Tag Archives: Film Indonesia

Review: Satu Hari Nanti (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Salman Aristo (Cinta dalam Kardus, 2013), Satu Hari Nanti berkisah mengenai dua pasang kekasih yang juga saling bersahabat, Bima (Deva Mahenra) dan Alya (Adinia Wirasti) serta Din (Ringgo Agus Rahman) dan Chorina (Ayushita Nugraha), yang sedang bekerja sekaligus mengejar mimpi mereka di negara Swiss. Hubungan kedua pasangan tersebut bukannya berjalan tanpa tantangan: karir bermusik Bima yang berjalan di tempat terasa menghalangi mimpi Alya untuk menjadi seorang chocolatier yang handal sementara Din tidak pernah berhenti untuk berselingkuh dengan wanita lain di belakang Chorina. Setelah terjadi sebuah pertengkaran besar antara Bima dan Alya, keduanya lantas menyadari bahwa mereka telah jatuh hati dengan sosok lain – sahabat mereka sendiri. Jalinan kisah cinta baru tersebut secara perlahan mulai mengubah hidup Bima, Alya, Din, dan Chorina sekaligus mimpi dan cara pandang mereka mengenai masa depan. Continue reading Review: Satu Hari Nanti (2017)

Advertisements

Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Malang benar nasib Marlina (Marsha Timothy). Setelah kematian janin bayi yang sedang dikandungnya kini wanita asal Sumba tersebut harus hidup sebatang kara setelah suaminya turut meninggal dunia – dengan mayat sang suami yang telah diawetkan masih terbujur kaku di ruang tamu rumah akibat ketidakmampuan Marlina membiayai ritual upacara pemakaman. Nasib buruk tidak berhenti disana. Sekelompok pria yang dipimpin oleh Markus (Egi Fadly) yang berperawakan tinggi besar datang ke rumah Marlina dan berencana untuk mengambil seluruh harta benda miliknya. Oh. Sekumpulan pria tersebut juga berencana untuk memperkosa Marlina secara bergantian selepas makan malam. Namun, walau dengan penampilan yang tenang dan terkesan lemah, Marlina menolak untuk menyerah begitu saja. Berbekal sebilah parang dan olahan sup ayam yang menjadi menu andalannya, Marlina bertekad untuk membuat Markus dan gerombolannya menyesal telah melangkahkan kaki mereka ke rumah Marlina hari itu. Continue reading Review: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Diadaptasi dari buku kumpulan puisi berjudul sama karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni berkisah mengenai hubungan asmara antara dua orang dosen, Pingkan (Velove Vexia) dan Sarwono (Adipati Dolken). Sebelum Pingkan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya, Sarwono meminta bantuan gadis tersebut untuk menemaninya menyelesaikan sebuah tugas di kota Manado, Sulawesi Utara – yang juga merupakan kota kelahiran Pingkan. Kepulangan Pingkan kembali ke kampung halamannya jelas disambut dengan senang hati oleh keluarganya. Namun, di saat yang bersamaan, kedatangan Pingkan juga disambut oleh sepupu tirinya, Benny (Baim Wong), yang semenjak lama telah menaruh hati pada Pingkan. Ditambah dengan deretan pertanyaan yang hadir dari keluarga Pingkan mengenai perbedaan kepercayaan yang mereka nilai tidak dapat menyatukan Pingkan dengan dirinya, membuat Sarwono mulai mempertanyakan kekuatan hubungan asmara yang ia jalin selama ini. Continue reading Review: Hujan Bulan Juni (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Walaupun semasa perilisannya kurang mampu untuk meraih perhatian besar dari penikmat film Indonesia dan tayang dalam jangka waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan film-film peraih nominasi Film Terbaik lainnya namun Night Bus (2017) ternyata masih mampu meraih mayoritas suara dewan juri untuk memenangkan kategori utama di ajang Festival Film Indonesia 2017. Selain menjadi pemenang Film Terbaik, film arahan Emil Heradi tersebut juga memenangkan lima kategori lainnya termasuk memberikan dua Piala Citra bagi Teuku Rifnu Wikana yang memenangkannya lewat kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Winners List

Review: Posesif (2017)

Diarahkan oleh Edwin (Kebun Binatang, 2012) dalam film yang menandai kali pertama film arahannya tayang secara luas di pelbagai jaringan bioskop komersial Indonesia, Posesif merupakan sebuah drama romansa remaja yang berkisah mengenai hubungan percintaan antara Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken). Lala, seorang siswi cerdas yang juga seorang atlet loncat indah berprestasi, langsung terkesan dengan perkenalannya dengan Yudhis yang merupakan seorang siswa baru di sekolahnya. Dalam waktu singkat, Lala dan Yudhis tak lagi dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hubungannya dengan Yudhis bahkan secara perlahan membuat Lala menarik diri dari sesi latihan loncat indahnya bersama sang ayah yang juga merupakan pelatihnya (Yayu Unru) sekaligus mengurangi waktu yang ia habiskan bersama dua sahabatnya, Ega (Gritte Agatha) dan Rino (Chicco Kurniawan). Namun, seiring dengan pertambahan usia hubungannya dengan Yudhis, Lala mulai menemukan sisi gelap dari kepribadian Yudhis yang membuatnya terjebak dalam sebuah hubungan yang tak dapat dihindarinya. Continue reading Review: Posesif (2017)

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Di tengah industri yang terus berjuang untuk dapat meraih kembali kepercayaan penonton, jelas tidaklah salah jika beberapa pembuat film memilih untuk “bermain aman” dengan memproduksi film-film yang memang terbukti mampu menarik perhatian penonton. Tahun ini, dengan keberhasilan besar yang diraih Danur (Awi Suryadi, 2017), Jailangkung (Rizal Mantovani, Jose Poernomo, 2017), dan Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017), horor jelas menjadi lahan emas yang ingin dirasakan oleh banyak orang. Ruqyah: The Exorcism sendiri menjadi film horor kedua arahan Poernomo yang dirilis tahun ini setelah Jailangkung yang ia arahkan bersama Mantovani dan Gasing Tengkorak yang direncanakan akan rilis November mendatang. Sayangnya, bahkan lebih buruk dari Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism hadir dalam kualitas pengisahan yang cukup menyedihkan. Continue reading Review: Ruqyah: The Exorcism (2017)

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: Pengabdi Setan (2017)

Merupakan film horor supranatural perdana Joko Anwar, Pengabdi Setan merupakan interpretasi ulang Anwar atas film horor Indonesia berjudul sama arahan Sisworo Gautama Putra yang sempat begitu populer ketika dirilis pertama kali pada tahun 1980. Meskipun sebuah versi ulang buat, namun Pengabdi Setan garapan Anwar tidak sepenuhnya mengikuti alur cerita yang telah diterapkan oleh film pendahulunya. Mereka yang telah familiar dengan film-film maupun gaya penceritaan Anwar jelas dapat merasakan bahwa pemenang Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik untuk filmnya A Copy of My Mind (2015) tersebut tetap memasukkan sentuhan penceritaan khasnya di berbagai sudut pengisahan Pengabdi Setan terbaru. Hasilnya, selain pengisahan Pengabdi Setan tetap mampu terasa segar dan relevan bagi para penonton yang kebanyakan datang dari kalangan generasi baru, Anwar juga berhasil merangkai Pengabdi Setan miliknya menjadi sajian horor Indonesia yang sangat menyenangkan (dan menakutkan) untuk disaksikan. Continue reading Review: Pengabdi Setan (2017)

Review: Gerbang Neraka (2017)

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dalam masa paska-produksi dengan judul Firegate, Legacy Pictures akhirnya merilis film kedua mereka yang diarahkan oleh Rizal Mantovani – setelah Jailangkung beberapa waktu yang lalu – dengan judul Gerbang Neraka. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Robert Ronny (Critical Eleven, 2017), Gerbang Neraka berusaha menghadirkan hibrida dari unsur pengisahan horor dengan fiksi ilmiah dan drama petualangan yang jelas merupakan sebuah paduan yang masih tidak terlalu sering diangkat oleh kebanyakan film Indonesia. Pretty refreshing? Sure. Sayangnya, dalam pengolahan penceritaannya, Gerbang Neraka seringkali terasa tenggelam oleh ide besar yang dimiliki dan ingin disampaikannya. Hasilnya, selain tampil dengan presentasi yang dipenuhi oleh lubang-lubang pengisahan pada banyak bagian ceritanya, Gerbang Neraka tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi menjadi sebuah sajian horor/fiksi ilmiah/drama petualangan yang benar-benar efektif. Continue reading Review: Gerbang Neraka (2017)

Review: Petak Umpet Minako (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Billy Christian berdasarkan novel berjudul sama karya @manhalfgod – No, seriously. – Petak Umpet Minako berkisah mengenai pertemuan kembali seorang gadis bernama Vindha (Regina Rengganis) dengan teman-temannya di masa sekolah pada hari reuni mereka. Vindha sendiri bukanlah sosok yang populer diantara teman-temannya. Semasa sekolah dahulu, ia bahkan seringkali menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh beberapa pelajar lain. Berbekal penampilannya yang telah berubah semenjak berkuliah di Jepang, Vindha kini mampu melepas imejnya terdahulu sebagai seorang gadis penyendiri yang lugu. Gadis itu bahkan berhasil meyakinkan teman-temannya untuk turut bermain dalam sebuah permainan petak umpet a la Jepang yang dikenal dengan sebutan Hitori Kakurenbo ketika mereka mengunjungi gedung sekolah mereka. Sial, permainan yang melibatkan ritual pemanggilan arwah tersebut kemudian berakhir sebagai bencana ketika mereka yang terlibat dalam permainan tersebut satu demi satu ditemukan tak bernyawa lagi. Continue reading Review: Petak Umpet Minako (2017)

Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Dua bulan setelah perilisan Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2017) – yang dirilis dua bulan setelah kesuksesan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – aktor muda, Jefri Nichol, kembali hadir dalam sebuah film drama remaja berjudul A: Aku, Benci & Cinta. Juga menghadirkan penampilan aktris Amanda Rawles – yang turut mendampingi Nichol dalam Jailangkung dan Dear Nathan – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Rizki Balki ini berkisah mengenai konflik percintaan yang membelit para karakter-karakter remajanya. Of course. Namun, berbeda dengan film-film remaja sepantarannya, A: Aku, Benci & Cinta berusaha menghadirkan lebih banyak lapisan pengisahan dengan balutan komedi yang cukup kental dalam presentasi ceritanya. Berhasil? Continue reading Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Review: Banda the Dark Forgotten Trail (2017)

Pada abad pertengahan, Kepulauan Banda – sebuah kumpulan pulau vulkanis yang tersebar di wilayah Laut Banda dan kini berada di bawah pemerintahan daerah Provinsi Maluku, Republik Indonesia – memiliki peran yang krusial bagi pergerakan ekonomi dunia. Di masa tersebut, rempah-rempah menjadi komoditas yang bahkan lebih berharga dari emas dan Kepulauan Banda – yang merupakan satu-satunya tempat dimana pohon-pohon penghasil buah pala dapat tumbuh – adalah surga yang dicari, diburu dan diperebutkan setiap orang. Di saat yang bersamaan, surga tersebut secara perlahan menjadi neraka bagi para penghuni asli Kepulauan Banda ketika rumah yang telah mereka tempati sepanjang hayat kemudian dipenuhi oleh ketamakan yang turut menyertai kedatangan bangsa-bangsa pendatang. Film dokumenter arahan Jay Subyakto, Banda the Dark Forgotten Trail, berusaha memaparkan sejarah panjang (dan kelam) dari Kepulauan Banda dari era keemasannya hingga sekarang – ketika nama kepulauan tersebut dan buah pala yang dihasilkannya hampir dilupakan dunia. Continue reading Review: Banda the Dark Forgotten Trail (2017)