Category Archives: Review

Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Malang benar nasib Marlina (Marsha Timothy). Setelah kematian janin bayi yang sedang dikandungnya kini wanita asal Sumba tersebut harus hidup sebatang kara setelah suaminya turut meninggal dunia – dengan mayat sang suami yang telah diawetkan masih terbujur kaku di ruang tamu rumah akibat ketidakmampuan Marlina membiayai ritual upacara pemakaman. Nasib buruk tidak berhenti disana. Sekelompok pria yang dipimpin oleh Markus (Egi Fadly) yang berperawakan tinggi besar datang ke rumah Marlina dan berencana untuk mengambil seluruh harta benda miliknya. Oh. Sekumpulan pria tersebut juga berencana untuk memperkosa Marlina secara bergantian selepas makan malam. Namun, walau dengan penampilan yang tenang dan terkesan lemah, Marlina menolak untuk menyerah begitu saja. Berbekal sebilah parang dan olahan sup ayam yang menjadi menu andalannya, Marlina bertekad untuk membuat Markus dan gerombolannya menyesal telah melangkahkan kaki mereka ke rumah Marlina hari itu. Continue reading Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Advertisements

Review: Jigsaw (2017)

Sebelum film-film horor supranatural seperti Paranormal Activity (Oren Peli, 2009) atau Insidious (James Wan, 2010) atau The Conjuring (Wan, 2013) mengambil alih Hollywood, para penikmat horor dunia terlebih dahulu telah merasakan teror dari film-film bertema torture porn – sebutan untuk film-film yang mengedepankan adegan kekerasan dan penyiksaan fisik maupun mental para karakternya – yang dipopulerkan oleh film Saw yang juga dikreasikan oleh Wan bersama aktor Leigh Whannell. Begitu popularnya Saw ketika dirilis pertama kali pada tahun 2004, enam sekuel film tersebut kemudian secara regular mengisi minggu perayaan Halloween di Amerika Serikat hingga tahun 2010. Dan, tentu saja, kesuksesan seri film Saw menginspirasi deretan rumah produksi Hollywood (dan dunia) untuk memproduksi film-film bertema sama. Continue reading Review: Jigsaw (2017)

Review: My Generation (2017)

It’s a tale as old as time: Kisah mengenai para anak manusia yang sedang beranjak dewasa dan berusaha untuk menemukan jati diri mereka namun kemudian menyadari bahwa dunia berada di pihak yang berlawanan dengan mereka. Sebuah bahasan klasik yang sebenarnya pernah disinggung oleh sutradara film ini, Upi, dalam beberapa film yang ia garap sebelumnya seperti Realita Cinta dan Rock’n’Roll (2005) dan Radit dan Jani (2008). Lewat My Generation, Upi ingin membawa penontonnya untuk berkenalan dengan Generasi Z – meskipun film ini melabeli mereka dengan sebutan generasi milenial – atau yang disebut juga dengan iGeneration karena kedekatan dan keakraban generasi ini dengan teknologi internet dalam kehidupan keseharian mereka. Meskipun dengan konflik maupun pengembangan plot pengisahan yang cenderung sederhana, observasi Upi atas sebuah generasi yang ia presentasikan lewat film ini mampu tampil menyenangkan dan begitu mengikat. Continue reading Review: My Generation (2017)

Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Diadaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul sama karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni berkisah mengenai hubungan asmara antara dua orang dosen, Pingkan (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Sebelum Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, Sarwono meminta bantuan gadis tersebut untuk menemaninya menyelesaikan sebuah tugas di kota Manado, Sulawesi Utara – yang juga merupakan kota kelahiran Pingkan. Kepulangan Pingkan kembali ke kampung halamannya jelas disambut dengan senang hati oleh keluarganya. Namun, di saat yang bersamaan, kedatangan Pingkan juga disambut oleh sepupu tirinya, Benny (Baim Wong), yang semenjak lama telah menaruh hati pada Pingkan. Ditambah dengan deretan pertanyaan yang hadir dari keluarga Pingkan mengenai perbedaan kepercayaan yang mereka nilai tidak dapat menyatukan Pingkan dengan dirinya, membuat Sarwono mulai mempertanyakan kekuatan hubungan asmara yang ia jalin selama ini. Continue reading Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Review: Thank You for Your Service (2017)

Diadaptasi dari sebuah buku berjudul sama karya David Finkel, Thank You for Your Service yang juga merupakan debut pengarahan bagi penulis naskah Jason Hall (American Sniper, 2014) berkisah mengenai bagaimana buruknya perlakuan pemerintah (dan masyarakat?) Amerika Serikat terhadap veteran perang mereka. Jalan ceritanya sendiri difokuskan pada tiga karakter tentara, Staff Sergeant Adam Schumann (Miles Teller), Specialist Tausolo Aieti (Beulah Koale), dan Billy Waller (Joe Cole), yang baru saja kembali pulang ke Amerika Serikat setelah menghabiskan masa hampir setahun ditempatkan pada wilayah konflik di negara Irak. Tidak hanya ketiganya harus berusaha keras untuk menyesuaikan diri kembali pada sebuah lingkungan kehidupan “normal,” ketiga tentara tersebut juga masih dihantui perasaan bersalah atas kematian rekan mereka, Sergeant First Class James Doster (Brad Beyer), di medan perang. Walau awalnya tampak tegar dan berusaha untuk mendukung satu sama lain namun rasa depresi mulai melanda ketiganya yang secara perlahan kemudian mulai menghancurkan hubungan mereka dengan orang-orang yang (seharusnya) mereka cintai. Continue reading Review: Thank You for Your Service (2017)

Review: Flatliners (2017)

Meskipun dibintangi oleh nama-nama besar seperti Kevin Bacon, Julia Roberts – merupakan film pertamanya setelah meraih kesuksesan besar lewat Pretty Woman (Garry Marshall, 1990) – dan Kiefer Sutherland serta sukses meraih sejumlah pendapatan komersial, film fiksi ilmiah arahan Joel Schumacher yang berjudul Flatliners (1990) gagal untuk mendapatkan simpati dari kritikus film dunia. Deretan pengisi departemen aktingnya memang berhasil menuai pujian namun plot pengisahannya yang bermasalah membuat Flatliners gagal untuk tampil lebih maksimal. Kini, 27 tahun setelah perilisannya, Sony Pictures merilis versi daur ulangnya yang kini diarahkan oleh Niels Arden Oplev (The Girl with the Dragon Tattoo, 2009). Tidak banyak yang berubah dari tatanan pengisahannya dan, dengan pengisi departemen akting yang gagal untuk menyamai kualitas penampilan departemen akting Flatliners milik Schumacher, versi terbaru dari Flatliners turut tenggelam dalam presentasinya. Continue reading Review: Flatliners (2017)

Review: Beyond Skyline (2017)

Keputusan Greg dan Colin Strause – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Brothers Strause – untuk memproduksi dan merilis film fiksi ilmiah arahan mereka yang berjudul Skyline di tahun 2010 sempat membuat berang Sony Pictures. Bagaimana tidak. Rumah produksi milik Brothers Strause, Hydraulx Filmz, saat itu sedang dipekerjakan oleh Sony Pictures untuk membuat sebuah film fiksi ilmiah berjudul World Invasion: Battle Los Angeles (Jonathan Liebesman, 2011) yang, seperti halnya Skyline, juga berkisah tentang invasi para makhluk luar angkasa ke Bumi. Walau ricuh pada awalnya, setelah melalui beberapa proses hukum, Brothers Strause dan Sony Pictures akhirnya sepakat untuk berdamai serta melanjutkan proyek mereka masing-masing. Baik Skyline dan World Invasion: Battle Los Angeles sendiri sama-sama mendapatkan penilaian buruk dari para kritikus film dunia ketika masa rilisnya – meskipun keduanya kemudian cukup berhasil dalam menarik perhatian penonton dan meraup sejumlah keuntungan komersial. Continue reading Review: Beyond Skyline (2017)

Review: Secret Superstar (2017)

Sukses dengan Dangal (Nitesh Tiwari, 2016), Aamir Khan kembali berkolaborasi dengan produser Kiran Rao untuk memproduksi Secret Superstar. Merupakan debut pengarahan bagi Advait Chandan – yang juga merupakan mantan manajer bagi Khan, Secret Superstar berkisah mengenai kehidupan seorang gadis bernama Insia Malik (Zaira Wasim) yang berasal dari sebuah kota kecil bernama Baroda di Gujarat, India, dan bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Walau sang ibu, Najma Malik (Meher Vij), mendukung penuh mimpinya, namun sang ayah, Farookh Malik (Raj Arjun), yang memiliki pola pemikiran konservatif serta sering berlaku abusif, melarang keras Insia Malik untuk terlibat dalam segala kegiatan yang dinilainya tidak berguna. Atas saran sang ibu, Insia Malik lantas mengunggah rekaman video bernyanyi dirinya ke YouTube namun tetap dengan menyembunyikan wajah dan identitas aslinya. Tidak disangka, rekaman-rekaman video milik Insia Malik secara perlahan mulai memberikannya popularitas. Popularitas tersebut kemudian menarik perhatian seorang produser kenamaan, Shakti Kumar (Khan), yang berniat untuk mengajaknya rekaman. Namun, tentu saja, Insia Malik harus menghadapi hadangan sang ayah yang jelas menentang keras mimpi puterinya tersebut. Continue reading Review: Secret Superstar (2017)

Review: Posesif (2017)

Diarahkan oleh Edwin (Kebun Binatang, 2012) dalam film yang menandai kali pertama film arahannya tayang secara luas di pelbagai jaringan bioskop komersial Indonesia, Posesif merupakan sebuah drama romansa remaja yang berkisah mengenai hubungan percintaan antara Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken). Lala, seorang siswi cerdas yang juga seorang atlet loncat indah berprestasi, langsung terkesan dengan perkenalannya dengan Yudhis yang merupakan seorang siswa baru di sekolahnya. Dalam waktu singkat, Lala dan Yudhis tak lagi dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hubungannya dengan Yudhis bahkan secara perlahan membuat Lala menarik diri dari sesi latihan loncat indahnya bersama sang ayah yang juga merupakan pelatihnya (Yayu Unru) sekaligus mengurangi waktu yang ia habiskan bersama dua sahabatnya, Ega (Gritte Agatha) dan Rino (Chicco Kurniawan). Namun, seiring dengan pertambahan usia hubungannya dengan Yudhis, Lala mulai menemukan sisi gelap dari kepribadian Yudhis yang membuatnya terjebak dalam sebuah hubungan yang tak dapat dihindarinya. Continue reading Review: Posesif (2017)

Review: Thor: Ragnarok (2017)

Masih ingat dengan Thor: The Dark World (Alan Taylor, 2013)? Well… tidak akan ada yang menyalahkan jika Anda telah melupakan sepenuhnya mengenai jalan cerita maupun pengalaman menonton dari sekuel perdana bagi film yang bercerita tentang Raja Petir dari Asgard tersebut. Berada di bawah arahan Taylor yang mengambil alih kursi penyutradaraan dari Kenneth Branagh, Thor: The Dark World harus diakui memang gagal untuk melebihi atau bahkan menyamai kualitas pengisahan film pendahulunya. Tidak berniat untuk mengulang kesalahan yang sama, Marvel Studios sepertinya berusaha keras untuk memberikan penyegaran bagi seri ketiga Thor, Thor: Ragnarok: mulai dari memberikan kesempatan pengarahan pada sutradara Taika Waititi yang baru saja meraih kesuksesan lewat dua film indie-nya, What We Do in the Shadows (2014) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), menghadirkan naskah cerita yang menjauh dari kesan kelam, hingga memberikan penampilan-penampilan kejutan dalam presentasi filmnya. Berhasil? Mungkin. Continue reading Review: Thor: Ragnarok (2017)

Review: Only the Brave (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ken Nolan (Transformers: The Last Knight, 2017) dan Eric Warren Singer (American Hustle, 2013) berdasarkan artikel berjudul No Exit yang ditulis jurnalis Sean Flynn untuk majalah GQ, Only the Brave bercerita mengenai kisah nyata kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Yarnell Hill, Arizona, Amerika Serikat, pada pertengahan tahun 2013 yang kemudian berubah menjadi salah satu tragedi alam terbesar di negara tersebut setelah menelan korban sebanyak 19 jiwa – yang seluruhnya merupakan anggota pasukan pemadam kebakaran. Film ini sendiri memberikan fokus pengisahannya pada karakter-karakter anggota pemadam kebakaran yang menjadi korban ketika menjalankan tugasnya dalam tragedi tersebut. Jelas tidak mengherankan jika kemudian Only the Brave berjalan dengan presentasi cerita bertema pengorbanan dan kepahlawanan yang telah cukup familiar. Meskipun begitu, dengan penulisan dan pengarahan cerita yang apik, Only the Brave memiliki cukup banyak amunisi untuk membuatnya tetap menjadi sebuah presentasi yang menyentuh. Continue reading Review: Only the Brave (2017)

Review: A Day (2017)

WellHappy Death Day (Christopher Landon, 2017) bukanlah satu-satunya film rilisan tahun ini yang menggunakan pola pengisahan time loop dalam jalan ceritanya. Film berjudul A Day yang menjadi debut penyutradaraan bagi penulis naskah asal Korea Selatan, Cho Sun-ho, juga menggunakan cara bercerita yang sama dan bahkan menyajikannya dengan elemen pengisahan drama yang lebih kompleks sekaligus emosional. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Cho, A Day berkisah mengenai seorang ahli bedah, Kim Joon-young (Kim Myung-min), yang setelah sekian lama berada di luar negeri untuk mengikuti serangkaian kegiatan amal akhirnya kembali ke Korea Selatan untuk bertemu kembali dengan puterinya, Eun-jung (Jo Eun-hyung). Sial, sebelum ia sempat bertemu dengan Eun-jung, gadis tersebut meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kim Joon-young kemudian terbangun dalam pesawat yang membawanya kembali ke kampung halamannya dan mengira bahwa rentetan tragedi yang disaksikannya hanyalah sebuah mimpi. Namun, setelah deretan kejadian yang ia kira berada dalam mimpinya kembali berulang, Kim Joon-young mulai menyadari bahwa ia harus memecahkan sebuah misteri untuk dapat menyelamatkan puterinya. Continue reading Review: A Day (2017)

Review: Happy Death Day (2017)

Meskipun bukan yang pertama dalam menggunakan plot pengisahan yang melibatkan terjadinya time loop – situasi dimana satu/beberapa karakter harus terjebak dalam sebuah putaran waktu sebelum dirinya/mereka dapat memecahkan sebuah misteri yang dapat mengeluarkan mereka dari perjalanan waktu berulang tersebut – namun film komedi arahan Harold Ramis, Groundhog Day (1993), jelas merupakan film pertama yang berada di benak banyak penikmat film dunia ketika disinggung mengenai pola penceritaan tersebut. Setelahnya, time loop turut hadir dalam banyak film Hollywood yang berasal dari berbagai genre seperti Triangle (Christopher Smith, 2009), Source Code (Duncan Jones, 2011), Looper (Rian Johnson, 2011), dan Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014). Kini, sutradara asal Amerika Serikat, Christopher Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones, 2014), menjajal kemampuannya dalam menggarap garisan cerita bernuansa time loop dalam sebuah slasher berjudul Happy Death Day. Hasilnya, meskipun filmnya tidak menawarkan sebuah pengisahan slasher yang terlalu istimewa, Landon mampu menjadikan Happy Death Day sebagai sebuah presentasi yang akan cukup mampu menyenangkan banyak penontonnya. Continue reading Review: Happy Death Day (2017)