Tag Archives: Rating: C

Review: Submergence (2018)

Ada banyak hal yang terjadi dalam pengisahan film terbaru arahan Wim Wenders (Every Thing Will Be Fine, 2015), Submergence. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Erin Dignam (The Last Face, 2016) berdasarkan novel berjudul sama karangan novelis J. M. Ledgard, Submergence merupakan sebuah kisah romansa yang berpadu dengan kisah petualangan di bawah laut, situasi iklim politik dunia, terorisme, misi rahasia seorang agen rahasia, hingga  beberapa sentuhan cerita tentang perubahan suhu Bumi yang secara perlahan menjebak orang-orang yang tinggal diatasnya. Cukup gampang ditebak, dengan begitu banyaknya hal yang ingin disajikan dalam 112 menit durasi penceritaan film ini, Submergence kemudian terasa kelimpungan dalam menyalurkan berbagai ide yang dimilikinya meskipun pada beberapa bagian tetap mampu hadir dengan sentuhan-sentuhan emosional yang kerapkali turut menghanyutkan penontonnya. Continue reading Review: Submergence (2018)

Advertisements

Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Dirilis setelah Rogue One: A Star Wars Story (Gareth Edwards, 2016) dan merupakan film kedua dalam seri film Star Wars Anthology yang dirancang The Walt Disney Company serta Lucasfilm Ltd. untuk mengisi senggang waktu dua tahun dari jarak perilisan tiap film utama Star Wars, Solo: A Star Wars Story menghadirkan pengisahan masa muda dari karakter Han Solo (Alden Ehrenreich) jauh sebelum dirinya terlibat dalam berbagai konflik yang digambarkan dalam Star Wars: Episode IV – A New Hope (George Lucas, 1977). Melalui film ini, penonton dapat mengenal bangunan kepribadian Han Solo dengan mengikuti momen-momen penting yang nantinya turut membantu karakter tersebut menjadi salah satu karakter ikonik di dunia perfilman: mulai dari momen ia mendapatkan nama Han Solo, perkenalannya dengan Chewbacca (Joonas Suotamo) dan Lando (Donald Glover) yang merupakan pemilik awal dari kapal angkasa Millennium Falcon, serta kisah romansanya dengan Qi’ra (Emilia Clarke) yang terbentuk sebelum ia bertemu dengan Princess Leia Organa.  Tentu saja, Solo: A Star Wars Story juga akan melibatkan Han Solo dalam serangkaian petualangan yang menuntutnya untuk tampil dalam adegan-adegan penuh aksi.

Continue reading Review: Solo: A Star Wars Story (2018)

Review: Gringo (2018)

Dengan barisan pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Joel Edgerton, Charlize Theron, David Oyelowo, Amanda Seyfried, Sharlto Copley, hingga Thandie Newton, serta alur pengisahan bernada black comedy dengan sentuhan deretan adegan aksi yang kadang tampil begitu brutal, adalah mudah untuk melihat Gringo sebagai sebuah film arahan Quention Tarantino maupun Joel dan Ethan Coen. But it’s not. Gringo merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan Nash Edgerton setelah kesuksesan debut pengarahannya, The Square (2008). Seperti yang diungkapkan sebelumnya, Gringo memiliki formula yang dapat saja menyamai film-film buatan Tarantino atau The Coen Brothers. Sayangnya, dengan segala potensi tersebut, Gringo gagal tampil bercerita dengan kuat akibat lemahnya bangunan pengisahan film hingga pengarahan Nash Edgerton yang sering terasa tampil berantakan. Continue reading Review: Gringo (2018)

Review: 7 Days in Entebbe (2018)

Diarahkan oleh José Padilha, 7 Days in Entebbe bercerita tentang kisah nyata mengenai dibajaknya sebuah pesawat Air France yang sedang terbang dari Tel Aviv Israel ke Paris, Perancis melalui Athena, Yunani oleh dua orang anggota Popular Front for the Liberation of Palestine serta dua orang anggota pergerakan Revolutionary Cells yang berkewarganegaraan Jerman, Brigitte Kuhlmann (Rosamund Pike) dan Wilfried Böse (Daniel Brühl) yang sempat menghebohkan dunia pada tahun 1976. Tujuan dari pembajakan tersebut adalah untuk mendukung sekaligus mempopularkan perjuangan rakyat Palestina yang wilayah negaranya telah direbut oleh Israel dengan meminta tebusan uang sebesar US$5 juta serta pembebasan sejumlah militan pendukung gerakan pembebasan Palestina. Pesawat Air France yang membawa 260 penumpang dan kru pesawat – dengan hampir separuhnya berkewarganegaraan Israel, kemudian diarahkan untuk mendarat di Bandara Entebbe yang berada di wilayah Entebbe, Uganda, untuk kemudian ditahan disana selama proses negosiasi dengan pemerintahan Israel berlangsung. Continue reading Review: 7 Days in Entebbe (2018)

Review: Rampage (2018)

Merupakan kali ketiga sutradara Brad Peyton mengarahkan aktor Dwayne Johnson – setelah Journey 2: The Mysterious Island (2012) dan San Andreas (2015) yang sama-sama mendapatkan tinjauan buruk dari mayoritas kritikus film dunia namun berhasil meraih kesuksesan komersial yang cukup besar sepanjang masa rilisnya, Rampage merupakan sebuah film yang deretan karakter dan konfliknya diadaptasi dari permainan video popular berjudul sama yang diproduksi oleh Midway Games. Well… mereka yang tidak begitu menggemari dua film hasil kerjasama Peyton dan Johnson sebelumnya seharusnya tidak berharap banyak pada Rampage. Seperti halnya Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas, Rampage menitikberatkan presentasi ceritanya pada tampilan visual yang megah dengan seringkali mengenyampingkan fungsi kehadiran cerita dan karakter. Terdengar menyenangkan? Continue reading Review: Rampage (2018)

Review: Partikelir (2018)

Nama Pandji Pragiwaksono jelas bukanlah nama baru di industri perfilman Indonesia. Semenjak namanya popular sebagai seorang komika, Pragiwaksono juga telah berkesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya lewat film-film seperti Make Money (Sean Monteiro, 2013), Comic 8 (Anggy Umbara, 2014), {rudy habibie} (Hanung Bramantyo, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017). Mengikuti jejak rekan-rekan komikanya seperti Kemal Palevi, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Bayu Skak, Pragiwaksono kini menguji kemampuannya dalam penyutradaraan sebuah film lewat Partikelir. Juga berperan sebagai aktor dan penulis naskah cerita bagi film drama komedi aksi ini, Partikelir menghadirkan elemen-elemen komedi yang mungkin telah terasa familiar bagi para penggemar celotehan Pragiwaksono. Sayang, sebagai sebuah presentasi cerita keseluruhan, Partikelir tidak mampu berbicara banyak dan seringkali terasa goyah dalam banyak bagian pengisahannya. Continue reading Review: Partikelir (2018)

Review: Jelita Sejuba (2018)

Jika biasanya film-film yang berlatar kehidupan para tentara mengambil sudut pandang dari karakter para tentaranya itu sendiri – lihat saja Merah Putih II: Darah Garuda (Yadi Sugandi, Conor Allyn, 2010), Doea Tanda Cinta (Rick Soerafani, 2015), atau Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), maka Jelita Sejuba mencoba berkisah mengenai kehidupan sang istri dari tentara dalam mendampingi sosok yang harus membagi perhatiannya antara keluarga dengan negara. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab untuk naskah cerita Doea Tanda Cinta, Jelita Sejuba tampil cukup manis dalam penggambaran hubungan romansa antara kedua karakter utamanya meskipun sering terasa kehilangan keseimbangan pengisahan, khususnya pada paruh akhir penceritaan. Penampilan prima dari Putri Marino juga memberikan kontribusi besar bagi kualitas presentasi keseluruhan film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Ray Nayoan ini. Continue reading Review: Jelita Sejuba (2018)

