Category Archives: Review

Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Dirilis pada tahun 1980, The Shining yang diarahkan oleh Stanley Kubrick merupakan adaptasi dari sebuah novel popular berjudul sama yang ditulis oleh Stephen King dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1977. Walau mendapatkan reaksi yang tidak terlalu hangat pada masa awal perilisannya – termasuk kritikan tajam dari King yang menilai Kubrick telah merusak nilai-nilai penceritaan dari novel yang telah digarapnya, The Shining secara perlahan mulai meraih banyak dukungan dan penggemar hingga akhirnya mampu menjadi salah satu ikon horor paling popular bagi para penikmat film di seluruh dunia. Lebih dari tiga dekade semenjak perilisan novel The Shining, tepatnya di tahun 2013, King merilis Doctor Sleep yang melanjutkan alur cerita bagi karakter-karakter yang ada di dalam garis penceritaan The Shining. Perilisan novel Doctor Sleep jelas turut mendorong Hollywood untuk memproduksi sekuel bagi versi film dari The Shining. Dengan bantuan Mike Flanagan (Ouija: Origin of Evil, 2016) yang bertugas sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film, Doctor Sleep jelas harus berusaha keras untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan oleh Kubrick melalui adaptasinya akan novel The Shining. Continue reading Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Review: Love for Sale 2 (2019)

Masih ingat dengan sosok Arini (Della Dartyan) yang mampu meluluhlantakkan hati (dan kehidupan) seorang pria penyendiri bernama Richard (Gading Marten) dalam pengisahan Love for Sale (Andibachtiar Yusuf, 2018)? Well… kisah perjalanan sang “gadis penjaja cinta” yang bekerja di sebuah perusahaan aplikasi kencan daring bernama Love Inc. tersebut berlanjut lewat Love for Sale 2. Kali ini, Arini ditugaskan untuk “mendampingi” Ican (Adipati Dolken), seorang pria berusia 32 tahun yang mulai kewalahan untuk menghadapi permintaan sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar dirinya segera menikah. Oleh Ican, Arini diperkenalkan kepada sang ibu sebagai mantan kekasih di saat menjalani masa kuliah dahulu yang kini sedang bertugas di Jakarta. Rosmaida jelas merasa senang melihat kedekatan putera keduanya tersebut dengan seorang perempuan yang dirasakannya sangat memenuhi kriteria sebagai seorang menantu idaman: taat beribadah, pintar memasak, dan masih kental pemahamannya akan adat istiadat. Seperti halnya karakter Richard dalam Love for Sale, Ican mulai melihat perubahan yang dibawa Arini dalam kehidupannya dan merasakan hal yang berbeda ketika dirinya sedang menatap atau sedang bersama gadis tersebut. Ya, seperti ibunya, Ican sudah jatuh cinta dengan sosok Arini. Continue reading Review: Love for Sale 2 (2019)

Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Merupakan film keenam dalam seri Terminatorwell… ketiga jika Anda menuruti titah kreator seri film ini, James Cameron, yang menganggap keberadaan tiga film terakhir dalam seri ini; Terminator 3: Rise of the Machines (Jonathan Mostow, 2003), Terminator Salvation (McG, 2009), Terminator Genisys (Alan Taylor, 2015), sebagai “sekuel tidak resmi” – Terminator: Dark Fate menjadi ajang reuni bagi aktor Arnold Schwarzenegger dan aktris Linda Hamilton yang untuk pertama kalinya kembali tampil bersama setelah membintangi Terminator 2: Judgment Day (Cameron, 1991). Diarahkan oleh Tim Miller (Deadpool, 2016) berdasarkan naskah cerita yang digarap David S. Goyer (Batman v. Superman: Dawn of Justice, 2016), Justin Rhodes, dan Billy Ray (Gemini Man, 2019), Terminator: Dark Fate menghadirkan elemen pengisahan yang akan mengingatkan banyak penontonnya pada alur cerita The Terminator (Cameron, 1984) dan Terminator 2: Judgment Day. Komposisi cerita tersebut jelas akan membantu banyak penonton dari generasi baru untuk memahami seluk beluk pengisahan dari seri film yang kini telah berusia lebih dari 35 tahun ini. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah merasa familiar dengan tema cerita seri film ini tentu akan merasa bahwa Terminator: Dark Fate tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Continue reading Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Review: Susi Susanti – Love All (2019)

Meskipun merupakan sebuah biopik, Susi Susanti – Love All bukanlah sekedar sebuah film yang bercerita tentang lika-liku perjalanan kehidupan sesosok figur publik yang menjadi karakter utama ceritanya. Di saat yang bersamaan, meskipun film ini bertutur tentang karakter utama yang merupakan seorang atlet yang sedang berjuang untuk membuktikan kemampuan diri dalam bidang olahraga yang dijalaninya, Susi Susanti – Love All tidak lantas berkutat dalam ritme berkisah film-film olahraga yang siap membawa para penonton untuk dapat merasakan sensasi menyaksikan langsung sang karakter utama dalam setiap pertandingannya. Dalam film yang sekaligus menjadi film panjang pertama yang ia arahkan, Sim F (Sanubari Jakarta, 2012) meramu Susi Susanti – Love All menjadi sajian yang tidak hanya berkisah tentang seorang tokoh olahraga dan berbagai catatan kisah pertarungannya namun juga presentasi tentang kisah kelam satu bangsa di masa lampau yang bekas lukanya masih cukup terasa hingga saat ini. Continue reading Review: Susi Susanti – Love All (2019)

Review: Zombieland: Double Tap (2019)

Masih ingat dengan Zombieland (2009)? Ketika dirilis sepuluh tahun lalu, film yang menjadi debut pengarahan bagi Ruben Fleischer (Venom, 2018) tersebut berhasil menarik perhatian para kritikus film dunia berkat penyegaran yang dilakukan presentasi ceritanya pada film-film dengan tema mayat hidup yang kala itu lumayan popular diproduksi di Hollywood. Kesuksesan komersial Zombieland juga memberikan andil tersendiri dalam mendorong nama para pemerannya ke jajaran aktor maupun aktris papan atas Hollywood – khususnya Jesse Eisenberg dan Emma Stone. Setelah selama beberapa tahun berada dalam tahap pengembangan, proses produksi sekuel Zombieland mulai menemui titik terang pada pertengahan tahun 2018 dengan Woody Harrelson, Eisenberg, Abigail Breslin, Stone beserta Fleischer kembali menempati posisi mereka sebagai jajaran pemeran dan sutradara film. Zombieland memang menarik ketika dirilis sepuluh tahun yang lalu namun apakah sekuelnya yang berjudul Zombieland: Double Tap akan mampu mengikuti kesuksesan film pertamanya? Continue reading Review: Zombieland: Double Tap (2019)

Review: Hustlers (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Lorene Scafaria (The Meddler, 2015), berdasarkan sebuah artikel berjudul The Hustlers at Scores yang ditulis oleh Jessica Pressler dan diterbitkan oleh majalah New York pada tahun 2015, Hustlers berkisah mengenai seorang wanita bernama Destiny (Constance Wu) yang baru memulai karirnya sebagai penari erotis. Bukan sebuah pekerjaan yang mudah namun, untungnya, Destiny berhasil mendapatkan perhatian seorang penari erotis senior bernama Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang lantas bersedia untuk mengajarkannya berbagai cara dan langkah untuk mempermudah pekerjaannya. Terdengar seperti plot cerita Magic Mike (Steven Soderbergh, 2012)? Tunggu dulu. Ramona Vega tidak hanya sekedar mengajarkan Destiny cara menari guna memenangkan hati para pelanggannya. Ramona Vega juga memberikan bimbingan pada Destiny untuk mendapatkan lebih banyak uang dengan menggunakan daya tarik obat-obatan terlarang kepada para pimpinan perusahaan hingga pedagang saham yang kerapkali mengunjungi klub malam tempat keduanya bekerja. Continue reading Review: Hustlers (2019)

Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Setelah mengarahkan Gundala (2019) – yang direncanakan menjadi awal bagi keberadaan sebuah jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super bertajuk Bumilangit Cinematic Universe, Joko Anwar kembali ke ranah horor lewat Perempuan Tanah Jahanam. Meskipun dirilis setelah Gundala dan Pengabdi Setan (2017) – yang hingga saat ini masih tercatat sebagai film horor Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa, benih pengisahan Perempuan Tanah Jahanam sendiri telah dikembangkan Anwar semenjak sepuluh tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, naskah cerita dari film yang juga direncanakan rilis internasional dengan judul Impetigore itu kemudian mendapatkan polesan yang lebih mendalam pada penataan konflik dan karakternya. Para penikmat film-film Anwar jelas dapat merasakan kehadiran berbagai elemen pengisahan horor yang pernah disentuh sang sutradara dalam film-film yang ia arahkan sebelumnya. Menyenangkan, meskipun presentasi tersebut seringkali tampil lemah akibat balutan cerita yang cenderung kurang matang pengolahannya. Continue reading Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Ketika dirilis lima tahun lalu, Walt Disney Pictures jelas meniatkan agar Maleficent (Robert Stromberg, 2014) dapat memberikan penyegaran pada kisah klasik Sleeping Beauty (Clyde Geronimi, Eric Larson, Wolfgang Reitherman, Les Clark, 1959) – dan, tentu saja, membuka kesempatan bagi rumah produksi tersebut untuk memiliki sebuah seri film komersial yang baru. Alih-alih memberikan fokus penuh pada sosok karakter Aurora, Maleficent justru memilih untuk menghadirkan sebuah sudut pandang baru bagi karakter Maleficent yang awalnya dikenal sebagai sosok antagonis namun kemudian dibentuk dengan karakterisasi baru yang menjelaskan imej buruk yang selama ini melekat pada dirinya. Hasilnya tidak mengecewakan. Meskipun kehadiran Maleficent tidak mendapatkan sambutan yang hangat dari kalangan kritikus film dunia, film yang dibintangi Angelina Jolie tersebut sukses mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$750 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Lima tahun mungkin terasa sebagai jeda waktu yang cukup lama untuk merilis sebuah sekuel namun Walt Disney Pictures jelas tidak akan melepaskan kesempatan begitu saja untuk mendapatkan keuntungan komersial lebih besar dari seri film yang juga menghadirkan penampilan akting dari Elle Fanning ini. Continue reading Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Review: The Sky is Pink (2019)

The Sky is Pink adalah film terbaru arahan sutradara Shonali Bose (Margarita with a Straw, 2015). Dengan naskah cerita yang ditulis Bose bersama dengan Nilesh Maniyar – yang juga membantu Bose dalam menuliskan naskah cerita Margarita with a Straw, The Sky is Pink berkisah tentang perjalanan kehidupan romansa pasangan Niren Chaudary (Farhan Akhtar) dan Aditi Chaudary (Priyanka Chopra Jonas) yang dituturkan dari sudut pandang puteri mereka, Aisha Chaudary (Zaira Wasim). Kehadiran Aisha Chaudary dalam kehidupan pernikahan Niren dan Aditi Chaudary sebenarnya cukup mengejutkan dan sempat tidak diharapkan karena catatan sejarah kesehatan kedua pasangan tersebut di masa lampau. Namun, dengan berbagai resiko kesehatan yang dapat saja diderita oleh sang anak, Niren dan Aditi Chaudary memilih untuk mempertahankan keberadaan sang anak dan berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi kebahagiannya. Benar saja. Beberapa tahun semenjak kelahirannya, anak yang kemudian dinamai Aisha Chaudary tersebut didiagnosa lahir tanpa adanya sistem ketahanan tubuh yang normal. Niren dan Aditi Chaudary tidak menyerah dan melakukan segala hal untuk menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Continue reading Review: The Sky is Pink (2019)

Review: The Peanut Butter Falcon (2019)

Masih ingat dengan kisah klasik Adventures of Huckleberry Finn yang ditulis oleh Mark Twain dan dirilis pertama kali di Inggris pada tahun 1884? Well… cerita petualangan seorang karakter anak laki-laki bernama Huckleberry Finn yang melarikan diri dari kehidupannya yang dirasa kelam untuk kemudian bertemu dengan seorang karakter pria bernama Jim dan lantas memulai petualangan bersama guna mencari kebebasan tersebut menjadi sumber inspirasi bagi film yang ditulis dan diarahkan oleh duo sutradara Tyler Nilson dan Mike Schwartz, The Peanut Butter Falcon. Dalam The Peanut Butter Falcon, karakter Huckleberry Finn dihadirkan melalui sosok Zak (Zack Gottsagen) – seorang pemuda penderita Sindrom Down yang memilih melarikan diri dari panti jompo tempatnya dirawat demi mengejar impiannya untuk bertemu dengan seorang pegulat legendaris yang dikenal dengan sebutan The Salt Water Redneck (Thomas Haden Church). Dalam pelariannya, Zak lantas bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf) – penjelmaan bagi karakter Jim dalam kisah Adventures of Huckleberry Finn. Tyler sendiri sedang berada dalam kejaran Duncan (John Hawkes) dan Ratboy (Yelawolf) setelah Tyler secara sengaja membakar seluruh perangkap penangkap kepiting milik keduanya. Tyler awalnya tidak begitu menyukai Zak yang terus mengikuti perjalanannya. Namun, dapat diduga, secara perlahan keduanya mulai membangun persahabatan sekaligus melindungi satu sama lain. Continue reading Review: The Peanut Butter Falcon (2019)

