Tag Archives: Indonesian Cinema

Review: My Sassy Girl (2022)

Ketika dirilis pada dua dekade lalu, kesuksesan besar yang mampu diraih oleh My Sassy Girl (Kwak Jae-yong, 2001) tidak hanya menjadikan film komedi romansa tersebut menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan. Kesuksesan My Sassy Girl, secara perlahan, juga menyebar ke sejumlah negara di berbagai wilayah Asia dan menjadi salah satu momen krusial bagi Korean wave yang menandai kebangkitan minat dunia atas berbagai produk kultur pop yang berasal dari Korea Selatan – yang, tentu saja, kemudian terus meningkat hingga mendominasi dunia hiburan hingga saat ini. Keberhasilan film yang dibintangi Jun Ji-hyun dan Cha Tae-hyun itu lantas coba diteruskan dengan sebuah sekuel berjudul My New Sassy Girl (Joh Keun-shik, 2016) – yang, sayangnya, gagal untuk merebut perhatian penikmat film dunia, diadaptasi menjadi serial televisi, serta dibuat ulang oleh sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, India, China, Filipina, dan Indonesia. Continue reading Review: My Sassy Girl (2022)

Review: Naga Naga Naga (2022)

Seperti yang dapat ditilik dari judulnya, Naga Naga Naga adalah sekuel kedua dari Nagabonar (MT Risyaf, 1986) setelah Nagabonar Jadi 2 arahan Deddy Mizwar yang mampu menarik minat lebih dari satu juta penonton dan menjadikannya sebagai film dengan raihan penonton terbanyak kedua ketika dirilis pada tahun 2007 yang lalu. Mizwar kembali duduk di kursi penyutradaraan sekaligus kembali memerankan sang karakter ikonik, Nagabonar. Judul yang diberikan pada film ini juga menandai kehadiran sesosok “naga” baru dalam alur pengisahannya. Jika film sebelumnya memberikan fokus pada hubungan antara dua “naga,” Nagabonar dan anaknya Bonaga (Tora Sudiro), maka Naga Naga Naga menghadirkan karakter Monaga (Cut Beby Tshabina) yang merupakan cucu Nagabonar yang berasal dari pernikahan karakter Bonaga dengan istrinya, Monita (Wulan Guritno). Continue reading Review: Naga Naga Naga (2022)

Review: Satria Dewa: Gatotkaca (2022)

Membutuhkan cukup banyak kesabaran untuk dapat benar-benar mengikuti perjalanan Satria Dewa: Gatotkaca – cita rasa pertama bagi semesta pengisahan Jagad Satria Dewa yang berisi barisan cerita pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari kisah pewayangan Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Satria Dewa: Gatotkaca berusaha untuk memperkenalkan asal usul maupun awal mula cerita dari sang karakter utama dengan beberapa plot penyerta yang memberikan akses kepada penonton untuk melihat kilasan gambaran akan semesta pengisahan lebih besar yang akan melibatkan sang karakter utama di masa yang akan datang. Penuturan yang cukup mendasar. Sial, naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Hanung Bramantyo (Tersanjung the Movie, 2020), bersama dengan Rahabi Mandra (Guru-guru Gokil, 2020) tidak pernah mampu untuk bertutur secara lugas. Berusaha untuk menjabarkan tatanan cerita yang kompleks namun dengan runutan kisah yang seringkali kelewat dangkal. Continue reading Review: Satria Dewa: Gatotkaca (2022)

Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Bene Dion Rajagukguk memulai karir penyutradaraannya dengan gemilang. Setelah menghabiskan sejumlah waktu berkecimpung sebagai penulis naskah bagi film-film seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016), Stip & Pensil (Ardy Octaviand, 2017), dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Rajagukguk menunjukkan kebolehannya sebagai penulis sekaligus pengarah cerita yang handal lewat film komedi horor Ghost Writer (2019). Untuk film kedua yang diarahkannya, Rajagukguk mengadaptasi novel karyanya yang berjudul sama, Ngeri-ngeri Sedap, yang merupakan tuturan drama keluarga dengan latar belakang kehidupan suku Batak. Dengan alur pengisahan yang ditulis berdasarkan pengalaman kehidupan pribadi sang sutradara, tidak mengherankan jika Ngeri-ngeri Sedap terasa personal di banyak bagiannya. Di saat yang bersamaan, penuturan Rajagukguk yang lugas menjadikan kisah yang disampaikannya mampu menghasilkan sentuhan emosional nan hangat yang begitu universal. Continue reading Review: Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Review: The Doll 3 (2022)

Menjadi film keempat dalam film seri The Doll garapan Rocky Soraya – mengikuti The Doll (2016) dan The Doll 2 (2017) beserta film sempalannya, Sabrina (2018), The Doll 3 kembali menghadirkan plot tentang teror sesosok boneka mengerikan yang mengancam nyawa orang-orang yang berada di sekitarnya. Plot familiar yang telah direka berulang kali oleh Soraya bersama Riheam Junianti selaku penulis naskah cerita seri film ini yang, tentu saja, tidak lupa dibalut dengan adegan-adegan yang terasa mendapatkan pengaruh dari banyak film horor asing popular yang telah dirilis sebelumnya. Berbeda dengan film-film lain yang berada di semesta pengisahan The Doll, The Doll 3 menjadi kali pertama seri film ini benar-benar merengkuh warna pengisahan horor slasher-nya secara utuh dengan menyajikan lebih banyak adegan brutal yang penuh dengan limbahan darah dan gelimang nyawa deretan karakternya. Terdengar menyenangkan namun, sayangnya, masih dihantui akan berbagai kelemahan penuturan cerita yang selalu berada dalam tiap film arahan Soraya. Continue reading Review: The Doll 3 (2022)

Review: Srimulat: Hil yang Mustahal – Babak Pertama (2022)

Film terbaru arahan Fajar Nugros (Yowis Ben II, 2019), Srimulat: Hil yang Mustahal – Babak Pertama, dibuka dengan barisan tulisan yang menarasikan bagaimana kelompok lawak Srimulat dibentuk pada tahun 1950 oleh sosok Teguh Slamet Rahardjo bersama dengan istrinya, Raden Ayu Srimulat – yang sekaligus menjadi inspirasi bagi nama kelompok lawak yang berasal dari Solo, Jawa Tengah tersebut. Jangan berharap narasi perkenalan tersebut lantas menjadi pembuka bagi runutan kisah jatuh bangun kelompok lawak Srimulat dalam usaha untuk bertahan sekaligus membesarkan namanya. Lewat naskah cerita yang ditulisnya sendiri, Nugros memilih untuk menjauh dari penggunaan formula familiar pengisahan biopik dengan menghantarkan sederetan “reka ulang” guyonan khas kelompok lawak Srimulat guna mendorong pergerakan cerita sekaligus memperkenalkan dan menggali karakterisasi dari setiap peran yang muncul dalam linimasa cerita film ini. Pilihan penceritaan yang berani… namun tidak tanpa masalah maupun dampak negatif tersendiri. Continue reading Review: Srimulat: Hil yang Mustahal – Babak Pertama (2022)

A Milestone: KKN di Desa Penari is Now Indonesia’s Highest-Grossing Film of All Time

Setelah sejumlah penundaan rilis akibat pandemi COVID-19 yang mendera dunia semenjak awal tahun 2020 – serta keraguan yang muncul akibat masa rilisnya yang berdekatan dengan dengan film keluaran Marvel Studios terbaru, Doctor Strange in the Multiverse of Madness (Sam Raimi, 2022) – film horor arahan Awi Suryadi, KKN di Desa Penari, berhasil membuktikan kemampuannya dalam meraup jumlah penonton. Kurang dari tiga minggu setelah masa perilisannya – 19 hari, untuk tepatnya, dan dengan jumlah penonton yang kini telah mencapai lebih dari tujuh juta penonton, KKN di Desa Penari berhasil menggeser posisi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 sebagai film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar sepanjang masa yang telah diduduki oleh film arahan Anggy Umbara tersebut semenjak perilisannya di tahun 2016 lalu. Capaian KKN di Desa Penari bahkan terasa lebih impresif mengingat situasi industri bioskop yang masih belum sepenuhnya pulih dari efek pandemi COVID-19. Selamat! Continue reading A Milestone: KKN di Desa Penari is Now Indonesia’s Highest-Grossing Film of All Time

Review: Kuntilanak 3 (2022)

Ada sesuatu yang berbeda dari presentasi cerita Kuntilanak 3. Seperti halnya Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019), film ini masih diarahkan oleh Rizal Mantovani berdasarkan naskah cerita yang ditulis Alim Sudio. Namun, berbeda dengan dua film pendahulunya yang kental akan nuansa horor dalam penuturan ceritanya – well… penuturan horor yang ditujukan bagi kalangan penonton muda, Kuntilanak 3 melangkah sedikit menjauh dari warna horor dengan menghadirkan bangunan cerita berkesan fantasi yang akan dengan segera mengingatkan banyak penontonnya pada film-film dalam seri Harry Potter (2001 – 2011). Sebuah pilihan kreatif yang jelas diambil guna semakin memperluas jangkauan wilayah pengisahan Jagat Sinema Kuntilanak – yang didalamnya juga mengikutsertakan film Mangkujiwo (2020) arahan Azhar Kinoi Lubis dan akan terhubung dengan trilogi Kuntilanak (2006 – 2008) sebelumnya – garapan Mantovani bersama dengan MVP Pictures. Continue reading Review: Kuntilanak 3 (2022)

Review: Gara-gara Warisan (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh aktor sekaligus komika, Muhadkly Acho – yang menjadikan film ini sebagai debut penyutradaraan film cerita panjangnya, Gara-gara Warisan memulai linimasa penceritaannya ketika seorang pemilik penginapan, Dahlan (Yayu Unru), berusaha untuk menemukan sosok yang tepat diantara ketiga anak-anaknya, Adam (Oka Antara), Laras (Indah Permatasari), dan Dicky (Ge Pamungkas), untuk menggantikan posisinya dalam mengelola penginapan ketika mengetahui dirinya mengidap penyakit yang sukar untuk disembuhkan. Dengan masalah perekonomian yang sedang menghimpit ketiganya, Adam, Laras, dan Dicky bersaing keras untuk memperebutkan warisan sang ayah yang jelas diharapkan dapat membantu kehidupan mereka. Di saat yang bersamaan, persaingan tersebut secara perlahan membuka kembali berbagai perseteruan, duka, hingga luka yang dirasakan setiap anggota keluarga tersebut semenjak lama. Continue reading Review: Gara-gara Warisan (2022)

Review: KKN di Desa Penari (2022)

Awalnya direncanakan rilis pada awal tahun 2020, KKN di Desa Penari adalah salah satu film yang terus tertunda penayangannya akibat keberadaan pandemi COVID-19. Padahal, film ini sempat digadang akan mampu mengundang jutaan penonton ke bioskop berkat kepopuleran masif materi sumber pengisahannya yaitu utasan cuitan kisah horor berdasarkan kisah nyata yang diberi judul serupa dan disampaikan via akun Twitter @SimpleMan.  Versi film dari KKN di Desa Penari sendiri dibangun dengan naskah cerita yang ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit serta arahan dari Awi Suryadi – Suryadi dan Laila sendiri telah bekerjasama di sejumlah film dari semesta pengisahan seri film Danur. Harus diakui, Suryadi mampu memberikan visual yang kuat akan deretan teror horor yang ingin dihadirkan oleh linimasa pengisahan film ini. Sayang, dengan pengembangan kisah dan karakter yang kurang matang, banyak potensi penceritaan KKN di Desa Penari berakhir dengan kesan gagal dituturkan secara utuh. Continue reading Review: KKN di Desa Penari (2022)

Review: Garis Waktu (2022)

Menjadi film arahan Jeihan Angga kedua setelah Just Mom (2021) yang dirilis secara luas di layar bioskop pada tahun ini, Garis Waktu merupakan drama romansa yang alur pengisahannya ditulis oleh Benni Setiawan (Merindu Cahaya de Amstel, 2021) berdasarkan novel berjudul sama garapan penulis sekaligus pemusik Fiersa Besari. Linimasa ceritanya dimulai ketika April (Michelle Ziudith) bertemu dan berkenalan dengan Senandika (Reza Rahadian). Kepribadian Senandika yang menarik dengan segera mampu menarik perhatian April. Gadis itu bahkan tidak segan mengenalkan Senandika kepada sahabatnya, Sanya (Anya Geraldine), yang diharapkan dapat membantu Senandika untuk mengembangkan karirnya sebagai seorang musisi. Sayang, kedekatan April dengan Senandika tidak disukai oleh sang ayah, Halim (Bambang Paningron). Guna memisahkan April dengan Senandika, Halim mengirimkan sang putri untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Di saat yang bersamaan, keberadaan Sanya secara perlahan mulai mengisi keseharian Senandika setelah dirinya ditinggal April. Continue reading Review: Garis Waktu (2022)

Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Mahfrizha Kifani berdasarkan novel garapannya yang berjudul sama, film drama Pelangi Tanpa Warna yang diarahkan oleh sutradara Dear Nathan (2017) dan Dear Nathan Hello Salma (2018), Indra Gunawan, memiliki premis yang mungkin telah terasa begitu familiar. Pengisahan film ini berfokus pada kehidupan rumah tangga yang terjalin antara pasangan Fedi (Rano Karno) dan Kirana (Maudy Koesnaedi) bersama dengan putra tunggal mereka, Divo (Zayyan Sakha). Tidak ada yang benar-benar istimewa dari kehidupan keseharian pasangan tersebut. Namun, ketika Kirana mulai melupakan berbagai hal – mulai dari perlengkapan rumah tangga yang selalu dipakai, rutinitas keseharian, hingga sejumlah sosok yang mengisi kehidupannya – Fedi menyadari bahwa kehidupannya telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi. Kirana bahkan hanya memiliki sedikit waktu sebelum daya ingatnya benar-benar menghapus seluruh kenangan akan kehidupan yang telah dilaluinya. Continue reading Review: Pelangi Tanpa Warna (2022)

Review: Kukira Kau Rumah (2021)

Aktor muda yang baru akan menginjak usia 21 tahun pada 16 Februari mendatang, Umay Shahab, melakukan debut pengarahan film cerita panjangnya lewat Kukira Kau Rumah – sebuah drama romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan Monty Tiwa (Ghibah, 2021) dan Imam Salimy (Will You Marry Me, 2016) berdasarkan lirik dari lagu berjudul sama yang dibawakan oleh kelompok musik Amigdala. Linimasa pengisahannya akan memperkenalkan penonton pada seorang gadis dengan gangguan bipolar, Niskala (Prilly Latuconsina), yang merasa dirinya bagai hidup dalam kurungan kedua orangtuanya, Dedi (Kiki Narendra) dan Mella (Unique Priscilla), yang bersikap overprotektif akibat kondisi mental yang dimilikinya. Beban perasaan yang dirasakan oleh Niskala mulai terasa menghilang ketika ia berkenalan dan menjalin hubungan dengan seorang pemuda bernama Pram (Jourdy Pranata). Hubungannya dengan Pram secara perlahan mengubah sikap Niskala dalam keseharian, termasuk sikapnya terhadap teman-teman terdekatnya, Dinda (Shenina Cinnamon) dan Octavianus (Raim Laode). Continue reading Review: Kukira Kau Rumah (2021)