Tag Archives: Raihaanun

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Salawaku (2017)

Setelah bertugas sebagai asisten sutradara pada film-film seperti Soekarno: Indonesia Merdeka (Hanung Bramantyo, 2013), About a Woman (Teddy Soeriaatmadja, 2014), Haji Backpacker (Danial Rifki, 2014) dan Another Trip to the Moon (Ismail Basbeth, 2015), Pritagita Arianegara melakukan debut penyutradaraannya dalam Salawaku. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Iqbal Fadly dan Titien Wattimena, Salawaku harus diakui merupakan sebuah debut yang sama sekali tidak mengecewakan. Arianegara memiliki kemampuan yang cukup lihai dalam memilihkan alur sekaligus mengarahkan aktor-aktornya untuk memberikan performa yang tepat pada cerita yang ingin ia hadirkan. Sayangnya, Salawaku gagal untuk mendapat dukungan dasar naskah cerita yang lebih kuat. Hasilnya, meskipun di sepanjang pengisahan film ini menyajikan pemandangan yang indah akan alam sekitar Pulau Seram, Maluku, Salawaku terasa kosong dan tidak mampu memberikan sisi emosional yang lebih mengikat bagi karakter maupun konflik-konflik kisahnya. Continue reading Review: Salawaku (2017)

Review: Lovely Man (2012)

Tidak ada yang istimewa dari jalan cerita Lovely Man. Film yang diarahkan serta dikerjakan naskah ceritanya oleh Teddy Soeriaatmadja ini memang hanya menawarkan sebuah jalan cerita yang telah familiar – sebuah kisah yang bercerita mengenai jalinan kasih antara seorang ayah dan anak yang telah lama terputus untuk kemudian bersatu kembali dalam satu malam yang penuh dengan kejutan hidup. Film-film karya Teddy memang selalu menawarkan kesederhanaan penceritaan tersebut. Namun, seperti layaknya Banyu Biru (2004), Ruang (2006) dan Ruma Maida (2009), Teddy selalu menemukan cara yang tepat untuk menghantarkan kesederhanaan cerita tersebut sehingga menjadi penceritaan yang kuat, personal dan seringkali mampu tampil begitu menyentuh.

Continue reading Review: Lovely Man (2012)