Tag Archives: Rating: B

Review: Ghost Writer (2019)

Setelah menuliskan naskah cerita untuk beberapa film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016) dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Bene Dion Rajagukguk kini mengarahkan film layar lebar perdananya lewat Ghost Writer. Memadukan unsur horor dengan komedi, film yang naskah ceritanya digarap oleh Rajagukguk bersama dengan Nonny Boenawan ini bercerita mengenai seorang penulis novel, Naya (Tatjana Saphira), yang menemukan sebuah buku harian yang lantas dijadikannya inspirasi cerita bagi novel terbaru yang sedang digarapnya. Sial, buku harian tersebut ternyata pernah dimiliki oleh seorang pemuda bernama Galih (Ge Pamungkas) yang telah meninggal dunia akibat bunuh diri dan kini menghantui Naya karena tidak setuju isi buku hariannya dijadikan konsumsi publik. Ketakutan dengan teror yang dilakukan oleh Galih, Naya akhirnya mencoba berbicara dengan arwah penasaran tersebut yang kemudian ternyata menghasilkan sebuah kerjasama beda dunia antara mereka berdua. Continue reading Review: Ghost Writer (2019)

Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Sekilas, film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Lee Won-tae setelah Man of Will (2017), The Gangster, The Cop, The Devil, terasa sebagai paduan antara Infernal Affairs (Andrew Lau, Alan Mak, 2002) dengan I Saw the Devil (Kim Jee-oon, 2010). Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Lee, The Gangster, The Cop, The Devil bercerita mengenai seorang pimpinan kelompok kriminal, Jang Dong-soo (Ma Dong-seok), yang terpaksa bekerjasama dengan seorang polisi yang selama ini memusuhinya, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), setelah dirinya menjadi korban penyerangan seorang pembunuh berantai. Jang Dong-soo memang berhasil menyelamatkan diri dari serangan pembunuh yang telah mengambil nyawa beberapa orang dan kini menjadi buronan pihak kepolisian Korea Selatan tersebut. Namun, reputasinya sebagai seorang pimpinan kelompok kriminal menjadi terancam oleh serangan tersebut. Lain halnya dengan Jung Tae-suk. Sebagai seorang polisi, ia ingin membuktikan kehandalan sekaligus kemampuan dirinya dengan menangkap sang pembunuh berantai. Dengan alasan-alasan personal tersebut, Jang Dong-soo dan Jung Tae-suk mengesampingkan perbedaan mereka untuk kemudian bersatu sekaligus berpacu dalam menangkap sang pembunuh berantai. Continue reading Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Review: Aladdin (2019)

Selang beberapa bulan semenjak perilisan Dumbo arahan Tim Burton, Walt Disney Pictures melanjutkan petualangannya dalam mengadaptasi film-film animasi klasiknya menjadi sajian live-action melalui Aladdin. Meskipun mendapat kritikan tajam atas beberapa elemen ceritanya yang dinilai kurang sensitif dalam penggambaran ras maupun kultur, versi animasi dari Aladdin (Ron Clements, John Musker, 1992) berhasil mengikuti jejak kesuksesan The Little Mermaid (Clements, Musker, 1989) dan Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991) dalam mendapatkan reaksi positif baik dari para penonton – yang menghasilkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$500 juta – maupun dari para kritikus film – yang mampu mendorong Aladdin untuk meraih lima nominasi di ajang The 65th Annual Academy Awards termasuk memenangkan dua diantaranya. Ekspektasi yang cukup tinggi jelas telah terbeban pada Guy Ritchie (King Arthur: Legend of the Sword, 2017) dan versi live-action dari Aladdin arahannya untuk, setidaknya, meraih kesuksesan yang setara. Continue reading Review: Aladdin (2019)

Review: Long Shot (2019)

Setelah 50/50 (2011) – yang jelas merupakan film terbaik yang pernah ia arahkan hingga saat ini – dan The Night Before (2015), sutradara Jonathan Levine kembali berkolaborasi dengan aktor sekaligus/dan produser, Seth Rogen dan Evan Goldberg, untuk film terbaru arahannya, Long Shot. Merupakan sebuah drama komedi romansa, Long Shot berkisah tentang pertemuan kembali antara seorang jurnalis, Fred Flarsky (Rogen), dengan mantan pengasuhnya, Charlotte Field (Charlize Theron), yang kini telah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan telah berencana untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada pemilihan umum selanjutnya. Berbekal kecerdasannya dalam menulis sekaligus pengalaman personal antara keduanya di masa lampau, Charlotte Field lantas meminta Fred Flarsky untuk ambil bagian menjadi salah satu anggota tim sukses kemenangan kampanye kepresidenannya. Keputusan tersebut ternyata berbuah manis. Secara perlahan, pidato-pidato yang dituliskan Fred Flarsky mampu menambah kepopuleran sekaligus elektabilitas dari Charlotte Field. Tidak berhenti disana, hubungan personal antara Fred Flarsky dan Charlotte Field juga tumbuh semakin dekat – hal yang kemudian dinilai tim sukses Charlotte Field sebagai sesuatu yang akan merusak reputasinya. Continue reading Review: Long Shot (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Avengers: Endgame (2019)

Lima tahun setelah Thanos (Josh Brolin) menjentikkan jarinya dan menghapus separuh peradaban manusia dari atas permukaan Bumi – seperti yang dikisahkan pada Avengers: Inifinity War (Anthony Russo, Joe Russo, 2018), para anggota Avengers yang tersisa, Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans), Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo), Thor (Chris Hemsworth), Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson), Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner), dan James Rhodes/War Machine (Don Cheadle), masih berupaya melupakan kepedihan hati mereka atas kekalahan di medan peperangan sekaligus hilangnya orang-orang yang mereka cintai. Di saat yang bersamaan, para anggota Avengers yang tersisa tersebut juga masih terus mencari cara untuk menemukan keberadaan Thanos dan membuatnya memperbaiki segala kerusakan yang telah ia sebabkan ketika menggunakan Infinity Stones. Harapan muncul ketika Scott Lang/Ant-Man (Paul Rudd) yang ternyata selamat dari tragedi yang disebabkan jentikan jari Thanos dan kemudian mendatangi markas Avengers dengan sebuah ide yang dapat menghadapkan kembali para Avengers dengan  musuh besar mereka. Continue reading Review: Avengers: Endgame (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)

Review: Hotel Mumbai (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara asal Australia, Anthony Maras, Hotel Mumbai adalah sebuah film yang mencoba untuk merekonstruksi menit-menit horor terjadinya serangan terorisme di kota Mumbai, India pada tahun 2008 dengan fokus utama diberikan pada serangan yang terjadi pada The Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan salah satu hotel tertua di India. Jalan ceritanya sendiri menjadikan beberapa karakter sebagai penentu arah pengisahan film: pasangan David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang menginap di hotel tersebut bersama anak mereka dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey); seorang pramusaji bernama Arjun (Dev Patel) yang bekerja di bawah arahan atasannya, Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher); serta seorang mantan anggota militer Rusia, Vasili (Jason Isaacs), yang merupakan pengunjung tetap hotel tersebut dan telah dikenal dengan sikap arogannya. Bersama dengan ratusan penghuni The Taj Mahal Palace lainnya, karakter-karakter tersebut terjebak selama empat hari di dalam hotel ketika sekelompok anggota teroris datang dan mulai melakukan aksi sadisnya. Continue reading Review: Hotel Mumbai (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: Friend Zone (2019)

Seperti yang dapat ditangkap dengan mudah dari judulnya, Friend Zone berkisah mengenai hubungan persahabatan yang terjalin antara Gink (Pimchanok Luevisadpaibul) dan Palm (Naphat Siangsomboon). Palm sebenarnya telah menyimpan perasaan cinta terhadap sahabatnya tersebut semenjak di bangku kuliah. Namun perasaan tersebut ternyata hanya bertepuk sebelah tangan karena Gink hanya tertarik untuk menjadikan Palm sebagai teman dekat dimana ia dapat berkeluh kesah mengenai permasalahan hidup, termasuk permasalahan asmara yang selalu ia dapati ketika sedang menjalin hubungan asmara dengan pria lain. Ketika hubungan asmara yang dijalin Gink dengan kekasih terakhirnya, Ted (Jason Young), juga terjerembab dalam masalah dan kemudian berakhir, Palm mulai menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Gink dan meminta gadis tersebut untuk melihatnya tidak lagi hanya sebagai seorang sahabat. Sebuah permintaan yang, sialnya, justru ditolak oleh Gink karena ia menilai hubungan asmara dirinya dengan Palm hanya akan merusak persahabatan erat yang telah terjalin antara keduanya selama ini. Continue reading Review: Friend Zone (2019)

