Tag Archives: Indonesian Cinema

Review: Mahasiswi Baru (2019)

Merupakan film arahan Monty Tiwa keempat yang dirilis tahun ini setelah Matt & Mou, Pohon Terkenal, dan Pocong the Origin, Mahasiswi Baru berkisah mengenai seorang wanita bernama Lastri (Widyawati) yang berusaha mewujudkan impiannya untuk berkuliah. Dengan usianya yang kini tidak lagi muda, hasrat Lastri tersebut jelas mendapat tentangan dari anaknya, Anna (Karina Suwandi). Lastri memilih untuk mengacuhkan tentangan sang anak dan lantas mendaftarkan dirinya ke sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta. Sama dengan reaksi yang didapatkannya dari Anna, kehadiran sosok Lastri yang memiliki usia jauh lebih tua dari para mahasiswa di perguruan tinggi tersebut juga menghasilkan tatapan aneh dan menjadi perbincangan banyak pihak. Beruntung, semangat Lastri dalam menjalani mimpinya tidak luntur begitu saja. Lastri bahkan berhasil membentuk jalinan persahabatan erat dengan Danny (Morgan Oey), Sarah (Mikha Tambayong), Erfan (Umay Shahab), dan Reva (Sonia Alyssa) yang semakin membuat masa perkuliahan Lastri semakin menyenangkan. Namun, ketika dirinya gagal untuk meraih nilai yang memuaskan pada semester pertamanya berkuliah, Lastri harus menghadapi ancaman akan dikeluarkan dari dekan fakultasnya, Chaerul Umam (Slamet Rahardjo). Continue reading Review: Mahasiswi Baru (2019)

Review: Dua Garis Biru (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi Gina S. Noer – yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis naskah untuk film-film seperti Hari Untuk Amanda (Angga Dwimas Sasongko, 2010), Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012), Posesif (Edwin, 2017), dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019), Dua Garis Biru bercerita tentang kehamilan di luar nikah yang dialami oleh pasangan remaja, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Awalnya, agar tidak mengganggu masa kelulusan sekolah mereka, Dara dan Bima merahasiakan tentang kehamilan tersebut. Rencana tersebut gagal setelah pihak sekolah mengetahui tentang kehamilan Dara. Dara kemudian dipecat dari sekolah dan bahkan ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing), yang kalut dan marah akibat kejadian tersebut. Kini, Dara tinggal bersama Bima dan kedua orangtuanya, Rudy (Arswendy Bening Swara) dan Yuni (Cut Mini), sembari memikirkan ulang berbagai rencana dan tindakan yang akan dilakukan dengan bayi yang kini sedang berada di kandungannya. Continue reading Review: Dua Garis Biru (2019)

Review: Doremi & You (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, BW Purbanegara (Ziarah, 2016), bersama dengan Jujur Prananto (Jelita Sejuba, 2018), Doremi & You berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Imung (Fatih Unru), Markus (Toran Waibro), dan Anisa (Nashwa Zahira). Jalinan persahabatan yang terjalin antara keempat pelajar sekolah menengah pertama tersebut mendapatkan sebuah ujian ketika mereka, secara tidak sengaja, menghilangkan uang pembelian jaket kelompok ekstrakurikuler paduan suara di sekolah mereka. Putri lantas mengusulkan pada teman-temannya untuk mengikuti kompetisi menyanyi bertajuk Doremi & You yang cukup terkenal di kalangan muda kota Yogyakarta guna mendapatkan hadiah senilai jutaan rupiah yang nantinya akan digunakan untuk mengganti uang yang telah mereka hilangkan. Dengan bantuan kakak kelas mereka, Reno (Devano Danendra), keempatnya mulai berlatih keras meskipun mendapatkan beberapa halangan dari berbagai masalah pribadi mereka masing-masing. Continue reading Review: Doremi & You (2019)

Review: Single Part 2 (2019)

Apakah dunia masih membutuhkan sebuah film lain tentang merananya kehidupan seorang pria melajang yang ditulis, diarahkan, dan dibintangi oleh Raditya Dika? Tema pengisahan tersebut sepertinya menjadi tema wajib bagi Dika di sepanjang karirnya di dunia film – baik ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Dika di Kambing Jantan the Movie (Rudy Soedjarwo, 2009), Cinta Brontosaurus (Fajar Nugros, 2013), Manusia Setengah Salmon (Herdanius Larobu, 2013), Marmut Merah Jambu (Dika, 2014), dan Koala Kumal (Dika, 2016), atau ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Miko di Cinta Dalam Kardus (Salman Aristo, 2013) dan Malam Minggu Miko the Movie (Dika, 2014). Tidak mengherankan. Film-film tersebut memang mampu digarap secara cukup menyenangkan oleh Dika dan kemudian berhasil menarik perhatian penonton dalam jumlah yang tidak sedikit. Film terakhir Dika yang bertema sama – sebelum akhirnya Dika mengeksplorasi tema pengisahan lain dalam tiga film terakhirnya: Hangout (2016), The Guys (2017), dan Target (2018) – Single yang dirilis pada akhir tahun 2015 bahkan masih mampu meraih lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa penayangannya. Continue reading Review: Single Part 2 (2019)

Review: Hit & Run (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Fajar Putra S dan Upi (My Stupid Boss 2, 2019), film terbaru arahan Ody C. Harahap (Orang Kaya Baru the Movie, 2019), Hit & Run, mencoba memadukan elemen aksi dengan komedi. Jalan ceritanya sendiri berfokus pada sosok polisi bernama Tegar (Joe Taslim) yang tidak hanya merupakan seorang polisi berprestasi namun juga menyandang gelar selebriti karena reality show popular bernama Hit & Run yang ia bintangi. Dalam salah satu tugas yang diberikan padanya, Tegar menangkap seorang penjual narkotika dan obat-obatan terlarang palsu, Lio (Chandra Liow), yang diduga memiliki hubungan kerjasama dengan Coki (Yayan Ruhian) yang merupakan seorang pimpinan gembong penjual narkotika dan obat-obatan terlarang yang baru saja melarikan diri dari penjara dan kini menjadi salah satu orang yang paling dicari oleh pihak kepolisian. Lio ternyata tidak memiliki hubungan langsung dengan Coki. Namun, melalui perantaraan Lio, Tegar kemudian menemukan beberapa petunjuk yang mampu membawanya untuk berhadapan langsung dengan Coki. Continue reading Review: Hit & Run (2019)

Review: Kuntilanak 2 (2019)

Melanjutkan kesuksesan Kuntilanak (Rizal Mantovani, 2018) yang di sepanjang masa perilisannya tahun lalu berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta penonton, Kuntilanak 2 kembali mempertemukan penonton dengan lima anak yatim piatu, Kresna (Andryan Bima), Dinda (Sandrinna Michelle Skornicki), Panji (Adlu Fahrezy), Miko (Ali Fikry), dan Ambar (Ciara Nadine Brosnan), yang dirawat oleh ibu asuh mereka, Donna (Nena Rosier), dalam petualangan baru mereka. Kali ini, Dinda dikisahkan dijemput oleh ibu kandungnya, Karmila (Karina Suwandi), yang dahulu menitipkan Dinda di panti asuhan namun kini meminta agar gadis kecil tersebut tinggal kembali bersamanya. Walau awalnya merasa curiga dengan kedatangan Karmila, Donna tetap memberikan izin pada Dinda untuk berangkat dan menemui Karmila di kediamannya. Ditemani oleh Julia (Susan Sameh), Edwin (Maxime Bouttier), dan anak-anak asuhan Donna lainnya sebagai bentuk perpisahan mereka, perjalanan Dinda untuk kembali ke rumah ibu kandungnya akhirnya dimulai. Kecurigaan Donna terbukti ketika perjalanan tersebut kemudian diwarnai berbagai kejadian aneh bernuansa mistis yang sepertinya berhubungan dengan kehidupan Dinda di masa lalu. Continue reading Review: Kuntilanak 2 (2019)

Review: Ghost Writer (2019)

Setelah menuliskan naskah cerita untuk beberapa film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016) dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Bene Dion Rajagukguk kini mengarahkan film layar lebar perdananya lewat Ghost Writer. Memadukan unsur horor dengan komedi, film yang naskah ceritanya digarap oleh Rajagukguk bersama dengan Nonny Boenawan ini bercerita mengenai seorang penulis novel, Naya (Tatjana Saphira), yang menemukan sebuah buku harian yang lantas dijadikannya inspirasi cerita bagi novel terbaru yang sedang digarapnya. Sial, buku harian tersebut ternyata pernah dimiliki oleh seorang pemuda bernama Galih (Ge Pamungkas) yang telah meninggal dunia akibat bunuh diri dan kini menghantui Naya karena tidak setuju isi buku hariannya dijadikan konsumsi publik. Ketakutan dengan teror yang dilakukan oleh Galih, Naya akhirnya mencoba berbicara dengan arwah penasaran tersebut yang kemudian ternyata menghasilkan sebuah kerjasama beda dunia antara mereka berdua. Continue reading Review: Ghost Writer (2019)

Review: Si Doel the Movie 2 (2019)

Tahun lalu, setelah lebih dari satu dekade semenjak berakhirnya masa tayang serial televisi Si Doel Anak Sekolahan, Rano Karno menghidupkan kembali karakter ikonik Kasdoellah atau Doel yang pernah ia perankan lewat Si Doel the Movie (2018). Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Karno, Si Doel the Movie melanjutkan kembali pengisahan yang dahulu sempat diakhiri pada serial televisinya dengan kembali menghadirkan barisan pemeran yang sama, seperti Mandra, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Suty Karno, hingga Aminah Cendrakasih. Dengan garapan drama yang kuat serta sentuhan elemen nostalgia yang begitu kental akan masa kejayaan serial televisi Si Doel Anak Sekolahan di masa lampau, Si Doel the Movie mampu meraih kesuksesan yang cukup besar: film tersebut berhasil mendapatkan tanggapan positif dari banyak kritikus film, naskah ceritanya mendapatkan nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2018, sementara filmnya sendiri sukses memikat lebih dari 1.7 juta penonton di sepanjang masa rilisnya di layar bioskop. Not bad. Continue reading Review: Si Doel the Movie 2 (2019)

Review: Ambu (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Farid Dermawan, Ambu berkisah mengenai hubungan antara ibu dan anak yang terjalin antara tiga karakter dari tiga generasi yang berbeda. Dengan latar belakang kehidupan Orang Baduy di Provinsi Banten yang terbiasa mengisolasi diri mereka dari dunia luar, jalan cerita Ambu dimulai ketika hubungan antara Fatma (Laudya Chynthia Bella) dan ibunya, Misnah (Widyawati), merenggang akibat ketidaksetujuan sang ibu akan jalinan asmara yang dibangun Fatma dengan seorang pemuda bernama Nico (Baim Wong) yang berasal dari Jakarta. Fatma lantas memilih untuk meninggalkan sang ibu, menikah dengan Nico dan memulai hidup barunya di Jakarta. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak ia meninggalkan sang ibu dan setelah rumah tangganya dengan Nico berakhir, Fatma memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan membawa puteri tunggalnya yang telah beranjak remaja, Nona (Luthesha). Tidak mengejutkan, kedatangan Fatma dan Nona disambut dingin oleh Misnah. Fatma tidak menyerah begitu saja. Ia ingin Nona untuk tidak mengulangi kesalahannya dan berharap agar ibunya mau menerima kehadiran sang cucu dalam kehidupannya. Continue reading Review: Ambu (2019)

