Tag Archives: Alexa Key

Review: Insya Allah Sah (2017)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015) berdasarkan buku yang berjudul sama karya Achi TM, Insya Allah Sah berkisah tentang pertemuan yang tidak disengaja antara Silvi (Titi Kamal) dengan Raka (Pandji Pragiwaksono) ketika mereka terjebak di dalam sebuah lift yang sedang bermasalah. Dalam kepanikannya, Silvi lantas bernazar bahwa jika ia dapat keluar dengan selamat maka ia akan berubah menjadi sosok muslimah yang lebih taat akan aturan dan perintah Tuhan. Tidak lama setelah ia mengucapkan nazar tersebut, pintu lift pun terbuka dan Silvi dapat bertemu kembali dengan kekasihnya, Dion (Richard Kyle). Kejadian tersebut bahkan mendorong Dion untuk segera melamar Silvi. Tanpa disangka-sangka, Raka, seorang sosok pemuda yang lugu dan religius, kemudian menghubungi Silvi dan terus mengingatkannya akan nazar yang telah ia ucapkan. Dorongan Raka agar Silvi segera menjalankan nazarnya secara perlahan mulai mengganggu kehidupan Silvi dan rencana pernikahannya dengan Dion. Continue reading Review: Insya Allah Sah (2017)

Advertisements

Review: Sweet 20 (2017)

Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya. Continue reading Review: Sweet 20 (2017)

Review: Romeo + Rinjani (2015)

romeo-rinjani-posterLooks can be deceiving… Jika, dengan menilai penampilan poster film ini, Anda mengira bahwa Romeo + Rinjani akan hadir dengan kisah petualangan beberapa karakter yang berpetualang di liarnya alam Gunung Rinjani a la 5 cm (2012) atau Sagarmatha (2013), maka bersiaplah untuk kecewa. Sesungguhnya, cukup sulit untuk menilai apa yang sebenarnya diinginkan oleh Fajar Bustomi lewat film ini. Romeo + Rinjani menawarkan begitu banyak warna penceritaan dalam deretan konflik film ini – mulai dari drama, romansa, komedi hingga thriller – yang sayangnya kemudian gagal untuk dieksplorasi dan akhirnya membuat setiap konflik dalam film ini gagal untuk berkembang dan berkisah dengan baik. Bukan sebuah presentasi yang teramat buruk namun jelas masih jauh dari kesan memuaskan.

Romeo + Rinjani sendiri berkisah mengenai Romeo (Deva Mahenra), seorang fotografer tampan yang memiliki kemampuan untuk menarik perhatian setiap wanita yang didekatinya. Sial, salah satu wanita yang ia kencani, Raline (Kimberly Ryder), kemudian hamil dan menuntut pertanggungjawabannya. Walau merasa berat, Romeo menyetujui permintaan Raline untuk menikahinya seusai dirinya selesai melaksanakan tugasnya untuk mengambil gambar di wilayah Gunung Rinjani. Dalam perjalanan tugasnya tersebut, Romeo lantas bertemu dengan gadis cantik bernama Sharon (Alexa Key) yang jelas kemudian menggoda perhatian Romeo. Romeo dan Sharon, yang ternyata seorang pecinta kegiatan petualangan, kemudian memutuskan untuk berangkat menjelajahi Gunung Rinjani bersama. Sebuah keputusan yang mungkin akan disesali Romeo dalam seumur hidupnya kelak.

Kesalahan jelas tidak selayaknya dibebankan penuh di pundak Fajar Bustomi sebagai seorang sutradara. Naskah film yang ditulis oleh Angling Sagaran jelas memegang peranan penting bagi kedangkalan penampilan penceritaan film ini. Romeo + Rinjani sebenarnya memulai kisahnya dengan baik, menyentuh beberapa ide cerita yang tergolong segar bagi sebuah film Indonesia – sebuah film yang anti pernikahan? – hingga karakter utama dengan karakteristik yang jelas akan sulit disukai oleh banyak penontonnya. Namun, secara perlahan, awal yang menjanjikan tersebut kemudian berubah menjadi sajian yang sukar dinikmati dengan baik akibat pengembangan konflik-konfliknya yang kurang matang. Warna penceritaan film mulai hadir silih berganti dengan jalan cerita yang hadir tanpa konsistensi yang kuat. Membingungkan, khususnya ketika setiap konflik yang tersaji terasa hadir hanyalah sebagai deretan sketsa belaka tanpa pernah mampu digambarkan sebagai penceritaan yang kuat maupun utuh.

