All posts by Amir Syarif Siregar

An organized chaos! A professional dreamer.

Review: Happy Death Day (2017)

Meskipun bukan yang pertama dalam menggunakan plot pengisahan yang melibatkan terjadinya time loop – situasi dimana satu/beberapa karakter harus terjebak dalam sebuah putaran waktu sebelum dirinya/mereka dapat memecahkan sebuah misteri yang dapat mengeluarkan mereka dari perjalanan waktu berulang tersebut – namun film komedi arahan Harold Ramis, Groundhog Day (1993), jelas merupakan film pertama yang berada di benak banyak penikmat film dunia ketika disinggung mengenai pola penceritaan tersebut. Setelahnya, time loop turut hadir dalam banyak film Hollywood yang berasal dari berbagai genre seperti Triangle (Christopher Smith, 2009), Source Code (Duncan Jones, 2011), Looper (Rian Johnson, 2011), dan Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014). Kini, sutradara asal Amerika Serikat, Christopher Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones, 2014), menjajal kemampuannya dalam menggarap garisan cerita bernuansa time loop dalam sebuah slasher berjudul Happy Death Day. Hasilnya, meskipun filmnya tidak menawarkan sebuah pengisahan slasher yang terlalu istimewa, Landon mampu menjadikan Happy Death Day sebagai sebuah presentasi yang akan cukup mampu menyenangkan banyak penontonnya. Continue reading Review: Happy Death Day (2017)

Advertisements

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Review: Geostorm (2017)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi Dean Devlin, Geostorm adalah sebuah disaster movie yang patuh dalam mengikuti seluruh aturan film-film sejenis yang sering diproduksi Hollywood. Kisahnya sendiri bermula di tahun 2019 dimana setelah terjadinya serangkaian bencana alam di berbagai belahan dunia, 18 negara kemudian saling bekerjasama untuk membangun sebuah satelit yang dapat memberikan perlindungan bagi Bumi dari berbagai bencana alam. Tiga tahun kemudian, setelah terjadinya sebuah anomali cuaca yang menewaskan seluruh penduduk pada sebuah desa di Afghanistan, para peneliti menilai telah terjadi sebuah malafungsi pada satelit tersebut. Tidak ingin peristiwa tersebut diketahui oleh masyarakat dunia, Presiden Amerika Serikat, Andrew Palma (Andy García), kemudian menugaskan arsitek perancang satelit, Jake Lawson (Gerard Butler), untuk kembali ke angkasa luar dan meneliti apa yang menyebabkan terjadinya malafungsi. Meski awalnya menilai tidak mungkin terjadi kerusakan pada satelit yang telah dirancangnya, Jake Lawson akhirnya menemukan sebuah konspirasi yang berniat untuk mengambil alih satelit tersebut dan kemudian menggunakannya untuk menghancurkan dunia. Continue reading Review: Geostorm (2017)

Review: The Promise (2017)

Mereka yang pernah mengunjungi Thailand dan familiar dengan berbagai “lokasi wisata” negara tersebut kemungkinan besar (pasti?) pernah mendengar tentang keberadaan Ghost Tower. Gedung setinggi 47 lantai yang aslinya bernama Sathorn Unique Tower tersebut awalnya mulai dibangun pada tahun 1990 dan diniatkan untuk menjadi sebuah kondominium mewah nan ikonik yang terletak di tengah kota Bangkok. Sayang, ketika krisis ekonomi menerpa Thailand dan menyebabkan lumpuhnya pasar properti di negara tersebut pada tahun 1997, pembangunan Sathorn Unique Tower (dan ratusan gedung pencakar langit lainnya di kota Bangkok) menjadi terhambat dan secara perlahan akhirnya benar-benar terhenti. Seiring dengan berjalannya waktu, Sathorn Unique Tower berubah menjadi bangunan kumuh yang terabaikan keberadaannya namun kemudian mulai menarik perhatian banyak turis lokal maupun asing yang tertarik akan sejarah dan bentuk bangunan tersebut… serta berbagai rumor mengenai aktivitas supranatural yang menghantuinya. Continue reading Review: The Promise (2017)

Review: Blade Runner 2049 (2017)

Ketika dirilis pertama kali pada tahun 1982, film arahan Ridley Scott yang jalan ceritanya diadaptasi dari novel berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep? karya Philip K. Dick, Blade Runner, mendapatkan reaksi yang kurang begitu antusias. Banyak kritikus film di masa tersebut menilai bahwa kualitas penceritaan Blade Runner seringkali terasa dinomorduakan demi menghasilkan tampilan efek visual yang megah. Di saat yang bersamaan, ritme pengisahan film berdurasi 117 menit yang dihadirkan secara (terlalu) perlahan oleh Scott membuat Blade Runner dijauhi oleh mayoritas penonton. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Blade Runner justru mampu meraih lebih banyak penggemar dan memberikan pengaruh besar pada banyak film fiksi ilmiah yang dirilis setelahnya. Banyak media dan perkumpulan kritikus film dunia bahkan menggelari film yang juga berhasil meraih dua nominasi Academy Awards tersebut sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Tidak mengherankan bila kemudian Hollywood mulai menyusun rencana untuk memproduksi sekuel bagi Blade Runner. Continue reading Review: Blade Runner 2049 (2017)

Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Di tengah industri yang terus berjuang untuk dapat meraih kembali kepercayaan penonton, jelas tidaklah salah jika beberapa pembuat film memilih untuk “bermain aman” dengan memproduksi film-film yang memang terbukti mampu menarik perhatian penonton. Tahun ini, dengan keberhasilan besar yang diraih Danur (Awi Suryadi, 2017), Jailangkung (Rizal Mantovani, Jose Poernomo, 2017), dan Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), horor jelas menjadi lahan emas yang ingin dirasakan oleh banyak orang. Ruqyah: The Exorcism sendiri menjadi film horor kedua arahan Poernomo yang dirilis tahun ini setelah Jailangkung yang ia arahkan bersama Mantovani dan Gasing Tengkorak yang direncanakan akan rilis November mendatang. Sayangnya, bahkan lebih buruk dari Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism hadir dalam kualitas pengisahan yang cukup menyedihkan. Continue reading Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: The Foreigner (2017)

Diarahkan oleh Martin Campbell yang pernah mengarahkan dua film dari seri film James Bond dan dibintangi oleh Pierce Brosnan yang sempat membintangi empat film dari seri film James Bond serta Jackie Chan yang sama sekali belum pernah terlibat dalam seri film James Bond manapun, The Foreigner adalah sebuah film drama aksi yang diadaptasi dari novel berjudul The Chinaman karya Stephen Leather. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh David Marconi (Collision, 2013), The Foreigner berkisah mengenai usaha seorang ayah, Quan Ngoc Minh (Chan), untuk menemukan pelaku peristiwa pemboman di kota London, Inggris, yang telah menewaskan putrinya, Fan (Katie Leung). Pencarian Quan Ngoc Minh sendiri kemudian berujung pada perkenalannya dengan seorang pejabat pemerintahan Inggris, Liam Hennessy (Brosnan), yang ternyata memiliki masa lalu yang berkaitan dengan peristiwa pemboman tersebut. Merasa bahwa Liam Hennessy sama sekali tidak memberikan bantuan yang ia butuhkan, Quan Ngoc Minh akhirnya memilih untuk menggunakan caranya sendiri guna membalaskan rasa kepedihan hatinya. Continue reading Review: The Foreigner (2017)

Review: The Mimic (2017)

Merupakan film pertama dari sutradara Huh Jung setelah meraih kesuksesan besar lewat debut pengarahan film layar lebarnya, Hide and Seek (2013), The Mimic berkisah mengenai pasangan suami istri, Min-ho (Park Hyuk-kwon) dan Hee-yeon (Yum Jung-ah), yang bersama dengan puteri mereka, Joon-hee (Bang Yu-seol), dan ibu dari Min-ho, Soon-ja (Heo Jin), memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota setelah kehilangan putera mereka. Tidak lama setelah kepindahan tersebut, wilayah tempat mereka tinggal dihebohkan dengan penemuan sesosok jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya. Di saat yang bersamaan, Hee-yeon bertemu dengan seorang gadis kecil (Shin Rin-ah) yang ia duga tersesat dan terpisah dari orangtuanya. Hee-yeon lantas memutuskan untuk mengajak gadis tersebut untuk tinggal bersamanya sebelum nantinya ia melaporkan penemuan gadis tersebut ke pihak kepolisian. Namun, deretan kejadian aneh mulai mewarnai kehidupan Hee-yeon dan sekaligus membuat kebahagiaan keluarganya secara perlahan mulai terasa menghilang. Continue reading Review: The Mimic (2017)

Review: Pengabdi Setan (2017)

Merupakan film horor supranatural perdana Joko Anwar, Pengabdi Setan merupakan interpretasi ulang Anwar atas film horor Indonesia berjudul sama arahan Sisworo Gautama Putra yang sempat begitu populer ketika dirilis pertama kali pada tahun 1980. Meskipun sebuah versi ulang buat, namun Pengabdi Setan garapan Anwar tidak sepenuhnya mengikuti alur cerita yang telah diterapkan oleh film pendahulunya. Mereka yang telah familiar dengan film-film maupun gaya penceritaan Anwar jelas dapat merasakan bahwa pemenang Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk filmnya A Copy of My Mind (2015) tersebut tetap memasukkan sentuhan penceritaan khasnya di berbagai sudut pengisahan Pengabdi Setan terbaru. Hasilnya, selain pengisahan Pengabdi Setan tetap mampu terasa segar dan relevan bagi para penonton yang kebanyakan datang dari kalangan generasi baru, Anwar juga berhasil merangkai Pengabdi Setan miliknya menjadi sajian horor Indonesia yang sangat menyenangkan (dan menakutkan) untuk disaksikan. Continue reading Review: Pengabdi Setan (2017)

Review: Wind River (2017)

Memulai karirnya sebagai seorang aktor dengan membintangi serial televisi seperti Veronica Mars dan Sons of Anarchy, nama Taylor Sheridan mulai mendapatkan rekognisi yang lebih besar setelah keterlibatannya sebagai penulis naskah bagi film Sicario (Denis Villeneuve, 2015). Karirnya sebagai seorang penulis naskah bahkan semakin diperhitungkan setelah naskah ceritanya untuk film Hell or High Water (David Mackenzie, 2016) berhasil mendapatkan nominasi Best Original Screenplay di ajang The 89th Annual Academy Awards. Kini, setelah sebelumnya sempat mengarahkan sebuah film horor berjudul Vile yang dirilis pada tahun 2011, Sheridan kembali ke kursi penyutradaraan untuk mengarahkan film yang naskah ceritanya ia tulis sendiri, Wind River. Terinspirasi dari minimnya catatan kepolisian mengenai kasus menghilangnya para perempuan yang berasal dari Penduduk Asli Amerika, Sheridan menggarap Wind River sebagai sebuah pengisahan yang mungkin terasa familiar dan begitu sederhana namun mampu memberikan sentuhan emosional yang luar biasa mendalam. Continue reading Review: Wind River (2017)

Review: The LEGO Ninjago Movie (2017)

The LEGO Ninjago Movie merupakan film sempalan kedua bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Christopher Miller, 2014) setelah The LEGO Batman Movie arahan Chris McKay yang dirilis pada awal tahun ini. Filmnya sendiri berkisah mengenai sekelompok remaja, Lloyd Gamadon (Dave Franco), Kai (Michael Peña), Jay (Kumail Nanjiani), Nya (Abbi Jacobson), Zane (Zach Woods), dan Cole (Fred Armisen), yang dilatih oleh seorang ahli bela diri bernama Master Wu (Jackie Chan) dan kemudian bergabung menjadi sebuah kelompok ninja yang berusaha melindungi kota Ninjago tempat mereka tinggal dari serangan Lord Garmadon (Justin Theroux) – yang merupakan ayah kandung dari Lloyd Garmadon. Namun, Lloyd Garmadon harus mengenyampingkan konflik pribadi antara dirinya dengan sang ayah ketika sebuah kekuatan jahat baru datang dari sosok bernama Meowthra yang bersiap untuk menghancurkan Ninjago dengan kekuatan yang lebih dahsyat dari Lord Garmadon dan pasukannya. Continue reading Review: The LEGO Ninjago Movie (2017)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)