Tag Archives: Film Indonesia

Review: Ambu (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Farid Dermawan, Ambu berkisah mengenai hubungan antara ibu dan anak yang terjalin antara tiga karakter dari tiga generasi yang berbeda. Dengan latar belakang kehidupan Orang Baduy di Provinsi Banten yang terbiasa mengisolasi diri mereka dari dunia luar, jalan cerita Ambu dimulai ketika hubungan antara Fatma (Laudya Chynthia Bella) dan ibunya, Misnah (Widyawati), merenggang akibat ketidaksetujuan sang ibu akan jalinan asmara yang dibangun Fatma dengan seorang pemuda bernama Nico (Baim Wong) yang berasal dari Jakarta. Fatma lantas memilih untuk meninggalkan sang ibu, menikah dengan Nico dan memulai hidup barunya di Jakarta. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak ia meninggalkan sang ibu dan setelah rumah tangganya dengan Nico berakhir, Fatma memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan membawa puteri tunggalnya yang telah beranjak remaja, Nona (Luthesha). Tidak mengejutkan, kedatangan Fatma dan Nona disambut dingin oleh Misnah. Fatma tidak menyerah begitu saja. Ia ingin Nona untuk tidak mengulangi kesalahannya dan berharap agar ibunya mau menerima kehadiran sang cucu dalam kehidupannya. Continue reading Review: Ambu (2019)

Review: Sekte (2019)

Setelah mengarahkan beberapa film pendek – termasuk mengarahkan salah satu segmen dalam film omnibus 3Sum (2013), William Chandra melakukan debut pengarahan film panjangnya melalui Sekte. Filmnya sendiri berkisah mengenai seorang gadis (Asmara Abigail) yang kehilangan ingatannya ketika terbangun setelah tidak sadarkan diri akibat kecelakaan yang ia alami. Beruntung, selama masa tidak sadarkan diri tersebut, sang gadis diselamatkan oleh Dewi (Gesata Stella) dan beberapa temannya yang hidup di satu rumah yang menurut Dewi menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang merasa terasingkan oleh dunia. Awalnya, sang gadis merasa aman dan nyaman dengan sikap bersahabat yang ditunjukkan Dewi bersama dengan teman-temannya selama ia dirawat. Namun, secara perlahan, sang gadis mulai merasakan berbagai hal aneh yang terjadi di lingkungan rumah tersebut. Dan ketika sang gadis mulai menyadari bahwa Dewi dan teman-temannya memiliki rahasia kelam yang dapat membahayakan nyawanya, sang gadis mulai mencari cara untuk segera keluar dari rumah tersebut. Continue reading Review: Sekte (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Pocong the Origin (2019)

Selepas kesuksesannya dalam menggarap Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), dan Mendadak Dangdut (2006), sutradara Rudi Soedjarwo lantas menguji kemampuan penyutradaraannya untuk mengarahkan sebuah film horor yang berjudul Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) yang naskah ceritanya ditulis oleh Monty Tiwa. Sayang, film yang awalnya dijadwalkan rilis pada tahun 2006 tersebut batal diputar di layar bioskop Indonesia dikarenakan gagal lulus sensor akibat adanya muatan cerita serta adegan kekerasan yang dinilai terlalu sensitif dan brutal untuk dipresentasikan pada penonton film Indonesia. Walau film seri pertamanya tidak jadi dirilis, sekuel film tersebut, Pocong 2, yang juga masih diarahkan oleh Soedjarwo berdasarkan naskah cerita garapan Tiwa, tetap dirilis di tahun 2006 dan sekuel keduanya, Pocong 3, menyusul rilis setahun kemudian dengan Tiwa mengambil alih posisi sebagai sutradara film. Continue reading Review: Pocong the Origin (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)

Review: Ave Maryam (2019)

Cinta terlarang mungkin adalah tema pengisahan yang telah terasa begitu familiar. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sutradara Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita, 2011) lewat film terbarunya yang berjudul Ave Maryam, jelas masih ada banyak ruang untuk memberikan berbagai sentuhan baru pada tema cerita yang telah familiar tersebut. Berdasarkan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Ave Maryam berkisah mengenai kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang dalam kesehariannya bertugas untuk merawat para suster sepuh. Suatu hari, sembari membawa seorang suster sepuh baru bernama Suster Monic (Tutie Kirana) untuk dirawat, Romo Martin (Joko Anwar) memperkenalkan Suster Maryam pada Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang direncanakan akan mengajarkan kemampuan bermusiknya di gereja. Berbeda dengan Suster Maryam yang cenderung selalu bersikap kaku, Romo Yosef adalah sosok yang lebih bebas dalam setiap tingkah laku dan perkataannya. Sebuah perbedaan yang secara perlahan mulai menarik hati Suster Maryam. Continue reading Review: Ave Maryam (2019)

Review: Mantan Manten (2019)

Diarahkan oleh Farishad Latjuba (Mantan Terindah, 2014), Mantan Manten berkisah mengenai kehidupan glamor seorang manajer investasi sukses, Yasnina (Atiqah Hasiholan), yang harus berakhir ketika dirinya dikhianati oleh pemimpin perusahaannya sendiri, Iskandar (Tio Pakusadewo). Dalam sekejap, harta Yasnina habis tak bersisa. Tidak hanya itu, rencana pernikahannya dengan sang tunangan, Surya (Arifin Putra), juga terancam batal. Sepenggal harapan muncul ketika asisten Yasnina, Ardy (Marthino Lio), mengingatkan dirinya bahwa ia masih memiliki sebuah villa yang terletak di Tawangmangu yang tidak disita karena akte kepemilikannya belum dituliskan atas nama Yasnina. Villa tersebut kini menjadi tumpuan harapan Yasnina untuk dapat bangkit kembali sekaligus mendukung usahanya untuk menyeret Iskandar ke pengadilan. Namun, usaha Yasnina untuk mengambil alih kepemilikan villa tersebut mendapatkan sebuah tantangan ketika pemilik lama villa, Koes Marjanti (Tutie Kirana), memiliki rencana lain kepada Yasnina. Sebuah rencana yang nantinya akan membuka mata sekaligus mengubah masa depan hidup dari Yasnina. Continue reading Review: Mantan Manten (2019)

Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Tiga tahun setelah kesuksesan film perdananya – yang berhasil meraih lebih dari tiga juta penonton selama masa penayangannya – Falcon Pictures merilis sekuel bagi My Stupid Boss, My Stupid Boss 2. Masih diarahkan oleh Upi (My Generation, 2017) berdasarkan naskah cerita yang masih diadaptasi dari seri buku berjudul sama karangan Chaos@work, My Stupid Boss 2 melanjutkan cerita akan pengalaman buruk dari Diana (Bunga Citra Lestari) dan rekan-rekannya, Mr. Kho (Chew Kinwah), Norahsikin (Atikah Suhaime), Adrian (Iedil Putra), dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen), ketika bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang lebih dikenal dengan sebutan Bossman (Reza Rahadian). Kali ini, akibat semakin banyaknya pekerja perusahaan yang mengundurkan diri akibat tidak nyaman dengan banyak peraturan semena-mena dari Bossman, Bossman kemudian mengajak Diana, Mr. Kho, dan Adrian untuk mencari pekerja dengan upah murah di Vietnam. Seperti yang dapat diduga, perilaku tidak menyenangkan dari Bossman kembali menyebabkan mereka terjebak dalam berbagai masalah. Sementara itu, Norahsikin dan Azahari yang ditugaskan untuk tetap bertugas di kantor juga harus menghadapi masalah ketika sekumpulan preman mendatangi kantor untuk menagih hutang yang dimiliki oleh Bossman. Continue reading Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Review: Yowis Ben II (2019)

Terlepas dari barisan dialognya yang didominasi oleh Bahasa Jawa, perilisan Yowis Ben (Fajar Nugros, Bayu Skak, 2018) mampu memberikan kejutan ketika film tersebut berhasil mencuri perhatian banyak penikmat film Indonesia. Secara perlahan, film komedi yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi Skak tersebut menyaingi keberadaan film-film lokal dan internasional lain yang dirilis di saat yang bersamaan, bertahan cukup lama di banyak layar bioskop – khususnya yang berada di Pulau Jawa, untuk kemudian sukses mengumpulkan lebih dari sembilan ratus ribu penonton selama masa tayangnya. Dengan ukiran prestasi tersebut, tidak mengherankan bila Nugros dan Skak kembali bekerjasama dan berusaha untuk mengulang (atau malah memperbesar) kesuksesan mereka dengan merilis sebuah sekuel bagi Yowis Ben. Dan dengan formula cerita dan guyonan yang masih setia dengan film pendahulunya, Yowis Ben 2 dipastikan akan tetap dapat menghibur para barisan penggemarnya – dan bahkan mungkin akan mampu mendapatkan beberapa penggemar baru. Continue reading Review: Yowis Ben II (2019)

Review: Dilan 1991 (2019)

