Tag Archives: Review

Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Well… jika Anda belum jenuh dengan eksplorasi akan semesta pengisahan The Conjuring, James Wan kembali menghadirkan sebuah bangunan kisah horor baru yang diikutsertakan dalam semesta pengisahan tersebut. Dengan mengambil inspirasi dari salah satu dongeng asal Meksiko yang berkisah tentang sosok supranatural yang dikenal dengan sebutan La Llorona, The Curse of the Weeping Woman memiliki latar belakang waktu penceritaan pada tahun 1970an dengan cerita yang berfokus pada kehidupan seorang ibu yang bekerja sebagai seorang pekerja sosial, Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini), serta kedua anaknya, Chris (Roman Christou) dan Samantha Garcia (Jaynee-Lynne Kinchen). Ketika sedang menangani sebuah kasus kematian dua orang anak, Anna Tate-Garcia baru menyadari bahwa ada sesuatu hal yang mengganggu kehidupan kedua anaknya. Tidak tinggal diam, Anna Tate-Garcia lantas meminta bantuan pihak gereja untuk membantunya mengusir sosok yang semenjak lama dikenal dengan sebutan La Llorona dan memang gemar menculik para anak-anak manusia untuk dijadikannya sebagai anaknya sendiri. Continue reading Review: The Curse of the Weeping Woman (2019)

Review: Sunyi (2019)

In another not so necessary remake of the month – setelah Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang dirilis minggu lalu, sutradara Awi Suryadi (Danur 2: Maddah, 2018) memberikan interpretasinya akan film horor asal Korea Selatan arahan Park Ki-hyung, Whispering Corridors (1998), melalui Sunyi. Dikisahkan, Alex (Angga Aldi) dan Maggie (Amanda Rawles) merupakan dua orang pelajar baru di sebuah sekolah unggulan. Bagi banyak pemuda seusianya, keberhasilan mereka untuk masuk di sebuah sekolah yang terkenal akan prestasi dan pencapaian para alumninya jelas merupakan sebuah hal yang membanggakan. Sayangnya, budaya senioritas yang ditunjukkan melalui tindakan perundungan secara disik maupun mental yang telah berlangsung secara turun temurun di lingkungan sekolah tersebut justru menjadi neraka bagi Alex dan Maggie. Tindakan perundungan tersebut begitu dirasakan oleh Alex khususnya dari tiga sahabat, Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki). Namun, ketika Andre, Erika, dan Fahri memaksa Alex untuk melakukan ritual pemanggilan arwah, sebuah kesalahan fatal terjadi dan rangkaian kematian mulai menghantui sekolah tersebut. Continue reading Review: Sunyi (2019)

Review: Ave Maryam (2019)

Cinta terlarang mungkin adalah tema pengisahan yang telah terasa begitu familiar. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh sutradara Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita, 2011) lewat film terbarunya yang berjudul Ave Maryam, jelas masih ada banyak ruang untuk memberikan berbagai sentuhan baru pada tema cerita yang telah familiar tersebut. Berdasarkan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Ave Maryam berkisah mengenai kehidupan Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang dalam kesehariannya bertugas untuk merawat para suster sepuh. Suatu hari, sembari membawa seorang suster sepuh baru bernama Suster Monic (Tutie Kirana) untuk dirawat, Romo Martin (Joko Anwar) memperkenalkan Suster Maryam pada Romo Yosef (Chicco Jerikho) yang direncanakan akan mengajarkan kemampuan bermusiknya di gereja. Berbeda dengan Suster Maryam yang cenderung selalu bersikap kaku, Romo Yosef adalah sosok yang lebih bebas dalam setiap tingkah laku dan perkataannya. Sebuah perbedaan yang secara perlahan mulai menarik hati Suster Maryam. Continue reading Review: Ave Maryam (2019)

Review: Greta (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Neil Jordan (Byzantium, 2013), bersama dengan Ray Wright (The Crazies, 2010), Greta berkisah mengenai pertemuan dan perkenalan yang terjadi antara seorang pramusaji bernama Frances McCullen (Chloë Grace Moretz) dengan seorang guru piano bernama Greta Hideg (Isabelle Huppert) setelah Frances McCullen mengembalikan tas milik Greta Hideg yang tertinggal di kereta yang mereka naiki bersama. Sosok Greta Hideg yang hidup dalam kesendirian setelah kematian sang suami dan ditinggal oleh puterinya yang menuntut ilmu ke luar negeri ternyata menyita perhatian dan simpati Frances McCullen – yang juga baru kehilangan ibu kandungnya dan memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan sang ayah, Chris McCullen (Colm Feore). Hubungan keduanya lantas berkembang menjadi hubungan persahabatan dengan jalinan komunikasi yang terjadi secara intens. Namun, ketika Frances McCullen menemukan sebuah rahasia kelam dari kehidupan Greta Hideg yang dapat membahayakan hidupnya, Frances McCullen sadar bahwa ia harus segera menjauh sekaligus mengakhiri hubungan persahabatan tersebut. Continue reading Review: Greta (2019)

