Tag Archives: Maudy Koesnaedi

Review: Dilan 1991 (2019)

Setelah Dilan 1990 (Fajar Bustomi, Pidi Baiq, 2018), kisah cinta Dilan dan Milea kini berlanjut lewat Dilan 1991. Dengan naskah cerita yang masih ditulis oleh Titien Wattimena berdasarkan novel berjudul Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 yang ditulis oleh Baiq, Dilan 1991 berkisah mengenai hubungan antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang kini telah resmi berpacaran. Kebahagiaan hubungan asmara pasangan muda tersebut, sayangnya, kemudian mendapatkan rintangan ketika Dilan kembali terlibat dalam sebuah perkelahian yang menyebabkan dirinya ditahan oleh pihak kepolisian dan terancam untuk dikeluarkan dari sekolahnya. Milea jelas merasa kesal dengan perilaku Dilan dan mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka jika Dilan tidak berhenti terlibat dalam berbagai perseteruan bersama dengan geng motornya. Tanpa disangka, karena tidak suka merasa dikekang oleh siapapun, Dilan malah memilih untuk meninggalkan hubungan asmaranya dan kemudian mulai menjauhi Milea. Continue reading Review: Dilan 1991 (2019)

Review: Keluarga Cemara (2019)

Harta yang paling berharga adalah keluarga…”

Seperti halnya Si Doel Anak SekolahanKeluarga Cemara merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Hadir pertama kali pada tahun 1996 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang diadaptasi dari seri novel berjudul sama karangan Arswendo Atmowiloto tersebut berhasil merebut hati banyak penontonnya dengan kisah mengenai kehidupan keseharian sebuah keluarga yang meskipun sederhana namun dipenuhi warna serta dinamika yang begitu terasa erat dengan kehidupan banyak lapisan sosial masyarakat Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun semenjak episode terakhirnya mengudara, dan mengikuti jejak adaptasi layar lebar Si Doel Anak Sekolahan yang dirilis pertengahan tahun lalu, produser Anggia Kharisma (Buka’an 8, 2017) dan Gina S. Noer kembali menghadirkan Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam versi film Keluarga Cemara dengan arahan dari sutradara Yandy Laurens. Continue reading Review: Keluarga Cemara (2019)

Review: Si Doel the Movie (2018)

Anak Betawiketinggalan zamankatenye…”

Dengan mengambil inspirasi dari film Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaja, 1972) – yang sendirinya diadaptasi dari novel berjudul sama karya Aman Datuk Majoindo – Si Doel Anak Sekolahan merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Tayang perdana pada tahun 1994 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang berkisah mengenai sebuah keluarga Betawi yang terus mempertahankan nilai-nilai tradisional kehidupan meskipun di tengah gempuran arus modernisasi akibat perkembangan zaman tersebut mampu terus mengudara selama lebih dari sepuluh tahun dan memberikan banyak pengaruh pada budaya pop Indonesia serta deretan serial televisi lain yang muncul setelahnya. Continue reading Review: Si Doel the Movie (2018)

Review: Satu Hari Nanti (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Salman Aristo (Cinta dalam Kardus, 2013), Satu Hari Nanti berkisah mengenai dua pasang kekasih yang juga saling bersahabat, Bima (Deva Mahenra) dan Alya (Adinia Wirasti) serta Din (Ringgo Agus Rahman) dan Chorina (Ayushita Nugraha), yang sedang bekerja sekaligus mengejar mimpi mereka di negara Swiss. Hubungan kedua pasangan tersebut bukannya berjalan tanpa tantangan: karir bermusik Bima yang berjalan di tempat terasa menghalangi mimpi Alya untuk menjadi seorang chocolatier yang handal sementara Din tidak pernah berhenti untuk berselingkuh dengan wanita lain di belakang Chorina. Setelah terjadi sebuah pertengkaran besar antara Bima dan Alya, keduanya lantas menyadari bahwa mereka telah jatuh hati dengan sosok lain – sahabat mereka sendiri. Jalinan kisah cinta baru tersebut secara perlahan mulai mengubah hidup Bima, Alya, Din, dan Chorina sekaligus mimpi dan cara pandang mereka mengenai masa depan. Continue reading Review: Satu Hari Nanti (2017)

Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Masih ingat dengan Surat Kecil untuk Tuhan (Harris Nizam, 2011)? Well… walau memiliki kesamaan judul, versi terbaru dari Surat Kecil untuk Tuhan yang diarahkan oleh Fajar Bustomi (Romeo + Rinjani, 2015) ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan maupun kesamaan garis penceritaan dengan film yang berhasil meraih tiga nominasi di ajang Festival Film Indonesia di tahun 2011 tersebut. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Upi – yang juga menjadi penulis naskah cerita bagi film Sweet 20 (Ody C. Harahap) yang dirilis di waktu yang sama dengan film ini, Surat Kecil untuk Tuhan menawarkan deretan konflik maupun karakter yang berbeda bagi para penontonnya. Tidak lagi menghadirkan alur kisah tentang seorang gadis remaja yang sedang berjuang untuk melawan penyakit yang ia derita, Surat Kecil untuk Tuhan kini bercerita tentang perjuangan seorang adik yang berusaha untuk menemukan sang kakak setelah guratan nasib secara tragis memisahkan mereka berdua. Sebuah perubahan yang cukup radikal dan cukup menyegarkan meskipun pengarahan Bustomi sayangnya tidak selalu berhasil membuat film ini mampu untuk menyentuh hati para penontonnya. Continue reading Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Review: Soekarno (2013)

soekarno-header

Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.

Continue reading Review: Soekarno (2013)

Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.

Continue reading Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Review: Love Story (2011)

Mungkin akan ada banyak prasangka buruk ketika mendengar sutradara Hanny R. Saputra kembali mengarahkan sebuah film dengan naskah yang ditulis oleh Armantono serta menempatkan Acha Septriasa dan Irwansyah sebagai pasangan di film tersebut. Jelas, tidak akan ada yang mampu melupakan Heart (2006), film yang merupakan kolaborasi pertama mereka dan sukses luar biasa secara komersial ketika dirilis namun mendapatkan banyak backlash dari beberapa pihak yang menganggap jalan cerita film tersebut terlalu ‘cengeng’ untuk dapat dinikmati. Kesuksesan formula Heart kemudian digunakan kembali pada film Love Is Cinta (2007), yang masih mampu meraih jumlah penonton yang lumayan namun kali ini lebih banyak menerima kritikan atas jalan ceritanya yang tidak hanya lebih ‘melodramatis’ serta kadang terkesan kurang masuk akal.

Continue reading Review: Love Story (2011)