Tag Archives: Movies

Review: Sobat Ambyar (2021)

Seperti yang dapat dicerna dari judulnya, Sobat Ambyar adalah sebuah film yang mencoba untuk menangkap fenomena popularitas dari sosok Didi Kempot yang dikenal karena lagu-lagu campursari berbahasa Jawa-nya yang banyak bertemakan patah hati dan rasa kehilangan. Namun, jangan salah, film yang diarahkan oleh Charles Gozali (Nada untuk Asa, 2015) bersama dengan Bagus Bramanti ini bukanlah sebuah biopik yang ingin bertutur tentang seluk beluk kehidupan penyanyi yang telah tutup usia pada pertengahan tahun lalu tersebut. Disajikan sebagai sebuah drama romansa, Sobat Ambyar lebih tertarik untuk mengangkat kisah tentang bagaimana lagu-lagu yang dinyanyikan Kempot digunakan oleh para pendengarnya sebagai pelarian untuk menghibur rasa duka maupun lara yang sedang mengendap di hati mereka. Terbukti, lagu-lagu milik Kempot yang mengiringi banyak adegan film menjadi faktor kesuksesan Sobat Ambyar dalam menghasilkan momen-momen terbaik pengisahannya. Continue reading Review: Sobat Ambyar (2021)

Review: Supernova (2020)

Enam tahun setelah merilis Hinterland (2014) yang menjadi debut pengarahan film layar lebarnya, sutradara asal Inggris, Harry Macqueen, kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk film keduanya, Supernova. Jika Hinterland berkisah tentang dua sahabat yang melakukan perjalanan darat ke sebuah lokasi guna mengenang kembali berbagai memori persahabatan mereka, maka Supernova bercerita tentang pasangan Sam (Colin Firth) dan Tusker (Stanley Tucci) yang melakukan perjalanan darat untuk mengunjungi saudara dan teman-teman dekat mereka. Kunjungan tersebut telah lama direncanakan Tusker setelah penyakit demensia yang ia derita menunjukkan gejala yang semakin kronis yang juga berarti bahwa ingatan Tusker tentang berbagai peristiwa dan semua orang yang berarti bagi dirinya akan segera hilang. Meskipun terlihat tenang dalam menerima kenyataan pahit tersebut, baik Sam maupun Tusker menyadari bahwa kehilangan sosok yang begitu dicintai akan memberikan pengaruh besar bagi kehidupan mereka. Continue reading Review: Supernova (2020)

Review: Pieces of a Woman (2020)

Nama sutradara Kornél Mundruczó mungkin masih belum terdengar familiar di telinga banyak penikmat film dunia. Meskipun begitu, film-film arahan dari sutradara asal Hungaria tersebut telah malang-melintang di berbagai festival film bergengsi mulai dari Cannes Film Festival hingga Sundance Film Festival. Film yang ia rilis di tahun 2014 lalu, White God, bahkan berhasil meraih Prix Un Certain Regard dari The 67th Cannes Film Festival sekaligus dipilih untuk mewakili Hungaria untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film pada ajang The 87th Annual Academy Awards. Pieces of a Woman menandai kali pertama Mundruczó mengarahkan sebuah film dalam Bahasa Inggris. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Kata Wéber – yang sebelumnya telah bekerjasama dengan Mundruczó untuk penulisan naskah film White GodPieces of a Woman diadaptasi dari drama panggung garapan Mundruczó dan Wéber yang alur kisahnya sendiri diinspirasi dari pengalaman hidup keduanya sebagai pasangan yang mengalami keguguran anak. Continue reading Review: Pieces of a Woman (2020)

Review: The White Tiger (2021)

Cukup wajar jika beberapa orang memberikan perbandingan antara film terbaru arahan Ramin Bahrani (99 Homes, 2015), The White Tiger, dengan film Slumdog Millionaire (2008) yang diarahkan oleh Danny Boyle. Seperti halnya film yang memenangkan gelar Best Picture dari ajang The 81st Annual Academy Awards tersebut, The White Tiger juga berbicara mengenai ketidakadilan serta perjuangan kelas pada masyarakat kelas bawah di India. Namun, jika Boyle mengemas Slumdog Millionaire dengan balutan kisah romansa yang kemungkinan besar akan mampu menempatkan senyuman di wajah setiap penonton pada akhir presentasi filmnya, Bahrani menghadirkan The White Tiger sebagai sajian kisah yang lebih realis tentang kerasnya kehidupan kaum miskin. Tidak ada sosok pemuda miskin yang dengan keberuntungannya kemudian mampu menyelesaikan masalah hidupnya dengan memenangkan sejumlah uang dari sebuah acara kuis di televisi – sebuah singgungan yang sempat disampaikan Bahrani lewat salah satu dialog yang dilontarkan oleh karakter utama dalam filmnya.

Continue reading Review: The White Tiger (2021)

20 / 2020 – The 20 Best Movies of 2020

Alright. It’s time to recap the best and most memorable movies of 2020. A pretty strange year, huh?

Berikut adalah dua puluh film yang At the Movies nilai sebagai yang terbaik di sepanjang tahun 2020, termasuk sebuah film yang dipilih sebagai Movie of the Year. Disusun secara alfabetis. Continue reading 20 / 2020 – The 20 Best Movies of 2020

20 / 2020 – The 20 Best Movie Performances of 2020

What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama. Continue reading 20 / 2020 – The 20 Best Movie Performances of 2020

Review: News of the World (2020)

News of the World, sayangnya, bukanlah film yang alur ceritanya diinspirasi oleh lagu-lagu yang ditulis oleh kelompok musik legendaris Queen untuk album rilisan mereka di tahun 1977 yang berjudul sama. News of the World, yang menjadi kali kedua bagi Tom Hanks untuk berada di bawah arahan sutradara Paul Greengrass setelah Captain Phillips (2013), adalah sebuah drama western yang kisahnya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Paulette Jiles. Kisahnya cukup sederhana. Berlatar belakang waktu pengisahan di tahun 1870, beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Saudara Amerika, seorang veteran perang bernama Captain Jefferson Kyle Kidd (Hanks) menemukan seorang anak perempuan bernama Johanna Leonberger (Helena Zengel) terlantar sendirian di pinggiran jalan setelah angkutan yang membawanya mengalami tindak perampokan. Lewat dokumen-dokumen yang ia temukan bersama dengan anak itu, Captain Jefferson Kyle Kidd kemudian memutuskan untuk mengantarkan sang anak kembali ke kediamannya meskipun ia harus menempuh jarak ribuan kilometer. Continue reading Review: News of the World (2020)

Review: Soul (2020)

Di tahun 2019, selepas merilis Toy Story 4 (Josh Cooley) di tahun tersebut, Pixar Animation Studios memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi memproduksi sekuel dari film-film rilisan mereka terdahulu. Sebuah pernyataan yang jelas disambut baik oleh para penikmat, penggemar, sekaligus pecinta film-film animasi buatan rumah produksi rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut. Harus diakui, selain beberapa rilisan seperti Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), Inside Out (Pete Docter, 2015), dan Coco (Unkrich, 2017), filmografi Pixar Animation Studios pada satu dekade lalu memang lebih banyak diisi dengan film-film sekuel maupun film-film dengan cerita orisinal yang kualitasnya jelas terasa medioker – tentu saja, “medioker” dalam ukuran film yang dihasilkan oleh rumah produksi sekelas Pixar Animation Studios. Membuka dekade baru, Pixar Animation Studios merilis Onward (2020) arahan Dan Scanlon yang tampil cukup meyakinkan sebagai sebuah sajian hiburan. Namun, Pixar Animation Studios benar-benar menunjukkan tajinya sebagai rumah produksi film animasi paling prestisius di dunia lewat film terbaru arahan Docter, Soul. Continue reading Review: Soul (2020)

Review: Wonder Woman 1984 (2020)

Jika Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) bercerita tentang asal-usul serta latar belakang kehidupan dari karakter Diana Prince/Wonder Woman (Gal Gadot) maka Wonder Woman 1984 membawa pengisahan sang karakter utama ke satu periode dalam kehidupannya pada tahun 1984. Dikisahkan, Diana Prince bekerja sebagai seorang antropolog di kota Washington, D.C. sembari, tentu saja, meneruskan tugasnya untuk memerangi tindak kejahatan dengan menggunakan identitasnya sebagai Wonder Woman. Satu hari, ketika ia sedang mengobrol dengan rekan kerjanya yang merupakan seorang arkeolog, Barbara Minerva (Kristen Wiig), keduanya membahas tentang penemuan sebuah batu kuno misterius yang dikenal dengan nama Dreamstone karena disebut-sebut dapat mewujudkan tiap keinginan dari orang yang memegangnya. Tanpa disengaja, Diana Prince dan Barbara Minerva lantas mengungkapkan harapannya – yang nantinya akan terwujud dan memberikan konflik tersendiri bagi keduanya. Kehadiran Dreamstone ternyata juga memikat perhatian seorang pengusaha bernama Maxwell Lord (Pedro Pascal) yang berusaha untuk mendapatkan batu tersebut untuk mewujudkan berbagai ambisinya. Continue reading Review: Wonder Woman 1984 (2020)

Review: The Croods: A New Age (2020)

Dengan keberhasilannya mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$587 juta serta raihan nominasi Best Animated Feature dari ajang The 86th Annual Academy Awards, tidak membutuhkan waktu lama bagi DreamWorks Animations untuk mengumumkan bahwa mereka akan memproduksi sekuel bagi film animasi The Croods (2013). Pada tahun 2014, sekuel dari The Croods dipersiapkan untuk dirilis pada tahun 2017. Di pertengahan tahun 2016, seiring dengan berakhirnya kesepakatan distribusi dengan 20th Century Fox dan beralihnya kepemilikan DreamWorks Animation kepada NBCUniversal, perilisan sekuel dari The Croods mundur ke tahun 2018 – sebelum kemudin diumumkan bahwa proses produksi untuk sekuel dari The Croods dibatalkan pada penghujung tahun 2016. Beruntung, DreamWorks Animation dan Universal Pictures akhirnya menyepakati untuk melanjutkan proses produksi sekuel dari The Croods dengan jadwal rilis di tahun 2020 dan Joel Crawford menggantikan posisi Kirk DeMicco dan Chris Sanders untuk duduk di kursi penyutradaraan. Continue reading Review: The Croods: A New Age (2020)

Review: Quarantine Tales (2020)

Merupakan omnibus yang berisi lima film pendek arahan Dian Sastrowardoyo, Jason Iskandar, Ifa Isfansyah, Aco Tenri, dan Sidharta Tata, fokus pengisahan Quarantine Tales tidak hanya tentang barisan kisah mengenai sederetan karakter yang berusaha bertahan pada masa karantina dalam menghadapi pandemi COVID-19. Secara menyeluruh, tema “karantina” disajikan dengan menampilkan sosok-sosok karakter yang merasakan keterpisahan serta kehilangan – baik dari orang-orang yang mereka cintai, dari mimpi dan harapan, bahkan dari identitas diri mereka sendiri – dalam kehidupan mereka. Kehadiran Quarantine Tales juga menjadi simbol tersendiri bagi para pembuatnya ketika film ini diproduksi di tengah pandemi dalam kondisi kebiasaan baru yang serba terbatas dengan harapan untuk tetap menjaga kreativitas dan menjaga pertumbuhan industri perfilman Indonesia. Niat tulus yang berakhir gemilang ketika lima film pendek yang ditampilkan Quarantine Tales mampu tereksekusi dengan baik dalam menyampaikan seluruh alur pengisahannya. Continue reading Review: Quarantine Tales (2020)

Review: Promising Young Woman (2020)

Judul Promising Young Woman pada film yang ditulis dan diarahkan oleh sutradara Emerald Fennell merujuk pada sosok karakter utamanya, Cassandra Thomas (Carey Mulligan). Semasa dirinya duduk di bangku kuliah guna menuntut ilmu kedokteran, dirinya dikenal sebagai sosok perempuan cerdas dengan pengetahuan yang melebihi rekan-rekan sepantarannya. Sayang, sebuah tragedi membuatnya tidak lagi berminat untuk melanjutkan pendidikannya dan memilih untuk keluar dari perkuliahan. Beberapa tahun setelah kejadian tersebut, di usia yang kini telah menginjak 30 tahun, Cassandra Thomas masih memilih untuk menjalani kehidupan sesuai dengan keinginannya: bekerja di sebuah kafe milik temannya Gail (Laverne Cox) di siang hari serta keluar bersenang-senang di sejumlah klub pada malam harinya. Pilihan hidup yang cukup membuat kedua orangtuanya (Clancy Brown dan Jennifer Coolidge) merasa khawatir. Namun, pertemuannya dengan seorang dokter bernama Ryan Cooper (Bo Burnham) segera mengubah kehidupan Cassandra Thomas dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Continue reading Review: Promising Young Woman (2020)

Review: First Cow (2019)

Diadaptasi dari novel The Half Life yang ditulis oleh Jonathan Raymond, First Cow memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 1820 dan bercerita tentang persahabatan antara seorang juru masak bernama Otis Figowitz atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Cookie (John Magaro) dengan seorang imigran asal Tiongkok bernama King-Lu (Orion Lee). Mengetahui bahwa sahabatnya memiliki latar belakang pekerjaan sebagai seorang asisten pembuat roti, King-Lu lalu mengusulkan agar Cookie memasak kue agar mereka dapat menjualnya di pasar. Untuk memperkaya rasa kue yang dibuat oleh Cookie, kedua pria tersebut secara sembunyi-sembunyi memeras susu dari sapi yang dimiliki oleh seorang pria kaya yang dikenal dengan sebutan Chief Factor (Toby Jones) dan menggunakannya dalam olahan kue tersebut. Berhasil! Kue buatan Cookie dengan segera laris terjual ketika dijajakan di pasar serta menjadi bahan perbincangan banyak pihak karena keenakan rasanya. Kepopuleran tersebut dengan segera menambah pundi-pundi uang yang dimiliki Cookie dan King-Lu serta, di saat yang bersamaan, juga memberikan ancaman pada nyawa keduanya karena mereka harus terus mencuri susu dari satu-satunya sapi yang berada di wilayah tempat tinggal mereka. Continue reading Review: First Cow (2019)