Review: Hotel Mumbai (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara asal Australia, Anthony Maras, Hotel Mumbai adalah sebuah film yang mencoba untuk merekonstruksi menit-menit horor terjadinya serangan terorisme di kota Mumbai, India pada tahun 2008 dengan fokus utama diberikan pada serangan yang terjadi pada The Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan salah satu hotel tertua di India. Jalan ceritanya sendiri menjadikan beberapa karakter sebagai penentu arah pengisahan film: pasangan David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang menginap di hotel tersebut bersama anak mereka dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey); seorang pramusaji bernama Arjun (Dev Patel) yang bekerja di bawah arahan atasannya, Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher); serta seorang mantan anggota militer Rusia, Vasili (Jason Isaacs), yang merupakan pengunjung tetap hotel tersebut dan telah dikenal dengan sikap arogannya. Bersama dengan ratusan penghuni The Taj Mahal Palace lainnya, karakter-karakter tersebut terjebak selama empat hari di dalam hotel ketika sekelompok anggota teroris datang dan mulai melakukan aksi sadisnya. Continue reading Review: Hotel Mumbai (2019)

Review: Pet Sematary (2019)

Bagi banyak penikmat karya literatur, Pet Sematary mungkin merupakan salah satu novel terbaik yang pernah ditulis oleh Stephen King. Dirilis perdana pada tahun 1983, novel yang terbangun atas tema serta konflik cerita tentang kematian, rasa duka akibat kehilangan sosok yang begitu dicinta, hingga kandungan elemen misteri akan alam supranatural ini memang menjadi salah satu novel milik King paling popular, sempat memenangkan beberapa penghargaan prestisius, hingga memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada kultur pop dunia. Hollywood, tentu saja, tidak ketinggalan untuk memanfaatkan kepopularan Pet Sematary. Sebuah film adaptasi berjudul sama arahan sutradara Mary Lambert dirilis pada tahun 1989 dan mampu meraih kesuksesan komersial yang cukup besar – meskipun dengan ulasan medioker dari para kritikus film dunia. Lambert kembali mengarahkan sekuel Pet Sematary, Pet Sematary Two (1992), yang, sayangnya, gagal mengulang kesuksesan film pertama dan bahkan tampil dengan kualitas yang membuat King memutuskan untuk tidak mengasosiakan namanya dengan film tersebut. Yikes. Continue reading Review: Pet Sematary (2019)

Review: Mantan Manten (2019)

Diarahkan oleh Farishad Latjuba (Mantan Terindah, 2014), Mantan Manten berkisah mengenai kehidupan glamor seorang manajer investasi sukses, Yasnina (Atiqah Hasiholan), yang harus berakhir ketika dirinya dikhianati oleh pemimpin perusahaannya sendiri, Iskandar (Tio Pakusadewo). Dalam sekejap, harta Yasnina habis tak bersisa. Tidak hanya itu, rencana pernikahannya dengan sang tunangan, Surya (Arifin Putra), juga terancam batal. Sepenggal harapan muncul ketika asisten Yasnina, Ardy (Marthino Lio), mengingatkan dirinya bahwa ia masih memiliki sebuah villa yang terletak di Tawangmangu yang tidak disita karena akte kepemilikannya belum dituliskan atas nama Yasnina. Villa tersebut kini menjadi tumpuan harapan Yasnina untuk dapat bangkit kembali sekaligus mendukung usahanya untuk menyeret Iskandar ke pengadilan. Namun, usaha Yasnina untuk mengambil alih kepemilikan villa tersebut mendapatkan sebuah tantangan ketika pemilik lama villa, Koes Marjanti (Tutie Kirana), memiliki rencana lain kepada Yasnina. Sebuah rencana yang nantinya akan membuka mata sekaligus mengubah masa depan hidup dari Yasnina. Continue reading Review: Mantan Manten (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Tiga tahun setelah kesuksesan film perdananya – yang berhasil meraih lebih dari tiga juta penonton selama masa penayangannya – Falcon Pictures merilis sekuel bagi My Stupid Boss, My Stupid Boss 2. Masih diarahkan oleh Upi (My Generation, 2017) berdasarkan naskah cerita yang masih diadaptasi dari seri buku berjudul sama karangan Chaos@work, My Stupid Boss 2 melanjutkan cerita akan pengalaman buruk dari Diana (Bunga Citra Lestari) dan rekan-rekannya, Mr. Kho (Chew Kinwah), Norahsikin (Atikah Suhaime), Adrian (Iedil Putra), dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen), ketika bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang lebih dikenal dengan sebutan Bossman (Reza Rahadian). Kali ini, akibat semakin banyaknya pekerja perusahaan yang mengundurkan diri akibat tidak nyaman dengan banyak peraturan semena-mena dari Bossman, Bossman kemudian mengajak Diana, Mr. Kho, dan Adrian untuk mencari pekerja dengan upah murah di Vietnam. Seperti yang dapat diduga, perilaku tidak menyenangkan dari Bossman kembali menyebabkan mereka terjebak dalam berbagai masalah. Sementara itu, Norahsikin dan Azahari yang ditugaskan untuk tetap bertugas di kantor juga harus menghadapi masalah ketika sekumpulan preman mendatangi kantor untuk menagih hutang yang dimiliki oleh Bossman. Continue reading Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Review: Dumbo (2019)

This new Dumbo is a weird movie. Diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan mengikuti jejak Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), serta Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) sebagai film live action yang dibuat ulang berdasarkan film animasi klasik rilisan rumah produksi tersebut, paruh pengisahan film arahan Tim Burton (Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, 2016) ini bercerita tentang seorang pemilik wahana hiburan raksasa yang membeli sebuah sirkus kecil terkenal untuk bergabung ke dalam usahanya namun kemudian membuang berbagai elemen yang membuat sirkus tersebut menjadi terkenal sekaligus merumahkan banyak para pekerjanya. Terdengar familiar? Mungkin karena Dumbo dirilis seminggu setelah negosiasi panjang Walt Disney Studios Motion Pictures untuk mengakuisisi 21st Century Fox akhirnya selesai dan, ironisnya, lantas mulai “membuang” beberapa bagian dari rumah produksi yang baru saja dibelinya tersebut. Ding ding ding. Hollywood. Continue reading Review: Dumbo (2019)

Review: On the Basis of Sex (2018)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Mimi Leder setelah mengarahkan Thick as Thieves di tahun 2009 lalu, On the Basis of Sex mencoba berkisah tentang sekelumit kehidupan dari aktivis kesetaraan gender dan hak kaum perempuan yang juga kini duduk menjabat sebagai salah satu Hakim Agung Amerika Serikat, Ruth Bader Ginsburg. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Daniel Stiepleman, On the Basis of Sex memulai alur kisahnya di tahun 1956 ketika Ruth Bader Ginsberg (Felicity Jones) mengikuti jejak suaminya, Martin Ginsburg (Armie Hammer), untuk menjadi seorang mahasiswa jurusan hukum di Harvard University. Di era tersebut, posisi kaum perempuan di kehidupan bermasyarakat masih di pandang sebelah mata dan seringkali dinomorduakan di banyak aktivitas hukum, sosial, maupun budaya. Berbekal kecerdasan dan kesungguhan hatinya dalam menuntut ilmu hukum – serta dukungan suaminya yang juga memiliki pandangan kehidupan yang sama dengan sang istri, Ruth Bader Ginsburg mulai memberikan perhatian khusus terhadap jajaran hukum dan aturan di negara Amerika Serikat yang selama ini dianggap berlaku tidak adil akibat dibangun atas perbedaan jenis kelamin sekaligus berusaha untuk mengubah berbagai aturan tersebut. Continue reading Review: On the Basis of Sex (2018)

Review: Friend Zone (2019)

Seperti yang dapat ditangkap dengan mudah dari judulnya, Friend Zone berkisah mengenai hubungan persahabatan yang terjalin antara Gink (Pimchanok Luevisadpaibul) dan Palm (Naphat Siangsomboon). Palm sebenarnya telah menyimpan perasaan cinta terhadap sahabatnya tersebut semenjak di bangku kuliah. Namun perasaan tersebut ternyata hanya bertepuk sebelah tangan karena Gink hanya tertarik untuk menjadikan Palm sebagai teman dekat dimana ia dapat berkeluh kesah mengenai permasalahan hidup, termasuk permasalahan asmara yang selalu ia dapati ketika sedang menjalin hubungan asmara dengan pria lain. Ketika hubungan asmara yang dijalin Gink dengan kekasih terakhirnya, Ted (Jason Young), juga terjerembab dalam masalah dan kemudian berakhir, Palm mulai menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Gink dan meminta gadis tersebut untuk melihatnya tidak lagi hanya sebagai seorang sahabat. Sebuah permintaan yang, sialnya, justru ditolak oleh Gink karena ia menilai hubungan asmara dirinya dengan Palm hanya akan merusak persahabatan erat yang telah terjalin antara keduanya selama ini. Continue reading Review: Friend Zone (2019)

Review: Us (2019)

Setahun setelah kesuksesan luar biasa dari Get Out (2017) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$255 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia namun juga sukses mendapatkan pujian luas dari para kritikus film serta meraih empat nominasi dan memenangkan satu diantaranya pada ajang The 90th Annual Academy Awards, Jordan Peele kembali merilis film terbarunya yang berjudul Us. Meskipun memiliki nada pengisahan thriller yang serupa dengan Get Out, Peele mengeksekusi Us sebagai jalinan pengisahan yang penuh dengan momen-momen menegangkan yang tersaji secara jauh lebih gamblang. Tentu saja, Us bukanlah hanya sebuah film yang mencoba untuk menawarkan kengerian kepada para penontonnya. Melalui naskah cerita yang juga digarapnya, Peele kembali membuka perbincangan mengenai ras, kelas, serta status sosial yang seringkali menimbulkan benih-benih konflik dalam kehidupan bersosial manusia. Sajian berkelas yang dengan mudah akan membuat siapapun kembali terpesona oleh kemampuan bercerita Peele yang begitu cerdas. Continue reading Review: Us (2019)