Review: Captain Marvel (2019)

Sebelas tahun semenjak perilisan Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan sembilan belas film lain yang dirilis guna mengisi linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Marvel Studios merilis Captain Marvel yang menandai kali perdana dimana sosok pahlawan super perempuan menjadi karakter utamanya. Seperti halnya film-film pertama para pahlawan super buatan Marvel Studios sebelumnya, Captain Marvel juga merupakan sebuah origin story yang akan memperkenalkan pada penonton mengenai sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampirinya ketika ia berusaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki tersebut. Sebuah plot pengisahan yang cukup mendasar bagi sebuah film yang berasal dari semesta cerita tentang kehidupan para pahlawan super. Namun, terlepas dari berbagai elemen familiar dari penceritaan tersebut, garapan duo sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck (It’s Kind of a Funny Story, 2010) berhasil mengemas Captain Marvel tetap menjadi sajian yang terasa segar dan sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Captain Marvel (2019)

Review: Extreme Job (2019)

Film terbaru arahan Lee Byeong-heon (What a Man Wants, 2018), Extreme Job, sebenarnya menawarkan garisan penceritaan yang cukup sederhana: kisah sekelompok detektif yang berusaha untuk membongkar dan menangkap sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Dalam usaha tersebut, Chief Go (Ryu Seung-ryong), Detective Jang (Lee Hanee), Detective Young-ho (Lee Dong-hwi), Detective Ma (Jin Seon-kyu), dan Detective Jae-hoon (Gong Myung), menyamar menjadi satu keluarga yang memiliki usaha restoran penjual ayam goreng agar dapat memantau lokasi yang diduga menjadi tempat berkumpulnya para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut. Tanpa terduga, restoran yang mereka kelola sebagai kedok penyamaran justru mampu menarik minat pembeli dalam jumlah besar dan mendadak menjadi begitu popular ke seantero Korea Selatan akibat racikan resep ayam goreng dari Detective Ma yang benar-benar enak. Jelas saja, kesibukan dalam mengelola restoran secara perlahan memecah konsentrasi kelima detektif dalam menjalankan tugas mereka sekaligus membuat para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang mulai dapat mencium keberadaan mereka. Continue reading Review: Extreme Job (2019)

Review: Cold Pursuit (2019)

Seperti halnya Michael Haneke yang di tahun 2007 membuat ulang kembali filmnya, Funny Games (1997), untuk konsumsi Hollywood, Cold Pursuit juga merupakan versi buat ulang dari film asal Norwegia, In Order of Disappearance (2014), dengan sutradara aslinya, Hans Petter Moland, kembali duduk di kursi penyutradaraan. Alur ceritanya sendiri sangat familiar dengan barisan film-film yang sebelumnya telah dibintangi oleh pemeran utama film ini, Liam Neeson. Dikisahkan, kehidupan tenang Nels Coxman (Neeson) sebagai seorang pembersih salju di sebuah resor ski di sebuah kota bersalju bernama Kehoe di Colorado, Amerika Serikat, tiba-tiba terusik setelah putranya, Kyle (Micheál Richardson), ditemukan tewas akibat penyalahgunaan heroin. Istrinya, Grace (Laura Dern), lantas memilih untuk meninggalkan Nels Coxman akibat tidak mampu menahan rasa dukanya. Nels Coxman juga hampir melakukan tindakan bunuh diri… sebelum akhirnya dia mengetahui bahwa kematian putranya bukan disebabkan oleh penyalahgunaan heroin namun akibat dibunuh oleh kartel narkotika dan obat-obatan terlarang. Nels Coxman yang dikenal seluruh warga Kehoe sebagai sosok yang tenang dan bersahabat kemudian berubah menjadi sosok pria penuh dendam yang bersiap untuk membunuh siapapun yang terlibat atas kematian anaknya. Continue reading Review: Cold Pursuit (2019)