Tag Archives: Rating: B

Review: Broker (2022)

Broker, film teranyar arahan sutradara berkewarganegaraan Jepang, Hirokazu Kore-eda, memiliki kedekatan tema pengisahan dengan Shoplifters (2018) – film arahan Kore-eda yang berhasil memenangkan penghargaan tertinggi Palme d’Or dari ajang The 71st Annual Cannes International Film Festival serta menjadi film kedua Kore-eda setelah Nobody Knows (2004) yang dikirimkan Jepang untuk berkompetisi di kategori Best International Feature Film-nya Academy Awards. Seperti halnya Shoplifters, Broker berkisah tentang sekelompok karakter yang awalnya saling merasa asing namun dalam perjalanannya kemudian mulai saling memahami dan membentuk ikatan emosional antara satu dengan yang lain. Chosen family. Dan seperti yang dapat diduga dari setiap presentasi cerita garapan Kore-eda, Broker dihadirkan dengan sejumlah lapisan cerita yang tidak hanya menyentuh namun juga terasa begitu dekat, hangat, dan humanis. Continue reading Review: Broker (2022)

Review: The Roundup (2022)

Merupakan sekuel bagi The Outlaws (Kang Yoon-sung, 2017) yang berhasil mendapatkan pujian luas dari kalangan kritikus film, memenangkan sejumlah penghargaan, serta meraih kesuksesan komersial yang menjadikannya sebagai salah satu film terlaris di Korea Selatan di sepanjang tahun 2017, The Roundup kembali menghadirkan aktor Ma Dong-seok untuk memerankan karakter Ma Seok-do yang dikenal sebagai sosok polisi yang tidak mengenal takut dalam menjalankan tugasnya. Kali ini, Ma Seok-do ditugaskan untuk mengawal atasannya, Captain Jeon Il-man (Choi Gwi-hwa), untuk berangkat ke Vietnam guna menjemput seorang kriminal yang selama ini telah dicari-cari oleh pihak kepolisian Korea Selatan. Tanpa diduga, pertemuan keduanya dengan sosok kriminal tersebut membuka tabir akan masalah baru bernama Kang Hae-sang (Son Seok-koo) yang merupakan dalang dari berbagai tindak penculikan dan pembunuhan terhadap turis-turis asing yang mengunjungi Vietnam dan negara-negara di sekitarnya. Dengan segera, Kang Hae-sang menjadi lawan baru bagi perjalanan Ma Seok-do dalam menegakkan hukum. Continue reading Review: The Roundup (2022)

Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Bene Dion Rajagukguk memulai karir penyutradaraannya dengan gemilang. Setelah menghabiskan sejumlah waktu berkecimpung sebagai penulis naskah bagi film-film seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Rajagukguk menunjukkan kebolehannya sebagai penulis sekaligus pengarah cerita yang handal lewat film komedi horor Ghost Writer (2019). Untuk film kedua yang diarahkannya, Rajagukguk mengadaptasi novel karyanya yang berjudul sama, Ngeri-ngeri Sedap, yang merupakan tuturan drama keluarga dengan latar belakang kehidupan suku Batak. Dengan alur pengisahan yang ditulis berdasarkan pengalaman kehidupan pribadi sang sutradara, tidak mengherankan jika Ngeri-ngeri Sedap terasa personal di banyak bagiannya. Di saat yang bersamaan, penuturan Rajagukguk yang lugas menjadikan kisah yang disampaikannya mampu menghasilkan sentuhan emosional nan hangat yang begitu universal. Continue reading Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Review: Top Gun: Maverick (2022)

Tiga puluh enam tahun setelah perilisan Top Gun (Tony Scott, 1986), serta dua belas tahun semenjak Paramount Pictures mulai mengembangkan ide kelanjutan cerita bagi film dengan pendapatan komersial terbesar di sepanjang tahun 1986 tersebut, Tom Cruise kembali membintangi sekuel dari Top Gun yang berjudul Top Gun: Maverick. Diarahkan oleh Joseph Kosinski – yang sebelumnya mengarahkan Cruise untuk Oblivion (2013), film ini disajikan dengan garapan eksekusi yang terasa jauh lebih megah dari film pendahulunya. Bahkan, dengan naskah cerita yang ditulis oleh Christopher McQuarrie – yang kini sepertinya menjadi kolaborator andalan Cruise setelah berperan sebagai penulis naskah, sutradara, maupun produser untuk film-film seperti Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014), Jack Reacher: Never Go Back (Edward Zwick, 2016), The Mummy (Alex Kurtzman, 2017), serta dua seri Mission: Impossible arahan McQuarrie, Mission: Impossible – Rogue Nation (2015) dan Mission: Impossible: Fallout (2018) – bersama dengan Ehren Kruger (Ghost in the Shell, 2017) dan Eric Warren Singer (Only the Brave, 2017), Top Gun: Maverick berhasil hadir dalam tatanan kualitas kisah yang semakin kokoh. Continue reading Review: Top Gun: Maverick (2022)

Review: The Northman (2022)

Setelah The VVitch (2015) dan The Lighthouse (2019) yang berhasil melejitkan sekaligus memantapkan posisinya sebagai salah satu sutradara dengan visi serta gaya bercerita paling memikat dalam beberapa tahun terakhir, Robert Eggers kembali hadir dengan presentasi cerita terbarunya, The Northman. Berbeda dengan dua film perdananya yang banyak mengandalkan simbolisme dalam tata penuturannya, Eggers membalut The Northman dalam tuturan plot, konflik, maupun karakter yang terasa lebih mudah untuk dinikmati penonton dalam skala jangkauan yang lebih luas (baca: tidak hanya terpaku hanya pada para penikmat film-film berkelas arthouse). The Northman juga dihadirkan dengan skala produksi yang jauh lebih megah dibandingkan The VVitch maupun The Lighthouse. Meskipun begitu, bahkan dengan berbagai tata eksekusi cerita yang berkesan “baru” tersebut, The Northman tetap mempertahankan atmosfer kelam, brutal, dan dingin yang sepertinya telah menjadi ciri pengarahan Eggers. Continue reading Review: The Northman (2022)

Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Enam tahun jelas merupakan jangka waktu yang cukup lama untuk merilis sekuel bagi sebuah seri film yang sedang berjalan. Namun, layaknya banyak karakter dalam setiap seri film yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, karakter Doctor Stephen Strange yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch juga telah muncul di berbagai film lain yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe semenjak penampilan perdananya di Doctor Strange (Scott Derrickson, 2016) – mulai dari Thor: Ragnarok (Taika Waititi, 2017), Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2018 – 2019), hingga menjadi bagian krusial bagi penceritaan Spider-Man: No Way Home (Jon Watts, 2021). Tidak mengherankan jika film kedua dalam seri film Doctor Strange, Doctor Strange in the Multiverse of Madness, telah berjalan jauh melampaui linimasa cerita yang sebelumnya dihadirkan pada film pertamanya. Continue reading Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Review: RRR (2022)

Setelah menyelesaikan dwilogi Baahubali yang terdiri dari Baahubali: The Beginning (2015) – yang sempat memuncaki daftar film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – dan Baahubali: The Conclusion (2017) – yang saat ini memegang gelar sebagai film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – sutradara S. S. Rajamouli kembali menyajikan presentasi epik terbarunya lewat RRR. Naskah cerita RRR – yang merupakan singkatan dari Raama Roudra Rushitam dalam bahasa Telugu atau Rise Roar Revolt dalam terjemahan Bahasa Inggris – yang ditulis oleh Rajamouli sendiri bertutur tentang kisah fiktif akan persahabatan dua tokoh nyata revolusi India, Alluri Sitarama Raju (Ram Charan) dan Komaram Bheem (Jr NTR), yang kemudian bersatu untuk melawan kesewenangan Kemaharajaan Britania yang menguasai daratan India di masa tersebut. Seperti yang dapat diharapkan dari presentasi cerita Rajamouli, RRR disajikan sebagai epik dengan momen-momen yang tidak hanya akan dapat memukau namun juga mengundang rasa kekaguman dari setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: RRR (2022)

