Tag Archives: Rating: B

Review: Onward (2020)

Merupakan film animasi ke-22 yang diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan menjadi film dengan alur pengisahan orisinal pertama yang dirilis oleh rumah produksi milik The Walt Disney Studios tersebut semenjak Coco (Lee Unkrich, 2017), Onward bercerita mengenai sebuah dunia fantastis dimana magis pernah menjadi elemen krusial dalam kehidupan dan makhluk-makhluk mitologis menjalani keseharian mereka layaknya umat manusia di dunia nyata. Dalam dunia tersebut, dua kakak beradik, Barley (Chris Pratt) dan Ian Lightfoot (Tom Holland), baru saja mengetahui bahwa mereka dapat menghabiskan waktu selama sehari bersama dengan ayah mereka yang telah meninggal dunia dengan bantuan sebuah tongkat sihir, batu permata, dan mantra yang sang ayah berikan kepada ibu mereka, Laurel Lightfoot (Julia Louis-Dreyfus). Sebuah kesempatan yang jelas tidak akan dilewatkan oleh keduanya – khususnya Ian Lightfoot yang seumur hidup belum pernah bertemu dengan ayahnya. Namun, karena belum pernah sama sekali terlibat dalam hal-hal magis, Barley dan Ian Lightfoot gagal untuk memunculkan sosok sang ayah. Tidak mau menyerah, keduanya kemudian memulai perjalanan untuk menemukan sebuah batu permata lain yang dapat membantu kelancaran pembacaan mantra yang dapat membawa ayah mereka untuk hidup sehari lagi. Continue reading Review: Onward (2020)

Review: The Invisible Man (2020)

Di tahun 2017, menjelang perilisan versi buat ulang dari The Mummy (Alex Kurtzman, 2017) yang dibintangi Tom Cruise, Universal Pictures mengumumkan bahwa pihaknya akan merilis sejumlah film yang nantinya akan mengumpulkan dan mempersatukan versi teranyar dari film-film klasik bertema monster milik studio film tersebut seperti The Invisible Man, Wolf Man, Frankeinstein dan Dracula, untuk nantinya dikisahkan dalam satu semesta penceritaan yang disebut dengan Dark Universe. Universal Pictures bahkan telah mengumumkan keterlibatan sejumlah nama aktor papan atas Hollywood seperti Johnny Depp, Russell Crowe, dan Javier Bardem untuk membintangi film-film dalam semesta pengisahan tersebut. Sial, ketika The Mummy yang digadang menjadi pembuka bagi Dark Universe dirilis, film tersebut tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film namun juga gagal untuk menarik perhatian banyak penonton. Singkat cerita, kerugian finansial yang diperkirakan mencapai US$95 juta akibat kegagalan The Mummy membuat Universal Pictures lalu mengakhiri pengembangan lanjutan Dark Universe serta mengubah secara total strategi pengisahan dan perilisan film-film yang tadinya terkait dalam semesta penceritaan tersebut. Continue reading Review: The Invisible Man (2020)

Review: The Call of the Wild (2020)

The Call of the Wild yang menjadi film live-action pertama yang diarahkan sutradara Chris Sanders yang sebelumnya mengarahkan film-film animasi seperti Lilo & Stitch (2000), How to Train Your Dragon (2010), dan The Croods (2013), bukanlah film pertama yang mengadaptasi novel legendaris berjudul sama yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Jack London. Tercatat, novel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1903 tersebut telah berulangkali diadaptasi ke berbagai media seperti komik, film televisi, anime, hingga, tentu saja, film. Adaptasi film dari novel The Call of the Wild bahkan sempat dibintangi oleh nama-nama aktor besar Hollywood seperti Clark Gable (1935), Charlton Heston (1972), hingga Rutger Hauer (1997). Fun fact: Adaptasi The Call of the Wild arahan William A. Wellman yang dirilis pada tahun 1935 merupakan film terakhir yang dirilis oleh Twentieth Century Pictures sebelum akhirnya bergabung dengan rumah produksi Fox Film Corporation dan berganti nama menjadi 20th Century Fox. Entah disengaja atau tidak, adaptasi teranyar The Call of the Wild menjadi film pertama yang dirilis oleh 20th Century Studios setelah The Walt Disney Studios membeli 20th Century Fox dan akhirnya mengembalikan nama lama dari rumah produksi tersebut. Continue reading Review: The Call of the Wild (2020)

Review: The Gentlemen (2020)

Digarap dengan nada pengisahan yang setara dengan Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) dan Snatch (2000) yang dahulu begitu berhasil mempopulerkan nama Guy Ritchie kepada banyak penikmat film dunia, The Gentlemen berkisah mengenai seorang pemilik bisnis ganja terbesar di kota London, Inggris, bernama Mickey Pearson (Matthew McConaughey) yang kini berniat untuk pensiun agar dirinya dapat beristirahat dengan tenang bersama sang istri, Rosalind Pearson (Michelle Dockery). Atas keputusannya tersebut, Mickey Pearson lantas menawarkan bisnis ganjanya kepada seorang milyuner asal Amerika Serikat, Matthew Berger (Jeremy Strong), dengan harga sebesar US$400 juta. Di saat yang bersamaan, seorang pimpinan kelompok kriminal yang dikenal dengan sebutan Dry Eye (Henry Golding) juga menawarkan diri untuk membeli bisnis ganja milik Mickey Pearson – sebuah tawaran yang ditolak oleh Mickey Pearson karena dirinya tidak menyukai sosok Dry Eye. Tidak disangka, penolakan Mickey Pearson terhadap Dry Eye menimbulkan berbagai intrik dan gejolak bisnis yang, tentunya, seringkali berujung pada kematian. Continue reading Review: The Gentlemen (2020)

Review: Bombshell (2019)

Pada Juli 2016, industri media Amerika Serikat dihebohkan dengan kabar tuntutan hukum yang diajukan kepada pemimpin Fox News, Roger Ailes, oleh salah satu mantan pembawa acara beritanya, Gretchen Carlson, dengan tuduhan bahwa Ailes melakukan tindak pemecatan kepada Carlson karena dirinya menolak untuk berhubungan seksual dengan Ailes. Dengan kapasitas Fox News sebagai salah satu media konservatif terbesar dan paling berpengaruh di Amerika Serikat, berita tersebut terus bergulir dan menimbulkan banyak dugaan tindakan pelecehan seksual lain yang terjadi di perusahaan tersebut terhadap para karyawan perempuannya. Sejumlah perempuan, baik yang sedang maupun pernah bekerja di Fox News, kemudian memberikan kesaksian tambahan atas keberadaan tindakan pelecehan seksual yang tidak hanya dilakukan oleh Ailes namun juga oleh beberapa petinggi Fox News lainnya. Ketika Megyn Kelly – yang merupakan pembawa acara perempuan Fox News paling popular – turut memperkuat tuduhan kepada Ailes, posisi Ailes sebagai pimpinan Fox News serta tokoh yang disegani di industri media Amerika Serikat segera jatuh dan tak lagi terselamatkan. Continue reading Review: Bombshell (2019)

Review: Imperfect (2019)

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Ernest Prakasa bersama dengan Meira Anastasia dari buku karangan Anastasia sendiri yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-Acceptance, Imperfect bertutur tentang rasa tidak percaya diri yang dimiliki oleh seorang gadis bernama Rara (Jessica Mila) akibat postur tubuhnya yang gemuk serta kulitnya yang berwarna gelap. Meskipun telah memiliki Dika (Reza Rahadian) yang dengan sesungguh hati telah begitu mencintainya, rasa rendah diri yang dimiliki Rara tidak pernah menghilang dan secara perlahan mulai mempengaruhi karir dan hubungan sosialnya. Sebuah tamparan keras bagi Rara datang ketika atasannya, Kelvin (Dion Wiyoko), mengungkapkan bahwa satu-satu halangan bagi Rara untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah penampilannya yang sering dianggap tidak pantas untuk menduduki posisi penting di kantornya. Tidak mau dirinya terus disudutkan, Rara akhirnya bertekad untuk mengubah penampilannya secara total. Continue reading Review: Imperfect (2019)

Review: Knives Out (2019)

Selepas mengarahkan Star Wars: The Last Jedi (2017) – yang menghasilkan pujian luas dari kalangan kritikus film namun mendapatkan sejumlah tentangan yang tidak sedikit dari kalangan penggemar seri film Star Wars “konservatif,” Rian Johnson kembali memamerkan kehandalannya dalam menulis dan mengarahkan sebuah jalinan kisah garapannya sendiri lewat Knives Out. Merupakan usaha Johnson untuk mengeksplorasi tata pengisahan whodunit yang terinspirasi dari barisan kisah misteri pembunuhan yang terdapat dalam novel-novel yang ditulis oleh Agatha Christie, Knives Out berkisah tentang kematian seorang novelis terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), yang terjadi sehari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-85. Kematian yang diakibatkan oleh bunuh diri tersebut jelas mengagetkan keluarga serta orang-orang terdekatnya. Pada hari pemakamannya, seorang detektif bernama Benoit Blanc (Daniel Craig), hadir di kediaman Harlan Thrombey dan memberikan pernyataan mengejutkan bahwa kematian Harlan Thrombey memiliki kemungkinan terjadi akibat tindakan pembunuhan. Continue reading Review: Knives Out (2019)

Review: Last Christmas (2019)

Last Christmas, I gave you my heart. But the very next day you gave it away.

Bayangkan jika Anda adalah seorang penulis naskah sekaliber Emma Thompson yang di waktu senggangnya secara tidak sengaja mendengarkan lagu Last Christmas (1984) milik Wham! dan lantas menginspirasi untuk menuliskan garisan cerita berdasarkan… well… lirik lagu tersebut. Hal ini yang terjadi pada film terbaru arahan Paul Feig (A Simple Favor, 2018), Last Christmas, dimana Thompson bersama dengan penulis naskah Bryony Kimmings mengembangkan barisan lirik dari salah satu lagu bertema Natal terpopular sepanjang masa tersebut menjadi sebuah presentasi kisah drama komedi romantis dengan menempatkan Emilia Clarke dan Henry Golding untuk memerankan dua karakter utamanya. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Meskipun memiliki paruh ketiga pengisahan yang tergolong lemah, Last Christmas berhasil dikemas sebagai presentasi yang dipenuhi dengan banyak momen manis yang akan cukup mampu menggugah sisi emosional para penontonnya. Continue reading Review: Last Christmas (2019)

Review: Dark Waters (2019)

Sebagai sebuah film, presentasi cerita yang dihadirkan Dark Waters mungkin akan mengingatkan banyak penontonnya pada sebuah film lain yang memiliki persamaan tema cerita. Bukan, film ini tidak memiliki pengisahan yang serupa dengan (atau bahkan merupakan sekuel dari) film horor yang dibintangi Jennifer Connelly, Dark Water (Walter Selles, 2005). Alur cerita Dark Waters yang berkisah tentang seorang pengacara yang berusaha untuk menuntut sebuah perusahaan industri raksasa akibat keteledoran mereka dalam menangani limbah yang lantas menyebabkan pencemaran lingkungan sekaligus penyakit pada masyarakat yang bersinggungan langsung dengan limbah tersebut jelas akan menghadirkan nostalgia dari pengisahan Erin Brockovich (Steven Soderbergh, 2000) yang dahulu berhasil memenangkan Julia Roberts kategori Best Actress in a Leading Role di ajang The 73rd Annual Academy Awards. Juga mendasarkan naskah ceritanya pada sebuah kisah nyata, layaknya Erin Brockovich, Dark Waters juga akan memaparkan bagaimana sifat tamak manusia telah menjadi senjata yang tidak hanya mematikan diri sendiri namun juga merusak orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Continue reading Review: Dark Waters (2019)

Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Setelah Silenced (Hwang Dong-hyuk, 2011) dan Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016), Gong Yoo dan Jung Yu-mi kembali beradu akting dalam film Kim Ji-young, Born 1982 yang sekaligus menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Kim Do-young. Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Cho Nam-joo, Kim Ji-young, Born 1982 berkisah mengenai kehidupan pernikahan dari pasangan Jung Dae-hyun (Gong) dan Kim Ji-young (Jung) yang mulai mengalami gejolak setelah keduanya mendapatkan anak pertama mereka. Kim Ji-young bukannya tidak senang ataupun bahagia dengan kondisi rumah tangganya. Namun, di tengah rutinitas hariannya sebagai seorang ibu rumah tangga, Kim Ji-young mulai merindukan berbagai kesibukannya ketika dirinya masih menjadi seorang wanita karir. Terbeban dengan pemikiran tersebut, rasa depresi mulai menghampiri kesehatan mental Kim Ji-young yang, tentu saja, memberikan rasa khawatir yang mendalam kepada suaminya. Tidak ingin kehilangan istri yang begitu ia cintai, Jung Dae-hyun kemudian berusaha untuk memberikan perhatian penuh pada Kim Ji-young sekaligus mencari tahu jalan keluar agar dapat membahagiakan sang istri. Continue reading Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Review: Ford v Ferrari (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jez Butterworth (Spectre, 2015), John-Henry Butterworth (Edge of Tomorrow, 2014), dan Jason Keller (Escape Plan, 2013) berdasarkan kisah nyata mengenai persaingan antara dua pabrikan mobil terbesar di dunia, Ford Motor Company dan Ferrari, di tahun 1960an, Ford v Ferrari memulai tuturan ceritanya ketika Ford Motor Company gagal untuk membeli Ferrari ketika perusahaan mobil asal Italia tersebut sebenarnya sedang membutuhkan aliran dana segar. Tidak ingin kehilangan muka, Ford Motor Company lantas membuka divisi balapan mobil dengan harapan untuk dapat bersaing atau bahkan mengalahkan Ferrari di ajang balapan mobil tertua di dunia, 24 Hours of Le Mans. Demi mewujudkan ambisi tersebut, Ford Motor Company bekerjasama dengan Carroll Shelby (Matt Damon), mantan pembalap mobil yang pernah memenangkan ajang 24 Hours Le Mans yang kini memiliki sebuah perusahaan perakit mobil bernama Shelby American, serta seorang teknisi bernama Ken Miles (Christian Bale) yang telah lama menjadi teknisi pendamping bagi Carroll Shelby selama masa karirnya sebagai seorang pembalap. Membangun sebuah divisi baru jelas bukanlah sebuah hal yang mudah. Carroll Shelby dan Ken Miles bahkan harus berhadapan dengan para petinggi Ford Motor Company yang mulai ikut campur tangan terhadap banyak keputusan kritikal yang harus mereka ambil. Continue reading Review: Ford v Ferrari (2019)

Review: 99 Nama Cinta (2019)

Setelah Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016) dan Bangkit! (Rako Prijanto, 2016), Acha Septriasa dan Deva Mahenra kembali tampil bersama dalam terbaru arahan Danial Rifki (Melbourne Rewind, 2016) yang berjudul 99 Nama Cinta. Septriasa berperan sebagai Talia, seorang presenter sekaligus produser sebuah acara infotainmen popular yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa penayangan acaranya harus dihentikan karena tersandung oleh masalah hukum. Tidak berhenti disana, Talia kini juga dialihtugaskan untuk menjadi produser bagi acara reliji yang tayang di pagi hari dan dikenal sebagai program yang paling tidak diminati di stasiun televisi tempatnya bekerja. Pun begitu, Talia tidak menyerah begitu saja. Usahanya untuk menghidupkan acara reliji tersebut kemudian membawanya pada sosok Kiblat (Mahenra) – seorang ustaz muda yang sebenarnya juga merupakan sahabat Talia di masa kecilnya. Meskipun dengan sejarah persahabatan diantara mereka serta hubungan akrab yang terjalin antara orangtua keduanya, perbedaan jalan sekaligus pandangan hidup di masa dewasa membuat Talia dan Kiblat sama-sama terasa tidak pernah akur. Tetap saja, cinta selalu dapat menemukan jalannya untuk mencuri hati setiap insan yang diincarnya. Continue reading Review: 99 Nama Cinta (2019)

Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Dirilis pada tahun 1980, The Shining yang diarahkan oleh Stanley Kubrick merupakan adaptasi dari sebuah novel popular berjudul sama yang ditulis oleh Stephen King dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1977. Walau mendapatkan reaksi yang tidak terlalu hangat pada masa awal perilisannya – termasuk kritikan tajam dari King yang menilai Kubrick telah merusak nilai-nilai penceritaan dari novel yang telah digarapnya, The Shining secara perlahan mulai meraih banyak dukungan dan penggemar hingga akhirnya mampu menjadi salah satu ikon horor paling popular bagi para penikmat film di seluruh dunia. Lebih dari tiga dekade semenjak perilisan novel The Shining, tepatnya di tahun 2013, King merilis Doctor Sleep yang melanjutkan alur cerita bagi karakter-karakter yang ada di dalam garis penceritaan The Shining. Perilisan novel Doctor Sleep jelas turut mendorong Hollywood untuk memproduksi sekuel bagi versi film dari The Shining. Dengan bantuan Mike Flanagan (Ouija: Origin of Evil, 2016) yang bertugas sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film, Doctor Sleep jelas harus berusaha keras untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan oleh Kubrick melalui adaptasinya akan novel The Shining. Continue reading Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)