Review: Malik & Elsa (2020)

Dingkat dari novel karangan Boy Candra yang berjudul sama, alur penceritaan Malik & Elsa dimulai dengan penuturan Malik (Endy Arfian) tentang tekad dan niatnya untuk berkuliah meskipun dirinya berasal dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. Di hari pertama dirinya duduk di bangku kuliah, Malik berkenalan dengan seorang gadis bernama Elsa (Salshabilla Adriani) yang kemudian secara perlahan mulai menjadi sosok yang begitu dekat dalam keseharian Malik. Hubungan antara Malik dan Elsa ternyata memicu banyak tantangan. Kakak kelas Elsa di bangku sekolah, yang kini juga menjadi kakak kelas Malik dan Elsa di kampus mereka, Liandra (Muhamad Yahya Nur Ibrahim), ternyata memendam perasaan pada Elsa yang membuat dirinya sering memanasi teman-temannya untuk mengganggu Malik. Ibu Elsa (Nina Rahma) juga menilai kehadiran Malik memberikan pengaruh buruk pada Elsa. Tidak ingin memberikan lebih banyak masalah pada Elsa, Malik mulai mempertimbangkan gadis yang sangat disukainya itu.

Harus diakui, sulit untuk tidak memberikan perbandingan langsung antara Malik & Elsa dengan seri film Dilan (1998 – 2020) arahan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq serta sama-sama diproduksi oleh rumah produksi MAX Pictures tersebut. Jelas bukan suatu masalah besar jika Malik & Elsa juga ingin membawakan tema cerita tentang drama romansa remaja dengan balutan barisan dialog puitis seperti yang dahulu telah dilakukan oleh seri film yang berhasil meraih sukses luar biasa secara komersial tersebut. Sayangnya, naskah cerita garapan Nana Mulyana dan Media Kita untuk film ini tampil dengan begitu banyak keterbatasan untuk menghasilkan jalinan kisah yang sama menariknya. Malik & Elsa memang mencoba untuk berbicara tentang banyak hal dalam linimasa ceritanya namun, di banyak kesempatan, konflik maupun topik yang telah disajikan tersebut tidak pernah mampu untuk mendapatkan penggalian kisah secara lebih kuat maupun mendalam.

Lihat saja bagaimana film ini mencoba untuk menghadirkan sosok karakter Malik sebagai sosok pemuda yang ingin merubah nasib keluarganya dengan meneruskan pendidikannya ke tingkat kuliah. Tema ini kemudian terkesampingkan begitu saja ketika alur kisah romansa antara karakter Malik dan Elsa mulai terbentuk. Atau tentang bagaimana karakter Malik digambarkan sebagai seorang penulis cerita yang handal. Tidak pernah terbangun dengan meyakinkan hingga, secara tiba-tiba, komponen kisah tersebut dimunculkan di paruh akhir film. Tidak hanya dari konflik cerita, karakter-karakter yang muncul di linimasa penceritaan Malik & Elsa juga banyak yang disajikan dangkal dan hanya muncul serta digunakan saat diperlukan saja. Karakter Liandra, contohnya, yang dikesankan memiliki masa lalu dan menyimpan perasaan terhadap karakter Elsa namun tidak pernah diberikan porsi cerita yang membuat kehadirannya benar-benar berarti. Cukup mengganggu.

Kisah romansa yang terjalin antara karakter Malik dengan Elsa juga bukannya mampu dihadirkan secara kuat. Hampir separuh perjalanan dari 97 menit durasi pengisahan Malik & Elsa hanya berisi kisah tentang kedua karakter utama film ini berjalan-jalan (seringnya di pantai) dan menikmati makan siang mereka. Tentu saja dibumbui dengan dialog bernuansa puitis yang akan cukup mampu membuat meringis bagi siapapun yang mendengarnya. Jika seri film Dilan berlatarbelakang lokasi cerita di kota Bandung, Jawa Barat maka Malik & Elsa memiliki latar lokasi cerita di kota Padang, Sumatera Barat. Hanya sekedar lokasi. Selain dari beberapa penggunaan bahasa daerah dan tampilan visual akan sekitaran kota, film ini tidak memiliki esensi kuat mengapa jalan ceritanya harus berada di wilayah tersebut. Sejumlah karakter bahkan terdengar menggunakan bahasa yang akrab digunakan di pergaulan kaum muda ibukota di beberapa bagian film.

Arfian dan Adriani sendiri tampil cukup menyenangkan sekaligus meyakinkan sebagai pasangan. Chemistry yang erat antara keduanya mampu menghadirkan beberapa momen manis dalam pengisahan Malik & Elsa terlepas dari lemahnya kualitas penampilan film ini dari berbagai lini lainnya. Pengisi departemen akting film lain, sayangnya, tidak mampu memberikan kontribusi sekuat penampilan Arfian dan Adriani. Banyak dari pemeran film bahkan tampil begitu kaku dalam menghidupkan adegan maupun mengutarakan setiap dialog mereka. Tidak banyak hal lain yang dapat diutarakan dari film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi Eddy Prasetya ini. Dengan kualitas cerita dan pengarahan yang tampil seadanya – jika tidak ingin menyebutnya sebagai lemah – Malik & Elsa tidak mampu untuk menjadikan presentasinya secara keseluruhan meninggalkan kesan yang benar-benar berarti.

Malik & Elsa (2020)

Directed by Eddy Prasetya Produced by Agus Basuki, Ody Mulya Hidayat Written by Nana Mulyana, Media Kita (screenplay), Boy Candra (book, Malik & Elsa) Starring Endy Arfian, Salshabilla Adriani, Joshua Pandelaki, Muhamad Yahya Nur Ibrahim, Hendra Lesmana, Budi Setyawan, Nina Rahma, Hanif Alkadri, Mak Ipin, Fauzan Azima, Aidil Adha, Della VS, Mahyeldi Ansharullah, Boy Candra, Lucky Afaratu, Joshua Sebastian Boentoro Music by Indra Q Cinematography Riski Dwipanca Edited by Sentot Sahid Production company MAX Pictures Running time 97 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply