Category Archives: Review

Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Can you believe there are actually five Academy Awards winnersWell yes of course that includes Sir Elton John – appear to support this sequel to 2015’s Matthew Vaughn-directed hit, Kingsman: The Secret Service? Bukan hal yang cukup mengejutkan sebenarnya. Dengan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$414 juta dari bujet produksi yang “hanya” mencapai US$94 juta, Vaughn jelas memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menarik nama-nama berkelas untuk mengisi departemen akting film kedua dari seri film Kingsman, Kingsman: The Golden Circle. Namun, tentu saja, penampilan akting terbaik sekalipun tidak akan cukup jika sebuah film tidak didukung oleh kualitas penulisan naskah cerita yang sama kuatnya. Hal itulah yang, sayangnya, terjadi pada Kingsman: The Golden Circle. Menampilkan penampilan apik dari nama-nama seperti Colin Firth, Julianne Moore, Jeff Bridges dan Halle Berry, Kingsman: The Golden Circle tidak mampu untuk tampil semenyenangkan film pendahulunya akibat kurangnya sentuhan maupun kejutan baru pada formula pengisahan film mata-mata yang digarap oleh Vaughn. Continue reading Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Advertisements

Review: Midnight Runners (2017)

Berkisah mengenai sepasang siswa akademi kepolisian yang terlibat dalam pengungkapan sebuah kasus kriminal dan disajikan dalam warna pengisahan komikal, Midnight Runners sekilas terdengar sebagai sebuah interpretasi dari 21 Jump Street (Phil Lord, Chris Miller, 2012). Tidak sepenuhnya salah. Namun, berbeda dengan film yang dibintangi Channing Tatum dan Jonah Hill tersebut, Midnight Runners secara tidak terduga turut menyertakan beberapa bagian pengisahan yang cukup terasa kelam dalam penceritaannya. And there’s absolutely nothing wrong with that. Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Kim Joo-Hwan (Koala, 2013) sekaligus mengandalkan chemistry yang luar biasa hangat dan sangat meyakinkan dari dua pemeran utamanya, Park Seo-joon dan Kang Ha-neul, Midnight Runners berhasil tampil sebagai sebuah buddy cop movie yang tidak hanya menghibur namun juga mampu memberikan beberapa komentar sosial yang kuat dalam presentasinya. Continue reading Review: Midnight Runners (2017)

Review: Petak Umpet Minako (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Billy Christian berdasarkan novel berjudul sama karya @manhalfgod – No, seriously. – Petak Umpet Minako berkisah mengenai pertemuan kembali seorang gadis bernama Vindha (Regina Rengganis) dengan teman-temannya di masa sekolah pada hari reuni mereka. Vindha sendiri bukanlah sosok yang populer diantara teman-temannya. Semasa sekolah dahulu, ia bahkan seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh beberapa pelajar lain. Berbekal penampilannya yang telah berubah semenjak berkuliah di Jepang, Vindha kini mampu melepas imejnya terdahulu sebagai seorang gadis penyendiri yang lugu. Gadis itu bahkan berhasil meyakinkan teman-temannya untuk turut bermain dalam sebuah permainan petak umpet a la Jepang yang dikenal dengan sebutan Hitori Kakurenbo ketika mereka mengunjungi gedung sekolah mereka. Sial, permainan yang melibatkan ritual pemanggilan arwah tersebut kemudian berakhir sebagai bencana ketika mereka yang terlibat dalam permainan tersebut satu demi satu ditemukan tak bernyawa lagi. Continue reading Review: Petak Umpet Minako (2017)

Review: It (2017)

Another week, another Stephen King’s adaptation. Wellnot really. Namun tahun 2017 jelas merupakan salah satu tahun yang menyenangkan bagi para penikmat tulisan-tulisan King. Tidak kurang dari enam karya penulis asal Amerika Serikat tersebut mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi menjadi serial dan film di sepanjang tahun ini: David E. Kelley (Big Little Lies, 2017) mengadaptasi Mr. Mercedes menjadi sebuah serial televisi yang tayang di saluran Audience, Netflix memproduksi The Mist sebagai serial serta Gerald’s Game dan 1922 dalam bentuk film yang tayang di layanan streaming mereka sementara para penonton film bioskop mendapatkan kesempatan untuk menikmati adaptasi The Dark Tower dan It. Berbeda dengan The Dark Tower yang baru pertama kali diadaptasi ke media audio visual maka versi film dari It akan menjadi kali kedua bagi novel tersebut setelah sebelumnya sempat diangkat – dan begitu populer – sebagai sebuah miniseri pada tahun 1990. Continue reading Review: It (2017)

Review: Baby Driver (2017)

Sebuah film aksi komedi dimana sang karakter utama merupakan seorang pria dewasa yang memiliki nama panggilan Baby mungkin terdengar jauh dari kesan meyakinkan. Namun, dengan pendekatan cerita yang begitu imajinatif dari Edgar Wright – sutradara asal Inggris yang filmografinya diisi oleh film komedi tentang para mayat hidup (Shaun of the Dead, 2004), film komedi tentang pasangan polisi (Hot Fuzz, 2007), film komedi yang diadaptasi dari sebuah novel grafis (Scott Pilgrim vs. the World, 2010), dan film komedi tentang bagaimana para selebritis Hollywood menghadapi kiamat (The World’s End, 2013), Baby Driver mampu dikembangkan menjadi sebuah pendekatan baru dari penceritaan heist movie yang melibatkan banyak adegan balapan mobil yang mungkin telah terasa melelahkan setelah kehadiran delapan film dalam seri The Fast and the Furious (2001 – 2017). Pengarahan kuat dan cerdas dari Wright itulah yang kemudian berhasil membuat film ini tampil begitu menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Baby Driver (2017)

Review: An Inconvenient Sequel: Truth to Power (2017)

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat dari tahun 1993 – 2001 – dan kemudian kalah dari George H. W. Bush pada pemilihan presiden yang diikutinya di tahun 2000, nama Albert Arnold Gore Jr., atau yang lebih akrab dengan sapaan Al Gore,  tidak lantas menghilang begitu saja dari perhatian publik dunia. Melepas karirnya di dunia politik, Gore kemudian memilih untuk menjadi seorang penulis sekaligus aktivis lingkungan hidup yang berfokus pada masalah perubahan iklim dunia akibat pemanasan global – kegiatan yang lantas memenangkannya Penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 2007. Continue reading Review: An Inconvenient Sequel: Truth to Power (2017)

Review: American Made (2017)

Sukses berkolaborasi lewat Edge of Tomorrow (2014), Tom Cruise kembali berada di bawah pengarahan sutradara Doug Liman untuk film American Made. Dalam film yang jalan ceritanya berlatarbelakang di tahun 1970an ini, Cruise berperan sebagai Barry Seal – seorang mantan pilot maskapai penerbangan Trans World Airlines yang kemudian bekerjasama dengan Kartel Medellín asal Kolombia untuk menyelundupkan narkotika dan obat-obatan terlarang dari negara-negara Amerika Selatan ke wilayah Amerika Serikat. Setelah beberapa waktu, aktivitas Barry Seal akhirnya tercium oleh pemerintah Amerika Serikat. Alih-alih menahan dan memasukkan Barry Seal ke penjara, pihak Gedung Putih justru mengajak Barry Seal untuk bekerjasama dalam mengumpulkan bukti keterlibatan pemerintah Nikaragua dengan Kartel Medellín yang kemudian dapat digunakan Amerika Serikat untuk membentuk propaganda terhadap pemerintahan negara tersebut. Continue reading Review: American Made (2017)

Review: Amityville: The Awakening (2017)

Ditulis dan diarahkan oleh Franck Khalfoun (Maniac, 2012), Amityville: The Awakening adalah film horor kesembilan belas – keenam yang diproduksi dan kemudian tayang di layar lebar – yang mendasarkan kisahnya pada legenda mengenai sebuah rumah berhantu yang berada di Amityville, New York, Amerika Serikat, dan pernah menjadi lokasi terjadinya sebuah tragedi pembunuhan massal di tahun 1974. Amityville: The Awakening sendiri menghadirkan sebuah penceritaan (fiksi) baru yang berbeda dengan pengisahan yang dihadirkan dalam The Amityville Horror (Stuart Rosenberg, 1979) maupun versi remake (Andrew Douglas, 2005) yang dibintangi oleh Ryan Reynolds – yang sama-sama popular dan sempat direferensikan dalam salah satu adegan film ini. Premis mengenai kisah horor di sebuah rumah berhantu legendaris mungkin terdengar menjanjikan. Namun, sayangnya, Khalfoun adalah seorang pencerita yang buruk dan kemudian gagal untuk menghadirkan presentasi horor yang menarik maupun menakutkan. Continue reading Review: Amityville: The Awakening (2017)

Review: The Dark Tower (2017)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stephen King – dan merupakan salah satu dari lima tulisan King yang tahun ini diadaptasi menjadi film layar lebar dan serial televisi, The Dark Tower berkisah mengenai seorang anak laki-laki bernama Jake Chambers (Tom Taylor) yang mengalami serangkaian mimpi dimana ia dapat menyaksikan seorang penembak yang berusaha menghentikan usaha seorang pria berpakaian hitam dalam meruntuhkan sebuah menara yang selama ini dipercaya memiliki kekuatan untuk mencegah kekuatan jahat mengganggu kehidupan di dunia. Melalui petunjuk-petunjuk yang ia dapatkan dalam mimpinya itu pula, Jake Chambers kemudian berhasil menemukan pintu gerbang berteknologi tinggi yang membawanya berpindah ke sebuah dunia yang dikenal dengan sebutan Mid-World. Disana, Jake Chambers akhirnya bertemu dengan sang penembak yang bernama Roland Deschain (Idris Elba) dan menceritakan bahwa dunia sedang berada dibawah ancaman seorang penyihir bernama Walter Padick (Matthew McConaughey) yang bersama dengan pasukannya sedang berusaha untuk menyebarkan kekuatan kegelapan di dunia. Continue reading Review: The Dark Tower (2017)

Review: Atomic Blonde (2017)

Charlize Theron is a badass who loves to kick asses. Semenjak namanya mulai meraih perhatian banyak perhatian – sekaligus berhasil memenangkan Academy Awards sebagai Best Actress in a Leading Role – ketika memerankan sosok pembunuh berantai bernama Aileen Wuornos dalam Monster (Patty Jenkins, 2003), yang dilanjutkan dengan memerankan karakter pejuang wanita bernama Æon Flux dalam Æon Flux (Karyn Kusama, 2005), hingga kemudian mencuri perhatian sepenuhnya dari Tom Hardy ketika dirinya berperan sebagai Imperator Furiousa dalam Mad Max: Fury Road (George Miller, 2016), para penikmat film dunia tahu bahwa Theron adalah sosok aktris yang gemar untuk memerankan karakter-karakter wanita kuat sekaligus tangguh dalam menghadapi berbagai konflik yang merintanginya. Kegemarannya tersebut kini berlanjut dalam Atomic Blonde – sebuah film aksi yang diproduseri oleh Theron bersama dengan produser film John Wick (Chad Stahelski, 2014), David Leitch, yang kali ini juga membuat debut pengarahan film layar lebarnya. Continue reading Review: Atomic Blonde (2017)

Review: Bad Genius (2017)

Masih ingat dengan The Perfect Score (Brian Robbins, 2004)? Film yang dibintangi Chris Evans dan Scarlett Johansson tersebut berkisah mengenai sekelompok remaja yang berusaha mencuri lembar jawaban dari materi ujian Scholastic Assessment Test agar mereka dapat diterima di universitas pilihan mereka masing-masing. Well… kisah yang hampir serupa kini dituturkan oleh Bad Genius, sebuah drama remaja arahan Nattawut Poonpiriya yang sebelumnya sukses menyutradarai film horor berjudul Countdown (2012) yang sempat terpilih untuk mewakili Thailand untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language di ajang The 86th Annual Academy Awards. Meskipun memiliki premis pengisahan yang terdengar serupa, Bad Genius adalah sebuah presentasi cerita yang berbeda jika dibandingkan dengan The Perfect Score. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Poonpiriya bersama dengan Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna, Bad Genius dikemas sebagai sebuah drama dengan sentuhan banyak momen-momen cerdas nan menegangkan yang akan sanggup menghipnotis setiap penontonnya. Jelas tampil kuat sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Continue reading Review: Bad Genius (2017)

Review: The Battleship Island (2017)

Terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di masa penjajahan Jepang atas Korea pada tahun 1910 – 1945, The Battleship Island berkisah mengenai 400 orang warga Korea yang dibawa – sebagian besar dengan cara paksa – oleh pasukan Jepang untuk bekerja di sebuah tambang batubara yang terletak di Hashima Island, Jepang. Di sana, para warga Korea tersebut diharuskan untuk bekerja secara terus menerus dengan upah yang sangat rendah – kaum pria bertugas untuk menggali lapisan batubara sementara kaum wanita dijadikan sebagai penghibur bagi para tentara Jepang. Tidak tahan dengan perlakuan kasar dan semena-mena dari pihak Jepang, beberapa orang pekerja mulai menyusun rencana dan strategi untuk dapat melawan para tentara Jepang dan keluar dari pulau tersebut. Dan ketika mereka mendengar kabar bahwa pihak militer Jepang mulai mengalami kesulitan dan kekalahan dari perang mereka terhadap tentara sekutu – yang berasal dari Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet dan Republik Tiongkok, pada saat itu pula mereka tahu kalau mereka harus segera bersatu untuk dapat meraih momen kemerdekaan hidup mereka. Continue reading Review: The Battleship Island (2017)

Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Dua bulan setelah perilisan Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2017) – yang dirilis dua bulan setelah kesuksesan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – aktor muda, Jefri Nichol, kembali hadir dalam sebuah film drama remaja berjudul A: Aku, Benci & Cinta. Juga menghadirkan penampilan aktris Amanda Rawles – yang turut mendampingi Nichol dalam Jailangkung dan Dear Nathan – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Rizki Balki ini berkisah mengenai konflik percintaan yang membelit para karakter-karakter remajanya. Of course. Namun, berbeda dengan film-film remaja sepantarannya, A: Aku, Benci & Cinta berusaha menghadirkan lebih banyak lapisan pengisahan dengan balutan komedi yang cukup kental dalam presentasi ceritanya. Berhasil? Continue reading Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)