Review: The Doll 3 (2022)


Menjadi film keempat dalam film seri The Doll garapan Rocky Soraya – mengikuti The Doll (2016) dan The Doll 2 (2017) beserta film sempalannya, Sabrina (2018), The Doll 3 kembali menghadirkan plot tentang teror sesosok boneka mengerikan yang mengancam nyawa orang-orang yang berada di sekitarnya. Plot familiar yang telah direka berulang kali oleh Soraya bersama Riheam Junianti selaku penulis naskah cerita seri film ini yang, tentu saja, tidak lupa dibalut dengan adegan-adegan yang terasa mendapatkan pengaruh dari banyak film horor asing popular yang telah dirilis sebelumnya. Berbeda dengan film-film lain yang berada di semesta pengisahan The Doll, The Doll 3 menjadi kali pertama seri film ini benar-benar merengkuh warna pengisahan horor slasher-nya secara utuh dengan menyajikan lebih banyak adegan brutal yang penuh dengan limbahan darah dan gelimang nyawa deretan karakternya. Terdengar menyenangkan namun, sayangnya, masih dihantui akan berbagai kelemahan penuturan cerita yang selalu berada dalam tiap film arahan Soraya.

Alur pengisahan The Doll 3 dimulai dengan barisan kemalangan yang dialami oleh Tara (Jessica Mila) yang setelah kehilangan kedua orangtuanya (Josef Kara dan Miranty Dewi) akibat sebuah kecelakaan kini juga harus kembali merasakan duka kehilangan setelah sang adik, Gian (Zizie Zidane), bunuh diri. Tidak ingin berlarut dalam rasa duka tersebut, Tara menghubungi seorang dukun (Budi Gunawan) dan memintanya untuk memanggil arwah Gian. Berhasil, sang dukun memanggil arwah Gian dan menghidupkannya kembali dengan perantaraan boneka kesayangannya yang bernama Bobby. Keberadaan Gian yang kini bersemayam di tubuh bonekanya membuat Tara dapat bersemangat dalam menjalani serta menata hidupnya. Sayang, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Kejadian-kejadian aneh mulai melingkupi kehidupan Tara dan bahkan membahayakan nyawa tunangan Tara, Aryan (Winky Wiryawan), dan adiknya, Mikha (Montserrat Gizelle), yang dinilai Gian telah merenggut perhatian Tara dari dirinya.

The Doll 3 memang menitikberatkan presentasi kisahnya pada elemen slasher yang tergolong brutal – menjauh dari atmosfer penuturan supernatural a la Annabelle (John R. Leonetti, 2014) dan lebih condong pada paparan penuh darah dari Child’s Play (Lars Klevberg, 2019). Didukung dengan tatanan visual dan efek khusus yang berkelas, momen-momen kematian dalam film ini tergarap meyakinkan. Tikaman terhadap anggota tubuh, kepala yang terpenggal, ataupun tubuh yang terlempar jatuh dari gedung tinggi yang lantas menghempas atap mobil ataupun jalanan menjadi panorama yang mengisi banyak sudut pengisahan dan berhasil menghantarkan sejumlah kengerian pada penonton.

Di saat yang bersamaan, cukup sukar untuk benar-benar mengapresiasi presentasi horor dalam film ini ketika elemen pengisahan tersebut dibalut dalam penuturan drama dan karakterisasi yang benar-benar lemah (baca: bodoh). Dengan durasi presentasi yang mencapai 115 menit, naskah cerita garapan Junianti tidak pernah mampu untuk membuat penonton merasa terikat ataupun peduli dengan barisan plot maupun karakter yang mengisi linimasa penceritaan The Doll 3 ketika adegan-adegan brutalnya sedang tidak mengisi layar. Bukan suatu hal yang cukup mengejutkan mengingat permasalahan penceritaan tersebut telah menjadi borok yang selalu menghinggapi tiap garapan cerita hasil kolaborasi Soraya dan Junianti. Namun, kedangkalan (baca: kebodohan) yang dihadirkan oleh The Doll 3 hadir dengan kesan seolah Soraya dan Junianti telah benar-benar menyerah untuk menghasilkan garapan cerita dan karakterisasi yang dapat dirasakan keberadaannya.

Selain kehadiran “reka ulang” dari sejumlah adegan film-film horor asing popular – Halo lagi, Ed dan Lorraine Warren dengan kearifan lokal, Soraya dan Junianti juga tidak lupa membungkus filmnya dengan sebuah pelintiran kisah yang hadir di penghujung presentasi The Doll 3. Tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan sejumlah pelintiran cerita yang coba dihadirkan Soraya dalam film-film lain dalam semesta pengisahan The Doll namun jelas masih terasa terlalu mentah untuk dapat memberikan dukungan bagi kualitas penceritaan film ini secara keseluruhan. Well… setidaknya departemen akting The Doll 3 tidak memberikan penampilan akting seburuk kualitas naskah ceritanya. Mila, Wiryawan, dan Masayu Anastasia memberikan usaha terbaik mereka untuk menghidupkan karakter-karakter dangkal yang diberikan pada mereka. Juga cukup menyenangkan untuk melihat penampilan aktris muda Gizelle yang selalu mampu memberikan penampilan meyakinkan meskipun dirinya harus berhadapan dengan para pemeran lain yang telah memiliki lebih banyak pengalaman akting – ataupun sosok boneka animatronik yang berusaha untuk membunuh karakter yang ia perankan.

popcornpopcornpopcorn2popcorn2popcorn2

the-doll-3-film-indonesia-movie-posterThe Doll 3 (2022)

Directed by Rocky Soraya Produced by Rocky Soraya Written by Riheam Junianti (screenplay), Rocky Soraya (story) Starring Jessica Mila, Winky Wiryawan, Montserrat Gizelle, Zizie Zidane, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas, Masayu Anastasia, Fuad Idris, Sri Yatun, Josef Kara, Miranty Dewi, Budi Gunawan, T. Wicaksana Music by Ricky Lionardi Cinematography Dicky R. Maland Editing by Gita Miaji Studio Hitmaker Studios Running time 115 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s