Review: The East (2020)


Menjadi film cerita panjang ketiga yang diarahkan oleh Jim Taihuttu setelah Rabat (2011) dan Wolf (2013), The East memiliki latar waktu pengisahan di tahun 1946 ketika Hindia Belanda memasuki masa Revolusi Nasional Indonesia. Dikisahkan, seorang pemuda asal Belanda bernama Johan de Vries (Martijn Lakemeier) yang menjadi seorang tentara relawan dan lantas dikirimkan ke daerah Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, untuk bertugas sebagai salah satu penjaga keamanan rakyat di Hindia Belanda yang sedang diwarnai konflik sipil selepas menyatakan kemerdekaannya dari jajahan Jepang. Awalnya, Johan de Vries dan rekan-rekannya merasa keseharian mereka begitu membosankan karena minimnya konflik maupun pertarungan yang harus mereka hadapi. Johan de Vries kemudian berkenalan dengan seorang pria karismatik yang dikenal dengan sebutan The Turk (Marwan Kenzari) yang lantas membimbing sekaligus memberikan infomasi lebih mendalam tentang medan perang yang sedang mereka jalani. Johan de Vries, secara perlahan, menjadi salah satu orang kepercayaan bagi The Turk. Sebuah posisi yang tanpa disangka kemudian menjebaknya dalam rangkaian pertumpahan darah yang membuatnya mempertanyakan makna perang sekaligus memberikan trauma di sepanjang sisa hidupnya.

Meskipun berbicara mengenai medan perang, naskah cerita The East yang digarap oleh Taihuttu bersama dengan Mustafa Duygulu (Catacombe, 2018) tidak hanya memberikan fokus pada berbagai konflik maupun peristiwa yang harus dihadapi oleh sang karakter utama dalam masa peperangannya. Seperti halnya Platoon (Oliver Stone, 1986) atau American Sniper (Clint Eastwood, 2014), The East turut menghadirkan lapisan kisah tentang bagaimana pengalaman di medan peperangan menghasilkan trauma dan luka psikis yang memberikan pengaruh pada keseharian sang karakter utama jauh setelah masa peperangan usai. Dua cerita yang datang dari dua linimasa yang berbeda tersebut disajikan Taihuttu secara bergantian dan dipadukan dengan kisah utama tentang perjalanan karakter Johan de Vries selama menjalani tugas militernya.

Garapan yang apik dari Taihuttu mampu membuat dua linimasa cerita dalam The East berkembang dengan baik. Ketika linimasa cerita pertama menggambarkan bagaimana karakter Johan de Vries yang awalnya begitu antusias dalam menunaikan “niat suci” akan tugas militernya untuk kemudian mulai menyadari ada sesuatu yang salah dari peperangan yang ia ikuti, linimasa kedua secara lugas bertutur tentang bagaimana sang karakter utama berjuang untuk menyesuaikan diri kembali dalam kehidupan normal sekaligus berjuang untuk melupakan luka psikis akan perang yang dirasakannya. Taihuttu secara jeli mampu menyeimbangkan presentasi dua kisah tersebut sehingga perjalanan emosional yang dirasakan oleh karakter Johan de Vries dapat dieksekusi secara utuh dan cukup detil.

Meskipun mendasarkan kisahnya pada peristiwa yang benar-benar terjadi, naskah cerita yang dibangun oleh Taihuttu dan Duygulu adalah sebuah kisah fiksi yang mencoba untuk memberi penekanan pada sejumlah tema cerita yang jelas masih terasa relevan dengan kehidupan modern saat ini. Eksplorasi cerita tentang usaha untuk mengeruk keuntungan dengan dalih sebagai bagian dari penjaga keamanan, adu domba yang dilakukan untuk memperlemah suatu kelompok, hingga minimnya jaminan kesehatan dan kesejahteraan yang diberikan pada mereka yang sempat terpilih untuk menjalankan tugas dari negara dihadirkan secara lugas. The East juga tidak pernah terasa menghadirkan agenda-agenda politik tertentu dalam penuturannya. Meski melibatkan cerita tentang kisah perseteruan antara Belanda dengan Hindia Belanda (kini Indonesia), film ini lebih memilih untuk menghadirkan kisah akan dampak perang secara lebih universal – elemen anti-perang yang membuat pengisahan The East menjadi lebih mengikat.

Laju penuturan The East sendiri tidak selalu berjalan mulus. Durasi pengisahan yang mencapai 137 menit dapat dirampingkan dengan pengurangan sejumlah adegan yang tidak begitu esensial pada jalan cerita utama, adegan yang tampil sedikit bertele-tele dalam berkisah, atau adegan yang mengulangi konflik yang sebelumnya telah dihadirkan. Beberapa konflik, karakter, serta dialog – khususnya dialog yang menggunakan Bahasa Indonesia yang terdengar begitu kaku – yang hadir dalam jalan cerita juga terkesan dieksekusi dengan kurang matang. Meskipun begitu, kelemahan-kelemahan cerita tersebut tidak memberikan dampak yang besar bagi kualitas cerita The East secara keseluruhan, khususnya ketika Taihattu berhasil menyajikannya dengan kualitas tata produksi yang sangat meyakinkan. Taihattu memastikan bahwa filmnya akan mampu menyeret setiap mata penontonnya pada kelamnya masa peperangan. Tidak hanya menghadirkan adegan-adegan penuh ledakan atau pertempuran senjata api, film ini juga dipenuhi dengan deretan gambar bernuansa kekerasan nan penuh darah yang membuat nuansa nyata akan sebuah peperangan menjadi semakin terasa.

The East juga diberkahi dengan penampilan yang solid dari para pengisi departemen akting filmnya. Penampilan-penampilan dari aktor asal Indonesia seperti Lukman Sardi, Yayu Unru, hingga Putri Ayudya jelas akan sangat mudah untuk mencuri perhatian. Namun, The East berhasil menghadirkan momen-momen terbaiknya berkat penampilan yang sangat meyakinkan dari dua pemeran utamanya, Lakemeier dan Kenzari. Lakemeier dengan lugas menghidupkan sosok karakternya yang menghadapi berbagai tantangan yang secara perlahan mulai mempengaruhi kondisi mentalnya. The East bertutur secara lancar dan meyakinkan berkat penampilan Lakemeier yang mampu menterjemahkan perjalanan emosional karakternya tersebut. Kenzari sendiri berhasil memberikan kharisma yang kuat pada sosok The Turk. Karakternya tidak diberikan banyak dialog namun Kenzari mampu membuat sosok yang ia perankan begitu terasa mencekam dan mengintimidasi dalam setiap kehadirannya. Capaian yang sangat mengesankan.

 

The East (2020)

Directed by Jim Taihuttu Produced by Shanty Harmayn, Julius Ponten, Benoit Roland, Sander Verdonk Written by Mustafa Duygulu, Jim Taihuttu Starring Martijn Lakemeier, Marwan Kenzari, Jonas Smulders, Abel van Gijlswijk, Coen Bril, Reinout Scholten van Aschat, Jim Deddes, Jeroen Perceval, Mike Reus, Joenoes Polnaija, Denise Aznam, Peter Paul Muller, Huub Smit, Putri Ayudya, Lukman Sardi, David Wristers, Robert de Hoog, Reinout Bussemaker, Ence Bagus, Joes Brauers, Hugo Draaisma, Nanette Edens, Daantje Goedhart, Boyd Helderton, Tim Jacobsen, Ronald Kalter, Bram Klappe, Clemens Levert, Ananta Mulyono, Bart Niewenweg, Guan Nuijen, Storm Rechsteiner, Michel Sminia, Alexander Stevense, Yayu A.W. Unru, Yari van der Linden, Daan van der Loon, Joost van der Loon, Ferre van Dijk, Rick van Werd, Aaron Mitchel Music by Gino Taihuttu Cinematography Lennart Verstegen Edited by Mieneke Kramer, Emiel Nuninga Production companies New Amsterdam Film Company/Salto Films/Wrong Men North/BASE Entertainment/Ideosource Entertainment/Kaninga Pictures/XYZ Films Running time 137 minutes Country Netherlands, Belgium, Indonesia, France, United States Language Dutch, Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s