Tag Archives: Review

Review: Cars 3 (2017)

Do we need another Cars movie? No, really. Do we need another one? Walaupun dilahirkan dari keluarga besar Pixar Animated Studios, seri film Cars (2006 – 2011) seringkali dipandang sebagai produk terlemah (kurang difavoritkan?) dalam barisan film-film yang dihasilkan oleh rumah produksi film animasi milik Walt Disney Pictures tersebut. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal, dua film Cars – serta dua film sempalannya, Planes (Klay Hall, 2013) dan Planes: Fires and Rescue (Roberts Gannaway, 2014) – berhasil memberikan kesuksesan komersial yang cukup besar. Tercatat, dari empat film yang berada dalam seri film Cars dan dibuat dengan total biaya produksi “hanya” sebesar US$420 juta, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures berhasil meraup raihan komersial sebesar lebih dari US$1,3 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – dan pendapatan tersebut masih belum termasuk dari penjualan merchandise dari seri film ini yang dilaporkan bahkan telah mencapai lebih dari US$10 milyar. So do we need another Cars movie? Bagaimanapun pendapat Anda, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures adalah sebuah usaha bisnis yang jelas tidak akan melepaskan sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan begitu saja. Continue reading Review: Cars 3 (2017)

Advertisements

Review: The Hitman’s Bodyguard (2017)

The Hitman’s Bodyguard bukanlah film pertama yang dibintangi bersama oleh Ryan Reynolds dan Samuel L. Jackson. Keduanya – vokal keduanya, untuk tepatnya – sempat hadir dalam film animasi buatan DreamWorks Animation, Turbo (David Soren, 2013), dimana Reynolds dan Jackson sama-sama mengisisuarakan dua sosok karakter siput yang awalnya saling bersaing namun kemudian saling bersahabat dan mendukung satu sama lain. Menariknya, The Hitman’s Bodyguard, film yang untuk pertama kalinya akan menghadirkan tampilan fisik keduanya secara keseluruhan, juga memiliki alur pengisahan yang hampir serupa. Harus diakui, Reynolds dan Jackson sama-sama memiliki kemampuan yang mencukupi untuk menghidupkan kedua karakter yang mereka perankan. Sayangnya, dengan naskah pengisahan yang begitu terbatas, The Hitman’s Bodyguard lebih sering tampil datar daripada berhasil menghibur penontonnya. Continue reading Review: The Hitman’s Bodyguard (2017)

Review: Annabelle: Creation (2017)

Usaha James Wan untuk melebarkan sayap pengisahan The Conjuring Universe berlanjut lewat Annabelle: Creation. Merupakan prekuel dari Annabelle (John R. Leonetti, 2014) – yang meskipun bukanlah sebuah film yang digemari oleh para kritikus namun sukses meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$250 juta sepanjang masa perilisannya di seluruh dunia – Annabelle: Creation menggali lebih dalam mengenai asal usul keberadaan boneka horor bernama Annabelle yang popular setelah pertama kali dikenalkan melalui salah satu kasus yang ditangani karakter Ed dan Lorraine Warren (Patrick Wilson dan Vera Farmiga) dalam The Conjuring (Wan, 2013). Menyadari bahwa pengarahan yang diberikan Leonetti bukanlah elemen pendukung terbaik bagi penceritaan Annabelle, Wan lantas memilih untuk menyerahkan kursi penyutradaraan Annabelle: Creation pada David F. Sandberg (Lights Out, 2016). Benar saja. Dengan kemampuan pengarahannya yang apik, Sandberg mampu memberikan banyak momen-momen horor yang (sangat) menyenangkan bagi film ini. Continue reading Review: Annabelle: Creation (2017)

Review: Jab Harry Met Sejal (2017)

Setelah Rab Ne Bana Di Jodi (Aditya Chopra, 2008) dan Jab Tak Hai Jaan (Yash Chopra, 2012), Shah Rukh Khan kembali bertemu dengan Anushka Sharma dalam film yang ditulis dan diarahkan oleh Imtiaz Ali (Tamasha, 2016), Jab Harry Met Sejal. Kisah yang dihadirkan film ini sebenarnya cukup sederhana. Berawal dari tugasnya sebagai pemandu wisata bagi Sejal Zaveri (Sharma) dan keluarganya, Harinder Singh Nehra atau yang sering dipanggil dengan sebutan Harry (Khan) kini bertugas untuk mengawal dan menemani Sejal menjelajahi negara-negara Eropa untuk mencari cincin pertunangannya yang hilang. Walau awalnya merasa berat hati untuk menemani gadis yang dianggap telah mengganggu kehidupannya tersebut, Harry secara perlahan mulai jatuh hati kepada Sejal. Perasaan yang ternyata juga dirasakan oleh Sejal dan harus disembunyikannya mengingat status dirinya yang telah bertunangan dengan pria lain. Continue reading Review: Jab Harry Met Sejal (2017)

Review: Mars Met Venus (Part Cowo) (2017)

Jika Mars Met Venus (Part Cewe) mengisahkan tentang lika-liku sebuah hubungan romansa dari sudut pandang karakter wanitanya maka Mars Met Venus (Part Cowo), tentu saja, menyajikan kisah romansa tersebut dari kacamata sang karakter pria. Jalan cerita filmnya sendiri tidak mengalami banyak perubahan: Kelvin (Ge Pamungkas) berencana untuk menikahi wanita yang telah menjadi kekasihnya selama lima tahun terakhir, Mila (Pamela Bowie). Untuk mendukung rencananya tersebut, Kelvin kemudian meminta Lukman (Lukman Sardi) untuk membantunya membuat video blog yang merekam komentar, kesan maupun kenangan yang dirasakan Mila maupun dirinya selama menjalin hubungan romansa tersebut. Dengan subjudul Part Cowo, film kedua Mars Met Venus ini berisi lebih banyak penceritaan dari sudut pandang karakter Kelvin sekaligus karakter-karakter yang berada di sekitarnya seperti Reza (Reza Nangin), Bobby (Ibob Tarigan), Martin (Martin Anugrah), dan Steve (Steve Pattinama). Continue reading Review: Mars Met Venus (Part Cowo) (2017)

Review: Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Berlatar belakang pada abad ke-28 di sebuah stasiun luar angkasa bernama Alpha dimana jutaan makhluk hidup dari berbagai planet hidup saling berdampingan, Valerian and the City of a Thousand Planets berkisah mengenai pasangan agen khusus dari satuan kepolisian manusia, Major Valerian (Dane DeHaan) dan Sergeant Laureline (Cara Delevingne), yang mendapat tugas untuk melindungi atasan mereka, Commander Arün Filitt (Clive Owen). Sial, dalam masa penjagaan tersebut, Commander Arün Filitt kemudian diculik oleh sekelompok makhluk yang identitas dan jejaknya sama sekali tidak diketahui oleh satuan kepolisian. Sergeant Laureline bahkan kemudian kehilangan jejak Major Valerian setelah pesawatnya mengalami kerusakan ketika berusaha mengejar kelompok penculik. Kini, Sergeant Laureline harus mencari cara untuk dapat menemukan kembali dan menyelamatkan Major Valerian dan Commander Arün Filitt sekaligus mencari tahu mengenai siapa sebenarnya kelompok penculik tersebut. Continue reading Review: Valerian and the City of a Thousand Planets (2017)

Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Sukses mengarahkan Dawn of the Planet of the Apes (2014) – setelah sebelumnya menggantikan posisi Rupert Wyatt yang mengarahkan Rise of the Planet of the Apes (2011), Matt Reeves kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film ketiga dalam seri film Planet of the Apes, War for the Planet of the Apes. Dengan naskah cerita yang ditangani Reeves bersama dengan Mark Bomback, War for the Planet of the Apes mengisahkan kelanjutan perjalanan Caesar (Andy Serkis – lewat penggunaan performance-capture technology) dan kawanannya yang berusaha untuk menemukan sebuah lokasi baru yang aman untuk mereka tinggali. Bukan sebuah persoalan yang mudah. Meskipun musuhnya, Koba (Toby Kebbell – lewat penggunaan performance-capture technology), telah tewas, namun para pengikutnya masih senantiasa mencoba untuk menjatuhkan Caesar dari singgasananya. Para pengikut Koba bahkan telah bekerjasama dengan pihak manusia – faksi militer yang menamakan dirinya Alpha-Omega yang bertujuan untuk memusnahkan populasi para kera yang dianggap memiliki potensi untuk menyebarkan sebuah penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya. Dan ancaman tersebut kian nyata setelah pimpinan Alpha-Omega yang disebut sebagai The Colonel (Woody Harrelson) mulai mengetahui dimana letak persembunyian Caesar dan kawanan keranya. Continue reading Review: War for the Planet of the Apes (2017)

Review: Dunkirk (2017)

Jelas cukup mudah untuk membayangkan jika film terbaru arahan Christopher Nolan, Dunkirk, merupakan sebuah presentasi drama peperangan yang dipenuhi ledakan, darah dan serpihan tubuh manusia. Tidak mengherankan. Dengan premis yang ingin bercerita tentang kisah nyata evakuasi pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada ketika mereka terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, banyak penikmat film akan mengharapkan (baca: mengira) bahwa Dunkirk akan menjadi Saving Private Ryan (Steven Spielberg, 1998) atau Hacksaw Ridge (Mel Gibson, 2016) dalam filmografi Nolan. Namun, “menjebak” penontonnya dalam teror peperangan sepertinya bukan menjadi fokus utama Nolan dalam menceritakan Dunkirk. Nolan lebih memilih untuk menjadikan Dunkirk sebagai sebuah disaster movie dimana penonton dapat “menikmati” detik-detik ketidakpastian nasib setiap jiwa yang menunggu di pinggiran pantai Dunkirk sekaligus tetap menghadirkan harapan pada kehidupan pada mereka. Continue reading Review: Dunkirk (2017)

Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)

Diarahkan oleh Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, 2016), Mars Met Venus adalah sebuah presentasi cerita yang mungkin terlihat sederhana namun sebenarnya memiliki tekad yang cukup ambisius. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Nataya Bagya (3 Dara, 2015) ini ingin bertutur mengenai perjalanan romansa antara dua orang karakter untuk kemudian mengeksplorasi lebih dalam hubungan romansa tersebut dari kacamata masing-masing karakter. Hal inilah yang membuat Mars Met Venus dibagi dalam dua bagian penceritaan: Mars Met Venus (Part Cewe) akan bercerita dari sudut pandang karakter wanita sementara Mars Met Venus (Part Cowo), tentu saja, nantinya akan berkisah dalam sudut pandang sang karakter pria. Pendekatan cerita yang jelas tidak biasa dan cukup menyegarkan namun apakah Ratu mampu mengeksekusi kedua bagian pengisahan menjadi sajian cerita yang sama-sama kuat sekaligus menarik? Continue reading Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)

Review: The Doll 2 (2017)

Merupakan sekuel dari The Doll arahan Rocky Soraya yang dirilis pada akhir tahun lalu, The Doll 2 berkisah mengenai dilema rumah tangga yang dialami pasangan Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) setelah keduanya kehilangan puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen), dalam sebuah kecelakaan. Rasa kesedihan mendalam yang dirasakan Maira seringkali membuatnya merasa bahwa Kayla masih belum benar-benar pergi dari kehidupannya. Kondisi tersebut secara perlahan membuat hubungan pernikahan Maira dan Aldo menjadi renggang. Atas saran sang sahabat, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba untuk berkomunikasi kepada Kayla dengan menggunakan medium boneka kesayangan puterinya. Walau merasa ritual yang ia jalankan bersama Elsa belum selesai dan gagal, Maira kemudian mulai merasakan berbagai gangguan supranatural menghampiri dirinya. Di saat yang bersamaan, Maira juga merasa bahwa kekuatan supranatural tersebut mencoba memberitahunya mengenai penyebab kematian Kayla yang sebenarnya. Continue reading Review: The Doll 2 (2017)

Review: Baywatch (2017)

Diadaptasi dari serial televisi legendaris berjudul sama – Yes. Baywatch. Yes. THAT Baywatch. – yang awalnya mengudara selama satu dekade semenjak tahun 1989, Baywatch berkisah mengenai kehidupan para penjaga pantai di Emerald Bay, Florida, Amerika Serikat. Dipimpin oleh Lieutenant Mitch Buchanon (Dwayne Johnson), pasukan penjaga pantai yang terdiri dari Matt Brody (Zac Efron), Summer Quinn (Alexandra Daddario), C. J. Parker (Kelly Rohrbach), Ronnie (Jon Bass), Stephanie Holden (Ilfenesh Hadera) tersebut menghadapi masalah besar ketika mereka menemukan obat-obatan terlarang serta mayat di pantai yang mereka awasi. Meski telah diingatkan atasan mereka, Don Thorpe (Rob Huebel), dan pihak kepolisian bahwa kasus tersebut tidak berada di wilayah kekuasaan para penjaga pantai namun Lieutenant Mitch Buchanon bersikeras untuk tetap mencari tahu misteri apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Penyelidikan yang dilakukan Lieutenant Mitch Buchanon akhirnya memberikan petunjuk mengenai keterlibatan seorang pengusaha bernama Victoria Leeds (Priyanka Chopra) dalam tindakan kriminal tersebut. Continue reading Review: Baywatch (2017)

Review: Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017)

Sebagai sebuah sekuel, Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody memiliki perjalanan yang cukup sederhana sebelum akhirnya memasuki masa produksi. Diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul sama karya Dee Lestari, Filosofi Kopi the Movie arahan Angga Dwimas Sasongko “hanya” mampu meraih sekitar dua ratus ribu penonton ketika dirilis pada tahun 2015 lalu. Namun, meskipun dengan raihan penonton yang tergolong minimalis tersebut, Sasongko berhasil meracik sebuah film yang mampu memberikan kesan yang begitu mendalam bagi banyak penontonnya – sekaligus memenangkan dua penghargaan di ajang Festival Film Indonesia. Sasongko dan para kreator Filosofi Kopi the Movie juga giat dan cerdas menjaga sekaligus meningkatkan minat publik pada film mereka dengan berbagai cara, mulai dari membuka sebuah coffee shop bernama Filosofi Kopi di Jakarta, pelaksanaan sayembara pembuatan cerita sekuel bagi Filosofi Kopi the Movie hingga membuat sebuah webseries berjudul Filosofi Kopi the Series: Ben & Jody yang diunggah di saluran YouTube milik Visinema Pictures dan hingga kini telah ditonton lebih dari satu juta kali. Continue reading Review: Filosofi Kopi the Movie 2: Ben & Jody (2017)

Review: Despicable Me 3 (2017)

Do we really need another Despicable Me movie? Well… apapun jawabannya, dengan raihan komersial yang mencapai lebih dari US$2.6 miliar dari perilisan dua seri Despicable Me (Pierre Coffin, Chris Renaud, 2010 – 2013) sebelumnya plus sebuah film subseri berjudul Minions (Coffin, Kyle Balda, 2015), Illumination Entertainment jelas akan terus melanjutkan perjalanan seri film ini. Masih diarahkan oleh pasangan sutradara yang sama, Coffin dan Renaud, serta dengan naskah cerita yang juga masih ditulis oleh Cinco Paul dan Ken Daurio yang telah menggarap naskah cerita seri film ini semenjak awal, produk teranyar dari seri animasi Despicable Me, Despicable Me 3, masih menawarkan deretan formula pengisahan yang telah cukup familiar bagi penggemar seri film ini. Does it still work? Yes. Despicable Me 3 masih mampu menawarkan hiburan (dan sentuhan emosional) di beberapa bagiannya. Namun, secara keseluruhan, cukup sulit untuk memberikan apresiasi lebih bagi film ini ketika kesuksesan-kesuksesan minor tersebut lebih sering hadir dari repetisi guyonan atau adegan dari film terdahulu daripada hasil pengolahan cerita baru yang lebih segar. Continue reading Review: Despicable Me 3 (2017)