Tag Archives: Review

Review: X-Men: Dark Phoenix (2019)

Merupakan film ketujuh dan terakhir dari seri film X-Men – sebelum seri film ini nantinya kemungkinan besar akan dibuat, dirombak ulang, dan diikutsertakan dalam tahapan terbaru Marvel Cinematic Universe oleh Walt Disney Pictures setelah rumah produksi tersebut menyelesaikan proses pembelian rumah produksi pemilik seri film X-Men, 20th Century Fox, X-Men: Dark Phoenix adalah sekuel langsung bagi linimasa pengisahan X-Men: Apocalypse (Bryan Singer, 2016). Jalan ceritanya diadaptasi dari seri komik The Dark Phoenix Saga rilisan Marvel Comics yang sebelumnya telah turut menjadi basis pengisahan bagi X-Men: The Last Stand (Brett Ratner, 2006) dan memberikan fokus cerita khusus pada karakter Jean Grey (Sophie Turner). Keberadaan X-Men: Days of Future Past (Singer, 2014) yang linimasa penceritaannya telah menghapus keberadaan alur kisah X-Men: The Last Stand membuka peluang bagi keberadaan adaptasi teranyar untuk kisah The Dark Phoenix Saga yang kini ditangani langsung oleh Simon Kinberg – yang sebelumnya juga bertugas sebagai penulis naskah bagi X-Men: The Last Stand. Continue reading Review: X-Men: Dark Phoenix (2019)

Review: Single Part 2 (2019)

Apakah dunia masih membutuhkan sebuah film lain tentang merananya kehidupan seorang pria melajang yang ditulis, diarahkan, dan dibintangi oleh Raditya Dika? Tema pengisahan tersebut sepertinya menjadi tema wajib bagi Dika di sepanjang karirnya di dunia film – baik ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Dika di Kambing Jantan the Movie (Rudy Soedjarwo, 2009), Cinta Brontosaurus (Fajar Nugros, 2013), Manusia Setengah Salmon (Herdanius Larobu, 2013), Marmut Merah Jambu (Dika, 2014), dan Koala Kumal (Dika, 2016), atau ketika ia menulis, mengarahkan, atau memerankan sesosok karakter bernama Miko di Cinta Dalam Kardus (Salman Aristo, 2013) dan Malam Minggu Miko the Movie (Dika, 2014). Tidak mengherankan. Film-film tersebut memang mampu digarap secara cukup menyenangkan oleh Dika dan kemudian berhasil menarik perhatian penonton dalam jumlah yang tidak sedikit. Film terakhir Dika yang bertema sama – sebelum akhirnya Dika mengeksplorasi tema pengisahan lain dalam tiga film terakhirnya: Hangout (2016), The Guys (2017), dan Target (2018) – Single yang dirilis pada akhir tahun 2015 bahkan masih mampu meraih lebih dari satu juta penonton di sepanjang masa penayangannya. Continue reading Review: Single Part 2 (2019)

Review: Hit & Run (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Fajar Putra S dan Upi (My Stupid Boss 2, 2019), film terbaru arahan Ody C. Harahap (Orang Kaya Baru the Movie, 2019), Hit & Run, mencoba memadukan elemen aksi dengan komedi. Jalan ceritanya sendiri berfokus pada sosok polisi bernama Tegar (Joe Taslim) yang tidak hanya merupakan seorang polisi berprestasi namun juga menyandang gelar selebriti karena reality show popular bernama Hit & Run yang ia bintangi. Dalam salah satu tugas yang diberikan padanya, Tegar menangkap seorang penjual narkotika dan obat-obatan terlarang palsu, Lio (Chandra Liow), yang diduga memiliki hubungan kerjasama dengan Coki (Yayan Ruhian) yang merupakan seorang pimpinan gembong penjual narkotika dan obat-obatan terlarang yang baru saja melarikan diri dari penjara dan kini menjadi salah satu orang yang paling dicari oleh pihak kepolisian. Lio ternyata tidak memiliki hubungan langsung dengan Coki. Namun, melalui perantaraan Lio, Tegar kemudian menemukan beberapa petunjuk yang mampu membawanya untuk berhadapan langsung dengan Coki. Continue reading Review: Hit & Run (2019)

Review: Kuntilanak 2 (2019)

