Tag Archives: Rating: C

Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan: Barcelona! yang ditulis oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita – dengan Mulya bertugas untuk menggarap naskah cerita film ini, Belok Kanan Barcelona berkisah mengenai persahabatan antara Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Ucup (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang telah terjalin semenjak masa SMA. Meski kini mereka telah tinggal di empat negara berbeda dalam menjalani karir mereka, Francis, Retno, Ucup, dan Farah masih menjaga hubungan dan komunikasi mereka dengan baik. Suatu hari, ketika keempatnya sedang berkomunikasi melalui perantaraan video conference, Francis mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), dan menggelar pesta pernikahan mereka di Barcelona, Spanyol. Sebuah pernyataan yang tidak hanya terkesan tiba-tiba bagi teman-teman Francis namun juga memicu munculnya kembali perasaan dan memori dari masa lampau yang kemudian menghantui hubungan persahabatan keempatnya. Continue reading Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Advertisements

Review: The House with a Clock in its Wall (2018)

Seorang anak laki-laki yang baru saja menjadi yatim piatu dan kini tinggal bersama sang paman menyadari bahwa terdapat kekuatan magis yang melingkupi kehidupan kesehariannya dan bahkan mengajak dirinya untuk mengikuti serta mempelajari kekuatan tersebut. Bukan. Premis tersebut bukanlah berasal dari film yang diadaptasi dari seri buku popular yang lebih-baik-tidak-disebutkan-judulnya itu. Diadaptasi dari buku berjudul sama karangan John Bellairs – yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1973 dan jauh sebelum J. K. Rowling merilis seri buku miliknya, The House with a Clock in its Wall menjadi presentasi yang monumental bagi Eli Roth dimana film ini menjadi kali pertama bagi sutradara film-film “berdarah” semacam Cabin Fever (2002), Hostel (2005), dan The Green Inferno (2013) tersebut menggarap sebuah film dengan pengisahan yang dapat disaksikan oleh seluruh kalangan umur. Lalu, bagaimana performa kualitas film keluarga pertama arahan Roth ini? Continue reading Review: The House with a Clock in its Wall (2018)

Review: Peppermint (2018)

Diarahkan oleh Pierre Morel (Taken, 2008) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Chad St. John (London Has Fallen, 2016), Peppermint memulai pengisahannya dengan sebuah tragedi ketika Riley North (Jennifer Garner) harus kehilangan suami, Chris North (Jeff Hephner), dan putri mereka, Carly (Cailey Fleming), setelah keduanya tewas terbunuh oleh gempuran tembakan dari sekelompok penjahat anggota kartel narkotika dan obat-obatan terlarang pimpinan Diego Garcia (Juan Pablo Raba). Tidak berhenti disana, akibat pengaruh Diego Garcia yang begitu besar, tidak seorang pun saksi yang mau membela Riley North dalam proses hukum untuk menangkap Diego Garcia beserta anggota organisasi kriminalnya. Pengadilan lantas memilih untuk menutup kasus tersebut dengan dasar kurangnya bukti maupun saksi yang dapat mendukung berlanjutnya proses hukum tersebut. Riley North tidak tinggal diam dan menyerah. Lima tahun semenjak kematian suami dan anaknya, Riley North mulai menyusun rencana untuk mendapatkan keadilan dari para penegak hukum yang dinilai telah meninggalkan dirinya dan, tentu saja, Diego Garcia dan kawanan kriminalnya yang telah menyengsarakan kehidupannya. Continue reading Review: Peppermint (2018)

Review: The Predator (2018)

