Category Archives: Review

Review: Minari (2020)

Bagi masyarakat Korea, tanaman minari – merupakan tanaman sejenis seledri air yang di Indonesia sering dimakan sebagai lalapan dengan sebutan tespong atau seladren – adalah salah satu jenis sayuran popular yang digunakan sebagai campuran di berbagai panganan khas Korea ataupun dikonsumsi sebagai obat herbal yang kaya akan serat, vitamin, dan mineral yang berguna untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Tidak hanya memiliki banyak kegunaan, tanaman minari juga dikenal sebagai tanaman yang mudah untuk ditanam dan dibudidayakan serta dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun. Berbagai ciri serta manfaat dari tanaman minari, dipadukan dengan berbagai kenangan akan masa kecilnya, yang kemudian menjadi inpirasi bagi penulis sekaligus sutradara Lee Isaac Chung untuk film arahannya, Minari, yang berkisah tentang satu keluarga imigran asal Korea Selatan yang memulai kehidupan baru dan berusaha untuk mewujudkan berbagai impian mereka di tanah Amerika Serikat. Continue reading Review: Minari (2020)

Review: Nomadland (2020)

Menjadi film ketiga yang naskah ceritanya ditulis dan diarahkan oleh Chloé Zhao setelah Songs My Brothers Taught Me (2015) dan The Rider (2017), Nomadland berkisah mengenai seorang perempuan bernama Fern (Frances McDormand) yang setelah kehilangan pekerjaan serta kematian suaminya kemudian memutuskan untuk menjual seluruh harta bendanya, membeli sebuah mobil van, dan hidup serta tinggal di dalam mobil tersebut sembari melakukan perjalanan dan mencari pekerjaan sementara ke berbagai tempat di penjuru negeri. Fern bukanlah orang pertama maupun satu-satunya orang yang melakukan hal tersebut. Dalam perjalanannya, Fern bertemu dengan berbagai wajah dan nama asing yang seperti dirinya juga memutuskan untuk melepaskan “kehidupan normal” mereka dan memilih untuk “hidup di jalanan.” Pilihan hidup yang diambilnya bukannya tanpa konsekuensi. Dalam kesendiriannya, rasa kesepian seringkali mulai merasuk ke benak Fern yang membuatnya merindukan kehadiran almarhum suaminya atau mempertanyakan lagi berbagai pilihan hidup yang telah diambilnya. Continue reading Review: Nomadland (2020)

Review: The Disciple (2020)

Enam tahun setelah merilis debut pengarahan film layar lebarnya yang gemilang melalui Court (2014) – yang tidak hanya mendapatkan pujian sekaligus pengakuan dari banyak kritikus film dunia namun juga berhasil terpilih mewakili India untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film di ajang The 88th Annual Academy Awards – sutradara Chaitanya Tamhane kini kembali dengan film terbarunya, The Disciple. Berfokus pada sosok-sosok karakter yang menekuni musik tradisional India dalam kehidupan mereka, naskah cerita yang ditulis oleh Tamhane dan digarap semenjak tahun 2015 menarik perhatian sutradara Alfonso Cuarón (Roma, 2018) yang kemudian bergabung sebagai produser eksekutif bagi film ini, membantu Tamhane untuk mengembangkan ide cerita dari film arahannya, serta memberikan sejumlah masukan untuk capaian teknikal film. Hasilnya tidak mengecewakan. Terlepas dari keterlibatan Cuarón, Tamhane dengan lugas menunjukkan kemampuan berceritanya yang terasa begitu personal sekaligus kuat dalam menyampaikan setiap titik poin kisahnya. Continue reading Review: The Disciple (2020)

Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Sempat direncanakan rilis di layar bioskop dengan judul Connected pada tahun 2020, The Mitchells vs the Machines adalah film animasi terbaru yang diproduseri oleh Phil Lord dan Christopher Miller yang, tentu saja, dikenal dengan film-film yang mereka arahkan dan produseri sebelumnya seperti Cloudy with a Chance of Meatballs (2009), The LEGO Movie (2014), dan Spider-Man: Into the Spider-Verse (Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman, 2018). Merupakan film animasi yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara Mike Rianda – serta co-director Jeff Rowe yang bersama dengan Rianda menuliskan naskah cerita film, The Mitchells vs the Machines mencoba meneruskan kesuksesan Sony Pictures Animation lewat Spider-Man: Into the Spider-Verse dalam menghadirkan tatanan visual animasi dengan citarasa animasi yang berbeda dari kebanyakan film animasi modern. Untuk film ini, hal tersebut dilakukan dengan menyajikan serta memadukan teknik animasi tradisional dan animasi komputer, memberikan sejumlah sentuhan live-action di beberapa adegan, dan membungkusnya dengan warna-warna terang yang akan dengan segera mencuri perhatian. Berhasil? Continue reading Review: The Mitchells vs the Machines (2021)

Review: Mortal Kombat (2021)

Dirilis pertama kali pada tahun 1992 oleh Midway Games, Mortal Kombat dengan segera meraih popularitas diantara para penikmat permainan video bertema pertarungan – khususnya berkat tampilan grafisnya yang tidak segan mengumbar begitu banyak unsur darah serta kekerasan yang sempat memicu kontroversi dari sejumlah pihak. Popularitasnya tersebut mampu membawa Mortal Kombat menjadi salah satu permainan video bertema pertarungan dengan angka penjualan terbaik di sepanjang sejarah yang kemudian coba diadaptasi dan dikembangkan ke berbagai bentuk media lainnya, mulai dari film, serial televisi, komik, novel, permainan kartu, hingga kompetisi judi secara daring. Adaptasi film layar lebar pertama dari Mortal Kombat sendiri dirilis pada tahun 1995. Meskipun mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari para kritikus film dunia, Mortal Kombat mampu meraih sukses besar secara komersial sekaligus meluncurkan karir dari sutradara Paul W. S. Anderson di Hollywood. Sayang, sekuel arahan John R. Leonetti yang berjudul Mortal Kombat: Annihilation (1997) gagal untuk meraih kesuksesan serupa dan menutup pintu bagi adanya kesempatan untuk adaptasi film layar lebar dari Mortal Kombat selanjutnya. Continue reading Review: Mortal Kombat (2021)

Review: Tersanjung the Movie (2021)

Mengikuti jejak tiga film Si Doel the Movie (2018 – 2020) yang disajikan sebagai lanjutan penceritaan dari serial televisi Si Doel Anak Sekolahan serta Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019) yang diadaptasi dari serial televisi berjudul sama, Tersanjung the Movie menjadi presentasi teranyar dari film Indonesia yang alur kisahnya diadaptasi atau terinspirasi atau melanjutkan cerita dari sebuah serial televisi popular. Ditayangkan pertama kali pada tahun 1998 di saluran Indosiar, serial televisi Tersanjung dengan segera menarik minat jutaan mata penonton, menjadikannya sebagai serial televisi yang paling ditunggu penayangannya setiap minggu, serta, menghantarkan banyak nama pengisi barisan pemerannya seperti Lulu Tobing, Jihan Fahira, Ari Wibowo, Adam Jordan, Jeremy Thomas, hingga Leily Sagita sebagai bintang televisi yang kemudian mengisi sejumlah program televisi popular lainnya. Meskipun kepopulerannya tidak mampu bertahan cukup lama, formula pengisahan yang dihadirkan Tersanjung secara perlahan mulai diikuti oleh banyak serial televisi lain yang diproduksi dan tayang sesudahnya. Continue reading Review: Tersanjung the Movie (2021)

Review: Bad Samaritan (2018)

Bagi para pecinta serial televisi dunia, nama David Tennant tentu tidak akan pernah dapat dilepaskan dari keterlibatannya dalam serial Doctor Who – sebuah seri fiksi ilmiah asal Inggris yang telah mengudara semenjak tahun 1963. Meskipun telah berkarir di dunia akting semenjak akhir tahun 1980an, bahkan pernah turut berperan dalam Harry Potter and the Goblet of Fire (Mike Newell, 2005), nama Tennant baru benar-benar mendapatkan rekognisi luas dari publik dunia ketika ia terpilih sebagai aktor kesepuluh yang memerankan karakter yang dikenal dengan sebutan The Doctor secara regular dalam serial Doctor Who dari tahun 2005 hingga 2010. Selepas Doctor Who, Tennant mengisi resume aktingnya dengan berperan dalam berbagai varian warna karakter untuk sejumlah serial televisi, film, maupun drama panggung. Perannya dalam film Bad Samaritan arahan sutradara Dean Devlin (Geostorm, 2017) mungkin merupakan salah satu pilihan peran yang cukup menarik dalam filmografi akting Tennant. Continue reading Review: Bad Samaritan (2018)

Review: Surga yang Tak Dirindukan 3 (2021)

Danur ternyata bukanlah satu-satunya seri film garapan MD Entertainment yang kini mendapatkan dukungan penampilan dari Marsha Timothy pada departemen aktingnya. Dalam Surga yang Tak Dirindukan 3, Timothy memerankan karakter Meirose yang pada dua seri film sebelumnya, Surga yang Tak Dirindukan (Kuntz Agus, 2015) dan Surga yang Tak Dirindukan 2 (Hanung Bramantyo, 2017), diperankan oleh Raline Shah. Timothy sendiri bukanlah satu-satunya nama baru yang hadir dalam departemen akting film ini. Sejumlah karakter pendukung, seperti karakter Nadia dan Akbar, kini juga diperankan oleh Zara Leola dan Ali Fikry yang menggantikan posisi Sandrinna Michelle Skornicki dan Keefe Bazli Ardiansyah. Reza Rahadian masih turut berakting dalam film ini namun, kejutan!, untuk peran yang berbeda dari seri film sebelumnya. Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Alim Sudio (Layla Majnun, 2021) berdasarkan novel berjudul sama karya Asma Nadia, Surga yang Tak Dirindukan 3 juga menjadi film cerita panjang kedua yang diarahkan oleh Pritagita Arianegara setelah sebelumnya mengarahkan Salawaku (2017). Continue reading Review: Surga yang Tak Dirindukan 3 (2021)

Review: Asih 2 (2020)

Entah sampai kapan MD Pictures dan Pichouse Films akan terus “mengeksploitasi” kisah dari sesosok karakter supranatural bernama Asih yang diangkat dari seri novel garapan Risa Saraswati ini. Film sebelumnya, Asih (Awi Suryadi, 2018) – yang merupakan pengembangan cerita dari semesta pengisahan seri film Danur yang telah dimulai oleh Danur: I Can See Ghosts (2017) dan Danur 2: Maddah (2018) yang keduanya juga diarahkan oleh Suryadi, berupaya untuk memberikan perhatian utama pada sosok karakter supranatural tersebut. Sayangnya, alur cerita, gambaran penokohan, hingga teknik penyajian momen-momen horornya terasa tidak lebih dari sekedar daur ulang dari elemen-elemen cerita yang telah ditampilkan dalam dua film sebelumnya. Meskipun begitu, dirilis di tahun yang sama dengan perilisan Danur 2: Maddah, Asih masih mampu meraih kesuksesan komersial dengan mendapatkan lebih dari 1,7 juta penonton selama masa perilisannya. Tidak mengherankan jika MD Pictures dan Pichouse Films dengan mudah melanjutkan rencana perilisan dari film-film lanjutan dalam semesta pengisahan Danur. Continue reading Review: Asih 2 (2020)

Review: Percy (2020)

Pernah mengarahkan sejumlah episode dari beberapa serial televisi popular seperti Law & Order: Special Victims Unit, The West Wing, Homeland, hingga The Walking Dead serta film-film seperti S.W.A.T. (2003), The Sentinel (2006), dan Juanita (2019), aktor sekaligus sutradara asal Amerika Serikat, Clark Johnson, kembali duduk di kursi penyutradaraan lewat Percy. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Garfield Lindsay Miller (The Last New Year, 2009) dan Hilary Pryor, Percy mencoba menceritakan ulang akan kisah nyata perjuangan seorang petani asal Kanada bernama Percy Schmeiser untuk melawan sebuah perusahaan bioteknologi yang mencoba untuk mengambil alih seluruh hasil pertaniannya. Percy memang tidak menawarkan sebuah pola pengisahan yang benar-benar baru dalam linimasa ceritanya. Namun, lewat pengarahan lugas dari Johnson serta penampilan yang maksimal dari para pangisi departemen akting film ini, Percy cukup mampu bertutur dengan baik dalam menghantarkan pengisahannya yang inspiratif. Continue reading Review: Percy (2020)

Review: The Unholy (2021)

Setelah membantu menuliskan naskah maupun cerita untuk film-film blockbuster seperti The Huntsman: Winter’s War (Cedric Nicolas-Troyan, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), dan Charlie’s Angels (Elizabeth Banks, 2019), penulis naskah Evan Spiliotopoulos melakukan debut pengarahannya lewat film horor The Unholy. Alur ceritanya sendiri dimulai ketika seorang gadis remaja penderita tuli bisu bernama Alice (Cricket Brown) secara tiba-tiba mendapatkan kemampuan mendengar serta berbicara setelah mendapatkan “kunjungan” dari Bunda Maria. Jelas saja, kejadian tersebut segera menghebohkan dunia dan membuat gereja tempat dirinya dirawat oleh Father Hagan (William Sadler) selama ini dianggap menjadi sebuah tempat suci. Keajaiban yang dialami oleh Alice bahkan menarik perhatian seorang mantan jurnalis bernama Gerry Fenn (Jeffrey Dean Morgan) yang biasanya skeptis terhadap ajaran agama untuk meliputnya. Alice bahkan dengan segera menjalin hubungan baik dengan Gerry Fenn dan menjadikannya sebagai sarana untuk menyebarluaskan “pesan-pesan” yang disampaikan oleh Bunda Maria kepada dirinya. Namun, setelah sejumlah keanehan yang terjadi, Gerry Fenn mulai merasa ada yang salah terhadap “ajaran” Bunda Maria yang disampaikan oleh Alice. Continue reading Review: The Unholy (2021)

Review: Barb & Star Go to Vista Del Mar (2021)

They’re back! Setelah meraih sukses lewat Bridesmaids (Paul Feig, 2011) – yang tidak hanya meraih kesuksesan komersial dalam skala besar selama masa perilisannya namun juga berhasil membuahkan nominasi Best Original Screenplay dari ajang The 84th Annual Academy Awards serta kini dianggap sebagai salah satu komedi terbaik sepanjang masa – duo aktris sekaligus penulis naskah, Kristen Wiig dan Annie Mumolo, kembali bekerjasama untuk Barb & Star Go to Vista Del Mar. Jangan terburu-buru mengharapkan film ini untuk mengikuti formula emas yang telah berhasil diterapkan oleh Bridesmaids. Jika Bridesmaids adalah sebuah drama tentang persahabatan antara dua wanita yang disajikan dengan balutan komedi, maka Barb & Star Go to Vista Del Mar menghadirkan elemen komedi akan kisah tentang persahabatan antara dua wanita secara utuh dengan sejumlah sentuhan drama romansa (dan musikal) di sejumlah bagian ceritanya. Komikal, dan sering terasa seperti sebuah sketsa komedi berdurasi panjang, namun Barb & Star Go to Vista Del Mar jelas mampu menjadi sebuah presentasi yang menghibur. Continue reading Review: Barb & Star Go to Vista Del Mar (2021)

Review: Godzilla vs. Kong (2021)

Setelah merilis tiga film – Godzilla (Gareth Edwards, 2014), Kong: Skull Island (Jordan Vogt-Roberts, 2017), dan Godzilla: King of the Monsters (Michael Dougherty, 2019) – dua karakter utama dalam semesta pengisahan MonsterVerse milik Legendary Entertainment, Godzilla dan Kong, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbagi layar sekaligus linimasa penceritaan lewat Godzilla vs. Kong. Godzilla vs. Kong sendiri bukanlah kali pertama bagi kedua karakter monster tersebut untuk berada dalam satu film yang sama. Toho Studios pernah memproduksi dan merilis King Kong vs. Godzilla arahan Ishirō Honda di tahun 1962 yang turut menjadi inspirasi bagi penuturan kisah film ini. Seperti tiga film sebelumnya, film ini berhasil menawarkan sajian pertunjukan yang mengeksplorasi kualitas tata audio maupun visual secara maksimal. Di saat yang bersamaan, lewat arahan Adam Wingard (Death Note, 2017) atas naskah cerita yang ditulis oleh Eric Pearson (Thor: Ragnarok, 2017) dan Max Borenstein – yang menjadi penulis naskah bagi tiga film dalam seri MonsterVerse sebelumnya, Godzilla vs. Kong berhasil dihadirkan dengan kualitas cerita yang lebih padat dan lebih memikat. Continue reading Review: Godzilla vs. Kong (2021)