Tag Archives: Indonesian Cinema

Review: Antologi Rasa (2019)

Merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karangan Ika Natassa setelah Critical Eleven (Monty Tiwa, Robert Ronny, 2017), Antologi Rasa berkisah mengenai kisah cinta segi empat yang terjalin antara empat sahabat, Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime). Bagaimana rumitnya jalinan persahabatan dan asmara yang terbentuk antara keempat karakter tersebut? Well… Harris telah memendam rasa suka terhadap Keara semenjak pertama kali mereka berkenalan. Namun, di saat yang bersamaan, Keara justru menaruh hati kepada Ruly. Sial, Ruly ternyata begitu mengagumi serta tidak dapat melupakan sosok Denise yang juga merupakan teman kecilnya dan kini telah menikah dengan pria lain. Baik Harris, Keara, dan Ruly memilih untuk menyimpan rasa suka yang mereka rasakan demi menjaga dan tidak merusak hubungan persahabatan yang telah terbentuk sekian lama. Tentu saja, tidak peduli seberapa keras mereka telah berusaha untuk menyembunyikan perasaan masing-masing, Harris, Keara, dan Ruly akhirnya terjerat dalam kebimbangan hati yang semakin lama justru menghadirkan ruang dan jarak dalam hubungan mereka. Continue reading Review: Antologi Rasa (2019)

Review: Laundry Show (2019)

Diadaptasi dari novel The Laundry Show karangan Uki Lukas, film terbaru arahan Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, 2017), Laundry Show, berkisah mengenai Uki (Boy William) yang karena telah merasa jenuh dengan perjalanan karirnya kemudian memilih untuk berhenti dari pekerjaannya. Dengan modal semangat yang diberikan oleh seorang motivator terkenal dan inspirasi dari sang ibu yang sempat bekerja sebagai seorang tukang cuci, Uki lantas mendirikan usaha layanan binatu. Membangun dan memulai usaha sendiri jelas bukanlah pekerjaan yang gampang. Bahkan setelah Uki berhasil menemukan lokasi usaha yang tepat, berbagai perlengkapan kerja, hingga para karyawan yang dapat mendukung usaha layanan binatunya tersebut, Uki masih harus memutar otak untuk dapat mencari cara agar usaha layanan binatunya mampu menarik perhatian banyak konsumen. Namun, tantangan terbesar bagi usaha layanan binatu milik Uki datang ketika sebuah usaha layanan binatu lain yang lebih besar, didukung teknologi yang lebih modern, serta mampu menawarkan banyak potongan harga kemudian dibuka tepat di hadapan lokasi usaha layanan binatu milik Uki. Perseteruan antara Uki dengan pemilik usaha layanan binatu baru tersebut, Agustina (Giselle Anastasia), kemudian mulai memanas. Continue reading Review: Laundry Show (2019)

Review: Terlalu Tampan (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Sabrina Rochelle Kalangie, yang bersama dengan Nurita Anandia juga bertugas sebagai penulis naskah bagi film ini, Terlalu Tampan berkisah mengenai seorang remaja bernama Mas Kulin (Ari Irham) yang sepanjang hidupnya lebih memilih untuk berada di dalam rumah akibat penampilan fisiknya yang terlalu tampan sehingga sering menyebabkan kekacauan bagi orang-orang di sekitarnya – bagi kaum perempuan, untuk tepatnya. Kondisi tersebut membuat kedua orangtua, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan Bu Suk (Iis Dahlia), serta kakak Mas Kulin, Mas Okis (Tarra Budiman), menjadi khawatir dengan perkembangan kepribadian Mas Kulin di masa yang akan datang. Pak Archewe, Bu Suk, dan Mas Okis kemudian menyusun sebuah rencana agar Mas Kulin mau melanjutkan pendidikannya di sekolah umum. Dan berhasil. Mas Kulin lantas bersekolah di sebuah sekolah umum layaknya para remaja lain dan, tentu saja, membuat banyak kaum hawa panik setiap kali melihat kehadirannya. Namun, di saat yang bersamaan, Mas Kulin mulai mengenal sosok seperti Kibo (Calvin Jeremy) dan Rere (Rachel Amanda) yang bersedia menjadi temannya tanpa pernah melihat bagaimana penampilan fisiknya. Continue reading Review: Terlalu Tampan (2019)

Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Dalam film terbaru arahan Ody C. Harahap (Sweet 20, 2017), Orang Kaya Baru the Movie, seorang ibu (Cut Mini) dan ketiga anaknya, Duta (Derby Romero), Tika (Raline Shah), dan Dodi (Fatih Unru), yang terbiasa dengan kehidupan perekonomian yang terbatas secara tiba-tiba mendapatkan kejutan dari almarhum suami dan ayah mereka (Lukman Sardi) yang baru saja meninggal dunia berupa sejumlah uang yang… well… cukup untuk memenuhi kebutuhan sang ibu dan ketiga anaknya selama bertahun-tahun mendatang. Sang ayah selama ini ternyata menyembunyikan usaha suksesnya untuk mengajarkan arti hidup secara sederhana kepada keluarganya. Jadilah kini Ibu mampu membeli setiap perhiasan yang selalu diidam-idamkannya, Duta mampu mewujudkan impiannya untuk menggarap sebuah drama panggung yang akan ia sutradarai, Tika dapat melanjutkan kuliahnya di jurusan Arsitektur dengan tenang, serta Dodi yang kini tidak lagi rendah diri ketika bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Namun, apakah memiliki uang yang berlimpah dan berkecukupan sama artinya dengan memiliki kehidupan yang berbahagia? Continue reading Review: Orang Kaya Baru the Movie (2019)

Review: DreadOut (2019)

Menyusul Timo Tjahjanto yang telah mengarahkan Sebelum Iblis Menjemput (2018) dan The Night Comes for Us (2018) secara solo, belahan jiwa Mo Brothers lainnya, Kimo Stamboel, kini memamerkan kemampuan penyutradaraannya lewat DreadOut. Diatas kertas, premis yang ditawarkan film ini jelas terdengar menarik. Bukan sebuah film horor biasa, jalan cerita DreadOut diadaptasi dari sebuah permainan video bertema horor buatan Indonesia yang telah cukup popular di kalangan para penikmat permainan video baik dalam skala lokal maupun dalam skala internasional – yang menjadikan DreadOut sebagai film adaptasi permainan video pertama di Indonesia. Begitu pula dengan deretan pengisi departemen aktingnya yang dipenuhi nama-nama aktor dan aktris muda Indonesia seperti Jefri Nichol, Caitlin Halderman, Marsha Aruan, hingga Susan Sameh yang jelas telah memiliki kredibilitas kemampuan akting yang cukup meyakinkan. Then what could go wrong? Banyak hal, ternyata… khususnya ketika penceritaan film tidak mendapatkan dukungan kualitas naskah cerita yang solid. Continue reading Review: DreadOut (2019)

Review: Keluarga Cemara (2019)

Harta yang paling berharga adalah keluarga…”

Seperti halnya Si Doel Anak SekolahanKeluarga Cemara merupakan salah satu serial televisi terpopular – dan mungkin juga paling dicintai – yang pernah tayang di sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Hadir pertama kali pada tahun 1996 di saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia, serial televisi yang diadaptasi dari seri novel berjudul sama karangan Arswendo Atmowiloto tersebut berhasil merebut hati banyak penontonnya dengan kisah mengenai kehidupan keseharian sebuah keluarga yang meskipun sederhana namun dipenuhi warna serta dinamika yang begitu terasa erat dengan kehidupan banyak lapisan sosial masyarakat Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun semenjak episode terakhirnya mengudara, dan mengikuti jejak adaptasi layar lebar Si Doel Anak Sekolahan yang dirilis pertengahan tahun lalu, produser Anggia Kharisma (Buka’an 8, 2017) dan Gina S. Noer kembali menghadirkan Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam versi film Keluarga Cemara dengan arahan dari sutradara Yandy Laurens. Continue reading Review: Keluarga Cemara (2019)

Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Dengan inspirasi yang didapat dari lirik lagu milik kelompok musik Armada yang berjudul sama, Asal Kau Bahagia berkisah mengenai hubungan asmara antara dua remaja, Aliando (Aliando Syarief) dan Aurora (Aurora Ribero), yang berjalan lancar hingga akhirnya Aliando mendapat kecelakaan parah yang membuatnya harus terbaring koma. Namun, meskipun tubuhnya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit, jiwa Aliando ternyata mampu berkelana serta melihat setiap aktivitas yang terjadi di sekitarnya. Sebuah keajaiban terjadi ketika jiwa Aliando mampu berinteraksi dengan sahabatnya, Dewa (Dewa Dayana). Dengan kemampuan tersebut, Aliando lantas meminta Dewa untuk menjaga sekaligus menghibur Aurora selama dirinya dirawat di rumah sakit. Tidak disangka, ketika jiwanya sedang mengikuti Aurora, Aliando mendengar percakapan telepon yang terjadi antara Aurora dengan seorang pemuda bernama Rassya (Teuku Rassya) yang ternyata telah menjadi kekasih Aurora selama beberapa bulan terakhir. Continue reading Review: Asal Kau Bahagia (2018)

Review: Milly & Mamet (2018)

Jika Mira Lesmana dan Riri Riza membutuhkan waktu selama 16 tahun untuk membawa kembali Cinta dan teman-temannya untuk hadir dalam sekuel Ada Apa dengan Cinta? (Rudy Soedjarwo, 2002), Ada Apa dengan Cinta? 2 (Riza, 2016), maka tidak membutuhkan waktu begitu lama bagi Lesmana dan Riza untuk menyajikan film sempalan pertama dalam semesta pengisahan film Ada Apa dengan Cinta?, Milly & Mamet. Seperti yang dituturkan oleh judul film ini, daripada mengeksplorasi kembali kelanjutan kisah cinta antara karakter Cinta dan Rangga, film ini mengalihkan fokusnya pada hubungan asmara yang terjalin antara karakter Milly dan Mamet – yang sebelumnya telah dikenalkan pada Ada Apa dengan Cinta? 2. Milly & Mamet juga memilih nada pengisahan yang cukup berbeda dengan dua film Ada Apa Dengan Cinta? Jika kedua film tersebut hadir dengan atmosfer drama dan romansa yang kental, maka Milly & Mamet, yang diarahkan oleh Ernest Prakasa (Susah Sinyal, 2017), tampil dengan penuturan komedi yang lebih maksimal seperti yang selalu dihadirkan Prakasa dalam setiap film-filmnya. Sebuah penyegaran yang cukup menyenangkan meskipun sentuhan komedi Prakasa – seperti yang terjadi pada dua film terakhir yang ia tulis dan arahkan, Cek Toko Sebelah (2016) dan Susah Sinyal – acapkali membayangi unsur drama yang sebenarnya membutuhkan lebih banyak ruang untuk berkembang. Continue reading Review: Milly & Mamet (2018)

Festival Film Indonesia 2018 Winners List

Seperti yang telah diprediksi, film yang mewakili Indonesia untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Language Film pada ajang The 91st Annual Academy Awards mendatang, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil terpilih menjadi Film Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2018. Film arahan Mouly Surya tersebut juga berhasil memenangkan sepuluh kategori termasuk Sutradara Terbaik untuk Surya, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Marsha Timothy, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Dea Panendra, dan Skenario Asli Terbaik untuk naskah cerita yang ditulis oleh Surya bersama dengan Rama Adi. Continue reading Festival Film Indonesia 2018 Winners List

Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Jelas tidak mudah untuk tidak memandang sebelah mata terhadap Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah usaha murahan para produsernya untuk meraup kesuksesan komersial dengan cara memanfaatkan elemen nostalgia terhadap salah satu aktris film Indonesia paling ikonik tersebut. Dan jelas bukanlah sebuah prasangka yang salah pula – setidaknya kualitas yang ditampilkan dua seri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (Anggy Umbara, 2016 – 2017) serta Benyamin Biang Kerok (Hanung Bramantyo, 2018) layak mendapatkan prasangka tersebut. Seperti halnya dua film yang telah disebutkan sebelumnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur juga bukanlah sebuah film yang jalan ceritanya mendaur ulang pengisahan yang dahulu pernah ditampilkan dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna. Film ini memilih untuk “mengekploitasi” berbagai karakteristik peran yang membuat Suzzanna menjadi aktris horor Indonesia yang ikonik dan membingkainya dengan struktur pengisahan yang baru – meskipun bukanlah bangunan pengisahan yang benar-benar terasa segar. And strangelyit works pretty well! Continue reading Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Review: A Man Called Ahok (2018)

