Tag Archives: Rating: C

Review: Pig (2021)

Dalam Pig, Nicolas Cage berperan sebagai Robin Feld, seorang mantan juru masak yang setelah kematian istrinya, Lorelai Feld (Cassandra Violet), memilih untuk mengasingkan diri dan tinggal di pedalaman belantara bersama dengan babi peliharaannya. Sial, suatu malam, sekawanan pencuri memasuki kediamannya dan mencuri babi tersebut. Tidak berdiam diri, Robin Feld lantas mencari tahu siapa dalang dibalik pencurian tersebut dan, tentu saja, berusaha untuk merebut kembali babi yang kini telah menjadi teman yang mengisi kesendirian dalam keseharian hidupnya. Merasa familiar karena premis film ini terdengar seperti versi alternatif dari John Wick (Chad Stahelski, 2014) yang dibintangi Keanu Reeves? WellPig mungkin memiliki kesan penuturan yang serupa tetapi dengan sosok anjing yang hilang kini digantikan oleh seekor babi. Namun, jika John Wick menerapkan elemen aksi yang brutal sebagai barisan tantangan yang harus dilalui oleh sosok protagonisnya, Pig justru mengupas lapisan-lapisan kisahnya sebagai proses meditasi bagi sang karakter utama. Tanpa adegan aksi. Tanpa adegan berdarah. Continue reading Review: Pig (2021)

Review: Jolt (2021)

Film terbaru arahan Tanya Wexler (Buffaloed, 2019), Jolt, berkisah tentang seorang perempuan bernama Lindy (Kate Beckinsale) yang semenjak kecil didiagnosa memiliki kelainan kondisi medis dimana dirinya tidak mampu menahan rasa amarah yang lantas mendorongnya untuk melakukan tindakan kekerasan. Untuk menangani rasa amarah Lindy yang sering tidak terkendali, psikiaternya, Dr. Munchin (Stanley Tucci), memberikan sebuah alat kejut listrik yang mampu meredam hasrat Lindy untuk berlaku kasar ketika dirinya sedang emosional. Dr. Munchin juga menyarankan Lindy untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan orang lain. Saran yang kemudian mempertemukan Lindy dengan seorang akuntan bernama Justin (Jai Courtney). Tanpa disangka, Justin ternyata dapat merebut sekaligus melunakkan hati Lindy. Namun, belum lama kisah asmara tersebut tumbuh, sebuah tragedi muncul dan menimpa Justin. Lindy tidak mampu lagi mengontrol seluruh emosi yang ia rasakan dan lantas berusaha untuk menemukan siapa yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada sosok pria yang begitu dicintainya.

Continue reading Review: Jolt (2021)

Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Dirancang sebagai sebuah trilogi yang masing-masing bagian pengisahannya dirilis tiap minggu secara berurutan oleh Netflix, seri film Fear Street mengakhiri perjalanan kisahnya dengan perilisan Fear Street Part Three: 1666. Dengan naskah cerita yang digarap oleh sutradara film ini, Leigh Janiak, bersama dengan Phil Graziadei dan Kate Trefry, Fear Street Part Three: 1666 akan membawa penontonnya semakin jauh ke masa lalu untuk menggali secara mendalam kisah dari seorang perempuan bernama Sarah Fier (Elizabeth Scopel) yang dieksekusi karena dugaan kemampuan ilmu sihirnya. Dikisahkan, di pemukiman yang dikenal dengan nama Union – yang di masa depan akan berkembang menjadi kota modern, Sunnyvale dan Shadyside, sebuah kekuatan misterius menyebabkan bahan makanan menjadi membusuk, hewan ternak mati, dan, puncaknya, Pastor Cyrus Miller (Michael Chandler) ditemukan telah membunuh murid-muridnya. Panik, warga Union mulai berkumpul dan memutuskan bahwa kejadian-kejadian aneh yang menimpa mereka adalah merupakan akibat perbuatan sihir. Kepanikan warga tersebut kemudian dimanfaatkan oleh seorang pemuda bernama Caleb (Jeremy Ford) untuk membalaskan dendamnya pada Sarah Fier dan Hannah Miller (Olivia Scott Welch) yang dahulu pernah mempermalukannya. Continue reading Review: Fear Street Part Three: 1666 (2021)

Review: Chaos Walking (2021)

Selain menjadi judul dari film terbaru arahan Doug Liman (American Made, 2017), Chaos Walking jelas merupakan ungkapan yang juga tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana proses pembuatan film ini. Diadaptasi dari buku The Knife of Never Letting Go yang merupakan buku pertama dari trilogi Chaos Walking karangan Patrick Ness, kekacauan serta hambatan yang dihadapi film yang dibintangi Daisy Ridley dan Tom Holland ini telah dimulai ketika naskah cerita yang awalnya ditulis oleh Charlie Kaufman (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, 2004) kemudian dinilai kurang memuaskan dan lantas mendapatkan revisi dari sejumlah penulis naskah lain seperti Jamie Linden (Dear John, 2010) dan John Lee Hancock (The Little Things, 2021) sebelum akhirnya menggunakan naskah yang digarap oleh Ness bersama dengan Christopher Ford (Spider-Man: Homecoming, 2017). Proses pengambilan gambar film sendiri sebenarnya telah diselesaikan pada tahun 2017. Namun, setelah mendapatkan respon buruk dari sejumlah tes penayangan, Chaos Walking lantas melakukan sejumlah proses pengambilan gambar ulang – yang melibatkan sutradara Fede Álvarez (The Girl in the Spider’s Web, 2018) – dan menunda perilisan film ini dari tahun 2019 menjadi awal tahun ini. Tidak mengejutkan bila kemudian deretan kekacauan tersebut cukup terefleksi pada kualitas akhir dari pengisahan Chaos Walking. Continue reading Review: Chaos Walking (2021)

Review: The Tomorrow War (2021)

Dalam The Tomorrow War, Chris Pratt berperan sebagai seorang pria dengan berbagai kenangan buruk akan sosok ayah yang meninggalkan dirinya di masa kecil serta kini harus turut dalam sebuah pertarungan melawan makhluk asing dari angkasa luar guna menyelamatkan Bumi. Bukan. The Tomorrow War bukanlah film yang melanjutkan perjalanan cerita Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) dan Guardians of the Galaxy Vol. 2 (Gunn, 2017) yang juga dibintangi oleh Pratt. Menjadi film pertama yang diarahkan oleh Chris McKay setelah kesuksesannya dalam mengarahkan film animasi The LEGO Batman Movie (2017), The Tomorrow War memang menghadirkan Pratt untuk berperan sebagai sosok dengan latar belakang karakter yang menyerupai sosok karakter yang diperankannya dalam seri film yang termasuk dalam semesta pengisahan Marvel Cinematic Universe tersebut. Tidak hanya desain karakter utamanya, film fiksi ilmiah ini juga memiliki barisan konflik yang cukup familiar bagi mereka para penikmat film-film bertemakan peperangan dengan makhluk asing dari angkasa luar. Bukan lantas berarti buruk karena McKay mampu membalut filmnya dengan banyak momen aksi yang akan cukup berhasil untuk mempesona banyak mata yang menyaksikannya. Continue reading Review: The Tomorrow War (2021)

Review: The 8th Night (2021)

Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara sekaligus penulis naskah Kim Tae-hyoung, alur penceritaan The 8th Night dimulai ketika seorang biksu muda, Cheong-seok (Nam Da-reum), ditugaskan oleh gurunya, Ha-jeong (Lee Eol), untuk membawa sebuah bungkusan kepada seorang mantan biksu, Park Jin-soo (Lee Sung-min), sekaligus memperingatkannya bahwa sesosok makhluk jahat yang dahulu pernah berusaha untuk membuka pintu neraka telah kembali dan bersiap untuk mengulangi kembali aksinya. Bukan usaha yang mudah. Selain Cheong-seok harus menemukan Park Jin-soo yang tidak terlalu jelas lokasi keberadaannya, Park Jin-soo menyimpan kenangan akan masa lalu yang kelam dan membuatnya tidak lagi percaya akan berbagai ajaran yang dulu diterimanya sebagai seorang biksu. Di saat yang bersamaan, seorang detektif bernama Kim Ho-tae (Park Hae-joon), sedang dilanda kebingungan ketika dirinya harus mengungkap kasus pembunuhan aneh dimana para korban ditemukan dengan kondisi mayat telah mengering. Continue reading Review: The 8th Night (2021)

Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Diarahkan oleh Lucky Kuswandi (Galih & Ratna, 2017) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Gina S. Noer (Dua Garis Biru, 2019), Ali & Ratu Ratu Queens bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Ali (Iqbaal Ramadhan) untuk menemukan kebahagiannya di kota New York, Amerika Serikat. Mengapa New York? Karena di kota itulah sang ibu, Mia (Marissa Anita), yang semenjak lama telah meninggalkan dirinya dan sang ayah, Hasan (Ibnu Jamil), demi mengejar mimpi untuk menjadi seorang penyanyi, kini berada. Berbekal sejumlah uang, tiket penerbangan yang dahulu pernah dikirimkan oleh ibunya, serta sedikit informasi tentang lokasi keberadaan sang ibu, Ali memulai perjalanannya. Sial, sesampainya di sebuah apartemen yang menjadi tujuannya di wilayah Queens, New York, Ali diberitahu bahwa kini ibunya tidak lagi tinggal disana. Di saat yang bersamaan, Ali bertemu dengan empat imigran asal Indonesia, Party (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Chinta (Happy Salma), serta Ance (Tika Panggabean), yang kemudian bersedia untuk menampung Ali serta membantunya untuk menemukan keberadaan sang ibu. Continue reading Review: Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

Review: The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

Seri terbaru dari The Conjuring, The Conjuring: The Devil Made Me Do It, memiliki alur pengisahan yang diinspirasi dari kisah nyata akan kasus hukum yang dihadapi oleh seorang pemuda bernama Arne Cheyenne Johnson pada tahun 1981. Kasus yang dikenal dengan sebutan kasus “Devil Made Me Do It” tersebut menjadi perhatian publik Amerika Serikat (dan dunia) setelah Johnson yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut melakukan pembelaan diri terhadap tindakan pembunuhan yang dituduhkan padanya dengan mengungkapkan bahwa dirinya sedang mengalami kesurupan ketika melakukan perbuatan kriminal tersebut. Dan, tentu saja, perhatian media semakin membesar ketika dua penyelidik paranormal popular, Ed dan Lorraine Warren, diketahui turut terlibat dari awal bermulanya kasus tersebut. Seperti halnya film-film lain dalam seri The Conjuring, The Conjuring: The Devil Made Me Do It melakukan sejumlah dramatisasi terhadap proses peradilan yang dijalani oleh Johnson dengan, tentunya, memberikan penekanan pada berbagai unsur horor dari kisah tersebut. Continue reading Review: The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

Review: Ghost Lab (2021)

Setelah turut berkontribusi dalam sejumlah film omnibus seperti Phobia (2008), Phobia 2 (2009), dan Seven Something (2012), sutradara Paween Purijitpanya kembali hadir lewat Ghost Lab yang sekaligus menjadi film cerita panjang pertama yang ia arahkan semenjak Body (2007). Dengan naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Vasudhorn Piyaromna (Bad Genius, 2017) dan Tossaphon Riantong (Brother of the Year, 2018), Ghost Lab berkisah tentang persahabatan antara dua orang dokter muda, Wee (Thanapob Leeratanakajorn) dan Gla (Paris Intarakomalyasut), yang sama-sama berambisi untuk menemukan bukti ilmiah akan keberadaan hantu serta berbagai makhluk supranatural lainnya. Terinspirasi dari pertemuan keduanya akan seorang sosok hantu di rumah sakit tempat mereka bekerja, penelitian Wee dan Gla awalnya berlangsung dengan serius namun tetap menyenangkan. Namun, setelah berulangkali gagal untuk benar-benar mendapatkan cara maupun teori ilmiah yang benar untuk menemukan para makhluk supranatural, keduanya mulai memiliki ide untuk mengambil langkah yang lebih ekstrem: mendekati kematian secara langsung dengan melakukan usaha untuk bunuh diri. Continue reading Review: Ghost Lab (2021)

Review: Army of the Dead (2021)

Sebelum namanya (lebih) popular sebagai sutradara andalan DC Films dan Warner Bros. Pictures untuk mengarahkan film-film pahlawan super seperti Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), hingga Zack Snyder’s Justice League (2021) serta dilibatkan dalam seluruh film-film yang berada dalam semesta pengisahan DC Extended Universe, Zack Snyder memulai karir penyutradaraan film cerita panjangnya dengan mengarahkan sebuah film aksi horor berjudul Dawn of the Dead (2004) yang berkisah tentang kekacauan yang terjadi akibat serbuan sekaligus penyerangan para mayat hidup terhadap manusia. Merupakan versi buat ulang dari film legendaris berjudul sama arahan George A. Romero yang dahulu dirilis pada tahun 1978, Dawn of the Dead garapan Snyder sering dinobatkan sebagai salah satu film horor bertemakan mayat hidup terbaik yang pernah diproduksi Hollywood oleh para kritikus film dunia sekaligus menjadi film terbaik yang pernah diarahkan Snyder hingga saat ini. Continue reading Review: Army of the Dead (2021)

Review: Those Who Wish Me Dead (2021)

Diadaptasi dari novel karangan Michael Koryta yang berjudul sama, film cerita panjang kedua – ketiga jika Anda ingin menghitung Vile (2011) yang tidak pernah diakui sebagai film arahannya – yang diarahkan oleh Taylor Sheridan setelah Wind River (2017), Those Who Wish Me Dead, berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara seorang anggota pasukan khusus pemadam kebakaran hutan, Hannah Faber (Angelina Jolie), dengan seorang anak laki-laki bernama Connor Casserly (Finn Little). Sial, pertemuan tersebut tidak berlangsung dalam kondisi yang menyenangkan. Connor Casserly baru saja menyaksikan ayahnya, Owen Casserly (Jake Weber), dibunuh dan saat ini sedang berada dalam pelarian dari dua orang pembunuh sang ayah, Patrick Blackwell (Nicholas Hoult) dan Jack Blackwell (Aidan Gillen), yang kini juga sedang mengincar nyawanya. Mengetahui tragedi yang dialami oleh anak yang baru ia temui, Hannah Faber mulai menyusun rencana untuk dapat menyelamatkannya. Continue reading Review: Those Who Wish Me Dead (2021)

Review: The Woman in the Window (2021)

Well… Anda tidak salah jika merasa bahwa telah begitu familiar dengan judul The Woman in the Window. Film ini sebenarnya telah menyelesaikan proses produksinya pada akhir tahun 2018 dengan jadwal rilis pada akhir tahun 2019. Namun, sejumlah perubahan terus menunda perilisan film yang diarahkan oleh Joe Wright (Darkest Hour, 2017) ini. Walt Disney Studios Motion Pictures, yang merupakan pemilik baru dari rumah produksi 20th Century Fox yang memproduksi film ini, dikabarkan tidak puas dengan hasil akhir film ini pada saat tersebut dan meminta untuk dilakukan sejumlah pengambilan gambar ulang. Trent Reznor dan Atticus Ross yang awalnya bertugas sebagai penata musik film juga memilih untuk tidak melanjutkan kinerja mereka yang lantas digantikan oleh komposer Danny Elfman. Dan, tentu saja, pandemi COVID-19 juga memberikan andil dalam menggagalkan rencana rilis The Woman in the Window yang baru di awal tahun 2020. Setelah penundaan demi penundaan, yang masih ditambah dengan kondisi pandemi yang masih belum membaik, membuat Walt Disney Studios Motion Pictures kemudian memilih untuk menjual hak rilis film ini kepada Netflix yang lantas merilisnya pada awal tahun 2021 – dua tahun dari jadwal awal perilisan film ini di layar bioskop. Continue reading Review: The Woman in the Window (2021)

Review: The Secret Garden (2020)

The Secret Garden arahan Marc Munden (Miranda, 2002) bukanlah film pertama yang alur cerita diadaptasi dari novel klasik berjudul sama karangan penulis asal Inggris, Frances Hodgson Burnett. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1911, adaptasi film layar lebar pertama dari The Secret Garden dirilis pada tahun 1919 dengan Gustav von Seyffertitz duduk di kursi penyutradaraan dan Burnett terlibat sebagai salah satu penulis naskahnya. Sutradara Fred M. Wilcox mengarahkan adaptasi kedua dari The Secret Garden yang dirilis pada tahun 1949, sedangkan Agnieszka Holland (dan melibatkan Francis Ford Coppola sebagai produser eksekutif) menyutradarai adaptasi lainnya yang dirilis pada tahun 1993. Aktor Colin Firth yang turut berperan dalam film ini sebelumnya juga pernah terlibat dalam adaptasi film televisi dari The Secret Garden yang ditayangkan oleh saluran televisi CBS pada tahun 1987. Catatan panjang bagi koneksi sebuah novel dengan layar sinema namun apakah pengisahan The Secret Garden masih mampu memikat perhatian penonton yang datang dari era generasi terkini? Continue reading Review: The Secret Garden (2020)