Tag Archives: Rating: C

Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Merupakan film kedua dari lima film yang direncanakan akan hadir dalam seri Fantastic Beasts yang naskah ceritanya dikembangkan dari buku Fantastic Beasts and Where to Find Them garapan J. K. Rowling, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald memiliki linimasa yang berlatar waktu pengisahan beberapa bulan setelah terjadinya berbagai konflik yang dikisahkan pada Fantastic Beasts and Where to Find Them (David Yates, 2016). Dikisahkan, penyihir hitam Gellert Grindelwald (Johnny Depp) yang sebelumnya telah ditangkap oleh Magical Congress of the United States of America dengan bantuan Newt Scamander (Eddie Redmayne) kini berhasil melarikan diri dan segera mulai mengumpulkan banyak pengikutnya untuk dapat membantunya mewujudkan ambisi terbesarnya: mengumpulkan seluruh penyihir berdarah murni dan kemudian menguasai seluruh umat manusia. Rencana yang jelas akan menimbulkan perpecahan di dunia sihir tersebut jelas mendapatkan tentangan dari banyak pihak, termasuk dari Albus Dumbledore (Jude Law), yang di masa lalu sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gellert Grindelwald. Percaya bahwa hanya Newt Scamander yang memiliki kemampuan untuk dapat mengalahkan Gellert Grindelwald, Albus Dumbledore akhirnya meminta bantuan pada mantan muridnya tersebut. Continue reading Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Advertisements

Review: A Man Called Ahok (2018)

Merupakan film panjang naratif pertama Putrama Tuta setelah sebelumnya mengarahkan versi teranyar dari Catatan Harian Si Boy (2011), A Man Called Ahok adalah film biopik yang berkisah tentang kehidupan mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dengan naskah cerita yang digarap oleh Tuta bersama dengan Ilya Sigma (Rectoverso, 2013) dan Dani Jaka Sembada (Pizza Man, 2015) berdasarkan buku berjudul sama yang ditulis oleh Rudi Valinka. Daripada menitikberatkan pengisahan film pada karakter Basuki Tjahaja Purnama serta tindakan dan pemikiran politik yang membuat keberadaannya begitu dikenal seperti saat ini, A Man Called Ahok sendiri memilih untuk mengekplorasi masa muda dari sang karakter, kehidupan masa kecilnya di Belitung, serta hubungannya dengan sang ayah yang nantinya membentuk karakter dari Basuki Tjahaja Purnama dewasa. Pilihan yang menarik walau naskah garapan Tuta, Sigma, dan Sembada kemudian kurang mampu menghadirkan keseimbangan penceritaan antara karakter Basuki Tjahaja Purnama dengan karakter sang ayah yang juga tampil mendominasi linimasa penceritaan film. Continue reading Review: A Man Called Ahok (2018)

Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Berawal dari sebuah cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King yang ditulis oleh penulis E.T.A. Hoffmann dan dirilis pada tahun 1816, The Nutcracker kemudian mendunia ketika kisah tersebut diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan balet sukses berjudul sama oleh Marius Petipa dan Lev Ivanov dengan iringan musik dari Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang juga menjelma menjadi salah satu gubahan musik paling familiar bagi banyak penikmat musik dunia. Keberhasilan tersebut tak pelak membuat pengisahan The Nutcracker kemudian diadaptasi ke dalam banyak bentuk media penceritaan lainnya – mulai dari drama panggung musikal, film layar lebar, serial televisi, bahkan hingga permainan video. Yang teranyar, Walt Disney Pictures merilis The Nutcracker and the Four Realms yang merupakan adaptasi mereka atas The Nutcracker and the Mouse King dan kisah yang disampaikan dalam pertunjukan balet The Nutcracker dengan memberikan sejumlah sentuhan baru pada beberapa bagian penceritaannya. Sebuah strategi yang mungkin sejalan dengan rilisan-rilisan mereka seperti Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) atau Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) yang juga memberikan interpretasi segar atas sebuah pengisahan klasik namun apakah Walt Disney Pictures mampu mempertahankan daya tarik magis dari The Nutcracker yang telah dicintai begitu banyak orang selama lebih dari satu abad? Continue reading Review: The Nutcracker and the Four Realms (2018)