Merupakan film panjang naratif pertama Putrama Tuta setelah sebelumnya mengarahkan versi teranyar dari Catatan Harian Si Boy (2011), A Man Called Ahok adalah film biopik yang berkisah tentang kehidupan mantan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dengan naskah cerita yang digarap oleh Tuta bersama dengan Ilya Sigma (Rectoverso, 2013) dan Dani Jaka Sembada (Pizza Man, 2015) berdasarkan buku berjudul sama yang ditulis oleh Rudi Valinka. Daripada menitikberatkan pengisahan film pada karakter Basuki Tjahaja Purnama serta tindakan dan pemikiran politik yang membuat keberadaannya begitu dikenal seperti saat ini, A Man Called Ahok sendiri memilih untuk mengekplorasi masa muda dari sang karakter, kehidupan masa kecilnya di Belitung, serta hubungannya dengan sang ayah yang nantinya membentuk karakter dari Basuki Tjahaja Purnama dewasa. Pilihan yang menarik walau naskah garapan Tuta, Sigma, dan Sembada kemudian kurang mampu menghadirkan keseimbangan penceritaan antara karakter Basuki Tjahaja Purnama dengan karakter sang ayah yang juga tampil mendominasi linimasa penceritaan film. Continue reading Review: A Man Called Ahok (2018)

Festival Film Indonesia 2018 Nominations List

Komite Festival Film Indonesia akhirnya mengumumkan daftar nominasi Festival Film Indonesia 2018and they’re pretty boldand spot on. Daripada berusaha memenuhi kuota sejumlah judul atau nama untuk mengisi satu kategori, Komite Festival Film Indonesia kali ini hanya memberikan nominasi pada deretan judul atau nama yang dinilai benar-benar telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Tidak mengherankan, mengingat minimnya penampilan kualitas film-film Indonesia yang tergolong mengesankan yang rilis di sepanjang tahun ini, beberapa kategori utama kemudian hanya memiliki tiga atau empat peraih nominasi. Dengan melakukan penilaian terhadap setiap film Indonesia yang rilis di layar bioskop pada jangka waktu 1 Oktober 2017 hingga 30 September 2018, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya, 2017) berhasil menjadi film dengan raihan nominasi terbesar pada ajang Festival Film Indonesia 2018. Film yang juga menjadi unggulan Indonesia untuk berkompetisi di kategori Best Foreign Languange Film di Academy Awards mendatang tersebut sukses mencatatkan dirinya pada 15 kategori yang tersedia – termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Surya), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Marsha Timothy), dan Skenario Asli Terbaik (Surya, Rama Adi). Continue reading Festival Film Indonesia 2018 Nominations List

Review: The Returning (2018)

Merupakan passion project dari film bloggerturnedfilmmaker, Witra Asliga – yang bahkan telah mulai dikembangkan sebelum dirinya terlibat untuk mengarahkan salah satu segmen dalam omnibus 3 Sum (Asliga, William Chandra, Andri Cung, 2013), The Returning membuka perjalanan kisahnya dengan menggambarkan kehidupan Natalie (Laura Basuki) dan kedua anaknya, Maggie (Tissa Biani Azzahra) dan Dom (Muzakki Ramdhan), setelah suaminya, Colin (Ario Bayu), dinyatakan hilang saat panjat tebing. Tiga bulan setelah hilangnya Colin, semua orang mulai berusaha untuk meyakinkan Natalie agar dirinya merelakan kepergian sang suami dan segera melanjutkan hidup. Namun, rasa cintanya yang besar kepada Colin, dan jenazah Colin yang tak kunjung ditemukan, membuat Natalie masih yakin akan adanya peluang bahwa suaminya masih berada dalam keadaan hidup. Kejutan. Satu malam, Colin benar-benar kembali ke rumahnya untuk menemui Natalie dan kedua anak mereka. Sebuah reuni yang jelas menghadirkan lagi kebahagiaan bagi keluarga tersebut. Namun, secara perlahan, kembalinya Colin turut menghadirkan deretan teror bagi Natalie, Maggie, dan Dom. Apakah Colin benar-benar telah kembali pada keluarganya? Continue reading Review: The Returning (2018)