Tag Archives: Bima Azriel

Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Masih ingat dengan Surat Kecil untuk Tuhan (Harris Nizam, 2011)? Well… walau memiliki kesamaan judul, versi terbaru dari Surat Kecil untuk Tuhan yang diarahkan oleh Fajar Bustomi (Romeo + Rinjani, 2015) ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan maupun kesamaan garis penceritaan dengan film yang berhasil meraih tiga nominasi di ajang Festival Film Indonesia di tahun 2011 tersebut. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Upi – yang juga menjadi penulis naskah cerita bagi film Sweet 20 (Ody C. Harahap) yang dirilis di waktu yang sama dengan film ini, Surat Kecil untuk Tuhan menawarkan deretan konflik maupun karakter yang berbeda bagi para penontonnya. Tidak lagi menghadirkan alur kisah tentang seorang gadis remaja yang sedang berjuang untuk melawan penyakit yang ia derita, Surat Kecil untuk Tuhan kini bercerita tentang perjuangan seorang adik yang berusaha untuk menemukan sang kakak setelah guratan nasib secara tragis memisahkan mereka berdua. Sebuah perubahan yang cukup radikal dan cukup menyegarkan meskipun pengarahan Bustomi sayangnya tidak selalu berhasil membuat film ini mampu untuk menyentuh hati para penontonnya. Continue reading Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)

Advertisements

Review: Di Balik 98 (2015)

di-balik-98-posterDengan judul sebombastis Di Balik 98, jelas tidak salah jika banyak orang mengharapkan bahwa film yang menjadi debut penyutradaraan film layar lebar aktor watak Lukman Sardi ini akan memberikan sesuatu yang baru atau bahkan mengungkap fakta tersembunyi mengenai Kerusuhan Mei 1998. Sayangnya, hal tersebut sepertinya bukan menjadi tujuan utama dari dibuatnya film yang naskah ceritanya ditulis oleh Samsul Hadi dan Ifan Ismail ini. Tragedi yang menjadi catatan kelam masyarakat Indonesia di bidang keamanan/sosial/politik/budaya/hukum tersebut hanyalah menjadi latar belakang dari kisah perjuangan cinta dan pengorbanan cinta dari film ini. Atau itu justru yang menjadi arti dari judul Di Balik 98?

Sebenarnya tidak juga. Selain mengisi 106 menit durasi perjalanan filmnya dengan kisah dan karakter-karakter fiktif seperti Diana (Chelsea Islan), Daniel (Boy William), Bagus (Donny Alamsyah), Salma (Ririn Ekawati), Rachmat (Teuku Rifnu Wikana) dan Gandung (Bima Azriel), Di Balik 98 juga berisi karakter-karakter nyata seperti B.J. Habibie (Agus Kuncoro), Susilo Bambang Yudhoyono (Panji Pragiwaksono), Amien Rais (Eduwart Soritua) hingga Soeharto (Amoroso Katamsi) serta sekelumit kisah keberadaan mereka dalam tragedi tersebut. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah utama bagi film ini. Lukman sepertinya terlalu berusaha untuk menyeimbangkan kehadiran “kisah drama fiktif” dengan “intrik politik” dalam jalan cerita Di Balik 98. Akibatnya, tidak satupun dari kedua bagian kisah tersebut mampu tampil dengan eksplorasi yang mendalam.

Lihat saja bagaimana indikasi hubungan romansa antara karakter Diana dan Daniel yang terasa hambar karena karakter dan kisah mereka tersaji dalam kapasitas apa adanya. Atau bagaimana tidak pentingnya kehadiran kisah karakter ayah dan anak, Rachmat dan Gandung, dalam keseluruhan pengisahan Di Balik 98. Begitu pula dengan sekelumit kisah para mahasiswa aktivis maupun berbagai kegiatan yang terjadi di Istana Negara. Kesemuanya tampil setengah matang akibat penceritaan yang kurang mendalam. Datar tanpa meninggalkan kesan yang berarti.

Bukan berarti Di Balik 98 adalah sebuah film yang buruk. Sebagai seorang rookie, Di Balik 98 justru telah memperlihatkan bahwa Lukman memiliki mata yang jeli dalam materi cerita yang menarik, tata produksi yang apik – meskipun Di Balik 98 seringkali terasa terlalu bergantung pada footagefootage pemberitaan ataupun rekaman video usang mengenai tragedi tersebut di masa lampau, serta pengarahan atas para pengisi departemen aktingnya. Namun Di Balik 98 jelas akan lebih mampu tampil lebih kuat seandainya film ini mau memilih apa yang paling ingin dihantarkannya kepada penonton: menjadi sebuah film drama keluarga yang mengharu biru dengan latar Kerusuhan Mei 1998 atau tampil tegas sebagai drama politik yang mampu menyingkap berbagai kisah yang terjadi di masa itu.

Tugas pengarahan Lukman jelas sangat terbantu dengan kehandalan aktor dan aktris yang mengisi departemen akting filmnya. Nama-nama seperti Donny Alamsyah, Teuku Rifnu Wikana, Ririn Ekawati, Chelsea Islan – dan tata rias yang menghitamkan kulitnya guna meyakinkan setiap penonton bahwa ia adalah seorang aktivis kampus – hingga Alya Rohali, Amoroso Katamsi, Agus Kuncoro – meskipun akan lebih terasa sebagai tiruan Reza Rahadian yang berperan sebagai B.J. Habibie dalam Habibie & Ainun (2012) daripada sebagai sosok B.J. Habibie sendiri – dan Asrul Dahlan tampil dengan lugas terlepas dari karakter-karakter mereka yang begitu terbatas pengisahannya. Beberapa cameo yang hadir dalam memerankan tokoh-tokoh politik Indonesia juga hadir dalam film ini meskipun seringkali hanya menjadi distraksi terhadap jalan cerita daripada sebagai pelengkap kualitas penceritaan akibat peran mereka yang tampil selintas kedipan mata belaka.

Bukan sebuah debut yang buruk namun jelas akan mampu lebih berkesan jika Lukman Sardi mau memberikan kualitas penceritaan dan pengarahan yang jauh lebih tegas lagi. [C]

Di Balik 98 (2015)

Directed by Lukman Sardi Produced by Affandi Abdul Rachman Written by Samsul Hadi, Ifan Ismail Starring Chelsea Islan, Boy William, Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Teuku Rifnu Wikana, Bima Azriel, Verdi Solaiman, Alya Rohali, Fauzi Baadilla, Agus Kuncoro, Amoroso Katamsi, Marissa Puspitasasri, Elkie Kwee, Iang Darmawan, Zulkifli Nasution, Asrul Dahlan, Eduwart Soritua, Agus Cholid, Guntoro Slamet, Nursalim Mas, Rudie Purwana, Meulela Meurah, Gito Juwono, Panji Pragiwaksono, Nugraha Music by Thoersi Argeswara Cinematography Yadi Sugandi, Muhammad Firdaus Edited by Yoga Krispratama Studio MNC Pictures Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian