Review: Mariposa (2020)


Menyusul sukses besar Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019), Angga Yunanda dan Adhisty Zara kembali tampil bersama dalam Mariposa – sebuah film drama romansa remaja arahan Fajar Bustomi (Milea: Suara dari Dilan, 2020) yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio (Twivortiare, 2019), Mariposa berkisah tentang berbagai usaha yang dilakukan Acha (Zara) untuk mendekati Iqbal (Yunanda). Kesempatan Acha untuk merebut hati pemuda yang di sekolahnya dikenal sebagai sosok tampan, pintar, namun dapat bersikap begitu dingin tersebut mulai terbuka lebar setelah Acha bersama dengan Iqbal dipilih untuk mewakili sekolah mereka untuk bertanding di sebuah olimpiade sains tingkat nasional. Sayang, walaupun telah melakukan berbagai cara agar Iqbal mau menjadikannya sebagai seorang pacar, Iqbal – yang telah bertekad untuk selalu fokus pada kegiatan dan pelajaran sekolahnya – ternyata tetap tak bergeming. Namun, Acha tidak mau menyerah begitu saja. Bagi Acha, jika hati Iqbal adalah sebuah batu, maka dirinya siap menjadi air yang menetes setiap waktu hingga batu tersebut akhirnya rapuh dan luluh.

Bagi Bustomi, yang telah mengarahkan Dilan 1990 (2018), Dilan 1991 (2019), dan Milea: Suara dari Dilan, materi kisah yang bertutur tentang cerita cinta remaja dengan barisan dialog berkesan paduan antara manis dan cheesy yang dihadirkan Mariposa jelas merupakan wilayah pengisahan yang familiar. Pengarahan yang diberikan Bustomi cukup berhasil menjadikan Mariposa mampu mengalunkan kisahnya dengan ritme yang lancar sejak film ini memulai pengisahan serta memperkenalkan barisan karakter dan konfliknya. Sayangnya, dengan durasi presentasi cerita yang hampir mencapai dua jam, Mariposa hadir dengan tatanan kisah yang cenderung stagnan. Momen-momen awal ketika karakter Acha berusaha untuk mengeluarkan ide ataupun strategi terbaiknya untuk membuat karakter Iqbal dapat jatuh hati padanya mungkin terasa manis, lucu, dan menyenangkan untuk disaksikan. Sial, Mariposa kemudian tertahan pada momen tersebut: Karakter Acha berusaha mendekati karakter Iqbal, karakter Iqbal terlihat kesal dan mengacuhkan usaha yang dilakukan oleh karakter Acha, karakter Acha menemukan cara lain untuk mendekati karakter Iqbal, karakter Iqbal kembali tidak mempedulikan perhatian yang diberikan oleh karakter Acha, dan begitu seterusnya. Berputar di lingkaran yang sama.

Tentu, di sela aksi jalan di tempat tersebut, Mariposa menyelipkan beberapa konflik minor seperti karakter lain yang berusaha menarik perhatian Acha atau konflik keluarga yang dialami oleh karakter Iqbal dengan karakter ayahnya (Ariyo Wahab). Tak satupun konflik minor tersebut dapat dikembangkan dengan seksama dan berakhir sebagai sajian cerita yang melintas begitu saja. Setelah membuang banyak waktu untuk bercerita tentang hal yang sama, Mariposa lantas mulai terburu-buru untuk menyelesaikan konfliknya di sekitaran 30 menit terakhir sebelum durasi film ini selesai. Di momen tersebut, seluruh penyelesaian atas berbagai masalah yang dipaparkan semenjak awal dipadatkan kisahnya: mulai dari kisah hubungan antara karakter Iqbal dengan sang ayah berikut dengan latar belakang keberadaan konflik tersebut serta, tentu saja, karakter Iqbal yang akhirnya bergeming dan, secara tiba-tiba, menyatakan perasaan sukanya pada sosok karakter Acha. Terlambat, tentu saja. Dengan penyampaian yang bertele-tele, karakter Acha yang diniatkan untuk tampil sebagai sosok yang tak pantang menyerah berakhir dengan gambaran sebagai sosok yang mengganggu dengan usahanya. Sementara itu, karakter Iqbal yang mungkin ingin dirupakan seperti karakter Rangga di Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002) lantas terlihat sebagai karakter yang dingin dan sama sekali tidak memiliki hati maupun empati.

Entah bagaimana kualitas kisah asli yang dituliskan Luluk HF dalam novel Mariposa yang harus diadaptasi oleh Sudio namun permasalahan terbesar dari film ini jelas berasal dari stagnasi karakter dan pengulangan konflik yang berlebihan. Penampilan Zara mungkin masih mampu menjadikan karakter Acha terlihat cute dalam setiap tingkahnya namun gambaran akan karakter Iqbal jelas tidak akan dapat dibantu bahkan jika karakter tersebut diperankan oleh seorang Reza Rahadian atau Nicholas Saputra. Karakter Iqbal memang tergambar sebagai sosok pemuda tipikal dalam film-film sejenis. Namun, daripada memberikan karakter tersebut bangunan karakterisasi yang mampu membuatnya mudah untuk disukai, Sudio menghadirkan karakter Iqbal sebagai sosok yang sama di sepanjang film. Sukar untuk disukai – terlebih ketika karakternya diberikan dialog hardikan “murahan” dan “tak punya harga diri” yang ia sampaikan pada seorang sosok perempuan yang telah berusaha untuk mendekati dirinya.

Kedangkalan karakterisasi juga tidak hanya muncul di penggambaran kedua karakter utama film ini. Hampir seluruh karakter yang tampil dalam linimasa penceritaan Mariposa disajikan dengan galian kisah yang cukup terbatas. Sosok karakter ayah Iqbal tampil sama kakunya di sepanjang film sebagai sosok yang otoriter yang, entah kenapa, kemudian baru mendapatkan penggambaran dalam dan singkat di penghujung kisah. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada sosok karakter ibu dari Acha (Ersa Mayori) yang sepertinya dihadirkan guna mendorong elemen komedi pada film dengan kegilaan akan hal-hal berbau K-Pop-nya namun tidak pernah benar-benar tereksekusi dengan mulus. Mariposa sebenarnya memiliki beberapa potensi yang kuat untuk menjadi pengisahan drama remaja yang apik. Sayang, pengelolaan karakter dan cerita yang dangkal membuatnya berakhir sebagai presentasi yang mengganggu daripada menghibur.

popcornpopcornpopcorn3popcorn2popcorn2

mariposa-adhisty-zara-angga-yunanda-movie-posterMariposa (2019)

Directed by Fajar Bustomi Produced by Frederica, Chand Parwez Servia Written by Alim Sudio (screenplay), Luluk HK (book, MariposaStarring Angga Yunanda, Adhisty Zara, Dannia Salsabilla, Abun Sungkar, Junior Roberts, Syakir Daulay, Ariyo Wahab, Irgi Fahrezi, Ersa Mayori, Baim, Iszur Muchtar, TJ, Yudha Keling, Diaz Danar, Aris Nugraha Music by Andhika Triyadi Cinematography Dimas Imam Subhono Editing by Ryan Purwoko Studio Falcon Pictures/Starvision Running time 118 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s