Tag Archives: Rating: C

Review: Don’t Breathe 2 (2021)

Dengan biaya produksi sebesar kurang dari US$10 juta yang kemudian berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$150 juta di sepanjang masa perilisannya, jelas tidak mengejutkan jika Fede Álvarez dan Sam Raimi kemudian berusaha keras untuk menghasilkan sekuel bagi Don’t Breathe (Álvarez, 2016). Namun, baru pada awal tahun 2020 kejelasan tentang keberadaan sekuel Don’t Breathe diumumkan dengan Álvarez hanya akan bertindak sebagai produser dan penulis naskah cerita sementara posisinya sebagai sutradara digantikan oleh Rodo Sayagues yang bersama dengan Álvarez juga menuliskan naskah cerita untuk Don’t Breathe dan sekuelnya, Don’t Breathe 2. Selain dari kehadiran kembali dari karakter Norman Nordstorm yang diperankan oleh Stephen Lang, alur cerita Don’t Breathe 2 tidak memiliki koneksi langsung dengan berbagai konflik yang sebelumnya dikisahkan dalam film pendahulunya. Lalu, apakah film ini mampu untuk menghasilkan intensitas teror horor yang sama? Continue reading Review: Don’t Breathe 2 (2021)

Review: Jungle Cruise (2021)

Memulai karir penyutradaraannya dengan mengarahkan film horor House of Wax (2005) dan Orphan (2009) untuk kemudian secara perlahan mendapatkan rekognisi lebih luas berkat kesuksesan film-film aksi dan thriller berskala kecil namun dengan pengisahan yang sangat efektif seperti Unknown (2011), Non-Stop (2014), Run All Night (2015), dan The Commuter (2018) – yang kesemuanya dibintangi Liam Neeson, Jaume Collet-Serra kini didapuk DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film pahlawan super Black Adam yang dibintangi Dwayne Johnson. Namun, sebelum Collet-Serra merilis film lepasan dari Shazam! (David F. Sandberg, 2019) yang akan menjadi film kesebelas dalam seri film DC Extended Universe tersebut, Collet-Serra dan Johnson bekerjasama untuk film petualangan Jungle Cruise yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan, seperti halnya seri film Pirates of the Caribbean (2003 – 2017), alur ceritanya diinspirasi dari wahana atraksi bernama sama yang terdapat di Disneyland. Continue reading Review: Jungle Cruise (2021)

Review: Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Dengan kesuksesan yang mampu diraih oleh Black Panther (Ryan Coogler, 2018) yang diiringi dengan semakin membesarnya tuntutan sosial agar Marvel Studios (serta rumah produksi Hollywood lainnya) memberikan ruang yang lebih besar bagi karakter-karakter berkulit warna, Marvel Cinematic Universe memperkenalkan sosok pahlawan super barunya bernama Shang-Chi yang menjadi sosok pahlawan super dengan latar Asia pertama bagi seri film tersebut. Shang-Chi sendiri bukanlah sosok karakter baru dalam barisan buku komik yang dirilis oleh Marvel Comics. Juga dikenal sebagai Master of Kung Fu dan Brother Hand, karakter yang diciptakan oleh Steve Englehart dan Jim Starlin tersebut muncul pertama kali dalam Special Marvel Edition yang diterbitkan pada tahun 1973. Semenjak tahun 1980an, karakter Shang-Chi bahkan sempat berulang kali akan difilmkan dengan melibatkan sejumlah sutradara seperti Stephen Norrington (Blade, 1998) dan Yuen Woo-ping (Fist of Legend, 1994) namun selalu menemui kegagalan sebelum akhirnya, tentu saja, deretan kisah maupun karakter garapan Marvel Comics dikelola oleh Marvel Studios bersama dengan Walt Disney Studios. Continue reading Review: Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Review: Mothering Sunday (2021)

Merupakan film cerita panjang berbahasa Inggris pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Perancis, Eva Husson, Mothering Sunday bercerita tentang sebuah peristiwa penting yang terjadi pada perayaan Mothering Sunday yang nantinya akan mengubah kehidupan sang karakter utama, Jane Fairchild (Odessa Young). Dengan cerita yang memiliki latar belakang lokasi di wilayah Berkshire County, Inggris yang jauh dari riuhnya wilayah perkotaan pada tahun 1924 – beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, Jane Fairchild yang bekerja sebagai seorang asisten tumah tangga dibebastugaskan selama sehari oleh pemilik rumah tempatnya bekerja, Tuan dan Nyonya Niven (Colin Firth dan Olivia Colman), guna merayakan Mothering Sunday dimana masyarakat Inggris memiliki tradisi untuk mengunjungi ibu mereka. Tuan dan Nyonya Niven sendiri akan menghabiskan Mothering Sunday mereka dengan perjamuan makan siang bersama sahabat-sahabat mereka, Tuan dan Nyonya Hobday (Simon Sheperd dan Caroline Harker) serta putri tunggal mereka, Emma Hobday (Emma D’Arcy), dan Tuan dan Nyonya Sheringham (Craig Crosbie dan Emily Woof) beserta putra tunggal mereka, Paul Sheringham (Josh O’Connor). Continue reading Review: Mothering Sunday (2021)

Review: Cry Macho (2021)

Merupakan film ke-39 yang diarahkan oleh Clint Eastwood yang sekaligus menandai tahun ke-50 karir penyutradaraan yang ia mulai semenjak mengarahkan Play Misty for Me di tahun 1971, Cry Macho yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan N. Richard Nash telah mengalami sejumlah kegagalan untuk dieksekusi menjadi presentasi cerita layar lebar. Bermula di tahun 1988, produser Albert S. Ruddy menawarkan Eastwood untuk menjadi pemeran utama dalam Cry Macho yang kemudian ditolak karena komitmen Eastwood untuk membintangi sekuel teranyar dari seri film Dirty Harry, The Dead Pool (Buddy Van Horn, 1988). Proses pembuatan versi film dari Cry Macho kemudian melibatkan nama-nama seperti Robert Mitchum, Roy Scheider, Burt Lancaster, Pierce Brosnan, hingga Arnold Scwarzenegger sebagai pemeran utama namun tak satupun proyek film tersebut dapat terselesaikan. Lebih dari tiga dekade kemudian, tepatnya di tahun 2020, Warner Bros. Pictures mengumumkan bahwa Eastwood akan mengarahkan sekaligus membintangi Cry Macho yang masih menggunakan naskah cerita asli garapan Nash dengan sejumlah modifikasi yang dilakukan oleh Nick Schenk (The Judge, 2014). Continue reading Review: Cry Macho (2021)

Review: Cinderella (2021)

Gadis yatim piatu. Ibu dan saudara tiri yang selalu menyakiti hati. Pangeran yang sedang mencari cinta. Sepatu kaca. Yes, it’s a tale as old as time. Enam tahun semenjak Kenneth Branagh menghadirkan Cinderella (2015) yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial di sepanjang masa penayangannya namun juga berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, Kay Cannon (Blockers, 2018) kini menghadirkan interpretasinya atas kisah klasik yang kepopulerannya berawal dari cerita berjudul Cendrillon ou la petite pantoufle de verre yang diterbitkan pada tahun 1697 oleh penulis dongeng asal Perancis, Charles Perrault. Disampaikan dengan struktur pengisahan musikal, presentasi film cerita panjang layar lebar teranyar dari Cinderella yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Cannon ini berusaha untuk menghadirkan lingkup cerita dan karakter yang lebih modern dengan sentuhan sudut pandang feminis yang kental. Berhasil? Continue reading Review: Cinderella (2021)

Review: Wrath of Man (2021)

Dalam film teranyarnya, Wrath of Man, Guy Ritchie (The Gentlemen, 2019) kembali mengarahkan Jason Statham yang sebelumnya turut berperan dalam tiga film yang mengawali karir penyutradaraan Ritchie, Lock, Stock & Two Smoking Barrells (1998), Snatch (2000), dan Revolver (2005). Statham berperan sebagai Patrick Hill, seorang pria yang baru saja mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan keamanan pengelola mobil lapis baja bernama Fortico Security. Bertugas untuk menghantarkan barang berharga atau uang dalam jumlah besar, Patrick Hill dan rekan-rekannya seringkali harus berhadapan dengan bahaya yang datang dari kawanan penjahat yang berusaha untuk merebut bawaan mereka. Meskipun begitu, berbekal pengalamannya bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Eropa, Patrick Hill tidak ragu untuk melawan jika ada yang berusaha untuk mengganggu pekerjaannya – hal yang dibuktikan ketika ia dan dua rekannya, Haiden Blaire (Holt McCallany) dan Dave Hancock (Josh Hartnett), dihadang oleh sekelompok perampok dalam tugas mereka. Di saat yang bersamaan, kemampuan Patrick Hill untuk melawan membuat sejumlah orang lantas mempertanyakan siapa sosok Patrick Hill yang sebenarnya. Continue reading Review: Wrath of Man (2021)

Review: Notebook (2021)

Dimas Anggara dan Amanda Rawles kembali tampil bersama untuk film Notebook yang menandai debut pengarahan film cerita panjang layar lebar bagi Karsono Hadi yang sebelumnya dikenal sebagai penata gambar bagi film-film seperti Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988), Taksi (Arifin C. Noer, 1991), dan Bibir Mer (Noer, 1992) yang memenangkannya sebuah Piala Citra untuk kategori Penata Gambar Terbaik di Festival Film Indonesia 1992. Hadi juga berhasil meraih nominasi di kategori Penulis Skenario Terbaik dari ajang Festival Film Indonesia 2004 untuk film Marsinah: Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001). Untuk Notebook sendiri, Hadi mengarahkan naskah cerita yang ditulis oleh Sukhdev Singh dan Tisa TS yang merupakan penulis naskah bagi tiga film yang telah mempertemukan Anggara dan Rawles, Promise (Asep Kusdinar, 2017), London Love Story 3 (Kusdinar, 2018), dan The Perfect Husband (Rudi Aryanto, 2018). Continue reading Review: Notebook (2021)

Review: Reminiscence (2021)

Meraih rekognisi lebih luas berkat kesuksesan serial televisi Westworld (2016) yang mereka ciptakan, Lisa Joy dan Jonathan Nolan kembali berkolaborasi untuk memproduseri film fiksi ilmiah, Reminiscence, yang juga menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Joy. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Joy, Reminiscence memiliki latar belakang waktu pengisahan di masa depan dimana dua orang veteran, Nick Bannister (Hugh Jackman) dan Emily Sanders (Thandiwe Newton), membuka sebuah usaha yang memanfaatkan teknologi terkini untuk dapat menghidupkan kembali ingatan tertentu bagi mereka yang menginginkannya. Teknologi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh seorang penyanyi klub malam, Mae (Rebecca Ferguson), untuk dapat mengingat kembali dimana keberadaan kunci-kuncinya. Tidak hanya mendapatkan kembali kunci-kuncinya, Mae juga berhasil menarik perhatian Nick Bannister. Romansa dengan segera tumbuh diantara keduanya. Namun, setelah beberapa saat menjalin hubungan, Mae meninggalkan Nick Bannister dan menghilang tanpa jejak begitu saja. Continue reading Review: Reminiscence (2021)

Review: Pig (2021)

Dalam Pig, Nicolas Cage berperan sebagai Robin Feld, seorang mantan juru masak yang setelah kematian istrinya, Lorelai Feld (Cassandra Violet), memilih untuk mengasingkan diri dan tinggal di pedalaman belantara bersama dengan babi peliharaannya. Sial, suatu malam, sekawanan pencuri memasuki kediamannya dan mencuri babi tersebut. Tidak berdiam diri, Robin Feld lantas mencari tahu siapa dalang dibalik pencurian tersebut dan, tentu saja, berusaha untuk merebut kembali babi yang kini telah menjadi teman yang mengisi kesendirian dalam keseharian hidupnya. Merasa familiar karena premis film ini terdengar seperti versi alternatif dari John Wick (Chad Stahelski, 2014) yang dibintangi Keanu Reeves? WellPig mungkin memiliki kesan penuturan yang serupa tetapi dengan sosok anjing yang hilang kini digantikan oleh seekor babi. Namun, jika John Wick menerapkan elemen aksi yang brutal sebagai barisan tantangan yang harus dilalui oleh sosok protagonisnya, Pig justru mengupas lapisan-lapisan kisahnya sebagai proses meditasi bagi sang karakter utama. Tanpa adegan aksi. Tanpa adegan berdarah. Continue reading Review: Pig (2021)

Review: Jolt (2021)

Film terbaru arahan Tanya Wexler (Buffaloed, 2019), Jolt, berkisah tentang seorang perempuan bernama Lindy (Kate Beckinsale) yang semenjak kecil didiagnosa memiliki kelainan kondisi medis dimana dirinya tidak mampu menahan rasa amarah yang lantas mendorongnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Untuk menangani rasa amarah Lindy yang sering tidak terkendali, psikiaternya, Dr. Munchin (Stanley Tucci), memberikan sebuah alat kejut listrik yang mampu meredam hasrat Lindy untuk berlaku kasar ketika dirinya sedang emosional. Dr. Munchin juga menyarankan Lindy untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan orang lain. Saran yang kemudian mempertemukan Lindy dengan seorang akuntan bernama Justin (Jai Courtney). Tanpa disangka, Justin ternyata dapat merebut sekaligus melunakkan hati Lindy. Namun, belum lama kisah asmara tersebut tumbuh, sebuah tragedi muncul dan menimpa Justin. Lindy tidak mampu lagi mengontrol seluruh emosi yang ia rasakan dan lantas berusaha untuk menemukan siapa yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada sosok pria yang begitu dicintainya.

Continue reading Review: Jolt (2021)

Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Dirancang sebagai sebuah trilogi yang masing-masing bagian pengisahannya dirilis tiap minggu secara berurutan oleh Netflix, seri film Fear Street mengakhiri perjalanan kisahnya dengan perilisan Fear Street Part Three: 1666. Dengan naskah cerita yang digarap oleh sutradara film ini, Leigh Janiak, bersama dengan Phil Graziadei dan Kate Trefry, Fear Street Part Three: 1666 akan membawa penontonnya semakin jauh ke masa lalu untuk menggali secara mendalam kisah dari seorang perempuan bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dikisahkan, di pemukiman yang dikenal dengan nama Union – yang di masa depan akan berkembang menjadi kota modern, Sunnyvale dan Shadyside, sebuah kekuatan misterius menyebabkan bahan makanan menjadi membusuk, hewan ternak mati, dan, puncaknya, Pastor Cyrus Miller (Michael Chandler) ditemukan telah membunuh murid-muridnya. Panik, warga Union mulai berkumpul dan memutuskan bahwa kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka adalah merupakan akibat perbuatan sihir. Kepanikan warga tersebut kemudian dimanfaatkan oleh seorang pemuda bernama Caleb (Jeremy Ford) untuk membalaskan dendamnya pada Sarah Fier dan Hannah Miller (Olivia Scott Welch) yang dahulu pernah mempermalukannya. Continue reading Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Review: Chaos Walking (2021)

Selain menjadi judul dari film terbaru arahan Doug Liman (American Made, 2017), Chaos Walking jelas merupakan ungkapan yang juga tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana proses pembuatan film ini. Diadaptasi dari buku The Knife of Never Letting Go yang merupakan buku pertama dari trilogi Chaos Walking karangan Patrick Ness, kekacauan serta hambatan yang dihadapi film yang dibintangi Daisy Ridley dan Tom Holland ini telah dimulai ketika naskah cerita yang awalnya ditulis oleh Charlie Kaufman (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, 2004) kemudian dinilai kurang memuaskan dan lantas mendapatkan revisi dari sejumlah penulis naskah lain seperti Jamie Linden (Dear John, 2010) dan John Lee Hancock (The Little Things, 2021) sebelum akhirnya menggunakan naskah yang digarap oleh Ness bersama dengan Christopher Ford (Spider-Man: Homecoming, 2017). Proses pengambilan gambar film sendiri sebenarnya telah diselesaikan pada tahun 2017. Namun, setelah mendapatkan respon buruk dari sejumlah tes penayangan, Chaos Walking lantas melakukan sejumlah proses pengambilan gambar ulang – yang melibatkan sutradara Fede Álvarez (The Girl in the Spider’s Web, 2018) – dan menunda perilisan film ini dari tahun 2019 menjadi awal tahun ini. Tidak mengejutkan bila kemudian deretan kekacauan tersebut cukup terefleksi pada kualitas akhir dari pengisahan Chaos Walking. Continue reading Review: Chaos Walking (2021)