Tag Archives: Rating: C

Review: Pitch Perfect 3 (2017)

Sebagai sebuah sekuel, Pitch Perfect 2 (Elizabeth Banks, 2015) harus diakui tidak begitu mampu memberikan sensasi pengisahan yang sama mengesankan jika dibandingkan dengan Pitch Perfect (Jason Moore, 2012). But of course, dengan keberhasilan Pitch Perfect 2 untuk meraih pendapatan komersial yang bahkan jauh lebih besar dari seri pendahulunya, Universal Pictures tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kesuksesan komersial tambahan dari seri film ini. Dengan kursi penyutradaraan yang kini ditempati oleh Trish Sie (Step Up: All In, 2014) dan seluruh pemeran utama dari dua seri sebelumnya kembali dihadirkan, Pitch Perfect 3 masih mampu menghadirkan deretan elemen hiburan yang cukup menyenangkan – khususnya lewat beberapa momen musikalnya yang tergarap baik. Sayangnya, secara keseluruhan, Pitch Perfect 3 tampil dengan kualitas pengisahan yang cenderung lebih lemah yang sekaligus menempatkan film ini sebagai seri terburuk dari trilogi pengisahan Pitch Perfect. Continue reading Review: Pitch Perfect 3 (2017)

Advertisements

Review: Susah Sinyal (2017)

Melalui dua film perdananya, Ngenest (2015) dan Cek Toko Sebelah (2016), Ernest Prakasa telah cukup berhasil membuktikan posisinya sebagai salah satu sutradara sekaligus penulis naskah yang patut diperhitungkan keberadaannya di industri film Indonesia. Jika Ngenest mampu memisahkan Prakasa dari segerombolan rekan komika sepantarannya yang juga mencoba peruntungannya dengan berperan atau mengarahkan atau menjadi penulis naskah dalam sebuah film Indonesia – dengan menghasilkan sebuah film drama komedi yang menyasar pasar yang lebih dewasa dari penonton muda maupun remaja, maka Cek Toko Sebelah bahkan berhasil melangkah lebih jauh lagi. Tidak hanya film tersebut mampu meraih kesuksesan komersial dengan mendapatkan lebih dari dua juta penonton selama masa tayangnya, Cek Toko Sebelah juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film nasional yang kemudian membawa film yang dibintangi Prakasa bersama Dion Wiyoko tersebut mendapatkan sembilan nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2017 termasuk nominasi untuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Continue reading Review: Susah Sinyal (2017)

Review: Star Wars: The Last Jedi (2017)

Meskipun mendapatkan banyak tanggapan positif ketika masa perilisannya, Star Wars: The Force Awakens (J. J. Abrams, 2015) juga mendapatkan banyak kritikan ketika plot pengisahannya terasa terlalu banyak bergantung pada berbagai elemen nostalgia dari berbagai seri Star Wars terdahulu daripada berusaha untuk membawanya dalam sebuah alur pengisahan yang lebih segar. Well… seri terbaru Star Wars, Star Wars: The Last Jedi, yang kini berada di bawah arahan Rian Johnson (Looper, 2012) sepertinya tampil untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Johnson membawa Star Wars ke arah sekaligus warna pengisahan yang mungkin tidak dapat diduga beberapa penggemar seri film ini sebelumnya. Namun, di saat yang bersamaan, usaha Johnson untuk menyajikan Star Wars dengan lapisan pengisahan yang lebih rumit dihadirkan dengan naratif dan ritme penceritaan yang cenderung lemah. Hasilnya, dengan durasi presentasi sepanjang 152 menit – merupakan film Star Wars dengan durasi terpanjang hingga saat ini, Star Wars: The Last Jedi tampil cukup melelahkan. Continue reading Review: Star Wars: The Last Jedi (2017)

Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Tidak berada jauh dari masa perilisan (dan kualitas pengisahan) Daddy’s Home Two (Sean Anders, 2017), duo sutradara, Jon Lucas dan Scott Moore, menghadirkan sekuel bagi film komedi dewasa mereka, Bad Moms, yang berjudul A Bad Moms Christmas. Seperti halnya Daddy’s Home (Anders, 2015), Bad Moms berhasil memberikan kejutan pada Hollywood ketika film komedi yang dibintangi trio Mila Kunis, Kristen Bell, dan Kathryn Hahn tersebut mampu meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan raihan pendapatan sebesar lebih dari US$183 juta dari biaya produksi sebesar US$20 juta. Percaya atau tidak, A Bad Moms Christmas bahkan memiliki alur penceritaan yang hampir serupa dengan Daddy’s Home Two dengan Cheryl Hines, Christine Baranski, dan Susan Sarandon memerankan karakter ibu bagi ketiga karakter utama. Sial, juga seperti Daddy’s Home Two, A Bad Moms Christmas tampil inferior jika dibandingkan dengan film pendahulunya – meskipun masih memiliki beberapa momen menyenangkan maupun menyentuh yang tergarap dengan cukup baik. Continue reading Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Review: Murder on the Orient Express (2017)

Jika judul Murder on the Orient Express terdengar sangat familiar bagi Anda… then yes… film arahan Kenneth Branagh (Cinderella, 2015) ini merupakan adaptasi terbaru dari novel misteri popular berjudul sama karangan Agatha Christie. Murder on the Orient Express sendiri telah beberapa kali diadaptasi ke media audio visual – termasuk sebuah film layar lebar arahan Sidney Lumet yang berhasil meraih kesuksesan komersial ketika dirilis pada tahun 1974 serta mendapatkan lima nominasi dan memenangkan Ingrid Bergman piala Oscar ketiganya di ajang The 47th Annual Academy Awards. Selain melakukan perubahan pada tatanan nama maupun latar belakang beberapa karakternya, versi terbaru Murder on the Orient Express arahan Branagh tidak menawarkan arah maupun sudut pengisahan yang benar-benar baru. Sebuah pilihan yang membuat versi terbaru dari Murder on the Orient Express memiliki atmosfer pengisahan whodunit tradisional yang kental namun tetap mampu tampil modern berkat pengarahan Branagh yang cukup kuat. Continue reading Review: Murder on the Orient Express (2017)

Review: Jigsaw (2017)

Sebelum film-film horor supranatural seperti Paranormal Activity (Oren Peli, 2009) atau Insidious (James Wan, 2010) atau The Conjuring (Wan, 2013) mengambil alih Hollywood, para penikmat horor dunia terlebih dahulu telah merasakan teror dari film-film bertema torture porn – sebutan untuk film-film yang mengedepankan adegan kekerasan dan penyiksaan fisik maupun mental para karakternya – yang dipopulerkan oleh film Saw yang juga dikreasikan oleh Wan bersama aktor Leigh Whannell. Begitu popularnya Saw ketika dirilis pertama kali pada tahun 2004, enam sekuel film tersebut kemudian secara regular mengisi minggu perayaan Halloween di Amerika Serikat hingga tahun 2010. Dan, tentu saja, kesuksesan seri film Saw menginspirasi deretan rumah produksi Hollywood (dan dunia) untuk memproduksi film-film bertema sama. Continue reading Review: Jigsaw (2017)

Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Diadaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul sama karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni berkisah mengenai hubungan asmara antara dua orang dosen, Pingkan (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Sebelum Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, Sarwono meminta bantuan gadis tersebut untuk menemaninya menyelesaikan sebuah tugas di kota Manado, Sulawesi Utara – yang juga merupakan kota kelahiran Pingkan. Kepulangan Pingkan kembali ke kampung halamannya jelas disambut dengan senang hati oleh keluarganya. Namun, di saat yang bersamaan, kedatangan Pingkan juga disambut oleh sepupu tirinya, Benny (Baim Wong), yang semenjak lama telah menaruh hati pada Pingkan. Ditambah dengan deretan pertanyaan yang hadir dari keluarga Pingkan mengenai perbedaan kepercayaan yang mereka nilai tidak dapat menyatukan Pingkan dengan dirinya, membuat Sarwono mulai mempertanyakan kekuatan hubungan asmara yang ia jalin selama ini. Continue reading Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Review: Beyond Skyline (2017)

Keputusan Greg dan Colin Strause – atau yang lebih dikenal dengan sebutan Brothers Strause – untuk memproduksi dan merilis film fiksi ilmiah arahan mereka yang berjudul Skyline di tahun 2010 sempat membuat berang Sony Pictures. Bagaimana tidak. Rumah produksi milik Brothers Strause, Hydraulx Filmz, saat itu sedang dipekerjakan oleh Sony Pictures untuk membuat sebuah film fiksi ilmiah berjudul World Invasion: Battle Los Angeles (Jonathan Liebesman, 2011) yang, seperti halnya Skyline, juga berkisah tentang invasi para makhluk luar angkasa ke Bumi. Walau ricuh pada awalnya, setelah melalui beberapa proses hukum, Brothers Strause dan Sony Pictures akhirnya sepakat untuk berdamai serta melanjutkan proyek mereka masing-masing. Baik Skyline dan World Invasion: Battle Los Angeles sendiri sama-sama mendapatkan penilaian buruk dari para kritikus film dunia ketika masa rilisnya – meskipun keduanya kemudian cukup berhasil dalam menarik perhatian penonton dan meraup sejumlah keuntungan komersial. Continue reading Review: Beyond Skyline (2017)

Review: Geostorm (2017)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi Dean Devlin, Geostorm adalah sebuah disaster movie yang patuh dalam mengikuti seluruh aturan film-film sejenis yang sering diproduksi Hollywood. Kisahnya sendiri bermula di tahun 2019 dimana setelah terjadinya serangkaian bencana alam di berbagai belahan dunia, 18 negara kemudian saling bekerjasama untuk membangun sebuah satelit yang dapat memberikan perlindungan bagi Bumi dari berbagai bencana alam. Tiga tahun kemudian, setelah terjadinya sebuah anomali cuaca yang menewaskan seluruh penduduk pada sebuah desa di Afghanistan, para peneliti menilai telah terjadi sebuah malafungsi pada satelit tersebut. Tidak ingin peristiwa tersebut diketahui oleh masyarakat dunia, Presiden Amerika Serikat, Andrew Palma (Andy García), kemudian menugaskan arsitek perancang satelit, Jake Lawson (Gerard Butler), untuk kembali ke angkasa luar dan meneliti apa yang menyebabkan terjadinya malafungsi. Meski awalnya menilai tidak mungkin terjadi kerusakan pada satelit yang telah dirancangnya, Jake Lawson akhirnya menemukan sebuah konspirasi yang berniat untuk mengambil alih satelit tersebut dan kemudian menggunakannya untuk menghancurkan dunia. Continue reading Review: Geostorm (2017)

Review: The Foreigner (2017)

Diarahkan oleh Martin Campbell yang pernah mengarahkan dua film dari seri film James Bond dan dibintangi oleh Pierce Brosnan yang sempat membintangi empat film dari seri film James Bond serta Jackie Chan yang sama sekali belum pernah terlibat dalam seri film James Bond manapun, The Foreigner adalah sebuah film drama aksi yang diadaptasi dari novel berjudul The Chinaman karya Stephen Leather. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh David Marconi (Collision, 2013), The Foreigner berkisah mengenai usaha seorang ayah, Quan Ngoc Minh (Chan), untuk menemukan pelaku peristiwa pemboman di kota London, Inggris, yang telah menewaskan putrinya, Fan (Katie Leung). Pencarian Quan Ngoc Minh sendiri kemudian berujung pada perkenalannya dengan seorang pejabat pemerintahan Inggris, Liam Hennessy (Brosnan), yang ternyata memiliki masa lalu yang berkaitan dengan peristiwa pemboman tersebut. Merasa bahwa Liam Hennessy sama sekali tidak memberikan bantuan yang ia butuhkan, Quan Ngoc Minh akhirnya memilih untuk menggunakan caranya sendiri guna membalaskan rasa kepedihan hatinya. Continue reading Review: The Foreigner (2017)

Review: The Mimic (2017)

Merupakan film pertama dari sutradara Huh Jung setelah meraih kesuksesan besar lewat debut pengarahan film layar lebarnya, Hide and Seek (2013), The Mimic berkisah mengenai pasangan suami istri, Min-ho (Park Hyuk-kwon) dan Hee-yeon (Yum Jung-ah), yang bersama dengan puteri mereka, Joon-hee (Bang Yu-seol), dan ibu dari Min-ho, Soon-ja (Heo Jin), memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota setelah kehilangan putera mereka. Tidak lama setelah kepindahan tersebut, wilayah tempat mereka tinggal dihebohkan dengan penemuan sesosok jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya. Di saat yang bersamaan, Hee-yeon bertemu dengan seorang gadis kecil (Shin Rin-ah) yang ia duga tersesat dan terpisah dari orangtuanya. Hee-yeon lantas memutuskan untuk mengajak gadis tersebut untuk tinggal bersamanya sebelum nantinya ia melaporkan penemuan gadis tersebut ke pihak kepolisian. Namun, deretan kejadian aneh mulai mewarnai kehidupan Hee-yeon dan sekaligus membuat kebahagiaan keluarganya secara perlahan mulai terasa menghilang. Continue reading Review: The Mimic (2017)

Review: The LEGO Ninjago Movie (2017)

The LEGO Ninjago Movie merupakan film sempalan kedua bagi The LEGO Movie (Phil Lord, Christopher Miller, 2014) setelah The LEGO Batman Movie arahan Chris McKay yang dirilis pada awal tahun ini. Filmnya sendiri berkisah mengenai sekelompok remaja, Lloyd Gamadon (Dave Franco), Kai (Michael Peña), Jay (Kumail Nanjiani), Nya (Abbi Jacobson), Zane (Zach Woods), dan Cole (Fred Armisen), yang dilatih oleh seorang ahli bela diri bernama Master Wu (Jackie Chan) dan kemudian bergabung menjadi sebuah kelompok ninja yang berusaha melindungi kota Ninjago tempat mereka tinggal dari serangan Lord Garmadon (Justin Theroux) – yang merupakan ayah kandung dari Lloyd Garmadon. Namun, Lloyd Garmadon harus mengenyampingkan konflik pribadi antara dirinya dengan sang ayah ketika sebuah kekuatan jahat baru datang dari sosok bernama Meowthra yang bersiap untuk menghancurkan Ninjago dengan kekuatan yang lebih dahsyat dari Lord Garmadon dan pasukannya. Continue reading Review: The LEGO Ninjago Movie (2017)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)