganantham, Pad Man memulai kisahnya ketika Lakshmikant Chauhan (Akhsay Kumar) baru menyadari bahwa istrinya, Gayatri Chauhan (Radhika Apte), menggunakan potongan-potongan kain yang tidak terjamin kebersihannya sebagai pengganti pembalut akibat mahalnya harga bantalan yang digunakan kaum perempuan di saat mereka sedang menjalani masa menstruasi tersebut. Tidak ingin sang istri mengalami masalah kesehatan, Lakshmikant Chauhan lantas berusaha untuk membuat sendiri pembalut yang nantinya dapat digunakan sang istri. Namun, akibat pandangan sosial bahwa menstruasi adalah hal yang tabu untuk dibicarakan – khususnya oleh para pria, tindakan Lakshmikant Chauhan tersebut justru dinilai membawa aib bagi dirinya dan seluruh keluarganya. Lakshmikant Chauhan kemudian memutuskan untuk keluar dari desanya dan berjanji baru akan kembali jika ia telah dapat menemukan cara untuk memproduksi pembalut murah yang dapat berfungsi dan digunakan istrinya. Continue reading Review: Pad Man (2018)

Review: Downsizing (2017)

Setelah memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita yang mereka tulis bagi film The Descendants (2011), Alexander Payne dan Jim Taylor kembali berkolaborasi dalam film terbaru arahan Payne, Downsizing. Kali ini, keduanya menawarkan sebuah kisah satir sosial yang dibungkus dengan pola pengisahan fiksi ilmiah yang jelas memiliki warna yang cukup berbeda dengan film-film arahan Payne sebelumnya. Harus diakui, ide cerita yang dimiliki oleh Payne dan Taylor – tentang penemuan prosedur penyusutan ukuran tubuh manusia dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kepunahan – jelas terdengar sebagai sebuah premis pengisahan yang segar sekaligus fantastis. Sayangnya, ide besar tersebut kemudian seringkali tidak mampu untuk mendapatkan pengembangan yang lebih kuat sehingga gagal tampil untuk menjadi presentasi cerita yang lebih mengikat. Continue reading Review: Downsizing (2017)