All posts by Amir Syarif Siregar

An organized chaos! A professional dreamer.

Review: Black Christmas (2019)

Para penggemar horor jelas telah merasa familiar dengan Black Christmas (Bob Clark, 1974). Meskipun ketika masa perilisan awal film tersebut mendapatkan respon yang kurang menyenangkan dari para kritikus film, secara perlahan, Black Christmas mampu meraih popularitasnya – film tersebut dianggap sebagai salah satu slasher pertama yang dirilis secara luas oleh Hollywood, mendapatkan semakin banyak penggemar seiring dengan perjalanan waktu, serta memberikan banyak pengaruh pada film-film sejenis yang dirilis sesudahnya, termasuk Halloween (1978) arahan John Carpenter. Popularitas Black Christmas yang terus bertahan tersebut, tentu saja, menggoda Hollywood untuk kembali mereplikasi, memperbaharui, dan mengenalkannya pada barisan generasi penonton film yang berbeda. Sutradara Glen Morgan mengarahkan versi buat ulang Black Christmas di tahun 2006 yang dibintangi barisan aktris muda papan atas Hollywood di era tersebut seperti Katie Cassidy, Michelle Trachtenberg, Mary Elizabeth Winstead, dan Lacey Chabert namun gagal untuk meraih pujian dari segi kualitas presentasi cerita maupun mendapatkan keuntungan secara komersial dalam jumlah yang signifikan. Continue reading Review: Black Christmas (2019)

Review: Knives Out (2019)

Selepas mengarahkan Star Wars: The Last Jedi (2017) – yang menghasilkan pujian luas dari kalangan kritikus film namun mendapatkan sejumlah tentangan yang tidak sedikit dari kalangan penggemar seri film Star Wars “konservatif,” Rian Johnson kembali memamerkan kehandalannya dalam menulis dan mengarahkan sebuah jalinan kisah garapannya sendiri lewat Knives Out. Merupakan usaha Johnson untuk mengeksplorasi tata pengisahan whodunit yang terinspirasi dari barisan kisah misteri pembunuhan yang terdapat dalam novel-novel yang ditulis oleh Agatha Christie, Knives Out berkisah tentang kematian seorang novelis terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer), yang terjadi sehari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-85. Kematian yang diakibatkan oleh bunuh diri tersebut jelas mengagetkan keluarga serta orang-orang terdekatnya. Pada hari pemakamannya, seorang detektif bernama Benoit Blanc (Daniel Craig), hadir di kediaman Harlan Thrombey dan memberikan pernyataan mengejutkan bahwa kematian Harlan Thrombey memiliki kemungkinan terjadi akibat tindakan pembunuhan. Continue reading Review: Knives Out (2019)

Festival Film Indonesia 2019 Winners List

Film arahan Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku, berhasil terpilih sebagai Film Cerita Panjang Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2019. Berbekal 12 nominasi yang diraihnya, film yang juga dirilis secara internasional dengan judul Memories of My Body dan mewakili Indonesia untuk berkompetisi di kategori Best International Feature Film di ajang Academy Awards mendatang tersebut juga mampu memenangkan tujuh kategori lainnya, termasuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Muhammad Khan dan Sutradara Terbaik untuk Garin Nugroho. Kemenangan Nugroho juga menjadi torehan sejarah manis bagi sang sutradara mengingat kemenangan ini merupakan kemenangan pertama Nugroho di ajang Festival Film Indonesia setelah berulang kali mendapatkan nominasi pada tahun-tahun sebelumnya. Festival Film Indonesia 2019 juga menghadirkan catatan sejarah baru bagi Gina S. Noer yang berhasil memenangkan kategori Penulis Skenario Asli Terbaik untuk film Dua Garis Biru dan Pencipta Skenario Adaptasi Terbaik untuk Keluarga Cemara yang ia menangkan secara bersamaan. Continue reading Festival Film Indonesia 2019 Winners List

Review: Last Christmas (2019)

Last Christmas, I gave you my heart. But the very next day you gave it away.

Bayangkan jika Anda adalah seorang penulis naskah sekaliber Emma Thompson yang di waktu senggangnya secara tidak sengaja mendengarkan lagu Last Christmas (1984) milik Wham! dan lantas menginspirasi untuk menuliskan garisan cerita berdasarkan… well… lirik lagu tersebut. Hal ini yang terjadi pada film terbaru arahan Paul Feig (A Simple Favor, 2018), Last Christmas, dimana Thompson bersama dengan penulis naskah Bryony Kimmings mengembangkan barisan lirik dari salah satu lagu bertema Natal terpopular sepanjang masa tersebut menjadi sebuah presentasi kisah drama komedi romantis dengan menempatkan Emilia Clarke dan Henry Golding untuk memerankan dua karakter utamanya. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Meskipun memiliki paruh ketiga pengisahan yang tergolong lemah, Last Christmas berhasil dikemas sebagai presentasi yang dipenuhi dengan banyak momen manis yang akan cukup mampu menggugah sisi emosional para penontonnya. Continue reading Review: Last Christmas (2019)

Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Merupakan sekuel bagi Jumanji (Joe Johnston, 1995) dan dianggap sebagai film ketiga dalam seri film Jumanji setelah Zathura: A Space Adventure (Jon Favreau, 2005) yang juga diadaptasi dari seri buku cerita anak-anak garapan Chris Van Allsburg, Jumanji: Welcome to the Jungle (Jake Kasdan, 2017) mampu memberikan kesuksesan besar bagi Columbia Pictures ketika film tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$960 juta selama masa rilisnya di seluruh dunia. Well… tentu saja tidak mengejutkan ketika setahun kemudian Columbia Pictures mengumumkan bahwa pihaknya akan memproduksi sekuel bagi Jumanji: Welcome to the Jungle dengan Kasdan kembali duduk di kursi penyutradaraan serta Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart, dan Karen Gillan turut kembali untuk menghidupkan karakter sentral yang mereka perankan. Seperti yang dapat diungkapkan dari judulnya sendiri, Jumanji: The Next Level, film ini memang menjanjikan untuk menghadirkan tingkat kesenangan yang lebih banyak dari film pendahulunya. Tujuan yang lumayan mampu dapat dipenuhi – meskipun dengan beberapa garapan yang sepertinya menahan kualitas presentasi film ini untuk melangkah lebih jauh. Continue reading Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Review: 21 Bridges (2019)

Merupakan film layar lebar pertama yang diarahkan Brian Kirk setelah mengarahkan Middletown di tahun 2006, 21 Bridges adalah sebuah film aksi yang jalan ceritanya berfokus pada seorang detektif yang bertugas di New York Police Department, Andre Davis (Chadwick Boseman). Walau di kalangan kepolisian dirinya memiliki reputasi sebagai sosok yang terlalu mudah untuk menggunakan senjata dalam setiap aksinya, Andre Davis tidak terbantahkan adalah sosok polisi yang tangguh, cerdas, serta sering menjadi andalan dalam penyelesaian banyak kasus. Kehandalan Andre Davis tersebut kemudian digunakan ketika dua orang perampok, Michael Trujillo (Stephan James) dan Ray Jackson (Taylor Kitsch), melakukan aksinya di sebuah toko penjual minuman beralkohol yang lantas berakhir tragis ketika tindakan kriminal tersebut berujung dengan adu tembak yang menewaskan sejumlah polisi. Awalnya, tentu saja, Andre Davis mengira dirinya akan mendalami sebuah kasus perampokan sekaligus pembunuhan. Namun, kasus tersebut kemudian berkembang lebih luas dan melibatkan sejumlah orang dari pihak aparat hukum yang ternyata telah menyalahi kekuasaannya. Continue reading Review: 21 Bridges (2019)

Review: Dark Waters (2019)

Sebagai sebuah film, presentasi cerita yang dihadirkan Dark Waters mungkin akan mengingatkan banyak penontonnya pada sebuah film lain yang memiliki persamaan tema cerita. Bukan, film ini tidak memiliki pengisahan yang serupa dengan (atau bahkan merupakan sekuel dari) film horor yang dibintangi Jennifer Connelly, Dark Water (Walter Selles, 2005). Alur cerita Dark Waters yang berkisah tentang seorang pengacara yang berusaha untuk menuntut sebuah perusahaan industri raksasa akibat keteledoran mereka dalam menangani limbah yang lantas menyebabkan pencemaran lingkungan sekaligus penyakit pada masyarakat yang bersinggungan langsung dengan limbah tersebut jelas akan menghadirkan nostalgia dari pengisahan Erin Brockovich (Steven Soderbergh, 2000) yang dahulu berhasil memenangkan Julia Roberts kategori Best Actress in a Leading Role di ajang The 73rd Annual Academy Awards. Juga mendasarkan naskah ceritanya pada sebuah kisah nyata, layaknya Erin Brockovich, Dark Waters juga akan memaparkan bagaimana sifat tamak manusia telah menjadi senjata yang tidak hanya mematikan diri sendiri namun juga merusak orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Continue reading Review: Dark Waters (2019)

Review: The Good Liar (2019)

Setelah Mr. Holmes (2015), sutradara Bill Condon kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jeffrey Hatcher dan aktor Ian McKellen dalam film The Good Liar. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Nicholas Searle, The Good Liar bercerita mengenai pertemuan antara Roy Courtnay (McKellen) dan Betty McLeish (Helen Mirren) yang terjadi setelah keduanya sama-sama berkenalan di sebuah situs kencan daring. Sama-sama merupakan dua orang yang telah lama kesepian akibat ditinggal oleh sosok pasangan yang begitu mereka sayangi, Roy Courtnay dengan mudah dapat mencuri hati Betty McLeish. Bahkan, begitu jatuh hatinya Betty McLeish terhadap sosok Roy Courtney, wanita yang juga merupakan mantan profesor di Oxford University tersebut tidak segan untuk mengajak Roy Courtnay untuk tinggal bersamanya setelah melihat kondisi apartemennya – sebuah tindakan yang lantas mendapatkan tentangan dari cucu Betty McLeish, Steven (Russell Tovey). Seandainya Betty McLeish mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh cucu kesayangannya tersebut. Continue reading Review: The Good Liar (2019)

Review: Frozen II (2019)

Mungkin tidak ada seorangpun, termasuk Walt Disney Animation Studios sendiri, yang pernah menduga bahwa Frozen (Chris Buck, Jennifer Lee, 2013) akan mampu meraih kesuksesan yang begitu luar biasa. Merupakan adaptasi dari dongeng klasik karya Hans Christian Andersen yang berjudul The Snow Queen, Frozen tidak hanya berhasil mencapai kesuksesan komersial belaka ketika film tersebut meraup pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar pada masa penayangannya di seluruh dunia serta album musik temanya yang berisi lagu-lagu semacam Let It Go, Do You Want to Build a Snowman?, Love is an Open Door, dan For the First Time in Forever mampu terjual lebih dari sepuluh juta keping. Film yang juga berhasil memenangkan dua penghargaan di ajang The 86th Annual Academy Awards, termasuk kategori Best Animated Feature, tersebut juga menjelma menjadi sebuah fenomena sosial dalam skala global ketika alur kisahnya, lirik lagu-lagunya, hingga karakter-karakter serta gaya berbusana mereka menjadi perbincangan sekaligus ikon bagi para penikmat budaya pop di seluruh penjuru dunia. Fenomenal! Continue reading Review: Frozen II (2019)

Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Setelah Silenced (Hwang Dong-hyuk, 2011) dan Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016), Gong Yoo dan Jung Yu-mi kembali beradu akting dalam film Kim Ji-young, Born 1982 yang sekaligus menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Kim Do-young. Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Cho Nam-joo, Kim Ji-young, Born 1982 berkisah mengenai kehidupan pernikahan dari pasangan Jung Dae-hyun (Gong) dan Kim Ji-young (Jung) yang mulai mengalami gejolak setelah keduanya mendapatkan anak pertama mereka. Kim Ji-young bukannya tidak senang ataupun bahagia dengan kondisi rumah tangganya. Namun, di tengah rutinitas hariannya sebagai seorang ibu rumah tangga, Kim Ji-young mulai merindukan berbagai kesibukannya ketika dirinya masih menjadi seorang wanita karir. Terbeban dengan pemikiran tersebut, rasa depresi mulai menghampiri kesehatan mental Kim Ji-young yang, tentu saja, memberikan rasa khawatir yang mendalam kepada suaminya. Tidak ingin kehilangan istri yang begitu ia cintai, Jung Dae-hyun kemudian berusaha untuk memberikan perhatian penuh pada Kim Ji-young sekaligus mencari tahu jalan keluar agar dapat membahagiakan sang istri. Continue reading Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Review: Ford v Ferrari (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jez Butterworth (Spectre, 2015), John-Henry Butterworth (Edge of Tomorrow, 2014), dan Jason Keller (Escape Plan, 2013) berdasarkan kisah nyata mengenai persaingan antara dua pabrikan mobil terbesar di dunia, Ford Motor Company dan Ferrari, di tahun 1960an, Ford v Ferrari memulai tuturan ceritanya ketika Ford Motor Company gagal untuk membeli Ferrari ketika perusahaan mobil asal Italia tersebut sebenarnya sedang membutuhkan aliran dana segar. Tidak ingin kehilangan muka, Ford Motor Company lantas membuka divisi balapan mobil dengan harapan untuk dapat bersaing atau bahkan mengalahkan Ferrari di ajang balapan mobil tertua di dunia, 24 Hours of Le Mans. Demi mewujudkan ambisi tersebut, Ford Motor Company bekerjasama dengan Carroll Shelby (Matt Damon), mantan pembalap mobil yang pernah memenangkan ajang 24 Hours Le Mans yang kini memiliki sebuah perusahaan perakit mobil bernama Shelby American, serta seorang teknisi bernama Ken Miles (Christian Bale) yang telah lama menjadi teknisi pendamping bagi Carroll Shelby selama masa karirnya sebagai seorang pembalap. Membangun sebuah divisi baru jelas bukanlah sebuah hal yang mudah. Carroll Shelby dan Ken Miles bahkan harus berhadapan dengan para petinggi Ford Motor Company yang mulai ikut campur tangan terhadap banyak keputusan kritikal yang harus mereka ambil. Continue reading Review: Ford v Ferrari (2019)

Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Masih ingat dengan Rumah Kentang (2012)? Film horor garapan Jose Poernomo yang mendasarkan kisahnya pada urban legend mengenai rumah yang selalu beraroma kentang bernuansa mistis di malam hari? Mungkin tidak banyak yang (masih mau) mengingat film yang juga menandai kali pertama Shandy Aulia terlibat dalam sebuah film horor tersebut – Aulia kemudian melanjutkan karirnya sebagai aktris dengan membintangi sederatan film horor yang mendominasi filmografinya. Ketika dirilis, Rumah Kentang mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari banyak kritikus film yang memberikan sorotan tajam pada kualitas penulisan naskah ceritanya. Meskipun begitu, film yang juga menjadi film pertama yang diproduksi oleh Hitmaker Studios tersebut tetap mampu mengumpulkan lebih dari 400 ribu penonton dan menjadikannya sebagai salah satu film horor dengan jumlah penonton terbanyak di tahun 2012. Berkaca dari kesuksesan minor tersebut, tujuh tahun semenjak perilisan Rumah Kentang dan terlepas dari fakta bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan sekuel bagi film tersebut, Hitmaker Studios merilis Rumah Kentang: The Beginning yang kali ini menempatkan Rizal Mantovani (Kuntilanak 2, 2019) di kursi penyutradaraannya. Continue reading Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Review: 99 Nama Cinta (2019)

Setelah Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016) dan Bangkit! (Rako Prijanto, 2016), Acha Septriasa dan Deva Mahenra kembali tampil bersama dalam terbaru arahan Danial Rifki (Melbourne Rewind, 2016) yang berjudul 99 Nama Cinta. Septriasa berperan sebagai Talia, seorang presenter sekaligus produser sebuah acara infotainmen popular yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa penayangan acaranya harus dihentikan karena tersandung oleh masalah hukum. Tidak berhenti disana, Talia kini juga dialihtugaskan untuk menjadi produser bagi acara reliji yang tayang di pagi hari dan dikenal sebagai program yang paling tidak diminati di stasiun televisi tempatnya bekerja. Pun begitu, Talia tidak menyerah begitu saja. Usahanya untuk menghidupkan acara reliji tersebut kemudian membawanya pada sosok Kiblat (Mahenra) – seorang ustaz muda yang sebenarnya juga merupakan sahabat Talia di masa kecilnya. Meskipun dengan sejarah persahabatan diantara mereka serta hubungan akrab yang terjalin antara orangtua keduanya, perbedaan jalan sekaligus pandangan hidup di masa dewasa membuat Talia dan Kiblat sama-sama terasa tidak pernah akur. Tetap saja, cinta selalu dapat menemukan jalannya untuk mencuri hati setiap insan yang diincarnya. Continue reading Review: 99 Nama Cinta (2019)