Review: Fetish (2008)


Untuk sebuah film yang menggunakan sebuah kata yang cukup provokatif sebagai judulnya, Fetish – atau yang di beberapa negara lainnya dirilis dengan judul Make Yourself at Home – sama sekali bukanlah sebuah film yang menawarkan sesuatu yang layak untuk diperbincangkan. Naskah cerita sekaligus tata penyutradaraan yang lemah membuat film yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar sineas Korea Selatan, Soopum Sohn, sekaligus menjadi debut penampilan aktris kesayangan masyarakat Negeri Ginseng, Song Hye-kyo, dalam sebuah film yang diproduksi oleh dan dirilis di Amerika Serikat ini  menjadi sangat datar dan jauh dari kesan dapat dinikmati dengan baik.

Di tangan seorang sutradara yang mungkin lebih jauh berpengalaman dari Sohn, premis Fetish dapat saja diolah menjadi sebuah film thriller berbau mistis dengan balutan intensitas seksual yang tinggi. Naskah cerita Fetish, yang juga ditulis oleh Sohn bersama Margareth Monaghan, memiliki potensi tersebut. Mengisahkan mengenai Sookhy (Song Hye-kyo), seorang wanita Korea yang baru saja menikah dengan Peter Kim (Rob Yang), seorang pria Amerika Serikat keturunan Korea, untuk kemudian pindah ke New Jersey, Amerika Serikat, dan tinggal bersama ibu mertuanya, Mrs. Kim (June Kyoto Lu).

Sebagai seorang yang baru pertama kali meninggalkan wilayah Korea, Sookhy sempat mengalami culture clash dengan lingkungan barunya. Namun, hal itu tak berlangsung lama setelah Sookhy menjalin persahabatan dengan tetangganya, pasangan John (Arno Frisch) dan Julie Waits (Athena Currey). Dalam sebuah kecelakaan yang secara tidak sengaja disebabkan oleh Julie, Rob kemudian meninggal dunia. John dan Julie-lah yang kemudian menjadi tempat pelarian rasa kesendirian Sookhy setelah kematian suaminya. Dalam persahabatan yang berjalin demikian mendalam tersebut, Julie belajar banyak mengenai kebudayaan Korea… sedangkan Sookhy belajar banyak cara mencintai suami Julie, John. Cinta segitiga yang berujung dengan sebuah tragedi yang mengenaskan.

Fetish dibangun sebagai sebuah film yang mengandung unsur thriller mistis dan fantasi. Sayangnya, Sohn sama sekali tidak berhasil menyentuh kedua wilayah tersebut dengan benar-benar baik di sepanjang 90 menit film ini berjalan. Fetish dimulai dengan sebuah adegan yang mengungkap sisi mistis film ini – menyinggung mengenai dunia perdukunan masyarakat Korea. Dalam perjalanannya, plot ini kemudian tenggelam, untuk kemudian ditampilkan sejenak dalam sebuah adegan, menghilang lagi dan kemudian digunakan sebagai alasan untuk tampilan akhir cerita yang dipilihkan Sohn untuk film ini. Sama sekali bukan hasil kerja yang memuaskan akibat inkonsistensi yang terjadi menyebabkan seluruh kisah yang terjalin menjadi tidak masuk akal.

Sohn juga gagal mengeksplorasi Fetish sebagai sebuah film thriller dengan baik. Adegan puncak yang dihadirkan, dimana dua karakter dengan ketegangan yang telah terjalin sejak awal akhirnya saling berhadapan, malah terkesan menjadi sebuah adegan yang telah dapat ditebak sedari awal daripada sebagai sebuah bagian cerita yang dapat mengesankan setiap penontonnya. Ini terjadi karena penyusunan ritme cerita yang berlangsung cukup datar dan lamban. Sohn berkali-kali menghadirkan peluang untuk terciptanya sebuah adegan yang menegangkan, namun kemudian mengakhirinya dengan kisah yang menggantung – yang mungkin dilakukan untuk tetap menyimpan erat plot ‘kejutan’ yang ingin dihadirkan Sohn di akhir cerita.

Fetish sendiri dihiasi dengan banyaknya plot hole yang terdapat di sepanjang jalan cerita. Latar belakang mistis Sookhy adalah salah satu diantaranya. Kemudian masih ada bagian dimana masa lalu Sookhy sempat diungkapkan secara sekilas oleh seorang karakter pendukung. Kisah yang kemudian usai seiring dengan berakhirnya masa sang karakter tersebut menceritakan hal tersebut kepada penonton. Plot yang berbau seksual juga sempat disentuh Sohn secara sepintas, namun tidak pernah dihadirkan dalam porsi yang mampu membuat bagian ini dapat terkesan menarik.

Satu-satunya daya tarik Fetish berada pada penampilan Song Hye-kyo, model sekaligus aktris papan atas Korea Selatan yang terkenal sebagai seorang yang sangat ketat untuk melakukan pemilihan film yang akan ia perankan. Fetish menjadi kali pertama dimana Song hadir memerankan seorang karakter dengan karakterisasi yang manipulatif dan dengan daya tarik seksual yang sangat tinggi. Manipulatif? Song dapat dengan mudah melakukannya. Namun, harus diakui, sangat sulit untuk menghapus imej Song yang terlanjur terbentuk sebagai seorang girl next door ketika melihat ia berusaha memamerkan daya tarik seksualnya. Song sama sekali tidak gagal – kemampuan aktingnya merupakan bagian terbaik dari Fetish, hanya saja peran sebagai Sookhy yang perayu terlalu sulit dipercaya untuk dapat diperankan oleh seorang Song Hye-kyo yang memili paras (terlalu) manis dan lugu.

Selain penampilan akting Song Hye-kyo, sayangnya tidak ada lagi penampilan lain dari departemen akting film ini yang dapat dikatakan memuaskan. Dua aktor Amerika Serikat di film ini, khususnya Athena Currey, seringkali terlihat kebingungan untuk beradaptasi dengan kisah yang mereka perankan sehingga menghasilkan akting yang terlalu kaku. Aktris June Kyoto Lu, yang berperan sebagai ibu mertua Sookhy, beberapa kali terlihat mampu mencuri perhatian. Sayang, perannya yang terlalu terbatas menyebabkan dirinya tidak dapat memberikan penampilan yang lebih untuk menghidupkan karakternya.

Fetish sama sekali bukanlah sebuah thriller yang menarik, bahkan sebagian akan menempatkannya sebagai sebuah produk yang gagal. Memiliki premis yang menarik memang tidak aka nada artinya bila melalui sebuah eksekusi yang buruk. Sohn terbukti gagal dalam mengeluarkan seluruh potensi kualitas yang sebenarnya dapat saja dikeluarkan dari naskah cerita film ini. Sohn juga gagal untuk mengarahkan jajaran pemeran film ini: Song Hye-kyo memang tampil menarik namun itu murni merupakan kemampuan dan daya tarik Song sendiri, sementara pemeran lainnya sama sekali terlihat tidak mampu untuk memberikan tampilan terbaik mereka. Hasilnya, Fetish secara keseluruhan berjalan datar dan sangat tidak menarik.

Fetish (Starfish Pictures, 2008)

Fetish (2008)

Directed by Soopum Sohn Produced by Eve Annenberg, Sean Meenan, Somyung Sohn Written by Margaret Monaghan, Soopum Sohn Starring Song Hye-kyo, Arno Frisch, Athena Currey, Rob Yang, Jane Kyoto Lu, Clarissa Park, Constance Boardman, Marcus Choi, Carly Maitlin Music by Aaron Severini Cinematography Soopum Sohn Studio Starfish Pictures Running time 90 minutes Country United States Language English, Korean

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s