Setelah Dilan 1990 (Fajar Bustomi, Pidi Baiq, 2018), kisah cinta Dilan dan Milea kini berlanjut lewat Dilan 1991. Dengan naskah cerita yang masih ditulis oleh Titien Wattimena berdasarkan novel berjudul Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 yang ditulis oleh Baiq, Dilan 1991 berkisah mengenai hubungan antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang kini telah resmi berpacaran. Kebahagiaan hubungan asmara pasangan muda tersebut, sayangnya, kemudian mendapatkan rintangan ketika Dilan kembali terlibat dalam sebuah perkelahian yang menyebabkan dirinya ditahan oleh pihak kepolisian dan terancam untuk dikeluarkan dari sekolahnya. Milea jelas merasa kesal dengan perilaku Dilan dan mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka jika Dilan tidak berhenti terlibat dalam berbagai perseteruan bersama dengan geng motornya. Tanpa disangka, karena tidak suka merasa dikekang oleh siapapun, Dilan malah memilih untuk meninggalkan hubungan asmaranya dan kemudian mulai menjauhi Milea. Continue reading Review: Dilan 1991 (2019)

Review: Foxtrot Six (2019)

Dengan departemen akting yang diisi oleh nama-nama popular di dunia seni peran tanah air seperti Oka Antara, Julie Estelle, Chicco Jerikho, Rio Dewanto, hingga Arifin Putra, premis cerita yang menjanjikan deretan adegan aksi dengan tingkat mematikan, bujet yang dikabarkan mencapai lebih dari Rp70,5 miliar, hingga keterlibatan Mario Kassar – yang popular berkat keterlibatannya sebagai produser bagi film-film aksi legendaris buatan Hollywood seperti Rambo: First Blood (Ted Kotcheff, 1982), Totall Recall (Paul Verhoeven, 1990), hingga Universal Soldier (Roland Emmerich, 1992), jelas cukup mudah untuk memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap Foxtrot Six. Sebuah film aksi yang berniat untuk menyaingi kedigdayaan dwilogi The Raid (Gareth Evans, 2012 – 2014) sebagai film aksi terbaik Indonesia sepanjang masa? Sure, why not. Sayang, film yang menjadi debut pengarahan bagi Randy Korompis ini terasa terlalu mengandalkan premis aksinya yang bombastis tanpa pernah sekalipun berusaha untuk menghidupkan kualitas barisan konflik dan ceritanya. Akhirnya, alih-alih menjadi sajian aksi yang mengikat dan menarik, Foxtrot Six berakhir menjadi sebuah tayangan yang monoton dan menjemukan. Continue reading Review: Foxtrot Six (2019)

Review: Anak Hoki (2019)

It’s quite hard not to feel sorry for Anak Hoki. Pertama kali diumumkan pada awal tahun lalu sebagai film yang akan mengadaptasi kisah kehidupan masa remaja dari mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, keberadaannya kemudian mulai tersaingi oleh A Man Called Ahok (Putrama Tuta, 2018) yang diangkat dari buku berjudul sama dan juga mengulik seputar kehidupan sang mantan Gubernur. A Man Called Ahok lantas mendapatkan masa rilis terlebih dahulu dan, bagaikan menabur garam di atas luka, berhasil meraih perhatian besar dan jumlah penonton yang signifikan – lebih dari 1.4 juta penonton hingga akhirnya film tersebut turun layar. Jelas sebuah pencapaian yang akan membayangi Anak Hoki pada masa tayangnya. Kini, tiga bulan setelah A Man Called Ahok dirilis, Anak Hoki akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bercerita. Dan… well… mungkin ada baiknya membiarkan A Man Called Ahok menjadi satu-satunya film yang berkisah tentang Basuki Tjahaja Purnama untuk saat ini. Continue reading Review: Anak Hoki (2019)

Review: Antologi Rasa (2019)

Merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karangan Ika Natassa setelah Critical Eleven (Monty Tiwa, Robert Ronny, 2017), Antologi Rasa berkisah mengenai kisah cinta segi empat yang terjalin antara empat sahabat, Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime). Bagaimana rumitnya jalinan persahabatan dan asmara yang terbentuk antara keempat karakter tersebut? Well… Harris telah memendam rasa suka terhadap Keara semenjak pertama kali mereka berkenalan. Namun, di saat yang bersamaan, Keara justru menaruh hati kepada Ruly. Sial, Ruly ternyata begitu mengagumi serta tidak dapat melupakan sosok Denise yang juga merupakan teman kecilnya dan kini telah menikah dengan pria lain. Baik Harris, Keara, dan Ruly memilih untuk menyimpan rasa suka yang mereka rasakan demi menjaga dan tidak merusak hubungan persahabatan yang telah terbentuk sekian lama. Tentu saja, tidak peduli seberapa keras mereka telah berusaha untuk menyembunyikan perasaan masing-masing, Harris, Keara, dan Ruly akhirnya terjerat dalam kebimbangan hati yang semakin lama justru menghadirkan ruang dan jarak dalam hubungan mereka. Continue reading Review: Antologi Rasa (2019)