Tag Archives: Review

Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Setelah mengarahkan Gundala (2019) – yang direncanakan menjadi awal bagi keberadaan sebuah jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super bertajuk Bumilangit Cinematic Universe, Joko Anwar kembali ke ranah horor lewat Perempuan Tanah Jahanam. Meskipun dirilis setelah Gundala dan Pengabdi Setan (2017) – yang hingga saat ini masih tercatat sebagai film horor Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa, benih pengisahan Perempuan Tanah Jahanam sendiri telah dikembangkan Anwar semenjak sepuluh tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, naskah cerita dari film yang juga direncanakan rilis internasional dengan judul Impetigore itu kemudian mendapatkan polesan yang lebih mendalam pada penataan konflik dan karakternya. Para penikmat film-film Anwar jelas dapat merasakan kehadiran berbagai elemen pengisahan horor yang pernah disentuh sang sutradara dalam film-film yang ia arahkan sebelumnya. Menyenangkan, meskipun presentasi tersebut seringkali tampil lemah akibat balutan cerita yang cenderung kurang matang pengolahannya. Continue reading Review: Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Ketika dirilis lima tahun lalu, Walt Disney Pictures jelas meniatkan agar Maleficent (Robert Stromberg, 2014) dapat memberikan penyegaran pada kisah klasik Sleeping Beauty (Clyde Geronimi, Eric Larson, Wolfgang Reitherman, Les Clark, 1959) – dan, tentu saja, membuka kesempatan bagi rumah produksi tersebut untuk memiliki sebuah seri film komersial yang baru. Alih-alih memberikan fokus penuh pada sosok karakter Aurora, Maleficent justru memilih untuk menghadirkan sebuah sudut pandang baru bagi karakter Maleficent yang awalnya dikenal sebagai sosok antagonis namun kemudian dibentuk dengan karakterisasi baru yang menjelaskan imej buruk yang selama ini melekat pada dirinya. Hasilnya tidak mengecewakan. Meskipun kehadiran Maleficent tidak mendapatkan sambutan yang hangat dari kalangan kritikus film dunia, film yang dibintangi Angelina Jolie tersebut sukses mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$750 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Lima tahun mungkin terasa sebagai jeda waktu yang cukup lama untuk merilis sebuah sekuel namun Walt Disney Pictures jelas tidak akan melepaskan kesempatan begitu saja untuk mendapatkan keuntungan komersial lebih besar dari seri film yang juga menghadirkan penampilan akting dari Elle Fanning ini. Continue reading Review: Maleficent: Mistress of Evil (2019)

Review: The Sky is Pink (2019)

The Sky is Pink adalah film terbaru arahan sutradara Shonali Bose (Margarita with a Straw, 2015). Dengan naskah cerita yang ditulis Bose bersama dengan Nilesh Maniyar – yang juga membantu Bose dalam menuliskan naskah cerita Margarita with a Straw, The Sky is Pink berkisah tentang perjalanan kehidupan romansa pasangan Niren Chaudary (Farhan Akhtar) dan Aditi Chaudary (Priyanka Chopra Jonas) yang dituturkan dari sudut pandang puteri mereka, Aisha Chaudary (Zaira Wasim). Kehadiran Aisha Chaudary dalam kehidupan pernikahan Niren dan Aditi Chaudary sebenarnya cukup mengejutkan dan sempat tidak diharapkan karena catatan sejarah kesehatan kedua pasangan tersebut di masa lampau. Namun, dengan berbagai resiko kesehatan yang dapat saja diderita oleh sang anak, Niren dan Aditi Chaudary memilih untuk mempertahankan keberadaan sang anak dan berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi kebahagiannya. Benar saja. Beberapa tahun semenjak kelahirannya, anak yang kemudian dinamai Aisha Chaudary tersebut didiagnosa lahir tanpa adanya sistem ketahanan tubuh yang normal. Niren dan Aditi Chaudary tidak menyerah dan melakukan segala hal untuk menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Continue reading Review: The Sky is Pink (2019)

Review: The Peanut Butter Falcon (2019)

Masih ingat dengan kisah klasik Adventures of Huckleberry Finn yang ditulis oleh Mark Twain dan dirilis pertama kali di Inggris pada tahun 1884? Well… cerita petualangan seorang karakter anak laki-laki bernama Huckleberry Finn yang melarikan diri dari kehidupannya yang dirasa kelam untuk kemudian bertemu dengan seorang karakter pria bernama Jim dan lantas memulai petualangan bersama guna mencari kebebasan tersebut menjadi sumber inspirasi bagi film yang ditulis dan diarahkan oleh duo sutradara Tyler Nilson dan Mike Schwartz, The Peanut Butter Falcon. Dalam The Peanut Butter Falcon, karakter Huckleberry Finn dihadirkan melalui sosok Zak (Zack Gottsagen) – seorang pemuda penderita Sindrom Down yang memilih melarikan diri dari panti jompo tempatnya dirawat demi mengejar impiannya untuk bertemu dengan seorang pegulat legendaris yang dikenal dengan sebutan The Salt Water Redneck (Thomas Haden Church). Dalam pelariannya, Zak lantas bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf) – penjelmaan bagi karakter Jim dalam kisah Adventures of Huckleberry Finn. Tyler sendiri sedang berada dalam kejaran Duncan (John Hawkes) dan Ratboy (Yelawolf) setelah Tyler secara sengaja membakar seluruh perangkap penangkap kepiting milik keduanya. Tyler awalnya tidak begitu menyukai Zak yang terus mengikuti perjalanannya. Namun, dapat diduga, secara perlahan keduanya mulai membangun persahabatan sekaligus melindungi satu sama lain. Continue reading Review: The Peanut Butter Falcon (2019)

Review: Gemini Man (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh David Benioff (Brothers, 2009), Billy Ray (Overlord, 2018), dan Darren Lemke (Goosebumps, 2015), film terbaru arahan Ang Lee yang berjudul Gemini Man berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran bernama Henry Brogan (Will Smith) yang berniat untuk pensiun dari pekerjaannya seusai melaksanakan tugas terakhirnya. Alih-alih dapat menikmati masa pensiunnya dengan tenang, Henry Brogan lantas mengetahui bahwa dirinya telah menjadi korban pengkhianatan rekan kerjanya yang kini membuatnya dikejar oleh seorang pembunuh bayaran lainnya. Demi menyelamatkan nyawanya, Henry Brogan memulai masa pelarian sembari mulai mengumpulkan informasi lebih banyak mengenai siapa dalang penyebab nasib buruk yang kini mengikutinya. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan. Pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh Henry Brogan memiliki kecerdasan yang menyerupai dirinya, ketangguhan yang menyerupai dirinya, serta… tampilan wajah dan fisik yang juga menyerupai dirinya. Continue reading Review: Gemini Man (2019)

Review: Joker (2019)

Setelah merilis serangkaian film yang diadaptasi dari buku-buku komik yang berkisah tentang kehidupan para pahlawan super, Hollywood secara perlahan mulai mengalihkan perhatian mereka pada sosok-sosok penjahat yang harus dihadapi oleh para pahlawan super tersebut. Warner Bros. Pictures bersama dengan DC Films mengawali langkah tersebut dengan memproduksi Suicide Squad (David Ayer, 2016). Tidak lama berselang, Sony Pictures juga melakukan hal yang sama dan menggandeng Marvel Studios untuk merilis Venom (Ruben Fleischer, 2018). Tidak mengherankan jika kini Joker – yang merupakan sosok karakter penjahat legendaris sekaligus salah satu musuh bebuyutan bagi sosok Batman dalam seri komik terbitan DC Comics – mendapatkan perlakuan cerita yang sama. Namun, Joker yang diarahkan oleh Todd Phillips (The Hangover Part III, 2013) disajikan dalam warna dan ritme pengisahan yang jelas jauh berbeda jika dibandingkan dengan Suicide Squad maupun Venom. Suram, lamban, serta penuh dengan muatan politis yang jelas akan meninggalkan kejutan yang mendalam bagi setiap penontonnya. Continue reading Review: Joker (2019)

Review: Bebas (2019)

Sunny mungkin merupakan salah satu film drama komedi bertema persahabatan terbaik sekaligus paling hangat yang pernah diproduksi oleh industri film Korea Selatan. Dirilis pada tahun 2011, film arahan sutradara Kang Hyeong-cheol tersebut tidak hanya berhasil meraih kesuksesan secara komersial – dengan pendapatan sebesar US$51.1 juta, Sunny merupakan film dengan raihan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2011 dan menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan hingga saat ini – namun juga mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus film serta meraih sembilan nominasi di ajang The 48th Annual Grand Bell Awards dan memenangkan dua diantaranya, Best Director dan Best Editing. Seperti halnya kesuksesan Miss Granny (Hwang Dong-hyuk, 2015) – yang di Indonesia diadaptasi dan dirilis dengan judul Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Sunny lantas diadaptasi menjadi film layar lebar di sejumlah negara lain. Kolaborasi antara produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza yang sebelumnya telah menghasilkan Athirah (2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) dan Kulari ke Pantai (2018) menangani adaptasi Sunny di Indonesia dan merilisnya sebagai Bebas. Continue reading Review: Bebas (2019)

