Tag Archives: Rating: C

Review: Gara-gara Warisan (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh aktor sekaligus komika, Muhadkly Acho – yang menjadikan film ini sebagai debut penyutradaraan film cerita panjangnya, Gara-gara Warisan memulai linimasa penceritaannya ketika seorang pemilik penginapan, Dahlan (Yayu Unru), berusaha untuk menemukan sosok yang tepat diantara ketiga anak-anaknya, Adam (Oka Antara), Laras (Indah Permatasari), dan Dicky (Ge Pamungkas), untuk menggantikan posisinya dalam mengelola penginapan ketika mengetahui dirinya mengidap penyakit yang sukar untuk disembuhkan. Dengan masalah perekonomian yang sedang menghimpit ketiganya, Adam, Laras, dan Dicky bersaing keras untuk memperebutkan warisan sang ayah yang jelas diharapkan dapat membantu kehidupan mereka. Di saat yang bersamaan, persaingan tersebut secara perlahan membuka kembali berbagai perseteruan, duka, hingga luka yang dirasakan setiap anggota keluarga tersebut semenjak lama. Continue reading Review: Gara-gara Warisan (2022)

Review: KKN di Desa Penari (2022)

Awalnya direncanakan rilis pada awal tahun 2020, KKN di Desa Penari adalah salah satu film yang terus tertunda penayangannya akibat keberadaan pandemi COVID-19. Padahal, film ini sempat digadang akan mampu mengundang jutaan penonton ke bioskop berkat kepopuleran masif materi sumber pengisahannya yaitu utasan cuitan kisah horor berdasarkan kisah nyata yang diberi judul serupa dan disampaikan via akun Twitter @SimpleMan.  Versi film dari KKN di Desa Penari sendiri dibangun dengan naskah cerita yang ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit serta arahan dari Awi Suryadi – Suryadi dan Laila sendiri telah bekerjasama di sejumlah film dari semesta pengisahan seri film Danur. Harus diakui, Suryadi mampu memberikan visual yang kuat akan deretan teror horor yang ingin dihadirkan oleh linimasa pengisahan film ini. Sayang, dengan pengembangan kisah dan karakter yang kurang matang, banyak potensi penceritaan KKN di Desa Penari berakhir dengan kesan gagal dituturkan secara utuh. Continue reading Review: KKN di Desa Penari (2022)

Review: Sonic the Hedgehog 2 (2022)

Dengan biaya produksi sebesar US$90 juta yang kemudian menghasilkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$319 juta di sepanjang masa perilisannya di seluruh dunia, tidak mengherankan jika Paramount Pictures dengan segera menyetujui pembuatan sekuel bagi Sonic the Hedgehog (Jeff Fowler, 2020). Fowler masih duduk di kursi penyutradaraan. Begitu pula dengan duo penulis naskah dari film sebelumnya, Pat Casey dan Josh Miller, yang kali ini mendapatkan sokongan dari John Whittington (Dolittle, 2020). Continue reading Review: Sonic the Hedgehog 2 (2022)

Review: The Lost City (2022)

The Lost City jelas memiliki premis yang akan mengingatkan penontonnya pada sejumlah film aksi-petualangan-romansa popular dari masa lampau – Raiders of the Lost Ark (Steven Spielberg, 1981), Romancing the Stone (Robert Zemeckis, 1984), atau bahkan The Mummy (Stephen Sommers, 1999), Knight and Day (James Mangold, 2010) dan Jungle Cruise (Jaume Collet-Serra, 2021). Diarahkan oleh Adam Nee dan Aaron Nee (Band of Robbers, 2015) berdasarkan naskah cerita yang ditulis keduanya bersama dengan Oren Uziel (Mortal Kombat, 2021) dan Dana Fox (Cruella, 2021), film ini berkisah tentang seorang penulis novel romansa dewasa, Loretta Sage (Sandra Bullock), yang diculik oleh seorang miliarder eksentrik, Abigail Fairfax (Daniel Radcliffe), karena menduga Loretta Sage mengetahui cara untuk menafsirkan peta kuno yang akan menunjukkan lokasi keberadaan sebuah harta karun. Kejadian penculikan Loretta Sage disaksikan secara langsung oleh Alan Caprison (Channing Tatum), pria tampan yang selama ini menjadi model bagi sampul depan novel-novel romansa dewasa karangan Loretta Sage. Alan Caprison, yang secara diam-diam memendam perasaan suka pada Loretta Sage, dengan segera mencari pertolongan dan bahkan terlibat langsung untuk menyelamatkan wanita idamannya. Continue reading Review: The Lost City (2022)

Review: Umma (2022)

Seperti yang digariskan oleh judul film ini, Umma – yang berarti “ibu” dalam Bahasa Korea, debut pengarahan film cerita panjang dari sutradara Iris K. Shim ini berkisah tentang hubungan ibu dan anak, Amanda (Sandra Oh) dan Chris (Fivel Stewart). Didorong trauma akan hubungannya yang buruk dengan sang ibu (MeeWha Alana Lee) di masa lampau, Amanda memilih untuk membesarkan puterinya tanpa dukungan teknologi modern di sebuah peternakan yang jauh dari keramaian kota. Keseharian Amanda dan Chris berjalan menyenangkan… hingga akhirnya paman dari Amanda (Tom Yi) datang mengabarkan bahwa ibu dari Amanda telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu dengan sekaligus menghantarkan abu jenazah sang ibu. Rasa ketakutan Amanda akan sosok sang ibu kembali menyeruak dan, secara perlahan, mulai memberikan pengaruh buruk pada hubungannya dengan Chris. Continue reading Review: Umma (2022)

Review: Ambulance (2022)

Menjadi film arahan Michael Bay pertama yang dirilis secara luas di layar bioskop semenjak Transformers: The Last Knight (2017) – film arahan Bay sebelumnya, 6 Underground (2019) yang dibintangi Ryan Reynolds, dirilis secara eksklusif melalui Netflix – Ambulance adalah film aksi menegangkan yang alur ceritanya diadaptasi dari film asal Denmark berjudul sama (2005) arahan Laurits Munch-Petersen. Alur pengisahannya berfokus pada sosok veteran perang bernama William Sharp (Yahya Abdul-Mateen II) yang karena sedang berada dalam kondisi terdesak untuk mendapatkan uang guna membiayai operasi sang istri, Amy Sharp (Moses Ingram), lantas menerima tawaran dari saudara adopsinya, Danny Sharp (Jake Gyllenhaal), untuk merampok sebuah bank. Awalnya, perampokan tersebut berjalan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun Danny Sharp. Sial, ketika dalam kepanikan William Sharp kemudian menembak seorang polisi yang sedang bertugas, Officer Zach (Jackson White), deretan kekacauan yang mengancam nyawa keduanya mulai bermunculan. Continue reading Review: Ambulance (2022)

Review: Gangubai Kathiawadi (2022)

Setelah Padmaavat (2018), Sanjay Leela Bhansali kembali duduk di kursi penyutradaraan lewat Gangubai Kathiawadi. Merupakan adaptasi bebas dari buku berjudul Mafia Queens of Mumbai yang ditulis oleh S. Hussain Zaidi, Gangubai Kathiawadi merupakan kisah nyata tentang sesosok gadis bernama Ganga Jagjivandas (Alia Bhatt) yang terjebak ke dunia prostitusi ketika kekasihnya, Ramnik Lal (Varun Kapoor), menjualnya ke sebuah rumah pelacuran yang dikelola oleh Sheela Mausi (Seema Pahwa). Jelas, tidak hanya sakit dan patah hati akibat pengkhianatan sang kekasih yang dirasakan oleh Ganga Jagjivandas. Gadis tersebut bahkan sempat berniat untuk mengakhiri hidupnya ketika Sheela Mausi mulai menawarkan tubuhnya pada para pelanggan rumah pelacurannya. Namun, secara perlahan, Ganga Jagjivandas mulai tersadar dirinya tidak boleh menyerah begitu saja meskipun terjerembab ke dasar jurang kehidupan. Ganga Jagjivandas mengubah identitasnya menjadi Gangubai Kathiawadi dan, memanfaatkan kepopulerannya yang terus meningkat di kalangan pengguna layanan prostitusi, mulai merebut kekuasaan dari tangan Sheela Mausi. Continue reading Review: Gangubai Kathiawadi (2022)

Review: Uncharted (2022)

Merupakan salah satu permainan video dengan kualitas sekaligus penjualan terbaik sepanjang masa semenjak seri pertamanya dirilis pada tahun 2007 silam, tidak mengherankan bila Hollywood sejak lama telah berupaya untuk membawa Uncharted ke layar lebar. Tercatat, semenjak tahun 2008, Sony Pictures telah menggiring nama-nama seperti David O. Russell, Seth Gordon, Shawn Levy, hingga Travis Knight untuk dapat mengarahkan adaptasi film dari permainan video tersebut. Namun, baru pada awal tahun 2020 Sony Pictures mengumumkan bahwa Ruben Fleischer (Zombieland: Double Tap, 2019) akan duduk di kursi penyutradaraan bagi versi film dari Uncharted dengan Tom Holland dan Mark Wahlberg berperan sebagai karakter Nathan Drake dan Victor Sullivan. Fleischer mampu memberikan arahan yang membuat Uncharted hadir dengan sejumlah momen menyenangkan. Namun, dengan pendekatan cerita yang cenderung generik, kesan menyenangkan tersebut rasanya tidak akan membekas terlalu lama di benak banyak para penonton film ini. Continue reading Review: Uncharted (2022)

Review: Marry Me (2022)

Jika Anda merindukan penampilan akting Jennifer Lopez dalam film drama komedi romantis seperti yang dahulu sering dilakoninya lewat film-film semacam The Wedding Planner (Adam Shankman, 2001), Maid in Manhattan (Wayne Wang, 2002), Monster-in-Law (Robert Luketic, 2005), hingga The Back-Up Plan (Alan Poul, 2010) dan What to Expect When You’re Expecting (Kirk Jones, 2012), jelas akan dapat dengan mudah menyukai Marry Me. Diarahkan oleh Kat Coiro (A Case of You, 2013), film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karangan Bobby Crosby ini akan membawa para penontonnya kembali ke era keemasan film-film drama komedi romantis yang menghadirkan alur pengisahan yang begitu sederhana namun terasa manis dengan dukungan penampilan apik Lopez dan barisan pemeran yang… well… atraktif serta mudah untuk menarik perhatian. Continue reading Review: Marry Me (2022)

Review: Death on the Nile (2022)

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda sedang berada dalam sebuah perjalanan wisata mewah dimana Anda dikelilingi oleh pemandangan alam yang begitu mengesankan, kumpulan orang-orang dengan penampilan fisik yang tidak kalah atraktif, dan kemudian salah satu detektif paling ternama di dunia, Hercule Poirot, turut serta dalam perjalanan tersebut? Well… sebaiknya Anda berhati-hati karena malaikat maut berada dekat dan mungkin sedang mengincar nyawa Anda. Atau, lebih buruk lagi, rencana pembunuhan yang telah lama Anda susun akan segera diketahui dan diungkap ke khalayak ramai. Continue reading Review: Death on the Nile (2022)

Review: Ben & Jody (2022)

Ada yang berbeda dalam presentasi cerita Ben & Jody – film ketiga yang mengikuti perjalanan kehidupan dua karakter penikmat kopi yang saling bersahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto), yang kisahnya sebelumnya dihadirkan lewat dua seri film Filosofi Kopi garapan Angga Dwimas Sasongko. Jika Filosofi Kopi the Movie (2015) dan Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017) bergumul dalam nada drama terkait dengan kisah tentang usaha kedua karakter tersebut dalam mengelola sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi ataupun berbagai intrik yang mewarnai kisah persahabatan mereka, maka Ben & Jody tampil dengan lingkup penceritaan yang lebih kental akan nuansa aksi. Manuver cerita yang cukup berani, meskipun jelas tidak terlalu mengejutkan jika ditilik dari sejumlah tema maupun konflik yang sempat dihadirkan Sasongko dalam dua film Filosofi Kopi sebelumnya. Continue reading Review: Ben & Jody (2022)

Review: Antlers (2021)

Menjadi film horor perdana yang diarahkan oleh sutradara Scott Cooper yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Crazy Heart (2009) dan Hostiles (2017), Antlers bertutur tentang seorang anak laki-laki bernama Lucas Weaver (Jeremy T. Thomas) yang harus merawat ayah, Frank Weaver (Scott Haze), dan adik laki-lakinya, Aiden Weaver (Sawyer Jones), ketika keduanya secara tiba-tiba menderita sebuah penyakit yang membuat mereka menjadi terus kelaparan dan perlahan juga mengubah penampilan mereka menjadi mengerikan. Kondisi tersebut membuat sikap dan perangai Lucas Weaver menjadi berubah – situasi yang kemudian mendapatkan perhatian mendalam oleh gurunya, Julia Meadows (Keri Russell). Awalnya, Julia Meadows curiga bahwa perubahan sikap Lucas Weaver terjadi karena dirinya mendapat perlakuan kekerasan dari sang ayah. Namun, penyelidikan yang dilakukan oleh Julia Meadows membawanya pada misteri akan mitologi setempat yang semenjak lama menghantui warga di daerah tersebut. Continue reading Review: Antlers (2021)

Review: The 355 (2022)

Setelah X-Men: Dark Phoenix (2019), Jessica Chastain kembali tampil di bawah arahan sutradara Simon Kinberg untuk film aksi The 355. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Kinberg bersama dengan Theresa Rebeck (Catwoman, 2004), The 355 memulai pengisahannya ketika dua agen Central Intelligence Agency, Mason Browne (Chastain) dan Nick Fowler (Sebastian Stan), ditugaskan untuk melakukan transaksi pembelian dawai yang memiliki kemampuan untuk mengakses dan mengontrol seluruh sistem digital yang ada di Bumi dari seorang agen rahasia Dirección Nacional de Inteligencia asal Kolombia, Luis Rojas (Édgar Ramírez). Sial, transaksi yang berlangsung di Paris, Perancis tersebut berakhir dengan kegagalan ketika seorang agen rahasia Bundesnachrichtendienst asal Jerman, Marie Schmidt (Diane Kruger), mengacaukan situasi. Penasaran dengan keterlibatan banyak orang dari berbagai negara pada kasus yang ia tangani, Mason Browne kemudian menghubungi rekannya yang merupakan seorang mantan agen rahasia MI6 asal Inggris, Khadijah Adiyeme (Lupita Nyong’o) untuk turut membantunya. Continue reading Review: The 355 (2022)