Tag Archives: Korean Cinema

Review: The Divine Fury (2019)

Sukses dengan Midnight Runners (2017) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film namun juga, secara mengejutkan, mampu meraih kesuksesan komersial dan menjadi salah satu film Korea Selatan tersukses pada tahun perilisannya, sutradara Kim Joo-hwan dan aktor Park Seo-joon kembali berkolaborasi dalam The Divine Fury. Seperti halnya Midnight Runners, Kim masih mengedepankan nada pengisahan aksi pada The Divine Fury meskipun kali ini sajian aksi tersebut dihadirkan dalam balutan penceritaan horor. Lewat naskah cerita film yang juga digarapnya sendiri, Kim terasa berusaha ingin menciptakan tata cerita layaknya Constantine (Francis Lawrence, 2005) dengan memadukan elemen-elemen horor dari film-film seperti The Exorcist (William Friedkin, 1973) dan Stigmata (Rupert Wainwright, 1999). Menarik – walau, di saat yang bersamaan, Kim masih kurang mampu memaksimalkan berbagai potensi dari paduan aksi dan horor yang telah dirancangnya. Continue reading Review: The Divine Fury (2019)

Review: Parasite (2019)

Memulai karir pengarahan film layar lebarnya lewat Barking Dogs Never Bite (2000) yang kemudian diikuti dengan lima film lain yang berada di dalam filmografinya, termasuk Memories of Murder (2003), The Host (2006), Mother (2009), dan Okja (2017) – yang seluruhnya mendapatkan kesempatan ditayangkan di Cannes Film Festival – serta debut film berbahasa Inggrisnya, Snowpiercer (2013), yang merupakan film dengan biaya produksi terbesar sekaligus menjadi salah satu film tersukses sepanjang masa di Korea Selatan, tidak terbantahkan nama Bong Joon-ho telah menjadi salah satu ikon sutradara asal Korea Selatan yang paling dicintai sekaligus dihormati baik di negaranya maupun di kalangan penikmat film dari belahan dunia lainnya. Kemampuan Bong dalam memberikan interpretasi mendalam mengenai berbagai isu sosial, budaya, maupun politik yang sedang menghangat dan membalutnya dengan narasi yang kuat baik dalam nada pengisahan drama, thriller, atau fiksi ilmiah menjadikan setiap filmnya begitu mengesankan. Continue reading Review: Parasite (2019)

Review: Miss & Mrs. Cops (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi sutradara Jung Da-won, Miss & Mrs. Cops memulai pengisahannya dengan fokus yang diberikan pada Mi-yeong (Ra Mi-ran), salah seorang detektif wanita pertama di kepolisian Korea Selatan dengan masa depan yang cerah berkat keberanian maupun kehandalannya dalam bertugas. Namun, karir Mi-yeong kemudian berubah ketika dirinya memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga. Daripada bertugas sebagai seorang detektif yang beraksi di lapangan, Mi-yeong kemudian memilih untuk menjadi seorang petugas kantoran agar dirinya masih dapat terus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ketika dirinya mendapatkan laporan mengenai kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang mahasiswi dan tidak mendapatkan perhatian oleh rekan-rekannya sesama polisi, hati Mi-yeong mulai tergerak untuk kembali bertugas sebagai seorang detektif. Bersama dengan adik iparnya yang kini telah menjadi rekan kerjanya, Ji-hye (Lee Sung-kyung), Mi-yeong mulai mengumpulkan berbagai petunjuk untuk menangkap sang pelaku kejahatan. Continue reading Review: Miss & Mrs. Cops (2019)

Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Sekilas, film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Lee Won-tae setelah Man of Will (2017), The Gangster, The Cop, The Devil, terasa sebagai paduan antara Infernal Affairs (Andrew Lau, Alan Mak, 2002) dengan I Saw the Devil (Kim Jee-oon, 2010). Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Lee, The Gangster, The Cop, The Devil bercerita mengenai seorang pimpinan kelompok kriminal, Jang Dong-soo (Ma Dong-seok), yang terpaksa bekerjasama dengan seorang polisi yang selama ini memusuhinya, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), setelah dirinya menjadi korban penyerangan seorang pembunuh berantai. Jang Dong-soo memang berhasil menyelamatkan diri dari serangan pembunuh yang telah mengambil nyawa beberapa orang dan kini menjadi buronan pihak kepolisian Korea Selatan tersebut. Namun, reputasinya sebagai seorang pimpinan kelompok kriminal menjadi terancam oleh serangan tersebut. Lain halnya dengan Jung Tae-suk. Sebagai seorang polisi, ia ingin membuktikan kehandalan sekaligus kemampuan dirinya dengan menangkap sang pembunuh berantai. Dengan alasan-alasan personal tersebut, Jang Dong-soo dan Jung Tae-suk mengesampingkan perbedaan mereka untuk kemudian bersatu sekaligus berpacu dalam menangkap sang pembunuh berantai. Continue reading Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Review: Extreme Job (2019)

Film terbaru arahan Lee Byeong-heon (What a Man Wants, 2018), Extreme Job, sebenarnya menawarkan garisan penceritaan yang cukup sederhana: kisah sekelompok detektif yang berusaha untuk membongkar dan menangkap sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Dalam usaha tersebut, Chief Go (Ryu Seung-ryong), Detective Jang (Lee Hanee), Detective Young-ho (Lee Dong-hwi), Detective Ma (Jin Seon-kyu), dan Detective Jae-hoon (Gong Myung), menyamar menjadi satu keluarga yang memiliki usaha restoran penjual ayam goreng agar dapat memantau lokasi yang diduga menjadi tempat berkumpulnya para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut. Tanpa terduga, restoran yang mereka kelola sebagai kedok penyamaran justru mampu menarik minat pembeli dalam jumlah besar dan mendadak menjadi begitu popular ke seantero Korea Selatan akibat racikan resep ayam goreng dari Detective Ma yang benar-benar enak. Jelas saja, kesibukan dalam mengelola restoran secara perlahan memecah konsentrasi kelima detektif dalam menjalankan tugas mereka sekaligus membuat para anggota sindikat pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang mulai dapat mencium keberadaan mereka. Continue reading Review: Extreme Job (2019)

Review: Swing Kids (2018)

Berlatar belakang lokasi pengisahan di Kamp Tahanan Geoje yang berada di Korea Selatan – yang digunakan untuk menahan para tawanan perang di saat berkecamuknya Perang Korea pada awal tahun 1950an, Swing Kids menyajikan sebuah kisah fiksi tentang persahabatan yang terjalin antara seorang tentara Amerika Serikat berkulit hitam, Jackson (Jared Grimes), seorang tentara Komunis asal Korea Utara, Ro Ki-soo (Do Kyung-soo), seorang tentara China bernama Xiao Fang (Kim Min-ho), seorang anti Komunis yang sedang berusaha menemukan kembali istrinya, Kang Byung-sam (Oh Jung-se), serta seorang wanita yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup, Yang Pan-rae (Park Hye-su). Meskipun memiliki ideologi dan tujuan hidup yang berbeda-beda, kelimanya kemudian disatukan oleh rasa cinta mereka pada seni tari yang mereka anggap mampu membebaskan jiwa mereka di saat fisik mereka terpenjara akibat peperangan yang tak kunjung usai. Jalinan hubungan cinta dan persahabatan yang lantas mampu membawa mereka bertahan melalui berbagai problema kehidupan. Continue reading Review: Swing Kids (2018)

Review: A Day (2017)

WellHappy Death Day (Christopher Landon, 2017) bukanlah satu-satunya film rilisan tahun ini yang menggunakan pola pengisahan time loop dalam jalan ceritanya. Film berjudul A Day yang menjadi debut penyutradaraan bagi penulis naskah asal Korea Selatan, Cho Sun-ho, juga menggunakan cara bercerita yang sama dan bahkan menyajikannya dengan elemen pengisahan drama yang lebih kompleks sekaligus emosional. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Cho, A Day berkisah mengenai seorang ahli bedah, Kim Joon-young (Kim Myung-min), yang setelah sekian lama berada di luar negeri untuk mengikuti serangkaian kegiatan amal akhirnya kembali ke Korea Selatan untuk bertemu kembali dengan puterinya, Eun-jung (Jo Eun-hyung). Sial, sebelum ia sempat bertemu dengan Eun-jung, gadis tersebut meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Kim Joon-young kemudian terbangun dalam pesawat yang membawanya kembali ke kampung halamannya dan mengira bahwa rentetan tragedi yang disaksikannya hanyalah sebuah mimpi. Namun, setelah deretan kejadian yang ia kira berada dalam mimpinya kembali berulang, Kim Joon-young mulai menyadari bahwa ia harus memecahkan sebuah misteri untuk dapat menyelamatkan puterinya. Continue reading Review: A Day (2017)

Review: The Mimic (2017)

Merupakan film pertama dari sutradara Huh Jung setelah meraih kesuksesan besar lewat debut pengarahan film layar lebarnya, Hide and Seek (2013), The Mimic berkisah mengenai pasangan suami istri, Min-ho (Park Hyuk-kwon) dan Hee-yeon (Yum Jung-ah), yang bersama dengan puteri mereka, Joon-hee (Bang Yu-seol), dan ibu dari Min-ho, Soon-ja (Heo Jin), memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota setelah kehilangan putera mereka. Tidak lama setelah kepindahan tersebut, wilayah tempat mereka tinggal dihebohkan dengan penemuan sesosok jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya. Di saat yang bersamaan, Hee-yeon bertemu dengan seorang gadis kecil (Shin Rin-ah) yang ia duga tersesat dan terpisah dari orangtuanya. Hee-yeon lantas memutuskan untuk mengajak gadis tersebut untuk tinggal bersamanya sebelum nantinya ia melaporkan penemuan gadis tersebut ke pihak kepolisian. Namun, deretan kejadian aneh mulai mewarnai kehidupan Hee-yeon dan sekaligus membuat kebahagiaan keluarganya secara perlahan mulai terasa menghilang. Continue reading Review: The Mimic (2017)

Review: Midnight Runners (2017)

Berkisah mengenai sepasang siswa akademi kepolisian yang terlibat dalam pengungkapan sebuah kasus kriminal dan disajikan dalam warna pengisahan komikal, Midnight Runners sekilas terdengar sebagai sebuah interpretasi dari 21 Jump Street (Phil Lord, Chris Miller, 2012). Tidak sepenuhnya salah. Namun, berbeda dengan film yang dibintangi Channing Tatum dan Jonah Hill tersebut, Midnight Runners secara tidak terduga turut menyertakan beberapa bagian pengisahan yang cukup terasa kelam dalam penceritaannya. And there’s absolutely nothing wrong with that. Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh Kim Joo-Hwan (Koala, 2013) sekaligus mengandalkan chemistry yang luar biasa hangat dan sangat meyakinkan dari dua pemeran utamanya, Park Seo-joon dan Kang Ha-neul, Midnight Runners berhasil tampil sebagai sebuah buddy cop movie yang tidak hanya menghibur namun juga mampu memberikan beberapa komentar sosial yang kuat dalam presentasinya. Continue reading Review: Midnight Runners (2017)

Review: The Battleship Island (2017)

Terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di masa penjajahan Jepang atas Korea pada tahun 1910 – 1945, The Battleship Island berkisah mengenai 400 orang warga Korea yang dibawa – sebagian besar dengan cara paksa – oleh pasukan Jepang untuk bekerja di sebuah tambang batubara yang terletak di Hashima Island, Jepang. Di sana, para warga Korea tersebut diharuskan untuk bekerja secara terus menerus dengan upah yang sangat rendah – kaum pria bertugas untuk menggali lapisan batubara sementara kaum wanita dijadikan sebagai penghibur bagi para tentara Jepang. Tidak tahan dengan perlakuan kasar dan semena-mena dari pihak Jepang, beberapa orang pekerja mulai menyusun rencana dan strategi untuk dapat melawan para tentara Jepang dan keluar dari pulau tersebut. Dan ketika mereka mendengar kabar bahwa pihak militer Jepang mulai mengalami kesulitan dan kekalahan dari perang mereka terhadap tentara sekutu – yang berasal dari Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet dan Republik Tiongkok, pada saat itu pula mereka tahu kalau mereka harus segera bersatu untuk dapat meraih momen kemerdekaan hidup mereka. Continue reading Review: The Battleship Island (2017)

Review: The Merciless (2017)

Diarahkan oleh Byun Sung-hyun berdasarkan naskah cerita yang juga ditulis oleh Byun sendiri, The Merciless berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara Han Jae-ho (Sol Kyung-gu) dan Jae Hyun-soo (Im Si-wan) ketika mereka sama-sama menjalani masa hukuman mereka di dalam penjara. Setelah melalui berbagai tantangan di dalam penjara, termasuk beberapa kekacauan yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara para narapidana, Jae-ho memutuskan untuk memperkenalkan Hyun-soo pada organisasi kriminalnya yang dipimpin Ko Byung-Chul (Lee Kyeong-yeong) sekaligus mengajaknya untuk bergabung selepas masa hukuman mereka berakhir. Berkat hubungan persahabatan keduanya yang kental itulah organisasi kriminal mereka meraih banyak kesuksesan. Namun, di saat yang bersamaan, seorang polisi yang bertekad untuk membongkar berbagai kejahatan yang telah dilakukan oleh organisasi kriminal tersebut, Cheon In-sook (Jeon Hye-jin), telah memiliki rencana untuk dapat meraih tujuannya, termasuk dengan membongkar rahasia dan masa lalu dari Han Jae-ho dan Jae Hyun-soo. Continue reading Review: The Merciless (2017)

Review: The Tower (2012)

the-tower-header

Dengan naskah arahan Kim Sang-don dan Heo Joon-seok berdasarkan inspirasi yang didapatkan oleh sutradara Kim Ji-hoon (Sector 7, 2011) dari film pemenang Academy Awards, The Towering Inferno (1974), The Tower memulai kisahnya dengan kesibukan yang terjadi pada malam Natal di Tower Sky – sebuah bangunan gedung pencakar langit tertinggi dan termewah yang berlokasi di kota Seoul, Korea Selatan. Pemilik gedung yang masih tergolong baru tersebut, President Jo (Cha In-pyo), berencana untuk menggelar sebuah pesta perayaan Natal termewah serta paling prestisius untuk segenap penyewa ruangan di gedung tersebut sekaligus mengundang banyak pejabat dan orang-orang penting di Korea Selatan.

Continue reading Review: The Tower (2012)

Review: Fetish (2008)

Untuk sebuah film yang menggunakan sebuah kata yang cukup provokatif sebagai judulnya, Fetish – atau yang di beberapa negara lainnya dirilis dengan judul Make Yourself at Home – sama sekali bukanlah sebuah film yang menawarkan sesuatu yang layak untuk diperbincangkan. Naskah cerita sekaligus tata penyutradaraan yang lemah membuat film yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar sineas Korea Selatan, Soopum Sohn, sekaligus menjadi debut penampilan aktris kesayangan masyarakat Negeri Ginseng, Song Hye-kyo, dalam sebuah film yang diproduksi oleh dan dirilis di Amerika Serikat ini  menjadi sangat datar dan jauh dari kesan dapat dinikmati dengan baik.

Continue reading Review: Fetish (2008)