Tag Archives: Sacha Stevenson

Review: Lamaran (2015)

lamaran-posterJika judul sebuah film dapat diibaratkan sebagai sebuah kata pembuka yang mampu memberikan penonton perkenalan mengenai jalan cerita film yang akan mereka saksikan, maka Lamaran jelas bukanlah sebuah judul yang tepat bagi film terbaru arahan Monty Tiwa (Operation Wedding, 2013) ini. Kembali menggarap naskah cerita yang ditangani oleh Cassandra Massardi (Aku, Kau & KUA, 2014), Lamaran memang berkisah tentang kerumitan hubungan asmara antara seorang gadis berdarah Batak dengan seorang pemuda berdarah Sunda akibat tekanan adat yang datang dari kedua keluarga mereka. Namun, kisah romansa tersebut hanyalah satu dari sekian banyak konflik yang dihadirkan dalam film berdurasi 105 menit ini dan sama sekali tidak pernah benar-benar menjadi fokus penceritaan utama film. Hal inilah yang seringkali membuat Lamaran gagal untuk tampil solid dalam mengisahkan penceritaan seluruhnya.

Jalan cerita Lamaran sendiri dimulai ketika seorang pengacara wanita ambisius bernama Tiar Sarigar (Acha Septriasa) dengan berani mengambil langkah untuk menangani sebuah kasus korupsi yang membuatnya berhadapan dengan seorang pimpinan kelompok mafia bernama Arif Rupawan (Dwi Sasono). Untuk melindungi Tiar dari ancaman yang dapat membahayakan hidupnya selama menangani kasus tersebut, dua agen rahasia, Ari (Arie Kriting) dan Sacha (Sacha Stevenson), akhirnya ditugaskan untuk mengawal keberadaannya. Ari dan Sacha kemudian merekrut resepsionis kantor Tiar yang polos, Aan (Reza Nangin), untuk berpura-pura sebagai kekasih Tiar agar dapat terus berada di samping gadis berdarah Batak tersebut. Sialnya, keberadaan Aan yang berdarah Sunda mendapat tentangan dari keluarga Tiar yang lebih memilih agar Tiar mendapatkan suami yang juga memiliki latar belakang adat yang sama dengan dirinya. Keributan antar keluarga tentang hubungan asmara Tiar dengan Aan jelas tidak dapat dihindari.

Lamaran bukannya hadir tanpa momen-momen romansa maupun komedi yang mampu menghibur penontonnya. Beberapa bagian film ini akan sukses mengundang tawa, khususnya yang berasal dari karakter Bu Sarigar yang diperankan oleh Mak Gondut atau dari interaksi antara karakter Arie dan Sacha, serta beberapa momen romansa yang muncul dari hubungan karakter Aan dan Tiar. Sayangnya, Lamaran terlalu banyak mencoba untuk menghadirkan begitu banyak konflik dalam jalan ceritanya. Mulai dari konflik latar belakang adat antara keluarga karakter Tiar dan Aan, perkembangan hubungan antara Tiar dan Aan hingga kasus korupsi yang sedang ditangani karakter Tiar. Akibatnya, tak satupun diantara konflik tersebut yang mampu berkembang dengan penuh dan akhirnya terasa muncul sebagai potongan-potongan kisah yang tersaji secara setengah matang.

Banyaknya konflik yang hadir juga menyisakan ruang yang minim bagi banyak karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini untuk mendapatkan pengembangan kisahnya. Yang paling miris jelas terlihat pada karakter Aan yang seringkali hanya ditampilkan sebagai karakter yang tidak melakukan tindakan apapun – meskipun sosoknya adalah salah satu sosok karakter utama. Untungnya Reza Nangin memiliki daya tarik tersendiri yang mampu membuat karakternya tetap tampil menarik. Chemistry yang ia jalin bersama Acha Septriasa jelas bukanlah salah satu on-screen chemistry terkuat yang pernah tampil dalam sebuah film Indonesia. Meskipun begitu, hubungan antara karakter Aan dan Tiar tetap mampu ditampilkan secara manis, khususnya di paruh akhir penceritaan film.

