Review: Notebook (2021)


Dimas Anggara dan Amanda Rawles kembali tampil bersama untuk film Notebook yang menandai debut pengarahan film cerita panjang layar lebar bagi Karsono Hadi yang sebelumnya dikenal sebagai penata gambar bagi film-film seperti Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988), Taksi (Arifin C. Noer, 1991), dan Bibir Mer (Noer, 1992) yang memenangkannya sebuah Piala Citra untuk kategori Penata Gambar Terbaik di Festival Film Indonesia 1992. Hadi juga berhasil meraih nominasi di kategori Penulis Skenario Terbaik dari ajang Festival Film Indonesia 2004 untuk film Marsinah: Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001). Untuk Notebook sendiri, Hadi mengarahkan naskah cerita yang ditulis oleh Sukhdev Singh dan Tisa TS yang merupakan penulis naskah bagi tiga film yang telah mempertemukan Anggara dan Rawles, Promise (Asep Kusdinar, 2017), London Love Story 3 (Kusdinar, 2018), dan The Perfect Husband (Rudi Aryanto, 2018).

Alur pengisahan Notebook berkisah tentang seorang perempuan bernama Rintik (Rawles) yang ditugaskan untuk mengajar di salah satu sekolah dasar di daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur yang selama ini memang kekurangan tenaga pengajar. Datang dari kota besar, Rintik harus beradaptasi dengan lingkungan yang jauh dari hingar-bingar kehidupan perkotaan serta budaya dan kebiasaan dari masyarakat yang mayoritas memiliki kepercayaan agama berbeda dari kepercayaan agama yang dianut oleh dirinya. Namun, segala rintangan tersebut bukanlah masalah besar bagi Rintik. Tekadnya untuk mengajar dan menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya telah begitu kuat. Di saat yang bersamaan, perkenalannya dengan seorang pemuda bernama Arsa (Anggara) membuka pintu bagi sebuah permasalahan dari dalam diri Rintik. Masalah yang dahulu berusaha ia jauhi dan juga sempat mendorongnya untuk menerima tawaran mengajar di lokasi yang begitu jauh dari kehidupannya terdahulu.

Premis yang ditawarkan oleh Notebook mungkin akan mengingatkan sebagian penontonnya pada pengisahan Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (Herwin Novianto, 2016). Jika Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara memberikan penekanan pada proses penyesuaian yang dilakukan oleh sang karakter utama terhadap lingkungan barunya, Notebook justru menyajikan tema yang cukup beragam pada penuturannya. Tema mengenai pendidikan, prasangka yang muncul dari perbedaan budaya maupun kepercayaan, kemiskinan, hingga, tentu saja, romansa dimunculkan untuk mengisi ruang pengisahan film ini. Sayang, rangkaian tema cerita tersebut tidak mampu untuk dikelola maupun dikembangkan dengan seksama. Tidak mengherankan jika banyak konflik dan karakter dalam Notebook tidak pernah terasa benar-benar efektif kehadirannya.

Notebook baru terasa menemukan pijakannya ketika naskah cerita film memberikan fokus yang lebih besar pada hubungan romansa yang mulai berkembang antara karakter Rintik dan Arsa – elemen yang, harus diakui, begitu familiar bagi dua penulis naskah film ini. Memang, tidak ada yang benar-benar istimewa dalam pengembangan kisah romansa antara kedua karakter utama tersebut. Pun begitu, jika dibandingkan dengan konflik-konflik lain yang berusaha disentuh oleh linimasa pengisahan film ini namun seringkali hanya dijadikan sebagai jembatan pengisahan belaka bagi kehadiran elemen romansa film, kisah percintaan antara karakter Rintik dan Arsa setidaknya mampu bertutur dengan lebih lugas.

Dengan durasi pengisahan selama 82 menit yang sebenarnya cukup singkat, Notebook juga menghabiskan waktu terlalu lama untuk memberikan resolusi bagi segala konflik yang telah diperkenalkannya pada paruh awal pengisahan. Hadi terkesan menumpuk seluruh penyelesaian masalah pada 15 menit menjelang berakhirnya presentasi film ini. Begitu terburu-buru sehingga gagal untuk memberikan konklusi yang memuaskan. Tidak ada masalah besar dari kualitas presentasi departemen produksi film ini – meskipun cukup mengherankan melihat Notebook tidak banyak mengeksplorasi keindahan alam wilayah Sumba, Nusa Tenggara Timur guna menghasilkan gambar-gambar yang dapat lebih menyita perhatian.

Meskipun dihantui oleh timbul tenggelamnya aksen bahasa Sumba dari sejumlah pemeran film ini, departemen akting Notebook cukup berhasil memberikan sokongan yang kuat bagi kualitas presentasi film ini secara keseluruhan. Anggara dan Rawles mampu menghidupkan karakter mereka dengan baik serta menyajikan chemistry yang berhasil menegaskan rasa suka yang tumbuh antara dua karakter yang mereka perankan. Barisan peran pendukung film ini juga menghadirkan penampilan akting yang solid dari Dominique Sanda – yang karakternya seharusnya mendapatkan porsi pengisahan yang lebih besar, Kiki Narendra, Ira Wibowo, dan Tanta Ginting.

 

Notebook (2021)

Directed by Karsono Hadi Produced by Sukhdev Singh Written by Sukhdev Singh, Tisa TS Starring  Dimas Anggara, Amanda Rawles, Tanta Ginting, Kiki Narendra, Dominique Sanda, Ira Wibowo, Sani Fahreza, Miranty Dewi, Eko Mulyadi, Andi Viola, Greesela Adhelia Music by Jovial Virgi Cinematography Rama Hermawan Edited by Lilik Subagyo Production company Screenmedia Films Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s