Tag Archives: Joshua Pandelaki

Review: Partikelir (2018)

Nama Pandji Pragiwaksono jelas bukanlah nama baru di industri perfilman Indonesia. Semenjak namanya popular sebagai seorang komika, Pragiwaksono juga telah berkesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya lewat film-film seperti Make Money (Sean Monteiro, 2013), Comic 8 (Anggy Umbara, 2014), {rudy habibie} (Hanung Bramantyo, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017). Mengikuti jejak rekan-rekan komikanya seperti Kemal Palevi, Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Bayu Skak, Pragiwaksono kini menguji kemampuannya dalam penyutradaraan sebuah film lewat Partikelir. Juga berperan sebagai aktor dan penulis naskah cerita bagi film drama komedi aksi ini, Partikelir menghadirkan elemen-elemen komedi yang mungkin telah terasa familiar bagi para penggemar celotehan Pragiwaksono. Sayang, sebagai sebuah presentasi cerita keseluruhan, Partikelir tidak mampu berbicara banyak dan seringkali terasa goyah dalam banyak bagian pengisahannya. Continue reading Review: Partikelir (2018)

Advertisements

Review: Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

air-dan-api-posterMerupakan sekuel bagi film Si Jago Merah (Iqbal Rais, 2008), Si Jago Merah 2: Air & Api kini melanjutkan kisah perjalanan karir dua karakter dari seri sebelumnya, Gito (Deddy Mahendra Desta) dan Rojak Panggabean (Judika Sihotang), sebagai anggota petugas pemadam kebakaran. Dibawah kepemimpinan Komandan Dicky (Bucek Depp), keduanya kini ditugaskan untuk membina calon petugas pemadam kebakaran yang baru. Diantara pendatang baru tersebut terdapat Radit (Tarra Budiman) yang dipaksa sang ayah untuk bergabung dalam kelompok tersebut, Dipo (Dion Wiyoko) yang bergabung karena keinginannya untuk dapat menolong orang banyak meskipun hal tersebut mendapat larangan dari sang ayah (Ferry Salim) serta Sisi (Enzy Storia) yang ingin mengikuti jejak almarhum sang ayah sebagai seorang petugas pemadam kebakaran. Tentu saja, ada banyak tantangan dalam melatih para personel baru, mulai dari masalah cinta lokasi antara sesama petugas hingga keahlian masing-masing petugas ketika diturunkan dalam lokasi bencana.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh Si Jago Merah 2: Air & Api sendiri harus diakui datang dari konten yang terkandung dalam naskah ceritanya. Sebagai sebuah film yang mengisahkan tentang para petugas pemadam kebakaran – karakter yang kisahnya masih sangat amat jarang ditemukan dalam jalan cerita film Indonesia, Si Jago Merah 2: Air & Api justru lebih banyak mengangkat masalah romansa yang terjadi antara para karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini. Bukan masalah yang cukup besar jika garisan cerita romansa tersebut mampu dikemas menarik (dan berimbang). Sayangnya, kisah cinta segitiga yang tergambar antara karakter Radit, Sisi dan Dipo terasa begitu mengganggu akibat penggalian materi cerita yang dangkal sehingga terasa bertele-tele dalam penyampaiannya. Materi kisah cinta segitiga tersebut juga mengambil porsi yang (terlalu) luas sehingga seringkali menghalangi plot-plot kisah lain yang coba ditonjolkan oleh film ini. Hasilnya, meskipun Si Jago Merah 2: Air & Api berkisah mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran, film ini sama sekali tidak pernah mampu menjadi sebuah film yang benar-benar dapat bercerita panjang kali lebar mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran.

Tidak hanya dari penceritaannya. Penggambaran karakter-karakter dalam film ini juga harus diakui terasa digambarkan cukup lemah. Kedangkalan sikap beberapa karakter dalam menghadapi masalah personal mereka jelas terasa berlawanan dengan tugas berat mereka sebagai petugas pemadam kebakaran. Si Jago Merah 2: Air & Api memanglah sebuah fiksi. Namun ketika sebuah jalan cerita film dihadapkan atau dikaitkan pada beberapa karakter yang memang telah familiar karakteristiknya, jelas hal tersebut harusnya menjadi pertimbangan tersendiri dalam pendalaman penulisan dari masing-masing karakter dalam cerita. Lemahnya penceritaan memang harus terasa cukup mengganggu. Meskipun begitu, arahan Raymond Handaya (I Love You Masbro, 2012) bagi film ini masih mampu terasa kekuatannya. Pemilihan alur penceritaan yang berjalan cepat setidaknya membuat Si Jago Merah 2: Air & Api tetap terasa lugas dalam perjalanannya. Raymond juga mampu memberikan arahan yang baik bagi tata teknikal film yang beberapa kali disajikan dengan tuntutan adanya efek visual pada gambarnya. Seluruh tatanan teknikal mampu dieksekusi dengan lancar dan terasa nyaman untuk dinikmati penonton.

Raymond Handaya juga rasanya beruntung diberkahi barisan pengisi departemen akting yang kuat dalam film ini. Mulai dari Tarra Budiman, Dion Wiyoko, Enzy Storia hingga pemeran pendukung seperti Bucek Depp, Ferry Salim dan Joehana Sutisna mampu memberikan kontribusi terbaik mereka dalam menghidupkan kehadiran setiap karakter. Namun, jelas adalah Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang yang selalu berhasil menjadi pencuri perhatian utama dalam Si Jago Merah 2: Air & Api. Keduanya mampu menjalankan plot komedi dan drama yang diberikan pada karakter mereka dengan baik. Sejujurnya, mungkin Si Jago Merah 2: Air & Api akan menjadi lebih menarik jika saja fokus penceritaan tetap diberikan pada karakter yang diperankan Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang seperti yang disajikan Iqbal Rais dalam seri sebelumnya. [C-]

Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

Directed by Raymond Handaya Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Raymond Handaya, Hilman Mutasi, Away Martianto (screenplay), Hilman Mutasi, Fajar Nugros (characters) Starring Judika Sihotang, Deddy Mahendra Desta, Dion Wiyoko, Tarra Budiman, Enzy Storia, Abdur Arsyad, Bucek Depp, Marissa Nasution, Girindra Kara, Joehana Sutisna, Putri Una, Ferry Salim, Meriam Bellina, Dwi Yan, Volland Humonggio, Lina Marpaung, Kezia Karamoy, Umar Lubis, Sacha Stevenson, Ingrid Widjanarko, Joshua Pandelaki, Mongol Stres, Laila Sari, Iranty Purnamasari Music by Andhika Triyadi Cinematography Yoyok Budi Santoso Editing by Wawan I. Wibowo, Dody Chandra Studio Starvision Running time 99 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: This is Cinta (2015)

this-is-cinta-posterIt’s only February but heyit’s never too early to release the likely strong contender for the year’s worst movie, right? Dan beruntung, This is Cinta memiliki semua unsur yang akan membuat penontonnya merasa berdosa telah menghabiskan uang maupun waktu mereka guna menyaksikan film ini. Yes. It’s that bad.

Dengan naskah yang ditulis oleh Haqi Achmad (Refrain, 2013), This is Cinta bercerita mengenai seorang gadis bernama Rachel (Yuki Kato) dan seorang pemuda bernama Farel (Shawn Adrian Khulafa) yang dikisahkan telah menyukai satu sama lain semenjak mereka bersekolah di tingkat dasar namun kemudian terpisah ketika keluarga Rachel membawa gadis tersebut ke luar negeri. Meskipun terpisah dan sama sekali tidak pernah berkomunikasi satu sama lain, rasa suka antara keduanya tidak pernah menghilang dan justru terus menguat. Dua belas tahun kemudian, Rachel akhirnya kembali ke Indonesia. Tentu saja, Rachel dengan segera mencari dimana keberadaan Farel. Sayang, hubungan antara Rachel dan Farel kini terhambat oleh perjodohan yang dibentuk oleh Mama Rachel (Aida Nurmala) dengan anak dari sahabatnya, Nico (Fandy Christian).

Ada begitu banyak masalah dalam presentasi cerita This is Cinta. Yang pertama, dan mungkin sumber utama masalah terbesar bagi film ini, adalah naskah ceritanya. This is Cinta sebenarnya menawarkan garis penceritaan yang familiar dan jelas telah diramu oleh banyak film sejenis sebelumnya. Namun, ramuan Haqi Achmad untuk film ini terasa lemah di begitu banyak bagiannya – mulai dari penulisan dialog, karakter-karakter pendukung yang hadir tanpa porsi penceritaan yang jelas hingga motif dari beberapa karakter yang gagal untuk dikembangkan dengan baik. Lihat saja bagian dimana Mama Rachel digambarkan begitu membenci hubungan persahabatan antara anaknya dengan Farel tanpa penyebab yang pasti atau bagaimana karakter Nico tiba-tiba digambarkan menjadi sosok psikopat yang mampu menculik gadis idamannya atau ketika karakter Sasha (Fahira Alidrus) yang begitu menyukai Farel hadir di banyak adegan tanpa pernah dilibatkan atau serasa berguna dalam adegan tersebut. Terasa begitu konyol dan sangat, sangat menggelikan.

Tidak berhenti sampai disitu. Naskah cerita This is Cinta juga beberapa kali mengalami perubahan nada cerita pada paruh kedua dan ketiganya. Selain perubahan dari pengisahan drama romansa menjadi thriller ketika adegan karakter Nico digambarkan menculik dan menyekap Rachel, film ini juga berubah menjadi drama supranatural ketika jiwa dari karakter Rachel digambarkan terperangkap di dunia arwah dan tak mampu kembali lagi ke dunia nyata. Usaha yang sepertinya ingin meniru Just Like Heaven (Mark Waters, 2005) atau The Lovely Bones (Peter Jackson, 2009) namun sekali lagi berakhir sangat mamalukan akibat penulisan yang sangat lemah. Perubahan nada-nada penceritaan yang seringkali hadir secara tiba-tiba inilah yang membuat naskah cerita This is Cinta semakin terpuruk seiring dengan berjalannya durasi penceritaan film ini.

Pengarahan dari Sony Gaokasak (Bidadari-Bidadari Surga, 2012) juga jelas sama sekali tidak membantu. Sony terasa mengarahkan jalan cerita This is Cinta dengan tanpa adanya dorongan semangat sama sekali. This is Cinta akhirnya berjalan dengan ritme penceritaan yang berantakan dan datar dalam penyampaian emosionalnya. Keputusan Sony untuk menghadirkan gambar-gambar indah bagi This is Cinta memang cukup sesuai dengan mood penceritaan bagi film-film sejenis. Sayangnya, naskah penceritaan dan pengarahan yang demikian buruk telah mendorong kualitas This is Cinta untuk jatuh sedemikian dalam. Begitu pula dengan arahan musik dari Andhika Triyadi yang menampilkan tatanan musik khas film drama romansa Indonesia sejenis: berusaha (memaksa?) untuk menyentuh sanubari penonton dengan susunan musik orkestra di banyak adegan film.

Dari departemen akting, hampir seluruh jajaran pemeran film ini tampil lugas dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hampir, karena pemeran utama pria dalam film ini, Shawn Adrian Khulafa, sama sekali tidak berakting dalam film ini. Dan mengingat bahwa ia merupakan pemeran utama yang tampil hampir di setiap adegan maka ketidakmampuan Shawn jelas menjadi sebuah lubang yang sangat besar lainnya bagi kualitas film. Di sepanjang penceritaan film, Shawn Adrian Khulafa tampil dengan mimik wajah dan pengucapan dialog yang sangat, sangat datar. Mungkin Shawn berniat menampilkan sosok karakternya seperti karakter… let’s say… Edward Cullen dalam seri The Twilight Saga (2008 – 2012). Namun bahkan sosok pria yang telah bangkit dari kematiannya saja akan memiliki ekspresi wajah yang berbeda ketika ia baru saja mengalami kecelakaan dan kemudian lari kesana-kemari di rumah sakit untuk mencari tahu keadaan sang kekasih yang juga terlibat kecelakaan tersebut. Shawn Adrian Khulafa? Tidak. Tampil tetap dengan wajah datarnya yang sangat mengesalkan. Dan oh… Suara Shawn juga tampil sama datarnya ketika berduet dengan Yuki Kato dalam menyanyikan lagu tema film yang berjudul This is Cinta. Ouch.

Pemeran lain tampil tidak begitu mengecewakan. Yuki Kato cukup lugas dalam memerankan Rachel. She’s a good actress. Sayang Yuki seringkali terjebak dalam film-film berkualitas buruk atau medioker. Ari Wibowo dan Unique Priscilla tampil lumayan dalam peran yang begitu terbatas. Begitu pula dengan Fandy Christian dan Sasha Alidrus. Sementara itu, Aida Nurmala seringkali terlihat berlebihan dalam menterjemahkan karakternya sebagai seorang ibu yang overprotective terhadap anaknya. But wellthis movie probably deserves that kind of overacting and half-hearted performance. [E]

This is Cinta (2015)

Directed by Sony Gaokasak Produced by Fiaz Servia Written by Haqi Achmad Starring Yuki Kato, Shawn Adrian Khulafa, Unique Priscilla, Ari Wibowo, Aida Nurmala, Fandy Christian, Sandrinna Skornicki, Alwi Assegaf, Richelle Skornicki, Fahira Alidrus, Indra Bekti, Yuka Idol, Yama Carlos, Joe Richard, Joshua Pandelaki, Monica Oemardi, Emmie Lemu, McDanny, Uus, Mosidik, Faradilla Yoshi Music by Andhika Triyadi Cinematography Hani Pradigya Edited by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 88 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.

Continue reading Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Review: Bebek Belur (2010)

Dying is easy. Comedy is hard. Untuk membuat sekelompok orang tertawa ketika menyaksikan Anda melucu adalah lebih sulit daripada untuk membuat sekelompok orang bersedih ketika melihat Anda sengsara. Khususnya di Indonesia, dimana hampir seluruh film komedi yang ada, harus diasosikan dengan imej wanita-wanita berpakaian minim dan guyonan-guyonan (yang tidak lucu) kasar tentang seks.

Continue reading Review: Bebek Belur (2010)