Review: Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Jika film animasi Seoul Station (Yeon Sang-ho, 2016) memiliki peran untuk mengisahkan berbagai hal yang terjadi sebelum deretan konflik yang diceritakan dalam Train to Busan (2016), Peninsula – atau yang dirilis di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan judul Train to Busan Presents: Peninsula – memiliki latar belakang waktu pengisahan empat tahun setelahnya. Meskipun berada dalam semesta pengisahan yang sama, namun, seperti halnya Seoul Station, film yang naskah ceritanya ditulis oleh Yeon bersama dengan Park Joo-suk ini tampil sebagai kisah yang berdiri sendiri dan tidak memiliki keterikatan konflik maupun karakter dengan Train to Busan. Yeon dan Park juga sepertinya merancang Train to Busan Presents: Peninsula untuk memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang berbeda. Masih berfokus pada deretan ketegangan akan usaha melarikan diri dari kejaran kumpulan mayat hidup, tentu saja, namun Train to Busan Presents: Peninsula disajikan dengan tatanan aksi yang lebih intens dan maksimal.

Alur cerita Train to Busan Presents: Peninsula dimulai ketika Jung-seok (Gang Dong-won) yang bersama dengan kakak iparnya, Chul-min (Kim Do-yoon), menerima pekerjaan dari seorang mafia asal China untuk kembali ke wilayah Korea Selatan yang telah terpapar pandemi mayat hidup untuk mengambil sebuah truk yang berisi uang tunai jutaan dolar. Meskipun harus menghadapi sejumlah mayat hidup yang menghalangi perjalanan, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan oleh keduanya. Sial, dalam perjalanan pulang menuju Pelabuhan Incheon yang terletak di Semenanjung Korea, Jung-seok dan Chul-min mendapat serangan dari pasukan milisi yang dikenal dengan sebutan Unit 631 pimpinan Captain Seo (Koo Kyo-hwan) dan Sergeant Hwang (Kim Min-jae). Jung-seok dan Chul-min jelas harus berjuang lebih keras lagi jika mereka ingin menyelamatkan nyawa mereka.

Tidak seperti Train to Busan yang terasa memiliki alur pengisahan yang lebih personal berkat kedalaman penggalian karakternya, Train to Busan Presents: Peninsula hadir dengan dinamika penceritaan yang seringkali tampil untuk menonjolkan adegan-adegan aksi dalam film ini. Tidak mengherankan jika banyak elemen pengisahan dalam film ini seakan tampil layaknya paduan tema maupun kisah dari film-film klasik seperti Mad Max (George Miller, 1979) atau Escape from New York (John Carpenter, 1981). Beruntung, Yeon memiliki kemampuan yang cukup untuk menangani banyak adegan aksi dalam Train to Busan Presents: Peninsula. Didukung dengan tata produksi yang lebih rumit (dan, tentu saja, terlihat lebih mahal) dari film sebelumnya, Yeon menggarap filmnya sebagai film aksi dengan kawanan karakter mayat hidup yang bergerak cepat dan tampilan visual yang cukup memikat. Penonton mungkin tidak akan menemukan konflik ataupun karakter yang benar-benar mengikat secara emosional namun Yeon jelas berhasil menjadikan Train to Busan Presents: Peninsula untuk tampil tanpa kesan membosankan.

Harus diakui, memang akan cukup sulit untuk melampau atau bahkan hanya untuk sekedar menyamai pencapaian Yeon dan Park sebelumnya dalam Train to Busan. Film tersebut berhasil menerapkan tatanan standar kisah tersendiri bagi film-film sejenis yang dirilis setelahnya. Barisan konflik dan karakter yang ditampilkan Train to Busan Presents: Peninsula hampir seluruhnya tersaji dengan warna yang tidak terlalu menarik maupun menonjol. Tentu, Yeon dan Park masih mampu menyelipkan simbolisme tentang ketamakan umat manusia yang masih saja akan selalu ada di saat bencana ataupun bicara tentang usaha untuk memperbaiki diri dari kesalahan di masa lalu. Sayang, tidak satupun dari tema pengisahan tersebut mampu diasah dengan kuat dan tajam sehingga seringkali tertutupi oleh usaha Yeon untuk mengedepankan Train to Busan Presents: Peninsula sebagai sebuah sajian horor dengan elemen aksi yang kental.

Beruntung, meskipun karakter-karakter yang mereka perankan terasa setengah matang, barisan pengisi departemen akting film ini tetap mampu menghadirkan penampilan terbaik mereka. Gang memang tidak memiliki kharisma sekuat Gong Yoo maupun Ma Dong-seok namun sebagai karakter Jung-seok yang ia perankan jelas memiliki daya tarik yang akan tetap mampu membuat penonton untuk terus mengikuti perjalanannya. Lee Jung-hyun yang berperan sebagai seorang ibu bagi dua orang puteri yang diperankan Lee Re dan Lee Ye-won juga memberikan penampilan apik. Karakter yang diperankan ketiganya juga sering menjadi sentuhan emosional bagi alur cerita Train to Busan Presents: Peninsula. Koo dan Kim juga berhasil menjadikan sosok dua karakter antagonis yang mereka perankan tampil efektif. Kualitas departemen akting yang solid untuk menjadikan Train to Busan Presents: Peninsula sebagai sajian yang tidak terlalu buruk.

 

Train to Busan Presents: Peninsula (2020)

Directed by Yeon Sang-ho Produced by Lee Dong-ha Written by Park Joo-Suk, Yeon Sang-ho Starring Gang Dong-won, Lee Jung-hyun, Lee Re, Kwon Hae-hyo, Kim Min-jae, Koo Kyo-hwan, Kim Do-yoon, Lee Ye-won, Jang So-yeon, Moon Woo-jin, Kim Kyu-baek, Bella Rahim Music by Mowg Cinematography Lee Hyung-deok Edited by Yang Jin-mo Production company Next Entertainment World/RedPeter Film/New MovieD Running time 116 minutes Country South Korea Language Korean

Leave a Reply