Tag Archives: Willem Bevers

Review: Dear Nathan Thank You Salma (2022)

Dirancang sebagai bagian penutup dari trilogi Dear Nathan – yang sebelumnya telah menghadirkan dua film arahan Indra Gunawan, Dear Nathan (2017) dan Dear Nathan Hello Salma (2018) – Dear Nathan Thank You Salma menyajikan tata penuturan yang lebih dewasa serta kandungan cerita yang lebih rumit jika dibandingkan dengan struktur pengisahan dua film sebelumnya. Diadaptasi dari novel karangan Erisca Febriani yang berjudul Thank You Salma oleh duo penulis naskah cerita Dear Nathan, Bagus Bramanti dan Gea Rexy, linimasa penceritaan Dear Nathan Thank You Salma tidak melulu berkutat pada hubungan romansa yang terjalin antara dua karakter utamanya, Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles), dengan menghadirkan pendewasaan pada konflik dan karakternya serta tema cerita yang terasa peka akan isu sosial. Continue reading Review: Dear Nathan Thank You Salma (2022)

Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Setelah Love for Sale 2 (Andibachtiar Yusuf, 2019), Adipati Dolken dan Della Dartyan kembali tampil berpasangan untuk film fantasi romansa Akhirat: A Love Story yang ditulis dan diarahkan oleh Jason Iskandar yang sekaligus menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Iskandar. Penuturan cerita film ini dibangun dengan dasar kisah asmara yang terbentuk antara dua karakter utama, Timur (Dolken) dan Mentari (Dartyan), yang memiliki kepercayaan berbeda. Meskipun keluarga mereka kurang begitu antusias menerima, Timur dan Mentari bertekad untuk tetap teguh bersama mempertahankan hubungan asmara yang terjalin antara keduanya. Sayang, garisan nasib menentukan lain. Timur dan Mentari terlibat dalam sebuah kecelakaan yang membuat keduanya kemudian berada dalam keadaan koma serta terjebak dalam ruang antara dunia dan akhirat. Continue reading Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Review: A World Without (2021)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Nia Dinata setelah Ini Kisah Tiga Dara (2016), A World Without memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 2030 – sepuluh tahun semenjak terjadinya pandemi yang membuat kualitas hidup manusia secara keseluruhan menurun drastis. Sebuah komunitas yang menyebut diri mereka sebagai The Light milik pasangan Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia Khan (Ayushita) muncul dan menjadi popular berkat misi mereka untuk mengembangkan bakat serta kemampuan setiap remaja terpilih untuk kemudian menikahkan para remaja tersebut ketika usia mereka telah menginjak 17 tahun agar dapat membentuk keluarga baru yang berkualitas. Tiga sahabat yang datang dari latar kehidupan yang berbeda, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja terpilih untuk bergabung bersama The Light. Sejumlah harapan untuk masa depan yang lebih cerah jelas terlintas di benak ketiganya. Namun, secara perlahan, berbagai sisi gelap dari komunitas tersebut mulai terungkap. Tiga gadis muda tersebut terjebak didalamnya. Continue reading Review: A World Without (2021)

Review: Ghibah (2021)

Setelah sebelumnya mengembangkan film pendek Makmum menjadi film cerita panjang (Hadrah Daeng Ratu, 2019), Riza Pahlevi kembali bekerjasama dengan Vidya Talisa Ariestya untuk menggarap naskah cerita Ghibah. Juga melibatkan bantuan penulis naskah Aviv Elham (Jaga Pocong, 2018) dan sutradara Monty Tiwa (Pocong the Origin, 2019), naskah cerita Ghibah berkisah tentang sekelompok mahasiswa, Firly (Anggika Bolsterli), Arga (Verrell Bramasta), Reno (Jerry Likumahuwa), Ulfa (Arafah Rianti), Yola (Josephine Firmstone), dan Okta (Adila Fitri), yang saat ini juga bertugas untuk mengelola majalah kampus mereka. Tugas peliputan berita untuk majalah kampus yang mereka kelola menemui halangan setelah Okta secara mendadak tidak lagi dapat dihubungi atau ditemui oleh rekan-rekannya. Tidak sampai disitu, Firly dan Yola juga merasakan berbagai gangguan bernuansa mistis mulai menyelimuti keseharian mereka. Oleh pemilik kos yang mereka tempati, Mang Oppie (Opie Kumis) dan Umi Asri (Asri Welas), Firly, Ulfa, dan Okta diingatkan bahwa kejadian-kejadian buruk yang belakang menghantui mereka disebabkan oleh kegemaran mereka untuk bergunjing atau membicarakan aib orang lain. Continue reading Review: Ghibah (2021)

Review: #TemanTapiMenikah2 (2020)

#TemanTapiMenikah (Rako Prijanto, 2018) adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Meskipun digarap dengan formula yang telah begitu familiar, namun naskah cerita yang cukup berwarna, arahan Prijanto yang membuat filmnya mampu bertutur dengan lancar, serta chemistry hangat dan sangat meyakinkan dari Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla menjadikan #TemanTapiMenikah begitu menyenangkan untuk diikuti kisahnya. Tidak mengejutkan jika film ini kemudian berhasil mengumpulkan 1,6 juta penonton selama masa tayangnya di seluruh layar bioskop Indonesia. Dengan kesuksesan kualitas dan komersial tersebut, juga tidak mengejutkan jika Falcon Pictures kemudian memutuskan untuk menggarap sekuel bagi #TemanTapiMenikah yang, tentunya, akan melanjutkan alur kisah romansa antara karakter Ditto dan Ayu yang diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh pasangan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Hasilnya? Jika #TemanTapiMenikah mengeksplorasi hubungan persahabatan yang tumbuh menjadi hubungan romansa percintaan, maka #TemanTapiMenikah2 memberikan eksplorasi lanjutan tentang bagaimana satu pasangan muda menjalani hari mereka dalam sebuah kehidupan pernikahan yang jelas baru dan masih terasa aneh bagi keduanya. Continue reading Review: #TemanTapiMenikah2 (2020)

Review: Si Manis Jembatan Ancol (2019)

Merupakan kali ketiga legenda urban asal Betawi ini kisahnya diangkat sebagai sebuah presentasi film layar lebar – setelah film arahan Turino Djunaidy yang dirilis pada tahun 1973 dan film arahan Atok Suharto pada tahun 1994, Si Manis Jembatan Ancol kini kembali diperkenalkan kepada barisan penikmat film dari generasi baru melalui film yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Suzzanna: Bernafas dalam Kubur, 2018) dan Bounty Umbara (Insya Allah Sah 2, 2018). Alur pengisahannya sendiri bercerita tentang kehidupan rumah tangga antara Maryam (Indah Permatasari) dan Roy (Arifin Putra) yang sedang berada diambang kehancuran. Cemburu melihat kedekatan istrinya dengan seorang pelukis muda bernama Yuda (Randy Pangalila), Roy secara gelap mata lantas meminta bantuan sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Bang Ozi (Ozy Syahputra) untuk menculik sekaligus membunuh Maryam dan Yuda. Meskipun sempat berhasil melarikan diri, Bang Ozi dan kawanannya berhasil melaksanakan tugas yang diberikan Roy kepada mereka. Seperti yang dapat diduga, kematian tersebut lantas membuat Maryam menjadi sosok arwah penasaran yang lantas mulai menghantui setiap orang yang telah menjahatinya guna membalaskan dendamnya. Continue reading Review: Si Manis Jembatan Ancol (2019)

Review: Gundala (2019)

We’ve all been here before. Kisah tentang seseorang yang awalnya merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna lalu secara perlahan mulai menemukan kekuatan yang lantas digunakannya untuk membela dan/atau membantu orang-orang lain yang merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna untuk keluar dari kesulitan mereka. Kali ini, kisah familiar tersebut dituturkan oleh Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) lewat Gundala – sebuah film yang juga dicanangkan sebagai langkah awal bagi keberadaan jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super di industri film Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Gundala memperkenalkan penonton pada sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampiri: mulai dari usaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki serta orang-orang yang kemudian mulai merasa terganggu dengan keberadaan kekuatan tersebut. Pola pengisahan yang cukup mendasar bagi film-film sejenis namun jelas akan tetap mampu terasa menarik ketika diaplikasikan dalam ruang lingkup cerita yang memiliki latar belakang lokasi dan budaya yang lebih dekat dengan penonton lokal. Continue reading Review: Gundala (2019)