Tag Archives: Rating: C

Review: Skyscraper (2018)

Skyscraper adalah sebuah film drama aksi terbaru yang dibintangi oleh Dwayne Johnson. Deskripsi tersebut sepertinya telah cukup untuk membuat banyak orang dapat membayangkan bagaimana pengisahan Skyscraper akan berjalan. Ummm… masih membutuhkan deskripsi singkat mengenai jalan cerita film ini? Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Rawson Marshall Thurber – yang sebelumnya mengarahkan Johnson dalam Central Intelligence (2016) – Skyscraper berkisah mengenai seorang mantan tentara bernama Will Sawyer (Johnson) yang bersama istri, Sarah Sawyer (Neve Campbell), dan kedua anaknya, Georgia Sawyer (McKenna Roberts) dan Henry Sawyer (Noah Cottrell), sedang berada di Hong Kong setelah Will Sawyer mendapatkan pekerjaan untuk melakukan supervisi terhadap sistem keamanan sebuah gedung pencakar langit yang telah dibangun oleh milyuner Zhao Long Ji (Chin Han). Pekerjaan tersebut awalnya berjalan dengan lancar. Namun, sebuah tindakan pengkhianatan yang melibatkan sosok mafia besar di Hong Kong kemudian menghancurkan seluruh hasil kerja Zhao Long Ji dan Will Sawyer – sekaligus menjebak seluruh anggota keluarga Will Sawyer dalam kebakaran besar yang dapat mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: Skyscraper (2018)

Advertisements

Review: Koki-koki Cilik (2018)

Layaknya seri kompetisi bakat Masterchef Junior, Koki-koki Cilik berkisah mengenai perjalanan Bima (Farras Fatik) dalam mengikuti ajang perlombaan memasak bagi anak-anak paling bergengsi di Indonesia yang bernama Cooking Camp. Untuk menjadi pemenang, Bima harus mengalahkan puluhan anak-anak berbakat lain, termasuk Audrey (Chloe X) yang telah memegang gelar juara selama tiga tahun terakhir. Persaingan ketat tersebut awalnya memberikan tekanan pada rasa percaya diri Bima – khususnya setelah mengetahui bahwa anak-anak lain berasal dari strata ekonomi yang lebih tinggi dan memiliki pengetahuan mengenai beragam menu makanan internasional yang lebih variatif dari dirinya. Namun, pertemuan Bima dengan Rama (Morgan Oey) mulai memberikannya semangat baru. Walau awalnya merasa terganggu dengan kehadiran Bima yang sering mengusik kegemarannya untuk menyendiri, mantan juru masak sebuah restoran terkenal tersebut secara perlahan mulai membagikan pengetahuannya dalam memasak sekaligus memotivasi Bima untuk dapat memenangkan kompetisi Cooking Camp. Continue reading Review: Koki-koki Cilik (2018)

Review: Sicario: Day of the Soldado (2018)

Merupakan sekuel dari Sicario arahan Denis Villeneuve yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun secara komersial ketika dirilis pada tahun 2015 yang lalu, Sicario: Day of the Soldado kini memberikan fokus yang penuh pada karakter agen rahasia Alejandro Gillick yang diperankan oleh Benicio del Toro. Dikisahkan, setelah terjadinya sebuah peristiwa bom bunuh diri di sebuah supermarket, pemerintah Amerika Serikat memberikan kuasa penuh bagi Central Intelligence Agency untuk memerangi kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko yang diduga turut menyelundupkan teroris ke wilayah Amerika Serikat dalam setiap operasi mereka. Bekerjasama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat, agen Matt Graver (Josh Brolin) lantas berencana untuk menimbulkan konflik antara para kartel obat-obatan terlarang asal Meksiko dengan tujuan agar mereka saling memerangi satu sama lain. Matt Graver lantas merekrut agen rahasia Alejandro Gillick (del Toro) untuk menculik puteri salah seorang pimpinan kartel paling berpengaruh, Isabela Reyes (Isabela Moner), dan merancang agar pertistiwa tersebut terlihat seperti dilakukan oleh kelompok kartel saingan. Rencana tersebut awalnya berjalan lancar. Sial, dalam perjalanannya, konflik justru semakin melebar dan membuat pihak militer Amerika Serikat harus berhadapan dengan pihak kepolisian Meksiko. Continue reading Review: Sicario: Day of the Soldado (2018)

