Tag Archives: Review

Review: Laal Singh Chaddha (2022)

Rasanya tidak ada seorangpun yang mengaku sebagai pecinta sinema yang tidak mengenal barisan kata yang diucapkan oleh Tom Hanks ketika berperan sebagai karakter Forrest Gump dalam film arahan Robert Zemeckis (1994) yang juga berjudul sama.

Mama always said life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Memenangkan 6 kategori, termasuk Best Picture, Best Director untuk Zemeckis, dan Best Actor in a Leading Role untuk Hanks, dari 13 nominasi yang diraihnya pada ajang The 67th Annual Academy Awards sekaligus berhasil mengumpulkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$678 juta di sepanjang masa perilisannya di seluruh dunia, Forrest Gump adalah salah satu film terbesar dan terpopular di tahun 1990an. Continue reading Review: Laal Singh Chaddha (2022)

Review: Bullet Train (2022)

Sutradara Atomic Blonde (2017), Deadpool 2 (2018), dan Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019), David Leitch, kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Bullet Train, sebuah film aksi komedi yang diadaptasi dari novel berjudul Maria Beetle yang ditulis oleh Kōtarō Isaka. Fokus pengisahannya berada pada sosok pembunuh bayaran yang dikenal dengan sebutan Ladybug (Brad Pitt) yang mendapatkan tugas untuk mencuri tas berisi uang sejumlah US$10 juta yang sedang dibawa oleh duo pembunuh bayaran asal Inggris yang dikenal dengan sebutan Tangerine (Aaron Taylor-Johnson) dan Lemon (Brian Tyree Henry) dalam perjalanan kereta api dari kota Tokyo menuju Kyoto. Ladybug dapat dengan mudah menjalankan tugas tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, keberadaannya di kereta api tersebut ternyata mencuri perhatian “sejumlah orang” yang berprofesi dan memiliki niatan yang sama dengan Ladybug. Kekacauan yang jelas akan menjanjikan simbahan darah. Continue reading Review: Bullet Train (2022)

Review: Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Pengabdi Setan (2017) jelas memiliki posisi tersendiri dalam filmografi seorang Joko Anwar. Bukan hanya merupakan film horor supranatural pertama yang diarahkan oleh Anwar, Pengabdi Setan juga menjadi film garapan pertamanya yang berhasil meraih sukses secara komersial semenjak karir penyutradaraannya dimulai lewat Janji Joni (2005). Di sepanjang masa perilisannya, Pengabdi Setan mengumpulkan lebih dari empat juta penonton, memberikannya gelar sebagai film dengan perolehan jumlah penonton terbanyak pada tahun tersebut sekaligus sebagai film horor dengan perolehan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa – sebelum titel tersebut kemudian direbut oleh KKN di Desa Penari (Awi Suryadi, 2022). Kesuksesan masif Pengabdi Setan sepertinya juga memperkenalkan nama Anwar – yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara “kesayangan kritikus film dan sinefil” – pada kalangan penonton film yang lebih luas dan membuka jalan bagi dua film arahan Anwar selanjutnya, Gundala (2019) dan Perempuan Tanah Jahanam (2019), untuk meraih kesuksesan komersial yang berimbang dengan Pengabdi Setan. Continue reading Review: Pengabdi Setan 2: Communion (2022)

Review: Ghost Writer 2 (2022)

Setelah perilisan Gara-gara Warisan (2022) yang menjadi debut pengarahan film cerita panjangnya, Muhadkly Acho kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk Ghost Writer 2 – sekuel bagi Ghost Writer (2019) yang juga merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi Bene Dion Rajagukguk. Tidak hanya sebagai sutradara, Acho juga menggantikan posisi Rajagukguk sebagai penulis naskah film bersama dengan Nonny Boenawan. Rajagukguk – yang baru saja meraih sukses besar lewat film Ngeri-ngeri Sedap (2022) yang ia arahkan – hanya bertugas sebagai produser bagi film ini. Bukan sebuah masalah besar. Seperti halnya yang ditunjukkan Rajagukguk dalam Ghost Writer, Acho juga memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menghidupkan paduan antara horor dan komedi yang dibawakan oleh Ghost Writer 2 – walaupun kemudian terasa terbata dalam pengembangan elemen pengisahan dramanya. Continue reading Review: Ghost Writer 2 (2022)

