Tag Archives: Rating: C

Review: Affliction (2021)

Menjelang dekade ketiga dalam karir penyutradaraan film layar lebarnya, sutradara Teddy Soeriaatmadja (Menunggu Pagi, 2018) mengeksplorasi ranah pengisahan horor untuk film terbaru arahannya, Affliction. Dibintangi Raihaanun dan Tutie Kirana yang sebelumnya turut berperan dalam dua film dari Trilogy of Intimacy garapan Soeriaatmadja, Lovely Man (2011) dan About a Woman (2014), Affliction berkisah tentang pasangan Hasan (Ibnu Jamil) dan Nina (Raihaanun) yang bersama dengan kedua anaknya, Tasya (Tasya Putri) dan Ryan (Abiyyu Barakbah), melakukan perjalanan untuk kembali ke kampung halaman Hasan guna menjemput sang ibu (Kirana) yang merupakan seorang penderita Alzheimer. Bukan tugas yang mudah. Selain sang ibu kini sering terlupa akan identitas orang-orang yang berada di hadapannya, ibu juga menolak untuk meninggalkan rumah yang selama ini telah ia tempati. Lebih buruk, Nina, yang memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal yang berasal dari dunia supranatural, mulai merasakan adanya sosok misterius yang mencoba untuk mengganggu keberadaan keluarganya di rumah tersebut. Continue reading Review: Affliction (2021)

Review: Yang tak Tergantikan (2021)

Tidak salah untuk mengatakan bila film kedua arahan sutradara Herwin Novianto yang dirilis di Disney+ Hotstar merupakan sebuah companion piece bagi film pertamanya. Jika Sejuta Sayang Untuknya (2020) menempatkan Deddy Mizwar sebagai sosok ayah tunggal yang berjuang untuk menghidupi putri remajanya, maka Yang tak Tergantikan menghadirkan penampilan akting Lulu Tobing yang berperan sebagai seorang perempuan yang berusaha untuk tetap tangguh bertahan dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan demi masa depan kehidupan tiga anaknya. Seperti halnya Sejuta Sayang Untuknya, linimasa pengisahan Yang tak Tergantikan diisi dengan barisan konflik yang berkesan sederhana dan familiar namun mampu tergarap dengan kesan nyata yang kuat. Tidak mengherankan jika kemudian film yang naskah ceritanya ditulis oleh Novianto bersama dengan Gunawan Raharja (22 Menit, 2018) akan mampu dengan mudah untuk disukai setiap penontonnya. Continue reading Review: Yang tak Tergantikan (2021)

Review: Sobat Ambyar (2021)

Seperti yang dapat dicerna dari judulnya, Sobat Ambyar adalah sebuah film yang mencoba untuk menangkap fenomena popularitas dari sosok Didi Kempot yang dikenal karena lagu-lagu campursari berbahasa Jawa-nya yang banyak bertemakan patah hati dan rasa kehilangan. Namun, jangan salah, film yang diarahkan oleh Charles Gozali (Nada untuk Asa, 2015) bersama dengan Bagus Bramanti ini bukanlah sebuah biopik yang ingin bertutur tentang seluk beluk kehidupan penyanyi yang telah tutup usia pada pertengahan tahun lalu tersebut. Disajikan sebagai sebuah drama romansa, Sobat Ambyar lebih tertarik untuk mengangkat kisah tentang bagaimana lagu-lagu yang dinyanyikan Kempot digunakan oleh para pendengarnya sebagai pelarian untuk menghibur rasa duka maupun lara yang sedang mengendap di hati mereka. Terbukti, lagu-lagu milik Kempot yang mengiringi banyak adegan film menjadi faktor kesuksesan Sobat Ambyar dalam menghasilkan momen-momen terbaik pengisahannya. Continue reading Review: Sobat Ambyar (2021)

Review: The Prom (2020)

Diadaptasi dari drama panggung berjudul sama – yang alur kisahnya sendiri diinspirasi dari sebuah kisah nyata, The Prom berkisah mengenai empat bintang drama panggung asal New York, Dee Dee Allen (Meryl Streep), Barry Glickman (James Corden), Trent Oliver (Andrew Rannells), dan Angie Dickinson (Nicole Kidman), yang memutuskan untuk berangkat ke sebuah kota kecil di Indiana untuk membantu seorang remaja bernama Emma Nolan (Jo Ellen Pellman) yang mendapatkan diskriminasi setelah dirinya mengungkapkan orientasi seksual serta rencananya untuk membawa kekasih perempuannya ke malam perpisahan di sekolahnya. Sebuah niatan yang sangat mulia bukan? Tidak juga. Dee Dee Allen, Barry Glickman, Trent Oliver, dan Angie Dickinson melakukan hal tersebut demi publisitas agar dapat membantu memperbaiki reputasi mereka yang saat ini sedang meredup. Namun, berbagai interaksi yang mereka hadapi selama berada di kota kecil tersebut ternyata secara perlahan mampu memberikan sebuah sudut pandang tentang kehidupan yang baru dan berbeda dari yang selama ini jalani. Continue reading Review: The Prom (2020)