Kedangkalan penceritaan jelas juga memberikan pengaruh pada karakter-karakter yang tersaji dalam jalan cerita film. Banyak karakter yang akhirnya tampil tanpa adanya pendalaman yang jelas, termasuk dua karakter pendukung utama yang diperankan Kimberly Ryder dan Alexa Key. Kedua karakter tersebut nyaris hadir hanya sebagai plot device untuk memberikan permasalahan dalam kehidupan sang karakter utama. Lebih dari itu, penonton sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dalam siapa karakter tersebut meskipun keduanya memiliki peran yang cukup krusial dalam jalan cerita. Begitu pula dengan karakter-karakter lain yang terlihat hilir mudik di dalam jalan penceritaan film tanpa pernah mendapatkan ruang pengisahan yang tepat.

Departemen akting Romeo + Rinjani sendiri diisi deretan pemeran muda dengan penampilan yang tidak mengecewakan. Deva Mahenra, yang mendapatkan peran utama perdananya di film ini, mampu menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan sebagai aktor utama yang kuat bagi banyak film Indonesia di masa mendatang. Alexa Key dan Kimberly Ryder sendiri tampil dalam penampilan yang sesuai dengan kapasitas akting mereka. Tidak istimewa, namun jelas bukanlah dua penampilan yang buruk. Sayang, kedangkalan penulisan karakter dalam film ini menghalangi setiap aktor yang berperan di dalamnya untuk dapat tampil lebih lugas lagi dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. [C-]

Romeo + Rinjani (2015)

Directed by Fajar Bustomi Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Angling Sagaran Starring Deva Mahenra, Kimberly Ryder, Alexa Key, Donna Harun, Fico Fachriza, Ryn Chibi, Novi Chibi, Gary Iskak, Ananda Faturrahman, Sam Brodie, Sammy Not a Slim Boy, Sandrinna Michelle Skornicki, Uus, Amel Alvie, Iranty Purnamasari, Gani Kurniawan, Jefan Nathanio, Adjis Doaibu Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography Paps Bill Siregar Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 80 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Garuda: The New Indonesian Superhero (2015)

Garuda-Superhero-posterDalam industri yang dipenuhi dengan adaptasi novel, biopik tokoh-tokoh yang (dianggap mampu) menginspirasi, deretan drama romansa hingga komedi (yang seringkali dijual dengan menambahkan bumbu-bumbu adegan panas), pilihan untuk membuat dan merilis sebuah film Indonesia yang bertemakan superhero jelas adalah sebuah pilihan usaha yang (teramat) berani. Tidak hanya harus berhadapan dengan pertanyaan apakah film tersebut memiliki pangsa pasar yang mencukupi di kalangan penonton film Indonesia namun juga harus berhadapan langsung dengan ekspektasi bahwa film-film pahlawan super haruslah mampu setara (atau mendekati) kualitas film-film pahlawan super yang diadaptasi dari seri komik rilisan Marvel maupun DC. Singkatnya, membuat sebuah film Indonesia bertemakan pahlawan super adalah sebuah tantangan sangat besar yang sepertinya akan sulit (tidak mungkin?) ditaklukkan dalam industri film yang harus diakui kini dalam kondisi yang begitu lemah.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, beberapa sineas Indonesia telah mendeklarasikan bahwa mereka sedang menggarap film-film bertemakan pahlawan super modern Indonesia dan siap untuk merilisnya tahun ini. Film bertemakan superhero pertama yang dirilis tahun ini adalah Garuda: The New Indonesian Superhero. Film karya sutradara debutan yang menyebut namanya x.Jo ini sebenarnya telah direncanakan rilis pada akhir tahun 2014 lalu. Namun, entah dengan alasan apa, perilisan film ini kemudian diundur menjadi awal tahun 2015. Berkaca dari apa yang dihasilkannya untuk Garuda: The New Indonesian Superhero, x.Jo sebenarnya telah memiliki visi dan usaha yang kuat untuk dapat membentuk sebuah film yang bertemakan pahlawan super yang layak diharapkan kehadirannya oleh para penonton film Indonesia. Sayangnya, visi dan usaha yang kuat tidak lantas menjadikan sebuah film memiliki kualitas unggul. Sebuah film yang layak tonton harusnya mampu digarap dengan kemampuan yang layak juga. Disinilah letak kelemahan terbesar dari Garuda: The New Indonesian Superhero.

Sejujurnya, film-film bertemakan pahlawan super bukanlah sebuah film yang menuntut adanya naskah cerita yang benar-benar cerdas maupun kompleks – meskipun dua film superhero teranyar karya Marvel Studio, The Avengers (2011) dan Guardians of the Galaxy (2014), mampu membuktikan hal yang sebaliknya. Tetap saja, naskah cerita, merupakan tulang punggung paling esensial dalam sebuah film. Anda dapat melupakan fakta bahwa Indonesia masih memiliki sumber daya manusia dan teknologi animasi yang lemah dengan mudah untuk dapat memaafkan bahwa Garuda: The New Indonesian Superhero hadir dengan tampilan visual yang seringkali tampil… well… buruk. Namun ketika naskah cerita juga dihadirkan sama buruknya, berbagai kelemahan yang terdapat dalam Garuda: The New Indonesian Superhero benar-benar tidak dapat lagi diindahkan begitu saja. Naskah Garuda: The New Indonesian Superhero, yang juga ditulis oleh x.Jo hadir dengan tatanan cerita dan plot yang benar-benar kacau. Karakter-karakter dalam film ini seringkali muncul dan hilang begitu saja. Begitu pula dengan plot penceritaannya yang sama menyedihkan kondisinya.

Arahan x.Jo juga harus diakui terasa lemah dalam penceritaan film ini. Penonton, yang mungkin telah sering menyaksikan film-film superhero sejenis, dapat dengan mudah menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan film ini. Sayangnya, kombinasi antara tata produksi, naskah cerita dan pengarahan x.Jo yang lemah membuat Garuda: The New Indonesian Superhero tampil begitu menyiksa untuk diikuti. Hal ini masih ditambah dengan penampilan aktor utama Rizal Al-Idrus yang berperan sebagai sang pahlawan yang tampil dengan kemampuan akting berkapasitas nol. Terlihat kaku dan awkward di banyak adegan plus daya tarik yang sama sekali tidak dapat diandalkan. Nama-nama besar seperti Agus Kuncoro, Slamet Rahardjo, Robby Sugara dan Rudy Salam yang melengkapi departemen akting film ini juga tersia-siakan kehadirannya.

Menyaksikan film ini secara keseluruhan adalah seperti melihat pemandangan seseorang yang begitu bertekad untuk maju ke medan perang dengan semangat menggebu-gebu namun dengan keahlian dan perlengkapan yang benar-benar minim. Sebuah usaha yang patut dihargai? Tentu saja. Namun tetap tidak akan mengubah fakta bahwa orang tersebut akan mati dengan sia-sia di medan perang dalam waktu yang tidak begitu lama. Itulah, sayangnya, yang terjadi pada Garuda: The New Indonesian Superhero. [D-]

Garuda: The New Indonesian Superhero (2015)

Directed by x.Jo Produced by H.R. Dhoni Al-Maliki Ramadhan Written by x.Jo Starring Rizal Al-Idrus, Slamet Rahardjo, Agus Kuncoro, Robby Sugara, Rudy Salam, Alexa Key, Kia Poetri, Inzalna Balqis, Jacob Maugeri, Roy Chunonk, Tya Arifin, Diaz Ardiawan, Panca Prakoso, Wiwing Dirgantara, Elkie Kwie, Pieter Gultom, Ivanka Suwandi, Linda Nirmala, Jefan Nathanio, Denny Baskar, Yusuf Mansur Music by Aghi Narottama Cinematography Yoyok Budi Santoso Edited by x.Jo, Aristo Pontoh, Yoga Krispratama Studio Putaar Films, Sultan Sinergi Indonesia, Garuda Sinergi Putaar Sinema Running time 85 minutes Country Indonesia Language Indonesian, English