Category Archives: On Streaming

Review: Hillbilly Elegy (2020)

Nama J. D. Vance serta judul memoar yang ditulisnya, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis, yang bercerita tentang masa kecilnya memang tidak begitu familiar di telinga orang-orang di luar negara Amerika Serikat. Namun, ketika dirilis pada tahun 2016 lalu – berdekatan dengan masa pemilihan presiden di Amerika Serikat, buku garapan Vance mendapatkan banyak sorotan akan pengisahannya mengenai kaum hillbilly yang dikenal sebagai sekelompok masyarakat Amerika Serikat berkulit putih yang sering dinilai konservatif serta memiliki watak dan perangai keseharian yang keras. Banyak pihak yang menilai penggambaran yang dilakukan Vance tentang kaum hillbilly dalam memoar yang ditulisnya dihadirkan secara dangkal. Terlepas dari berbagai sorotan dan kontroversi, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis berhasil meraih sukses secara komersial, menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di tahun 2016 dan 2017, mempopulerkan nama Vance, dan, tentu saja, dilirik oleh Hollywood untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. Continue reading Review: Hillbilly Elegy (2020)

Review: Happiest Season (2020)

Empat tahun setelah merilis The Intervention (2016) yang menjadi debut pengarahan film layar lebarnya, aktris sekaligus penulis naskah Clea DuVall kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Happiest Season, sebuah drama komedi romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan aktris Mary Holland – yang turut ambil bagian mengisi departemen akting film ini. Para penikmat film-film sejenis mungkin tidak akan menemukan sebuah struktur pengisahan yang bernilai baru maupun istimewa yang ditawarkan DuVall dalam filmnya. Meskipun begitu, olahan cerita dari DuVall dan Holland tentang usaha untuk mencintai jati diri sendiri agar dapat menghadirkan ruang yang tepat bagi rasa cinta yang dimiliki untuk orang lain (All hail, RuPaul!) menjadi bahasan yang cukup menawan dan emosional. Continue reading Review: Happiest Season (2020)

Now Streaming: Younger

Darren Star jelas merupakan salah satu nama penulis naskah, sutradara, sekaligus produser yang paling dikenal oleh para penikmat serial televisi rilisan Hollywood. Bertanggungjawab terhadap kehadiran beberapa serial televisi legendaris seperti Beverly Hills, 90210 (1990 – 2000), Melrose Place (1992 – 1999), hingga Sex and the City (1998 – 2004), Star juga menghadirkan Younger yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan novelis Amerika Serikat, Pamela Redmond Satran. Ditayangkan perdana pada tahun 2015, Younger berhasil menarik perhatian besar dari kalangan penikmat serial televisi dunia yang, tentu saja, menjadi salah satu alasan mengapa serial televisi yang dibintangi oleh Sutton Foster, Debi Mazar, dan Hilary Duff ini telah tayang selama enam musim. Bahkan, pada pertengahan tahun lalu, Younger telah mendapatkan persetujuan perpanjangan musim dengan episode terbarunya direncanakan akan tayang pada tahun 2021 mendatang. Continue reading Now Streaming: Younger

Review: Run (2020)

Wajar jika Diane Sherman (Sarah Paulson) bersikap begitu overprotektif terhadap putri semata wayangnya, Chloe Sherman (Kiera Allen). Diane Sherman melahirkan putrinya dalam kondisi prematur – sebuah kondisi yang hampir saja merenggut nyawa sang anak sekaligus memberikannya penyakit bawaan yang membuat jantung, darah, serta tulangnya tidak dapat berfungsi secara normal. Terlepas dari berbagai kelemahan kondisi fisik tersebut, Diane Sherman mampu membesarkan anaknya layaknya anak-anak kebanyakan. Bahkan, di usia yang kini menginjak 17 tahun, Chloe Sherman tengah bersiap untuk meninggalkan sang ibu guna melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Namun, kecurigaan muncul pada diri Chloe Sherman setelah ia menemukan sebuah obat yang sebenarnya diresepkan pada sang ibu diberikan kepadanya. Kecurigaan tersebut secara perlahan menimbulkan berbagai pertanyaan pada diri Chloe Sherman tentang berbagai perbuatan yang selama ini dilakukan oleh sang ibu kepada dirinya. Continue reading Review: Run (2020)

Review: Roh (2019)

Malaysia menghadirkan citarasa horor yang berbeda lewat Roh – sebuah film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Emir Ezwan. Berbeda dengan rekan-rekan sepantarannya yang seringkali hadir dengan nuansa horor yang meledak-ledak – mulai dari lampiran adegan-adegan penghasil kejutan, tata suara dan musik yang cenderung berisik, hingga plot bernada relijius yang cukup kental – Roh tampil… well… minimalis. Ezwan sepertinya mendapatkan inspirasi dari film-film horor modern seperti The VVitch (Robert Eggers, 2015), The Wailing (Na Hong-jin, 2016), atau Hereditary (Ari Aster, 2018) yang memang lebih mengedepankan atmosfer kelam daripada berusaha memberikan kejutan demi kejutan dalam tiap adegan kepada penontonnya. Didukung oleh kemampuan pengarahan Ezwan yang begitu dominan, Roh menjelma menjadi sajian horor yang efektif dalam menghantui setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: Roh (2019)

Review: The Boys in the Band (2020)

Mereka yang menyaksikan film The Boys in the Band versi teranyar rilisan Netflix jelas dapat merasakan bagaimana banyak bagian dari alur cerita film ini terasa cukup usang jika dibandingkan dengan film-film bertema serupa yang dirilis pada beberapa tahun terakhir. Mengulik seputar kehidupan kaum homoseksual di kota New York, Amerika Serikat, The Boys in the Band mendasarkan kisahnya pada sebuah drama panggung berjudul sama garapan Mart Crowley yang ditampilkan untuk pertama kali pada tahun 1968 – suatu era dimana kaum homoseksual masih belum diterima keberadaannya oleh khalayak luas di Amerika Serikat. Dengan tema cerita yang saat itu masih dinilai kontroversial dan belum banyak diangkat untuk konsumsi publik luas, drama panggung The Boys in the Band ternyata mampu menarik banyak perhatian sekaligus mencetak sukses besar selama masa pementasannya. Hollywood lantas mencoba untuk menterjemahkan kesuksesan tersebut melalui sebuah adaptasi film layar lebar yang diarahkan William Friedkin yang dirilis pada tahun 1970. Continue reading Review: The Boys in the Band (2020)

Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Tim Hill – yang sebelumnya bertugas sebagai penulis naskah bagi The SpongeBob SquarePants Movie (2004), The SpongeBob Movie: Sponge on the Run menghadirkan sebuah petualangan baru bagi SpongeBob SquarePants, Patrick Star, serta rekan-rekannya dari Bikini Bottom. Dikisahkan, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan Patrick Star (Bill Fagerbakke) melakukan perjalanan ke Lost City of Atlantic City untuk menyelamatkan Gary the Snail (juga diisisuarakan oleh Kenny) yang telah diculik oleh King Poseidon (Matt Berry). Jelas bukan sebuah petualangan mudah. Selain harus bersiap untuk menghadapi King Poseidon dan pasukannya, SpongeBob SquarePants dan Patrick Star juga harus menghadapi berbagai tantangan lain dalam perjalanan mereka menuju Lost City of Atlantic City. Beruntung, kedua sahabat tersebut kemudian mendapatkan bimbingan dari Sage (Keanu Reeves) serta rekan-rekan mereka dari Bikini Bottom, Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Mr. Krabs (Clancy Brown), dan Plankton (Mr. Lawrence), yang segera menyusul SpongeBob SquarePants dan Patrick Star setelah mengetahui jika keduanya sedang berada dalam masalah. Continue reading Review: The SpongeBob Movie: Sponge on the Run (2020)

Review: His House (2020)

Sepasang suami istri pindah ke sebuah rumah dengan segala rencana untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Sayang, kepindahan keduanya justru disambut dengan berbagai teror yang secara perlahan mulai mengusik hubungan keduanya. Premis yang terdengar tidak asing? Tunggu dulu. Merupakan debut pengarahan bagi sutradara asal Inggris, Remi Weekes, His House menawarkan barisan mimpi buruk akan sebuah rumah berhantu yang bertujuan lebih dari sekedar untuk menakut-nakuti para penontonnya. Lewat naskah cerita yang digarap Weekes berdasarkan ide cerita dari Felicity Evans dan Toby Venables, His House juga memberikan galian mendalam nan emosional tentang trauma dari masa lampau, duka akan kehilangan sosok kesayangan, hingga berbagai ketakutan dalam menghadapi sebuah lingkungan baru. Capaian yang membuat His House menjadi salah satu rilisan horor paling mengesankan di sepanjang tahun ini. Continue reading Review: His House (2020)

Review: Borat Subsequent Moviefilm: Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan (2020)

Empat belas tahun lalu, aktor sekaligus komedian asal Inggris, Sacha Baron Cohen, memperkenalkan dunia pada sosok jurnalis asal Kazakhstan bernama Borat Sagdiyev lewat Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan (Larry Charles, 2006). Bukan sosok karakter baru sebenarnya karena Cohen sebelumnya pernah menghadirkan karakter tersebut lewat film Ali G Indahouse (Mark Mylod, 2002). Berkat barisan guyonannya tentang kondisi sosial, budaya, dan politik Amerika Serikat yang disampaikan secara vulgar, Borat tidak hanya berhasil mencuri perhatian (baca: mengejutkan) dunia namun juga sukses meraih kesuksesan komersial sekaligus meraih pujian luas dari para kritikus film. Tidak mengherankan jika naskah cerita Borat yang tergarap cerdas kemudian berhasil mendapatkan nominasi Best Adapted Screenplay dari ajang The 79th Annual Academy Awards. Sekarang, di tahun 2020 yang telah berjalan dengan segala keanehannya, Cohen menghidupkan kembali sosok Borat Sagdiyev. Masih mampukah karakter tersebut menghadirkan kejutan ataupun hiburan bagi para penontonnya? Continue reading Review: Borat Subsequent Moviefilm: Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan (2020)

Review: Sejuta Sayang Untuknya (2020)

Setelah Tanah Surga… Katanya (2012) yang berhasil memenangkan empat kategori, termasuk Film Terbaik, di ajang Festival Film Indonesia, sutradara Herwin Novianto kembali bekerjasama dengan aktor Deddy Mizwar untuk film Sejuta Sayang Untuknya. Alur ceritanya bertutur tentang seorang figuran film bernama Aktor Sagala (Mizwar) dalam usahanya untuk membahagiakan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup putrinya, Gina (Syifa Hadju). Aktor Sagala sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang pekerja seni peran. Namun, berperan dalam peran-peran kecil, tentu saja, tidak dapat membiayai hidup dirinya serta putri semata wayangnya. Tekanan ekonomi makin dirasakan Aktor Sagala ketika Gina membutuhkan uang dalam jumlah yang lebih besar guna menyelesaikan bangku SMA-nya sekaligus melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Tidak menyerah begitu saja, Aktor Sagala mulai memutar otak untuk mencari pekerjaan yang dapat menyokong berbagai kebutuhan sang anak. Continue reading Review: Sejuta Sayang Untuknya (2020)

Review: Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Masih ingat dengan karakter Kale yang diperankan Ardhito Pramono dalam film Nanti Kita Cerita tentang Hari ini (2020)? Dalam film arahan Angga Dwimas Sasongko tersebut, kehadiran karakter Kale berhasil mencuri perhatian lewat kemampuannya dalam merangkai lagu, utaran dialognya yang seringkali bernada puitis, hingga jalinan kisah romansanya yang manis (walau kemudian berakhir pahit) dengan karakter Awan yang diperankan Rachel Amanda. Reaksi serta perhatian yang cukup besar yang didapat oleh sosok Kale sepertinya menggugah Sasongko untuk memberikan pengolahan cerita tersendiri bagi karakter tersebut. Fokusnya, tentu saja, membuka sudut pandang penonton pada kehidupan personal dari karakter Kale, masa lalunya, serta berbagai hal yang mendorong karakter tersebut sehingga menarik diri dari hubungan asmara yang sedang dibangunnya bersama dengan karakter Awan. Sebuah pilihan yang menarik untuk memberikan warna tambahan bagi semesta pengisahan Nanti Kita Cerita tentang Hari ini. Continue reading Review: Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Masih ingat dengan memori menyeramkan sekaligus mimpi buruk yang diakibatkan oleh adegan Anjelica Huston yang secara perlahan melepaskan rambut serta kulit palsunya dan kemudian membiarkan wujud aslinya sebagai seorang penyihir terlihat dalam film The Witches (Nicolas Roeg, 1990)? Well… mimpi buruk tersebut coba dibangkitkan kembali oleh Guillermo del Toro bersama dengan Alfonso Cuarón dan Robert Zemeckis dengan menghadirkan adaptasi teranyar bagi buku cerita anak-anak garapan Roald Dahl yang juga berjudul The Witches tersebut. Sebenarnya, pada tahun 2008, Cuarón sempat mengungkapkan bahwa dirinya akan bekerjasama dengan del Toro untuk mengadaptasi The Witches dalam bentuk teknik animasi stop motion. Sayang, rencana tersebut gagal untuk membuahkan hasil. Sepuluh tahun kemudian, kerjasama antara del Toro dengan Cuarón untuk menghidupkan The Witches muncul kembali namun dengan format yang berbeda. Daripada menghadirkannya sebagai sebuah film animasi, versi teranyar dari The Witches akan tetap disajikan dalam presentasi live action dengan Zemeckis akan duduk di kursi penyutradaraan serta Cuarón dan del Toro bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah. Continue reading Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Now Streaming: Humans

Sebelum dunia mengenalnya sebagai Astrid Young dalam Crazy Rich Asian (Jon M. Chu, 2018) atau berperan sebagai Minn-Erva ketika berdampingan dengan Brie Larson dalam Captain Marvel (Anna Boden, Ryan Fleck, 2019), aktris Gemma Chan lebih dahulu berhasil mencuri hati (dan perhatian) dunia melalui perannya dalam serial Humans. Dikembangkan oleh duo penulis asal Inggris, Sam Vincent dan Jonathan Brackley, berdasarkan serial televisi asal Swedia yang berjudul Real Humans, musim perdana Humans mengudara pada awal Juni 2015 di Inggris sebelum kemudian tayang di Amerika Serikat dan Kanada serta beberapa negara lainnya juga pada tahun yang sama. Di sepanjang tiga musim penayangannya hingga tahun 2018, Humans mampu meraih pujian luas dari para kritikus serta mendapatkan rekognisi di berbagai ajang penghargaan dunia. Continue reading Now Streaming: Humans