Review: Turning Red (2022)

Selepas memenangkan Academy Awards di kategori Best Animated Short Film untuk film pendeknya Bao (2018) dari ajang The 91st Annual Academy Awards, sutradara Domee Shi melanjutkan karir penyutradaraannya dengan mengarahkan film animasi cerita panjang pertamanya Turning Red. Seperti halnya Bao, naskah cerita Turning Red yang digarap Shi bersama dengan Julia Cho juga mengedepankan tuturan tentang hubungan antara ibu dan anak dengan menggunakan budaya dan/atau tradisi masyarakat Asia sebagai benang merah dari jalinan hubungan tersebut. Mengikuti formula film-film produksi Pixar Animation Studios seperti Brave (Mark Andrews, Brenda Chapman, 2012) dan Inside Out (Pete Docter, 2015) sembari mengambil inspirasi dari kehidupan pribadinya sebagai seorang anak perempuan yang memasuki masa remaja, Shi menjadikan Turning Red sebagai gambaran yang berkesan universal akan pergolakan yang dialami oleh hubungan ibu dan anak ketika sang anak mulai berusaha untuk menentukan atau menemukan identitas kehidupannya sendiri. Continue reading Review: Turning Red (2022)

Review: The Batman (2022)

Dengan berbagai permasalahan yang pernah merintanginya di masa lampau, keberhasilan The Batman untuk akhirnya dirilis – dan dengan kualitas cerita yang bahkan mampu melampaui kualitas sejumlah film dalam seri DC Extended Universe yang melibatkan karakter pahlawan super berjulukan The Dark Knight tersebut – jelas terasa sebagai sebuah keajaiban. Bagaimana tidak. Setelah memerankan Bruce Wayne/Batman dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (Zack Snyder, 2016), Suicide Squad (David Ayer, 2016), dan Justice League (Snyder, 2017), Ben Affleck mendapatkan kesempatan untuk membintangi film Batman tunggal yang sekaligus juga akan ia arahkan dan tuliskan naskah ceritanya. Sial, berbagai perubahan bernada negatif yang terjadi pada film-film yang tergabung dalam linimasa cerita DC Extended Universe – serta sejumlah masalah pribadi yang dihadapinya – membuat Affleck kemudian memutuskan untuk melepas seluruh keterlibatannya dari seri film milik Warner Bros. Pictures tersebut. Continue reading Review: The Batman (2022)

Review: Black Box (2021)

Menjadi kali kedua bagi sutradara Yann Gozlan untuk mengarahkan aktor Pierre Niney setelah A Perfect Man (2015), Black Box memfokuskan kisahnya pada sosok seorang agen Bureau of Enquiry and Analysis for Civil Aviation Safety – setara dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi di Indonesia – bernama Mathieu Vasseur (Niney). Bertugas sebagai analis kotak hitam pesawat, dirinya dikenal sebagai sosok yang cerdas dalam pekerjaannya namun cenderung sukar untuk diajak bekerjasama karena sikap keras kepala serta kebiasaannya dalam memandang rendah pendapat rekan-rekan kerjanya yang lain. Istrinya, Noémie Vasseur (Lou de Laâge) telah berulangkali mengingatkan sang suami untuk menjaga sikap demi kelangsungan karirnya. Atasannya, Victor Pollock (Olivier Rabourdin), bahkan memilih untuk tidak mengajak Mathieu Vasseur ketika sebuah pesawat milik European Airlines jatuh dan menewaskan seluruh penumpang serta awaknya. Keputusan tersebut jelas membuat Mathieu Vasseur merasa begitu kecewa. Namun, ketika Victor Pollock tiba-tiba menghilang di tengah investigasinya, Mathieu Vasseur secara perlahan mulai terseret dalam misteri penyebab jatuhnya pesawat salah satu maskapai terbesar di dunia tersebut. Continue reading Review: Black Box (2021)

Review: Just Mom (2021)

Setelah debut pengarahan film cerita panjangnya, Mekah, I’m Coming (2020), yang hangat dan menyenangkan, Jeihan Angga kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk film drama keluarga Just Mom. Diadaptasi dari buku berjudul Ibu, Doa yang Hilang yang ditulis oleh Bagas D. Bawono – yang sebelumnya juga menuliskan cerita pendek yang kemudian diadaptasi menjadi film Hasduk Berpola (Harris Nizam, 2013), Just Mom bercerita tentang perempuan bernama Siti (Christine Hakim) yang bertemu dengan dan kemudian memilih untuk merawat seorang gelandangan dengan gangguan jiwa yang tengah hamil tua, Murni (Ayushita Nugraha). Keputusan tersebut mendapatkan tentangan dari kedua anaknya, Damar (Ge Pamungkas) dan Pratiwi (Niken Anjani), yang menilai sang ibu telah mengambil sebuah keputusan yang ceroboh. Di saat yang bersamaan, usaha Siti untuk merawat Murni secara perlahan mulai menutup duka yang selama ini rasakan atas rasa kerinduan yang sering tidak berbalas kepada anak-anaknya yang kini telah dewasa dan tidak lagi tinggal bersama dengan dirinya. Continue reading Review: Just Mom (2021)

Review: Nightmare Alley (2021)

Lima tahun selepas mengarahkan The Shape of Water (2017) yang berhasil meraih 13 nominasi dan memenangkan empat kategori diantaranya, termasuk Best Picture dan Best Director, dari ajang The 90th Annual Academy Awards, sutradara Guillermo del Toro kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Nightmare Alley. Merasa familiar dengan judul tersebut? Film yang naskah ceritanya ditulis oleh del Toro bersama dengan Kim Morgan ini memang diadaptasi dari novel popular berjudul sama yang ditulis oleh William Lindsay Gresham. Novel tersebut sebelumnya pernah diadaptasi menjadi film cerita panjang yang dirilis dengan judul yang sama oleh sutradara Edmund Goulding pada tahun 1947 yang menghadirkannya sebagai presentasi yang menggunakan gaya penceritaan neo-noir. Versi teranyar dari adaptasi Nightmare Alley garapan del Toro juga mengadopsi tata pengisahan neo-noir yang elemen-elemen visualnya sering menggunakan tata pencahayaan yang rendah, gaya sinematografi yang banyak dipengaruhi kehadiran bayangan, serta penempatan kamera yang tidak biasa. Continue reading Review: Nightmare Alley (2021)

Review: Scream (2022)

Menjadi film terakhir yang diarahkan oleh Wes Craven sebelum sutradara legendaris tersebut meninggal dunia di tahun 2015, Scre4m (2011) menawarkan peningkatan kualitas cerita yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan Scream 3 (Craven, 2000). Sayang, film tersebut tidak mampu untuk menarik minat serta perhatian penonton dan gagal meraih kesuksesan komersial yang setara dengan tiga film pendahulunya. Lebih dari satu dekade kemudian, duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Ready or Not, 2019) berusaha untuk menghidupkan kembali seri film Scream dengan memproduksi dan mengarahkan bagian kelima dari seri film tersebut yang berjudul… Scream – sebuah pilihan judul yang jelas merupakan referensi terhadap alur cerita film ini yang, seperti yang selalu dilakukan oleh Craven pada setiap bagian dari seri film ini, menawarkan meta commentary terhadap formula cerita film-film horor garapan Hollywood. Continue reading Review: Scream (2022)