Review: Imperfect (2019)

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Ernest Prakasa bersama dengan Meira Anastasia dari buku karangan Anastasia sendiri yang berjudul Imperfect: A Journey to Self-Acceptance, Imperfect bertutur tentang rasa tidak percaya diri yang dimiliki oleh seorang gadis bernama Rara (Jessica Mila) akibat postur tubuhnya yang gemuk serta kulitnya yang berwarna gelap. Meskipun telah memiliki Dika (Reza Rahadian) yang dengan sesungguh hati telah begitu mencintainya, rasa rendah diri yang dimiliki Rara tidak pernah menghilang dan secara perlahan mulai mempengaruhi karir dan hubungan sosialnya. Sebuah tamparan keras bagi Rara datang ketika atasannya, Kelvin (Dion Wiyoko), mengungkapkan bahwa satu-satu halangan bagi Rara untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah penampilannya yang sering dianggap tidak pantas untuk menduduki posisi penting di kantornya. Tidak mau dirinya terus disudutkan, Rara akhirnya bertekad untuk mengubah penampilannya secara total.

Seperti halnya film-film arahan Prakasa sebelumnya, Imperfect juga tidak melulu memberikan linimasa penceritaannya pada satu konflik maupun karakter saja. Dalam perjalanan presentasinya, tema tentang self-acceptance atau penerimaan terhadap keberadaan diri sendiri dan body positivity atau apresiasi terhadap semua bentuk, ukuran, maupun warna tubuh yang menjadi benang merah penceritaan kemudian dikembangkan untuk menghadirkan konflik-konflik sampingan seperti perundungan – baik dalam keseharian maupun di dunia siber, kaum perempuan dan tantangan karirnya, maupun pandangan akan sikap maskulinitas yang berlebihan dan merusak yang dihadirkan dari sudut pandang berbagai karakter. Meskipun melakukan eksplorasi akan tema maupun konflik yang cukup beragam, Prakasa mampu menata alur pengisahan Imperfect dengan sangat memuaskan. Tiap porsi cerita dan karakter mendapatkan pengembangan yang mumpuni sehingga berhasil menghadirkan bangunan emosional yang kuat.

Langkah pengisahan Imperfect harus diakui memang berjalan dengan cukup lamban. Guna memperdalam tema atau konflik yang ingin digalinya dalam tahapan penceritaan selanjutnya, naskah cerita garapan Anastasia dan Prakasa memberikan porsi penceritaan yang cukup panjang terhadap babak awal film ini. Di saat yang bersamaan, ketika karakter Rara kemudian dikisahkan memulai masa transformasinya, Imperfect terasa meningkatkan alur ceritanya dengan sedikit terburu-buru. Memang, tidak mungkin untuk menghadirkan plot tahapan transformasi fisik dari karakter Rara secara bertahap atau utuh. Namun, pilihan untuk mengeksekusi plot tersebut dengan rangkaian kilasan kegiatan yang dilakukan oleh karakter tersebut juga sedikit merusak kesan proses yang sedang dijalaninya. Bukanlah sebuah masalah yang cukup mengganggu. Prakasa kemudian berhasil melalui kerikil kecil dalam pengisahannya tersebut dengan kembali memastikan alur cerita film bergerak lancar di bagian berikutnya.

Pendewasaan tata pengarahan dan penuturan cerita Prakasa juga dihadirkannya melalui penataan komposisi komedi yang kini dapat dijaga sehingga tidak lagi terasa sebagai elemen cerita yang mengganggu aluran kisah utama yang sedang berjalan – seperti yang seringkali dirasakan dalam film-film arahan Prakasa sebelumnya. Imperfect memang masih menghadirkan barisan komika untuk memberikan sentuhan komedi mereka. Meskipun begitu, humor dan dialog yang digunakan oleh komika-komika tersebut dibangun apik sehingga membaur mudah dengan konflik maupun karakter yang berada di sekitar mereka. Tidak seluruhnya berhasil – komponen cerita yang melibatkan kehadiran Uus dan aktingnya terasa cukup mengganggu – namun, di saat yang bersamaan, Prakasa juga berhasil mendapatkan penampilan komikal yang tidak hanya prima namun juga cerdas dari Kiky Saputri, Zsazsa Utari, Aci Resti, dan Neneng Wulandari yang mampu membuat tiap menit kehadiran mereka begitu menyenangkan bahkan beberapa kali mencuri perhatian dari barisan pemeran utama film.

Rasanya telah menjadi rahasia umum di kalangan penikmat film Indonesia bahwa bukanlah sebuah tugas yang mudah untuk barhadapan dan menjadi lawan akting dari Rahadian. Mila, untungnya, berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Karakter Rara memang tidak mendapatkan banyak momen emosional yang besar. Walaupun begitu, Mila menghidupkan karakternya dengan sangat baik, membuatnya menjadi sosok yang posisinya dapat dirasakan setiap pihak yang sekaligus menjadikannya sebagai sosok karakter yang mendapatkan dukungan perhatian secara utuh. Mila juga sukses menghadirkan penampilan akting yang memuaskan ketika mendampingi Rahadian dengan chemistry yang terasa hangat dan meyakinkan. Dengan karakter yang disajikan sebagai sosok pendukung, Rahadian juga menampilkan akting yang terlihat sederhana namun memiliki pengaruh besar dalam setiap kehadirannya. Departemen akting Imperfect juga dilengkapi dengan penampilan prima dari Dewi Irawan yang hadir sebagai sosok ibu yang hangat dan menyenangkan kehadirannya serta Shareefa Daanish yang hadir sebagai sosok karakter yang akan membuat setiap kenangan akan peran-perannya sebagai tokoh yang “haus darah” menghilang begitu saja.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

imperfect-film-indonesia-jessica-mila-reza-rahadian-movie-posterImperfect (2019)

Directed by Ernest Prakasa Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Ernest Prakasa, Meira Anastasia (screenplay), Meira Anastasia (novel, Imperfect: A Journey to Self-AcceptanceStarring Jessica Mila, Reza Rahadian, Yasmin Napper, Karina Suwandi, Dion Wiyoko, Kiki Narendra, Shareefa Daanish, Dewi Irawan, Ernest Prakasa, Clara Bernadeth, Karina Nadila, Devina Aureel, Kiky Saputri, Zsazsa Utari, Aci Resti, Neneng Wulandari, Uus, Diah Permatasari, Wanda Hamidah, Olga Lydia, Asri Welas, Sky Tierra Solana, M Yusuf Ozkan, Boy William, Tutie Kirana, Ratna Riantiarno, Hilyani Hidranto, Cathy Sharon, Ucita Pohan Music by Ifa Fachir, Dimas Wibisana Cinematography Anggi Frisca Edited by Ryan Purwoko Production company Starvision Running time 113 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Imperfect (2019)”

Leave a Reply