Melanjutkan kesuksesan Kuntilanak (Rizal Mantovani, 2018) yang di sepanjang masa perilisannya tahun lalu berhasil mengumpulkan lebih dari satu juta penonton, Kuntilanak 2 kembali mempertemukan penonton dengan lima anak yatim piatu, Kresna (Andryan Bima), Dinda (Sandrinna Michelle Skornicki), Panji (Adlu Fahrezy), Miko (Ali Fikry), dan Ambar (Ciara Nadine Brosnan), yang dirawat oleh ibu asuh mereka, Donna (Nena Rosier), dalam petualangan baru mereka. Kali ini, Dinda dikisahkan dijemput oleh ibu kandungnya, Karmila (Karina Suwandi), yang dahulu menitipkan Dinda di panti asuhan namun kini meminta agar gadis kecil tersebut tinggal kembali bersamanya. Walau awalnya merasa curiga dengan kedatangan Karmila, Donna tetap memberikan izin pada Dinda untuk berangkat dan menemui Karmila di kediamannya. Ditemani oleh Julia (Susan Sameh), Edwin (Maxime Bouttier), dan anak-anak asuhan Donna lainnya sebagai bentuk perpisahan mereka, perjalanan Dinda untuk kembali ke rumah ibu kandungnya akhirnya dimulai. Kecurigaan Donna terbukti ketika perjalanan tersebut kemudian diwarnai berbagai kejadian aneh bernuansa mistis yang sepertinya berhubungan dengan kehidupan Dinda di masa lalu. Continue reading Review: Kuntilanak 2 (2019)

Review: Bharat (2019)

Jika Shah Rukh Khan memiliki tradisi untuk merilis satu filmnya setiap tahun di masa liburan Diwali, dan Aamir Khan melakukan hal yang sama untuk liburan Natal, maka libur Idulfitri bagi para penikmat film Bollywood telah identik dengan film-film yang dibintangi Salman Khan. Melalui film-film yang dirilisnya di masa libur Lebaran tersebut, Khan selalu konsisten menghasilkan film-film yang mampu mendatangkan pendapatan komersial dalam jumlah yang besar – film Lebaran yang dibintanginya di tahun 2015, Bajrangi Bhaijaan arahan Kabir Khan, berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$150 juta dan kini menempati posisi sebagai film produksi Bollywood dengan raihan pendapatan terbesar kedua sepanjang masa di dunia. Kesuksesan film-film tersebut juga secara perlahan membantu Khan dalam memperbaiki reputasinya sebagai seorang aktor setelah sempat dibayangi berbagai masalah pribadi di masa lalu. Kembali bekerjasama dengan sutradara Ali Abbas Zafar yang sebelumnya mengarahkannya dalam Sultan (2016) dan Tiger Zinda Hai (2017), tahun ini Khan membintangi Bharat yang naskah ceritanya diadaptasi dari film sukses asal Korea Selatan, Ode to My Father (Yoon Je-kyoon, 2014). Continue reading Review: Bharat (2019)

Review: Ghost Writer (2019)

Setelah menuliskan naskah cerita untuk beberapa film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 1 (Anggy Umbara, 2016) dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Rocky Soraya, Umbara, 2018), Bene Dion Rajagukguk kini mengarahkan film layar lebar perdananya lewat Ghost Writer. Memadukan unsur horor dengan komedi, film yang naskah ceritanya digarap oleh Rajagukguk bersama dengan Nonny Boenawan ini bercerita mengenai seorang penulis novel, Naya (Tatjana Saphira), yang menemukan sebuah buku harian yang lantas dijadikannya inspirasi cerita bagi novel terbaru yang sedang digarapnya. Sial, buku harian tersebut ternyata pernah dimiliki oleh seorang pemuda bernama Galih (Ge Pamungkas) yang telah meninggal dunia akibat bunuh diri dan kini menghantui Naya karena tidak setuju isi buku hariannya dijadikan konsumsi publik. Ketakutan dengan teror yang dilakukan oleh Galih, Naya akhirnya mencoba berbicara dengan arwah penasaran tersebut yang kemudian ternyata menghasilkan sebuah kerjasama beda dunia antara mereka berdua. Continue reading Review: Ghost Writer (2019)

Review: Si Doel the Movie 2 (2019)

Tahun lalu, setelah lebih dari satu dekade semenjak berakhirnya masa tayang serial televisi Si Doel Anak Sekolahan, Rano Karno menghidupkan kembali karakter ikonik Kasdoellah atau Doel yang pernah ia perankan lewat Si Doel the Movie (2018). Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Karno, Si Doel the Movie melanjutkan kembali pengisahan yang dahulu sempat diakhiri pada serial televisinya dengan kembali menghadirkan barisan pemeran yang sama, seperti Mandra, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Suty Karno, hingga Aminah Cendrakasih. Dengan garapan drama yang kuat serta sentuhan elemen nostalgia yang begitu kental akan masa kejayaan serial televisi Si Doel Anak Sekolahan di masa lampau, Si Doel the Movie mampu meraih kesuksesan yang cukup besar: film tersebut berhasil mendapatkan tanggapan positif dari banyak kritikus film, naskah ceritanya mendapatkan nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2018, sementara filmnya sendiri sukses memikat lebih dari 1.7 juta penonton di sepanjang masa rilisnya di layar bioskop. Not bad. Continue reading Review: Si Doel the Movie 2 (2019)

Review: Miss & Mrs. Cops (2019)

Merupakan debut pengarahan bagi sutradara Jung Da-won, Miss & Mrs. Cops memulai pengisahannya dengan fokus yang diberikan pada Mi-yeong (Ra Mi-ran), salah seorang detektif wanita pertama di kepolisian Korea Selatan dengan masa depan yang cerah berkat keberanian maupun kehandalannya dalam bertugas. Namun, karir Mi-yeong kemudian berubah ketika dirinya memutuskan untuk menikah dan membangun keluarga. Daripada bertugas sebagai seorang detektif yang beraksi di lapangan, Mi-yeong kemudian memilih untuk menjadi seorang petugas kantoran agar dirinya masih dapat terus bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ketika dirinya mendapatkan laporan mengenai kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang mahasiswi dan tidak mendapatkan perhatian oleh rekan-rekannya sesama polisi, hati Mi-yeong mulai tergerak untuk kembali bertugas sebagai seorang detektif. Bersama dengan adik iparnya yang kini telah menjadi rekan kerjanya, Ji-hye (Lee Sung-kyung), Mi-yeong mulai mengumpulkan berbagai petunjuk untuk menangkap sang pelaku kejahatan. Continue reading Review: Miss & Mrs. Cops (2019)

Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)

Lima tahun setelah perilisan Godzilla (Gareth Edwards, 2014) – dengan Kong: Skull Island (Jordan Vogt-Roberts, 2017) berada diantaranya – Legendary Entertainment melanjutkan perjalanan semesta pengisahan MonsterVerse-nya dengan merilis Godzilla: King of the Monsters. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Michael Dougherty (Krampus, 2015), bersama dengan Zach Shields, Godzilla: King of the Monsters berkisah mengenai usaha sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Dr. Ishirō Serizawa (Ken Watanabe) dan Dr. Vivienne Graham (Sally Hawkins) untuk menyelamatkan istri dan anak dari Dr. Mark Russell (Kyle Chandler), Dr. Emma Russell (Vera Farmiga) dan Madison Russell (Millie Bobby Brown), yang diculik oleh sekelompok aktivis lingkungan hidup pimpinan Colonel Alan Jonah (Charles Dance). Penculikan itu dilakukan oleh Colonel Alan Jonah didorong atas keberhasilan Dr. Emma Russell dalam menemukan sebuah alat yang dapat berkomunikasi dengan para monster kuno yang dahulu pernah menguasai Bumi dan kini kembali muncul dan menyebabkan terancamnya peradaban umat manusia. Colonel Alan Jonah ingin menguasai alat komunikasi tersebut justru untuk mendorong terjadinya penghapusan sebagian peradaban umat manusia agar Bumi dapat kembali menyeimbangkan komposisi para penghuninya. Thanos, is that you? Continue reading Review: Godzilla: King of the Monsters (2019)

Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Sekilas, film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Lee Won-tae setelah Man of Will (2017), The Gangster, The Cop, The Devil, terasa sebagai paduan antara Infernal Affairs (Andrew Lau, Alan Mak, 2002) dengan I Saw the Devil (Kim Jee-oon, 2010). Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Lee, The Gangster, The Cop, The Devil bercerita mengenai seorang pimpinan kelompok kriminal, Jang Dong-soo (Ma Dong-seok), yang terpaksa bekerjasama dengan seorang polisi yang selama ini memusuhinya, Jung Tae-suk (Kim Mu-yeol), setelah dirinya menjadi korban penyerangan seorang pembunuh berantai. Jang Dong-soo memang berhasil menyelamatkan diri dari serangan pembunuh yang telah mengambil nyawa beberapa orang dan kini menjadi buronan pihak kepolisian Korea Selatan tersebut. Namun, reputasinya sebagai seorang pimpinan kelompok kriminal menjadi terancam oleh serangan tersebut. Lain halnya dengan Jung Tae-suk. Sebagai seorang polisi, ia ingin membuktikan kehandalan sekaligus kemampuan dirinya dengan menangkap sang pembunuh berantai. Dengan alasan-alasan personal tersebut, Jang Dong-soo dan Jung Tae-suk mengesampingkan perbedaan mereka untuk kemudian bersatu sekaligus berpacu dalam menangkap sang pembunuh berantai. Continue reading Review: The Gangster, The Cop, The Devil (2019)

Review: Aladdin (2019)

Selang beberapa bulan semenjak perilisan Dumbo arahan Tim Burton, Walt Disney Pictures melanjutkan petualangannya dalam mengadaptasi film-film animasi klasiknya menjadi sajian live-action melalui Aladdin. Meskipun mendapat kritikan tajam atas beberapa elemen ceritanya yang dinilai kurang sensitif dalam penggambaran ras maupun kultur, versi animasi dari Aladdin (Ron Clements, John Musker, 1992) berhasil mengikuti jejak kesuksesan The Little Mermaid (Clements, Musker, 1989) dan Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991) dalam mendapatkan reaksi positif baik dari para penonton – yang menghasilkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$500 juta – maupun dari para kritikus film – yang mampu mendorong Aladdin untuk meraih lima nominasi di ajang The 65th Annual Academy Awards termasuk memenangkan dua diantaranya. Ekspektasi yang cukup tinggi jelas telah terbeban pada Guy Ritchie (King Arthur: Legend of the Sword, 2017) dan versi live-action dari Aladdin arahannya untuk, setidaknya, meraih kesuksesan yang setara. Continue reading Review: Aladdin (2019)

Review: Ambu (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Farid Dermawan, Ambu berkisah mengenai hubungan antara ibu dan anak yang terjalin antara tiga karakter dari tiga generasi yang berbeda. Dengan latar belakang kehidupan Orang Baduy di Provinsi Banten yang terbiasa mengisolasi diri mereka dari dunia luar, jalan cerita Ambu dimulai ketika hubungan antara Fatma (Laudya Chynthia Bella) dan ibunya, Misnah (Widyawati), merenggang akibat ketidaksetujuan sang ibu akan jalinan asmara yang dibangun Fatma dengan seorang pemuda bernama Nico (Baim Wong) yang berasal dari Jakarta. Fatma lantas memilih untuk meninggalkan sang ibu, menikah dengan Nico dan memulai hidup barunya di Jakarta. Kini, hampir dua puluh tahun semenjak ia meninggalkan sang ibu dan setelah rumah tangganya dengan Nico berakhir, Fatma memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan membawa puteri tunggalnya yang telah beranjak remaja, Nona (Luthesha). Tidak mengejutkan, kedatangan Fatma dan Nona disambut dingin oleh Misnah. Fatma tidak menyerah begitu saja. Ia ingin Nona untuk tidak mengulangi kesalahannya dan berharap agar ibunya mau menerima kehadiran sang cucu dalam kehidupannya. Continue reading Review: Ambu (2019)

Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Jika John Wick (2014) memperkenalkan penikmat film dunia pada sosok mantan pembunuh bayaran bernama John Wick (Keanu Reeves) yang sedang berduka atas kematian sang istri dan lantas harus kembali melakukan aksi brutalnya setelah sekelompok penjahat secara tidak sengaja membunuh anjing (sekaligus mencuri mobil) kesayangannya dan John Wick: Chapter 2 (2017) berakhir dengan adegan dimana nyawa John Wick menjadi incaran bagi para pembunuh bayaran di seluruh dunia setelah kesalahan fatal yang ia lakukan, maka John Wick: Chapter 3 – Parabellum yang masih diarahkan oleh sutradara dua film John Wick sebelumnya, Chad Stahelski, melanjutkan kisah pelarian John Wick dari para pembunuh bayaran dan anggota kelompok kriminal yang mengincarnya. Pelarian tersebut kemudian membawa John Wick bertemu kembali dengan mantan rekan pembunuh bayarannya, Sofia (Halle Berry), guna meminta informasi mengenai keberadaan pemimpin kelompok kriminal yang telah menjebaknya dalam situasi mematikan tersebut. Di saat yang bersamaan, seorang pembunuh bayaran profesional yang dikenal dengan sebutan Zero (Mark Dacascos) beserta dengan dua muridnya, Shinobi #1 (Yayan Ruhian) dan Shinobi #2 (Cecep Arif Rahman), telah menyiapkan rencana matang untuk menyambut kedatangan John Wick. Continue reading Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)