Tag Archives: Film Indonesia

Review: Makmum 2 (2021)

Merupakan salah satu film horor Indonesia dengan kualitas cerita yang jelas jauh dari kata memuaskan, Makmum (Hadrah Daeng Ratu, 2019) masih mampu menarik minat banyak penonton, termasuk penonton di negara tetangga dimana film yang dibintangi Titi Kamal tersebut berhasil meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai Film Indonesia Terlaris di Malaysia 2018 – 2019. Sure. Kesuksesan tersebut, tentu saja, kini diikuti oleh sebuah sekuel yang masih menampilkan Kamal sebagai pemeran utama namun dengan sutradara, Guntur Soeharjanto (Belok Kanan Barcelona, 2018), serta penulis naskah cerita, Rafki Hidayat (Kafir, 2018), yang berbeda dari film pendahulunya. Akankah mampu mendorong kualitas presentasi cerita Makmum 2? Tidak juga. Continue reading Review: Makmum 2 (2021)

Review: Teka-teki Tika (2021)

Dalam film cerita panjang keenam yang ia tulis dan arahkan, Ernest Prakasa (Imperfect, 2019) mencoba untuk keluar dari wilayah nyaman penuturan komedi yang sebelumnya telah begitu melekat pada setiap karyanya. Well… Prakasa sebenarnya tidak menghilangkan unsur komedi secara utuh dari linimasa pengisahan Teka-teki Tika. Meskipun kental dengan nuansa drama misteri, film ini disajikan dengan bangunan konflik dan dialog yang cenderung ringan. Prakasa juga masih menghadirkan sosok karakter bernilai komikal guna mengeksekusi dialog-dialog pemancing senyum maupun tawa yang digarapnya. Tetap saja, Teka-teki Tika adalah sebuah penyegaran dalam filmografi Prakasa – meskipun tidak diiringi dengan kualitas cerita yang terasa mampu menyegarkan. Continue reading Review: Teka-teki Tika (2021)

Review: Yuni (2021)

Sejujurnya, cukup menggusarkan hati untuk menerima kenyataan bahwa film terbaru arahan Kamila Andini (Sekala Niskala, 2017), Yuni, didasarkan pada realita kehidupan keseharian yang masih harus dihadapi oleh kaum perempuan di sejumlah (banyak?) tempat di negara ini hingga saat ini. Meskipun jika Anda merupakan seorang laki-laki. Khususnya jika Anda adalah seorang laki-laki. Naskah cerita film yang ditulis Andini bersama dengan Prima Rusdi (Ada Apa dengan Cinta? 2, 2016) secara perlahan namun mendalam membuka berbagai luka dan duka kaum perempuan yang menjadi fokus utama linimasa pengisahan dan membuat setiap mata yang menyaksikan kisah mereka kembali diingatkan pada betapa buruknya perlakuan sistem sosial patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dalam proses berkehidupan dan bermasyarakat terhadap mereka. We failed them. Continue reading Review: Yuni (2021)

Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Setelah merilis Posesif (2017) dan Aruna & Lidahnya (2018) yang memiliki pendekatan cerita lebih komersial jika dibandingkan dengan film-film lain yang berada dalam filmografinya, Edwin kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama garapan Eka Kurniawan. Mungkin cukup sukar membayangkan kompleksitas konflik dan karakter dalam balutan rangkaian metafora akan isu sosial politik pada masa rezim Orde Baru yang disampaikan melalui linimasa cerita tak beraturan oleh Kurniawan dapat hidup di luar imajinasi para pembaca novelnya. Namun, dengan pengarahannya yang lugas, Edwin tidak hanya mampu menaklukkan tatanan kompleksitas tersebut. Edwin juga dapat menghasilkan jalinan kisah romansa termanis yang pernah hadir dalam film garapannya. Continue reading Review: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021)

Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Setelah Love for Sale 2 (Andibachtiar Yusuf, 2019), Adipati Dolken dan Della Dartyan kembali tampil berpasangan untuk film fantasi romansa Akhirat: A Love Story yang ditulis dan diarahkan oleh Jason Iskandar yang sekaligus menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Iskandar. Penuturan cerita film ini dibangun dengan dasar kisah asmara yang terbentuk antara dua karakter utama, Timur (Dolken) dan Mentari (Dartyan), yang memiliki kepercayaan berbeda. Meskipun keluarga mereka kurang begitu antusias menerima, Timur dan Mentari bertekad untuk tetap teguh bersama mempertahankan hubungan asmara yang terjalin antara keduanya. Sayang, garisan nasib menentukan lain. Timur dan Mentari terlibat dalam sebuah kecelakaan yang membuat keduanya kemudian berada dalam keadaan koma serta terjebak dalam ruang antara dunia dan akhirat. Continue reading Review: Akhirat: A Love Story (2021)

Review: Losmen Bu Broto (2021)

Seperti sejumlah rekan sepantarannya seperti Si Doel the Movie (Rano Karno, 2018), Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019), dan Tersanjung the Movie (Hanung Bramantyo, Pandhu Adjisurya, 2021), alur pengisahan Losmen Bu Broto juga diadaptasi dan terinspirasi dari sebuah serial televisi berjudul Losmen yang dahulu mengudara di saluran Televisi Republik Indonesia dari tahun 1986 hingga tahun 1989. Losmen Bu Broto sendiri bukanlah film cerita panjang pertama yang menggunakan potongan konflik dan karakter dari serial televisi yang diciptakan, ditulis, dan disutradarai oleh pasangan Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing tersebut. Sihombing sebelumnya pernah mengarahkan sebuah film layar lebar berjudul Penginapan Bu Broto (1987) yang menjadi cerita lepasan dari serial televisi Losmen dengan naskah ceritanya masih ditangani oleh Maliyati. Jika dibandingkan dengan Penginapan Bu Broto yang fokus pengisahannya lebih terpaku pada kisah romansa yang terjalin antara beberapa karakternya, Losmen Bu Broto, yang menjadi kolaborasi penyutradaraan Ifa Isfansyah (Koki-koki Cilik, 2018) dengan Eddie Cahyono (Siti, 2014), lebih memiliki kedekatan penuturan cerita dengan serial televisi Losmen yang bertutur tentang dinamika yang terjadi pada jalinan hubungan antar karakter pengisi keluarga pengelola losmen. Continue reading Review: Losmen Bu Broto (2021)

Review: Paranoia (2021)

Riri Riza (Bebas, 2019) merambah ke ranah pengisahan thriller lewat Paranoia – yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Jujur Prananto dan Mira Lesmana, kolaborasi yang sebelumnya pernah menghasilkan Petualangan Sherina (Riza, 2000) dan Ada Apa dengan Cinta? (Rudy Soedjarwo, 2002). Filmnya berkisah tentang pelarian yang dilakukan oleh Dina (Nirina Zubir) bersama dengan anaknya, Laura (Caitlin North-Lewis), dari suaminya yang abusif, Gion (Lukman Sardi), yang saat ini sedang menjalani masa hukumannya di penjara. Rasa ketakutan serta trauma yang dirasakan Dina pada sosok suaminya membuat kesehariannya selalu dilingkupi kekhawatiran, khususnya kepada orang-orang baru yang selalu ia curigai sebagai orang-orang yang ditugaskan oleh sang suami untuk mencari dirinya dan Laura. Hal inilah yang membuat Dina tidak suka dengan pilihan Laura untuk menjalin hubungan dengan tetangga baru mereka, Raka (Nicholas Saputra). Di saat yang bersamaan, Gion mendapatkan remisi masa tahanan dan dibebaskan dari penjara. Dengan segera, Gion berusaha untuk menemukan keberadaan istri dan putrinya. Continue reading Review: Paranoia (2021)

Review: A World Without (2021)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Nia Dinata setelah Ini Kisah Tiga Dara (2016), A World Without memiliki latar belakang waktu pengisahan di tahun 2030 – sepuluh tahun semenjak terjadinya pandemi yang membuat kualitas hidup manusia secara keseluruhan menurun drastis. Sebuah komunitas yang menyebut diri mereka sebagai The Light milik pasangan Ali (Chicco Jerikho) dan Sofia Khan (Ayushita) muncul dan menjadi popular berkat misi mereka untuk mengembangkan bakat serta kemampuan setiap remaja terpilih untuk kemudian menikahkan para remaja tersebut ketika usia mereka telah menginjak 17 tahun agar dapat membentuk keluarga baru yang berkualitas. Tiga sahabat yang datang dari latar kehidupan yang berbeda, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja terpilih untuk bergabung bersama The Light. Sejumlah harapan untuk masa depan yang lebih cerah jelas terlintas di benak ketiganya. Namun, secara perlahan, berbagai sisi gelap dari komunitas tersebut mulai terungkap. Tiga gadis muda tersebut terjebak didalamnya. Continue reading Review: A World Without (2021)

Festival Film Indonesia 2021 Nominations List

Penyalin Cahaya (2021), film yang menjadi debut pengarahan film panjang bagi Wregas Bhanuteja, mampu melampaui para pesaingnya dengan menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2021. Film yang dirilis secara internasional dengan judul Photocopier tersebut berhasil mengumpulkan 17 nominasi, termasuk di kategori Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Cerita Asli Terbaik untuk naskah cerita yang ditulis oleh Bhanuteja bersama dengan Henricus Pria, serta nominasi di seluruh kategori akting; Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Chicco Kurniawan, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Shenina Cinnamon, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Guilio Parengkuan dan Jerome Kurnia, serta Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Dea Panendra. Continue reading Festival Film Indonesia 2021 Nominations List

Review: Serigala Langit (2021)

Diarahkan oleh Reka Wijaya (Sule Detektif Tokek, 2013) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Milea: Suara dari Dilan, 2020) dan Rifki Ardisha, Serigala Langit bercerita tentang Gadhing Baskara (Deva Mahenra) yang merupakan seorang penerbang pesawat tempur bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan baru saja bergabung dengan Skadron Serigala Langit. Sebagai lulusan terbaik di Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Gadhing Baskara sempat merasa dirinya memiliki kemampuan yang lebih baik dari rekan-rekannya – sikap yang lantas membuat keberadaannya kurang disenangi oleh sejumlah seniornya. Karena langkah awal yang salah, Gadhing Baskara kini harus berjuang keras untuk membuktikan kelayakan dirinya untuk bergabung di Skadron Serigala Langit. Di saat yang bersamaan, Gadhing Baskara juga sedang dihantui oleh hubungannya yang memburuk dengan sang ayah (Nugie) yang kini sedang terbaring di rumah sakit dan terus menanyakan keberadaan dirinya. Continue reading Review: Serigala Langit (2021)

Review: Notebook (2021)

Dimas Anggara dan Amanda Rawles kembali tampil bersama untuk film Notebook yang menandai debut pengarahan film cerita panjang layar lebar bagi Karsono Hadi yang sebelumnya dikenal sebagai penata gambar bagi film-film seperti Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1988), Taksi (Arifin C. Noer, 1991), dan Bibir Mer (Noer, 1992) yang memenangkannya sebuah Piala Citra untuk kategori Penata Gambar Terbaik di Festival Film Indonesia 1992. Hadi juga berhasil meraih nominasi di kategori Penulis Skenario Terbaik dari ajang Festival Film Indonesia 2004 untuk film Marsinah: Cry Justice (Slamet Rahardjo Djarot, 2001). Untuk Notebook sendiri, Hadi mengarahkan naskah cerita yang ditulis oleh Sukhdev Singh dan Tisa TS yang merupakan penulis naskah bagi tiga film yang telah mempertemukan Anggara dan Rawles, Promise (Asep Kusdinar, 2017), London Love Story 3 (Kusdinar, 2018), dan The Perfect Husband (Rudi Aryanto, 2018). Continue reading Review: Notebook (2021)

Review: Selesai (2021)

Merupakan film cerita panjang kedua yang diarahkan oleh Tompi (Pretty Boys, 2019) sekaligus menandai kali kedua kolaborasinya bersama dengan penulis naskah Imam Darto, Selesai adalah sebuah drama (drama komedi?) yang akan membawa para penontonnya ke sebuah perseteruan rumah tangga yang berlangsung antara karakter-karakternya. Linimasa pengisahannya bermula ketika Ayu (Ariel Tatum) yang berniat untuk menuntut cerai dan meninggalkan rumah yang ia tempati bersama suaminya, Broto (Gading Marten), setelah mengetahui bahwa sang suami kembali menjalin hubungan asmara dengan Anya (Anya Geraldine) yang sebenarnya telah menjadi sosok ketiga dalam pernikahan mereka dalam dua tahun terakhir. Langkah Ayu untuk keluar dari rumah terhenti ketika, di saat yang bersamaan, ibu mertuanya, Bu Sri (Marini), datang dan memilih untuk tinggal bersama anak dan menantunya guna menghabiskan masa isolasi wilayah yang sedang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran infeksi di masa pandemi. Ayu lantas memberikan sejumlah waktu pada Broto untuk dapat menjelaskan kondisi pernikahan mereka pada sang ibu sebelum ia benar-benar angkat kaki dari rumah tersebut. Continue reading Review: Selesai (2021)

Review: Ghibah (2021)

Setelah sebelumnya mengembangkan film pendek Makmum menjadi film cerita panjang (Hadrah Daeng Ratu, 2019), Riza Pahlevi kembali bekerjasama dengan Vidya Talisa Ariestya untuk menggarap naskah cerita Ghibah. Juga melibatkan bantuan penulis naskah Aviv Elham (Jaga Pocong, 2018) dan sutradara Monty Tiwa (Pocong the Origin, 2019), naskah cerita Ghibah berkisah tentang sekelompok mahasiswa, Firly (Anggika Bolsterli), Arga (Verrell Bramasta), Reno (Jerry Likumahuwa), Ulfa (Arafah Rianti), Yola (Josephine Firmstone), dan Okta (Adila Fitri), yang saat ini juga bertugas untuk mengelola majalah kampus mereka. Tugas peliputan berita untuk majalah kampus yang mereka kelola menemui halangan setelah Okta secara mendadak tidak lagi dapat dihubungi atau ditemui oleh rekan-rekannya. Tidak sampai disitu, Firly dan Yola juga merasakan berbagai gangguan bernuansa mistis mulai menyelimuti keseharian mereka. Oleh pemilik kos yang mereka tempati, Mang Oppie (Opie Kumis) dan Umi Asri (Asri Welas), Firly, Ulfa, dan Okta diingatkan bahwa kejadian-kejadian buruk yang belakang menghantui mereka disebabkan oleh kegemaran mereka untuk bergunjing atau membicarakan aib orang lain. Continue reading Review: Ghibah (2021)