Review: Emergency Declaration (2021)


Setelah The Show Must Go On (2007) dan The Face Reader (2013), aktor Song Kang-ho kembali diarahkan oleh sutradara Han Jae-rim untuk thriller yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Han, Emergency Declaration. Juga dibintangi oleh Lee Byung-hun, Emergency Declaration bercerita tentang sekelompok kru dan penumpang sebuah pesawat terbang, termasuk Jae-hyuk (Lee) dan puterinya, Soo-min (Kim Bo-min), yang terjebak dalam situasi hidup atau mati ketika pesawat mereka berada dalam ancaman teror biologis yang dapat membunuh orang-orang yang terinfeksi dalam waktu singkat. Di daratan, kepanikan juga dirasakan oleh detektif In-ho (Song). Bukan hanya karena dirinya dan satuan kepolisian tempatnya bekerja telah menerima petunjuk mengenai sosok pelaku dari teror biologis, namun juga dikarenakan sang istri, Hye-yoon (Woo Mi-hwa), merupakan salah satu dari penumpang dari pesawat yang berangkat dari Seoul, Korea Selatan menuju Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat tersebut.

Layaknya kebanyakan film bencana, Han memulai penuturan Emergency Declaration dengan memperkenalkan sejumlah karakter yang nantinya akan memegang peranan krusial dalam alur pengisahan. Jumlahnya tidak terlalu banyak dan naskah cerita garapan Han mampu membangun serta mengembangkan tuturan yang cukup mumpuni bagi karakter-karakter tersebut. Namun, keberhasilan utama dari penuturan film ini jelas berasal dari kehandalan Han untuk mengelola misteri serta intensitas ketegangan yang memang ingin (dan harus) ditonjolkannya. Kemampuan Han tersebut bahkan telah ia pamerkan semenjak paruh pertama film, ketika linimasa penceritaan memberikan eksplorasi awal bagi sederetan karakter dan lapisan awal misteri telah disingkap. Han juga tidak menumpukan paparan film pada elemen misterinya. Konflik yang mengandung unsur misteri segera diselesaikan tetapi, di saat yang bersamaan, intensitas ketegangan terus dihadirkan – dan bahkan ditingkatkan.

Emergency Declaration memang mendapatkan momen-momen emas penuturannya ketika berkisah tentang bagaimana para karakter penumpang pesawat berusaha untuk bertahan dalam situasi yang mengancam nyawa mereka. Diproduksi sebelum pandemi COVID-19 menghantui dunia, konflik akan teror biologis berupa virus mematikan yang begitu mudah untuk menular juga mampu dikembangkan Han untuk menghadirkan sentilan-sentilan sosial dan politis tentang bagaimana manusia dapat mengorbankan sosok manusia lain demi keselamatan dirinya sendiri – meskipun, tentu saja, masih banyak sosok lain yang akan terus berusaha menyelamatkan orang-orang di sekitarnya, hingga isu akan pertimbangan bisnis dan kepentingan politik yang seringkali membayangi keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan khalayak ramai. Bayangan akan terjebak di ruang yang sama dengan sosok virus yang mematikan memang mengerikan. Namun kedekatan gambaran tentang bagaimana sifat terburuk manusia dapat muncul ketika diri mereka dihadapkan pada masalah pelik – khususnya ketika telah melewati pandemi COVID-19 beberapa saat yang lalu – jelas akan menghadirkan mimpi buruk tersendiri.

Intensitas pengisahan yang begitu mengangkasa semenjak awal pengisahan – yang mampu ditangani dan dijaga dengan baik oleh Han pada paruh cerita lanjutan film – memang menjadikan Emergency Declaration sebagai sajian ketegangan yang efektif.  Di sisi lain, kesan mengangkasa tersebut terasa mendapat hempasan ketika Han mulai memberikan fokus lebih besar pada kisah maupun konflik yang melibatkan barisan karakter dalam alur pengisahan film. Tidak buruk, namun fokus yang kemudian terpecah tidak ayal memberikan kesan penuturan yang stagnan, khususnya di sejumlah bagian para paruh akhir pengisahan film. Konflik bertemakan politik yang coba dibangun Han juga tidak mendapatkan pengembangan yang cukup matang untuk membuatnya terasa menemukan resolusi cerita yang bernilai memuskan. Begitu pula dengan deretan kejadian yang bernada “sudah jatuh tertimpa tangga” yang mengisi relung pengisahan akhir Emergency Declaration. Untuk film yang melaju dengan kapasitas maksimal semenjak awal, film ini terasa kebingungan untuk menetapkan landasan akhir yang setara untuk menutup presentasinya.

Terlepas dari sejumlah permasalahan dan kelemahan penuturan pada babak akhir, Emergency Declaration tidak pernah terasa kehilangan daya tariknya berkat penampilan para pengisi departemen aktingnya yang nyaris tanpa cela. Lee dan Song yang berada di garda terdepan mampu memberikan penampilan prima yang membuat dua karakter yang mereka perankan terus mengikat perhatian. Sejumlah penampil pendukung juga mampu mencuri perhatian, seperti Kim So-jin yang berperan sebagai seorang pramugari yang teguh menjalankan tugasnya meskipun kepanikan sedang melanda sekitarnya, Kim Nam-gil yang berperan sebagai pilot yang ternyata memiliki tautan kisah dari masa lampau dengan karakter Jae-hyuk, serta Im Si-wan yang meskipun hadir hanya pada paruh awal film namun mampu meninggalkan kesan yang luar biasa mendalam. Sebuah capaian yang semakin mengilapkan performa Emergency Declaration sebagai thriller berkelas.

popcornpopcornpopcornpopcorn-half popcorn2

Emergency-Declaration-movie-posterEmergency Declaration (2021)

Directed by Han Jae-rim Written by Han Jae-rim Produced by Han Jae-rim, Baek Chang-joo, Eum Zoo-young Starring Song Kang-ho, Lee Byung-hun, Jeon Do-yeon, Kim Nam-gil, Im Si-wan, Kim So-jin, Park Hae-joon, Ahn Jeong Ho, Jeon Su-ji, Seol In-ah, Jang Seo-yeon, Kim Gook-hee, Woo Mi-hwa, Hyun Bong-sik, Kim Bo-min, Kwon Han-sol Cinematography Lee Mo-Gae, Park Jong-Chul Edited by Kim Woo-Hyun, Lee Kang-il, Han Jae-rim Music by Lee Byung-woo Production companies Wooju Film Co., Ltd./Showbox Co., Ltd. Running time 147 minutes Country South Korea Language Korean

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s