Merupakan film keempat dalam seri film Predator yang mengikuti Predator (John McTiernan, 1987), Predator 2 (Stephen Hopkins, 1990), dan Predators (Nimród Antal, 2010) – dan film keenam jika Anda turut menghitung keberadaan Alien vs. Predator (Paul W. S. Anderson, 2004) dan Alien vs. Predator: Requiem (The Brothers Strause, 2007), The Predator memiliki alur pengisahan yang linimasanya terletak di belakang Predator 2namun mendahului linimasa penceritaan dari Predators. Meskipun begitu, terlepas dari beberapa referensi akan film-film pendahulu yang disajikan sebagai benang merah, The Predator mampu tampil dan dapat dinikmati sebagai sebuah film mandiri. Pengarahan cerita yang kini dikendalikan oleh Shane Black (The Nice Guys, 2016) juga membuat film ini memiliki warna pengisahan yang cukup berbeda dengan film-film lain dalam seri Predator: berjalan dengan ritme yang lebih cepat dan tampil dengan unsur black comedyyang kental. Sebuah penyegaran yang menyenangkan bagi seri film ini. Continue reading Review: The Predator (2018)

Review: 7 Days (2018)

Ditulis dan diarahkan oleh Panjapong Kongkanoy (The Moment, 2017), 7 Days berkisah mengenai hubungan romansa yang terjalin antara seorang juru masak, Tan (Kan Kantathavorn), dengan seorang kritikus masakan, Meen (Nittha Jirayungyurn), yang telah berjalan selama lima tahun. Tan sebenarnya telah berniat untuk melamar Meen dan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan namun tuntutan karir ternyata mengharuskannya untuk pindah ke kota New York, Amerika Serikat – sebuah kenyataan yang kemudian membuat keduanya terlibat dalam adu argumen yang panjang. Sebuah peristiwa aneh kemudian terjadi. Keesokan harinya, ketika Tan terbangun dari tidurnya, Tan menyadari bahwa dirinya terbangun dalam tubuh sosok yang bukan dirinya. Parahnya, Tan sama sekali tidak dapat mengingat hal apapun yang terjadi sebelum peristiwa aneh tersebut menimpa dirinya. Tentu saja, kini Tan harus berusaha untuk menemukan jalan agar jiwanya dapat kembali ke tubuhnya. Continue reading Review: 7 Days (2018)

Review: Sultan Agung (2018)

Diarahkan bersama oleh Hanung Bramantyo (Kartini, 2017) dan x.Jo (Garuda: The New Indonesian Superhero, 2015), Sultan Agung memulai intrik ceritanya ketika Raden Mas Rangsang yang masih remaja (Marthino Lio) terpaksa harus menduduki posisi sebagai pemimpin bagi Kesultanan Mataram setelah meninggalnya sang ayah. Dengan gelar sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma, dirinya tidak lagi dapat lepas bermain dengan teman-teman sebayanya maupun memadu kasih dengan wanita pilihan hatinya, Lembayung (Putri Marino) – yang kebetulan berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan dirinya. Meskipun begitu, dengan bantuan orang-orang kepercayaannya, Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memiliki mimpi dan tekad untuk menyatukan seluruh pemimpin kerajaan di tanah Jawa mampu menjelma menjadi sosok yang kuat dan dicintai oleh rakyatnya. Namun, tantangan terbesar bagi kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma dewasa (Ario Bayu) hadir ketika tanah Jawa kedatangan para “pedagang” dari negeri Belanda yang menamakan diri mereka sebagai Vereenigde Oostindische Compagnie pimpinan Jan Pieterszoon Coen (Hans de Kraker). Reputasi Vereenigde Oostindische Compagnie yang seringkali berlaku tidak adil dan memiliki sejarah kelam dengan para penduduk di Kepulauan Banda membuat Sultan Agung Hanyakrakusuma menjadi was-was dan memerintahkan pasukan Kesultanan Mataram untuk bersiap-siap jika Vereenigde Oostindische Compagnie datang untuk menyerang. Continue reading Review: Sultan Agung (2018)

