Category Archives: Review

Review: Scream (2022)

Menjadi film terakhir yang diarahkan oleh Wes Craven sebelum sutradara legendaris tersebut meninggal dunia di tahun 2015, Scre4m (2011) menawarkan peningkatan kualitas cerita yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan Scream 3 (Craven, 2000). Sayang, film tersebut tidak mampu untuk menarik minat serta perhatian penonton dan gagal meraih kesuksesan komersial yang setara dengan tiga film pendahulunya. Lebih dari satu dekade kemudian, duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Ready or Not, 2019) berusaha untuk menghidupkan kembali seri film Scream dengan memproduksi dan mengarahkan bagian kelima dari seri film tersebut yang berjudul… Scream – sebuah pilihan judul yang jelas merupakan referensi terhadap alur cerita film ini yang, seperti yang selalu dilakukan oleh Craven pada setiap bagian dari seri film ini, menawarkan meta commentary terhadap formula cerita film-film horor garapan Hollywood. Continue reading Review: Scream (2022)

Review: Makmum 2 (2021)

Merupakan salah satu film horor Indonesia dengan kualitas cerita yang jelas jauh dari kata memuaskan, Makmum (Hadrah Daeng Ratu, 2019) masih mampu menarik minat banyak penonton, termasuk penonton di negara tetangga dimana film yang dibintangi Titi Kamal tersebut berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai Film Indonesia Terlaris di Malaysia 2018 – 2019. Sure. Kesuksesan tersebut, tentu saja, kini diikuti oleh sebuah sekuel yang masih menampilkan Kamal sebagai pemeran utama namun dengan sutradara, Guntur Soeharjanto (Belok Kanan Barcelona, 2018), serta penulis naskah cerita, Rafki Hidayat (Kafir, 2018), yang berbeda dari film pendahulunya. Akankah mampu mendorong kualitas presentasi cerita Makmum 2? Tidak juga. Continue reading Review: Makmum 2 (2021)

Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)

Meskipun masih mampu mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$312 juta dari perilisannya di seluruh dunia, capaian komersial Resident Evil: The Final Chapter (Paul W. S. Anderson, 2016) yang kurang maksimal di negara asalnya, Amerika Serikat, serta kualitas cerita yang terus mendapatkan kritikan tajam baik dari para kritikus film maupun banyak penggemar permainan video Resident Evil yang menjadi dasar pengisahan bagi seri film tersebut ternyata memberikan kekhawatiran tersendiri bagi para pembuatnya. Tidak mengherankan, bahkan ketika Resident Evil: The Final Chapter masih ditayangkan, ide untuk membuat ulang seri Resident Evil dengan menggunakan konsep, jalan cerita, serta barisan pemeran yang berbeda mulai berkumandang. Ide tersebut sempat menarik perhatian James Wan – yang, sayangnya, kemudian mundur dan memilih untuk memproduseri reboot film adaptasi permainan video lainnya, Mortal Kombat (Simon McQuoid, 2021). Perjalanan penggarapan seri film baru bagi adaptasi permainan video Resident Evil terus bergulir dengan pemilihan Johannes Roberts (47 Meters Down: Uncaged, 2019) untuk duduk di kursi penyutradaraan dan proses pengambilan gambar yang dilakukan di sepanjang tahun 2020. Continue reading Review: Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021)

The 20 Best Movies of 2021

Welland just like thatanother year has gone by. 2021 pun berlalu.

Pandemi COVID-19 masih menghantui dan memberikan pengaruhnya pada kehidupan manusia. Meskipun begitu, tahun ini juga menandai mulai dibukanya kembali layar bioskop di lebih banyak tempat. Satu momen yang memberikan kesempatan pada penonton untuk menyaksikan lanjutan petualangan karakter agen rahasia ikonik James Bond lewat No Time to Die (Cary Joji Fukunaga, 2021), berkenalan dengan sosok pahlawan super baru dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe di Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (Destin Daniel Cretton, 2021), merasakan kesan mendalam yang ditinggalkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Edwin, 2021) dan Yuni (Kamila Andini, 2021) yang sebelumnya telah mendapatkan pujian dunia melalui perjalanan keduanya ke berbagai festival film, menjadi saksi megahnya pengisahan Dune (Denis Villeneuve, 2021), serta mengalami kembali momen riuhnya kebersamaan menikmati sajian presentasi layar lebar dalam film terbesar tahun ini, Spider-Man: No Way Home (Jon Watts, 2021). Continue reading The 20 Best Movies of 2021

Review: The Matrix Resurrections (2021)

