Review: The Doll 2 (2017)


Merupakan sekuel dari The Doll arahan Rocky Soraya yang dirilis pada akhir tahun lalu, The Doll 2 berkisah mengenai dilema rumah tangga yang dialami pasangan Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) setelah keduanya kehilangan puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen), dalam sebuah kecelakaan. Rasa kesedihan mendalam yang dirasakan Maira seringkali membuatnya merasa bahwa Kayla masih belum benar-benar pergi dari kehidupannya. Kondisi tersebut secara perlahan membuat hubungan pernikahan Maira dan Aldo menjadi renggang. Atas saran sang sahabat, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba untuk berkomunikasi kepada Kayla dengan menggunakan medium boneka kesayangan puterinya. Walau merasa ritual yang ia jalankan bersama Elsa belum selesai dan gagal, Maira kemudian mulai merasakan berbagai gangguan supranatural menghampiri dirinya. Di saat yang bersamaan, Maira juga merasa bahwa kekuatan supranatural tersebut mencoba memberitahunya mengenai penyebab kematian Kayla yang sebenarnya.

Dari jalinan pengisahan, The Doll 2 sebenarnya tidak memiliki alur cerita yang terlibat langsung dengan film pendahulunya – meskipun tetap menghadirkan beberapa karakter yang menjadi benang merah antara kedua penceritaan film. Naskah cerita The Doll 2, yang ditangani oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara (Comic 8: Casino Kings – Part 1, 2015), harus diakui memiliki struktur pengisahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan naskah cerita yang dahulu disajikan pada The Doll. Karakter dan konflik yang tersaji di sepanjang 116 menit durasi pengisahan film mampu digulirkan sekaligus dikembangkan dengan cukup baik. Tidak sepenuhnya sempurna. Banyak dialog yang disajikan masih terdengar menggelikan. Penyajian sebuah pelintiran kisah pada awal paruh ketiga film juga terasa gagal untuk disajikan dengan matang. Selain mengubah warna pengisahan dari horor menjadi konflik drama rumah tangga yang cenderung dangkal, pelintiran kisah tersebut juga membuat bangunan konflik yang telah dirancang semenjak awal menjadi berantakan.

Dengan naskah penceritaan yang lebih terstruktur, pengarahan yang diberikan Soraya pada The Doll 2 juga terasa lebih dinamis. Soraya harus diakui masih belum mampu untuk menahan dirinya dari memberikan ledakan-ledakan suara guna mengejutkan penonton filmnya. Begitu pula dengan penggunaan “referensi” adegan horor dari film asing yang masih memenuhi banyak adegan The Doll 2. Meskipun begitu, Soraya berhasil membungkus filmnya dengan atmosfer horor yang cukup mencengkeram, penceritaan yang mengalir dengan baik serta tata produksi yang tampil sangat berkelas. Departemen produksi, mulai dari tata sinematografi, artistik, penyuntingan hingga suara dan musik, memberikan elemen-elemen kualitas yang sukses menjadikan The Doll 2 hadir dengan tampilan yang berada diatas kualitas film-film horor Indonesia hingga pertengahan tahun ini.

Kesuksesan utama The Doll 2 sendiri berasal dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Maya memberikan penampilan terbaiknya sebagai sosok ibu yang harus berhadapan dengan masalah kehilangan sang anak sekaligus pernikahan yang sedang berada di ambang kehancuran. Penampilan Maya-lah yang seringkali memberikan nyawa sekaligus emosi pada pengisahan film. Naskah cerita film sayangnya tidak memberikan ruang pengisahan yang cukup luas pada karakter-karakter lain dalam film ini untuk berkembang dengan lebih baik. Karakter Aldo yang diperankan Ali terasa tidak memiliki peran apapun hingga di penghujung penceritaan. Begitu pula dengan karakter Yani (Ira Ilva Sari) – yang membuat kisah krusialnya di paruh akhir film terasa begitu mendadak dan kurang matang penyajiannya. Terlepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, departemen akting film yang juga diisi penampilan dari Sara Wijayanto, Rydhen Afexi dan Shofia Shireen secara keseluruhan hadir dengan kualitas yang cukup memuaskan. [C]

the-doll-2-luna-maya-film-indonesia-movie-posterThe Doll 2 (2017)

Directed by Rocky Soraya Produced by Rocky Soraya, Ram Soraya Written by Riheam Junianti, Fajar Umbara (screenplay), Rocky Soraya (storyStarring Luna Maya, Herjunot Ali, Sara Wijayanto, Maria Sabta, Ira Ilva Sari, Rydhen Afexi, Shofia Shireen, Wati Sudiyono, Princess Martinez, Mega Caferansa, Ferdian Ariyadi, Syntia, Dea Rizkyana, Waffa Music by Anto Hoed Cinematography Asep Kalila Editing by Sastha Sunu Studio Hitmaker Studios Running time 116 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s