Tag Archives: Raihaanun

Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Seperti yang dapat diduga, dua film Indonesia terbaik yang dirilis di sepanjang tahun ini, Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) dan Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho, 2018), berhasil mengumpulkan raihan nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2019. Kedua film tersebut sama-sama mampu meraih 12 nominasi, termasuk di kategori Film Cerita Panjang Terbaik serta Noer dan Nugroho akan bersaing untuk memperebutkan gelar Sutradara Terbaik. Selain Dua Garis Biru dan Kucumbu Tubuh Indahku, film Bumi Manusia (2019) yang diarahkan Hanung Bramantyo juga, secara mengejutkan, mampu mengumpulkan jumlah nominasi yang setara. Nama Bramantyo bahkan menggeser beberapa nama sutradara lain yang sebelumnya difavoritkan untuk mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik untuk bersanding bersama Noer, Nugroho, Ravi L. Bharwani (27 Steps of May, 2019) dan Riri Riza (Bebas, 2019) di kategori tersebut. 27 Steps of May dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019) turut melengkapi daftar peraih nominasi Film Cerita Panjang Terbaik. Continue reading Festival Film Indonesia 2019 Nominations List

Review: Twivortiare (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015), bersama dengan penulis naskah Alim Sudio (Makmum, 2019) berdasarkan novel Divortiare dan Twivortiare karya Ika Natassa, Twivortiare adalah romansa yang berkisah tentang kehidupan percintaan dari pasangan Beno Wicaksono (Reza Rahadian) dan Alexandra Rhea (Raihaanun). Dua tahun setelah pernikahan mereka, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea memutuskan untuk bercerai setelah merasa lelah dengan berbagai konflik dan pertengkaran yang terus mewarnai keseharian mereka. Perceraian ternyata tidak lantas menghilangkan rasa cinta, sayang, maupun kekaguman yang terbentuk antara keduanya. Secara perlahan, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea berusaha belajar lagi tentang satu sama lain yang kemudian berlanjut dengan pernikahan kembali antara kedua pasangan muda tersebut. Mencoba menjadi dewasa dan berusaha untuk saling mengerti memang bukanlah sikap yang mudah dilakukan. Dalam pernikahan keduanya, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea masih saja menemukan berbagai konflik dan rintangan yang coba menghalangi perjalanan hubungan mereka. Continue reading Review: Twivortiare (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Salawaku (2017)

Setelah bertugas sebagai asisten sutradara pada film-film seperti Soekarno: Indonesia Merdeka (Hanung Bramantyo, 2013), About a Woman (Teddy Soeriaatmadja, 2014), Haji Backpacker (Danial Rifki, 2014) dan Another Trip to the Moon (Ismail Basbeth, 2015), Pritagita Arianegara melakukan debut penyutradaraannya dalam Salawaku. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Iqbal Fadly dan Titien Wattimena, Salawaku harus diakui merupakan sebuah debut yang sama sekali tidak mengecewakan. Arianegara memiliki kemampuan yang cukup lihai dalam memilihkan alur sekaligus mengarahkan aktor-aktornya untuk memberikan performa yang tepat pada cerita yang ingin ia hadirkan. Sayangnya, Salawaku gagal untuk mendapat dukungan dasar naskah cerita yang lebih kuat. Hasilnya, meskipun di sepanjang pengisahan film ini menyajikan pemandangan yang indah akan alam sekitar Pulau Seram, Maluku, Salawaku terasa kosong dan tidak mampu memberikan sisi emosional yang lebih mengikat bagi karakter maupun konflik-konflik kisahnya. Continue reading Review: Salawaku (2017)

Review: Lovely Man (2012)

Tidak ada yang istimewa dari jalan cerita Lovely Man. Film yang diarahkan serta dikerjakan naskah ceritanya oleh Teddy Soeriaatmadja ini memang hanya menawarkan sebuah jalan cerita yang telah familiar – sebuah kisah yang bercerita mengenai jalinan kasih antara seorang ayah dan anak yang telah lama terputus untuk kemudian bersatu kembali dalam satu malam yang penuh dengan kejutan hidup. Film-film karya Teddy memang selalu menawarkan kesederhanaan penceritaan tersebut. Namun, seperti layaknya Banyu Biru (2004), Ruang (2006) dan Ruma Maida (2009), Teddy selalu menemukan cara yang tepat untuk menghantarkan kesederhanaan cerita tersebut sehingga menjadi penceritaan yang kuat, personal dan seringkali mampu tampil begitu menyentuh.

Continue reading Review: Lovely Man (2012)