Tag Archives: Film Indonesia

Review: Sabrina (2018)

Walau terdengar lebih menakutkan, film horor teranyar arahan Rocky Soraya yang berjudul Sabrina sama sekali tidak berkisah tentang sebuah situasi dimana sesosok karakter dipaksa untuk membayar dan mendengarkan lagu-lagu cover version yang dinyanyikan secara akustik oleh seorang penyanyi bernama Sabrina selama 113 menit. Film ini merupakan bagian dari semesta pengisahan film The Doll arahan Soraya yang dua seri sebelumnya sukses ketika dirilis pada tahun 2016 dan 2017. Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara, Sabrina sendiri memiliki alur pengisahan yang bertindak sebagai kelanjutan kisah atau sekuel bagi The Doll 2. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perbaikan – baik dari kemampuan pengarahan Soraya maupun kualitas naskah cerita garapan Junianti dan Umbara – bagi presentasi keseluruhan Sabrina sepertinya harus bersiap untuk gigit jari. Sabrina hadir dengan kualitas yang mampu menyaingi buruknya dua seri The Doll sebelumnya. Continue reading Review: Sabrina (2018)

Advertisements

Review: Koki-koki Cilik (2018)

Layaknya seri kompetisi bakat Masterchef Junior, Koki-koki Cilik berkisah mengenai perjalanan Bima (Farras Fatik) dalam mengikuti ajang perlombaan memasak bagi anak-anak paling bergengsi di Indonesia yang bernama Cooking Camp. Untuk menjadi pemenang, Bima harus mengalahkan puluhan anak-anak berbakat lain, termasuk Audrey (Chloe X) yang telah memegang gelar juara selama tiga tahun terakhir. Persaingan ketat tersebut awalnya memberikan tekanan pada rasa percaya diri Bima – khususnya setelah mengetahui bahwa anak-anak lain berasal dari strata ekonomi yang lebih tinggi dan memiliki pengetahuan mengenai beragam menu makanan internasional yang lebih variatif dari dirinya. Namun, pertemuan Bima dengan Rama (Morgan Oey) mulai memberikannya semangat baru. Walau awalnya merasa terganggu dengan kehadiran Bima yang sering mengusik kegemarannya untuk menyendiri, mantan juru masak sebuah restoran terkenal tersebut secara perlahan mulai membagikan pengetahuannya dalam memasak sekaligus memotivasi Bima untuk dapat memenangkan kompetisi Cooking Camp. Continue reading Review: Koki-koki Cilik (2018)

Review: Kulari ke Pantai (2018)

Mira Lesmana dan Riri Riza – yang mungkin merupakan kolaborasi produser dan sutradara paling berpengaruh di industri film Indonesia – kembali hadir dengan film terbaru mereka, Kulari ke Pantai. Berdasarkan naskah cerita yang ditulis Lesmana dan Riza bersama dengan Gina S. Noer (Posesif, 2017) dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies, 2017), Kulari ke Pantai berkisah mengenai rencana roadtrip yang akan dilakukan oleh pasangan ibu dan anak, Uci (Marsha Timothy) dan Sam (Maisha Kanna), menuju Pantai G-Land di Banyuwangi, Jawa Timur, sepulangnya mereka dari menghadiri acara ulang tahun ibu Uci di Jakarta. Rencana tersebut mengalami sedikit perubahan setelah kakak ipar Uci, Kirana (Karina Suwandi), kemudian menitipkan puterinya, Happy (Lil’li Latisha), untuk turut serta dalam roadtrip yang akan dilakukan Uci dan Sam dengan harapan agar Happy dapat memperbaiki kembali hubungannya yang telah renggang dengan Sam. Jelas saja, perjalanan darat Uci dan Sam dimulai dengan canggung akibat Happy yang lebih memilih untuk terus bercengkerama dengan telepon genggamnya daripada berusaha untuk berkomunikasi dengan Uci maupun Sam. Namun, seiring dengan persinggahan demi persinggahan yang dilakukan Uci dan Sam pada setiap kota yang mereka lalui dalam perjalanan tersebut, hubungan Sam dan Happy secara perlahan mulai mencair dan diwarnai dengan berbagai kejutan manis. Continue reading Review: Kulari ke Pantai (2018)

Review: Dimsum Martabak (2018)

Dalam film terbaru arahan Andreas Sullivan (Revan & Reina, 2018), Dimsum Martabak, penonton diperkenalkan kepada dua karakter utama, Mona (Ayu Ting Ting) dan Soga (Boy William). Walau keduanya berasal dari dua lingkungan ekonomi yang berbeda namun baik Mona maupun Soga sedang berada dalam usaha mereka masing-masing untuk membuktikan kemampuan diri mereka: Mona berusaha menunjukkan pada sang ibu (Meriam Bellina) bahwa dirinya dapat menjadi sosok tulang punggung keluarga yang bertanggungjawab semenjak meninggalnya sang ayah sementara Soga sedang membangun usahanya sendiri untuk keluar dari bayang-bayang sang ayah, Eric Guntara (Ferry Salim), yang merupakan salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Keduanya kemudian bertemu ketika Mona baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai seorang pramusaji di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) dan lantas mendapatkan pekerjaan di foodtruck martabak yang dikelola Soga bersama sahabatnya, Dudi (Muhadkly Acho) – yang, dapat dengan mudah ditebak, lantas turut menebar benih romansa antara keduanya. Continue reading Review: Dimsum Martabak (2018)

Review: Insya Allah Sah 2 (2018)

Sejujurnya, Insya Allah Sah (Benni Setiawan, 2017) bukanlah sebuah karya yang benar-benar buruk. Namun, terlepas dari berhasil menghadirkan beberapa momen komikal yang cukup menghibur serta penampilan yang cukup prima dari Pandji Pragiwaksono dan Titi Kamal, kebanyakan penonton mungkin akan lebih mengingat Insya Allah Sah sebagai sebuah film yang hadir dengan kualitas penceritaan yang cenderung monoton dan seorang sosok karakter utama yang begitu sukar untuk disukai dan benar-benar mengganggu. WellInsya Allah Sah 2 kini dihadirkan untuk mencoba memperbaiki beberapa “kesalahan” yang telah diperbuat oleh seri pendahulunya – dan, tentu saja, mencoba mengulangi kembali (atau bahkan melampaui) kesuksesan komersial yang berhasil diraih Insya Allah Sah. Continue reading Review: Insya Allah Sah 2 (2018)

Review: Jailangkung 2 (2018)

Walau mendapatkan penilaian yang kurang begitu menyenangkan dari banyak kritikus dan penikmat film Indonesia, namun raihan jumlah penonton yang mencapai angka lebih dari 2.5 juta penonton dari Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2018) jelas menjadi penentu bagi Screenplay Films – yang kini mendelegasikan tugas produksi ke divisi horor mereka, Sky Media – dan Legacy Pictures untuk memproduksi sekuel film tersebut. Jika dibandingkan dengan seri pendahulunya, tidak begitu banyak hal yang berubah pada Jailangkung 2. Poernomo dan Mantovani kembali duduk di kursi penyutradaraan. Jefri Nichol, Amanda Rawles, Lukman Sardi, dan Hannah Al Rashid juga masih memberikan penampilan akting mereka dengan Naufal Samudra, Ratna Riantiarno, dan Deddy Sutomo – dalam penampilan terakhirnya sebelum meninggal dunia pada April lalu – hadir memperkuat departemen akting film ini. Sementara itu, Baskoro Adi Wuryanto, sayangnya, kembali dipercaya untuk mengerjakan naskah film dengan bantuan dari Ve Handojo (Cewek Gokil, 2011). Because why would you mess with a winning formula, right? Continue reading Review: Jailangkung 2 (2018)

Review: Target (2018)

Diarahkan oleh Raditya Dika (Hangout, 2016) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya sendiri, Target berkisah mengenai sembilan orang selebritis Indonesia – Dika, Cinta Laura Kiehl, Hifdzi Khoir, Abdur Arsyad, Samuel Rizal, Willy Dozan, Ria Ricis, Anggika Bolsterli, dan Romy Rafael – yang diundang seorang produser untuk membintangi film terbaru garapannya yang berjudul Target. Proses pengambilan gambar tersebut dilakukan di sebuah gedung kosong dan baru akan dimulai ketika kesembilan selebritis tersebut telah datang ke lokasi. Tidak disangka, ketika kesembilan orang tersebut telah berkumpul dan bersiap untuk menjalani proses shooting, sebuah rekaman video kemudian berputar yang lantas mengungkapkan bahwa mereka telah terperangkap di dalam gedung tersebut dan hanya dapat keluar jika mereka mengikuti deretan permainan mematikan yang telah disiapkan oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai Game Master. Mau tidak mau, demi menyelamatkan jiwa masing-masing, kesembilan orang tersebut harus berusaha bertahan hidup dalam permainan mematikan yang akan berjalan selama 24 jam. Continue reading Review: Target (2018)

Review: Kuntilanak (2018)

First of allNope. Meskipun memiliki kesamaan judul dan sutradara (dan rumah produksi), versi terbaru dari Kuntilanak ini sama sekali tidak memiliki keterikatan cerita dengan trilogi Kuntilanak arahan Rizal Mantovani yang dibintangi Julie Estelle dan sempat begitu popular ketika dirilis pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio (Guru Ngaji, 2018), Kuntilanak versi terbaru ini bahkan memberikan perubahan yang cukup radikal dengan menempatkan lima karakter anak-anak sebagai karakter utama cerita serta memberikan sentuhan komedi dan petualangan pada berbagai sudut pengisahannya – meskipun masih tetap menggunakan beberapa formula lama seperti keberadaan cermin antik yang misterius serta tembang berbahasa Jawa berjudul Lingsir Wengi untuk mempertahankan aroma mistis di dalam jalan penceritaan. Pengembangan kisah tersebut sebenarnya dapat saja menjadikan Kuntilanak tampil sebagai horor yang berbeda dan terasa menyegarkan diantara belantara film horor Indonesia. Sayangnya, pengelolaan kisah dan pengarahan yang setengah matang lebih sering menjadikan film ini terasa kebingungan dalam bercerita daripada mampu tampil menjadi sebuah presentasi horor yang menarik. Continue reading Review: Kuntilanak (2018)

Review: The Gift (2018)

Hanung Bramantyo jelas merupakan salah seorang sutradara paling aktif di industri film Indonesia. Lihat saja setahun belakangan. Tidak kurang dari lima film Indonesia yang berasal dari berbagai genre berhasil ia arahkan – mulai dari Kartini (2017) yang kembali memberikannya nominasi Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia, Jomblo (2017) yang merupakan versi buat ulang dari salah satu film terbaiknya yang berjudul sama (2006), Seteru (2017) yang dirilis dan melintas begitu saja dari layar bioskop Indonesia, Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017) yang kembali berhasil menarik banyak penonton namun mendapatkan banyak reaksi negatif dari para kritikus film, hingga Benyamin Biang Kerok (2018) yang tidak hanya kembali mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film namun juga gagal untuk mendapatkan jumlah penonton yang signifikan meskipun telah dipromosikan secara besar-besaran. Kini, Bramantyo kembali hadir dengan film teranyarnya yang berjudul The Gift. Berbeda dengan film-film arahan Bramantyo yang tadi telah disebutkan, The Gift memiliki citarasa pengarahan yang cenderung intim, personal, dan jauh dari kesan komersial. Jelas sebuah pilihan yang cukup menarik dari seorang Bramantyo. Continue reading Review: The Gift (2018)

Review: Partikelir (2018)

Nama Pandji Pragiwaksono jelas bukanlah nama baru di industri perfilman Indonesia. Semenjak namanya popular sebagai seorang komika, Pragiwaksono juga telah berkesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya lewat film-film seperti Make Money (Sean Monteiro, 2013), Comic 8 (Anggy Umbara, 2014), {rudy habibie} (Hanung Bramantyo, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017). Mengikuti jejak rekan-rekan komikanya seperti Kemal Palevi, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Bayu Skak, Pragiwaksono kini menguji kemampuannya dalam penyutradaraan sebuah film lewat Partikelir. Juga berperan sebagai aktor dan penulis naskah cerita bagi film drama komedi aksi ini, Partikelir menghadirkan elemen-elemen komedi yang mungkin telah terasa familiar bagi para penggemar celotehan Pragiwaksono. Sayang, sebagai sebuah presentasi cerita keseluruhan, Partikelir tidak mampu berbicara banyak dan seringkali terasa goyah dalam banyak bagian pengisahannya. Continue reading Review: Partikelir (2018)

Review: Jelita Sejuba (2018)

Jika biasanya film-film yang berlatar kehidupan para tentara mengambil sudut pandang dari karakter para tentaranya itu sendiri – lihat saja Merah Putih II: Darah Garuda (Yadi Sugandi, Conor Allyn, 2010), Doea Tanda Cinta (Rick Soerafani, 2015), atau Dunkirk (Christopher Nolan, 2017), maka Jelita Sejuba mencoba berkisah mengenai kehidupan sang istri dari tentara dalam mendampingi sosok yang harus membagi perhatiannya antara keluarga dengan negara. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab untuk naskah cerita Doea Tanda Cinta, Jelita Sejuba tampil cukup manis dalam penggambaran hubungan romansa antara kedua karakter utamanya meskipun sering terasa kehilangan keseimbangan pengisahan, khususnya pada paruh akhir penceritaan. Penampilan prima dari Putri Marino juga memberikan kontribusi besar bagi kualitas presentasi keseluruhan film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Ray Nayoan ini. Continue reading Review: Jelita Sejuba (2018)

Review: Bluebell (2018)

Setelah serangkaian film berwarna horor dan thriller yang telah ia tekuni semenjak melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Jinx (2010), Muhammad Yusuf mencoba mengarahkan sebuah genre berbeda untuk film teranyarnya, Bluebell. Film drama romansa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Dwitasari ini berkisah mengenai pertemuan antara Bluebell (Regina Rengganis) dan Mario (Qausar Harta Yudana) yang secara singkat tumbuh menjadi perasaan suka antara satu dengan yang lain. Sayangnya, pertemuan antara Bluebell dan Mario terjadi di saat pemuda tersebut sedang merasa gundah akan hubungannya dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora), yang akan segera berlanjut ke jenjang pernikahan. Sial, ketika Mario berusaha menentukan keputusan hatinya, Bluebell mengetahui tentang status hubungan asmara Mario. Patah hati, Bluebell memilih untuk menjauh dan berusaha untuk melupakan pemuda itu. Continue reading Review: Bluebell (2018)

Review: Arini (2018)

Diadaptasi dari novel karya Mira W., Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat, Arini memulai pengisahannya dengan pertemuan antara seorang wanita bernama Arini (Aura Kasih) dengan seorang mahasiswa bernama Nick (Morgan Oey) dalam sebuah perjalanan kereta api di Jerman. Pertemuan tersebut begitu memberikan kesan mendalam bagi Nick yang lantas terus memburu Arini guna menyatakan rasa cintanya. Walau awalnya merasa perbedaan usia yang terpaut jauh antara dirinya dan Nick menjadi sebuah faktor penghalang namun secara perlahan Arini mulai membuka hatinya terhadap pemuda tampan tersebut. Di saat yang bersamaan, masa lalu Arini datang menghantui ketika ia bertemu dengan mantan suaminya, Helmi (Haydar Salishz), sekembalinya ia ke Indonesia. Luka mendalam akan percintaannya di masa lampau lantas menghalangi hubungan romansa yang sedang mekar antara Arini dan Nick. Continue reading Review: Arini (2018)