Category Archives: Review

Review: Child’s Play (2019)

Jika deretan boneka hidup dalam Annabelle Comes Home (Gary Dauberman, 2019) maupun Toy Story 4 (Josh Cooley, 2019) belum cukup untuk memberikan Anda mimpi buruk… Wellhere comes Chuc… Buddi! Disutradarai oleh Lars Klevberg (Polaroid, 2019), versi teranyar dari Child’s Play, tentu saja, merupakan sebuah buat ulang dari film horor berjudul sama arahan Tom Holland yang dahulu dirilis pada tahun 1988 sekaligus menjadi penanda bagi awal pengisahan baru bagi seri film Child’s Play yang telah berusia 30 tahun dan menghasilkan tujuh film – dengan Cult of Chucky arahan Don Mancini dirilis pada tahun 2017 yang lalu. Child’s Play terbaru sendiri tidak terpaku pada pola pengisahan yang telah diterapkan oleh pendahulunya. Karakter Buddi/Chucky kini bukanlah sosok boneka yang dirasuki oleh arwah penasaran seorang penjahat namun merupakan produk berteknologi tinggi yang kemudian menghasilkan efek negatif yang mematikan. Sebuah sentuhan cerita yang membuat Child’s Play terbaru dapat saja dijadikan satu episode khusus dari serial popular Black Mirror rilisan Netflix dan ternyata menjadi elemen yang kemudian mampu menjadikan film horor ini tampil cukup memikat. Continue reading Review: Child’s Play (2019)

Review: The Lion King (2019)

In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight.”

Setelah Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), Dumbo (Tim Burton, 2019), dan Aladdin (Guy Ritchie, 2019), Walt Disney Pictures melanjutkan “pembaharuan” terhadap deretan film animasi klasik yang dahulu telah diproduksi dan membangun reputasinya dengan merilis versi teranyar dari The Lion King. Selain lagu The Lion Sleeps Tonight atau Can You Feel the Love Tonight atau Circle of Life yang berasal dari adegan-adegan di dalam filmnya dan telah begitu melegenda, film animasi The Lion King (Roger Allers, Rob Minkoff, 1994) memiliki catatan prestasi spesial tersendiri jika dibandingkan beberapa film animasi klasik produksi Walt Disney Pictures lainnya. Selain tercatat berhasil meraih empat nominasi – dan memenangkan dua diantaranya – di ajang The 67th Annual Academy Awards, The Lion King juga mampu meraih sukses besar di saat perilisannya. Selain mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, The Lion King juga berhasil mampu menarik minat banyak penikmat film yang lantas kemudian menjadikannya sebagai salah satu film animasi tersukses sepanjang masa secara global. Tidak dapat disangkal, The Lion King adalah salah satu film animasi yang paling dikenal dan begitu disukai oleh banyak orang – yang membuat ekspektasi terhadap versi baru dari filmnya jelas membumbung tinggi. Continue reading Review: The Lion King (2019)

Review: Dua Garis Biru (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Gina S. Noer – yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis naskah untuk film-film seperti Hari Untuk Amanda (Angga Dwimas Sasongko, 2010), Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012), Posesif (Edwin, 2017), dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019), Dua Garis Biru bercerita tentang kehamilan di luar nikah yang dialami oleh pasangan remaja, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Awalnya, agar tidak mengganggu masa kelulusan sekolah mereka, Dara dan Bima merahasiakan tentang kehamilan tersebut. Rencana tersebut gagal setelah pihak sekolah mengetahui tentang kehamilan Dara. Dara kemudian dipecat dari sekolah dan bahkan ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing), yang kalut dan marah akibat kejadian tersebut. Kini, Dara tinggal bersama Bima dan kedua orangtuanya, Rudy (Arswendy Bening Swara) dan Yuni (Cut Mini), sembari memikirkan ulang berbagai rencana dan tindakan yang akan dilakukan dengan bayi yang kini sedang berada di kandungannya. Continue reading Review: Dua Garis Biru (2019)

Review: Crawl (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo penulis naskah Michael Rasmussen dan Shawn Rasmussen (The Ward, 2010), Crawl memulai pengisahannya ketika Haley Keller (Kaya Scodelario) terpaksa melakukan perjalanan ke pinggiran kota Florida untuk memeriksa keadaan sang ayah, Dave Keller (Barry Pepper), sebelum sebuah bencana badai datang menghampiri. Sial, ketika dirinya tiba di rumah sang ayah, Haley Keller menemukan ayahnya dalam kondisi pingsan dan terluka cukup parah. Dengan kondisi lingkungan sekitar rumah yang telah dievakuasi oleh satuan keamanan, Haley Keller harus berjuang sendirian untuk menyelamatkan sang ayah. Namun, waktu yang semakin menyempit seiring dengan mendekatnya kedatangan bencana badai bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dihadapi oleh Haley Keller. Sekelompok buaya dengan ukuran raksasa yang terdampar akibat dibawa arus banjir ternyata telah mengintai dan siap untuk memangsa makhluk hidup yang berada di sekitar mereka. Continue reading Review: Crawl (2019)

Review: Spider-Man: Far From Home (2019)

Merupakan sekuel dari Spider-Man: Homecoming (Jon Watts, 2017) dan ditempatkan sebagai film penutup bagi fase ketiga Marvel Cinematic Universe, Spider-Man: Far from Home hadir dengan pengisahan yang memiliki latar belakang waktu pengisahan beberapa bulan setelah berbagai peristiwa yang diceritakan dalam Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2019) berakhir. Dikisahkan, Peter Parker (Tom Holland) bersama teman-teman sekolahnya akan melakukan perjalanan ke beberapa negara Eropa. Menggunakan momen tersebut, Peter Parker berencana untuk menyatakan rasa cintanya kepada MJ (Zendaya). Namun, seperti yang dapat diduga, rencana Peter Parker untuk menikmati masa liburan bersama dengan teman-temannya kemudian dirusak oleh kehadiran sesosok makhluk asing yang menyerang orang-orang yang berada di sekitarnya. Beruntung, seorang pria berkekuatan super bernama Quentin Beck (Jake Gyllenhaal) kemudian datang dan mengusir makhluk asing tersebut. Oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson) dan rekan kerjanya, Maria Hill (Cobie Smulders), lantas meminta Peter Parker untuk bekerjasama dengan Quentin Beck dalam mencegah serangan yang diperkirakan akan kembali dilakukan sang makhluk asing. Permintaan yang sekali lagi membuat Peter Parker mempertanyakan perannya sebagai Spider-Man dan pengaruh posisi tersebut terhadap kehidupan kesehariannya. Continue reading Review: Spider-Man: Far From Home (2019)

Review: Yesterday (2019)

Pernah membayangkan dunia dimana lagu-lagu yang ditulis oleh John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, dan George Harrison untuk kelompok musik mereka, The Beatles, tidak pernah ada? Well… Film terbaru arahan Danny Boyle (127 Hours, 2010) yang naskah ceritanya digarap oleh Richard Curtis (About Time, 2013), Yesterday, mencoba bermain dengan premis tersebut. Dikisahkan, setelah terjadinya pemadaman listrik yang berlangsung di seluruh penjuru dunia selama 12 detik, tidak ada seorangpun yang mengingat maupun mengenal keberadaan The Beatles dan lagu-lagu mereka, kecuali Jack Malik (Himesh Patel). Merupakan seorang musisi lokal yang merasa bahwa lagu-lagu yang ia hasilkan tidak akan pernah mampu menarik perhatian khalayak ramai, Jack Malik lantas mulai menyanyikan lagu-lagu milik The Beatles dan mengakui lagu-lagu tersebut sebagai lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Secara perlahan, lagu-lagu The Beatles yang dinyanyikan Jack Malik mulai mendapatkan perhatian banyak orang. Kepopuleran Jack Malik di kotanya lantas menarik perhatian musisi terkenal, Ed Sheeran (Ed Sheeran), yang lantas berniat menjadikan Jack Malik sebagai artis pembuka dalam setiap konsernya. Continue reading Review: Yesterday (2019)

Review: Annabelle Comes Home (2019)

Masih ingat dengan momen ketika pasangan penyelidik masalah-masalah paranormal, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga), membantu dua orang mahasiswi yang merasa kehidupan mereka terganggu oleh sesosok boneka bernama Annabelle yang menjadi adegan pembuka The Conjuring (James Wan, 2013)? WellAnnabelle Comes Home akan berkisah tentang bagaimana kehadiran boneka “berkekuatan mistis” tersebut mempengaruhi kehidupan Ed dan Lorraine Warren serta puteri tunggal mereka, Judy Warren (Mckenna Grace). Berlatar belakang waktu pengisahan satu tahun semenjak Ed dan Lorraine Warren membawa boneka Annabelle untuk disimpan di rumah mereka, Judy Warren merasakan bahwa ada hal-hal aneh yang mulai mengganggu kesehariannya. Gangguan tersebut semakin hebat ketika dirinya ditinggal oleh kedua orangtuanya dan dititipkan pada dua orang gadis remaja, Mary Ellen (Madison Iseman) dan Daniela Rios (Katie Sarife), yang ditugaskan untuk mengasuhnya. Judy Warren, Mary Ellen, dan Daniela Rios harus menemukan cara agar dapat bertahan dari berbagai serangan kekuatan supranatural sembari menunggu kepulangan Ed dan Lorraine Warren. Continue reading Review: Annabelle Comes Home (2019)

Review: Parasite (2019)

Memulai karir pengarahan film layar lebarnya lewat Barking Dogs Never Bite (2000) yang kemudian diikuti dengan lima film lain yang berada di dalam filmografinya, termasuk Memories of Murder (2003), The Host (2006), Mother (2009), dan Okja (2017) – yang seluruhnya mendapatkan kesempatan ditayangkan di Cannes Film Festival – serta debut film berbahasa Inggrisnya, Snowpiercer (2013), yang merupakan film dengan biaya produksi terbesar sekaligus menjadi salah satu film tersukses sepanjang masa di Korea Selatan, tidak terbantahkan nama Bong Joon-ho telah menjadi salah satu ikon sutradara asal Korea Selatan yang paling dicintai sekaligus dihormati baik di negaranya maupun di kalangan penikmat film dari belahan dunia lainnya. Kemampuan Bong dalam memberikan interpretasi mendalam mengenai berbagai isu sosial, budaya, maupun politik yang sedang menghangat dan membalutnya dengan narasi yang kuat baik dalam nada pengisahan drama, thriller, atau fiksi ilmiah menjadikan setiap filmnya begitu mengesankan. Continue reading Review: Parasite (2019)

Review: Doremi & You (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, BW Purbanegara (Ziarah, 2016), bersama dengan Jujur Prananto (Jelita Sejuba, 2018), Doremi & You berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Imung (Fatih Unru), Markus (Toran Waibro), dan Anisa (Nashwa Zahira). Jalinan persahabatan yang terjalin antara keempat pelajar sekolah menengah pertama tersebut mendapatkan sebuah ujian ketika mereka, secara tidak sengaja, menghilangkan uang pembelian jaket kelompok ekstrakurikuler paduan suara di sekolah mereka. Putri lantas mengusulkan pada teman-temannya untuk mengikuti kompetisi menyanyi bertajuk Doremi & You yang cukup terkenal di kalangan muda kota Yogyakarta guna mendapatkan hadiah senilai jutaan rupiah yang nantinya akan digunakan untuk mengganti uang yang telah mereka hilangkan. Dengan bantuan kakak kelas mereka, Reno (Devano Danendra), keempatnya mulai berlatih keras meskipun mendapatkan beberapa halangan dari berbagai masalah pribadi mereka masing-masing. Continue reading Review: Doremi & You (2019)

Review: Toy Story 4 (2019)

Do we need another Toy Story movie? Seri Toy Story jelas merupakan salah satu elemen paling krusial dalam sejarah perjalanan Pixar Animation Studios. Toy Story (John Lasseter, 1995) merupakan film animasi panjang pertama – sekaligus film animasi perdana yang menggunakan teknologi Computer-Generated Imagery secara utuh di Hollywood – yang dirilis oleh rumah produksi yang kini dimiliki oleh Walt Disney Pictures tersebut. Berbeda dengan kebanyakan seri film lain – termasuk beberapa yang juga diproduksi oleh Pixar Animation Studios, seri film Toy Story berhasil digarap dengan kualitas cerita dan produksi yang tampil berkelas secara konsisten. Tidak mengherankan jika trio film Toy Story, Toy Story 2 (Lasseter, 1999), dan Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010) seringkali dinilai sebagai salah satu trilogi film terbaik sepanjang masa serta begitu dicintai oleh para penggemarnya. Tidak mengherankan, ketika Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios mengumumkan bahwa mereka akan melanjutkan kisah petualangan Woody dan rekan-rekan mainannya, banyak penikmat film dunia yang lantas kurang mendukung keputusan tersebut. Continue reading Review: Toy Story 4 (2019)

Review: Men in Black: International (2019)

They’re back! Tujuh tahun semenjak perilisan Men in Black 3 arahan Barry Sonnenfeld, kisah mengenai petualangan para agen rahasia Men in Black yang berpakaian, tentu saja, dalam atribut serba berwarna hitam serta bertugas untuk mengamankan Bumi dari ancaman makhluk angkasa luar kini hadir kembali dalam format pengisahan yang (tidak terlalu) baru. Jika tiga seri Men in Black sebelumnya menghadirkan duo Agent K (Tommy Lee Jones) dan Agent J (Will Smith), Men in Black: International mengalihkan fokusnya pada pasangan agen rahasia baru dengan latar belakang lokasi pengisahan yang baru dan berbeda pula. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Art Marcum dan Matt Holloway yang sebelumnya juga menuliskan naskah cerita untuk film-film seperti Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan Transformers: The Last Knight (Michael Bay, 2017), Men in Black: International, sayangnya, terasa kesulitan untuk memberikan pengisahan yang menarik dan setidaknya mampu mengimbangi kualitas pengisahan tiga film pendahulunya. Hambar. Continue reading Review: Men in Black: International (2019)

Review: X-Men: Dark Phoenix (2019)

Merupakan film ketujuh dan terakhir dari seri film X-Men – sebelum seri film ini nantinya kemungkinan besar akan dibuat, dirombak ulang, dan diikutsertakan dalam tahapan terbaru Marvel Cinematic Universe oleh Walt Disney Pictures setelah rumah produksi tersebut menyelesaikan proses pembelian rumah produksi pemilik seri film X-Men, 20th Century Fox, X-Men: Dark Phoenix adalah sekuel langsung bagi linimasa pengisahan X-Men: Apocalypse (Bryan Singer, 2016). Jalan ceritanya diadaptasi dari seri komik The Dark Phoenix Saga rilisan Marvel Comics yang sebelumnya telah turut menjadi basis pengisahan bagi X-Men: The Last Stand (Brett Ratner, 2006) dan memberikan fokus cerita khusus pada karakter Jean Grey (Sophie Turner). Keberadaan X-Men: Days of Future Past (Singer, 2014) yang linimasa penceritaannya telah menghapus keberadaan alur kisah X-Men: The Last Stand membuka peluang bagi keberadaan adaptasi teranyar untuk kisah The Dark Phoenix Saga yang kini ditangani langsung oleh Simon Kinberg – yang sebelumnya juga bertugas sebagai penulis naskah bagi X-Men: The Last Stand. Continue reading Review: X-Men: Dark Phoenix (2019)

Review: Single Part 2 (2019)

Apakah dunia masih membutuhkan sebuah film lain tentang merananya kehidupan seorang pria melajang yang ditulis, diarahkan, dan dibintangi oleh Raditya Dika? Tema pengisahan tersebut sepertinya menjadi tema wajib bagi Dika di sepanjang karirnya di dunia film – baik ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Dika di Kambing Jantan the Movie (Rudy Soedjarwo, 2009), Cinta Brontosaurus (Fajar Nugros, 2013), Manusia Setengah Salmon (Herdanius Larobu, 2013), Marmut Merah Jambu (Dika, 2014), dan Koala Kumal (Dika, 2016), atau ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Miko di Cinta Dalam Kardus (Salman Aristo, 2013) dan Malam Minggu Miko the Movie (Dika, 2014). Tidak mengherankan. Film-film tersebut memang mampu digarap secara cukup menyenangkan oleh Dika dan kemudian berhasil menarik perhatian penonton dalam jumlah yang tidak sedikit. Film terakhir Dika yang bertema sama – sebelum akhirnya Dika mengeksplorasi tema pengisahan lain dalam tiga film terakhirnya: Hangout (2016), The Guys (2017), dan Target (2018) – Single yang dirilis pada akhir tahun 2015 bahkan masih mampu meraih lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa penayangannya. Continue reading Review: Single Part 2 (2019)