Tag Archives: Tatjana Saphira

The 20 Best Movie Performances of 2017

What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama.

Berikut adalah dua puluh – well… dua puluh lima, untuk tepatnya – penampilan akting yang paling berkesan dalam sebuah film yang dirilis di sepanjang tahun 2017, termasuk sebuah penampilan yang At the Movies pilih sebagai Performance of the Year. Disusun secara alfabetis. Continue reading The 20 Best Movie Performances of 2017

Advertisements

Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)

Desir pasir di padang tandus

Hampir satu dekade semenjak masa perilisan film perdananya, kisah cinta sejuta umat – well… tiga juta lima ratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh tujuh jika ingin menghitung jumlah raihan penonton yang berhasil didapatkan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008) – kembali hadir untuk melanjutkan pengisahannya. Masih diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, jalan cerita Ayat-ayat Cinta 2 tidak lagi berputar di sekitar melodrama kisah cinta segitiga antara Fahri, Maria, dan Aisha. Melalui novelnya, El Shirazy sepertinya ingin menjangkau tema pengisahan yang lebih luas atau universal mengenai cinta – meskipun, tentu saja, dengan tetap menggunakan sebuah alur kisah cinta sebagai jangkarnya. Sebuah tujuan yang dapat dirasakan… ummm… mulia namun sayang hadir dengan eksekusi yang terlalu mentah. Continue reading Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: Sweet 20 (2017)

Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya. Continue reading Review: Sweet 20 (2017)

Review: Stip & Pensil (2017)

Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi. Continue reading Review: Stip & Pensil (2017)

Review: Crazy Love (2013)

crazy-love-header

Sukses dengan Tampan Tailor yang dirilis beberapa bulan lalu, sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan duo penulis naskah Cassandra Massardi dan Alim Sudio untuk film terbarunya, Crazy Love. Berbeda dengan Tampan Tailor yang menawarkan kisah drama hubungan ayah dan anak yang menyentuh, Crazy Love adalah sebuah drama romantis yang mencoba untuk menggali hubungan persahabatan dan asmara yang terjalin antara karakter-karakternya yang masih berusia remaja. Terdengar klise? Memang. Dan sayangnya, presentasi klise itulah yang dapat dirasakan disepanjang durasi penceritaan Crazy Love, mulai dari alur cerita, dialog hingga penampilan para jajaran pemerannya – sebuah kualitas yang kemudian membuat Crazy Love terasa berjalan begitu monoton dan bertele-tele dalam menyampaikan jalan ceritanya.

Continue reading Review: Crazy Love (2013)

Review: Get M4rried (2013)

get-m4rried-header

Meski tak satupun diantara seri lanjutan Get Married (2007) yang mampu menghadirkan kualitas presentasi cerita maupun guyonan sekuat seri pemulanya, namun harus diakui bahwa seri film tersebut telah mendapatkan sejumlah penggemar loyal dari kalangan penonton film Indonesia. Seri terakhirnya, Get Married 3 (2011) – yang hadir dengan kualitas paling buruk jika dibandingkan dengan dua seri Get Married sebelumnya, bahkan masih mampu meraih kesuksesan dengan perolehan jumlah penonton berada di atas angka 500 ribu. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian Starvision Plus kembali mengumpulkan para jajaran pemeran serta kru produksi seri film ini untuk membuat seri keempat yang diberi judul Get M4rried dan berusaha untuk mengulang kesuksesan tersebut.

Continue reading Review: Get M4rried (2013)