Category Archives: Review

Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)

Diarahkan oleh Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, 2016), Mars Met Venus adalah sebuah presentasi cerita yang mungkin terlihat sederhana namun sebenarnya memiliki tekad yang cukup ambisius. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Nataya Bagya (3 Dara, 2015) ini ingin bertutur mengenai perjalanan romansa antara dua orang karakter untuk kemudian mengeksplorasi lebih dalam hubungan romansa tersebut dari kacamata masing-masing karakter. Hal inilah yang membuat Mars Met Venus dibagi dalam dua bagian penceritaan: Mars Met Venus (Part Cewe) akan bercerita dari sudut pandang karakter wanita sementara Mars Met Venus (Part Cowo), tentu saja, nantinya akan berkisah dalam sudut pandang sang karakter pria. Pendekatan cerita yang jelas tidak biasa dan cukup menyegarkan namun apakah Ratu mampu mengeksekusi kedua bagian pengisahan menjadi sajian cerita yang sama-sama kuat sekaligus menarik? Continue reading Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)

Advertisements

Review: The Doll 2 (2017)

Merupakan sekuel dari The Doll arahan Rocky Soraya yang dirilis pada akhir tahun lalu, The Doll 2 berkisah mengenai dilema rumah tangga yang dialami pasangan Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) setelah keduanya kehilangan puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen), dalam sebuah kecelakaan. Rasa kesedihan mendalam yang dirasakan Maira seringkali membuatnya merasa bahwa Kayla masih belum benar-benar pergi dari kehidupannya. Kondisi tersebut secara perlahan membuat hubungan pernikahan Maira dan Aldo menjadi renggang. Atas saran sang sahabat, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba untuk berkomunikasi kepada Kayla dengan menggunakan medium boneka kesayangan puterinya. Walau merasa ritual yang ia jalankan bersama Elsa belum selesai dan gagal, Maira kemudian mulai merasakan berbagai gangguan supranatural menghampiri dirinya. Di saat yang bersamaan, Maira juga merasa bahwa kekuatan supranatural tersebut mencoba memberitahunya mengenai penyebab kematian Kayla yang sebenarnya. Continue reading Review: The Doll 2 (2017)

Review: Baywatch (2017)

Diadaptasi dari serial televisi legendaris berjudul sama – Yes. Baywatch. Yes. THAT Baywatch. – yang awalnya mengudara selama satu dekade semenjak tahun 1989, Baywatch berkisah mengenai kehidupan para penjaga pantai di Emerald Bay, Florida, Amerika Serikat. Dipimpin oleh Lieutenant Mitch Buchanon (Dwayne Johnson), pasukan penjaga pantai yang terdiri dari Matt Brody (Zac Efron), Summer Quinn (Alexandra Daddario), C. J. Parker (Kelly Rohrbach), Ronnie (Jon Bass), Stephanie Holden (Ilfenesh Hadera) tersebut menghadapi masalah besar ketika mereka menemukan obat-obatan terlarang serta mayat di pantai yang mereka awasi. Meski telah diingatkan atasan mereka, Don Thorpe (Rob Huebel), dan pihak kepolisian bahwa kasus tersebut tidak berada di wilayah kekuasaan para penjaga pantai namun Lieutenant Mitch Buchanon bersikeras untuk tetap mencari tahu misteri apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Penyelidikan yang dilakukan Lieutenant Mitch Buchanon akhirnya memberikan petunjuk mengenai keterlibatan seorang pengusaha bernama Victoria Leeds (Priyanka Chopra) dalam tindakan kriminal tersebut. Continue reading Review: Baywatch (2017)

Review: Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017)

Sebagai sebuah sekuel, Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody memiliki perjalanan yang cukup sederhana sebelum akhirnya memasuki masa produksi. Diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul sama karya Dee Lestari, Filosofi Kopi the Movie arahan Angga Dwimas Sasongko “hanya” mampu meraih sekitar dua ratus ribu penonton ketika dirilis pada tahun 2015 lalu. Namun, meskipun dengan raihan penonton yang tergolong minimalis tersebut, Sasongko berhasil meracik sebuah film yang mampu memberikan kesan yang begitu mendalam bagi banyak penontonnya – sekaligus memenangkan dua penghargaan di ajang Festival Film Indonesia. Sasongko dan para kreator Filosofi Kopi the Movie juga giat dan cerdas menjaga sekaligus meningkatkan minat publik pada film mereka dengan berbagai cara, mulai dari membuka sebuah coffee shop bernama Filosofi Kopi di Jakarta, pelaksanaan sayembara pembuatan cerita sekuel bagi Filosofi Kopi the Movie hingga membuat sebuah webseries berjudul Filosofi Kopi the Series: Ben & Jody yang diunggah di saluran YouTube milik Visinema Pictures dan hingga kini telah ditonton lebih dari satu juta kali. Continue reading Review: Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017)

Review: Despicable Me 3 (2017)

Do we really need another Despicable Me movie? Well… apapun jawabannya, dengan raihan komersial yang mencapai lebih dari US$2.6 miliar dari perilisan dua seri Despicable Me (Pierre Coffin, Chris Renaud, 2010 – 2013) sebelumnya plus sebuah film subseri berjudul Minions (Coffin, Kyle Balda, 2015), Illumination Entertainment jelas akan terus melanjutkan perjalanan seri film ini. Masih diarahkan oleh pasangan sutradara yang sama, Coffin dan Renaud, serta dengan naskah cerita yang juga masih ditulis oleh Cinco Paul dan Ken Daurio yang telah menggarap naskah cerita seri film ini semenjak awal, produk teranyar dari seri animasi Despicable Me, Despicable Me 3, masih menawarkan deretan formula pengisahan yang telah cukup familiar bagi penggemar seri film ini. Does it still work? Yes. Despicable Me 3 masih mampu menawarkan hiburan (dan sentuhan emosional) di beberapa bagiannya. Namun, secara keseluruhan, cukup sulit untuk memberikan apresiasi lebih bagi film ini ketika kesuksesan-kesuksesan minor tersebut lebih sering hadir dari repetisi guyonan atau adegan dari film terdahulu daripada hasil pengolahan cerita baru yang lebih segar. Continue reading Review: Despicable Me 3 (2017)

Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Spider-Man: Homecoming adalah usaha terbaru dari Columbia Pictures untuk memberikan penyegaran (sekaligus mempertahankan) seri film Spider-Man dalam daftar rilisan rumah produksi tersebut. Hal ini bukanlah kali pertama Columbia Pictures melakukannya. Dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2014, rumah produksi milik Sony Pictures Entertainment tersebut merilis dwilogi The Amazing Spider-Man garapan Marc Webb yang dimaksudkan sebagai reboot bagi trilogi Spider-Man arahan Sam Raimi yang berhasil meraih sukses besar ketika dirilis dari tahun 2002 hingga 2007. Sayangnya, baik The Amazing Spider-Man maupun The Amazing Spider-Man 2 gagal untuk meraih kesuksesan yang sama besarnya dengan trilogi Spider-Man milik Raimi. Belajar dari “kesalahan” tersebut, Columbia Pictures lantas memilih untuk turut melibatkan langsung Marvel Studios dalam pembuatan Spider-Man: Homecoming – sebuah kerjasama yang dimulai dengan kehadiran sang manusia laba-laba pada Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016). Penampilan singkat Spider-Man dalam Captain America: Civil War memang berhasil mencuri perhatian tapi apakah keberadaan Marvel Studios mampu memberikan dorongan positif bagi performa Spider-Man dalam film tunggalnya? Continue reading Review: Spider-Man: Homecoming (2017)

Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Masih ingat dengan Surat Kecil untuk Tuhan (Harris Nizam, 2011)? Well… walau memiliki kesamaan judul, versi terbaru dari Surat Kecil untuk Tuhan yang diarahkan oleh Fajar Bustomi (Romeo + Rinjani, 2015) ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan maupun kesamaan garis penceritaan dengan film yang berhasil meraih tiga nominasi di ajang Festival Film Indonesia di tahun 2011 tersebut. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Upi – yang juga menjadi penulis naskah cerita bagi film Sweet 20 (Ody C. Harahap) yang dirilis di waktu yang sama dengan film ini, Surat Kecil untuk Tuhan menawarkan deretan konflik maupun karakter yang berbeda bagi para penontonnya. Tidak lagi menghadirkan alur kisah tentang seorang gadis remaja yang sedang berjuang untuk melawan penyakit yang ia derita, Surat Kecil untuk Tuhan kini bercerita tentang perjuangan seorang adik yang berusaha untuk menemukan sang kakak setelah guratan nasib secara tragis memisahkan mereka berdua. Sebuah perubahan yang cukup radikal dan cukup menyegarkan meskipun pengarahan Bustomi sayangnya tidak selalu berhasil membuat film ini mampu untuk menyentuh hati para penontonnya. Continue reading Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Review: Insya Allah Sah (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015) berdasarkan buku yang berjudul sama karya Achi TM, Insya Allah Sah berkisah tentang pertemuan yang tidak disengaja antara Silvi (Titi Kamal) dengan Raka (Pandji Pragiwaksono) ketika mereka terjebak di dalam sebuah lift yang sedang bermasalah. Dalam kepanikannya, Silvi lantas bernazar bahwa jika ia dapat keluar dengan selamat maka ia akan berubah menjadi sosok muslimah yang lebih taat akan aturan dan perintah Tuhan. Tidak lama setelah ia mengucapkan nazar tersebut, pintu lift pun terbuka dan Silvi dapat bertemu kembali dengan kekasihnya, Dion (Richard Kyle). Kejadian tersebut bahkan mendorong Dion untuk segera melamar Silvi. Tanpa disangka-sangka, Raka, seorang sosok pemuda yang lugu dan religius, kemudian menghubungi Silvi dan terus mengingatkannya akan nazar yang telah ia ucapkan. Dorongan Raka agar Silvi segera menjalankan nazarnya secara perlahan mulai mengganggu kehidupan Silvi dan rencana pernikahannya dengan Dion. Continue reading Review: Insya Allah Sah (2017)

Review: Sweet 20 (2017)

Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya. Continue reading Review: Sweet 20 (2017)

Review: Jailangkung (2017)

“Jelangkung. Jelangkung. Disini ada pesta kecil-kecilan. Datang tak dijemput. Pulang tak diantar.” Masih ingat dengan mantra tersebut? Mantra tersebut sempat menjadi barisan kalimat yang begitu popular di kalangan masyarakat Indonesia setelah kesuksesan fenonemal yang diraih oleh film horor arahan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo, Jelangkung (2001). Tidak hanya berhasil untuk menarik perhatian penikmat film Indonesia untuk datang dan menyaksikannya di bioskop, kesuksesan Jelangkung bahkan mampu “menginspirasi” para produser film Indonesia lainnya untuk memproduksi puluhan (ratusan?) film horor lainnya untuk dirilis ke pasar film nasional – yang secara perlahan kemudian membuat layar bioskop Indonesia didominasi oleh judul-judul horor selama bertahun-tahun. Jelangkung sendiri kemudian diikuti oleh tiga film berikutnya yang berada dalam seri film tersebut: dua buah sekuel berjudul Tusuk Jelangkung (Dimas Djayadiningrat, 2003) dan Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko) serta sebuah subseri berjudul Angkerbatu (Poernomo, 2007). Continue reading Review: Jailangkung (2017)

Review: Tubelight (2017)

Setelah meraih sukses besar lewat Bajrangi Bhaijaan (2015) – yang dengan pendapatan komersial sebesar US$97 juta kini menempati posisi sebagai film produksi Bollywood dengan raihan pendapatan terbesar kelima sepanjang masa di dunia  – sutradara Kabir Khan dan aktor Salman Khan kembali bekerjasama dalam Tubelight. Juga menjadi film kedelapan Khan yang dirilis pada masa libur Idulfitri semenjak memulai tradisi tersebut lewat Wanted (Prabhu Deva, 2009), Tubelight memiliki pengisahan yang jelas sangat sesuai dengan kondisi sosial banyak lapisan masyarakat dunia saat ini. Suatu kondisi sosial dimana prasangka seringkali memicu keberadaan konflik antara kelompok yang satu dengan yang lain. Tema penceritaan yang mulia namun, sayangnya, seringkali gagal tersampaikan dengan baik justru akibat penampilan akting sang pemeran utamanya. Continue reading Review: Tubelight (2017)

Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Yes. It’s Transformers bish! Mahakarya garapan Michael Bay yang telah menemani penikmat film dunia selama sepuluh tahun terakhir ini kembali hadir dengan seri terbarunya, Transformers: The Last Knight. Tentu saja, bagi sebagian penonton, memori mereka akan sebuah film Transformers diisi dengan deretan adegan kekacauan yang melibatkan banyak robot yang seringkali sukar untuk diidentifikasi, karakter-karakter manusia dengan pengisahan yang terbatas serta sosok wanita dengan penampilan fisik yang cukup memanjakan mata. Namun, bagi sebagian penonton lainnya, Transformers merupakan seri film yang secara konsisten menghadirkan sajian aksi yang memikat dengan bantuan tata efek visual yang begitu memukau – walau mereka tetap tidak akan mampu membantah lemahnya kualitas penulisan naskah cerita dalam setiap seri film ini. Lalu bagaimana dengan seri kelima – dan dikabarkan akan menjadi seri terakhir Transformers di bawah pengarahan Bay – ini? Apakah akan mampu mengubah pendapat mereka yang terlanjur merasa antipati dengan seri film ini? Continue reading Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Review: The Disappointments Room (2016)

Setelah meninggalnya anak kedua mereka, pasangan David (Mel Raido) dan Dana (Kate Beckinsale) bersama dengan putera merea, Lucas (Duncan Joiner), memilih untuk pindah dari kehidupan perkotaan mereka ke sebuah rumah besar yang berada di pinggiran kota. Pilihan yang diambil untuk memberikan sebuah nafas baru bagi pernikahan keduanya tersebut awalnya berjalan lancar. Dana yang merupakan seorang arsitek disibukkan dengan kegiatan pembenahan rumah baru sementara David akan bertugas untuk mengawasi Lucas. Namun, ketika Dana menemukan adanya sebuah ruang tersembunyi di rumah mereka, berbagai kejadian aneh mulai menghampiri dan mengancam kehidupan ketiganya. Sounds kinda familiar eh? Continue reading Review: The Disappointments Room (2016)