Review: Bohemian Rhapsody (2018)

Terlahir dengan nama Farrokh Bulsara dalam keluarga yang memiliki garis keturunan darah Persia, Freddie Mercury (Rami Malek) menghabiskan awal mudanya dengan menjadi seorang kuli angkut di Bandara Heathrow, London, Inggris. Nasib – dan kemampuan vokalnya yang fantastis – kemudian mempertemukannya dengan Brian May (Gwilym Lee), Roger Taylor (Ben Hardy), dan John Deacon (Joseph Mazello) yang tergabung dalam sebuah kelompok band bernama Smile dan lantas mengajaknya untuk bergabung. Mengawali karir mereka dengan tampil di berbagai kampus dan klub malam, atas usul Freddie Mercury, band tersebut kemudian mengubah nama mereka menjadi Queen dan segera mendapatkan kontrak rekaman dari EMI Records. Berbekal musik yang eksentrik dan lirik lagu yang tajam, Queen segera mendapatkan perhatian dari jutaan penikmat musik di seluruh dunia. Seperti yang dapat ditebak, popularitas tersebut mulai mempengaruhi kehidupan pribadi masing-masing personel Queen. Hubungan persahabatan antara Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon mulai merenggang dan bahkan membuat Freddie Mercury mulai mempertimbangkan untuk mengakhiri karir musiknya bersama dengan Queen. Continue reading Review: Bohemian Rhapsody (2018)

Review: A Simple Favor (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jessica Sharzer (Nerve, 2016) berdasarkan novel berjudul sama karangan Darcey Bell, A Simple Favor berkisah mengenai persahabatan antara dua orang wanita yang berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda: Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang merupakan seorang ibu rumah tangga beranak satu yang mengisi kesehariannya dengan menjadi seorang video blogger dan Emily Nelson (Blake Lively), seorang wanita dengan karir mapan serta kehidupan yang berkecukupan bersama suami tampan, Sean Townsend (Henry Golding), dan putera tunggal mereka. Suatu hari, Emily Nelson menghubungi sahabatnya untuk meminta bantuan dalam menjemput puteranya dikarenakan dirinya mendapatkan tugas ke luar kota sementara suaminya sedang berada di luar negeri untuk mengurus ibunya yang sedang sakit. Sebuah permintaan yang mudah. Namun, keanehan mulai muncul setelah Emily Nelson mendadak menghilang dan tidak dapat dihubungi. Panik, Stephanie Smothers mulai mengumpulkan berbagai petunjuk untuk dapat menemukan kembali keberadaan sahabatnya. Continue reading Review: A Simple Favor (2018)

Review: Dear Nathan Hello Salma (2018)

Lebih dari setahun semenjak perilisan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) yang menandai kali pertama keduanya berpasangan dalam sebuah film – dan dalam perjalanan masa yang cukup singkat tersebut, percaya atau tidak, keduanya kemudian tampil bersama dalam lima film lainnya – Jefri Nichol dan Amanda Rawles kembali memerankan karakter pasangan muda Nathan dan Salma dalam film yang menjadi sekuel bagi Dear Nathan, Dear Nathan Hello Salma. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Bagus Bramanti (Kartini, 2017) berdasarkan buku Hello Salma karangan Erisca Febriani, Dear Nathan Hello Salma, tentu saja, masih memberikan fokus ceritanya pada perjalanan hubungan asmara yang terjalin antara dua karakter utamanya. Namun, selayaknya sebuah sekuel, film ini kemudian turut berusaha untuk menghadirkan cakupan wilayah penceritaan yang lebih besar daripada hubungan romansa antara karakter Nathan dan Salma dengan menggariskan karakter-karakter baru yang turut membawa barisan konflik baru pada kehidupan kedua karakter utama. Continue reading Review: Dear Nathan Hello Salma (2018)

Review: Jaga Pocong (2018)

Diarahkan oleh Hadrah Daeng Ratu (Mars Met Venus, 2017) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Aviv Elham (Alas Pati, 2018), pengisahan Jaga Pocong dimulai ketika seorang perawat bernama Mila (Acha Septriasa) mendapatkan tugas untuk melakukan kunjungan medis ke rumah seorang pasien bernama Sulastri (Jajang C. Noer). Sial, setibanya di lokasi, sang pasien justru telah meninggal dunia. Oleh putra Sulastri, Radit (Zack Lee), Mila kemudian dimintai bantuan untuk memandikan sekaligus mengkafani jenazah Sulastri serta menjaga adik Radit, Novi (Aqilla Herby), selagi pria tersebut pergi untuk mengurus pemakaman sang ibu. Walau awalnya merasa sungkan, seluruh permintaan Radit tersebut dapat dilakukan Mila dengan baik dan lancar. Namun, seiring dengan berjalannya waktu yang dihabiskan Mila untuk menunggu kembalinya Radit, Mila mulai dihantui oleh berbagai kejadian aneh bernuansa mistis yang sepertinya berusaha menunjukkan Mila bahwa ada hal yang lebih buruk yang akan terjadi jika dirinya tetap berada di rumah tersebut. Continue reading Review: Jaga Pocong (2018)

Review: A Star is Born (2018)

Setelah Janet Gaynor dan Fredric March (A Star is Born, 1937), Judy Garland dan James Mason (A Star is Born, 1954), serta Barbra Streisand dan Kris Kristofferson (A Star is Born, 1976), Hollywood kembali menghadirkan pengisahan terbaru dari A Star is Born – yang pada awalnya juga merupakan adaptasi lepas dari film What Price Hollywood? (George Cukor, 1932) – dengan Lady Gaga dan Bradley Cooper yang kali ini memerankan dua karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Cooper bersama dengan Eric Roth (Extremely Loud & Incredibly Close, 2011) dan Will Fetters (The Best of Me, 2014) dengan mengambil elemen-elemen pengisahan dari film-film A Star is Born sebelumnya, film yang juga menandai kali pertama Cooper untuk duduk di kursi penyutradaraan ini masih menuturkan kisah yang sama familiar: dua sosok karakter dengan kompleksitas problematika hidup masing-masing yang kemudian bertemu, jatuh cinta, dan akhirnya saling mengubah alur kehidupan satu sama lain. It’s a tale as old as time. Jadi apa hal menarik yang dapat diberikan Cooper dalam A Star is Born miliknya? Continue reading Review: A Star is Born (2018)

Review: Halloween (2018)

Di tahun 1963, seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Michael Myers ditangkap dan kemudian dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah ia membunuh kakaknya, Judith, di malam menjelang perayaan Halloween. Lima belas tahun kemudian, satu hari sebelum perayaan Halloween pada 30 Oktober 1978, Michael Myers melarikan diri dari rumah sakit jiwa tempat ia dirawat dan dengan menggunakan mobil yang ia curi dari dokter yang merawatnya kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Haddonfield, Illinois, Amerika Serikat. Keesokan harinya, pada perayaan Halloween, Michael Myers membunuh tiga remaja yang ia temui sebelum langkahnya dihentikan oleh seorang gadis bernama Laurie Strode. Ya, jalinan kisah tersebut merupakan bagian dari plot cerita yang ditulis oleh John Carpenter dan Debra Hill untuk film Halloween arahan Carpenter yang meraih sukses besar ketika dirilis pada tahun 1978. Kesuksesan besar yang kemudian diikuti sembilan film lainnya – baik yang ditujukan sebagai sekuel maupun buat ulang dari Halloween – dengan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$360 juta dari perilisannya di seluruh dunia semenjak tahun 1978 hingga tahun 2009. Continue reading Review: Halloween (2018)

Review: Papillon (2018)

Jika judul film ini terdengar cukup familiar bagi Anda… well… hal itu mungkin disebabkan karena sebagian naskah cerita film ini diadaptasi dari buku otobiografi popular berjudul Papillon (1969) yang ditulis oleh Henri Charrière berdasarkan kisah nyata usahanya untuk melarikan diri dari penjara yang dikelola oleh pemerintah Perancis yang berlangsung selama lebih dari 14 tahun. Sebelumnya, pengalaman fantastis Charrière tersebut juga pernah difilmkan oleh Franklin J. Schaffner dengan judul Papillon. Dibintangi oleh Steve McQueen dan Dustin Hoffman, Papillon berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, sebuah nominasi di kategori Best Music, Original Dramatic Score untuk tata musik ikonik garapan Jerry Goldsmith pada ajang The 46th Annual Academy Awards, serta kesuksesan komersial yang luar biasa ketika dirilis pada tahun 1973. Rentetan keberhasilan tersebut kini coba dirangkai ulang oleh sutradara asal Denmark, Michael Noer (Northwest, 2013), dengan memberikan interpretasi baru bagi pengalaman hidup Charrière. Continue reading Review: Papillon (2018)

Review: Johnny English Strikes Again (2018)

He’s back! Merupakan film pertamanya dalam tujuh tahun, Rowan Atkinson kembali hadir untuk memerankan salah satu karakter ikoniknya – No, not that oneJohnny English, yang sebelumnya telah ia perankan lewat Johnny English (Peter Howitt, 2003) dan Johnny English Reborn (Oliver Parker, 2011). Masih mengedepankan ritme pengisahan sebagai parodi dari film-film aksi bertema spionase, Johnny English Strikes Again berkisah mengenai Johnny English (Atkinson), yang telah pensiun menjadi agen rahasia MI7 dan kini bekerja sebagai seorang guru, namun kemudian dipanggil kembali oleh negara melalui perintah sang Perdana Menteri (Emma Thompson) akibat terjadinya sebuah serangan siber yang menyerang dan kemudian membuka identitas seluruh agen rahasia milik MI7. Bersama dengan sahabatnya, Jeremy Bough (Ben Miller), Johnny English ditugaskan untuk menyelidiki siapa dalang dibalik terjadinya serangkaian serangan siber tersebut. Tugas tersebut membawa Johnny English ke Perancis dimana ia berkenalan dengan Ophelia (Olga Kurylenko), seorang wanita cantik yang ternyata juga merupakan agen rahasia asal Rusia dan berupaya agar Johnny English gagal dalam menjalankan misi spionasenya. Continue reading Review: Johnny English Strikes Again (2018)

Review: Something in Between (2018)

Dalam Something in Between – yang menandai kali keenam keduanya tampil bersama dalam jangka waktu satu tahun terakhir, Jefri Nichol dan Amanda Rawles berperan sebagai Gema dan Maya, dua murid sekolah menengah atas dengan dua kepribadian yang berbeda. Jika Maya merupakan seorang murid cerdas yang kini berada di kelas unggulan maka Gema merupakan sosok pemuda yang tidak begitu peduli dengan arti pentingnya pendidikan dan hidup bebas sesuai dengan kemauan hatinya. Namun, sikap Gema secara perlahan berubah ketika dirinya mulai mengenal Maya. Demi menarik perhatian sang gadis, Gema mulai serius menekuni setiap mata pelajaran yang diikutinya. Berhasil. Tidak hanya ketekunan belajarnya membuat Gema kemudian dipindahkan ke kelas unggulan, Maya juga akhirnya menaruh perhatian dan jatuh hati padanya. Layaknya dua remaja yang saling jatuh cinta lainnya, Gema dan Maya memadu janji untuk saling setia kepada satu sama lain untuk selamanya. Sebuah janji yang kemudian akan mengubah hidup mereka di masa sekarang… dan masa yang akan datang. Continue reading Review: Something in Between (2018)

Review: Belok Kanan Barcelona (2018)

Diadaptasi dari novel berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan: Barcelona! yang ditulis oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita – dengan Mulya bertugas untuk menggarap naskah cerita film ini, Belok Kanan Barcelona berkisah mengenai persahabatan antara Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Ucup (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang telah terjalin semenjak masa SMA. Meski kini mereka telah tinggal di empat negara berbeda dalam menjalani karir mereka, Francis, Retno, Ucup, dan Farah masih menjaga hubungan dan komunikasi mereka dengan baik. Suatu hari, ketika keempatnya sedang berkomunikasi melalui perantaraan video conference, Francis mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), dan menggelar pesta pernikahan mereka di Barcelona, Spanyol. Sebuah pernyataan yang tidak hanya terkesan tiba-tiba bagi teman-teman Francis namun juga memicu munculnya kembali perasaan dan memori dari masa lampau yang kemudian menghantui hubungan persahabatan keempatnya. Continue reading Review: Belok Kanan Barcelona (2018)