Review: Pengabdi Setan (2017)


Merupakan film horor supranatural perdana Joko Anwar, Pengabdi Setan merupakan interpretasi ulang Anwar atas film horor Indonesia berjudul sama arahan Sisworo Gautama Putra yang sempat begitu populer ketika dirilis pertama kali pada tahun 1980. Meskipun sebuah versi ulang buat, namun Pengabdi Setan garapan Anwar tidak sepenuhnya mengikuti alur cerita yang telah diterapkan oleh film pendahulunya. Mereka yang telah familiar dengan film-film maupun gaya penceritaan Anwar jelas dapat merasakan bahwa pemenang Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk filmnya A Copy of My Mind (2015) tersebut tetap memasukkan sentuhan penceritaan khasnya di berbagai sudut pengisahan Pengabdi Setan terbaru. Hasilnya, selain pengisahan Pengabdi Setan tetap mampu terasa segar dan relevan bagi para penonton yang kebanyakan datang dari kalangan generasi baru, Anwar juga berhasil merangkai Pengabdi Setan miliknya menjadi sajian horor Indonesia yang sangat menyenangkan (dan menakutkan) untuk disaksikan.

Berdasarkan naskah cerita yang juga ditulis oleh Anwar, Pengabdi Setan memulai kisahnya ketika Suwono (Bront Palarae) yang baru saja ditinggal mati oleh sang istri, Mawarni (Ayu Laksmi), harus pergi meninggalkan anak-anaknya, Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondi (Nasar Anuz), dan Ian (M. Adhiyat), untuk tinggal bersama nenek mereka (Elly D. Luthan) agar dirinya dapat berangkat dan bekerja di kota. Sial, sepeninggal Suwono, Rini dan adik-adiknya mulai merasakan kehadiran sebuah kekuatan jahat yang mengganggu dan menghantui keseharian mereka. Dengan bantuan seorang pemuda yang baru dikenalnya, Hendra (Dimas Aditya), Rini mulai mencari tahu jawaban dari misteri teror supranatural yang sedang dihadapi keluarganya. Di saat yang bersamaan, pencarian Rini tersebut ternyata membuka sejarah kelam yang melibatkan masa lalu dari ibunya.

Dari sisi pengisahan, Anwar memberikan rekonstruksi pengisahan yang cukup radikal terhadap jalan cerita versi Pengabdi Setan garapan Putra. Begitu radikal sehingga tidaklah salah jika mengasumsikan bahwa Pengabdi Setan buatan Anwar merupakan prekuel bagi Pengabdi Setan buatan Putra, khususnya setelah kehadiran karakter yang diperankan Asmara Abigail di dalam jalan penceritaan. Terlepas dari berbagai perubahan yang dilakukan tersebut, Anwar secara cerdas tetap mempertahankan atmosfer sunyi dan kelam yang sukses menjadikan versi pendahulu dari Pengabdi Setan tampil begitu efektif dalam menakuti para penontonnya. Keberhasilan tersebut berhasil dicapai oleh Anwar berkat dorongan tata sinematografi arahan Ical Tanjung yang mampu menangkap suasana kemuraman lingkungan lokasi berlangsungnya jalan cerita serta gabungan desain suara dan tata musik garapan Khikmawan Sentosa, Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle yang mampu memberikan dorongan psikologis yang lebih mendalam pada penonton untuk merasakan teror penceritaan film ini. Sebuah kompilasi teknikal yang jelas tidak sederhana namun mampu ditangani Anwar dengan handal.

Anwar sendiri tidak melulu berpegangan teguh pada teknik pengisahan yang diterapkan oleh versi klasik dari Pengabdi Setan. Pada beberapa bagian pengisahan, Anwar mengaplikasikan teknik-teknik kejutan pengisahan horor modern seperti yang sering ditemukan dalam film-film horor buatan Jason Blum atau James Wan. Familiar, namun jelas tidak dapat disangkal tetap berhasil memberikan momen-momen horor yang menyenangkan ketika Anwar berhasil mengeksekusinya dengan baik. Di saat yang bersamaan, meskipun menjadi filmnya yang hadir dengan tata pengisahan paling konvensional, Anwar tidak lantas kehilangan identitas pengarahannya begitu saja. Banyak adegan dalam Pengabdi Setan masih dipenuhi dengan simbolisme – dan easter eggs dari film-film garapan Anwar sebelumnya – yang biasa mewarnai film-film garapan Anwar. Sentuhan komedi yang mewarnai beberapa dialog film juga jelas terasa khas sutradara kelahiran Medan tersebut. Pretty refreshing.

Selain tampil dengan kualitas pengisahan dan teknikal yang kuat, departemen akting Pengabdi Setan juga diisi dengan penampilan-penampilan akting yang (kebanyakan) tampil meyakinkan. Walaupun banyak diantara karakter yang tampil dalam jalan cerita film ini hadir dengan perkembangan karakterisasi yang cenderung minimalis – seperti halnya deretan konflik dalam film ini –  namun para pemerannya berhasil menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Aktor muda, Adhiyat, khususnya, berhasil hadir dengan penampilan yang begitu mencuri perhatian. Begitu pula dengan Arfian dan Basro – meskipun karakter yang diperankan Basro sepertinya akan tampil lebih kuat dan emosional jika Basro tampil lebih lugas. Secara keseluruhan, di tengah kebangkitan film-film horor yang kembali menghantui layar bioskop Indonesia, jelas sangat menyenangkan untuk menyaksikan sebuah film horor nasional dengan kualitas seapik Pengabdi Setan. Film horor Indonesia paling menyenangkan dan paling memuaskan setelah Keramat (Monty Tiwa, 2009) dirilis hampir satu dekade lalu. [B-]

pengabdi-setan-joko-anwar-movie-posterPengabdi Setan (2017)

Directed by Joko Anwar Produced by Gope T. Samtani Written by Joko Anwar (screenplay), Subagio Samtani, Sisworo Gautama Putra, Imam Tantowi, Naryono Prayitno (original movie screenplay, Pengabdi Setan) Starring Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Anuz, M. Adhiyat, Dimas Aditya, Ayu Laksmi, Elly D. Luthan, Egi Fedly, Bront Palarae, Arswendy Bening Swara, Fachri Albar, Asmara Abigail Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti, Tony Merle Cinematography Ical Tanjung Edited by Arifin Cuunk Production company Rapi Films/CJ Entertainment Running time 107 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

5 thoughts on “Review: Pengabdi Setan (2017)”

  1. Kalau menurut,saya Pengabdi Setan (1980) masih tidak tertandingi,Joko Anwar memang sukses menyajikan atmosfer horor yg natural – walaupun masih mengikuti resep pakem – namun berhasil.Hasil kerja kamera dengan sudut ambil yang sederhana tapi memberikan kesan kuat, plus art direction serta tentu akting para pemerannya yang juga solid.Saya juga salut dengan suasanan tahun 1980, sangat detil .Hanya,saja pada jelang endingnya saat “para tamu misterius” datang mengepung rumah itu, tidak begitu menakutkan. Dan mengganti endingnya dengan kehadiran Fachry Akbar dan Asmara Abigail malah kesannya tidak twist. Namun secara keseluruhan, film ini cukup menghibur,cukup lama sy menantikan film horor nasional yang baik. Saya memberikan 7/10.

    1. Haha. Tapi kalo pernah nonton film aslinya, emang ditampilin mayat hidup juga kok. Mungkin karena sekarang aja kita lebih familiar dengan ‘Resident Evil’ atau ‘The Walking Dead’ dan teman-temannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s