Review: Si Doel the Movie (2018)


Anak Betawiketinggalan zamankatenye…”

Dengan mengambil inspirasi dari film Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaja, 1972) – yang sendirinya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Aman Datuk Majoindo – Si Doel Anak Sekolahan merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Tayang perdana pada tahun 1994 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang berkisah mengenai sebuah keluarga Betawi yang terus mempertahankan nilai-nilai tradisional kehidupan meskipun di tengah gempuran arus modernisasi akibat perkembangan zaman tersebut mampu terus mengudara selama lebih dari sepuluh tahun dan memberikan banyak pengaruh pada budaya pop Indonesia serta deretan serial televisi lain yang muncul setelahnya.

Lebih dari sepuluh tahun semenjak episode terakhirnya mengudara, Rano Karno menghidupkan kembali karakter Kasdoellah atau Doel yang pernah ia perankan dalam versi film maupun serial televisi lewat Si Doel the Movie. Juga kembali berperan sebagai Doel sekaligus bertanggungjawab sebagai sutradara dan penulis naskah – juga menyanyikan versi terbaru dari lagu tema Si Doel Anak Sekolahan (!) – Si Doel the Movie hadir dengan melanjutkan kembali pengisahan yang dahulu sempat diakhiri pada serial televisinya dengan kembali menghadirkan barisan pemeran yang sama, seperti Mandra, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Suty Karno, hingga Aminah Cendrakasih. Hadir lebih dari sepuluh tahun semenjak serial televisinya berakhir dengan barisan generasi baru sebagai penikmat industri hiburan yang juga jelas telah banyak berubah, mampukah Si Doel the Movie tampil lebih dari sekedar mengandalkan elemen nostalgianya dan berdiri sejajar dengan kualitas pengisahan barisan film Indonesia saat ini?

Jalan cerita Si Doel the Movie dimulai ketika Doel (Karno) menerima tawaran pekerjaan dari teman lamanya, Hans (Adam Jagwani), yang mengharuskannya untuk berangkat ke Amsterdam, Belanda. Ditemani oleh pamannya, Mandra (Mandra), Doel akhirnya berangkat setelah menitipkan ibunya (Cendrakasih) kepada Zaenab (Koesnaedi). Dengan jangka waktu seminggu masa keberadaannya di Amsterdam, Doel dan Mandra tidak hanya dapat menyelesaikan pekerjaan mereka namun, ditemani oleh Hans, juga mendapatkan kesempatan untuk berwisata di kota tersebut. Tidak disangka, ketika Doel sedang berkeliling di dalam sebuah museum, ia bertemu dengan Sarah (Agatha), wanita yang dulu pernah begitu ia cintai namun tiba-tiba pergi dan menghilang begitu saja dari kehidupannya. Pertemuan tersebut jelas membangkitkan berbagai kenangan kisah cinta mereka. Dan Sarah ternyata memiliki sebuah rahasia yang ingin ia ungkapkan pada Doel.

 

Harus diakui, di tengah gempuran kisah romansa yang lebih modern dan seringkali menonjolkan bentuk pengisahan yang puitis, adalah sangat menyenangkan untuk melihat Karno tetap mempertahankan ciri khas pengisahan Si Doel Anak Sekolahan yang begitu membumi – baik dari gambaran setiap karakter maupun pengisahan konflik yang dialami oleh karakter-karakter tersebut. Humanis. Jalinan kisah Si Doel the Movie sendiri memang tampil begitu sederhana, melanjutkan pengisahan yang dahulu berakhir pada serial televisinya – walau tidak akan membuat para penonton yang belum pernah menyaksikan Si Doel Anak Sekolahan merasa kebingungan, namun mampu diolah dengan baik sehingga berhasil memberikan banyak momen emosional nan hangat bagi para penonton. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada elemen komedi film – yang sukses dieksekusi oleh Mandra yang tampil sebagai bintang dan pencuri perhatian dalam film ini. Guyonan yang disajikan masih kental dengan nuansa Betawi dan jauh dari kesan berlebihan.

Sayangnya, tidak semua elemen nostalgia yang kembali dibawa Karno dari pengisahan serial televisi Si Doel Anak Sekolahan mampu bekerja dengan efektif pada pengisahan Si Doel the Movie. Yang paling menonjol, tentu saja, karakterisasi Doel yang tampil datar di hampir semua adegannya. Penampilan yang hadir dengan jangkauan emosi yang terbatas dan dialog yang minimalis tersebut akhirnya justru menenggelamkan karakter Doel sendiri – khususnya ketika mendampingi karakter Mandra yang banyak hadir komikal maupun ketika berada di samping karakter Sarah yang sebenarnya memiliki plot cerita lebih dramatis.

Naskah cerita garapan Karno juga hadir dengan struktur pengisahan yang (terlalu) sederhana. Sebelum akhirnya konflik kisah cinta segitiga antara Doel, Zaenab, dan Sarah memuncak di paruh akhir film, jalan cerita Si Doel the Movie lebih sering terasa bergerak di tempat. Dan, layaknya sebuah “penyakit” yang diderita oleh film-film produksi Falcon Pictures lainnya seperti Comic 8: Casino Kings – Part 1 (Anggy Umbara, 2015) dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Umbara, 2016), pengisahan Si Doel the Movie ternyata merupakan bagian awal dari sebuah kisah yang belum selesai penceritaannya. Sialnya, Si Doel the Movie lantas diakhiri begitu saja ketika konflik film sedang berjalan yang jelas sedikit mengurangi tingkat kepuasan dalam menikmati jalan cerita film ini – khususnya bagi kebanyakan penonton yang “ditipu” karena ketiadaan embel-embel “Part 1” pada judul film ini. Not good, Falcon Pictures! Not good.

Meskipun begitu, sulit untuk menyangkal bahwa presentasi Si Doel the Movie tetap begitu menyenangkan untuk disaksikan – bahkan bagi mereka yang sebelumnya kurang familiar dengan Si Doel Anak Sekolahan. Para pengisi departemen akting tampil begitu dinamis. Selain Mandra dan Karno, penampilan Agatha dan Koesnaedi jelas akan kembali memicu perdebatan #teamZaenab melawan #teamSarah diantara para penonton. Keduanya tampil dengan daya tarik yang sama-sama hangat dan akan mudah mencuri hati setiap penonton. Penampilan terbatas Cendrakasih juga layak diberikan pujian khusus. Singkat namun mampu hadir dengan kesan yang kuat. Secara keseluruhan, meskipun terasa masih terlalu berpaku pada elemen nostalgia cerita, Si Doel the Movie adalah sajian yang berhasil tergarap dengan cukup baik, menyenangkan, dan, terlepas dari pilihan yang kurang adil dalam mengakhiri kisah film ini, masih mampu memicu rasa penasaran untuk mengikuti kelanjutan kisahnya. [B-]

si-doel-the-movie-movie-posterSi Doel the Movie (2018)

Directed by Rano Karno Produced by Frederica Written by Rano Karno Starring Rano Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Mandra, Suty Karno, Aminah Cendrakasih, Adam Jagwani, Salman Alfarizi, Rey Bong, Ahmad Zulhoir Mardia Music by Purwacaraka Cinematography Iqra Sembiring Editing by Sentot Sahid, Reynaldi Christanto, Hengky Christ Studio Karnos Film/Falcon Pictures Running time 85 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s