Acha Septriasa sendiri tampil tidak mengecewakan – terlepas dari aksen Batak-nya yang lebih sering berkesan stereotypical daripada meyakinkan sebagai seorang wanita berdarah Batak. Para pemeran pendukung dalam Lamaran cukup mampu mencuri perhatian, seperti Mak Gondut, duo Arie Kriting dan Sacha Stevenson ataupun Dwi Sasono dan Mongol Stres meskipun keduanya hadir tanpa plot penceritaan dan karakter yang begitu jelas. Lamaran, secara keseluruhan, bukanlah presentasi yang benar-benar buruk. Film ini hanya melantur terlalu banyak dengan menyajikan terlalu banyak konflik yang gagal untuk dikembangkan dengan baik dalam penceritaannya sehingga gagal untuk benar-benar mampu menampilkan sebuah jalan cerita yang solid. [C-]

Lamaran (2015)

Directed by Monty Tiwa Produced by Gope T. Samtani Written by Cassandra Massardi Starring     Reza Nangin, Acha Septriasa, Arie Kriting, Sacha Stevenson, Cok Simbara, Mak Gondut, Wieke Widowati, Mongol Stres, Restu Sinaga, Marwoto, Tora Sudiro, Dwi Sasono, Eka D. Sitorus, Dharty Manulang, Ozzol Ramdan, Project Pop Music by Ganden Bramanto Cinematography by Rollie Markiano Editing by Ganda Harta Studio  Rapi Films Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Review: Comic 8: Casino Kings – Part 1 (2015)

comic-8-casino-kings-part-1-posterComic 8: Casino Kings – Part 1 adalah bagian pertama dari dua bagian film yang telah direncanakan sebagai sekuel dari film Comic 8 yang berhasil meraih predikat sebagai film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak ketika dirilis pada awal tahun 2014 lalu. Seperti layaknya sebuah sekuel, Anggy Umbara merancang Comic 8: Casino Kings – Part 1 sebagai sebuah sajian yang lebih mewah dan megah jika dibandingkan dengan pendahulunya. Berhasil? WellComic 8: Casino Kings – Part 1 memang mampu tampil dengan deretan guyonan yang beberapa kali berhasil mengundang tawa penonton. Jajaran pemerannya yang berisi (sangat) banyak wajah familiar di industri film Indonesia juga tampil menyenangkan dalam peran komikal mereka. Namun, terlepas dari penampilannya yang lebih mewah, Comic 8: Casino Kings – Part 1 masih gagal untuk menghindar dari kesalahan yang telah dibuat oleh film pendulunya. Hal ini masih ditambah dengan keberadaan sindrom film yang jalan ceritanya dibagi menjadi dua bagian yang kemudian membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 terasa berjalan begitu bertele-tele khususnya di bagian akhir pengisahannya.

Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Anggy Umbara bersama dengan Fajar Umbara, Comic 8: Casino Kings – Part 1 melanjutkan kisah seri pendahulunya ketika delapan agen rahasia yang berada dibawah pimpinan Indro Warkop untuk menyamar menjadi komika demi mencari seorang komika yang menjadi penghubung ke seorang pemilik kasino terbesar di Asia yang sering disebut dengan sebutan nama The King. Jelas bukan sebuah tugas yang mudah. Kedelapan agen rahasia tersebut masih harus dikejar-kejar pihak kepolisian akibat tindakan perampokan bank yang telah mereka lakukan di seri sebelumnya. Mereka juga harus menghadapi sederetan kelompok penjahat yang berusaha menghalangi agar tugas mereka gagal untuk terselesaikan.

Bagian awal penceritaan Comic 8: Casino Kings – Part 1 jelas merupakan bagian terbaik dari film ini. Anggy Umbara memulai filmnya dengan tampilan visual berteknologi tinggi yang akan mampu memuaskan setiap penonton yang menginginkan lebih banyak adegan aksi dari film ini. Para pemeran film, mulai dari delapan komika yang berperan sebagai agen rahasia hingga para pemeran pendukung lain seperti Boy William, Prisia Nasution, Dhea Ananda hingga Gita Bhebita, juga berhasil mengeksekusi dialog-dialog penuh komedi mereka dengan sangat baik. Anggy Umbara sendiri mengemas Comic 8: Casino Kings – Part 1 sebagai satuan potongan-potongan cerita dan kemudian seperti mengacak linimasa penceritaan sehingga tidak lantas berjalan linear. Sayang, pengacakan linimasa yang dihadirkan dalam film ini terkesan sebagai gimmick belaka tanpa pernah benar-benar terasa sebagai sebuah hal yang esensial maupun berpengaruh pada kualitas penceritaan secara keseluruhan.

Memasuki pertengahan penceritaan, seiring dengan semakin banyaknya karakter yang memenuhi garis pengisahan film, Comic 8: Casino Kings – Part 1 mulai terasa kehilangan arah. Banyak diantara karakter yang hadir tampil tanpa peran penceritaan yang kuat. Begitu juga dengan plot penceritaan yang hadir dengan konflik yang terkesan sengaja ditahan untuk disimpan dan disimpan pada bagian film berikutnya. Hasilnya jelas membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 terasa tidak maksimal dalam presentasinya. Setelah dimulai dengan berbagai keberhasilan untuk tampil menghibur, paruh kedua dan ketiga penceritaan film serasa berjalan melamban tanpa pernah sekalipun mampu menghasilkan kualitas hiburan yang sama seperti paruh penceritaan pendahulunya. Cukup disayangkan mengingat Comic 8: Casino Kings – Part 1 memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadi film aksi komedi yang cukup fantastis.

Adalah mudah untuk mengetahui bahwa Anggy Umbara memiliki konsep yang sangat megah untuk sekuel Comic 8. Sayangnya, sebagai sebuah film yang diniatkan untuk hadir dalam dua bagian film, Comic 8: Casino Kings – Part 1 jelas masih memiliki garis penceritaan yang cukup rapuh. Berbagai plot dan konflik yang sengaja ditampilkan setengah matang untuk kemudian diselesaikan pada bagian film selanjutnya justru membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 kehilangan banyak momen emasnya. Jajaran pemeran film ini memang masih sangat mampu memberikan banyak hiburan kepada para penonton. Namun, lebih dari itu, Comic 8: Casino Kings – Part 1 gagal untuk menjadi sebuah sajian yang kuat secara keseluruhan. Mudah-mudahan saja Comic 8: Casino Kings – Part 2 yang rencananya dirilis awal tahun mendatang dapat tampil lebih baik dari bagian pertamanya ini. [C]

Comic 8: Casino Kings – Part 1 (2015)

Directed by Anggy Umbara Produced by Frederica Written by Fajar Umbara Starring Mongol Stres, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, Ge Pamungkas, Indro Warkop, Sophia Latjuba, Prisia Nasution, Nikita Mirzani, Pandji Pragiwaksono, Hannah Al Rashid, Yayan Ruhian, Cak Lontong, Joehana Sutisna, Boy William, Ence Bagus, Donny Alamsyah, Agung Hercules, Agus Kuncoro, Candil, Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan, Lydia Kandou, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Dhea Ananda, Bagus Netral, Ray Sahetapy, Arief Didu, Adjis Doaibu, Isman HS, Gilang Bhaskara, Akbar Kobar, Asep Suaji, Awwe, Uus, Temon, Boris Bokir, Lolox, Bene Rajagukguk, Gita Bhebhita, Mo Sidik, Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, DJ Karen Garrett Music by Indra Q Cinematography by Dicky R. Maland Editing by Andi Mamo Studio  Falcon Pictures Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: YouTubers (2015)

youtubers-posterSetelah I Know What You Did on Facebook (2010) dan #republiktwitter (2012), jelas tidak mengherankan jika saluran media sosial internet lain kemudian menjadi sumber inspirasi bagi film Indonesia lainnya. Diarahkan serta ditulis naskahnya oleh duo Kemal Palevi dan Jovial da Lopez, YouTubers adalah sebuah film yang sepertinya ingin memperkenalkan para penggiat video kreatif YouTube asal Indonesia ke khalayak yang lebih luas sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui setiap langkah proses pembuatan sebuah video sebelum akhirnya video tersebut diunggah ke berbagai saluran YouTube dan disaksikan jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia. Terdengar terlalu serius? Tidak juga. Disajikan dalam nada pengisahan komedi yang kental, YouTubers mampu tampil cukup menghibur meskipun dengan beberapa kelemahan yang hadir di berbagai sudut penampilannya.

Jalan cerita YouTubers sendiri dimulai dengan pengisahan tentang seorang pemuda bernama Jovial da Lopez (Jovial da Lopez) yang demi berusaha untuk mengesankan sang kekasih, Alexandra (Anggika Bolssterli), kemudian mengikuti proses casting sebuah film yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo. Tidak hanya mendapatkan penolakan, proses casting yang diikuti Jovial berjalan begitu memalukan. Lebih sial lagi, adik Jovial, Andovi da Lopez, merekam seluruh proses casting tersebut dan kemudian mengunggahnya ke YouTube. Jelas Jovial kemudian merasa Andovi telah mempermalukan dirinya. Namun, ketika melihat reaksi internet yang cukup positif terhadap unggahan video tersebut yang dinilai lucu dan menghibur, Jovial dan Andovi mulai menyusun rencana untuk membuat video yang akan diunggah ke YouTube secara regular. Dalam waktu singkat, saluran YouTube yang dimiliki oleh Jovial dan Andovi mendapatkan banyak penggemar dan membuka pintu mereka untuk berkenalan sekaligus bekerjasama dengan banyak penggiat video YouTube lainnya.

