Category Archives: Review

Review: It Chapter Two (2019)

Dengan linimasa cerita yang berlatar belakang waktu pengisahan pada 27 tahun sejak berbagai teror yang dikisahkan dalam It (Andy Muschietti, 2017), penuturan kisah It Chapter Two dimulai ketika Bill Denbrough (James McAvoy), Ben Hanscom (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richie Tozier (Bill Hader), Stanley Uris (Andy Bean), dan Eddie Kaspbrak (James Ransone) mendapatkan telepon dari Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) yang memperingatkan bahwa teror Pennywise the Dancing Clown (Bill Skarsgård) telah kembali di kota Derry yang sekali lagi ditandai dengan menghilangnya banyak anak-anak di kota tersebut secara misterius. Sesuai dengan janji yang dahulu telah mereka buat, ketujuh anggota Losers’ Club tersebut kemudian berkumpul kembali untuk kemudian saling memutar otak dan menemukan cara yang ampuh untuk melenyapkan teror serta keberadaan Pennywise the Dancing Clown untuk selamanya. Continue reading Review: It Chapter Two (2019)

Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Bahkan semenjak merilis film layar lebar pertama yang diarahkannya, Reservoir Dogs (1992), Hollywood beserta seluruh isi dan pemujanya telah mengetahui bahwa Quentin Tarantino memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan setiap kisah yang ingin diceritakannya. Pilihan untuk menggunakan barisan dialog yang cenderung padat, adegan bernuansa kekerasan yang dieksekusi dengan kesan yang begitu nyata, struktur cerita yang seringkali jauh dari kesan teratur, hingga penggunaan lagu-lagu yang banyak berasal dari era ‘60an hingga ‘70an untuk mengisi banyak adegan filmnya memang membuat film-film arahan Tarantino tidak mudah diakses oleh kalangan penikmat film dalam skala yang lebih besar. Namun, di saat yang bersamaan, kejeniusan Tarantino dalam menggarap setiap filmnya telah membuat berbagai elemen pengisahan yang cenderung tidak biasa tersebut menjadi sebuah ciri khas yang mendorong nama Tarantino untuk dikenal sebagai salah satu sutradara dengan filmografi paling mengesankan di Hollywood. Well… kualitas filmografi yang mengesankan tersebut semakin solid dengan kehadiran film terbarunya, Once Upon a Time in… Hollywood. Continue reading Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Review: Ready or Not (2019)

Meskipun memiliki judul yang berkesan cukup generik, Ready or Not sebenarnya menawarkan sebuah konsep ketegangan yang menyenangkan dalam alur pengisahan horor yang dibawakannya. Merupakan film panjang kedua yang diarahkan oleh duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett setelah Devil’s Due (2014), Ready or Not memulai penceritaannya dengan pesta pernikahan yang dilangsungkan oleh pasangan Alex (Mark O’Brien) dan Grace (Samara Weaving). Alex dan Grace memang saling mencintai satu sama lain namun latar belakang Grace yang berasal dari kalangan masyarakat ekonomi menengah membuat kehadirannya kurang disukai oleh beberapa anggota keluarga Alex yang memang memiliki harta kekayaan melimpah. Sebagai salah satu bentuk usahanya untuk merebut hati keluarga Alex, Grace setuju untuk ikut serta dalam salah satu tradisi turun temurun di malam pengantin dimana dirinya bersama dengan seluruh anggota keluarga Alex memainkan sebuah permainan yang akan dipilih sendiri oleh Grace. Sebuah tradisi kekeluargaan yang menyenangkan? Tidak ketika Grace secara acak kemudian memilih untuk memainkan sebuah permainan yang dapat mengancam nyawa siapapun yang turut serta didalamnya. Continue reading Review: Ready or Not (2019)

Review: Twivortiare (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015), bersama dengan penulis naskah Alim Sudio (Makmum, 2019) berdasarkan novel Divortiare dan Twivortiare karya Ika Natassa, Twivortiare adalah romansa yang berkisah tentang kehidupan percintaan dari pasangan Beno Wicaksono (Reza Rahadian) dan Alexandra Rhea (Raihaanun). Dua tahun setelah pernikahan mereka, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea memutuskan untuk bercerai setelah merasa lelah dengan berbagai konflik dan pertengkaran yang terus mewarnai keseharian mereka. Perceraian ternyata tidak lantas menghilangkan rasa cinta, sayang, maupun kekaguman yang terbentuk antara keduanya. Secara perlahan, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea berusaha belajar lagi tentang satu sama lain yang kemudian berlanjut dengan pernikahan kembali antara kedua pasangan muda tersebut. Mencoba menjadi dewasa dan berusaha untuk saling mengerti memang bukanlah sikap yang mudah dilakukan. Dalam pernikahan keduanya, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea masih saja menemukan berbagai konflik dan rintangan yang coba menghalangi perjalanan hubungan mereka. Continue reading Review: Twivortiare (2019)

Review: Gundala (2019)

We’ve all been here before. Kisah tentang seseorang yang awalnya merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna lalu secara perlahan mulai menemukan kekuatan yang lantas digunakannya untuk membela dan/atau membantu orang-orang lain yang merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna untuk keluar dari kesulitan mereka. Kali ini, kisah familiar tersebut dituturkan oleh Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) lewat Gundala – sebuah film yang juga dicanangkan sebagai langkah awal bagi keberadaan jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super di industri film Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Gundala memperkenalkan penonton pada sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampiri: mulai dari usaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki serta orang-orang yang kemudian mulai merasa terganggu dengan keberadaan kekuatan tersebut. Pola pengisahan yang cukup mendasar bagi film-film sejenis namun jelas akan tetap mampu terasa menarik ketika diaplikasikan dalam ruang lingkup cerita yang memiliki latar belakang lokasi dan budaya yang lebih dekat dengan penonton lokal. Continue reading Review: Gundala (2019)

Review: Angel Has Fallen (2019)

Menyusul kesuksesan Olympus Has Fallen (Antoine Fuqua, 2013) dan London Has Fallen (Babak Najafi, 2016) – yang secara mengejutkan berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$350 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$130 juta, kisah petualangan agen rahasia Mike Banning (Gerard Butler) berlanjut dalam Angel Has Fallen. Kini diarahkan oleh Ric Roman Waugh (Snitch, 2013), Angel Has Fallen masih setia mengikuti pakem penceritaan yang telah diterapkan pada dua film sebelumnya. Dikisahkan, dalam salah satu perjalanan wisatanya, President Alan Trumbull (Morgan Freeman) mendapatkan serangan bersenjata yang membunuh hampir seluruh anggota pasukan pengamanannya – hanya Mike Banning yang selamat dari serangan tersebut. Mike Banning dan President Alan Trumbull lantas dirawat dalam keadaan koma akibat serangan yang mereka terima. Belum selesai masa penyembuhan, posisinya sebagai satu-satunya anggota pasukan pengamanan presiden yang berhasil selamat justru memancing kecurigaan dari Federal Bureau of Investigation bahwa Mike Banning terlibat dalam sebuah rencana untuk membunuh sang presiden. Sadar bahwa dirinya sedang dijebak, Mike Banning lantas melarikan diri guna mengumpulkan berbagai bukti bahwa dirinya tidak bersalah sekaligus menemukan siapa sosok yang bertanggungjawab dibalik penjebakan dirinya. Continue reading Review: Angel Has Fallen (2019)

Review: Exit (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Lee Sang-geun, Exit berkisah mengenai nasib sial yang dialami oleh seorang pemuda bernama Yong-nam (Cho Jung-seok) setelah beberapa tahun menyelesaikan masa kuliah, Yong-nam masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak untuk dirinya dan kini harus menggantungkan hidup pada kedua orangtuanya. Kondisi tersebut sering membuat Yong-nam merasa rendah diri dan bahkan dipandang sebelah mata oleh keluarga serta orang-orang di sekitarnya. Pada saat malam perayaan ulang tahun ibunya, Hyeon-ok (Go Doo-shim), Yong-nam secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Eui-joo (Im Yoon-ah), mantan rekan kuliah Yong-nam yang sama-sama menggemari olahraga panjat tebing dan sempat merasa jatuh hati padanya. Pertemuan tersebut menginspirasi Yong-nam untuk merebut kembali perhatian Eui-joo. Sial, alih-alih mampu mendapat kesempatan untuk mendekati Eui-joo, Yong-nam dan keluarganya harus berusaha menyelamatkan diri ketika sebuah serangan gas beracun datang dan mengancam kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya. Continue reading Review: Exit (2019)