Hampir dua dekade selepas perilisan film ketiganya, The Matrix Revolutions (2003), seri The Matrix (The Wachowskis, 1999 – 2003) melanjutkan alur pengisahannya melalui The Matrix Resurrections. Jika tiga film sebelumnya ditulis dan diarahkan secara bersama oleh duo The Wachowskis, Lana Wachowski dan Lilly Wachowski, The Matrix Resurrections menandai kali pertama sebuah film cerita panjang dalam seri The Matrix diarahkan secara tunggal oleh Lana Wachowki yang juga mengerjakan naskah cerita film ini bersama dengan David Mitchell dan Aleksandar Hemon. The Matrix (1999), tentu saja, akan selamanya diingat sebagai film aksi revolusioner yang tidak hanya mampu memberikan pengaruh kepada penggarapan unsur aksi film-film lain yang dirilis sesudahnya namun juga menghadirkan tatanan cerita monumental yang dipengaruhi oleh banyak pemikiran bertema filosofis hingga simbolis. The Matrix Reloaded (2003) dan The Matrix Revolutions (2003) tidak mampu memberikan pencapaian kualitas yang sama, lalu apa yang ingin dilakukan oleh The Matrix Resurrections? Continue reading Review: The Matrix Resurrections (2021)

Review: Teka-teki Tika (2021)

Dalam film cerita panjang keenam yang ia tulis dan arahkan, Ernest Prakasa (Imperfect, 2019) mencoba untuk keluar dari wilayah nyaman penuturan komedi yang sebelumnya telah begitu melekat pada setiap karyanya. Well… Prakasa sebenarnya tidak menghilangkan unsur komedi secara utuh dari linimasa pengisahan Teka-teki Tika. Meskipun kental dengan nuansa drama misteri, film ini disajikan dengan bangunan konflik dan dialog yang cenderung ringan. Prakasa juga masih menghadirkan sosok karakter bernilai komikal guna mengeksekusi dialog-dialog pemancing senyum maupun tawa yang digarapnya. Tetap saja, Teka-teki Tika adalah sebuah penyegaran dalam filmografi Prakasa – meskipun tidak diiringi dengan kualitas cerita yang terasa mampu menyegarkan. Continue reading Review: Teka-teki Tika (2021)

Review: The King’s Man (2021)

Merupakan prekuel bagi dua film dalam seri Kingsman arahan Matthew Vaughn, Kingsman: The Secret Service (2014) dan Kingsman: The Golden Circle (2017), The King’s Man membawa penontonnya jauh ke awal tahun 1900an ketika dunia sedang bersiap untuk menghadapi pecahnya Perang Dunia I. Tidak ingin dunia – khususnya negaranya, Britania Raya – terjebak dalam peperangan, seorang bangsawan bernama Duke Orlando Oxford (Ralph Fiennes) bersama dengan putranya, Conrad Oxford (Harris Dickinson), dan dua pembantunya, Shola (Djimon Hounsou) dan Polly (Gemma Arterton), membentuk sebuah jaringan mata-mata yang dinamakan The Kingsmen Agency. The Kingsmen Agency lantas menemukan fakta adanya pihak yang mencoba mengadu domba pemimpin Britania Raya, King George (Tom Hollander), dengan para sepupunya yang juga pemimpin Kekaisaran Jerman, Kaiser Wilhelm (masih diperankan Holander), dan pemimpin Kekaisaran Rusia, Tsar Nicholas (juga diperankan oleh Hollander). Di saat yang bersamaan, ketika perang mulai berkecamuk, Conrad Oxford memilih untuk meninggalkan misi sang ayah bersama dengan The Kingsmen Agency dan bergabung dengan para tentara Britania Raya di medan peperangan. Continue reading Review: The King’s Man (2021)

Review: House of Gucci (2021)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Becky Johnston (Arthur Newman, 2012) dan Roberto Bentivegna berdasarkan buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed karangan Sara Gay Forden, House of Gucci yang diarahkan oleh Ridley Scott (All the Money in the World, 2017) bercerita tentang intrik dan konflik yang terjadi dalam keluarga pemilik rumah mode ikonik asal Italia, Gucci. Memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 1970an, perseteruan antar karakter dalam film ini dimulai ketika salah seorang pemimpin rumah mode Gucci, Rodolfo Gucci (Jeremy Irons), tidak menyetujui pernikahan anaknya, Maurizio Gucci (Adam Driver), dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) yang dinilainya hanya mendekati Maurizio Gucci demi mendapatkan hartanya. Rodolfo Gucci lantas menghapus nama sang anak sebagai salah satu ahli warisnya. Kakak Rodolfo Gucci yang juga memiliki saham kepemilikan di rumah mode Gucci, Aldo Gucci (Al Pacino), tidak setuju dengan sikap sang adik dan meminta Maurizio Gucci untuk bekerja dengannya. Melihat kesempatan besar yang didapatkan oleh suaminya, Patrizia Reggiani mulai memberikan pengaruhnya pada setiap keputusan yang diambil oleh Maurizio Gucci. Continue reading Review: House of Gucci (2021)

Review: Spider-Man: No Way Home (2021)

Harus diakui, dua film pertama Spider-Man arahan Jon Watts yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Spider-Man: Homecoming (2017) dan Spider-Man: Far from Home (2019), memang masih belum mampu meninggalkan kesan sedalam lima film Spider-Man pendahulunya – tiga film Spider-Man (2002 – 2007) yang dibintangi Tobey Maguire dan diarahkan oleh Sam Raimi serta dua film The Amazing Spider-Man (2012 – 2014) yang dibintangi Andrew Garfield dan diarahkan oleh Marc Webb. Kedua film Spider-Man arahan Watts sebenarnya memiliki konsep cerita yang terasa lebih ringan dan lebih segar daripada film-film pendahulunya serta mendapatkan dukungan barisan pengisi departemen akting yang solid namun, entah mengapa, selalu terasa setengah matang dalam perjalanan eksekusi ceritanya. Bukan sebuah presentasi yang buruk tetapi jelas tidak berhasil dalam mengembangkan banyak potensi ceritanya. Continue reading Review: Spider-Man: No Way Home (2021)

Review: West Side Story (2021)

Di tahun dimana film musikal tampil mendominasi dan menghadirkan film-film seperti In the Heights (Jon M. Chu, 2021), Vivo (Kirk DeMicco, 2021), Cinderella (Kay Cannon, 2021), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), serta tick, tick… BOOM! (Lin-Manuel Miranda, 2021), sutradara Steven Spielberg melakukan debut pengarahan film musikalnya melalui West Side Story. Terdengar familiar? West Side Story arahan Spielberg merupakan film adaptasi kedua dari drama panggung popular berjudul sama yang dibuat oleh Jerome Robbins, Leonard Bernstein, Stephen Sondheim, dan Arthur Laurents. Bersama dengan sutradara Robert Wise, Robbins mengarahkan film adaptasi pertama dari drama panggung garapannya yang berhasil meraih sukses besar di saat perilisannya pada tahun 1961: tidak hanya mampu menjadi film dengan raihan pendapatan komersial terbesar di tahun tersebut, West Side Story arahan Wise dan Robbin juga berhasil memenangkan 10 dari 11 kategori yang diraihnya pada ajang The 34th Annual Academy Awards, termasuk Best Picture dan Best Director. Hingga saat ini, West Side Story arahan Wise dan Robbins masih dianggap sebagai salah satu film musikal terbaik sepanjang masa. Jelas sebuah tantangan besar bahkan bagi sutradara sekelas Spielberg. Continue reading Review: West Side Story (2021)

Review: Yuni (2021)

Sejujurnya, cukup menggusarkan hati untuk menerima kenyataan bahwa film terbaru arahan Kamila Andini (Sekala Niskala, 2017), Yuni, didasarkan pada realita kehidupan keseharian yang masih harus dihadapi oleh kaum perempuan di sejumlah (banyak?) tempat di negara ini hingga saat ini. Meskipun jika Anda merupakan seorang laki-laki. Khususnya jika Anda adalah seorang laki-laki. Naskah cerita film yang ditulis Andini bersama dengan Prima Rusdi (Ada Apa dengan Cinta? 2, 2016) secara perlahan namun mendalam membuka berbagai luka dan duka kaum perempuan yang menjadi fokus utama linimasa pengisahan dan membuat setiap mata yang menyaksikan kisah mereka kembali diingatkan pada betapa buruknya perlakuan sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dalam proses berkehidupan dan bermasyarakat terhadap mereka. We failed them. Continue reading Review: Yuni (2021)

Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Setelah merilis Posesif (2017) dan Aruna & Lidahnya (2018) yang memiliki pendekatan cerita lebih komersial jika dibandingkan dengan film-film lain yang berada dalam filmografinya, Edwin kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama garapan Eka Kurniawan. Mungkin cukup sukar membayangkan kompleksitas konflik dan karakter dalam balutan rangkaian metafora akan isu sosial politik pada masa rezim Orde Baru yang disampaikan melalui linimasa cerita tak beraturan oleh Kurniawan dapat hidup di luar imajinasi para pembaca novelnya. Namun, dengan pengarahannya yang lugas, Edwin tidak hanya mampu menaklukkan tatanan kompleksitas tersebut. Edwin juga dapat menghasilkan jalinan kisah romansa termanis yang pernah hadir dalam film garapannya. Continue reading Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Setelah Love for Sale 2 (Andibachtiar Yusuf, 2019), Adipati Dolken dan Della Dartyan kembali tampil berpasangan untuk film fantasi romansa Akhirat: A Love Story yang ditulis dan diarahkan oleh Jason Iskandar yang sekaligus menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Iskandar. Penuturan cerita film ini dibangun dengan dasar kisah asmara yang terbentuk antara dua karakter utama, Timur (Dolken) dan Mentari (Dartyan), yang memiliki kepercayaan berbeda. Meskipun keluarga mereka kurang begitu antusias menerima, Timur dan Mentari bertekad untuk tetap teguh bersama mempertahankan hubungan asmara yang terjalin antara keduanya. Sayang, garisan nasib menentukan lain. Timur dan Mentari terlibat dalam sebuah kecelakaan yang membuat keduanya kemudian berada dalam keadaan koma serta terjebak dalam ruang antara dunia dan akhirat. Continue reading Review: Akhirat: A Love Story (2021)