Meskipun masih mampu hadir dengan beberapa guyonan yang harus diakui cukup menghibur namun naskah cerita YouTubers jelas merupakan bagian terlemah dari presentasi keseluruhan film ini. Naskah cerita garapan Kemal Palevi dan Jovial da Lopez terkesan hanyalah sebagai kumpulan beberapa sketsa komedi yang kemudian berusaha direkatkan oleh jalinan kisah utama hubungan karakter Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez dalam usaha mereka untuk bersaing dan memproduksi deretan video yang akan mereka unggah ke YouTube. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih terasa sebagai sebuah usaha yang minimalis ketika baik Kemal Palevi maupun Jovial da Lopez masih memperlakukan debut penyutradaraan mereka setara dengan usaha untuk mengarahkan sebuah video berdurasi singkat yang biasa mereka unggah ke YouTube.

YouTubers juga memberikan ruang yang (terlalu) luas bagi kehadiran cameo yang berisikan wajah-wajah familiar di industri film Indonesia sekaligus banyak para penggiat video kreatif YouTube popular asal Indonesia. Sayangnya, deretan cameo ini secara perlahan lebih sering terasa sebagai distraksi terhadap jalan cerita yang sedang berjalan daripada sebagai elemen hiburan maupun pelengkap bagi pengisahan YouTubers. Cukup mengganggu khususnya ketika film ini menghabiskan cukup banyak durasi penceritaannya bagi kehadiran deretan cameo tersebut dan bukan untuk penggalian kisah yang lebih mendalam. YouTubers mungkin diniatkan sebagai sebuah sajian untuk bersenang-senang – termasuk dengan penampilan para jajaran pemerannya yang hampir seluruhnya hadir sebagai diri mereka sendiri. Namun hal tersebut jelas bukan alasan untuk menyajikannya sebagai sebuah komedi dangkal. [C-]

YouTubers (2015)

Directed by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Starring Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, Anggika Bolsterli, Kemal Palevi, Donna Harun, DJ Yasmin, Ge Pamungkas, Yuniza Icha, Adinda Thomas, Rayi Putra, Marlo Ernesto, Hanung Bramantyo, Zaskia Adya Mecca, Fajar Nugros, Rani Ramadhany, Pandji Pragiwaksono, Tyas Mirasih, Eriska Rein, Pamela Bowie, Akbar Kobar, Sacha Stevenson, Natasha Farani, Ucok Baba, Agung Herkules, Benakribo, Edho Zell, Chandra Liow, Bayu Skak, Alfi Sugoi, Eno Bening, Duo Serigala, Raza Servia, Cesa David Luckmansyah Music by Andhika Triyadi Cinematography Roby Herbi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 96 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

air-dan-api-posterMerupakan sekuel bagi film Si Jago Merah (Iqbal Rais, 2008), Si Jago Merah 2: Air & Api kini melanjutkan kisah perjalanan karir dua karakter dari seri sebelumnya, Gito (Deddy Mahendra Desta) dan Rojak Panggabean (Judika Sihotang), sebagai anggota petugas pemadam kebakaran. Dibawah kepemimpinan Komandan Dicky (Bucek Depp), keduanya kini ditugaskan untuk membina calon petugas pemadam kebakaran yang baru. Diantara pendatang baru tersebut terdapat Radit (Tarra Budiman) yang dipaksa sang ayah untuk bergabung dalam kelompok tersebut, Dipo (Dion Wiyoko) yang bergabung karena keinginannya untuk dapat menolong orang banyak meskipun hal tersebut mendapat larangan dari sang ayah (Ferry Salim) serta Sisi (Enzy Storia) yang ingin mengikuti jejak almarhum sang ayah sebagai seorang petugas pemadam kebakaran. Tentu saja, ada banyak tantangan dalam melatih para personel baru, mulai dari masalah cinta lokasi antara sesama petugas hingga keahlian masing-masing petugas ketika diturunkan dalam lokasi bencana.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh Si Jago Merah 2: Air & Api sendiri harus diakui datang dari konten yang terkandung dalam naskah ceritanya. Sebagai sebuah film yang mengisahkan tentang para petugas pemadam kebakaran – karakter yang kisahnya masih sangat amat jarang ditemukan dalam jalan cerita film Indonesia, Si Jago Merah 2: Air & Api justru lebih banyak mengangkat masalah romansa yang terjadi antara para karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini. Bukan masalah yang cukup besar jika garisan cerita romansa tersebut mampu dikemas menarik (dan berimbang). Sayangnya, kisah cinta segitiga yang tergambar antara karakter Radit, Sisi dan Dipo terasa begitu mengganggu akibat penggalian materi cerita yang dangkal sehingga terasa bertele-tele dalam penyampaiannya. Materi kisah cinta segitiga tersebut juga mengambil porsi yang (terlalu) luas sehingga seringkali menghalangi plot-plot kisah lain yang coba ditonjolkan oleh film ini. Hasilnya, meskipun Si Jago Merah 2: Air & Api berkisah mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran, film ini sama sekali tidak pernah mampu menjadi sebuah film yang benar-benar dapat bercerita panjang kali lebar mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran.