Review: Ant-Man and the Wasp (2018)

Seperti ukuran tubuhnya, keberadaan Ant-Man (Peyton Reed, 2015) dalam semesta penceritaan film-film Marvel memang seringkali terasa seperti sajian selingan yang dihadirkan guna mengisi keberadaan waktu renggang. Tidak pernah benar-benar menjadi menu utama maupun ditempatkan pada garda terdepan barisan seri film Marvel Cinematic Universe. Beruntung, Reed – dengan bantuan naskah cerita apik yang digarap oleh Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, dan bintang utama film ini, Paul Rudd – mampu memberikan pengarahan yang begitu bertenaga. Pemberian fokus pada sisi komedi yang lebih besar jika dibandingkan dengan film-film Marvel Cinematic Universe lainnya juga menjadikan Ant-Man terasa sebagai sebuah sentuhan manis yang menyegarkan. Keikutsertaan karakter Scott Lang/Ant-Man (Rudd) dalam Captain America: Civil War (Anthony Russo, Joe Russo, 2016) juga kemudian semakin memantapkan posisi karakter pahlawan super berukuran mini tersebut dalam jajaran pahlawan super milik Marvel Studios – meskipun jelas masih berada cukup jauh untuk mencapai posisi yang ditempati karakter-karakter seperti Captain America, Iron Man, atau bahkan Thor dan Hulk. Continue reading Review: Ant-Man and the Wasp (2018)

Review: Target (2018)

Diarahkan oleh Raditya Dika (Hangout, 2016) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya sendiri, Target berkisah mengenai sembilan orang selebritis Indonesia – Dika, Cinta Laura Kiehl, Hifdzi Khoir, Abdur Arsyad, Samuel Rizal, Willy Dozan, Ria Ricis, Anggika Bolsterli, dan Romy Rafael – yang diundang seorang produser untuk membintangi film terbaru garapannya yang berjudul Target. Proses pengambilan gambar tersebut dilakukan di sebuah gedung kosong dan baru akan dimulai ketika kesembilan selebritis tersebut telah datang ke lokasi. Tidak disangka, ketika kesembilan orang tersebut telah berkumpul dan bersiap untuk menjalani proses shooting, sebuah rekaman video kemudian berputar yang lantas mengungkapkan bahwa mereka telah terperangkap di dalam gedung tersebut dan hanya dapat keluar jika mereka mengikuti deretan permainan mematikan yang telah disiapkan oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai Game Master. Mau tidak mau, demi menyelamatkan jiwa masing-masing, kesembilan orang tersebut harus berusaha bertahan hidup dalam permainan mematikan yang akan berjalan selama 24 jam. Continue reading Review: Target (2018)

Review: Kuntilanak (2018)

First of allNope. Meskipun memiliki kesamaan judul dan sutradara (dan rumah produksi), versi terbaru dari Kuntilanak ini sama sekali tidak memiliki keterikatan cerita dengan trilogi Kuntilanak arahan Rizal Mantovani yang dibintangi Julie Estelle dan sempat begitu popular ketika dirilis pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio (Guru Ngaji, 2018), Kuntilanak versi terbaru ini bahkan memberikan perubahan yang cukup radikal dengan menempatkan lima karakter anak-anak sebagai karakter utama cerita serta memberikan sentuhan komedi dan petualangan pada berbagai sudut pengisahannya – meskipun masih tetap menggunakan beberapa formula lama seperti keberadaan cermin antik yang misterius serta tembang berbahasa Jawa berjudul Lingsir Wengi untuk mempertahankan aroma mistis di dalam jalan penceritaan. Pengembangan kisah tersebut sebenarnya dapat saja menjadikan Kuntilanak tampil sebagai horor yang berbeda dan terasa menyegarkan diantara belantara film horor Indonesia. Sayangnya, pengelolaan kisah dan pengarahan yang setengah matang lebih sering menjadikan film ini terasa kebingungan dalam bercerita daripada mampu tampil menjadi sebuah presentasi horor yang menarik. Continue reading Review: Kuntilanak (2018)

Review: Ocean’s 8 (2018)

Bayangkan memiliki barisan talenta akting seperti Sandra Bullock, Cate Blanchett, Anne Hathaway, Sarah Paulson, hingga Helena Bonham Carter namun gagal untuk menyajikan sebuah presentasi pengisahan film yang menarik. Sayangnya, hal itulah yang terjadi pada Ocean’s 8 yang digarap oleh Gary Ross (The Hunger Games, 2012). Ocean’s 8 sendiri merupakan film lepasan dari trilogi Ocean’s (2001 – 2007) garapan Steven Soderbergh yang film pemulanya, Ocean’s Eleven (2001), adalah buat ulang dari film klasik Ocean’s 11 (1960) yang digarap oleh Lewis Milestone. Berbeda dengan tiga film pendahulunya yang departemen aktingnya didominasi oleh para pemeran pria, Ocean’s 8 menghadirkan jajaran aktris papan atas Hollywood untuk memerankan barisan karakter yang berada di dalam jalan ceritanya. Sayangnya, kehadiran para aktris tersebut terasa tidak begitu berarti bagi naskah cerita film yang digarap oleh Ross bersama dengan Olivia Milch. Daripada menjadikan Ocean’s 8 sebagai sebuah heist movie dengan identitas baru yang sesuai dengan karakteristik para pemerannya, Ross justru mengikuti dengan patuh berbagai pola yang telah diterapkan sebelumnya oleh trilogi Ocean’s yang, tentu saja, menjadikan pengisahan Ocean’s 8 menjadi begitu mudah ditebak. Continue reading Review: Ocean’s 8 (2018)

Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Berkaca pada pencapaian kualitas yang diraih oleh Jurassic World: The Lost World (Steven Spielberg, 1997), Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), dan Jurassic World (Colin Trevorrow, 2015), rasanya cukup jelas bahwa lanjutan kisah dari seri film Jurassic Park tidak akan mampu menandingi atau bahkan menyamai kualitas prima dari pengisahan Jurassic Park (Spielberg, 1993) yang sangat legendaris itu. Well… barisan sekuel Jurassic Park sebenarnya bukanlah film-film yang berkualitas buruk. Meskipun hadir dengan tatanan pengisahan yang semakin lama terasa semakin dangkal, film-film tersebut masih mampu dikembangkan dengan tata pengisahan yang menjadikannya cukup menyenangkan untuk disaksikan. Dan, tentu saja, kesuksesan raihan komersial film-film tersebut jelas akan membuat Spielberg dan para produser dari seri film Jurassic Park terus berusaha memutar otak mereka dalam menghasilkan bagian baru dari pengisahan seri film tersebut – seri terakhir Jurassic Park, Jurassic World, bahkan berhasil mendapatkan pendapatan sebesar lebih dari US$1.6 milyar dari masa perilisannya di seluruh dunia sekaligus menjadikannya sebagai film paling sukses dari seri film Jurassic Park. Continue reading Review: Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)

Review: The Gift (2018)

Hanung Bramantyo jelas merupakan salah seorang sutradara paling aktif di industri film Indonesia. Lihat saja setahun belakangan. Tidak kurang dari lima film Indonesia yang berasal dari berbagai genre berhasil ia arahkan – mulai dari Kartini (2017) yang kembali memberikannya nominasi Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia, Jomblo (2017) yang merupakan versi buat ulang dari salah satu film terbaiknya yang berjudul sama (2006), Seteru (2017) yang dirilis dan melintas begitu saja dari layar bioskop Indonesia, Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017) yang kembali berhasil menarik banyak penonton namun mendapatkan banyak reaksi negatif dari para kritikus film, hingga Benyamin Biang Kerok (2018) yang tidak hanya kembali mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film namun juga gagal untuk mendapatkan jumlah penonton yang signifikan meskipun telah dipromosikan secara besar-besaran. Kini, Bramantyo kembali hadir dengan film teranyarnya yang berjudul The Gift. Berbeda dengan film-film arahan Bramantyo yang tadi telah disebutkan, The Gift memiliki citarasa pengarahan yang cenderung intim, personal, dan jauh dari kesan komersial. Jelas sebuah pilihan yang cukup menarik dari seorang Bramantyo. Continue reading Review: The Gift (2018)

Review: Submergence (2018)

Ada banyak hal yang terjadi dalam pengisahan film terbaru arahan Wim Wenders (Every Thing Will Be Fine, 2015), Submergence. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Erin Dignam (The Last Face, 2016) berdasarkan novel berjudul sama karangan novelis J. M. Ledgard, Submergence merupakan sebuah kisah romansa yang berpadu dengan kisah petualangan di bawah laut, situasi iklim politik dunia, terorisme, misi rahasia seorang agen rahasia, hingga  beberapa sentuhan cerita tentang perubahan suhu Bumi yang secara perlahan menjebak orang-orang yang tinggal diatasnya. Cukup gampang ditebak, dengan begitu banyaknya hal yang ingin disajikan dalam 112 menit durasi penceritaan film ini, Submergence kemudian terasa kelimpungan dalam menyalurkan berbagai ide yang dimilikinya meskipun pada beberapa bagian tetap mampu hadir dengan sentuhan-sentuhan emosional yang kerapkali turut menghanyutkan penontonnya. Continue reading Review: Submergence (2018)

Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Dirilis setelah Rogue One: A Star Wars Story (Gareth Edwards, 2016) dan merupakan film kedua dalam seri film Star Wars Anthology yang dirancang The Walt Disney Company serta Lucasfilm Ltd. untuk mengisi senggang waktu dua tahun dari jarak perilisan tiap film utama Star Wars, Solo: A Star Wars Story menghadirkan pengisahan masa muda dari karakter Han Solo (Alden Ehrenreich) jauh sebelum dirinya terlibat dalam berbagai konflik yang digambarkan dalam Star Wars: Episode IV – A New Hope (George Lucas, 1977). Melalui film ini, penonton dapat mengenal bangunan kepribadian Han Solo dengan mengikuti momen-momen penting yang nantinya turut membantu karakter tersebut menjadi salah satu karakter ikonik di dunia perfilman: mulai dari momen ia mendapatkan nama Han Solo, perkenalannya dengan Chewbacca (Joonas Suotamo) dan Lando (Donald Glover) yang merupakan pemilik awal dari kapal angkasa Millennium Falcon, serta kisah romansanya dengan Qi’ra (Emilia Clarke) yang terbentuk sebelum ia bertemu dengan Princess Leia Organa.  Tentu saja, Solo: A Star Wars Story juga akan melibatkan Han Solo dalam serangkaian petualangan yang menuntutnya untuk tampil dalam adegan-adegan penuh aksi.

Continue reading Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Review: Gringo (2018)

Dengan barisan pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Joel Edgerton, Charlize Theron, David Oyelowo, Amanda Seyfried, Sharlto Copley, hingga Thandie Newton, serta alur pengisahan bernada black comedy dengan sentuhan deretan adegan aksi yang kadang tampil begitu brutal, adalah mudah untuk melihat Gringo sebagai sebuah film arahan Quention Tarantino maupun Joel dan Ethan Coen. But it’s not. Gringo merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan Nash Edgerton setelah kesuksesan debut pengarahannya, The Square (2008). Seperti yang diungkapkan sebelumnya, Gringo memiliki formula yang dapat saja menyamai film-film buatan Tarantino atau The Coen Brothers. Sayangnya, dengan segala potensi tersebut, Gringo gagal tampil bercerita dengan kuat akibat lemahnya bangunan pengisahan film hingga pengarahan Nash Edgerton yang sering terasa tampil berantakan. Continue reading Review: Gringo (2018)

Review: 7 Days in Entebbe (2018)

Diarahkan oleh José Padilha, 7 Days in Entebbe bercerita tentang kisah nyata mengenai dibajaknya sebuah pesawat Air France yang sedang terbang dari Tel Aviv Israel ke Paris, Perancis melalui Athena, Yunani oleh dua orang anggota Popular Front for the Liberation of Palestine serta dua orang anggota pergerakan Revolutionary Cells yang berkewarganegaraan Jerman, Brigitte Kuhlmann (Rosamund Pike) dan Wilfried Böse (Daniel Brühl) yang sempat menghebohkan dunia pada tahun 1976. Tujuan dari pembajakan tersebut adalah untuk mendukung sekaligus mempopularkan perjuangan rakyat Palestina yang wilayah negaranya telah direbut oleh Israel dengan meminta tebusan uang sebesar US$5 juta serta pembebasan sejumlah militan pendukung gerakan pembebasan Palestina. Pesawat Air France yang membawa 260 penumpang dan kru pesawat – dengan hampir separuhnya berkewarganegaraan Israel, kemudian diarahkan untuk mendarat di Bandara Entebbe yang berada di wilayah Entebbe, Uganda, untuk kemudian ditahan disana selama proses negosiasi dengan pemerintahan Israel berlangsung. Continue reading Review: 7 Days in Entebbe (2018)