Tag Archives: Rating: C

Review: Glass (2019)

Selalu ada kejutan yang berhasil diterapkan sutradara M. Night Shyamalan dalam setiap film yang diarahkannya. Kejutan tersebut bukan hanya datang dari pelintiran plot penceritaan dalam filmnya namun, seperti yang diketahui oleh para penikmat film-filmnya, juga hampir selalu datang dari kualitas presentasi keseluruhan film-film tersebut. Setelah meraih sukses besar sekaligus mendapatkan kredibilitas tinggi sebagai sosok sutradara yang cerdas lewat film-filmnya seperti The Sixth Sense (1999) – yang memberikannya nominasi Best Director di ajang The 72nd Annual Academy Awards, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004), siapa yang dapat menyangka jika karir Shyamalan akan mendapatkan hantaman beruntun ketika film-filmnya Lady in the Water (2006), The Happening (2008), The Last Airbender (2010), dan After Earth (2013) tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film dunia namun juga gagal untuk mendapatkan kesuksesan komersial yang maksimal. Namun, tentu saja, karir Shyamalan tidak lantas mati dan berhenti pada deretan kegagalan tersebut. Bekerjasama dengan produser Jason Blum, Shyamalan merilis The Visit (2015) dan Split (2017) yang sekali lagi – kejutan! – membangkitkan ketertarikan dunia pada kemampuan sutradara berkewarganegaraan Amerika Serikat tersebut dalam merangkai kisah-kisah tak biasanya. Continue reading Review: Glass (2019)

Advertisements

Review: Swing Kids (2018)

Berlatar belakang lokasi pengisahan di Kamp Tahanan Geoje yang berada di Korea Selatan – yang digunakan untuk menahan para tawanan perang di saat berkecamuknya Perang Korea pada awal tahun 1950an, Swing Kids menyajikan sebuah kisah fiksi tentang persahabatan yang terjalin antara seorang tentara Amerika Serikat berkulit hitam, Jackson (Jared Grimes), seorang tentara Komunis asal Korea Utara, Ro Ki-soo (Do Kyung-soo), seorang tentara China bernama Xiao Fang (Kim Min-ho), seorang anti Komunis yang sedang berusaha menemukan kembali istrinya, Kang Byung-sam (Oh Jung-se), serta seorang wanita yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup, Yang Pan-rae (Park Hye-su). Meskipun memiliki ideologi dan tujuan hidup yang berbeda-beda, kelimanya kemudian disatukan oleh rasa cinta mereka pada seni tari yang mereka anggap mampu membebaskan jiwa mereka di saat fisik mereka terpenjara akibat peperangan yang tak kunjung usai. Jalinan hubungan cinta dan persahabatan yang lantas mampu membawa mereka bertahan melalui berbagai problema kehidupan. Continue reading Review: Swing Kids (2018)

Review: Escape Room (2019)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang mengawali karir penyutradaraannya secara cukup menjanjikan melalui The Taking of Deborah Logan (2014) namun lantas melanjutkannya dengan Insidious: The Last Key (2018) yang menjadi bagian terburuk dalam seri film Insidious hingga saat ini, Escape Room berkisah mengenai enam orang karakter yang berusaha untuk keluar dari sebuah permainan yang menjebak mereka. Zoey Davis (Taylor Russell), Ben Miller (Logan Miller), Amanda Harper (Deborah Ann Woll), Mike Nolan (Tyler Labine), Jason Walker (Jay Ellis), dan Danny Khan (Nik Dodani) awalnya mendapat undangan untuk mengikuti sebuah permainan yang mengharuskan mereka untuk memecahkan deretan teka-teki dengan hadiah sebesar US$10 ribu jika mereka dapat menyelesaikan permainan tersebut. Tanpa disangka, permainan yang awalnya dikira hanya untuk bersenang-senang kemudian berubah menjadi perangkap dengan setiap tahapan permainannya menghadirkan bahaya yang dapat membunuh mereka. Continue reading Review: Escape Room (2019)

Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Masih ingat dengan Hiccup dan Toothless? Setelah How to Train Your Dragon (Chris Sanders, Dean DeBlois, 2010) yang berhasil memenangkan kategori Best Animated Feature di ajang The 83rd Annual Academy Awards dan How to Train Your Dragon 2 (DeBlois, 2014) yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$600 juta yang mengungguli pendapatan komersial seri pendahulunya, DreamWorks Animation kini merilis film teranyar dari seri How to Train Your Dragon – yang juga digadang menjadi seri terakhir, How to Train Your Dragon: The Hidden World. Layaknya dua film pendahulunya, film yang masih diarahkan oleh DeBlois ini terus mengeksplorasi hubungan antara sang ketua suku Viking dari kelompok Berk, Hiccup (Jay Baruchel), dengan naga yang dipeliharanya semenjak kecil, Toothless, dengan kini membawa eksplorasi hubungan tersebut pada kemampuan Hiccup untuk menggantikan sang ayah, Stoick the Vast (Gerard Butler), menjadi pemimpin bagi suku mereka. Mampukah How to Train Your Dragon: The Hidden World menghasilkan daya tarik yang setara dengan daya tari yang dihasilkan oleh dua film terdahulu? Continue reading Review: How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Dengan inspirasi yang didapat dari lirik lagu milik kelompok musik Armada yang berjudul sama, Asal Kau Bahagia berkisah mengenai hubungan asmara antara dua remaja, Aliando (Aliando Syarief) dan Aurora (Aurora Ribero), yang berjalan lancar hingga akhirnya Aliando mendapat kecelakaan parah yang membuatnya harus terbaring koma. Namun, meskipun tubuhnya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, jiwa Aliando ternyata mampu berkelana serta melihat setiap aktivitas yang terjadi di sekitarnya. Sebuah keajaiban terjadi ketika jiwa Aliando mampu berinteraksi dengan sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana). Dengan kemampuan tersebut, Aliando lantas meminta Dewa untuk menjaga sekaligus menghibur Aurora selama dirinya dirawat di rumah sakit. Tidak disangka, ketika jiwanya sedang mengikuti Aurora, Aliando mendengar percakapan telepon yang terjadi antara Aurora dengan seorang pemuda bernama Rassya (Teuku Rassya) yang ternyata telah menjadi kekasih Aurora selama beberapa bulan terakhir. Continue reading Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Review: Milly & Mamet (2018)

Jika Mira Lesmana dan Riri Riza membutuhkan waktu selama 16 tahun untuk membawa kembali Cinta dan teman-temannya untuk hadir dalam sekuel Ada Apa dengan Cinta? (Rudy Soedjarwo, 2002), Ada Apa dengan Cinta? 2 (Riza, 2016), maka tidak membutuhkan waktu begitu lama bagi Lesmana dan Riza untuk menyajikan film sempalan pertama dalam semesta pengisahan film Ada Apa dengan Cinta?, Milly & Mamet. Seperti yang dituturkan oleh judul film ini, daripada mengeksplorasi kembali kelanjutan kisah cinta antara karakter Cinta dan Rangga, film ini mengalihkan fokusnya pada hubungan asmara yang terjalin antara karakter Milly dan Mamet – yang sebelumnya telah dikenalkan pada Ada Apa dengan Cinta? 2. Milly & Mamet juga memilih nada pengisahan yang cukup berbeda dengan dua film Ada Apa Dengan Cinta? Jika kedua film tersebut hadir dengan atmosfer drama dan romansa yang kental, maka Milly & Mamet, yang diarahkan oleh Ernest Prakasa (Susah Sinyal, 2017), tampil dengan penuturan komedi yang lebih maksimal seperti yang selalu dihadirkan Prakasa dalam setiap film-filmnya. Sebuah penyegaran yang cukup menyenangkan meskipun sentuhan komedi Prakasa – seperti yang terjadi pada dua film terakhir yang ia tulis dan arahkan, Cek Toko Sebelah (2016) dan Susah Sinyal – acapkali membayangi unsur drama yang sebenarnya membutuhkan lebih banyak ruang untuk berkembang. Continue reading Review: Milly & Mamet (2018)

Review: Aquaman (2018)

Cukup wajar jika DC Films dan Warner Bros. Pictures menggantungkan banyak harapan mereka kepada Aquaman. Selepas kegagalan beruntun dari Man of Steel (Zack Snyder, 2013), Batman v. Superman: Dawn of Justice (Snyder, 2016), dan Suicide Squad (David Ayer, 2016) dalam meraih dukungan dari para kritikus film dunia – serta ditanbah dengan tanggapan yang cenderung medioker dari pada penggemar komik rilisan DC Comics, yang kemudian diikuti oleh melempemnya performa Justice League (Snyder, 2017) – yang tercatat menjadi film dengan capaian kesuksesan komersial paling rendah dalam seri film DC Extended Universe, keberadaan Aquaman jelas krusial untuk membangkitkan kembali tingkat kepercayaan sekaligus ketertarikan publik pada deretan pahlawan super buatan DC Comics. Atau, setidaknya, Aquaman haruslah mampu mencapai tingkatan kualitas yang berhasil diraih Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) yang hingga saat ini menjadi satu-satunya film dari DC Extended Universe yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial. Dengan ambisi besar tersebut, jelas tidak mengherankan jika Aquaman digarap megah dalam kualitas produksinya namun, seperti halnya Wonder Woman, tetap menyajikan keintiman cerita dalam hal penggalian kisah dasar mengenai sang karakter utama film ini. Continue reading Review: Aquaman (2018)

Review: Robin Hood (2018)

Hollywood sepertinya belum merasa puas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang dapat mereka raih dengan kisah legenda Robin Hood. Setelah sebelumnya Ridley Scott merilis versinya pada tahun 2010 – dengan dibintangi nama-nama besar seperti Russell Crowe, Cate Blanchett, hingga Oscar Isaac, Léa Seydoux, Mark Strong, William Hurt, dan Max von Sydow – saduran teranyar dari kisah sang pahlawan rakyat jelata dari tanah Inggris tersebut kini hadir lewat film berjudul sama garapan sutradara asal Inggris, Otto Bathurst. Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara yang lebih dikenal sebagai sutradara bagi serial televisi seperti Peaky Blinders dan Black Mirror ini, Robin Hood mencoba menghadirkan penyegaran pada beberapa sudut pengisahan dan karakterisasi Robin Hood yang memang telah begitu familiar tersebut. Cukup menyegarkan… walau dengan durasi pengisahan yang mencapai hampir 120 menit, Robin Hood terasa mencuri waktu yang terlalu banyak untuk menjabarkan deretan konflik yang sebenarnya cukup sederhana dan kurang mendalam. Continue reading Review: Robin Hood (2018)

Review: The Girl in the Spider’s Web (2018)

Pernah membayangkan jika petualangan Lisbeth Salander hadir tanpa pengarahan David Fincher? Atau karakternya diperankan oleh aktris lain selain Rooney Mara? Atau perjalanan ceritanya tidak didampingi oleh iringan musik garapan Trent Reznor dan Atticus Ross? Well… tentu saja, tiga novel pertama seri Millennium buatan Stieg Larsson, The Girl with the Dragon Tattoo, The Girl who Played with Fire, dan The Girl who Kicked the Hornets’ Nest, telah difilmkan sebelum Fincher merilis The Girl with the Dragon Tattoo versinya pada tahun 2011 dengan Noomi Rapace berperan sebagai sang gadis bertato naga. The Girl in the Spider’s Web arahan Fede Álvarez (Evil Dead, 2013) sendiri jelas berada pada tingkatan dan atmosfer pengisahan yang berbeda jika dibandingkan dengan film arahan Fincher maupun tiga film adaptasi seri Millennium pertama yang dibintangi Rapace. Mirip dengan film-film pendahulunya, Álvarez masih mempertahankan atmosfer kelam dan dingin pada penceritaan The Girl in the Spider’s Web. Namun, daripada menghadirkan pengisahan dan karakterisasi yang cenderung kompleks, Álvarez membungkus The Girl in the Spider’s Web menjadi sebuah sajian crime thriller yang cukup apik. And that’s not a bad thing, really. Continue reading Review: The Girl in the Spider’s Web (2018)

Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Merupakan film kedua dari lima film yang direncanakan akan hadir dalam seri Fantastic Beasts yang naskah ceritanya dikembangkan dari buku Fantastic Beasts and Where to Find Them garapan J. K. Rowling, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald memiliki linimasa yang berlatar waktu pengisahan beberapa bulan setelah terjadinya berbagai konflik yang dikisahkan pada Fantastic Beasts and Where to Find Them (David Yates, 2016). Dikisahkan, penyihir hitam Gellert Grindelwald (Johnny Depp) yang sebelumnya telah ditangkap oleh Magical Congress of the United States of America dengan bantuan Newt Scamander (Eddie Redmayne) kini berhasil melarikan diri dan segera mulai mengumpulkan banyak pengikutnya untuk dapat membantunya mewujudkan ambisi terbesarnya: mengumpulkan seluruh penyihir berdarah murni dan kemudian menguasai seluruh umat manusia. Rencana yang jelas akan menimbulkan perpecahan di dunia sihir tersebut jelas mendapatkan tentangan dari banyak pihak, termasuk dari Albus Dumbledore (Jude Law), yang di masa lalu sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gellert Grindelwald. Percaya bahwa hanya Newt Scamander yang memiliki kemampuan untuk dapat mengalahkan Gellert Grindelwald, Albus Dumbledore akhirnya meminta bantuan pada mantan muridnya tersebut. Continue reading Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Review: A Man Called Ahok (2018)

Merupakan film panjang naratif pertama Putrama Tuta setelah sebelumnya mengarahkan versi teranyar dari Catatan Harian Si Boy (2011), A Man Called Ahok adalah film biopik yang berkisah tentang kehidupan mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dengan naskah cerita yang digarap oleh Tuta bersama dengan Ilya Sigma (Rectoverso, 2013) dan Dani Jaka Sembada (Pizza Man, 2015) berdasarkan buku berjudul sama yang ditulis oleh Rudi Valinka. Daripada menitikberatkan pengisahan film pada karakter Basuki Tjahaja Purnama serta tindakan dan pemikiran politik yang membuat keberadaannya begitu dikenal seperti saat ini, A Man Called Ahok sendiri memilih untuk mengekplorasi masa muda dari sang karakter, kehidupan masa kecilnya di Belitung, serta hubungannya dengan sang ayah yang nantinya membentuk karakter dari Basuki Tjahaja Purnama dewasa. Pilihan yang menarik walau naskah garapan Tuta, Sigma, dan Sembada kemudian kurang mampu menghadirkan keseimbangan penceritaan antara karakter Basuki Tjahaja Purnama dengan karakter sang ayah yang juga tampil mendominasi linimasa penceritaan film. Continue reading Review: A Man Called Ahok (2018)

Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Berawal dari sebuah cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King yang ditulis oleh penulis E.T.A. Hoffmann dan dirilis pada tahun 1816, The Nutcracker kemudian mendunia ketika kisah tersebut diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan balet sukses berjudul sama oleh Marius Petipa dan Lev Ivanov dengan iringan musik dari Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang juga menjelma menjadi salah satu gubahan musik paling familiar bagi banyak penikmat musik dunia. Keberhasilan tersebut tak pelak membuat pengisahan The Nutcracker kemudian diadaptasi ke dalam banyak bentuk media penceritaan lainnya – mulai dari drama panggung musikal, film layar lebar, serial televisi, bahkan hingga permainan video. Yang teranyar, Walt Disney Pictures merilis The Nutcracker and the Four Realms yang merupakan adaptasi mereka atas The Nutcracker and the Mouse King dan kisah yang disampaikan dalam pertunjukan balet The Nutcracker dengan memberikan sejumlah sentuhan baru pada beberapa bagian penceritaannya. Sebuah strategi yang mungkin sejalan dengan rilisan-rilisan mereka seperti Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) atau Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) yang juga memberikan interpretasi segar atas sebuah pengisahan klasik namun apakah Walt Disney Pictures mampu mempertahankan daya tarik magis dari The Nutcracker yang telah dicintai begitu banyak orang selama lebih dari satu abad? Continue reading Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Review: Bohemian Rhapsody (2018)

Terlahir dengan nama Farrokh Bulsara dalam keluarga yang memiliki garis keturunan darah Persia, Freddie Mercury (Rami Malek) menghabiskan awal mudanya dengan menjadi seorang kuli angkut di Bandara Heathrow, London, Inggris. Nasib – dan kemampuan vokalnya yang fantastis – kemudian mempertemukannya dengan Brian May (Gwilym Lee), Roger Taylor (Ben Hardy), dan John Deacon (Joseph Mazello) yang tergabung dalam sebuah kelompok band bernama Smile dan lantas mengajaknya untuk bergabung. Mengawali karir mereka dengan tampil di berbagai kampus dan klub malam, atas usul Freddie Mercury, band tersebut kemudian mengubah nama mereka menjadi Queen dan segera mendapatkan kontrak rekaman dari EMI Records. Berbekal musik yang eksentrik dan lirik lagu yang tajam, Queen segera mendapatkan perhatian dari jutaan penikmat musik di seluruh dunia. Seperti yang dapat ditebak, popularitas tersebut mulai mempengaruhi kehidupan pribadi masing-masing personel Queen. Hubungan persahabatan antara Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon mulai merenggang dan bahkan membuat Freddie Mercury mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri karir musiknya bersama dengan Queen. Continue reading Review: Bohemian Rhapsody (2018)