Category Archives: Movies

Review: Unforgettable (2017)

Yes. We’ve all been here before. We’re all familiar with the story. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Christina Hodson (Shut In, 2016) dan David Leslie Johnson (The Conjuring 2, 2016), Unforgettable berkisah mengenai Julia Banks (Rosario Dawson), seorang wanita yang siap meninggalkan karir cemerlangnya di kota San Fransisco untuk pindah ke California setelah menerima pinangan dari kekasihnya, David Connover (Geoff Stults). Kisah bahagia Julia dan David, sayangnya, kemudian menemui halangan setelah mantan istri David, Tessa Manning (Katherine Heigl), merasa cemburu akibat kehadiran Julia. Berbagai cara dilakukan Tessa agar David mau meninggalkan Julia dan kembali padanya – termasuk dengan mengorek kelamnya masa lalu Julia. Ketika David tetap bergeming atas cintanya pada sang tunangan, Tessa akhirnya memilih sebuah cara mematikan untuk mendapatkan kembali kebahagiaan dirinya. Continue reading Review: Unforgettable (2017)

Advertisements

Review: Alien: Covenant (2017)

Lima tahun setelah merilis Prometheus – sebuah pembuka bagi serangkaian film yang semenjak awal telah direncanakan menjadi prekuel bagi seri film Alien (1979 – 1997), Ridley Scott melanjutkan petualangannya dalam menjelajah angkasa luar lewat Alien: Covenant. Tidak seperti Prometheus, yang dengan bantuan penulis naskah Jon Spaihts dan Damon Lindelof kemudian menjadikan film tersebut sebagai sebuah sajian yang berisi berbagai filosofi mengenai asal-usul kehidupan manusia diatas permukaan Bumi, Alien: Covenant terasa seperti usaha Scott untuk memberikan filmnya berbagai ciri khas seri film Alien yang telah begitu familiar dan dicintai oleh banyak penggemarnya. Tentu, pilihan tersebut mampu menjadikan Alien: Covenant tampil dengan warna pengisahan yang lebih menegangkan. Sayangnya, di saat yang bersamaan, pilihan untuk menyajikan formula cerita yang (terlalu) familiar justru membuat film ini kehilangan sentuhan inovatif yang biasanya selalu hadir dalam seri film Alien. Continue reading Review: Alien: Covenant (2017)

Review: Critical Eleven (2017)

Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures. Continue reading Review: Critical Eleven (2017)

Review: King Arthur: Legend of the Sword (2017)

Kisah King Arthur dan pedang legendarisnya, Excalibur, jelas merupakan salah satu kisah yang familiar bagi kebanyakan umat manusia yang ada di permukaan Bumi. Tidak hanya popular, kisah tersebut bahkan telah berulangkali diadaptasi dalam berbagai bentuk media, mulai dari buku, serial televisi, animasi, drama panggung, video permainan hingga, tentu saja, film – yang bahkan tercatat pernah menampilkan cerita tentang King Arthur semenjak era film bisu di tahun 1904. Yang teranyar, sutradara asal Inggris, Guy Ritchie (The Man from U.N.C.L.E., 2015), berusaha memberikan interpretasinya sendiri atas kisah mitologi Britania Raya tersebut lewat King Arthur: Legend of the Sword. Lantas, apa yang dapat ditawarkan oleh Ritchie pada pengisahan King Arthur miliknya? Cukup banyak, ternyata. Continue reading Review: King Arthur: Legend of the Sword (2017)

Review: Siam Square (2017)

Mereka yang pernah berkunjung ke Thailand jelas akan merasa familiar dengan wilayah Siam Square – sebuah wilayah yang menjadi pusat hiburan dan perbelanjaan yang terletak di ibukota Negara Gajah Putih tersebut. Namun, film Siam Square yang menjadi debut pengarahan layar lebar perdana bagi sinematografer Pairach Khumwan – setelah sebelumnya mengarahkan sebuah segmen cerita dalam film Love, Not Yet (2011) – bukanlah film yang ingin mengisahkan lokasi tersebut sebagai sebuah tempat wisata. Siam Square justru tampil sebagai sebuah film horor yang ingin berkisah tentang misteri kelam nan terselubung dari lokasi yang juga dikenal sebagai wilayah tempat bergaul dan berkumpulnya para remaja Bangkok itu. Well… atau begitulah harapan yang sebenarnya ingin dicapai Khumwan bagi film ini. Continue reading Review: Siam Square (2017)

Review: Membabi-buta (2017)

Prisia Nasution menghabiskan paruh awal 2017 untuk tampil dalam film-film dari genre horor. Setelah film produksi Malaysia, Interchange (Dain Iskandar Said, 2016), yang dirilis terbatas di layar bioskop Indonesia awal tahun ini dan kemudian disusul dengan The Curse (Muhammad Yusuf, 2017), hattrick Nasution dalam membintangi film horor di tahun ini hadir lewat Membabi-buta. Merupakan film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi Joel Fadly, naskah cerita Membabi-buta yang digarap oleh Anggi Septianto (Algojo: Perang Santet, 2016) sendiri tidak memiliki cukup konflik untuk mengisi banyak ruang penceritaan film ini. Beruntung, Fadly menyimpan beberapa amunisi dari teknik pengarahannya yang mampu membuat Membabi-buta setidaknya tidak pernah terasa membosankan terlepas dari berbagai kelemahan presentasi ceritanya. Continue reading Review: Membabi-buta (2017)

Review: The Curse (2017)

Dengan naskah yang ditulis dan diarahkan oleh Muhammad Yusuf, The Curse berkisah mengenai Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara asal Indonesia yang sedang bekerja di sebuah firma hukum ternama di Australia. Kehidupan Shelina saat ini sedang dirundung banyak masalah: ia harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang cukup rumit, menghadapi urusan perceraiannya dengan sang suami dan, di tengah-tengah permasalahan tersebut, Shelina mulai merasakan adanya gangguan supranatural yang mulai mengusik kesehariannya. Walau awalnya berusaha tidak mengindahkan gangguan tersebut, Shelina lantas memutuskan untuk memanggil seorang paranormal untuk membantu permasalahannya. Melalui sang paranormal, Shelina mengetahui bahwa dirinya sedang diikuti oleh sesosok roh halus yang berkaitan dengan permasalahan yang pernah dihadapinya di masa lalu. Dan untuk menghilangkan gangguan supranatural, Shelina kini diharuskan untuk kembali menghadapi sekaligus menyelesaikan permasalahan tersebut. Continue reading Review: The Curse (2017)

Review: The Circle (2017)

Dari permukaan, The Circle terlihat sebagai sebuah thriller cerdas bernuansa satir tentang kondisi masyarakat dunia pada era maraknya media sosial di internet. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dave Eggers, dengan pengarahan dari James Ponsoldt yang meraih banyak pujian dari kritikus film dunia lewat film-filmnya seperti Smashed (2012), The Spectacular Now (2013), dan The End of the Tour (2015), serta dibintangi nama-nama seperti Tom Hanks, Emma Watson, dan (menjadi film terakhir yang dibintangi oleh) Bill Paxton, The Circle memiliki seluruh formula yang dapat menjadikannya sebagai sajian yang tidak hanya cerdas namun dapat memikat perhatian setiap penontonnya. Sayangnya, deretan formula tersebut berakhir hambar dalam eksekusi Ponsoldt dan membuat The Circle berakhir sebagai sebuah film yang begitu membosankan. Continue reading Review: The Circle (2017)

Review: Surau dan Silek (2017)

Merupakan debut pengarahan dari Arief Malinmudo – yang juga bertugas sebagai penulis naskah cerita bagi film ini, Surau dan Silek berkisah tentang tiga anak laki-laki, Adil (Muhammad Razi), Kurip (Bintang Khairafi), dan Dayat (Bima Jousant), yang baru saja ditinggal pelatih silat mereka, Rustam (Gilang Dirga), beberapa bulan sebelum ketiganya mengikuti sebuah kejuaraan. Tidak menyerah begitu saja, ketiganya lantas memulai usaha mereka untuk mencari seorang guru silat yang baru. Beruntung, melalui perantaraan teman sekelas mereka, Rani (Randu Arini), ketiganya dikenalkan kepada Johar (Yusril Katil), seorang penulis sekaligus dosen yang dahulunya juga merupakan seorang juara silat. Walau awalnya Johar merasa enggan untuk melatih ketiga anak tersebut karena motivasi mereka dalam mempelajari silat hanya untuk memenangkan sebuah kompetisi, Johar secara perlahan berhasil memberikan didikan arti silat sebenarnya sekaligus melatih Adil, Kurip, dan Dayat untuk mampu bersaing dalam pertandingan yang akan mereka ikuti. Continue reading Review: Surau dan Silek (2017)

Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Ketika dunia pertama kali berkenalan dengan Peter Quill (Chris Pratt) pada Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014), pria yang juga menjuluki dirinya sebagai Star-Lord tersebut masih dikenal sebagai bagian dari sekelompok pencuri dan penyelundup barang-barang antik antar galaksi yang dikenal dengan sebutan The Ravagers pimpinan Yondu Udonta (Michael Rooker). Diiringi dengan lagu-lagu bernuansa rock klasik dari era ‘70an, Peter Quill bersama dengan rekan-rekan yang juga memiliki reputasi sama buruk dengan dirinya, Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel), kemudian mendadak dikenal sebagai sosok pahlawan ketika mereka berhasil menyelamatkan seluruh isi galaksi dari serangan Ronan the Accuser (Lee Pace). Daya tarik komikal dari Guardians of the Galaxy yang mampu berpadu dengan pengarahan Gun yang begitu dinamis – dan citarasa musiknya yang eklektis – berhasil mengenalkan karakter-karakter Guardians of the Galaxy yang awalnya kurang begitu populer menjadi dikenal khalayak penikmat film dalam skala yang lebih luas, melambungkan nama Pratt ke jajaran aktor papan atas Hollywood, membuat semua orang jatuh cinta dengan lagu-lagu rock klasik lewat album Guardians of the Galaxy: Awesome Mix Vol. 1 yang berhasil terjual sebanyak lebih dari dua juta keping, dan, dengan pendapatan sebesar US$773.3 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia, menjadikan Guardians of the Galaxy sebagai awal dari sebuah seri film baru yang cukup penting dalam barisan panjang film-film produksi Marvel Studios. Continue reading Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Review: Stip & Pensil (2017)

Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi. Continue reading Review: Stip & Pensil (2017)

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: Fast and Furious 8 (2017)

Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis. Continue reading Review: Fast and Furious 8 (2017)