Review: Decision to Leave (2022)

Menjadi film cerita panjang pertama yang ditulis dan diarahkan oleh Park Chan-wook setelah The Handmaiden (2016), Decision to Leave adalah presentasi yang memadukan unsur misteri dengan romansa dalam balutan intrik serta konflik berlapis yang, tentu saja, selalu dapat diharapkan hadir dalam setiap film garapan Park. Alur pengisahannya berfokus pada sosok karakter Hae-jun (Park Hae-il), seorang detektif kepolisian yang begitu menikmati pekerjaannya, khususnya ketika ia harus menguntit seorang terduga tersangka dalam kasus yang sedang ditanganinya. Tugasnya tersebut lantas membawa Hae-jun untuk mendalami gerak-gerik Seo-rae (Tang Wei), seorang imigran asal Tiongkok yang suaminya baru ditemukan meninggal dunia. Hasil forensik serta penyelidikan pihak kepolisian sebenarnya menunjukkan bahwa kematian suami dari Seo-rae disebabkan oleh bunuh diri. Namun, insting Hae-jun merasakan ada sesuatu yang janggal dari Seo-rae. Insting yang juga membuat sang detektif secara perlahan tidak dapat melepaskan perhatiannya dari sosok perempuan misterius tersebut. Continue reading Review: Decision to Leave (2022)

Review: Ivanna (2022)

Dengan keberhasilan setiap film yang berada dalam semesta pengisahannya untuk mengumpulkan minimal 1,7 juta penonton – kecuali Asih 2 (Rizal Mantovani, 2020) yang entah mengapa dilepas ke layar bioskop ketika pandemi COVID-19 masih memuncak sehingga “hanya mampu” mendapatkan 300 ribuan penonton, MD Pictures kembali melanjutkan pengembangan teror dari semesta pengisahan Danur dengan Ivanna. Jika dua film Asih dikembangkan dari sosok karakter supranatural yang awalnya dikenalkan pada pengisahan Danur (Awi Suryadi, 2017), maka Ivanna menjadi film sempalan yang didasarkan pada sosok karakter supranatural bernama sama yang sebelumnya sempat muncul pada alur cerita Danur 2: Maddah (Suryadi, 2018). Menempatkan Kimo Stamboel (Ratu Ilmu Hitam, 2019) untuk duduk di kursi penyutradaraan, Ivanna juga menghadirkan unsur slasher yang kental bagi warna penceritaan horornya. Continue reading Review: Ivanna (2022)

Review: Perjalanan Pertama (2021)

Menjadi film cerita panjang ketiga yang naskah ceritanya ditulis dan diarahkan oleh Arief Malinmudo setelah Surau dan Silek (2017) dan Liam dan Laila (2018), Perjalanan Pertama berkisah tentang hubungan antara seorang anak bernama Yahya (Muzakki Ramdhan) dengan kakeknya, Tan (Ahmad Tamimi Siregar), yang menjadi sosok orangtua tunggal dalam kehidupan Yahya dan telah merawat anak laki-laki tersebut semenjak ia kecil. Sekian lama, Yahya terus berusaha untuk menanyakan tentang keberadaan kedua orangtua kandungnya kepada Tan. Jawaban yang terus berubah akan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan secara perlahan menyadarkan Yahya bahwa sang kakek tengah menyembunyikan sesuatu dari masa lalunya. Suatu hari, Tan mengajak sang cucu untuk turut serta mengantarkan cendera mata yang akan menjadi mahar pernikahan dari toko tempat ia bekerja. Perjalanan dengan menggunakan sepeda motor tersebut yang nantinya akan memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan Yahya kepada sang kakek. Continue reading Review: Perjalanan Pertama (2021)

Review: Ranah 3 Warna (2021)

Sepuluh tahun lalu, Affandi Abdul Rachman mencoba untuk menterjemahkan kesuksesan trilogi buku Negeri 5 Menara karangan A. Fuadi dan memulainya dengan mengadaptasi buku pertama dari trilogi tersebut yang juga berjudul sama, Negeri 5 Menara (2012). Hasilnya sebenarnya tidak mengecewakan. Disokong oleh naskah cerita yang dituliskan oleh Salman Aristo, Negeri 5 Menara tampil dengan kualitas presentasi yang cukup mumpuni. Di tahun dimana layar bioskop nasional diramaikan oleh film-film yang alur ceritanya juga diadaptasi dari buku-buku popular – Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012), 5 cm (Rizal Mantovani, 2012), Perahu Kertas (Hanung Bramantyo, 2012) – Negeri 5 Menara juga berhasil mengumpulkan lebih dari 700 ribu penonton di sepanjang masa perilisannya. Capaian komersial yang tidak buruk – meskipun terlihat “minimalis” khususnya ketika Negeri 5 Menara kala itu digadang untuk mengikuti jejak besar kesuksesan Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008) yang memiliki kedekatan tema cerita. Continue reading Review: Ranah 3 Warna (2021)

Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Rasanya tidak mengherankan jika Marvel Studios mendapuk Taika Waititi untuk kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film keempat Thor, Thor: Love and Thunder. Setelah racikan Alan Taylor untuk Thor: The Dark World (2013) gagal untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan Kenneth Branagh dalam Thor (2011) – yang bahkan menjadikan film tersebut sebagai salah satu produk dengan kualitas terlemah dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Waititi sukses memberikan penyegaran bagi tata penuturan seri film Thor ketika ia menghadirkan Thor: Ragnarok (2017) dengan sentuhan komedi yang begitu menyenangkan sekaligus begitu berbeda dengan tuturan komedi yang sebelumnya pernah ditampilkan oleh film-film yang tergabung dalam semesta pengisahan sinematik milik Marvel. Bekerjasama dengan penulis naskah Jennifer Kaytin Robinson (Unpregnant, 2020), Waititi berusaha untuk mengulang kembali penuturan komikal Thor: Ragnarok sekaligus memadukannya dengan sejumlah paparan dramatis yang bernilai emosional. Dan lumayan berhasil. Continue reading Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Review: Madu Murni (2022)

Diarahkan oleh Monty Tiwa (Layla Majnun, 2021) berdasarkan naskah garapan Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010), Madu Murni memulai linimasa pengisahannya dengan memperkenalkan sang karakter utama, Mustaqim (Ammar Zoni), seorang mantan guru mengaji yang kini bekerja sebagai penagih hutang bersama dengan rekannya, Rojak (Tanta Ginting), demi mendapatkan penghasilan lebih banyak. Sayang, profesi barunya tersebut ditentang oleh sang istri, Murni (Irish Bella). Sebanyak apapun uang yang dibawa pulang oleh Mustaqim, Murni enggan untuk menerima. Kesal dengan perlakuan Murni, Mustaqim memutuskan untuk mencari sosok pendamping yang lebih dapat menerima dirinya. Sosok tersebut ia temukan pada diri Yati (Aulia Sarah), seorang janda muda yang selama ini memang sebenarnya telah menaruh perhatian pada sosok Mustaqim yang memiliki penampilan fisik rupawan. Sial, di malam pertama pernikahan mereka, Mustaqim tidak mampu untuk memberikan kepuasan biologis pada Yati. Hal yang kemudian justru menambah pelik permasalahan dalam kehidupan Mustaqim. Continue reading Review: Madu Murni (2022)

Review: Keluarga Cemara 2 (2022)

Tiga tahun setelah perilisan Keluarga Cemara – adaptasi dari serial televisi berjudul sama garapan Arswendo Atmowiloto yang selama masa rilisnya berhasil mendatangkan lebih dari 1,7 juta penonton serta memenangkan dua dari enam kategori yang dinominasikan dari ajang Festival Film Indonesia 2019, sekuelnya akhirnya datang untuk menyapa. Terjadi sejumlah perubahan di balik layar Keluarga Cemara 2 yang kini menempatkan Ismail Basbeth (Arini, 2018) untuk duduk di kursi penyutradaraan dan mengarahkan naskah cerita yang dituliskan oleh M. Irfan Ramly (Generasi 90an: Melankolia, 2020). Kehadiran Basbeth tak ayal memang memberikan warna baru bagi tata penceritaan film ini. Jika film pertama terasa bertutur layaknya drama keluarga ringan yang mengalir hangat dan cenderung emosional, arahan Basbeth membuat Keluarga Cemara 2 tak lagi (terlalu) lantang dalam menyentuh sisi emosional penontonnya dengan penuturan yang minim konflik besar dan sentuhan simbolisasi yang acap ditemukan dalam karya-karya Basbeth. Continue reading Review: Keluarga Cemara 2 (2022)

Review: Everything Everywhere All at Once (2022)

Tema pengisahan akan intergenerational trauma menjadi bahasan yang cukup alot dalam sejumlah rilisan film belakangan – disajikan dengan warna pengisahan horor oleh film Relic (Natalie Erika James, 2020) dan Umma (Iris K. Shim, 2022), menjadi fokus cerita dalam empat(!) film animasi teranyar rilisan Walt Disney Pictures, Raya and the Last Dragon (Carlos López Estrada, Don Hall, 2021), Luca (Enrico Casarosa, 2021), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), dan Turning Red (Domee Shi, 2022), juga hadir dalam film Gehraiyaan (Shakun Batra, 2022) yang diproduksi Bollywood. Film terbaru garapan Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (Swiss Army Man, 2016) – yang bersama dikenal dengan sebutan Daniels, Everything Everywhere All at Once, juga coba bertutur tentang bagaimana trauma yang dihasilkan oleh pengalaman buruk yang dialami oleh sesosok orangtua di masa lampau dan kemudian secara tidak sadar diteruskan kepada anak-anaknya tersebut. Namun, berbekal pengembangan ide cerita yang liar dan imajinatif, bahasan tadi terbungkus rapi oleh kisah petualangan yang terjadi lintas semesta! Continue reading Review: Everything Everywhere All at Once (2022)

Review: My Sassy Girl (2022)

Ketika dirilis pada dua dekade lalu, kesuksesan besar yang mampu diraih oleh My Sassy Girl (Kwak Jae-yong, 2001) tidak hanya menjadikan film komedi romansa tersebut menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan. Kesuksesan My Sassy Girl, secara perlahan, juga menyebar ke sejumlah negara di berbagai wilayah Asia dan menjadi salah satu momen krusial bagi Korean wave yang menandai kebangkitan minat dunia atas berbagai produk kultur pop yang berasal dari Korea Selatan – yang, tentu saja, kemudian terus meningkat hingga mendominasi dunia hiburan hingga saat ini. Keberhasilan film yang dibintangi Jun Ji-hyun dan Cha Tae-hyun itu lantas coba diteruskan dengan sebuah sekuel berjudul My New Sassy Girl (Joh Keun-shik, 2016) – yang, sayangnya, gagal untuk merebut perhatian penikmat film dunia, diadaptasi menjadi serial televisi, serta dibuat ulang oleh sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, India, China, Filipina, dan Indonesia. Continue reading Review: My Sassy Girl (2022)