Review: Mulan (2020)

Rencana Walt Disney Pictures untuk mengadaptasi film animasi Mulan (Barry Cook, Tony Bancroft, 1998) menjadi sajian live-action sebenarnya telah terdengar semenjak tahun 2010 yang lalu. Kala itu, Chuck Russell yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti The Mask (1994), Eraser (1996), dan The Scorpion King (2002) didapuk untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan aktris Zhang Ziyi direncanakan untuk memerankan sang karakter utama. Sayang, entah kenapa, rencana tersebut gagal untuk berubah menjadi nyata. Ide untuk memproduksi versi live-action dari Mulan kembali muncul pada awal tahun 2015 dan dipersiapkan secara lebih matang – khususnya ketika Walt Disney Pictures berhasil membuktikan bahwa film-film adaptasi live-action yang mereka produksi seperti Alice in Wonderland (Tim Burton, 2010), Maleficent (Robert Stromberg, 2014), dan Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) mampu menghasilkan pendapatan komersial yang menggiurkan. Dalam pengembangannya, adaptasi live-action dari Mulan lantas memilih Niki Caro (The Zookeeper’s Wife, 2017) untuk duduk di kursi sutradara, aktris Liu Yifei untuk memerankan karakter Mulan, serta nama-nama seperti Gong Li, Donnie Yen, Tzi Ma, hingga Jet Li hadir untuk memperkuat barisan pemerannya. Continue reading Review: Mulan (2020)

Review: Hillbilly Elegy (2020)

Nama J. D. Vance serta judul memoar yang ditulisnya, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis, yang bercerita tentang masa kecilnya memang tidak begitu familiar di telinga orang-orang di luar negara Amerika Serikat. Namun, ketika dirilis pada tahun 2016 lalu – berdekatan dengan masa pemilihan presiden di Amerika Serikat, buku garapan Vance mendapatkan banyak sorotan akan pengisahannya mengenai kaum hillbilly yang dikenal sebagai sekelompok masyarakat Amerika Serikat berkulit putih yang sering dinilai konservatif serta memiliki watak dan perangai keseharian yang keras. Banyak pihak yang menilai penggambaran yang dilakukan Vance tentang kaum hillbilly dalam memoar yang ditulisnya dihadirkan secara dangkal. Terlepas dari berbagai sorotan dan kontroversi, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis berhasil meraih sukses secara komersial, menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di tahun 2016 dan 2017, mempopulerkan nama Vance, dan, tentu saja, dilirik oleh Hollywood untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Continue reading Review: Hillbilly Elegy (2020)

Review: Happiest Season (2020)

Empat tahun setelah merilis The Intervention (2016) yang menjadi debut pengarahan film layar lebarnya, aktris sekaligus penulis naskah Clea DuVall kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Happiest Season, sebuah drama komedi romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan aktris Mary Holland – yang turut ambil bagian mengisi departemen akting film ini. Para penikmat film-film sejenis mungkin tidak akan menemukan sebuah struktur pengisahan yang bernilai baru maupun istimewa yang ditawarkan DuVall dalam filmnya. Meskipun begitu, olahan cerita dari DuVall dan Holland tentang usaha untuk mencintai jati diri sendiri agar dapat menghadirkan ruang yang tepat bagi rasa cinta yang dimiliki untuk orang lain (All hail, RuPaul!) menjadi bahasan yang cukup menawan dan emosional. Continue reading Review: Happiest Season (2020)

Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Jika film animasi Seoul Station (Yeon Sang-ho, 2016) memiliki peran untuk mengisahkan berbagai hal yang terjadi sebelum deretan konflik yang diceritakan dalam Train to Busan (2016), Peninsula – atau yang dirilis di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan judul Train to Busan Presents: Peninsula – memiliki latar belakang waktu pengisahan empat tahun setelahnya. Meskipun berada dalam semesta pengisahan yang sama, namun, seperti halnya Seoul Station, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Yeon bersama dengan Park Joo-suk ini tampil sebagai kisah yang berdiri sendiri dan tidak memiliki keterikatan konflik maupun karakter dengan Train to Busan. Yeon dan Park juga sepertinya merancang Train to Busan Presents: Peninsula untuk memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang berbeda. Masih berfokus pada deretan ketegangan akan usaha melarikan diri dari kejaran kumpulan mayat hidup, tentu saja, namun Train to Busan Presents: Peninsula disajikan dengan tatanan aksi yang lebih intens dan maksimal. Continue reading Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Tim Hill – yang sebelumnya bertugas sebagai penulis naskah bagi The SpongeBob SquarePants Movie (2004), The SpongeBob Movie: Sponge on the Run menghadirkan sebuah petualangan baru bagi SpongeBob SquarePants, Patrick Star, serta rekan-rekannya dari Bikini Bottom. Dikisahkan, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan Patrick Star (Bill Fagerbakke) melakukan perjalanan ke Lost City of Atlantic City untuk menyelamatkan Gary the Snail (juga diisisuarakan oleh Kenny) yang telah diculik oleh King Poseidon (Matt Berry). Jelas bukan sebuah petualangan mudah. Selain harus bersiap untuk menghadapi King Poseidon dan pasukannya, SpongeBob SquarePants dan Patrick Star juga harus menghadapi berbagai tantangan lain dalam perjalanan mereka menuju Lost City of Atlantic City. Beruntung, kedua sahabat tersebut kemudian mendapatkan bimbingan dari Sage (Keanu Reeves) serta rekan-rekan mereka dari Bikini Bottom, Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Mr. Krabs (Clancy Brown), dan Plankton (Mr. Lawrence), yang segera menyusul SpongeBob SquarePants dan Patrick Star setelah mengetahui jika keduanya sedang berada dalam masalah. Continue reading Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Review: Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Masih ingat dengan karakter Kale yang diperankan Ardhito Pramono dalam film Nanti Kita Cerita tentang Hari ini (2020)? Dalam film arahan Angga Dwimas Sasongko tersebut, kehadiran karakter Kale berhasil mencuri perhatian lewat kemampuannya dalam merangkai lagu, utaran dialognya yang seringkali bernada puitis, hingga jalinan kisah romansanya yang manis (walau kemudian berakhir pahit) dengan karakter Awan yang diperankan Rachel Amanda. Reaksi serta perhatian yang cukup besar yang didapat oleh sosok Kale sepertinya menggugah Sasongko untuk memberikan pengolahan cerita tersendiri bagi karakter tersebut. Fokusnya, tentu saja, membuka sudut pandang penonton pada kehidupan personal dari karakter Kale, masa lalunya, serta berbagai hal yang mendorong karakter tersebut sehingga menarik diri dari hubungan asmara yang sedang dibangunnya bersama dengan karakter Awan. Sebuah pilihan yang menarik untuk memberikan warna tambahan bagi semesta pengisahan Nanti Kita Cerita tentang Hari ini. Continue reading Review: Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Masih ingat dengan memori menyeramkan sekaligus mimpi buruk yang diakibatkan oleh adegan Anjelica Huston yang secara perlahan melepaskan rambut serta kulit palsunya dan kemudian membiarkan wujud aslinya sebagai seorang penyihir terlihat dalam film The Witches (Nicolas Roeg, 1990)? Well… mimpi buruk tersebut coba dibangkitkan kembali oleh Guillermo del Toro bersama dengan Alfonso Cuarón dan Robert Zemeckis dengan menghadirkan adaptasi teranyar bagi buku cerita anak-anak garapan Roald Dahl yang juga berjudul The Witches tersebut. Sebenarnya, pada tahun 2008, Cuarón sempat mengungkapkan bahwa dirinya akan bekerjasama dengan del Toro untuk mengadaptasi The Witches dalam bentuk teknik animasi stop motion. Sayang, rencana tersebut gagal untuk membuahkan hasil. Sepuluh tahun kemudian, kerjasama antara del Toro dengan Cuarón untuk menghidupkan The Witches muncul kembali namun dengan format yang berbeda. Daripada menghadirkannya sebagai sebuah film animasi, versi teranyar dari The Witches akan tetap disajikan dalam presentasi live action dengan Zemeckis akan duduk di kursi penyutradaraan serta Cuarón dan del Toro bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah. Continue reading Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca? Continue reading Review: Rebecca (2020)

Review: Pelukis Hantu (2020)

Setelah sebelumnya terlibat sebagai penulis naskah bagi film arahan Riri Riza, Kulari ke Pantai (2018), aktor yang juga dikenal sebagai seorang komika, Arie Kriting, melakukan debut pengarahan film layar lebarnya lewat Pelukis Hantu. Film bernuansa horor komedi yang naskah ceritanya juga dikerjakan oleh Kriting ini dibintangi oleh Ge Pamungkas yang berperan sebagai Tutur, seorang pelukis amatiran yang kemudian menerima tawaran untuk menjadi pelukis hantu di sebuah program televisi karena sedang membutuhkan uang untuk pengobatan sang ibu (Aida Nurmala). Siapa sangka, pekerjaan tersebut ternyata mampu memberikan pengaruh besar pada kehidupan personalnya. Sosok kuntilanak yang ia lihat sekaligus lukis dalam acara yang berjudul Arwah itu ternyata membawa sejumlah pesan dari masa lalu Tutur. Penasaran ingin berkomunikasi dengan makhluk supranatural tersebut, Tutur lantas menghubungi Amanda (Michelle Ziudith) yang gemar menulis dan meneliti tentang alam gaib dan meminta bantuannya. Continue reading Review: Pelukis Hantu (2020)