Tag Archives: Monica Sayangbati

Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.

Continue reading Review: Garuda Di Dadaku 2 (2011)

Advertisements

Review: Lima Elang (2011)

Mengarahkan sebuah film keluarga bukanlah sebuah hal yang mudah. Secara universal, film-film dari genre ini kebanyakan akan dimanfaatkan sebagai sebuah media untuk menghibur para penonton muda. Ini yang kemudian menyebabkan banyak pembuat film secara mudah menghadirkan jalan cerita dengan tingkat intelejensia yang sepertinya sengaja untuk ‘direndahkan’ ketika mereka memproduksi sebuah film keluarga. Film keluarga yang cerdas jelas merupakan film yang tetap mampu menghibur para penonton muda namun tidak lantas membuat para penonton yang lebih dewasa merasa diasingkan dan seperti terjebak dalam jalan cerita yang kekanak-kanakan (baca: tidak masuk akal). Lalu, bagaimana Rudi Soedjarwo – yang selama ini lebih sering mengarahkan jalan cerita berorientasi remaja dan dewasa – dapat mengarahkan sebuah film keluarga?

Continue reading Review: Lima Elang (2011)

Review: Serdadu Kumbang (2011)

Sebuah film Indonesia. Dengan latar belakang cerita di sebuah daerah yang mungkin belum banyak dieksplorasi oleh para sineas perfilman negara ini. Menggunakan anak-anak setempat sebagai pemerannya. Mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari dari anak-anak tersebut. Memberi fokus lebih pada satu karakter anak dimana ia sedang memiliki permasalahan dalam menghadapi kehidupan atau keluarganya. Dan jika beruntung, sebuah kisah mengenai pendidikan yang didapatkan oleh anak-anak tersebut. Laskar Pelangi (2008)? Bukan. Denias, Senandung di Atas Awan (2006) ? Bukan. The Mirror Never Lies? Bukan. Batas? Juga bukan.

Continue reading Review: Serdadu Kumbang (2011)