Review: Bebek Belur (2010)

Dying is easy. Comedy is hard. Untuk membuat sekelompok orang tertawa ketika menyaksikan Anda melucu adalah lebih sulit daripada untuk membuat sekelompok orang bersedih ketika melihat Anda sengsara. Khususnya di Indonesia, dimana hampir seluruh film komedi yang ada, harus diasosikan dengan imej wanita-wanita berpakaian minim dan guyonan-guyonan (yang tidak lucu) kasar tentang seks.

Lalu apa yang akan ditawarkan Bebek Belur? Film ini sendiri merupakan karya kedua dari sutradara Adrianto Sinaga. Sebagian dari Anda mungkin mengingat debut film pertamanya di tahun 2007 yang bergenre horror, Hantu. Dimasa rilisnya, film tersebut meraih banyak kritikan yang cukup baik ketika film tersebut dianggap sebagai sebuah film horror yang sederhana namun jauh berkualitas dari standar film horror yang sedang banyak dirilis di bioskop saat itu (baca: hingga kini).

Sesungguhnya, tidak akan ada orang yang menyangka bahwa Adrianto akan mampu menerapkan konsep yang sama seperti yang diterapkannya di Hantu dan berhasil dengan baik di sebuah film drama komedi seperti Bebek Belur. Dengan menampilkan jajaran pemeran yang terdiri dari aktor dan aktris — yang rata-rata memiliki kemampuan untuk tampil melucu — dari dua generasi, Adrianto berhasil mengeksekusi Bebek Belur menjadi sebuah film drama komedi yang sederhana… namun mampu berhasil menghibur setiap penontonnya.

Namun, bukan berarti perjalanan yang ditempuh selama masa tayang Bebek Belur bebas dari hambatan. Harus diakui, naskah cerita yang dimiliki oleh film ini tergolong lemah. Bercerita mengenai percintaan dua orang pemuda dari Desa Cibulu, Sari (Rini Yulianti) dan Dadang (Mario Irwinsyah), yang harus menerima kenyataan bahwa hubungan mereka ternyata tidak direstui oleh ibu Sari (Ully Artha). Ketidaksetujuan ibu Sari semakin menjadi setelah ia mengenal Sugi (Torro Margens), seorang pejabat negara tua dan kaya raya dari Desa Cibebek yang ternyata menaruh hati pada Sari. Seperti yang bisa ditebak, ibu Sari kemudian “menjual” Sari dengan memaksanya untuk menikah dengan Sugi demi mendapatkan harta Sugi yang dikatakannya berlimpah itu.

Itu adalah cerita dari sisi dramanya. Di sudut lain, di Desa Cibebek, tempat Sugi berasal, sekelompok pemuda (para anggota kelompok komedi Bajaj plus Valentino) sedang berusaha mengikutkan band yang di-“manajeri” oleh Valentino, GUSI (dimainkan oleh para anggota band Indonesia bernama… GIGI), dalam sebuah perlombaan seni dua generasi yang digelar oleh Pak Sam (Sam Bimbo). Dan dari merekalah sumber-sumber tawa dan komedi di Bebek Belur banyak mengalir.

Dua cerita diatas hanyalah dua cerita dasar yang ditawarkan oleh Bebek Belur kepada penontonnya. Di dalam perjalanannya, Bebek Belur menghadirkan banyak anak plot cerita yang mungkin akan sedikit mengesalkan bagi sebagian orang. Sudah banyak, sebagian dari anak plot tersebut malah terkesan hanya numpang lewat saja, tanpa ada penjelasan lebih mendalam mengenai ceritanya.

Untungnya, film komedi sejenis ini sepertinya lebih membutuhkan improvisasi dari para pemainnya daripada kekuatan naskah cerita yang ada. Dan harus diakui, seluruh jajaran pemeran Bebek Belur berhasil menaikkan kelas jalan cerita film ini dari sebuah film komedi dengan naskah cerita yang membosankan-nyaris-menyebalkan menjadi sebuah film komedi dengan naskah cerita yang hampir-membosankan-namun-sering-terselamatkan. Lihat saja barisan pemerannya yang terdiri dari Didi Petet, Torro Margens (biasanya berperan antagonis namun tampil sangat komikal disini), Ida Kusumah, Valentino, Bajaj dan Tessa Kaunang, secara meyakinkan berhasil melakukan improvisasi yang sangat baik atas naskah yang sederhana tadi.

Jika nama-nama diatas tampil dengan kemampuan komedi mereka, maka nama-nama seperti Rini Yulianti, Mario Irwinsyah, Slamet Rahardjo, Rima Melati, Ully Artha dan Jajang C Noer harus tampil menunjukkan kemampuan drama mereka (sesekali juga melakukan tampilan komedi). Walaupun tak sekuat tampilan para jajaran pemeran yang berada di sisi naskah komedi (itupun karena memang sisi naskah drama film ini yang kurang mendukung), namun setidaknya para aktor dan aktris tersebut tidak membawakan naskahnya terasa menjadi lebih buruk dari seharusnya.

Semua hal diatas dibungkus Adrianto dengan teknis yang sederhana. Sama sekali tidak ada yang dapat dikatakan memiliki kualitas lebih dari sisi teknikal film Bebek Belur. Bahkan, editing, pencahayaan dan tata suara kadang-kadang terasa sedikit ‘terlalu sederhana’ walaupun belum sampai pada level mengganggu para penontonnya.

Naskah dengan banyak plot cerita dan banyak karakter yang ingin ditampilkan memang akan memberikan kesulitan sendiri bagi seorang sutradara. Mereka harus menjadi lebih berhati-hati lagi untuk tetap mengembangkan satu karakter atau cerita tanpa meninggal karakter atau cerita lainnya. Adrianto Sinaga mungkin masih belum berhasil mencapai hal tersebut di film Bebek Belur ini. Namun, setidaknya Adrianto berhasil dalam memilih dan mengarahkan jajaran pemeran yang tepat untuk menghidupkan film dengan naskah cerita yang seadanya ini. Lagipula, siapa yang tidak akan terkesan dengan film ini jika setelah menontonnya, Anda tidak akan merasakan apapun selain telah merasa terhibur. Dan itu adalah inti dari sebuah film komedi.

Rating: 3.5 / 5

Bebek Belur (The Agency & Square Box Film, 2010)

Bebek Belur (2010)

Directed by Adrianto Sinaga Produced by Damiana Widowati Written by David Rasidi, Siskania, Heri Sucahyano, Rudi Sipit, Bayu SG Trisunu, Chairul Rijal Starring Torro Margens, Ully Artha, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Ida Kusumah, Jajang C Noer, Joshua Pandelaki, Rima Melati, Nungki Kusumastuti, Sam Bimbo, GIGI, Sigit Hardadi, Nana S Patah, Bajaj, Thessa Kaunang, Valentino, Ade Firman Hakim, Laela Sari, Rini Yulianti, Mario Irwinsyah, Deddy Mizwar, Kaharudin Syah Music by Aksan Sjuman Cinematography Agni Aryatama Studio The Agency & Square Box Film Running time 108 minutes Language Indonesian

Leave a Reply