Review: Sekte (2019)

Setelah mengarahkan beberapa film pendek – termasuk mengarahkan salah satu segmen dalam film omnibus 3Sum (2013), William Chandra melakukan debut pengarahan film panjangnya melalui Sekte. Filmnya sendiri berkisah mengenai seorang gadis (Asmara Abigail) yang kehilangan ingatannya ketika terbangun setelah tidak sadarkan diri akibat kecelakaan yang ia alami. Beruntung, selama masa tidak sadarkan diri tersebut, sang gadis diselamatkan oleh Dewi (Gesata Stella) dan beberapa temannya yang hidup di satu rumah yang menurut Dewi menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang merasa terasingkan oleh dunia. Awalnya, sang gadis merasa aman dan nyaman dengan sikap bersahabat yang ditunjukkan Dewi bersama dengan teman-temannya selama ia dirawat. Namun, secara perlahan, sang gadis mulai merasakan berbagai hal aneh yang terjadi di lingkungan rumah tersebut. Dan ketika sang gadis mulai menyadari bahwa Dewi dan teman-temannya memiliki rahasia kelam yang dapat membahayakan nyawanya, sang gadis mulai mencari cara untuk segera keluar dari rumah tersebut. Continue reading Review: Sekte (2019)

Review: 27 Steps of May (2019)

Dalam film pertama yang ia arahkan setelah merilis Jermal (2008), sutradara Ravi Bharwani mencoba untuk mengeksplorasi rasa duka dan trauma yang dialami oleh sesosok karakter setelah sebuah tragedi yang menimpanya. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jermal, Rayya Makarim – yang bersama dengan Bharwani dan Utawa Tresno juga membantu mengarahkan film tersebut, 27 Steps of May memperkenalkan penonton pada perempuan muda bernama May (Raihaanun) yang hidup dengan mengisolasi dirinya dari kehidupan sosial akibat trauma setelah peristiwa kekerasan seksual yang dialaminya. Tidak hanya sekedar memutuskan hubungan dengan dunia luar, May juga berhenti untuk berkata-kata bahkan ketika berkomunikasi dengan sang ayah (Lukman Sardi) yang juga memikul beban rasa bersalah akibat merasa tidak mampu melindungi puterinya. Namun, ketika sebuah celah secara tiba-tiba muncul di dinding kamarnya, sikap dan perilaku May mulai berubah. Tidak hanya membawakan seberkas sinar ke kamar May yang biasanya bernuansa kelam akibat tertutup rapat, celah tersebut memberikan ruang bagi May untuk melihat kilasan kehidupan yang selama ini telah ia jauhi dan tolak keberadaannya. Continue reading Review: 27 Steps of May (2019)

Review: Pocong the Origin (2019)

Selepas kesuksesannya dalam menggarap Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), dan Mendadak Dangdut (2006), sutradara Rudi Soedjarwo lantas menguji kemampuan penyutradaraannya untuk mengarahkan sebuah film horor yang berjudul Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) yang naskah ceritanya ditulis oleh Monty Tiwa. Sayang, film yang awalnya dijadwalkan rilis pada tahun 2006 tersebut batal diputar di layar bioskop Indonesia dikarenakan gagal lulus sensor akibat adanya muatan cerita serta adegan kekerasan yang dinilai terlalu sensitif dan brutal untuk dipresentasikan pada penonton film Indonesia. Walau film seri pertamanya tidak jadi dirilis, sekuel film tersebut, Pocong 2, yang juga masih diarahkan oleh Soedjarwo berdasarkan naskah cerita garapan Tiwa, tetap dirilis di tahun 2006 dan sekuel keduanya, Pocong 3, menyusul rilis setahun kemudian dengan Tiwa mengambil alih posisi sebagai sutradara film. Continue reading Review: Pocong the Origin (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)