Tag Archives: Rating: C

Review: The Matrix Resurrections (2021)

Hampir dua dekade selepas perilisan film ketiganya, The Matrix Revolutions (2003), seri The Matrix (The Wachowskis, 1999 – 2003) melanjutkan alur pengisahannya melalui The Matrix Resurrections. Jika tiga film sebelumnya ditulis dan diarahkan secara bersama oleh duo The Wachowskis, Lana Wachowski dan Lilly Wachowski, The Matrix Resurrections menandai kali pertama sebuah film cerita panjang dalam seri The Matrix diarahkan secara tunggal oleh Lana Wachowki yang juga mengerjakan naskah cerita film ini bersama dengan David Mitchell dan Aleksandar Hemon. The Matrix (1999), tentu saja, akan selamanya diingat sebagai film aksi revolusioner yang tidak hanya mampu memberikan pengaruh kepada penggarapan unsur aksi film-film lain yang dirilis sesudahnya namun juga menghadirkan tatanan cerita monumental yang dipengaruhi oleh banyak pemikiran bertema filosofis hingga simbolis. The Matrix Reloaded (2003) dan The Matrix Revolutions (2003) tidak mampu memberikan pencapaian kualitas yang sama, lalu apa yang ingin dilakukan oleh The Matrix Resurrections? Continue reading Review: The Matrix Resurrections (2021)

Review: Teka-teki Tika (2021)

Dalam film cerita panjang keenam yang ia tulis dan arahkan, Ernest Prakasa (Imperfect, 2019) mencoba untuk keluar dari wilayah nyaman penuturan komedi yang sebelumnya telah begitu melekat pada setiap karyanya. Well… Prakasa sebenarnya tidak menghilangkan unsur komedi secara utuh dari linimasa pengisahan Teka-teki Tika. Meskipun kental dengan nuansa drama misteri, film ini disajikan dengan bangunan konflik dan dialog yang cenderung ringan. Prakasa juga masih menghadirkan sosok karakter bernilai komikal guna mengeksekusi dialog-dialog pemancing senyum maupun tawa yang digarapnya. Tetap saja, Teka-teki Tika adalah sebuah penyegaran dalam filmografi Prakasa – meskipun tidak diiringi dengan kualitas cerita yang terasa mampu menyegarkan. Continue reading Review: Teka-teki Tika (2021)

Review: House of Gucci (2021)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Becky Johnston (Arthur Newman, 2012) dan Roberto Bentivegna berdasarkan buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed karangan Sara Gay Forden, House of Gucci yang diarahkan oleh Ridley Scott (All the Money in the World, 2017) bercerita tentang intrik dan konflik yang terjadi dalam keluarga pemilik rumah mode ikonik asal Italia, Gucci. Memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 1970an, perseteruan antar karakter dalam film ini dimulai ketika salah seorang pemimpin rumah mode Gucci, Rodolfo Gucci (Jeremy Irons), tidak menyetujui pernikahan anaknya, Maurizio Gucci (Adam Driver), dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) yang dinilainya hanya mendekati Maurizio Gucci demi mendapatkan hartanya. Rodolfo Gucci lantas menghapus nama sang anak sebagai salah satu ahli warisnya. Kakak Rodolfo Gucci yang juga memiliki saham kepemilikan di rumah mode Gucci, Aldo Gucci (Al Pacino), tidak setuju dengan sikap sang adik dan meminta Maurizio Gucci untuk bekerja dengannya. Melihat kesempatan besar yang didapatkan oleh suaminya, Patrizia Reggiani mulai memberikan pengaruhnya pada setiap keputusan yang diambil oleh Maurizio Gucci. Continue reading Review: House of Gucci (2021)

Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Setelah Love for Sale 2 (Andibachtiar Yusuf, 2019), Adipati Dolken dan Della Dartyan kembali tampil berpasangan untuk film fantasi romansa Akhirat: A Love Story yang ditulis dan diarahkan oleh Jason Iskandar yang sekaligus menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Iskandar. Penuturan cerita film ini dibangun dengan dasar kisah asmara yang terbentuk antara dua karakter utama, Timur (Dolken) dan Mentari (Dartyan), yang memiliki kepercayaan berbeda. Meskipun keluarga mereka kurang begitu antusias menerima, Timur dan Mentari bertekad untuk tetap teguh bersama mempertahankan hubungan asmara yang terjalin antara keduanya. Sayang, garisan nasib menentukan lain. Timur dan Mentari terlibat dalam sebuah kecelakaan yang membuat keduanya kemudian berada dalam keadaan koma serta terjebak dalam ruang antara dunia dan akhirat. Continue reading Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Review: Ghostbusters: Afterlife (2021)

Di tahun 2016, sutradara Paul Feig (Last Christmas, 2019) memiliki keberanian untuk membuat ulang Ghostbusters (Ivan Reitman, 1984) – film komedi yang kesuksesan besar saat masa rilisnya berkembang menjadi waralaba media seperti seri film dan televisi, buku komik, permainan video, hingga taman hiburan yang mampu memikat banyak penggemar setia dan menjadi sebuah fenomena kultur populer. Daripada menghadirkan presentasi yang menuturkan ulang pengisahan film pendahulunya secara utuh, Ghostbusters (2016) garapan Feig memberikan sejumlah perubahan krusial, seperti memilih barisan aktor perempuan untuk memerankan barisan karakter utamanya. Continue reading Review: Ghostbusters: Afterlife (2021)

Review: King Richard (2021)

Dunia mungkin saja tidak merasa familiar dengan nama Richard Williams. Meskipun begitu, dengan obsesi, ego, sikap keras kepala, dan kerja kerasnya, Richard Williams mampu menempa dua sosok atlet perempuan hingga namanya kini selalu dikenang sebagai dua atlet terbaik sepanjang masa: Venus Williams dan Serena Williams. Kisah inilah yang dituturkan oleh sutradara Reinaldo Marcus Green (Joe Bell, 2020) lewat King Richard yang naskah ceritanya ditulis oleh Zach Baylin. Perjalanan tersebut dimulai ketika Richard Williams (Will Smith) menyadari bahwa seorang atlet tenis dapat mengumpulkan penghasilan yang besar setiap tahunnya. Richard Williams kemudian menuliskan rencana hidup jangka panjang sebanyak 78 halaman bagi dua puterinya, Venus Williams (Saniyya Sidney) dan Serena Williams (Demi Singleton), untuk membentuk dan mengarahkan mereka menjadi atlet tenis handal. Bukan sebuah perjalanan mudah. Dengan latar belakang ekonomi pas-pasan serta berasal dari kelompok ras kulit hitam di era dimana tenis didominasi oleh atlet berkulit putih, perjuangan Richard Williams seringkali terbentur berbagai hambatan. Namun, tentu saja, Richard Williams tidak menyerah begitu saja. Continue reading Review: King Richard (2021)

Review: Encanto (2021)

Merupakan film cerita panjang yang menjadi kolaborasi kedua antara Byron Howard dan Jared Bush setelah Zootopia (2016) – yang sekaligus menandai rilisan ke-60 dari Walt Disney Animation Studios, Encanto menghadirkan jalinan kisah yang mungkin telah begitu familiar bagi para penikmat film-film animasi buatan rumah produksi tersebut namun dengan sejumlah sentuhan segar yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan. Continue reading Review: Encanto (2021)

Review: Venom: Let There Be Carnage (2021)

Meskipun gagal untuk mendapatkan reaksi positif dari banyak kritikus film dunia, raihan komersial sebesar lebih dari US$850 juta yang mampu dicapai Venom (Ruben Fleischer, 2018) disepanjang masa perilisannya jelas menjadi sinyal kuat bagi Sony Pictures untuk terus mengembangkan Sony’s Spider-Man Universe – nama baru bagi Sony’s Universe of Marvel Characters yang merupakan judul resmi bagi semesta pengisahan yang dibentuk dan diproduksi oleh Sony Pictures berdasarkan kisah dan karakter Spider-Man buatan Marvel Comics. Sejumlah perubahan dilakukan dalam Venom: Let There Be Carnage yang menjadi sekuel bagi Venom. Andy Serkis (Breathe, 2017) menggantikan posisi Fleischer untuk duduk di kursi penyutradaraan. Kelly Marcel juga kini menjadi penulis naskah cerita tunggal dengan bintang utama film ini, Tom Hardy, turut membantu dalam proses pengembangan cerita. Beberapa pembaharuan tersebut ternyata cukup mampu memberikan nada dan warna pengisahan yang menyegarkan bagi Venom: Let There Be Carnage. Continue reading Review: Venom: Let There Be Carnage (2021)

Review: Paranoia (2021)

Riri Riza (Bebas, 2019) merambah ke ranah pengisahan thriller lewat Paranoia – yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Jujur Prananto dan Mira Lesmana, kolaborasi yang sebelumnya pernah menghasilkan Petualangan Sherina (Riza, 2000) dan Ada Apa dengan Cinta? (Rudy Soedjarwo, 2002). Filmnya berkisah tentang pelarian yang dilakukan oleh Dina (Nirina Zubir) bersama dengan anaknya, Laura (Caitlin North-Lewis), dari suaminya yang abusif, Gion (Lukman Sardi), yang saat ini sedang menjalani masa hukumannya di penjara. Rasa ketakutan serta trauma yang dirasakan Dina pada sosok suaminya membuat kesehariannya selalu dilingkupi kekhawatiran, khususnya kepada orang-orang baru yang selalu ia curigai sebagai orang-orang yang ditugaskan oleh sang suami untuk mencari dirinya dan Laura. Hal inilah yang membuat Dina tidak suka dengan pilihan Laura untuk menjalin hubungan dengan tetangga baru mereka, Raka (Nicholas Saputra). Di saat yang bersamaan, Gion mendapatkan remisi masa tahanan dan dibebaskan dari penjara. Dengan segera, Gion berusaha untuk menemukan keberadaan istri dan putrinya. Continue reading Review: Paranoia (2021)

Review: Eternals (2021)

Setelah Black Widow (Cate Shortland, 2021) dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (Destin Daniel Cretton, 2021), laju fase keempat dari Marvel Cinematic Universe berlanjut dengan Eternals. Seperti halnya Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, film arahan Chloé Zhao (Nomadland, 2020) yang naskah ceritanya diadaptasi dari seri komik garapan Jack Kirby berjudul sama ini adalah sebuah origin story yang akan memperkenalkan sejumlah karakter baru dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe. Berbeda dengan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings maupun barisan origin story lain yang telah dirilis oleh seri film ini sebelumnya, Eternals disajikan dengan penuturan yang cukup berbeda. Tema cerita akan krisis eksistensial serta keberadaan Zhao, yang lebih dikenal sebagai seorang sutradara film-film dengan warna pengisahan cerita yang berkesan intim, memberikan sentuhan berbeda yang sebenarnya cukup menyegarkan. Apakah sentuhan yang berbeda cukup untuk menghasilkan kualitas penceritaan yang kuat? Wellthat’s another story. Continue reading Review: Eternals (2021)

Review: Last Night in Soho (2021)

Film teranyar arahan Edgar Wright (Baby Driver, 2017), Last Night in Soho, akan membawa penontonnya ke kehidupan malam di kota London, Inggris pada tahun 1960an – lengkap dengan iringan sejumlah lagu popular dari era tersebut seperti yang telah menjadi ciri khas film-film garapan Wright selama ini. Namun, perjalanan ke tahun 1960an tersebut dilalui melalui linimasa berlatar belakang waktu pengisahan di era dimana Kylie Jenner lebih dikenal daripada Kylie Minogue ketika seorang gadis muda yang bercita-cita untuk menjadi seorang perancang busana, Eloise Turner (Thomasin McKenzie), dibawa oleh alam mimpinya ke tahun 1960an dan menjalani kehidupan sebagai seorang gadis muda bernama Sandie (Anya Taylor-Joy) yang bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi terkenal. Awalnya, mimpi tersebut terasa bagaikan perjalanan indah. Dengan talentanya, Sandie berhasil direkrut untuk menjadi seorang penyanyi di sebuah klub malam terkenal di kota London. Kecantikan dan gaya busana Sandie juga memberikan inspirasi kepada Eloise Turner dalam deretan busana yang dirancangnya. Sial, ketika mimpi tersebut bercerita tentang karir Sandie yang berujung pada sebuah pengkhianatan, hidup yang dijalani oleh Eloise Turner juga perlahan menemui banyak permasalahan. Continue reading Review: Last Night in Soho (2021)

Review: Army of Thieves (2021)

Masih ingat dengan karakter pembobol brankas bernama Ludwig Dieter dari film Army of the Dead (2021)? Well… berkat garapan karakter yang kuat serta disokong dengan penampilan solid dari aktor Matthias Schweighöfer, karakter Ludwig Dieter mampu hadir mencuri perhatian diantara kerumunan pengisi departemen akting film arahan Zack Snyder tersebut. Dengan niatan untuk mengembangkan semesta pengisahan filmnya, Snyder mempersiapkan dua film cerita pendek, sebuah serial televisi, serta dua film cerita panjang yang akan mengeksplorasi sejumlah konflik maupun karakter yang telah dihadirkan dalam Army of the Dead. Salah satu dari film cerita panjang yang menjadi kelanjutan dari pengisahan Army of the Dead adalah Army of Thieves yang merupakan sebuah prekuel dan memfokuskan pengisahannya pada sosok karakter Ludwig Dieter. Menjadi film berbahasa Inggris pertama yang diarahkan oleh Schweighöfer, Army of Thieves memang tidak menawarkan pola pengisahan heist thriller yang benar-benar baru. Meskipun begitu, lewat penampilan akting serta kemampuan pengarahannya yang apik, film ini cukup berhasil membuktikan bahwa Schweighöfer memiliki talenta yang memang layak untuk diberikan perhatian lebih. Continue reading Review: Army of Thieves (2021)

Review: Hitman’s Wife’s Bodyguard (2021)

Merupakan sekuel dari The Hitman’s Bodyguard (2017) – film aksi komedi yang gagal mendapatkan reaksi positif dari para kritikus film dunia namun sukses mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$176 juta di sepanjang masa perilisannya, Hitman’s Wife’s Bodyguard kembali mempertemukan sutradara Patrick Hughes dengan tiga bintang filmnya, Ryan Reynolds, Samuel L. Jackson, dan Salma Hayek. Seperti yang digambarkan oleh judul film ini, jika film sebelumnya bercerita tentang seorang pengawal, Michael Bryce (Reynolds), yang mendapatkan tugas untuk mengawal seorang pembunuh bayaran, Darius Kincaid (Jackson), maka film ini berkisah tentang Michael Bryce yang harus menjaga istri dari sang pembunuh bayaran, Sonia Kincaid (Hayek), ketika ia sedang mencari tahu misteri keberadaan sang suami yang telah diculik oleh sekelompok penjahat. Di saat yang bersamaan, seorang teroris bernama Aristotle Papadopoulos (Antonio Banderas) sedang menyusun rencana untuk menghancurkan negara-negara di Eropa. Dan, tentu saja, garisan cerita akan membawa keempat karakter tersebut untuk bertemu (dan berseteru) antara satu dengan yang lain. Continue reading Review: Hitman’s Wife’s Bodyguard (2021)