Tag Archives: Rating: B

Review: Wonder (2017)

Diarahkan oleh Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower, 2012), Wonder berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama August Pullman (Jacob Tremblay), atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Auggie, yang semenjak lahir menderita kelainan bentuk wajah yang sangat langka yang membuatnya belum pernah benar-benar bersosialisasi dengan dunia luar. Namun, setelah beberapa tahun menjalani homeschooling, kedua orangtuanya, Nate (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts), memutuskan sudah saatnya bagi Auggie untuk mendapatkan pendidikannya di sekolah umum. Meskipun menyadari bahwa dunia luar dapat menjadi sebuah tempat yang begitu kejam bagi seorang anak dengan kelainan seperti yang dimiliki oleh Auggie, kedua orangtua Auggie dan kakaknya, Via (Izabela Vidovic), memberikan dukungan penuh agar Auggie dapat tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri. Continue reading Review: Wonder (2017)

Advertisements

Review: The Florida Project (2017)

Meski bukanlah film layar lebar perdananya, nama Sean Baker baru mendapatkan rekognisi lebih luas setelah film kelimanya, Tangerine, ditayangkan untuk pertama kali pada Sundance Film Festival di tahun 2015. Film tersebut, yang sepenuhnya dibuat melalui bantuan kamera iPhone 5s serta dibintangi dua artis transgender yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berakting, terbukti mampu memenangkan hati banyak kritikus film dunia sekaligus menjadikan Tangerine sebagai salah satu film terbaik yang dirilis di tahun tersebut. Kembali bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Chris Bergoch, film terbaru arahan Baker, The Florida Project, masih menampilkan semangat yang sama seperti yang ditampilkan oleh gaya pengisahan Tangerine: sebuah kisah dengan sentuhan kisah sosial yang kental namun disajikan dengan penceritaan yang kuat sekaligus hangat melalui penampilan akting yang handal dari deretan pemerannya. Continue reading Review: The Florida Project (2017)

Review: Coco (2017)

Dalam Coco, Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios bertualang ke Meksiko dan menjadikan perayaan budaya negara tersebut, Día de Muertos atau juga sering disebut sebagai Day of the Dead, sebagai inspirasi jalan ceritanya. Diarahkan oleh Lee Unkrich (Toy Story 3, 2010) dengan bantuan dari penulis naskah Adrian Molina, Coco berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) yang bercita-cita untuk menjadi seorang musisi. Sayangnya, Miguel Rivera berasal dari keluarga dimana seluruh kegiatan yang berhubungan dengan musik dinyatakan sebagai kegiatan terlarang – sebuah ultimatum yang muncul setelah kakek buyut mereka meninggalkan nenek buyut dan keluarga mereka untuk mengejar karirnya sebagai seorang musisi. Tidak tinggal diam, Miguel Rivera berniat untuk menunjukkan bakat musiknya di hari perayaan Día de Muertos. Namun, sebuah keajaiban terjadi dan Miguel Rivera kini terjebak di dunia para arwah – yang disebut dengan Land of the Dead. Kini, Miguel Rivera harus menemukan arwah para keluarganya dan meminta restu mereka agar dirinya dapat kembali ke dunia nyata. Continue reading Review: Coco (2017)

Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Malang benar nasib Marlina (Marsha Timothy). Setelah kematian janin bayi yang sedang dikandungnya kini wanita asal Sumba tersebut harus hidup sebatang kara setelah suaminya turut meninggal dunia – dengan mayat sang suami yang telah diawetkan masih terbujur kaku di ruang tamu rumah akibat ketidakmampuan Marlina membiayai ritual upacara pemakaman. Nasib buruk tidak berhenti disana. Sekelompok pria yang dipimpin oleh Markus (Egi Fadly) yang berperawakan tinggi besar datang ke rumah Marlina dan berencana untuk mengambil seluruh harta benda miliknya. Oh. Sekumpulan pria tersebut juga berencana untuk memperkosa Marlina secara bergantian selepas makan malam. Namun, walau dengan penampilan yang tenang dan terkesan lemah, Marlina menolak untuk menyerah begitu saja. Berbekal sebilah parang dan olahan sup ayam yang menjadi menu andalannya, Marlina bertekad untuk membuat Markus dan gerombolannya menyesal telah melangkahkan kaki mereka ke rumah Marlina hari itu. Continue reading Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Review: My Generation (2017)

It’s a tale as old as time: Kisah mengenai para anak manusia yang sedang beranjak dewasa dan berusaha untuk menemukan jati diri mereka namun kemudian menyadari bahwa dunia berada di pihak yang berlawanan dengan mereka. Sebuah bahasan klasik yang sebenarnya pernah disinggung oleh sutradara film ini, Upi, dalam beberapa film yang ia garap sebelumnya seperti Realita Cinta dan Rock’n’Roll (2005) dan Radit dan Jani (2008). Lewat My Generation, Upi ingin membawa penontonnya untuk berkenalan dengan Generasi Z – meskipun film ini melabeli mereka dengan sebutan generasi milenial – atau yang disebut juga dengan iGeneration karena kedekatan dan keakraban generasi ini dengan teknologi internet dalam kehidupan keseharian mereka. Meskipun dengan konflik maupun pengembangan plot pengisahan yang cenderung sederhana, observasi Upi atas sebuah generasi yang ia presentasikan lewat film ini mampu tampil menyenangkan dan begitu mengikat. Continue reading Review: My Generation (2017)

Review: Thank You for Your Service (2017)

Diadaptasi dari sebuah buku berjudul sama karya David Finkel, Thank You for Your Service yang juga merupakan debut pengarahan bagi penulis naskah Jason Hall (American Sniper, 2014) berkisah mengenai bagaimana buruknya perlakuan pemerintah (dan masyarakat?) Amerika Serikat terhadap veteran perang mereka. Jalan ceritanya sendiri difokuskan pada tiga karakter tentara, Staff Sergeant Adam Schumann (Miles Teller), Specialist Tausolo Aieti (Beulah Koale), dan Billy Waller (Joe Cole), yang baru saja kembali pulang ke Amerika Serikat setelah menghabiskan masa hampir setahun ditempatkan pada wilayah konflik di negara Irak. Tidak hanya ketiganya harus berusaha keras untuk menyesuaikan diri kembali pada sebuah lingkungan kehidupan “normal,” ketiga tentara tersebut juga masih dihantui perasaan bersalah atas kematian rekan mereka, Sergeant First Class James Doster (Brad Beyer), di medan perang. Walau awalnya tampak tegar dan berusaha untuk mendukung satu sama lain namun rasa depresi mulai melanda ketiganya yang secara perlahan kemudian mulai menghancurkan hubungan mereka dengan orang-orang yang (seharusnya) mereka cintai. Continue reading Review: Thank You for Your Service (2017)

Review: Secret Superstar (2017)

Sukses dengan Dangal (Nitesh Tiwari, 2016), Aamir Khan kembali berkolaborasi dengan produser Kiran Rao untuk memproduksi Secret Superstar. Merupakan debut pengarahan bagi Advait Chandan – yang juga merupakan mantan manajer bagi Khan, Secret Superstar berkisah mengenai kehidupan seorang gadis bernama Insia Malik (Zaira Wasim) yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Baroda di Gujarat, India, dan bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Walau sang ibu, Najma Malik (Meher Vij), mendukung penuh mimpinya, namun sang ayah, Farookh Malik (Raj Arjun), yang memiliki pola pemikiran konservatif serta sering berlaku abusif, melarang keras Insia Malik untuk terlibat dalam segala kegiatan yang dinilainya tidak berguna. Atas saran sang ibu, Insia Malik lantas mengunggah rekaman video bernyanyi dirinya ke YouTube namun tetap dengan menyembunyikan wajah dan identitas aslinya. Tidak disangka, rekaman-rekaman video milik Insia Malik secara perlahan mulai memberikannya popularitas. Popularitas tersebut kemudian menarik perhatian seorang produser kenamaan, Shakti Kumar (Khan), yang berniat untuk mengajaknya rekaman. Namun, tentu saja, Insia Malik harus menghadapi hadangan sang ayah yang jelas menentang keras mimpi puterinya tersebut. Continue reading Review: Secret Superstar (2017)

Review: Posesif (2017)

Diarahkan oleh Edwin (Kebun Binatang, 2012) dalam film yang menandai kali pertama film arahannya tayang secara luas di pelbagai jaringan bioskop komersial Indonesia, Posesif merupakan sebuah drama romansa remaja yang berkisah mengenai hubungan percintaan antara Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken). Lala, seorang siswi cerdas yang juga seorang atlet loncat indah berprestasi, langsung terkesan dengan perkenalannya dengan Yudhis yang merupakan seorang siswa baru di sekolahnya. Dalam waktu singkat, Lala dan Yudhis tak lagi dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hubungannya dengan Yudhis bahkan secara perlahan membuat Lala menarik diri dari sesi latihan loncat indahnya bersama sang ayah yang juga merupakan pelatihnya (Yayu Unru) sekaligus mengurangi waktu yang ia habiskan bersama dua sahabatnya, Ega (Gritte Agatha) dan Rino (Chicco Kurniawan). Namun, seiring dengan pertambahan usia hubungannya dengan Yudhis, Lala mulai menemukan sisi gelap dari kepribadian Yudhis yang membuatnya terjebak dalam sebuah hubungan yang tak dapat dihindarinya. Continue reading Review: Posesif (2017)

Review: Thor: Ragnarok (2017)

Masih ingat dengan Thor: The Dark World (Alan Taylor, 2013)? Well… tidak akan ada yang menyalahkan jika Anda telah melupakan sepenuhnya mengenai jalan cerita maupun pengalaman menonton dari sekuel perdana bagi film yang bercerita tentang Raja Petir dari Asgard tersebut. Berada di bawah arahan Taylor yang mengambil alih kursi penyutradaraan dari Kenneth Branagh, Thor: The Dark World harus diakui memang gagal untuk melebihi atau bahkan menyamai kualitas pengisahan film pendahulunya. Tidak berniat untuk mengulang kesalahan yang sama, Marvel Studios sepertinya berusaha keras untuk memberikan penyegaran bagi seri ketiga Thor, Thor: Ragnarok: mulai dari memberikan kesempatan pengarahan pada sutradara Taika Waititi yang baru saja meraih kesuksesan lewat dua film indie-nya, What We Do in the Shadows (2014) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), menghadirkan naskah cerita yang menjauh dari kesan kelam, hingga memberikan penampilan-penampilan kejutan dalam presentasi filmnya. Berhasil? Mungkin. Continue reading Review: Thor: Ragnarok (2017)

Review: Only the Brave (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ken Nolan (Transformers: The Last Knight, 2017) dan Eric Warren Singer (American Hustle, 2013) berdasarkan artikel berjudul No Exit yang ditulis jurnalis Sean Flynn untuk majalah GQ, Only the Brave bercerita mengenai kisah nyata kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Yarnell Hill, Arizona, Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 2013 yang kemudian berubah menjadi salah satu tragedi alam terbesar di negara tersebut setelah menelan korban sebanyak 19 jiwa – yang seluruhnya merupakan anggota pasukan pemadam kebakaran. Film ini sendiri memberikan fokus pengisahannya pada karakter-karakter anggota pemadam kebakaran yang menjadi korban ketika menjalankan tugasnya dalam tragedi tersebut. Jelas tidak mengherankan jika kemudian Only the Brave berjalan dengan presentasi cerita bertema pengorbanan dan kepahlawanan yang telah cukup familiar. Meskipun begitu, dengan penulisan dan pengarahan cerita yang apik, Only the Brave memiliki cukup banyak amunisi untuk membuatnya tetap menjadi sebuah presentasi yang menyentuh. Continue reading Review: Only the Brave (2017)

Review: A Day (2017)

WellHappy Death Day (Christopher Landon, 2017) bukanlah satu-satunya film rilisan tahun ini yang menggunakan pola pengisahan time loop dalam jalan ceritanya. Film berjudul A Day yang menjadi debut penyutradaraan bagi penulis naskah asal Korea Selatan, Cho Sun-ho, juga menggunakan cara bercerita yang sama dan bahkan menyajikannya dengan elemen pengisahan drama yang lebih kompleks sekaligus emosional. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Cho, A Day berkisah mengenai seorang ahli bedah, Kim Joon-young (Kim Myung-min), yang setelah sekian lama berada di luar negeri untuk mengikuti serangkaian kegiatan amal akhirnya kembali ke Korea Selatan untuk bertemu kembali dengan puterinya, Eun-jung (Jo Eun-hyung). Sial, sebelum ia sempat bertemu dengan Eun-jung, gadis tersebut meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kim Joon-young kemudian terbangun dalam pesawat yang membawanya kembali ke kampung halamannya dan mengira bahwa rentetan tragedi yang disaksikannya hanyalah sebuah mimpi. Namun, setelah deretan kejadian yang ia kira berada dalam mimpinya kembali berulang, Kim Joon-young mulai menyadari bahwa ia harus memecahkan sebuah misteri untuk dapat menyelamatkan puterinya. Continue reading Review: A Day (2017)

Review: Happy Death Day (2017)

Meskipun bukan yang pertama dalam menggunakan plot pengisahan yang melibatkan terjadinya time loop – situasi dimana satu/beberapa karakter harus terjebak dalam sebuah putaran waktu sebelum dirinya/mereka dapat memecahkan sebuah misteri yang dapat mengeluarkan mereka dari perjalanan waktu berulang tersebut – namun film komedi arahan Harold Ramis, Groundhog Day (1993), jelas merupakan film pertama yang berada di benak banyak penikmat film dunia ketika disinggung mengenai pola penceritaan tersebut. Setelahnya, time loop turut hadir dalam banyak film Hollywood yang berasal dari berbagai genre seperti Triangle (Christopher Smith, 2009), Source Code (Duncan Jones, 2011), Looper (Rian Johnson, 2011), dan Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014). Kini, sutradara asal Amerika Serikat, Christopher Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones, 2014), menjajal kemampuannya dalam menggarap garisan cerita bernuansa time loop dalam sebuah slasher berjudul Happy Death Day. Hasilnya, meskipun filmnya tidak menawarkan sebuah pengisahan slasher yang terlalu istimewa, Landon mampu menjadikan Happy Death Day sebagai sebuah presentasi yang akan cukup mampu menyenangkan banyak penontonnya. Continue reading Review: Happy Death Day (2017)

Review: The Promise (2017)

Mereka yang pernah mengunjungi Thailand dan familiar dengan berbagai “lokasi wisata” negara tersebut kemungkinan besar (pasti?) pernah mendengar tentang keberadaan Ghost Tower. Gedung setinggi 47 lantai yang aslinya bernama Sathorn Unique Tower tersebut awalnya mulai dibangun pada tahun 1990 dan diniatkan untuk menjadi sebuah kondominium mewah nan ikonik yang terletak di tengah kota Bangkok. Sayang, ketika krisis ekonomi menerpa Thailand dan menyebabkan lumpuhnya pasar properti di negara tersebut pada tahun 1997, pembangunan Sathorn Unique Tower (dan ratusan gedung pencakar langit lainnya di kota Bangkok) menjadi terhambat dan secara perlahan akhirnya benar-benar terhenti. Seiring dengan berjalannya waktu, Sathorn Unique Tower berubah menjadi bangunan kumuh yang terabaikan keberadaannya namun kemudian mulai menarik perhatian banyak turis lokal maupun asing yang tertarik akan sejarah dan bentuk bangunan tersebut… serta berbagai rumor mengenai aktivitas supranatural yang menghantuinya. Continue reading Review: The Promise (2017)