Category Archives: Movies

Review: Charlie’s Angels (2019)

Meskipun Charlie’s Angels: Full Throttle (McG, 2003) gagal mengikuti kesuksesan – baik dari segi kualitas maupun dari raihan komersial – film pendahulunya, Charlie’s Angels (2000), Columbia Pictures sebenarnya telah lama memiliki rencana untuk memproduksi bagian ketiga dan keempat dari seri film tersebut dengan mempertahankan Cameron Diaz, Drew Barrymore, dan Lucy Liu sebagai para pemeran utamanya. Namun, seiring dengan perjalanan waktu – dan dengan semakin berkurangnya minat produser, pemeran, maupun penonton terhadap kelanjutan seri Charlie’s Angels, Columbia Pictures secara bijaksana akhirnya memilih untuk membatalkan wacana tersebut. Hollywood, tentu saja, tidak akan berpangku tangan terlalu lama ketika melihat potensi emas yang dimiliki Charlie’s Angels khususnya ketika gerakan feminisme mulai kembali menghangat dan mendominasi pembicaraan di kalangan penggerak salah satu industri film terbesar di dunia tersebut. Lebih dari satu dekade semenjak perilisan Charlie’s Angels: Full Throttle, Columbia Pictures mempersiapkan Charlie’s Angels yang naskah ceritanya ditulis sekaligus diarahkan oleh Elizabeth Banks (Pitch Perfect 2, 2015) serta dengan nama-nama seperti Kristen Stewart, Naomi Scott, dan Ella Balinska bertugas untuk memerankan tiga agen rahasianya. Continue reading Review: Charlie’s Angels (2019)

Review: Midway (2019)

Masih ingat dengan peristiwa pengeboman Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor milik Amerika Serikat oleh Angkatan Laut Jepang di tahun 1941 yang lantas memicu keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam Perang Dunia II? Atau… well… masih ingat dengan konflik yang dikisahkan oleh film Pearl Harbor (2001) arahan Michael Bay yang dibintangi Ben Affleck, Kate Beckinsale, dan Josh Hartnett yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$450 juta terlepas dari kritikan tajam yang dialamatkan oleh banyak kritikus film dunia? Midway menghadirkan kisah bersejarah tentang keberhasilan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meredam serangan Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Midway yang terjadi enam bulan setelah terjadinya serangan terhadap Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor. Pertempuran Midway mungkin tidak sepopular Pengeboman Pearl Harbor bagi kebanyakan masyarakat dunia namun, tetap saja, kisah kepahlawanan pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam melawan serangan pasukan Jepang masih layak untuk diceritakan. Continue reading Review: Midway (2019)

Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)

Dalam film terbaru arahan Kimo Stamboel, Ratu Ilmu Hitam, seorang pria bernama Hanif (Ario Bayu) mengajak istri, Nadya (Hannah Al Rashid), serta ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Adhisty Zara), dan Haqi (Muzakki Ramdhan), berkunjung ke panti asuhan tempat dirinya dahulu dibesarkan untuk menjenguk pengasuh panti tersebut, Bandi (Yayu Unru), yang kini sedang berada dalam kondisi kritis akibat sakit yang ia derita. Hanif dan keluarganya tidak datang sendirian. Dua sahabat Hanif, Jefri (Miller Khan) dan Anton (Tanta Ginting), juga turut datang sembari membawa pasangan mereka masing-masing, Lina (Salvita Decorte) dan Eva (Imelda Therinne). Pertemuan Hanif dengan dua sahabatnya tersebut tentu saja membawa begitu banyak kenangan akan kehidupan mereka di masa lalu. Sial, kunjungan tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi sebuah teror mematikan ketika kepingan-kepingan misteri dari masa lalu Hanif, Jefri, dan Anton hadir kembali untuk menghantui mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. Continue reading Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)

Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Seperti yang dapat diduga, dua film Indonesia terbaik yang dirilis di sepanjang tahun ini, Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) dan Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho, 2018), berhasil mengumpulkan raihan nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2019. Kedua film tersebut sama-sama mampu meraih 12 nominasi, termasuk di kategori Film Cerita Panjang Terbaik serta Noer dan Nugroho akan bersaing untuk memperebutkan gelar Sutradara Terbaik. Selain Dua Garis Biru dan Kucumbu Tubuh Indahku, film Bumi Manusia (2019) yang diarahkan Hanung Bramantyo juga, secara mengejutkan, mampu mengumpulkan jumlah nominasi yang setara. Nama Bramantyo bahkan menggeser beberapa nama sutradara lain yang sebelumnya difavoritkan untuk mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik untuk bersanding bersama Noer, Nugroho, Ravi L. Bharwani (27 Steps of May, 2019) dan Riri Riza (Bebas, 2019) di kategori tersebut. 27 Steps of May dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019) turut melengkapi daftar peraih nominasi Film Cerita Panjang Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Dirilis pada tahun 1980, The Shining yang diarahkan oleh Stanley Kubrick merupakan adaptasi dari sebuah novel popular berjudul sama yang ditulis oleh Stephen King dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1977. Walau mendapatkan reaksi yang tidak terlalu hangat pada masa awal perilisannya – termasuk kritikan tajam dari King yang menilai Kubrick telah merusak nilai-nilai penceritaan dari novel yang telah digarapnya, The Shining secara perlahan mulai meraih banyak dukungan dan penggemar hingga akhirnya mampu menjadi salah satu ikon horor paling popular bagi para penikmat film di seluruh dunia. Lebih dari tiga dekade semenjak perilisan novel The Shining, tepatnya di tahun 2013, King merilis Doctor Sleep yang melanjutkan alur cerita bagi karakter-karakter yang ada di dalam garis penceritaan The Shining. Perilisan novel Doctor Sleep jelas turut mendorong Hollywood untuk memproduksi sekuel bagi versi film dari The Shining. Dengan bantuan Mike Flanagan (Ouija: Origin of Evil, 2016) yang bertugas sebagai sutradara sekaligus penulis naskah film, Doctor Sleep jelas harus berusaha keras untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan oleh Kubrick melalui adaptasinya akan novel The Shining. Continue reading Review: Stephen King’s Doctor Sleep (2019)

Review: Love for Sale 2 (2019)

Masih ingat dengan sosok Arini (Della Dartyan) yang mampu meluluhlantakkan hati (dan kehidupan) seorang pria penyendiri bernama Richard (Gading Marten) dalam pengisahan Love for Sale (Andibachtiar Yusuf, 2018)? Well… kisah perjalanan sang “gadis penjaja cinta” yang bekerja di sebuah perusahaan aplikasi kencan daring bernama Love Inc. tersebut berlanjut lewat Love for Sale 2. Kali ini, Arini ditugaskan untuk “mendampingi” Ican (Adipati Dolken), seorang pria berusia 32 tahun yang mulai kewalahan untuk menghadapi permintaan sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar dirinya segera menikah. Oleh Ican, Arini diperkenalkan kepada sang ibu sebagai mantan kekasih di saat menjalani masa kuliah dahulu yang kini sedang bertugas di Jakarta. Rosmaida jelas merasa senang melihat kedekatan putera keduanya tersebut dengan seorang perempuan yang dirasakannya sangat memenuhi kriteria sebagai seorang menantu idaman: taat beribadah, pintar memasak, dan masih kental pemahamannya akan adat istiadat. Seperti halnya karakter Richard dalam Love for Sale, Ican mulai melihat perubahan yang dibawa Arini dalam kehidupannya dan merasakan hal yang berbeda ketika dirinya sedang menatap atau sedang bersama gadis tersebut. Ya, seperti ibunya, Ican sudah jatuh cinta dengan sosok Arini. Continue reading Review: Love for Sale 2 (2019)

Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Merupakan film keenam dalam seri Terminatorwell… ketiga jika Anda menuruti titah kreator seri film ini, James Cameron, yang menganggap keberadaan tiga film terakhir dalam seri ini; Terminator 3: Rise of the Machines (Jonathan Mostow, 2003), Terminator Salvation (McG, 2009), Terminator Genisys (Alan Taylor, 2015), sebagai “sekuel tidak resmi” – Terminator: Dark Fate menjadi ajang reuni bagi aktor Arnold Schwarzenegger dan aktris Linda Hamilton yang untuk pertama kalinya kembali tampil bersama setelah membintangi Terminator 2: Judgment Day (Cameron, 1991). Diarahkan oleh Tim Miller (Deadpool, 2016) berdasarkan naskah cerita yang digarap David S. Goyer (Batman v. Superman: Dawn of Justice, 2016), Justin Rhodes, dan Billy Ray (Gemini Man, 2019), Terminator: Dark Fate menghadirkan elemen pengisahan yang akan mengingatkan banyak penontonnya pada alur cerita The Terminator (Cameron, 1984) dan Terminator 2: Judgment Day. Komposisi cerita tersebut jelas akan membantu banyak penonton dari generasi baru untuk memahami seluk beluk pengisahan dari seri film yang kini telah berusia lebih dari 35 tahun ini. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah merasa familiar dengan tema cerita seri film ini tentu akan merasa bahwa Terminator: Dark Fate tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Continue reading Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Review: Susi Susanti – Love All (2019)

Meskipun merupakan sebuah biopik, Susi Susanti – Love All bukanlah sekedar sebuah film yang bercerita tentang lika-liku perjalanan kehidupan sesosok figur publik yang menjadi karakter utama ceritanya. Di saat yang bersamaan, meskipun film ini bertutur tentang karakter utama yang merupakan seorang atlet yang sedang berjuang untuk membuktikan kemampuan diri dalam bidang olahraga yang dijalaninya, Susi Susanti – Love All tidak lantas berkutat dalam ritme berkisah film-film olahraga yang siap membawa para penonton untuk dapat merasakan sensasi menyaksikan langsung sang karakter utama dalam setiap pertandingannya. Dalam film yang sekaligus menjadi film panjang pertama yang ia arahkan, Sim F (Sanubari Jakarta, 2012) meramu Susi Susanti – Love All menjadi sajian yang tidak hanya berkisah tentang seorang tokoh olahraga dan berbagai catatan kisah pertarungannya namun juga presentasi tentang kisah kelam satu bangsa di masa lampau yang bekas lukanya masih cukup terasa hingga saat ini. Continue reading Review: Susi Susanti – Love All (2019)

Review: Zombieland: Double Tap (2019)

Masih ingat dengan Zombieland (2009)? Ketika dirilis sepuluh tahun lalu, film yang menjadi debut pengarahan bagi Ruben Fleischer (Venom, 2018) tersebut berhasil menarik perhatian para kritikus film dunia berkat penyegaran yang dilakukan presentasi ceritanya pada film-film dengan tema mayat hidup yang kala itu lumayan popular diproduksi di Hollywood. Kesuksesan komersial Zombieland juga memberikan andil tersendiri dalam mendorong nama para pemerannya ke jajaran aktor maupun aktris papan atas Hollywood – khususnya Jesse Eisenberg dan Emma Stone. Setelah selama beberapa tahun berada dalam tahap pengembangan, proses produksi sekuel Zombieland mulai menemui titik terang pada pertengahan tahun 2018 dengan Woody Harrelson, Eisenberg, Abigail Breslin, Stone beserta Fleischer kembali menempati posisi mereka sebagai jajaran pemeran dan sutradara film. Zombieland memang menarik ketika dirilis sepuluh tahun yang lalu namun apakah sekuelnya yang berjudul Zombieland: Double Tap akan mampu mengikuti kesuksesan film pertamanya? Continue reading Review: Zombieland: Double Tap (2019)

Review: Hustlers (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Lorene Scafaria (The Meddler, 2015), berdasarkan sebuah artikel berjudul The Hustlers at Scores yang ditulis oleh Jessica Pressler dan diterbitkan oleh majalah New York pada tahun 2015, Hustlers berkisah mengenai seorang wanita bernama Destiny (Constance Wu) yang baru memulai karirnya sebagai penari erotis. Bukan sebuah pekerjaan yang mudah namun, untungnya, Destiny berhasil mendapatkan perhatian seorang penari erotis senior bernama Ramona Vega (Jennifer Lopez) yang lantas bersedia untuk mengajarkannya berbagai cara dan langkah untuk mempermudah pekerjaannya. Terdengar seperti plot cerita Magic Mike (Steven Soderbergh, 2012)? Tunggu dulu. Ramona Vega tidak hanya sekedar mengajarkan Destiny cara menari guna memenangkan hati para pelanggannya. Ramona Vega juga memberikan bimbingan pada Destiny untuk mendapatkan lebih banyak uang dengan menggunakan daya tarik obat-obatan terlarang kepada para pimpinan perusahaan hingga pedagang saham yang kerapkali mengunjungi klub malam tempat keduanya bekerja. Continue reading Review: Hustlers (2019)

Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Setelah mengarahkan Gundala (2019) – yang direncanakan menjadi awal bagi keberadaan sebuah jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super bertajuk Bumilangit Cinematic Universe, Joko Anwar kembali ke ranah horor lewat Perempuan Tanah Jahanam. Meskipun dirilis setelah Gundala dan Pengabdi Setan (2017) – yang hingga saat ini masih tercatat sebagai film horor Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa, benih pengisahan Perempuan Tanah Jahanam sendiri telah dikembangkan Anwar semenjak sepuluh tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, naskah cerita dari film yang juga direncanakan rilis internasional dengan judul Impetigore itu kemudian mendapatkan polesan yang lebih mendalam pada penataan konflik dan karakternya. Para penikmat film-film Anwar jelas dapat merasakan kehadiran berbagai elemen pengisahan horor yang pernah disentuh sang sutradara dalam film-film yang ia arahkan sebelumnya. Menyenangkan, meskipun presentasi tersebut seringkali tampil lemah akibat balutan cerita yang cenderung kurang matang pengolahannya. Continue reading Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Ketika dirilis lima tahun lalu, Walt Disney Pictures jelas meniatkan agar Maleficent (Robert Stromberg, 2014) dapat memberikan penyegaran pada kisah klasik Sleeping Beauty (Clyde Geronimi, Eric Larson, Wolfgang Reitherman, Les Clark, 1959) – dan, tentu saja, membuka kesempatan bagi rumah produksi tersebut untuk memiliki sebuah seri film komersial yang baru. Alih-alih memberikan fokus penuh pada sosok karakter Aurora, Maleficent justru memilih untuk menghadirkan sebuah sudut pandang baru bagi karakter Maleficent yang awalnya dikenal sebagai sosok antagonis namun kemudian dibentuk dengan karakterisasi baru yang menjelaskan imej buruk yang selama ini melekat pada dirinya. Hasilnya tidak mengecewakan. Meskipun kehadiran Maleficent tidak mendapatkan sambutan yang hangat dari kalangan kritikus film dunia, film yang dibintangi Angelina Jolie tersebut sukses mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$750 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Lima tahun mungkin terasa sebagai jeda waktu yang cukup lama untuk merilis sebuah sekuel namun Walt Disney Pictures jelas tidak akan melepaskan kesempatan begitu saja untuk mendapatkan keuntungan komersial lebih besar dari seri film yang juga menghadirkan penampilan akting dari Elle Fanning ini. Continue reading Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Review: The Sky is Pink (2019)

The Sky is Pink adalah film terbaru arahan sutradara Shonali Bose (Margarita with a Straw, 2015). Dengan naskah cerita yang ditulis Bose bersama dengan Nilesh Maniyar – yang juga membantu Bose dalam menuliskan naskah cerita Margarita with a Straw, The Sky is Pink berkisah tentang perjalanan kehidupan romansa pasangan Niren Chaudary (Farhan Akhtar) dan Aditi Chaudary (Priyanka Chopra Jonas) yang dituturkan dari sudut pandang puteri mereka, Aisha Chaudary (Zaira Wasim). Kehadiran Aisha Chaudary dalam kehidupan pernikahan Niren dan Aditi Chaudary sebenarnya cukup mengejutkan dan sempat tidak diharapkan karena catatan sejarah kesehatan kedua pasangan tersebut di masa lampau. Namun, dengan berbagai resiko kesehatan yang dapat saja diderita oleh sang anak, Niren dan Aditi Chaudary memilih untuk mempertahankan keberadaan sang anak dan berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi kebahagiannya. Benar saja. Beberapa tahun semenjak kelahirannya, anak yang kemudian dinamai Aisha Chaudary tersebut didiagnosa lahir tanpa adanya sistem ketahanan tubuh yang normal. Niren dan Aditi Chaudary tidak menyerah dan melakukan segala hal untuk menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Continue reading Review: The Sky is Pink (2019)