Review: Gemini Man (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh David Benioff (Brothers, 2009), Billy Ray (Overlord, 2018), dan Darren Lemke (Goosebumps, 2015), film terbaru arahan Ang Lee yang berjudul Gemini Man berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Henry Brogan (Will Smith) yang berniat untuk pensiun dari pekerjaannya seusai melaksanakan tugas terakhirnya. Alih-alih dapat menikmati masa pensiunnya dengan tenang, Henry Brogan lantas mengetahui bahwa dirinya telah menjadi korban pengkhianatan rekan kerjanya yang kini membuatnya dikejar oleh seorang pembunuh bayaran lainnya. Demi menyelamatkan nyawanya, Henry Brogan memulai masa pelarian sembari mulai mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai siapa dalang penyebab nasib buruk yang kini mengikutinya. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Henry Brogan memiliki kecerdasan yang menyerupai dirinya, ketangguhan yang menyerupai dirinya, serta… tampilan wajah dan fisik yang juga menyerupai dirinya. Continue reading Review: Gemini Man (2019)

Review: Joker (2019)

Setelah merilis serangkaian film yang diadaptasi dari buku-buku komik yang berkisah tentang kehidupan para pahlawan super, Hollywood secara perlahan mulai mengalihkan perhatian mereka pada sosok-sosok penjahat yang harus dihadapi oleh para pahlawan super tersebut. Warner Bros. Pictures bersama dengan DC Films mengawali langkah tersebut dengan memproduksi Suicide Squad (David Ayer, 2016). Tidak lama berselang, Sony Pictures juga melakukan hal yang sama dan menggandeng Marvel Studios untuk merilis Venom (Ruben Fleischer, 2018). Tidak mengherankan jika kini Joker – yang merupakan sosok karakter penjahat legendaris sekaligus salah satu musuh bebuyutan bagi sosok Batman dalam seri komik terbitan DC Comics – mendapatkan perlakuan cerita yang sama. Namun, Joker yang diarahkan oleh Todd Phillips (The Hangover Part III, 2013) disajikan dalam warna dan ritme pengisahan yang jelas jauh berbeda jika dibandingkan dengan Suicide Squad maupun Venom. Suram, lamban, serta penuh dengan muatan politis yang jelas akan meninggalkan kejutan yang mendalam bagi setiap penontonnya. Continue reading Review: Joker (2019)

Review: Bebas (2019)

Sunny mungkin merupakan salah satu film drama komedi bertema persahabatan terbaik sekaligus paling hangat yang pernah diproduksi oleh industri film Korea Selatan. Dirilis pada tahun 2011, film arahan sutradara Kang Hyeong-cheol tersebut tidak hanya berhasil meraih kesuksesan secara komersial – dengan pendapatan sebesar US$51.1 juta, Sunny merupakan film dengan raihan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2011 dan menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan hingga saat ini – namun juga mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus film serta meraih sembilan nominasi di ajang The 48th Annual Grand Bell Awards dan memenangkan dua diantaranya, Best Director dan Best Editing. Seperti halnya kesuksesan Miss Granny (Hwang Dong-hyuk, 2015) – yang di Indonesia diadaptasi dan dirilis dengan judul Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Sunny lantas diadaptasi menjadi film layar lebar di sejumlah negara lain. Kolaborasi antara produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza yang sebelumnya telah menghasilkan Athirah (2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) dan Kulari ke Pantai (2018) menangani adaptasi Sunny di Indonesia dan merilisnya sebagai Bebas. Continue reading Review: Bebas (2019)