Tidak hanya dari penceritaannya. Penggambaran karakter-karakter dalam film ini juga harus diakui terasa digambarkan cukup lemah. Kedangkalan sikap beberapa karakter dalam menghadapi masalah personal mereka jelas terasa berlawanan dengan tugas berat mereka sebagai petugas pemadam kebakaran. Si Jago Merah 2: Air & Api memanglah sebuah fiksi. Namun ketika sebuah jalan cerita film dihadapkan atau dikaitkan pada beberapa karakter yang memang telah familiar karakteristiknya, jelas hal tersebut harusnya menjadi pertimbangan tersendiri dalam pendalaman penulisan dari masing-masing karakter dalam cerita. Lemahnya penceritaan memang harus terasa cukup mengganggu. Meskipun begitu, arahan Raymond Handaya (I Love You Masbro, 2012) bagi film ini masih mampu terasa kekuatannya. Pemilihan alur penceritaan yang berjalan cepat setidaknya membuat Si Jago Merah 2: Air & Api tetap terasa lugas dalam perjalanannya. Raymond juga mampu memberikan arahan yang baik bagi tata teknikal film yang beberapa kali disajikan dengan tuntutan adanya efek visual pada gambarnya. Seluruh tatanan teknikal mampu dieksekusi dengan lancar dan terasa nyaman untuk dinikmati penonton.

Raymond Handaya juga rasanya beruntung diberkahi barisan pengisi departemen akting yang kuat dalam film ini. Mulai dari Tarra Budiman, Dion Wiyoko, Enzy Storia hingga pemeran pendukung seperti Bucek Depp, Ferry Salim dan Joehana Sutisna mampu memberikan kontribusi terbaik mereka dalam menghidupkan kehadiran setiap karakter. Namun, jelas adalah Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang yang selalu berhasil menjadi pencuri perhatian utama dalam Si Jago Merah 2: Air & Api. Keduanya mampu menjalankan plot komedi dan drama yang diberikan pada karakter mereka dengan baik. Sejujurnya, mungkin Si Jago Merah 2: Air & Api akan menjadi lebih menarik jika saja fokus penceritaan tetap diberikan pada karakter yang diperankan Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang seperti yang disajikan Iqbal Rais dalam seri sebelumnya. [C-]

Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

Directed by Raymond Handaya Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Raymond Handaya, Hilman Mutasi, Away Martianto (screenplay), Hilman Mutasi, Fajar Nugros (characters) Starring Judika Sihotang, Deddy Mahendra Desta, Dion Wiyoko, Tarra Budiman, Enzy Storia, Abdur Arsyad, Bucek Depp, Marissa Nasution, Girindra Kara, Joehana Sutisna, Putri Una, Ferry Salim, Meriam Bellina, Dwi Yan, Volland Humonggio, Lina Marpaung, Kezia Karamoy, Umar Lubis, Sacha Stevenson, Ingrid Widjanarko, Joshua Pandelaki, Mongol Stres, Laila Sari, Iranty Purnamasari Music by Andhika Triyadi Cinematography Yoyok Budi Santoso Editing by Wawan I. Wibowo, Dody Chandra Studio Starvision Running time 99 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Check-In Bangkok (2015)

check-in-bangkok-posterSetelah Jomblo Keep Smile (2014), sutradara Yoyok Sri Hardianto kembali bekerjasama dengan produser KK Dheeraj untuk memproduksi film komedi Check-In Bangkok. Filmnya sendiri berkisah mengenai hubungan asmara antara Renata (Mikha Tambayong) dan Krish (Saurabh Raj Jain) yang kini terjalin jarak jauh semenjak Krish dipindahtugaskan ke Bangkok, Thailand oleh perusahaan tempatnya bekerja. Suatu hari, Renata, yang ditemani sepupunya, Bejo (Bayu Skak), berkunjung ke Negara Gajah Putih tersebut untuk memberi kejutan pada sang kekasih. Sayang, kesibukan pekerjaan Krish yang begitu padat menghalangi Renata untuk mendatanginya. Renata dan Bejo akhirnya memutuskan untuk berliburan terlebih dahulu di kota tersebut. Dalam perjalanan itulah, Renata kemudian berkenalan dengan Don Glenn (Chris Laurent), seorang pembalap tampan asal Indonesia yang bersama sahabatnya, Quin (Ervan Naro), juga sedang berliburan disana. Dalam waktu singkat, hubungan Renata dan Don Glenn lantas semakin mendekat satu sama lain.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh penceritaan Check-In Bangkok jelas berasal dari penulisan naskah ceritanya yang ditangani oleh Yanto Prawoto, Dian Sukmawan dan Hilman Mutasi. Meskipun tidak istimewa, Check-In Bangkok sebenarnya dimulai tidak mengecewakan dalam mengenalkan karakter-karakter sekaligus konflik awalnya. Namun, ketika jalan cerita mulai berfokus pada perjalanan para karakter utama di Bangkok, Check-In Bangkok sepertinya kehilangan kendali atas apa yang sebenarnya ingin diceritakannya. Durasi penceritaan kemudian diisi dengan adegan para karakter mengunjungi berbagai lokasi wisata di Bangkok – yang sama sekali tidak relevan dengan jalan cerita utama film ini – serta guyonan-guyonan dangkal yang datang dari karakter Bejo dan Quin – yang kemudian terasa mengambil alih penceritaan dari para karakter utama.

Dan memang, kualitas penceritaan Check-In Bangkok tidak pernah kembali pulih kondisinya. Fokus penceritaan terus terbagi dua antara kisah cinta segitiga dari karakter Krish, Renata dan Don Glenn serta deretan guyonan yang hadir dari karakter Bejo dan Quin. Begitu terus menerus. Kedatangan karakter lain yang memperumit kisah cinta antara Krish dan Renata juga sama sekali tidak membantu. Karakter yang bernama Nabila tersebut justru terkesan membingungkan dengan digambarkan menjadi satu sosok karakter antagonis di satu bagian namun digambarkan dengan karakteristik berbeda pada bagian penceritaan lain. Hal tersebut masih ditambah keputusan para pembuat film ini untuk menyajikan sebuah monolog penutup tentang apa yang terjadi pada masing-masing karakter di akhir film. Tambahan yang sebenarnya sangat, sangat tidak diperlukan mengingat isi dari monolog tersebut yang juga terdengar begitu menggelikan.

Tidak ada masalah berarti dalam penampilan para pengisi departemen akting film ini. Mikha Tambayong, Chris Laurent, Sabrina Piscalia hingga Joehana Sutisna dan Sacha Stevenson yang tampil singkat dalam film ini memberikan penampilan yang tidak mengecewakan. Ervan Naro dan Bayu Skak sendiri dapat disebut sebagai pencuri perhatian utama dalam film ini jika saja naskah cerita film kemudian tidak mengeksploitasi karakter mereka secara berlebihan dan membuat karakter yang mereka perankan menjadi lebih terasa mengganggu daripada menghibur. Kehadiran aktor asal India, Saurabh Raj Jain, dalam film ini jelas untuk menggunakan kepopuleran serial televisi Mahabharata yang ia bintangi di kalangan penonton Indonesia. Perannya sendiri sebenarnya tidak begitu esensial, bahkan dapat digantikan oleh aktor mana saja. Pun begitu, Saurabh Raj Jain juga tampil dengan penampilan akting yang sesuai dengan kebutuhan karakter yang ia perankan. [D]

Check-In Bangkok (2015)

Directed by Yoyok Sri Hardianto Produced by KK Dheeraj Written by Yanto Prawoto, Dian Sukmawan, Hilman Mutasi Starring Saurabh Raj Jain, Mikha Tambayong, Chris Laurent, Bayu Skak, Ervan Naro, Joehana Sutisna, Sacha Stevenson, Sabrina Piscalia Music by Yovial Tripurnomo Virgi Cinematography Riski Dwipanca Edited by Andhy Pulung Production company K2K Production Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian