Category Archives: Review

Review: Ammonite (2020)

Selepas kesuksesannya dalam mengarahkan God’s Own Country (2017) yang menandai debut pengarahan film layar lebarnya, Francis Lee kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk Ammonite. Dengan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, Ammonite memiliki latar belakang waktu pengisahan pada tahun 1840an dan bertutur tentang sekelumit konflik dalam kehidupan pakar peneliti fosil kenamaan asal Inggris, Mary Anning (Kate Winslet). Di era dimana kaum perempuan masih sering dianggap sebagai warga kelas dua, kepopuleran nama Mary Anning sebagai seorang paleontologis tidak memberikan banyak dukungan pada kondisi keuangannya. Hal ini yang lantas menyebabkan Mary Anning tidak mampu menolak tawaran dari seorang ahli geologi yang juga pengagum dirinya, Roderick Murchison (James McArdle), untuk menjaga sang istri, Charlotte Murchison (Saoirse Ronan), dengan imbalan yang menggiurkan selama dirinya bertugas untuk beberapa minggu. Awalnya, Mary Anning menganggap kehadiran Charlotte Murchison akan menggaggu keseharian kerjanya. Namun, secara perlahan, kedua wanita yang berasal dari dua dunia yang berbeda tersebut mulai menemukan perhatian yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Continue reading Review: Ammonite (2020)

Review: Hillbilly Elegy (2020)

Nama J. D. Vance serta judul memoar yang ditulisnya, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis, yang bercerita tentang masa kecilnya memang tidak begitu familiar di telinga orang-orang di luar negara Amerika Serikat. Namun, ketika dirilis pada tahun 2016 lalu – berdekatan dengan masa pemilihan presiden di Amerika Serikat, buku garapan Vance mendapatkan banyak sorotan akan pengisahannya mengenai kaum hillbilly yang dikenal sebagai sekelompok masyarakat Amerika Serikat berkulit putih yang sering dinilai konservatif serta memiliki watak dan perangai keseharian yang keras. Banyak pihak yang menilai penggambaran yang dilakukan Vance tentang kaum hillbilly dalam memoar yang ditulisnya dihadirkan secara dangkal. Terlepas dari berbagai sorotan dan kontroversi, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis berhasil meraih sukses secara komersial, menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di tahun 2016 dan 2017, mempopulerkan nama Vance, dan, tentu saja, dilirik oleh Hollywood untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Continue reading Review: Hillbilly Elegy (2020)

Review: Happiest Season (2020)

Empat tahun setelah merilis The Intervention (2016) yang menjadi debut pengarahan film layar lebarnya, aktris sekaligus penulis naskah Clea DuVall kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Happiest Season, sebuah drama komedi romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan aktris Mary Holland – yang turut ambil bagian mengisi departemen akting film ini. Para penikmat film-film sejenis mungkin tidak akan menemukan sebuah struktur pengisahan yang bernilai baru maupun istimewa yang ditawarkan DuVall dalam filmnya. Meskipun begitu, olahan cerita dari DuVall dan Holland tentang usaha untuk mencintai jati diri sendiri agar dapat menghadirkan ruang yang tepat bagi rasa cinta yang dimiliki untuk orang lain (All hail, RuPaul!) menjadi bahasan yang cukup menawan dan emosional. Continue reading Review: Happiest Season (2020)

Review: The Personal History of David Copperfield (2019)

Diadaptasi dari novel legendaris karangan Charles Dickens, The Personal History, Adventures, Experience and Observation of David Copperfield the Younger of Blunderstone Rookery (Which He Never Meant to Publish on Any Account) – atau yang lebih popular dengan judul sederhananya, David Cooperfield, The Personal History of David Copperfield bercerita tentang perjalanan hidup dari seorang pemuda bernama David Copperfield (Dev Patel). Setelah ibunya (Morfydd Clark) meninggal dunia, David Copperfield melarikan diri dari sang ayah tiri, Edward Murdstone (Darren Boyd), yang selalu berlaku kasar pada dirinya. Beruntung, David Copperfield memiliki pasangan paman dan bibi, Mr. Dick (Hugh Laurie) dan Betsey Trotwood (Tilda Swinton), yang masih mau menerima dan memperlakukannya dengan baik. Mr. Dick dan Betsey Trotwood bahkan mengirim David Cooperfield untuk bersekolah agar pemuda tersebut dapat memiliki kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Continue reading Review: The Personal History of David Copperfield (2019)

Review: Run (2020)

Wajar jika Diane Sherman (Sarah Paulson) bersikap begitu overprotektif terhadap putri semata wayangnya, Chloe Sherman (Kiera Allen). Diane Sherman melahirkan putrinya dalam kondisi prematur – sebuah kondisi yang hampir saja merenggut nyawa sang anak sekaligus memberikannya penyakit bawaan yang membuat jantung, darah, serta tulangnya tidak dapat berfungsi secara normal. Terlepas dari berbagai kelemahan kondisi fisik tersebut, Diane Sherman mampu membesarkan anaknya layaknya anak-anak kebanyakan. Bahkan, di usia yang kini menginjak 17 tahun, Chloe Sherman tengah bersiap untuk meninggalkan sang ibu guna melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Namun, kecurigaan muncul pada diri Chloe Sherman setelah ia menemukan sebuah obat yang sebenarnya diresepkan pada sang ibu diberikan kepadanya. Kecurigaan tersebut secara perlahan menimbulkan berbagai pertanyaan pada diri Chloe Sherman tentang berbagai perbuatan yang selama ini dilakukan oleh sang ibu kepada dirinya. Continue reading Review: Run (2020)

Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Jika film animasi Seoul Station (Yeon Sang-ho, 2016) memiliki peran untuk mengisahkan berbagai hal yang terjadi sebelum deretan konflik yang diceritakan dalam Train to Busan (2016), Peninsula – atau yang dirilis di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan judul Train to Busan Presents: Peninsula – memiliki latar belakang waktu pengisahan empat tahun setelahnya. Meskipun berada dalam semesta pengisahan yang sama, namun, seperti halnya Seoul Station, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Yeon bersama dengan Park Joo-suk ini tampil sebagai kisah yang berdiri sendiri dan tidak memiliki keterikatan konflik maupun karakter dengan Train to Busan. Yeon dan Park juga sepertinya merancang Train to Busan Presents: Peninsula untuk memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang berbeda. Masih berfokus pada deretan ketegangan akan usaha melarikan diri dari kejaran kumpulan mayat hidup, tentu saja, namun Train to Busan Presents: Peninsula disajikan dengan tatanan aksi yang lebih intens dan maksimal. Continue reading Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Review: Roh (2019)

Malaysia menghadirkan citarasa horor yang berbeda lewat Roh – sebuah film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Emir Ezwan. Berbeda dengan rekan-rekan sepantarannya yang seringkali hadir dengan nuansa horor yang meledak-ledak – mulai dari lampiran adegan-adegan penghasil kejutan, tata suara dan musik yang cenderung berisik, hingga plot bernada relijius yang cukup kental – Roh tampil… well… minimalis. Ezwan sepertinya mendapatkan inspirasi dari film-film horor modern seperti The VVitch (Robert Eggers, 2015), The Wailing (Na Hong-jin, 2016), atau Hereditary (Ari Aster, 2018) yang memang lebih mengedepankan atmosfer kelam daripada berusaha memberikan kejutan demi kejutan dalam tiap adegan kepada penontonnya. Didukung oleh kemampuan pengarahan Ezwan yang begitu dominan, Roh menjelma menjadi sajian horor yang efektif dalam menghantui setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: Roh (2019)

Review: Quo Vadis, Aida? (2020)

Ditulis dan diarahkan oleh sutradara asal Bosnia, Jasmila Žbanić, yang sebelumnya sempat memenangkan penghargaan Golden Bear di ajang The 56th Berlin International Film Festival lewat filmnya Grbavica: The Land of My Dreams (2006), Quo Vadis, Aida? memiliki latar belakang waktu pengisahan pada saat musim panas di Bosnia pada tahun 1995 ketika tentara Serbia memasuki kota Srebrenica dan memulai masa pendudukannya. Karakter utama film ini bernama Aida (Jasna Đuričić), seorang guru yang kini bertugas sebagai penterjemah bagi para petugas Persatuan Bangsa-bangsa yang ditempatkan di daerah rawan perang tersebut. Kota Srebrenica sendiri awalnya telah ditetapkan sebagai wilayah aman yang berarti tidak boleh dijadikan lahan pertempuran oleh seluruh pihak yang sedang berperang. Namun, serbuan tentara Serbia yang berniat untuk melakukan pembersihan etnis non-Serbia di lokasi tersebut jelas menimbulkan kepanikan yang mendalam, termasuk kepada Aida yang kemudian berusaha untuk melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan suami dan kedua puteranya. Continue reading Review: Quo Vadis, Aida? (2020)

Review: True Mothers (2020)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Mizuki Tsujimura, film terbaru arahan sutradara asal Jepang, Naomi Kawase (Vision, 2018), ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang karena kondisi dan keadaannya kemudian menjadi sosok seorang ibu. True Mothers dimulai dengan kisah pasangan Satoko (Hiromi Nagasaku) dan Kiyokazu Kurihara (Arata Iura) yang setelah sekian tahun menikah namun masih belum mampu untuk memiliki anak. Keduanya lantas memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dengan bantuan sebuah agensi adopsi yang dipimpin oleh Shizue Asami (Miyoko Asada), pasangan tersebut dipertemukan dengan Hikari Katakura (Aju Makita), seorang remaja berusia 14 tahun yang memutuskan untuk menyerahkan anak hasil kehamilannya untuk diadopsi. Proses adopsi tersebut berjalan lancar. Namun, enam tahun setelah mengadopsi anak yang diberi nama Asato Kurihara (Reo Sato) tersebut, Satoko menerima telepon dari Hikari Katakura yang menginginkan agar anaknya dikembalikan padanya. Continue reading Review: True Mothers (2020)