Review: Arini (2018)

Diadaptasi dari novel karya Mira W., Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat, Arini memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang wanita bernama Arini (Aura Kasih) dengan seorang mahasiswa bernama Nick (Morgan Oey) dalam sebuah perjalanan kereta api di Jerman. Pertemuan tersebut begitu memberikan kesan mendalam bagi Nick yang lantas terus memburu Arini guna menyatakan rasa cintanya. Walau awalnya merasa perbedaan usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Nick menjadi sebuah faktor penghalang namun secara perlahan Arini mulai membuka hatinya terhadap pemuda tampan tersebut. Di saat yang bersamaan, masa lalu Arini datang menghantui ketika ia bertemu dengan mantan suaminya, Helmi (Haydar Salishz), sekembalinya ia ke Indonesia. Luka mendalam akan percintaannya di masa lampau lantas menghalangi hubungan romansa yang sedang mekar antara Arini dan Nick. Continue reading Review: Arini (2018)

Review: Danur 2: Maddah (2018)

Setelah kesuksesan film pertamanya, Danur: I Can See Ghosts (Awi Suryadi, 2017), yang sempat meraih predikat sebagai film horor Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa – sebelum gelar tersebut kemudian direbut oleh Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), Danur 2: Maddah melanjutkan cerita mengenai Risa (Prilly Latuconsina) dan kemampuannya dalam melihat makhluk-makhluk dari alam supranatural. Dikisahkan, ketika kedua orangtuanya sedang berada dalam perjalanan ke luar negeri, Risa dan adiknya, Riri (Sandrinna M. Skornicki), memilih untuk menghabiskan banyak waktu mereka di rumah keluarga pamannya, Ahmad (Bucek Depp). Awalnya, kunjungan Risa dan Riri ke rumah paman mereka berjalan biasa saja. Namun, secara perlahan, Risa bersama dengan bibi, Tina (Sophia Latjuba), dan puteranya, Angki (Shawn Adrian), mulai merasakan terjadinya perubahan pada sikap Ahmad. Walau awalnya mengira ada wanita lain dalam kehidupan pamannya, Risa akhirnya menyadari bahwa ada keterlibatan kekuatan supranatural yang mengganggu kehidupan keluarga pamannya. Continue reading Review: Danur 2: Maddah (2018)

Review: Guru Ngaji (2018)

Enam tahun semenjak merilis debut pengarahan film layar lebarnya, Rumah di Seribu Ombak (2012) – yang berhasil meraih beberapa nominasi Festival Film Indonesia termasuk di kategori Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, Erwin Arnada kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan dua film yang dikeluarkan pada paruh awal tahun 2018. Film pertama, sebuah horor berjudul Nini Thowok yang dibintangi Natasha Wilona, menawarkan sebuah premis sederhana tentang sebuah urban legend berbau mistis namun gagal untuk dikembangkan dengan lebih apik. Film kedua, sebuah drama berjudul Guru Ngaji dimana kredit penyutradaraan bagi Arnada dituliskan dengan hanya menggunakan nama depannya, juga hadir dengan premis yang sama sederhana namun, untungnya, berhasil disajikan dengan kualitas pengisahan yang lebih baik. Banyak menghadirkan momen-momen kuat dan menyentuh meskipun masih terasa hadir dengan pengembangan cerita yang cenderung dangkal. Continue reading Review: Guru Ngaji (2018)

Review: Pacific Rim Uprising (2018)

Berbeda dengan seri film Transformers (2007 – 2017) yang sebelumnya telah dirilis dan mempopulerkan kembali keberadaan para robot-robot raksasa, Pacific Rim garapan Guillermo del Toro yang dirilis pada tahun 2013 menawarkan sebuah sentuhan pengisahan yang sedikit berbeda. Berbekal pengisahan yang cenderung kelam (dan lebih dewasa) seperti kebanyakan film-film del Toro lainnya, Pacific Rim mampu menangkap perhatian para kritikus film meskipun tetap mendapatkan catatan khusus mengenai lemahnya pengembangan konflik dan karakter yang dihadirkan. Sayangnya, pemilihan alur yang sedikit berbeda dari film-film Transformers juga menjadi salah satu penyebab mengapa penonton akhirnya sedikit menjaga jarak dari keberadaan Pacific Rim. Dengan biaya produksi yang mencapai hampir sebesar US$200 juta, Pacific Rim “hanya mampu” mendapatkan raihan komersial sebesar US$411 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Jelas sebuah pencapaian yang cukup mengecewakan dari bagian awal sebuah seri film yang tadinya diperkirakan akan menjadi lumbung yang terbaru bagi rumah produksi Legendary Pictures. Continue reading Review: Pacific Rim Uprising (2018)

Review: Love for Sale (2018)

Siapa yang tidak akan terpesona dengan sosok Arini Kusuma (Della Dartyan)? Figur fisiknya jelas akan mampu menggoda setiap pecinta wanita yang mengenalnya. Tidak hanya itu, Arini adalah sosok yang memiliki kepribadian yang juga mampu tampil memikat – mulai dari pengetahuannya soal dunia sepakbola, keahlian memasak, hingga urusan ranjang. Namun, berbeda dengan gadis-gadis lainnya, Arini bukanlah sosok wanita yang dapat ditemukan di sembarang tempat. Oleh Richard Achmad (Gading Marten) – sesosok pria yang telah terlalu lama hidup menyendiri, Arini Kusuma ditemukan di sebuah aplikasi percintaan yang membiarkan penggunanya untuk bertemu dengan gadis impiannya setelah mereka membayar sejumlah uang. Richard Achmad sendiri awalnya hanya ingin Arini Kusuma menemaninya ke sebuah pesta pernikahan sahabatnya. Daya tarik Arini Kusuma-lah yang secara perlahan mengubah kehidupan Richard Achmad dan membuatnya mampu merasakan sebuah perasaan cinta yang sebenarnya telah sangat lama tidak pernah dirasakannya. Continue reading Review: Love for Sale (2018)

Review: A Wrinkle in Time (2018)

Ketika dirilis perdana pada tahun 1962, buku A Wrinkle in Time yang ditulis oleh novelis asal Amerika Serikat, Madeleine L’Engle, mampu mencuri perhatian dan memicu perbincangan di kalangan pecinta literatur dunia berkat struktur penceritaan buku tersebut yang membaurkan tema-tema seperti fantasi, agama, fiksi ilmiah, serta berbagai isu sosial yang memang sedang hangat dibicarakan di saat tersebut. Berkat penceritaan L’Engle yang apik, A Wrinkle in Time kemudian berhasil memenangkan banyak penghargaan di bidang sastra sekaligus menjadi salah satu buku paling popular dan berpengaruh di lingkungan sastra Amerika Serikat. Kepopuleran A Wrinkle in Time – yang nantinya dilanjutkan L’Engle lewat empat seri buku berikutnya – lantas membuat buku tersebut diadaptasi ke berbagai bentuk medium, mulai dari buku audio, novel grafis, drama panggung, opera, hingga film televisi. Yang terbaru, Walt Disney Pictures – rumah produksi yang juga memproduksi adaptasi film televisi dari A Wrinkle in Time (John Kent Harrison, 2003) – berusaha untuk menterjemahkan kekuatan cerita A Wrinkle in Time ke dalam bentuk film layar lebar dengan arahan dari sutradara Ava DuVernay (Selma, 2014). Continue reading Review: A Wrinkle in Time (2018)