Review: Rompis (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Eddy D. Iskandar, Roman Picisan (Adisoerya Abdy, 1980) berhasil menjadi salah satu drama romansa terpopular di kalangan pecinta film Indonesia sekaligus semakin mengukuhkan posisi Rano Karno dan Lydia Kandou – yang di sepanjang karir akting mereka telah membintangi lebih dari sepuluh judul film bersama – sebagai pasangan layar lebar terfavorit di masa tersebut. Kisah cinta antara karakter Roman dan Wulan dalam Roman Picisan kemudian menjadi inspirasi bagi jalan cerita serial televisi berjudul sama dan kembali mampu meraih sukses besar ketika ditayangkan oleh saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia sebanyak 107 episode pada tahun 2017. Kini, layaknya kesuksesan versi film yang menginspirasi keberadaan serial televisinya, kesuksesan Roman Picisan: The Series kemudian coba diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul Rompis dan dibintangi oleh deretan pemeran serial televisinya. Continue reading Review: Rompis (2018)

Review: The Equalizer 2 (2018)

Dirilis pada tahun 2014, The Equalizer berhasil memberikan kejutan ketika film yang kembali mempertemukan sutradara Antoine Fuqua dengan aktor Denzel Washington setelah kerjasama mereka lewat Training Day (2001) tersebut berhasil meraih kesuksesan komersial yang cukup besar – meskipun harus menghadapi reaksi medioker dari para kritikus film dunia. Dengan biaya produksi yang “hanya” mencapai US$73 juta, The Equalizer mampu membukukan pendapatan sebesar lebih dari US$192 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Tidak mengherankan jika kemudian Columbia Pictures kembali menugaskan Fuqua untuk memimpin proses produksi sekuel The Equalizer dan, tentu saja, dengan tetap menghadirkan Washington sebagai bintang utamanya. Juga menghadirkan naskah cerita yang kembali digarap oleh Richard Wenk (Jack Reacher: Never Go Back, 2016), mampukah film yang diadaptasi dari serial televisi berjudul sama ini kembali mengulang kesuksesannya? Continue reading Review: The Equalizer 2 (2018)

Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Dalam episode terbaru dari “Orangtuaku Menjual Jiwa Mereka ke Setan dan Menjadikanku Sebagai Tumbal,” film arahan sutradara Timo Tjahjanto (Headshot, 2016), Sebelum Iblis Menjemput, mencoba untuk memberikan interpretasinya sendiri atas tema pengisahan yang semakin familiar dalam film-film horor belakangan. Filmnya sendiri berkisah tentang Alfie (Chelsea Islan) yang diundang oleh ibu tirinya, Laksmi (Karina Suwandi), untuk membantu saudara-saudaranya, Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab), mengumpulkan benda-benda berharga yang terdapat di vila milik keluarga mereka untuk kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan sang ayah, Lesmana (Ray Sahetapy). Alfie sebenarnya begitu membenci Lesmana setelah kematian ibu kandungnya (Kinaryosih). Namun, rasa penasaran terhadap masa lalu sang ayah akhirnya mendorong Alfie untuk datang menemui keluarga tirinya. Sebuah keputusan yang kemudian justru menghadapkan gadis tersebut pada sebuah misteri yang dapat mengancam kehidupannya. Continue reading Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Review: The Meg (2018)

First of all, The Meg adalah sebuah film tentang keberadaan seekor hiu berukuran raksasa yang dibintangi oleh Jason Statham. You better know what you’re getting into. Diadaptasi dari novel berjudul Meg: A Novel of Deep Terror karangan Steve Alten, film yang diarahkan oleh Jon Turteltaub (Last Vegas, 2013) ini berkisah mengenai seorang ilmuwan sekaligus penyelam bernama Jonas Taylor (Statham) yang diminta untuk membantu menyelamatkan sekelompok ilmuwan yang terjebak di kedalaman laut ketika kapal yang mereka gunakan diserang oleh seekor ikan berukuran raksasa yang belum pernah dikenali sebelumnya. Walau awalnya merasa enggan untuk mengikuti misi penyelamatan tersebut – mengingat sebuah kenangan buruk yang pernah terjadi di masa lalunya, Jonas Taylor akhirnya berangkat dan melaksanakan misi penyelamatannya. Misi tersebut mampu dieksekusi dengan baik namun, di saat yang bersamaan, masuknya Jonas Taylor dan kapal selamnya ke kedalaman laut tersebut kemudian membuka sebuah kesempatan untuk ikan berukuran raksasa tersebut untuk keluar dari wilayah hidup biasanya dan bergerak menuju lautan luas yang jelas akan menimbukan kekacauan dalam kehidupan manusia. Continue reading Review: The Meg (2018)

Review: The Spy Who Dumped Me (2018)

Diarahkan oleh Susanna Fogel – yang kembali duduk di kursi penyutradaraan setelah merilis film yang menjadi debut pengarahannya, Life Partners, pada empat tahun lalu, The Spy who Dumped Me berkisah mengenai Audrey Stockton (Mila Kunis) yang sedang merasakan kesedihan yang mendalam setelah ditinggal oleh sang kekasih, Drew Thayer (Justin Theroux). Dengan bantuan sahabat baiknya, Morgan Freeman (Kate McKinnon), Audrey Stockton akhirnya memutuskan untuk segera melupakan Drew Thayer guna dapat melanjutkan kehidupannya. Sialnya, sebelum Audrey Stockton dapat melakukannya, ia didatangi oleh dua pria yang mengaku sebagai agen rahasia Central Intelligence Agency, Sebastian Henshaw (Sam Heughan) dan Duffer (Hasan Minhaj), dan mengungkapkan bahwa Drew Thayer juga merupakan seorang agen rahasia serta keberadaannya sedang dicari karena dirinya menyimpan sebuah benda penting. Tidak disangka, benda rahasia yang disimpan oleh Drew Thayer tersebut tidak hanya dicari oleh kedua agen rahasia tersebut. Beberapa pihak yang berasal dari organisasi kriminal dunia juga turut mencari benda tersebut dan kini malah menjadikan Audrey Stockton sebagai sasaran mereka. Continue reading Review: The Spy Who Dumped Me (2018)

Review: Animal World (2018)

Film terbaru arahan sutradara berkewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok, Han Yan (Go Away Mr. Tumour, 2015), yang berjudul Animal World bukanlah film pertama yang diadaptasi dari seri komik popular, Ultimate Survivor Kaiji. Memuat kisah tentang seni berjudi, seri komik yang ditulis dan diilustrasikan oleh Nobuyuki Fukumoto tersebut sebelumnya telah diadaptasi menjadi dua film live-action berjudul Kaiji: The Ultimate Gambler (2009) dan Kaiji 2 (2011) yang diarahkan oleh sutradara asal Jepang, Tōya Satō. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Han, Animal World sebenarnya menawarkan sebuah sajian petualangan yang mampu menghadirkan cukup banyak momen menegangkan sekaligus menyenangkan dalam pengisahannya. Sayangnya, kehadiran terlalu banyaknya konflik lantas menjebak pengarahan Han yang kemudian membuat elemen-elemen cerita Animal World gagal mengembang secara merata. Continue reading Review: Animal World (2018)

Review: 22 Menit (2018)

Dibuat sebagai salah satu bentuk kampanye Kepolisian Republik Indonesia untuk melawan aksi terorisme, film arahan Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah, 2012) yang juga menjadi debut pengarahan bagi Myrna Paramita Pohan, 22 Menit, bercerita mengenai serangan Bom Thamrin yang terjadi di Jakarta pada 14 Januari 2016 lalu. Jalan ceritanya sendiri mengambil sudut pandang dari beberapa karakter yang terlibat dalam tragedi tersebut, mulai dari pelaku, korban, hingga pihak kepolisian yang kemudian menangani dan berhasil meringkus pelaku dalam jangka waktu 22 menit. Sebuah propaganda? Mungkin saja. Namun tidak dapat disangkal bahwa Panji dan Pohan mampu menggarap film ini menjadi sebuah sajian thriller yang cukup efektif. Continue reading Review: 22 Menit (2018)