Review: The Boys in the Band (2020)

Mereka yang menyaksikan film The Boys in the Band versi teranyar rilisan Netflix jelas dapat merasakan bagaimana banyak bagian dari alur cerita film ini terasa cukup usang jika dibandingkan dengan film-film bertema serupa yang dirilis pada beberapa tahun terakhir. Mengulik seputar kehidupan kaum homoseksual di kota New York, Amerika Serikat, The Boys in the Band mendasarkan kisahnya pada sebuah drama panggung berjudul sama garapan Mart Crowley yang ditampilkan untuk pertama kali pada tahun 1968 – suatu era dimana kaum homoseksual masih belum diterima keberadaannya oleh khalayak luas di Amerika Serikat. Dengan tema cerita yang saat itu masih dinilai kontroversial dan belum banyak diangkat untuk konsumsi publik luas, drama panggung The Boys in the Band ternyata mampu menarik banyak perhatian sekaligus mencetak sukses besar selama masa pementasannya. Hollywood lantas mencoba untuk menterjemahkan kesuksesan tersebut melalui sebuah adaptasi film layar lebar yang diarahkan William Friedkin yang dirilis pada tahun 1970. Continue reading Review: The Boys in the Band (2020)

Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Tim Hill – yang sebelumnya bertugas sebagai penulis naskah bagi The SpongeBob SquarePants Movie (2004), The SpongeBob Movie: Sponge on the Run menghadirkan sebuah petualangan baru bagi SpongeBob SquarePants, Patrick Star, serta rekan-rekannya dari Bikini Bottom. Dikisahkan, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan Patrick Star (Bill Fagerbakke) melakukan perjalanan ke Lost City of Atlantic City untuk menyelamatkan Gary the Snail (juga diisisuarakan oleh Kenny) yang telah diculik oleh King Poseidon (Matt Berry). Jelas bukan sebuah petualangan mudah. Selain harus bersiap untuk menghadapi King Poseidon dan pasukannya, SpongeBob SquarePants dan Patrick Star juga harus menghadapi berbagai tantangan lain dalam perjalanan mereka menuju Lost City of Atlantic City. Beruntung, kedua sahabat tersebut kemudian mendapatkan bimbingan dari Sage (Keanu Reeves) serta rekan-rekan mereka dari Bikini Bottom, Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Mr. Krabs (Clancy Brown), dan Plankton (Mr. Lawrence), yang segera menyusul SpongeBob SquarePants dan Patrick Star setelah mengetahui jika keduanya sedang berada dalam masalah. Continue reading Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Review: Charter (2020)

Ditulis dan diarahkan oleh sutradara asal Swedia, Amanda Kernell, Charter berupaya untuk menggambarkan sebuah proses perceraian serta berbagai konflik yang mengikutinya. Ketika Alice (Ane Dahl Torp) menyadari bahwa hak asuh kedua anaknya, Elina (Tintin Poggats Sarri) dan Vincent (Troy Lundkvist), akan jatuh ke tangan mantan suaminya, Mattias (Sverrir Gudnason), Alice kemudian memilih untuk mengajak kedua anaknya tersebut untuk berliburan. Bukan sebuah pilihan yang bijaksana dan jelas merupakan tindakan yang melanggar hukum mengingat Mattias sama sekali tidak mengetahui tentang rencana liburan tersebut. Namun, Alice benar-benar menginginkan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Di saat yang bersamaan, Alice juga ingin menggunakan waktu liburan tersebut untuk meyakinkan Elina dan Vincent bahwa mereka dapat memilih untuk tinggal bersama ibu mereka. Continue reading Review: Charter (2020)

Review: His House (2020)

Sepasang suami istri pindah ke sebuah rumah dengan segala rencana untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Sayang, kepindahan keduanya justru disambut dengan berbagai teror yang secara perlahan mulai mengusik hubungan keduanya. Premis yang terdengar tidak asing? Tunggu dulu. Merupakan debut pengarahan bagi sutradara asal Inggris, Remi Weekes, His House menawarkan barisan mimpi buruk akan sebuah rumah berhantu yang bertujuan lebih dari sekedar untuk menakut-nakuti para penontonnya. Lewat naskah cerita yang digarap Weekes berdasarkan ide cerita dari Felicity Evans dan Toby Venables, His House juga memberikan galian mendalam nan emosional tentang trauma dari masa lampau, duka akan kehilangan sosok kesayangan, hingga berbagai ketakutan dalam menghadapi sebuah lingkungan baru. Capaian yang membuat His House menjadi salah satu rilisan horor paling mengesankan di sepanjang tahun ini. Continue reading Review: His House (2020)