Tag Archives: Review

Review: Last Christmas (2019)

Last Christmas, I gave you my heart. But the very next day you gave it away.

Bayangkan jika Anda adalah seorang penulis naskah sekaliber Emma Thompson yang di waktu senggangnya secara tidak sengaja mendengarkan lagu Last Christmas (1984) milik Wham! dan lantas menginspirasi untuk menuliskan garisan cerita berdasarkan… well… lirik lagu tersebut. Hal ini yang terjadi pada film terbaru arahan Paul Feig (A Simple Favor, 2018), Last Christmas, dimana Thompson bersama dengan penulis naskah Bryony Kimmings mengembangkan barisan lirik dari salah satu lagu bertema Natal terpopular sepanjang masa tersebut menjadi sebuah presentasi kisah drama komedi romantis dengan menempatkan Emilia Clarke dan Henry Golding untuk memerankan dua karakter utamanya. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Meskipun memiliki paruh ketiga pengisahan yang tergolong lemah, Last Christmas berhasil dikemas sebagai presentasi yang dipenuhi dengan banyak momen manis yang akan cukup mampu menggugah sisi emosional para penontonnya. Continue reading Review: Last Christmas (2019)

Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Merupakan sekuel bagi Jumanji (Joe Johnston, 1995) dan dianggap sebagai film ketiga dalam seri film Jumanji setelah Zathura: A Space Adventure (Jon Favreau, 2005) yang juga diadaptasi dari seri buku cerita anak-anak garapan Chris Van Allsburg, Jumanji: Welcome to the Jungle (Jake Kasdan, 2017) mampu memberikan kesuksesan besar bagi Columbia Pictures ketika film tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$960 juta selama masa rilisnya di seluruh dunia. Well… tentu saja tidak mengejutkan ketika setahun kemudian Columbia Pictures mengumumkan bahwa pihaknya akan memproduksi sekuel bagi Jumanji: Welcome to the Jungle dengan Kasdan kembali duduk di kursi penyutradaraan serta Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart, dan Karen Gillan turut kembali untuk menghidupkan karakter sentral yang mereka perankan. Seperti yang dapat diungkapkan dari judulnya sendiri, Jumanji: The Next Level, film ini memang menjanjikan untuk menghadirkan tingkat kesenangan yang lebih banyak dari film pendahulunya. Tujuan yang lumayan mampu dapat dipenuhi – meskipun dengan beberapa garapan yang sepertinya menahan kualitas presentasi film ini untuk melangkah lebih jauh. Continue reading Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Review: 21 Bridges (2019)

Merupakan film layar lebar pertama yang diarahkan Brian Kirk setelah mengarahkan Middletown di tahun 2006, 21 Bridges adalah sebuah film aksi yang jalan ceritanya berfokus pada seorang detektif yang bertugas di New York Police Department, Andre Davis (Chadwick Boseman). Walau di kalangan kepolisian dirinya memiliki reputasi sebagai sosok yang terlalu mudah untuk menggunakan senjata dalam setiap aksinya, Andre Davis tidak terbantahkan adalah sosok polisi yang tangguh, cerdas, serta sering menjadi andalan dalam penyelesaian banyak kasus. Kehandalan Andre Davis tersebut kemudian digunakan ketika dua orang perampok, Michael Trujillo (Stephan James) dan Ray Jackson (Taylor Kitsch), melakukan aksinya di sebuah toko penjual minuman beralkohol yang lantas berakhir tragis ketika tindakan kriminal tersebut berujung dengan adu tembak yang menewaskan sejumlah polisi. Awalnya, tentu saja, Andre Davis mengira dirinya akan mendalami sebuah kasus perampokan sekaligus pembunuhan. Namun, kasus tersebut kemudian berkembang lebih luas dan melibatkan sejumlah orang dari pihak aparat hukum yang ternyata telah menyalahi kekuasaannya. Continue reading Review: 21 Bridges (2019)

Review: Dark Waters (2019)

Sebagai sebuah film, presentasi cerita yang dihadirkan Dark Waters mungkin akan mengingatkan banyak penontonnya pada sebuah film lain yang memiliki persamaan tema cerita. Bukan, film ini tidak memiliki pengisahan yang serupa dengan (atau bahkan merupakan sekuel dari) film horor yang dibintangi Jennifer Connelly, Dark Water (Walter Selles, 2005). Alur cerita Dark Waters yang berkisah tentang seorang pengacara yang berusaha untuk menuntut sebuah perusahaan industri raksasa akibat keteledoran mereka dalam menangani limbah yang lantas menyebabkan pencemaran lingkungan sekaligus penyakit pada masyarakat yang bersinggungan langsung dengan limbah tersebut jelas akan menghadirkan nostalgia dari pengisahan Erin Brockovich (Steven Soderbergh, 2000) yang dahulu berhasil memenangkan Julia Roberts kategori Best Actress in a Leading Role di ajang The 73rd Annual Academy Awards. Juga mendasarkan naskah ceritanya pada sebuah kisah nyata, layaknya Erin Brockovich, Dark Waters juga akan memaparkan bagaimana sifat tamak manusia telah menjadi senjata yang tidak hanya mematikan diri sendiri namun juga merusak orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Continue reading Review: Dark Waters (2019)

Review: The Good Liar (2019)

Setelah Mr. Holmes (2015), sutradara Bill Condon kembali bekerjasama dengan penulis naskah Jeffrey Hatcher dan aktor Ian McKellen dalam film The Good Liar. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Nicholas Searle, The Good Liar bercerita mengenai pertemuan antara Roy Courtnay (McKellen) dan Betty McLeish (Helen Mirren) yang terjadi setelah keduanya sama-sama berkenalan di sebuah situs kencan daring. Sama-sama merupakan dua orang yang telah lama kesepian akibat ditinggal oleh sosok pasangan yang begitu mereka sayangi, Roy Courtnay dengan mudah dapat mencuri hati Betty McLeish. Bahkan, begitu jatuh hatinya Betty McLeish terhadap sosok Roy Courtney, wanita yang juga merupakan mantan profesor di Oxford University tersebut tidak segan untuk mengajak Roy Courtnay untuk tinggal bersamanya setelah melihat kondisi apartemennya – sebuah tindakan yang lantas mendapatkan tentangan dari cucu Betty McLeish, Steven (Russell Tovey). Seandainya Betty McLeish mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh cucu kesayangannya tersebut. Continue reading Review: The Good Liar (2019)

Review: Frozen II (2019)

Mungkin tidak ada seorangpun, termasuk Walt Disney Animation Studios sendiri, yang pernah menduga bahwa Frozen (Chris Buck, Jennifer Lee, 2013) akan mampu meraih kesuksesan yang begitu luar biasa. Merupakan adaptasi dari dongeng klasik karya Hans Christian Andersen yang berjudul The Snow Queen, Frozen tidak hanya berhasil mencapai kesuksesan komersial belaka ketika film tersebut meraup pendapatan sebesar lebih dari US$1 milyar pada masa penayangannya di seluruh dunia serta album musik temanya yang berisi lagu-lagu semacam Let It Go, Do You Want to Build a Snowman?, Love is an Open Door, dan For the First Time in Forever mampu terjual lebih dari sepuluh juta keping. Film yang juga berhasil memenangkan dua penghargaan di ajang The 86th Annual Academy Awards, termasuk kategori Best Animated Feature, tersebut juga menjelma menjadi sebuah fenomena sosial dalam skala global ketika alur kisahnya, lirik lagu-lagunya, hingga karakter-karakter serta gaya berbusana mereka menjadi perbincangan sekaligus ikon bagi para penikmat budaya pop di seluruh penjuru dunia. Fenomenal! Continue reading Review: Frozen II (2019)

Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Setelah Silenced (Hwang Dong-hyuk, 2011) dan Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016), Gong Yoo dan Jung Yu-mi kembali beradu akting dalam film Kim Ji-young, Born 1982 yang sekaligus menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Kim Do-young. Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Cho Nam-joo, Kim Ji-young, Born 1982 berkisah mengenai kehidupan pernikahan dari pasangan Jung Dae-hyun (Gong) dan Kim Ji-young (Jung) yang mulai mengalami gejolak setelah keduanya mendapatkan anak pertama mereka. Kim Ji-young bukannya tidak senang ataupun bahagia dengan kondisi rumah tangganya. Namun, di tengah rutinitas hariannya sebagai seorang ibu rumah tangga, Kim Ji-young mulai merindukan berbagai kesibukannya ketika dirinya masih menjadi seorang wanita karir. Terbeban dengan pemikiran tersebut, rasa depresi mulai menghampiri kesehatan mental Kim Ji-young yang, tentu saja, memberikan rasa khawatir yang mendalam kepada suaminya. Tidak ingin kehilangan istri yang begitu ia cintai, Jung Dae-hyun kemudian berusaha untuk memberikan perhatian penuh pada Kim Ji-young sekaligus mencari tahu jalan keluar agar dapat membahagiakan sang istri. Continue reading Review: Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Review: Ford v Ferrari (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jez Butterworth (Spectre, 2015), John-Henry Butterworth (Edge of Tomorrow, 2014), dan Jason Keller (Escape Plan, 2013) berdasarkan kisah nyata mengenai persaingan antara dua pabrikan mobil terbesar di dunia, Ford Motor Company dan Ferrari, di tahun 1960an, Ford v Ferrari memulai tuturan ceritanya ketika Ford Motor Company gagal untuk membeli Ferrari ketika perusahaan mobil asal Italia tersebut sebenarnya sedang membutuhkan aliran dana segar. Tidak ingin kehilangan muka, Ford Motor Company lantas membuka divisi balapan mobil dengan harapan untuk dapat bersaing atau bahkan mengalahkan Ferrari di ajang balapan mobil tertua di dunia, 24 Hours of Le Mans. Demi mewujudkan ambisi tersebut, Ford Motor Company bekerjasama dengan Carroll Shelby (Matt Damon), mantan pembalap mobil yang pernah memenangkan ajang 24 Hours Le Mans yang kini memiliki sebuah perusahaan perakit mobil bernama Shelby American, serta seorang teknisi bernama Ken Miles (Christian Bale) yang telah lama menjadi teknisi pendamping bagi Carroll Shelby selama masa karirnya sebagai seorang pembalap. Membangun sebuah divisi baru jelas bukanlah sebuah hal yang mudah. Carroll Shelby dan Ken Miles bahkan harus berhadapan dengan para petinggi Ford Motor Company yang mulai ikut campur tangan terhadap banyak keputusan kritikal yang harus mereka ambil. Continue reading Review: Ford v Ferrari (2019)

Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Masih ingat dengan Rumah Kentang (2012)? Film horor garapan Jose Poernomo yang mendasarkan kisahnya pada urban legend mengenai rumah yang selalu beraroma kentang bernuansa mistis di malam hari? Mungkin tidak banyak yang (masih mau) mengingat film yang juga menandai kali pertama Shandy Aulia terlibat dalam sebuah film horor tersebut – Aulia kemudian melanjutkan karirnya sebagai aktris dengan membintangi sederatan film horor yang mendominasi filmografinya. Ketika dirilis, Rumah Kentang mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari banyak kritikus film yang memberikan sorotan tajam pada kualitas penulisan naskah ceritanya. Meskipun begitu, film yang juga menjadi film pertama yang diproduksi oleh Hitmaker Studios tersebut tetap mampu mengumpulkan lebih dari 400 ribu penonton dan menjadikannya sebagai salah satu film horor dengan jumlah penonton terbanyak di tahun 2012. Berkaca dari kesuksesan minor tersebut, tujuh tahun semenjak perilisan Rumah Kentang dan terlepas dari fakta bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan sekuel bagi film tersebut, Hitmaker Studios merilis Rumah Kentang: The Beginning yang kali ini menempatkan Rizal Mantovani (Kuntilanak 2, 2019) di kursi penyutradaraannya. Continue reading Review: Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Review: 99 Nama Cinta (2019)

Setelah Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016) dan Bangkit! (Rako Prijanto, 2016), Acha Septriasa dan Deva Mahenra kembali tampil bersama dalam terbaru arahan Danial Rifki (Melbourne Rewind, 2016) yang berjudul 99 Nama Cinta. Septriasa berperan sebagai Talia, seorang presenter sekaligus produser sebuah acara infotainmen popular yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa penayangan acaranya harus dihentikan karena tersandung oleh masalah hukum. Tidak berhenti disana, Talia kini juga dialihtugaskan untuk menjadi produser bagi acara reliji yang tayang di pagi hari dan dikenal sebagai program yang paling tidak diminati di stasiun televisi tempatnya bekerja. Pun begitu, Talia tidak menyerah begitu saja. Usahanya untuk menghidupkan acara reliji tersebut kemudian membawanya pada sosok Kiblat (Mahenra) – seorang ustaz muda yang sebenarnya juga merupakan sahabat Talia di masa kecilnya. Meskipun dengan sejarah persahabatan diantara mereka serta hubungan akrab yang terjalin antara orangtua keduanya, perbedaan jalan sekaligus pandangan hidup di masa dewasa membuat Talia dan Kiblat sama-sama terasa tidak pernah akur. Tetap saja, cinta selalu dapat menemukan jalannya untuk mencuri hati setiap insan yang diincarnya. Continue reading Review: 99 Nama Cinta (2019)

Review: Charlie’s Angels (2019)

Meskipun Charlie’s Angels: Full Throttle (McG, 2003) gagal mengikuti kesuksesan – baik dari segi kualitas maupun dari raihan komersial – film pendahulunya, Charlie’s Angels (2000), Columbia Pictures sebenarnya telah lama memiliki rencana untuk memproduksi bagian ketiga dan keempat dari seri film tersebut dengan mempertahankan Cameron Diaz, Drew Barrymore, dan Lucy Liu sebagai para pemeran utamanya. Namun, seiring dengan perjalanan waktu – dan dengan semakin berkurangnya minat produser, pemeran, maupun penonton terhadap kelanjutan seri Charlie’s Angels, Columbia Pictures secara bijaksana akhirnya memilih untuk membatalkan wacana tersebut. Hollywood, tentu saja, tidak akan berpangku tangan terlalu lama ketika melihat potensi emas yang dimiliki Charlie’s Angels khususnya ketika gerakan feminisme mulai kembali menghangat dan mendominasi pembicaraan di kalangan penggerak salah satu industri film terbesar di dunia tersebut. Lebih dari satu dekade semenjak perilisan Charlie’s Angels: Full Throttle, Columbia Pictures mempersiapkan Charlie’s Angels yang naskah ceritanya ditulis sekaligus diarahkan oleh Elizabeth Banks (Pitch Perfect 2, 2015) serta dengan nama-nama seperti Kristen Stewart, Naomi Scott, dan Ella Balinska bertugas untuk memerankan tiga agen rahasianya. Continue reading Review: Charlie’s Angels (2019)

Review: Midway (2019)

Masih ingat dengan peristiwa pengeboman Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor milik Amerika Serikat oleh Angkatan Laut Jepang di tahun 1941 yang lantas memicu keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam Perang Dunia II? Atau… well… masih ingat dengan konflik yang dikisahkan oleh film Pearl Harbor (2001) arahan Michael Bay yang dibintangi Ben Affleck, Kate Beckinsale, dan Josh Hartnett yang mampu mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$450 juta terlepas dari kritikan tajam yang dialamatkan oleh banyak kritikus film dunia? Midway menghadirkan kisah bersejarah tentang keberhasilan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meredam serangan Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Midway yang terjadi enam bulan setelah terjadinya serangan terhadap Pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbor. Pertempuran Midway mungkin tidak sepopular Pengeboman Pearl Harbor bagi kebanyakan masyarakat dunia namun, tetap saja, kisah kepahlawanan pasukan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam melawan serangan pasukan Jepang masih layak untuk diceritakan. Continue reading Review: Midway (2019)

Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)

Dalam film terbaru arahan Kimo Stamboel, Ratu Ilmu Hitam, seorang pria bernama Hanif (Ario Bayu) mengajak istri, Nadya (Hannah Al Rashid), serta ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Adhisty Zara), dan Haqi (Muzakki Ramdhan), berkunjung ke panti asuhan tempat dirinya dahulu dibesarkan untuk menjenguk pengasuh panti tersebut, Bandi (Yayu Unru), yang kini sedang berada dalam kondisi kritis akibat sakit yang ia derita. Hanif dan keluarganya tidak datang sendirian. Dua sahabat Hanif, Jefri (Miller Khan) dan Anton (Tanta Ginting), juga turut datang sembari membawa pasangan mereka masing-masing, Lina (Salvita Decorte) dan Eva (Imelda Therinne). Pertemuan Hanif dengan dua sahabatnya tersebut tentu saja membawa begitu banyak kenangan akan kehidupan mereka di masa lalu. Sial, kunjungan tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi sebuah teror mematikan ketika kepingan-kepingan misteri dari masa lalu Hanif, Jefri, dan Anton hadir kembali untuk menghantui mereka dan orang-orang yang mereka sayangi. Continue reading Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)