Tag Archives: Review

Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Sony Pictures sepertinya semakin percaya diri dengan kolaborasi mereka bersama Marvel Comics. Setelah kesuksesan Spider-Man: Homecoming (Jon Watts, 2017) – yang juga menjadi film Spider-Man pertama yang diikutsertakan dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe – serta Venom (Ruben Fleischer, 2018), Sony Pictures kini memproduksi sebuah seri terbaru Spider-Man yang tidak berhubungan secara langsung dengan seri live-action Spider-Man yang sedang berjalan namun, di saat bersamaan, juga memiliki keterikatan semesta pengisahan dengan seri film tersebut. Digarap dalam bentuk animasi, Spider-Man: Into the Spider-Verse akan mengenalkan penonton pada sosok Spider-Man lain bernama Miles Morales yang berasal dari dimensi kehidupan yang berbeda – dimana, dalam dimensi kehidupan tersebut, karakter Peter Parker/Spider-Man dikisahkan telah meninggal dunia. Dengan pengembangan cerita dan karakter yang dilakukan oleh Phil Lord dan Christopher Miller (The LEGO Movie, 2014), Spider-Man: Into the Spider-Verse mampu dibangun menjadi sebuah presentasi yang cerdas, menyenangkan, bahkan menjadi salah satu adaptasi film Spider-Man terbaik yang pernah dibuat hingga saat ini. Continue reading Review: Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Advertisements

Review: Aquaman (2018)

Cukup wajar jika DC Films dan Warner Bros. Pictures menggantungkan banyak harapan mereka kepada Aquaman. Selepas kegagalan beruntun dari Man of Steel (Zack Snyder, 2013), Batman v. Superman: Dawn of Justice (Snyder, 2016), dan Suicide Squad (David Ayer, 2016) dalam meraih dukungan dari para kritikus film dunia – serta ditanbah dengan tanggapan yang cenderung medioker dari pada penggemar komik rilisan DC Comics, yang kemudian diikuti oleh melempemnya performa Justice League (Snyder, 2017) – yang tercatat menjadi film dengan capaian kesuksesan komersial paling rendah dalam seri film DC Extended Universe, keberadaan Aquaman jelas krusial untuk membangkitkan kembali tingkat kepercayaan sekaligus ketertarikan publik pada deretan pahlawan super buatan DC Comics. Atau, setidaknya, Aquaman haruslah mampu mencapai tingkatan kualitas yang berhasil diraih Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) yang hingga saat ini menjadi satu-satunya film dari DC Extended Universe yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial. Dengan ambisi besar tersebut, jelas tidak mengherankan jika Aquaman digarap megah dalam kualitas produksinya namun, seperti halnya Wonder Woman, tetap menyajikan keintiman cerita dalam hal penggalian kisah dasar mengenai sang karakter utama film ini. Continue reading Review: Aquaman (2018)

Review: Billionaire Boys Club (2018)

Diarahkan oleh James Cox (Straight A’s, 2013) berdasarkan naskah yang ia tulis bersama dengan Captain Mauzner (Factory Girl, 2006), Billionaire Boys Club memulai alur pengisahannya ketika dua pemuda yang dahulu pernah bersahabat dekat ketika masih duduk di bangku sekolah, Joe Hunt (Ansel Elgort) dan Dean Karny (Taron Egerton), kembali bertemu dan kemudian memutuskan untuk menjalani bisnis bersama. Dengan memanfaatkan modal yang diperoleh dengan mudah melalui teman-teman sekolah mereka yang memang berasal dari keluarga kaya raya, bisnis investasi yang dibangun oleh Joe Hunt dan Dean Karny – yang dilangsungkan dengan menjalankan Skema Ponzi – mulai menarik perhatian banyak pemodal besar termasuk Ron Levin (Kevin Spacey) yang merupakan seorang pebisnis besar dengan banyak koneksi yang menjanjikan dan kemudian bergabung bersama Joe Hunt dan Dean Karny sebagai penasehat mereka. Layaknya banyak bisnis yang menggunakan Skema Ponzi, investasi yang dijalankan Joe Hunt dan Dean Karny berjalan mulus dan segera menjadikan mereka sebagai sosok muda yang bergelimang harta. Namun, sebuah tindak pengkhianatan lantas mulai menghancurkan bisnis tersebut… dan bahkan menyeret Joe Hunt dan Dean Karny dalam kasus pembunuhan. Continue reading Review: Billionaire Boys Club (2018)

Review: Widows (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Steve McQueen (Shame, 2011) bersama dengan Gillian Flynn (Gone Girl, 2012) berdasarkan buku karya Lynda La Plante yang berjudul sama, Widows memulai kisahnya dengan kematian yang dialami oleh Harry Rawlings (Liam Neeson) ketika ia sedang melakukan sebuah perampokan bersama dengan rekan-rekannya, Carlos Perelli (Manuel Garcia-Rulfo), Florek Gunner (Jon Bernthal), dan Jimmy Nunn (Coburn Goss). Sial, kematian Harry Rawlings ternyata tidak hanya meninggalkan duka yang mendalam kepada sang istri, Veronica Rawlings (Viola Davis). Beberapa hari setelah pemakaman jenazah sang suami, Veronica Rawlings didatangi oleh seorang politisi yang juga merupakan pemimpin sebuah kelompok kejahatan bernama Jamal Manning (Brian Tyree Henry) yang meminta agar uangnya yang telah dirampok oleh Harry Rawlings bersama dengan rekan-rekannya untuk dikembalikan. Veronica Rawlings yang sama sekali tidak terlibat kejahatan yang dilakukan oleh sang suami jelas  tidak memiliki sejumlah uang seperti yang diminta oleh Jamal Manning. Dengan tenggat waktu satu bulan yang diberikan oleh Jamal Manning untuk mengembalikan uangnya, Veronica Rawlings akhirnya mengajak para janda dari rekan-rekan suaminya, Linda Perelli (Michelle Rodriguez), Alice Gunner (Elizabeth Debicki), dan Amanda Nunn (Carrie Coon), untuk mengikuti jejak para almarhum suami mereka dan melakukan sebuah perampokan guna mendapatkan uang yang diinginkan oleh Jamal Manning. Continue reading Review: Widows (2018)

Review: One Cut of the Dead (2017)

Diarahkan oleh sutradara asal Jepang Shin’ichirô Ueda berdasarkan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, One Cut of the Dead adalah sebuah film horor komedi yang jelas akan mampu memberikan kejutan pada setiap penontonnya. Filmnya sendiri bercerita tentang usaha seorang sutradara, Takayuki Higurashi (Takayuki Hamatsu), dalam menggarap sebuah film horor dengan biaya produksi yang benar-benar terbatas. Tidak hanya terhambat dengan bujet yang seadanya, Takayuki Higurashi juga harus menghadapi jajaran pemeran film yang dinilainya tidak mampu berakting dengan meyakinkan sehingga menjadikan proses pengambilan gambar film menjadi semakin lama. Namun, berbagai kendala tersebut tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan sebuah masalah yang segera menyusul: satu per satu kru produksi filmnya berubah menjadi sosok mayat hidup yang siap untuk menyerang dan membunuh setiap orang yang berada di sekitarnya. Terdengar seperti premis familiar (dan klise) dari sebuah film horor yang berkisah tentang para mayat hidup? Tunggu dulu. Continue reading Review: One Cut of the Dead (2017)

Review: Creed II (2018)

Dikabarkan akan menjadi seri terakhir dimana Sylvester Stallone memerankan karakter ikoniknya, Rocky Balboa, Creed II memiliki linimasa pengisahan yang memiliki latar belakang waktu tiga tahun semenjak deretan konflik yang dikisahkan pada Creed (Ryan Coogler, 2015). Dikisahkan, rentetan kemenangan yang berhasil diraih oleh petinju Adonis Creed (Michael B. Jordan) bersama dengan pelatihnya, Rocky Balboa (Stallone), ternyata menarik perhatian seseorang yang berasal dan berhubungan dengan masa lalu Adonis Creed dan Rocky Balboa. Seorang mantan petinju asal Rusia, Ivan Drago (Dolph Lundgren) – yang dahulu pernah melawan ayah Adonis Creed, Apollo Creed, dan menyebabkan kematiannya sebelum akhirnya berhasil dikalahkan oleh Rocky Balboa – menawarkan sebuah proposal kepada Adonis Creed agar dirinya melawan anaknya yang juga seorang petinju profesional, Viktor Drago (Florian Munteanu). Usulan tersebut ditentang oleh Rocky Balboa yang menilai bahwa Ivan Drago hanyalah berusaha mencari ketenaran bagi petinju yang dilatihnya sekaligus membalaskan dendam kekalahannya pada dirinya. Namun, kenangan akan kematian sang ayah yang disebabkan oleh Ivan Drago ternyata masih begitu besar membekas pada diri Adonis Creed. Walau tanpa restu Rocky Balboa, Adonis Creed meneriwa tawaran tersebut dan bersiap untuk melawan Viktor Drago. Continue reading Review: Creed II (2018)

Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Merupakan kali pertama Walt Disney Animation Studios memproduksi sebuah sekuel bagi film animasinya setelah sebelumnya merilis Fantasia 2000 (Don Hahn, Pixote Hunt, Hendel Butoy, Eric Goldberg, James Algar, Francis Glebas, Paul Brizzi, Gaëtan Brizzi, 1999) yang merupakan sekuel dari Fantasia (Samuel Armstrong, James Algar, Bill Roberts, Paul Satterfield, Ben Sharpsteen, David D. Hand, Hamilton Luske, Jim Handley, Ford Beebe, T. Hee, Norman Ferguson, Wilfred Jackson, 1940), Ralph Breaks the Internet kembali menempatkan sutradara Wreck-It Ralph (2012), Richard Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan bantuan dari Phil Johnston yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village, 2017). Layaknya sebuah sekuel, Ralph Breaks the Internet memberikan sebuah semesta pengisahan yang lebih luas bagi karakter-karakternya namun tetap mempertahankan elemen cerita tentang persahabatan yang telah menjadi fokus utama semenjak film pendahulunya. Tidak mengherankan bila Ralph Breaks the Internet mampu hadir dengan tata pengisahan dan karakterisasi yang lebih berwarna sekaligus dengan ikatan emosional kepada penonton yang lebih kuat. Continue reading Review: Ralph Breaks the Internet (2018)

Review: Robin Hood (2018)

Hollywood sepertinya belum merasa puas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang dapat mereka raih dengan kisah legenda Robin Hood. Setelah sebelumnya Ridley Scott merilis versinya pada tahun 2010 – dengan dibintangi nama-nama besar seperti Russell Crowe, Cate Blanchett, hingga Oscar Isaac, Léa Seydoux, Mark Strong, William Hurt, dan Max von Sydow – saduran teranyar dari kisah sang pahlawan rakyat jelata dari tanah Inggris tersebut kini hadir lewat film berjudul sama garapan sutradara asal Inggris, Otto Bathurst. Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara yang lebih dikenal sebagai sutradara bagi serial televisi seperti Peaky Blinders dan Black Mirror ini, Robin Hood mencoba menghadirkan penyegaran pada beberapa sudut pengisahan dan karakterisasi Robin Hood yang memang telah begitu familiar tersebut. Cukup menyegarkan… walau dengan durasi pengisahan yang mencapai hampir 120 menit, Robin Hood terasa mencuri waktu yang terlalu banyak untuk menjabarkan deretan konflik yang sebenarnya cukup sederhana dan kurang mendalam. Continue reading Review: Robin Hood (2018)

Review: The Girl in the Spider’s Web (2018)

Pernah membayangkan jika petualangan Lisbeth Salander hadir tanpa pengarahan David Fincher? Atau karakternya diperankan oleh aktris lain selain Rooney Mara? Atau perjalanan ceritanya tidak didampingi oleh iringan musik garapan Trent Reznor dan Atticus Ross? Well… tentu saja, tiga novel pertama seri Millennium buatan Stieg Larsson, The Girl with the Dragon Tattoo, The Girl who Played with Fire, dan The Girl who Kicked the Hornets’ Nest, telah difilmkan sebelum Fincher merilis The Girl with the Dragon Tattoo versinya pada tahun 2011 dengan Noomi Rapace berperan sebagai sang gadis bertato naga. The Girl in the Spider’s Web arahan Fede Álvarez (Evil Dead, 2013) sendiri jelas berada pada tingkatan dan atmosfer pengisahan yang berbeda jika dibandingkan dengan film arahan Fincher maupun tiga film adaptasi seri Millennium pertama yang dibintangi Rapace. Mirip dengan film-film pendahulunya, Álvarez masih mempertahankan atmosfer kelam dan dingin pada penceritaan The Girl in the Spider’s Web. Namun, daripada menghadirkan pengisahan dan karakterisasi yang cenderung kompleks, Álvarez membungkus The Girl in the Spider’s Web menjadi sebuah sajian crime thriller yang cukup apik. And that’s not a bad thing, really. Continue reading Review: The Girl in the Spider’s Web (2018)

Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Jelas tidak mudah untuk tidak memandang sebelah mata terhadap Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah usaha murahan para produsernya untuk meraup kesuksesan komersial dengan cara memanfaatkan elemen nostalgia terhadap salah satu aktris film Indonesia paling ikonik tersebut. Dan jelas bukanlah sebuah prasangka yang salah pula – setidaknya kualitas yang ditampilkan dua seri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (Anggy Umbara, 2016 – 2017) serta Benyamin Biang Kerok (Hanung Bramantyo, 2018) layak mendapatkan prasangka tersebut. Seperti halnya dua film yang telah disebutkan sebelumnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur juga bukanlah sebuah film yang jalan ceritanya mendaur ulang pengisahan yang dahulu pernah ditampilkan dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna. Film ini memilih untuk “mengekploitasi” berbagai karakteristik peran yang membuat Suzzanna menjadi aktris horor Indonesia yang ikonik dan membingkainya dengan struktur pengisahan yang baru – meskipun bukanlah bangunan pengisahan yang benar-benar terasa segar. And strangelyit works pretty well! Continue reading Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Merupakan film kedua dari lima film yang direncanakan akan hadir dalam seri Fantastic Beasts yang naskah ceritanya dikembangkan dari buku Fantastic Beasts and Where to Find Them garapan J. K. Rowling, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald memiliki linimasa yang berlatar waktu pengisahan beberapa bulan setelah terjadinya berbagai konflik yang dikisahkan pada Fantastic Beasts and Where to Find Them (David Yates, 2016). Dikisahkan, penyihir hitam Gellert Grindelwald (Johnny Depp) yang sebelumnya telah ditangkap oleh Magical Congress of the United States of America dengan bantuan Newt Scamander (Eddie Redmayne) kini berhasil melarikan diri dan segera mulai mengumpulkan banyak pengikutnya untuk dapat membantunya mewujudkan ambisi terbesarnya: mengumpulkan seluruh penyihir berdarah murni dan kemudian menguasai seluruh umat manusia. Rencana yang jelas akan menimbulkan perpecahan di dunia sihir tersebut jelas mendapatkan tentangan dari banyak pihak, termasuk dari Albus Dumbledore (Jude Law), yang di masa lalu sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gellert Grindelwald. Percaya bahwa hanya Newt Scamander yang memiliki kemampuan untuk dapat mengalahkan Gellert Grindelwald, Albus Dumbledore akhirnya meminta bantuan pada mantan muridnya tersebut. Continue reading Review: Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald (2018)

Review: Overlord (2018)

Berlatarbelakang kisah pada masa Perang Dunia II, Overlord berkisah mengenai sekelompok pasukan lintas udara dari angkatan bersenjata Amerika Serikat yang ditugaskan untuk menghancurkan sebuah menara radio milik pasukan Jerman yang terletak di sebuah wilayah pedesaan terpencil di negara Perancis. Sial, sebelum mencapai tujuan, pesawat yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh pasukan Jerman dan membuat hanya lima orang dari pasukan tersebut yang tetap bertahan hidup: Corporal Ford (Wyatt Russell) serta empat orang tentara, Ed Boyce (Jovan Adepo), Tibbet (John Magaro), Morton Chase (Iain De Caestecker), dan Dawson (Jacob Anderson). Meskipun dengan jumlah pasukan yang begitu terbatas, Corporal Ford telah bertekad bahwa ia dan pasukannya akan tetap meneruskan misi mereka guna mengalahkan tentara Jerman. Namun, tantangan yang datang bukan hanya sekedar kontak fisik dan senjata dengan pihak lawan. Tanpa disangka, kelima pasukan Amerika Serikat yang tersisa tersebut menemukan sebuah laboratorium rahasia milik para tentara Jerman yang mencoba untuk menciptakan sekelompok pasukan super dengan eksperimen yang mengerikan dan jelas jauh dari kesan manusiawi. Continue reading Review: Overlord (2018)

Review: Dr. Seuss’ The Grinch (2018)

Merupakan adaptasi layar lebar dalam bentuk animasi pertama dari buku anak-anak popular How the Grinch Stole Christmas! yang ditulis oleh Dr. Seuss – namun merupakan kali kedua buku yang sama diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar setelah sebelumnya Ron Howard mengarahkan Dr. Seuss’ How the Grinch Stole Christmas (2000) dalam bentuk live-action dengan Jim Carrey sebagai bintangnya – Dr. Seuss’ The Grinch arahan Scott Mosier dan Yarrow Cheney (The Secret Life of Pets, 2016) harus diakui tidak memberikan dimensi pengisahan baru dari alur pengisahan yang sebelumnya telah diterapkan oleh Dr. Seuss dalam bukunya. Film ini masih setia dengan fokus yang kuat pada karakter The Grinch dan sikap ketidaksukaannya pada suasana Natal. Meskipun begitu, cukup sulit untuk mempertahankan diri dari daya tarik Dr. Seuss’ The Grinch ketika Mosier dan Cheney mampu mengemas filmnya dengan tampilan animasi yang menyenangkan dan penuh warna sekaligus nada pengisahan yang begitu hangat untuk dinikmati untuk seluruh kalangan penonton. Continue reading Review: Dr. Seuss’ The Grinch (2018)