Review: The Angry Birds Movie 2 (2019)

Tiga tahun semenjak perilisan The Angry Birds Movie (Clay Kaytis, Fergal Reilly, 2016) – yang meskipun gagal mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus film namun tetap berhasil mengumpulkan pendapatan komersial yang cukup lumayan – Sony Pictures Animation kini merilis sekuelnya, The Angry Birds Movie 2. Merupakan debut pengarahan bagi sutradara Thurop Van Orman dan John Rice, jalan cerita The Angry Birds Movie 2 masih mengedepankan petualangan tiga burung, Red (Jason Sudeikis), Chuck (Josh Gad), dan Bomb (Danny McBride), yang kini sering menjadi garda terdepan bagi keamanan Bird Island dari serangan Piggy Island yang dipimpin oleh King Leonard (Bill Hader). Namun, sikap permusuhan yang selama ini terbentuk antara para penghuni kedua pulau tersebut sirna dan secara perlahan menjadi saling bekerjasama ketika mereka sama-sama mendapatkan ancaman dari Zeta (Leslie Jones), pimpinan Eagle Island yang lantas melancarkan serangan guna merebut dan menguasai kedua pulau tersebut. Continue reading Review: The Angry Birds Movie 2 (2019)

Review: Perburuan (2019)

Seperti halnya Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019), Perburuan adalah sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Jika Bumi Manusia memuat kisah yang berlatarbelakang masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Perburuan menghadirkan ceritanya pada momen-momen terakhir penjajahan Jepang di tanah Indonesia. Fokus penceritaannya sendiri berada pada karakter Hardo (Adipati Dolken), seorang mantan pemimpin peleton Pembela Tanah Air yang bersama dengan rekan-rekan yang sepemikiran dengannya kemudian melakukan pemberontakan demi menuntut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Sial, usaha pemberontakan tersebut mendapatkan pengkhianatan dan gagal terlaksana. Tentara Jepang jelas tidak tinggal diam. Hardo dan rekan-rekannya diburu dan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Hardo berhasil melarikan diri. Selama beberapa waktu, Hardo terus berlari dan mengasingkan dirinya dari keramaian. Bukan perkara mudah. Kesendirian diri dan rasa rindu pada sosok orang-orang yang dicintai secara perlahan mulai membuat Hardo kehilangan akal sehatnya. Continue reading Review: Perburuan (2019)

Review: Bumi Manusia (2019)

Merupakan buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan dari tahun 1980 hingga tahun 1988, Bumi Manusia mungkin merupakan salah satu buku paling popular – dan paling penting – di dunia kesusastraan Indonesia. Pelarangan terbit dan edar yang diberlakukan pemerintah Republik Indonesia terhadap buku tersebut dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan Komunisme pada tahun 1981 hingga masa jatuhnya rezim Orde Baru tidak pernah mampu meredupkan kepopulerannya. Bumi Manusia bahkan mendapatkan perhatian khalayak internasional dan kemudian diterbitkan dalam 33 bahasa. Usaha untuk menterjemahkan narasi Bumi Manusia dari bentuk buku menjadi tatanan pengisahan audio visual sendiri telah dimulai semenjak tahun 2004 dan sempat melibatkan nama-nama sineas kenamaan Indonesia seperti Deddy Mizwar, Garin Nugroho, hingga Mira Lesmana dan Riri Riza. Langkah nyata untuk membawa Bumi Manusia ke layar lebar akhirnya benar-benar terwujud pada tahun 2018 ketika Falcon Pictures mengumumkan bahwa rumah produksi tersebut akan memproduksi film adaptasi Bumi Manusia dengan Hanung Bramantyo (Sultan Agung, 2018) bertindak sebagai sutradara.

Continue reading Review: Bumi Manusia (2019)

Review: Makmum (2019)

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Alim Sudio (Kuntilanak 2, 2019) dan Vidya Talisa Ariestya berdasarkan film pendek berjudul sama karya Riza Pahlevi, Makmum berkisah tentang Rini (Titi Kamal) yang diminta oleh kepala asrama tempat dirinya dahulu menuntut ilmu, Kinanti (Jajang C. Noer), kembali dan membantunya di asrama tersebut. Sesampainya disana, Rini bertemu dengan kepala asrama baru, Rosa (Reny Yuliana), dan tiga siswi, Nurul (Tissa Biani), Nisa (Bianca Hello), dan Putri (Adila Fitri), yang tidak diperbolehkan keluar dari asrama selama masa liburan akibat nilai mereka yang rendah. Dari penuturan ketiga siswi tersebut, Rini mengetahui bahwa para penghuni asrama tersebut belakangan sering diganggu oleh sosok supranatural yang disebut sebagai Hantu Makmum karena keberadaannya muncul saat mereka sedang melaksanakan ibadah shalat. Setelah usahanya untuk menyampaikan masalah tersebut pada Rosa ditanggapi dengan dingin, Rini kini berusaha mencari solusi sendiri agar ketiga siswi tersebut tidak lagi mendapatkan gangguan. Continue reading Review: Makmum (2019)

Review: The Divine Fury (2019)

Sukses dengan Midnight Runners (2017) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film namun juga, secara mengejutkan, mampu meraih kesuksesan komersial dan menjadi salah satu film Korea Selatan tersukses pada tahun perilisannya, sutradara Kim Joo-hwan dan aktor Park Seo-joon kembali berkolaborasi dalam The Divine Fury. Seperti halnya Midnight Runners, Kim masih mengedepankan nada pengisahan aksi pada The Divine Fury meskipun kali ini sajian aksi tersebut dihadirkan dalam balutan penceritaan horor. Lewat naskah cerita film yang juga digarapnya sendiri, Kim terasa berusaha ingin menciptakan tata cerita layaknya Constantine (Francis Lawrence, 2005) dengan memadukan elemen-elemen horor dari film-film seperti The Exorcist (William Friedkin, 1973) dan Stigmata (Rupert Wainwright, 1999). Menarik – walau, di saat yang bersamaan, Kim masih kurang mampu memaksimalkan berbagai potensi dari paduan aksi dan horor yang telah dirancangnya. Continue reading Review: The Divine Fury (2019)

Review: Mahasiswi Baru (2019)

Merupakan film arahan Monty Tiwa keempat yang dirilis tahun ini setelah Matt & Mou, Pohon Terkenal, dan Pocong the Origin, Mahasiswi Baru berkisah mengenai seorang wanita bernama Lastri (Widyawati) yang berusaha mewujudkan impiannya untuk berkuliah. Dengan usianya yang kini tidak lagi muda, hasrat Lastri tersebut jelas mendapat tentangan dari anaknya, Anna (Karina Suwandi). Lastri memilih untuk mengacuhkan tentangan sang anak dan lantas mendaftarkan dirinya ke sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Sama dengan reaksi yang didapatkannya dari Anna, kehadiran sosok Lastri yang memiliki usia jauh lebih tua dari para mahasiswa di perguruan tinggi tersebut juga menghasilkan tatapan aneh dan menjadi perbincangan banyak pihak. Beruntung, semangat Lastri dalam menjalani mimpinya tidak luntur begitu saja. Lastri bahkan berhasil membentuk jalinan persahabatan erat dengan Danny (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa) yang semakin membuat masa perkuliahan Lastri semakin menyenangkan. Namun, ketika dirinya gagal untuk meraih nilai yang memuaskan pada semester pertamanya berkuliah, Lastri harus menghadapi ancaman akan dikeluarkan dari dekan fakultasnya, Chaerul Umam (Slamet Rahardjo). Continue reading Review: Mahasiswi Baru (2019)