Tag Archives: Cut Mini

Review: Sweet 20 (2017)

Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya. Continue reading Review: Sweet 20 (2017)

Advertisements

Review: Trinity, the Nekad Traveler (2017)

Diadaptasi dari buku berjudul The Naked Traveler karangan Trinity – yang merupakan kompilasi dari tulisan sang penulis yang sebelumnya telah dipublikasikan dan popular melalui blognya yang bernama sama, Trinity, The Nekad Traveler berkisah bagaimana usaha Trinity (Maudy Ayunda) untuk menyeimbangkan kehidupan kesehariannya dengan kegemarannya untuk bertualang ke banyak tempat baru. Seringkali, Trinity merasa bahwa kehidupannya sebagai seorang pekerja kantoran menghalangi hasratnya untuk lebih sering menjelajah dunia. Namun, di saat yang bersamaan, Trinity terpaksa bertahan karena ia masih sangat membutuhkan penghasilan yang ia dapatkan dari perusahaan tempat ia bekerja. Dalam dilema antara bertahan dengan pekerjaan atau mengejar terus hasrat pribadinya tersebut, Trinity secara perlahan justru mulai menyadari berbagai hal mengenai kepribadiannya yang semakin membuatnya yakin untuk menentukan pilihan arah dalam kehidupannya. Continue reading Review: Trinity, the Nekad Traveler (2017)

Review: Arisan! 2 (2011)

Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.

Continue reading Review: Arisan! 2 (2011)