Review: Ad Astra (2019)

Setelah George Clooney dan Sandra Bullock (Gravity, 2013), Anne Hathaway (Interstellar, 2014), serta Matt Damon (The Martian, 2015), kini giliran Brad Pitt sebagai salah satu alumni departemen akting dari seri film Ocean’s – yang mencakup tiga film arahan Steven Soderbergh; Ocean’s Eleven (2001), Ocean’s Twelve (2004), dan Ocean’s Thirteen (2007), serta Ocean’s 8 (Gary Ross, 2018) – untuk berperan sebagai sosok astronot yang lantas melakukan eksplorasi penjelajahan angkasa luas. Berbeda dengan film-film bertema luar angkasa yang dibintangi rekan-rekannya, Ad Astra yang juga menjadi film terbaru arahan sutradara James Gray (The Lost City of Z, 2017) hadir tanpa tampilan konflik serta karakter yang hingar-bingar dan memilih untuk tampil dengan pengisahan yang terasa intim sekaligus personal – layaknya film-film arahan Gray sebelumnya, tentu saja. Pilihan ini memang membuat presentasi cerita Ad Astra menjadi cenderung kelam. Namun, di saat yang bersamaan, pengarahan Gray mampu menghasilkan banyak momen emosional kuat, menyentuh, serta begitu mengharu-biru. Continue reading Review: Ad Astra (2019)

Review: Good Boys (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi penulis naskah Gene Stupnitsky (Bad Teacher, 2011), Good Boys berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara tiga anak laki-laki, Max (Jacob Tremblay), Lucas (Keith L. Williams), dan Thor (Brady Noon). Menamakan diri mereka sebagai Bean Bag Boys, persahabatan antara Max, Lucas, dan Thor mendapatkan tantangan terbesarnya ketika ketiga anak laki-laki tersebut menghadapi masalah personal mereka masing-masing: Max sedang tergila-gila dan merasa jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Brixlee (Millie Davis), Lucas baru mengetahui bahwa kedua orangtuanya akan segera bercerai, dan Thor mulai menjauhi aktivitas menyanyi yang sebenarnya begitu disukainya akibat rundungan yang ia terima dari beberapa murid popular di sekolah. Ketika mendapatkan undangan ke sebuah pesta yang nantinya juga akan dihadiri oleh Brixlee, Max lantas meminta Lucas dan Thor untuk menemaninya ke pesta tersebut. Sial, ketika sedang bersiap-siap, Max secara tidak sengaja malah merusak perangkat kerja sang ayah yang berharga cukup mahal. Takut kalau dirinya akan mendapatkan hukuman dan lantas tidak diizinkan untuk berangkat ke pesta, Max mulai memutar otak guna mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. Continue reading Review: Good Boys (2019)

Review: Pretty Boys (2019)

Selain menjadi seorang penyanyi dan dokter – dan aktor, jika Anda turut memperhitungkan penampilan singkatnya pada Trinity, The Nekad Traveler (Rizal Mantovani, 2017), Tompi menambah gelar sutradara untuk namanya dengan mengarahkan film layar lebar yang berjudul Pretty Boys. Dengan naskah yang digarap oleh Imam Darto (Coblos Cinta, 2008), Pretty Boys berkisah mengenai perjuangan dua orang pemuda, Rahmat (Deddy Mahendra Desta) dan Anugerah (Vincent Rompies), untuk menggapai mimpi mereka guna menjadi sosok yang terkenal di industri hiburan Indonesia. Kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut tiba-tiba datang ketika Rahmat dan Anugerah ditawari untuk menjadi pembawa acara pendamping bagi sebuah program bincang-bincang di saluran televisi terkenal. Namun, kesempatan tersebut datang dengan sebuah syarat: Produser meminta Rahmat dan Anugerah untuk tampil layaknya para waria. Dengan penampilan tersebut, dan kemampuan berguyon mereka, Rahmat dan Anugerah secara perlahan mulai meraih popularitas mereka. Sayang, di saat yang bersamaan, popularitas tersebut lantas menghadirkan ruang pada hubungan persahabatan mereka. Continue reading Review: Pretty Boys (2019)

Review: Midsommar (2019)

Walau tidak secemerlang atau semengesankan tahun sebelumnya – dimana Jordan Peele merilis Get Out (2017) yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang The 90th Annual Academy Awards, Yorgos Lanthimos menghadirkan The Killing of a Sacred Deer, adaptasi layar lebar dari It (Andy Muschietti, 2017) menjadi film horor terlaris sepanjang masa, Split (2017) yang kembali memamerkan kehandalan tata cerita dan pengarahan M. Night Shyamalan, atau Joko Anwar yang menerapkan standar baru pengisahan horor bagi industri film Indonesia lewat Pengabdi Setan (2017) – rilisan horor di tahun 2018 jelas tidak tampil mengecewakan. Di tengah rilisan semacam A Quiet Place (John Krasinski, 2018), Suspiria (Luca Guadagnino, 2018), atau Annihilation (Alex Garland, 2018), penikmat film dunia menyaksikan kelahiran seorang pencerita kisah-kisah menyeramkan handal terbaru ketika Ari Aster merilis Hereditary (2018). Lewat film yang ia tulis dan arahkan tersebut, Aster mampu mengemas tema yang sebenarnya telah cukup familiar – yang secara kebetulan juga dapat ditemukan pada tiga film horor nasional yang dirilis secara berdekatan; Pengabdi Setan, Kafir (Azhar Kinoi Lubis, 2018), dan Sebelum Iblis Menjemput (Timo Tjahjanto, 2018) – menjadi sajian yang tidak hanya menakutkan namun juga berkelas, khususnya dengan adanya penampilan prima Toni Collette. Tidak salah jika banyak kritikus film menasbihkan film layar lebar perdana Aster tersebut sebagai sebuah film horor klasik yang baru. Continue reading Review: Midsommar (2019)

Review: It Chapter Two (2019)

Dengan linimasa cerita yang berlatar belakang waktu pengisahan pada 27 tahun sejak berbagai teror yang dikisahkan dalam It (Andy Muschietti, 2017), penuturan kisah It Chapter Two dimulai ketika Bill Denbrough (James McAvoy), Ben Hanscom (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richie Tozier (Bill Hader), Stanley Uris (Andy Bean), dan Eddie Kaspbrak (James Ransone) mendapatkan telepon dari Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) yang memperingatkan bahwa teror Pennywise the Dancing Clown (Bill Skarsgård) telah kembali di kota Derry yang sekali lagi ditandai dengan menghilangnya banyak anak-anak di kota tersebut secara misterius. Sesuai dengan janji yang dahulu telah mereka buat, ketujuh anggota Losers’ Club tersebut kemudian berkumpul kembali untuk kemudian saling memutar otak dan menemukan cara yang ampuh untuk melenyapkan teror serta keberadaan Pennywise the Dancing Clown untuk selamanya. Continue reading Review: It Chapter Two (2019)

Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Bahkan semenjak merilis film layar lebar pertama yang diarahkannya, Reservoir Dogs (1992), Hollywood beserta seluruh isi dan pemujanya telah mengetahui bahwa Quentin Tarantino memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan setiap kisah yang ingin diceritakannya. Pilihan untuk menggunakan barisan dialog yang cenderung padat, adegan bernuansa kekerasan yang dieksekusi dengan kesan yang begitu nyata, struktur cerita yang seringkali jauh dari kesan teratur, hingga penggunaan lagu-lagu yang banyak berasal dari era ‘60an hingga ‘70an untuk mengisi banyak adegan filmnya memang membuat film-film arahan Tarantino tidak mudah diakses oleh kalangan penikmat film dalam skala yang lebih besar. Namun, di saat yang bersamaan, kejeniusan Tarantino dalam menggarap setiap filmnya telah membuat berbagai elemen pengisahan yang cenderung tidak biasa tersebut menjadi sebuah ciri khas yang mendorong nama Tarantino untuk dikenal sebagai salah satu sutradara dengan filmografi paling mengesankan di Hollywood. Well… kualitas filmografi yang mengesankan tersebut semakin solid dengan kehadiran film terbarunya, Once Upon a Time in… Hollywood. Continue reading Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)