Tag Archives: Mikha Tambayong

Review: Critical Eleven (2017)

Critical Eleven, yang menjadi buku ketujuh yang ditulis oleh novelis Ika Natassa, berhasil membuktikan posisi penulis kelahiran Medan tersebut sebagai salah satu penulis dengan karya yang paling dinantikan oleh banyak penikmat buku di Indonesia. Ketika pertama kali dirilis pada Agustus 2015, buku tersebut berhasil terjual dalam hitungan ribuan eksemplar hanya dalam beberapa menit. Hingga akhir tahun lalu, Critical Eleven bahkan tercatat telah mengalami cetak ulang sebanyak 14 kali. Tidak mengherankan bila novel tersebut kemudian menarik minat banyak produser film Indonesia untuk mengadaptasinya menjadi sebuah film layar lebar. Kini, hampir dua tahun semenjak perilisannya, dengan Chand Parwez Servia dan Robert Ronny bertanggungjawab sebagai produser serta Ronny turut mendampingi Monty Tiwa dalam bertugas sebagai sutradara, versi film Critical Eleven akhirnya dirilis. And ladies and gentlemenit’s easily one of the year’s finest pictures. Continue reading Review: Critical Eleven (2017)

Advertisements

Review: Check-In Bangkok (2015)

check-in-bangkok-posterSetelah Jomblo Keep Smile (2014), sutradara Yoyok Sri Hardianto kembali bekerjasama dengan produser KK Dheeraj untuk memproduksi film komedi Check-In Bangkok. Filmnya sendiri berkisah mengenai hubungan asmara antara Renata (Mikha Tambayong) dan Krish (Saurabh Raj Jain) yang kini terjalin jarak jauh semenjak Krish dipindahtugaskan ke Bangkok, Thailand oleh perusahaan tempatnya bekerja. Suatu hari, Renata, yang ditemani sepupunya, Bejo (Bayu Skak), berkunjung ke Negara Gajah Putih tersebut untuk memberi kejutan pada sang kekasih. Sayang, kesibukan pekerjaan Krish yang begitu padat menghalangi Renata untuk mendatanginya. Renata dan Bejo akhirnya memutuskan untuk berliburan terlebih dahulu di kota tersebut. Dalam perjalanan itulah, Renata kemudian berkenalan dengan Don Glenn (Chris Laurent), seorang pembalap tampan asal Indonesia yang bersama sahabatnya, Quin (Ervan Naro), juga sedang berliburan disana. Dalam waktu singkat, hubungan Renata dan Don Glenn lantas semakin mendekat satu sama lain.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh penceritaan Check-In Bangkok jelas berasal dari penulisan naskah ceritanya yang ditangani oleh Yanto Prawoto, Dian Sukmawan dan Hilman Mutasi. Meskipun tidak istimewa, Check-In Bangkok sebenarnya dimulai tidak mengecewakan dalam mengenalkan karakter-karakter sekaligus konflik awalnya. Namun, ketika jalan cerita mulai berfokus pada perjalanan para karakter utama di Bangkok, Check-In Bangkok sepertinya kehilangan kendali atas apa yang sebenarnya ingin diceritakannya. Durasi penceritaan kemudian diisi dengan adegan para karakter mengunjungi berbagai lokasi wisata di Bangkok – yang sama sekali tidak relevan dengan jalan cerita utama film ini – serta guyonan-guyonan dangkal yang datang dari karakter Bejo dan Quin – yang kemudian terasa mengambil alih penceritaan dari para karakter utama.

Dan memang, kualitas penceritaan Check-In Bangkok tidak pernah kembali pulih kondisinya. Fokus penceritaan terus terbagi dua antara kisah cinta segitiga dari karakter Krish, Renata dan Don Glenn serta deretan guyonan yang hadir dari karakter Bejo dan Quin. Begitu terus menerus. Kedatangan karakter lain yang memperumit kisah cinta antara Krish dan Renata juga sama sekali tidak membantu. Karakter yang bernama Nabila tersebut justru terkesan membingungkan dengan digambarkan menjadi satu sosok karakter antagonis di satu bagian namun digambarkan dengan karakteristik berbeda pada bagian penceritaan lain. Hal tersebut masih ditambah keputusan para pembuat film ini untuk menyajikan sebuah monolog penutup tentang apa yang terjadi pada masing-masing karakter di akhir film. Tambahan yang sebenarnya sangat, sangat tidak diperlukan mengingat isi dari monolog tersebut yang juga terdengar begitu menggelikan.

Tidak ada masalah berarti dalam penampilan para pengisi departemen akting film ini. Mikha Tambayong, Chris Laurent, Sabrina Piscalia hingga Joehana Sutisna dan Sacha Stevenson yang tampil singkat dalam film ini memberikan penampilan yang tidak mengecewakan. Ervan Naro dan Bayu Skak sendiri dapat disebut sebagai pencuri perhatian utama dalam film ini jika saja naskah cerita film kemudian tidak mengeksploitasi karakter mereka secara berlebihan dan membuat karakter yang mereka perankan menjadi lebih terasa mengganggu daripada menghibur. Kehadiran aktor asal India, Saurabh Raj Jain, dalam film ini jelas untuk menggunakan kepopuleran serial televisi Mahabharata yang ia bintangi di kalangan penonton Indonesia. Perannya sendiri sebenarnya tidak begitu esensial, bahkan dapat digantikan oleh aktor mana saja. Pun begitu, Saurabh Raj Jain juga tampil dengan penampilan akting yang sesuai dengan kebutuhan karakter yang ia perankan. [D]

Check-In Bangkok (2015)

Directed by Yoyok Sri Hardianto Produced by KK Dheeraj Written by Yanto Prawoto, Dian Sukmawan, Hilman Mutasi Starring Saurabh Raj Jain, Mikha Tambayong, Chris Laurent, Bayu Skak, Ervan Naro, Joehana Sutisna, Sacha Stevenson, Sabrina Piscalia Music by Yovial Tripurnomo Virgi Cinematography Riski Dwipanca Edited by Andhy Pulung Production company K2K Production Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Slank Nggak Ada Matinya (2013)

slank-gak-ada-matinya-header

Jika Generasi Biru (2009) yang disutradarai oleh Garin Nugroho, John De Rantau dan Dosy Omar adalah sebuah film musikal eksperimental yang dibuat untuk memperingati 25 tahun perjalanan karir bermusik Slank, maka Slank Nggak Ada Matinya mungkin akan lebih tepat dilihat sebagai retrospektif terhadap 30 tahun keberadaan Slank di industri musik Indonesia dengan jalan penceritaan yang lebih berfokus pada setiap pribadi yang mengisi kelompok musik tersebut. Berbeda dengan Generasi Biru dimana masing-masing personel Slank turut berlaku sebagai pemeran utama dalam film tersebut, Slank Nggak Ada Matinya menempatkan Adipati Dolken, Ricky Harun, Aaron Shahab, Ajun Perwira dan Deva Mahendra yang masing-masing berperan sebagai para personel Slank. Lalu, apakah kelima aktor muda Indonesia tersebut mampu memerankan serta menghidupkan karakter para personel Slank yang semenjak lama dikenal sebagai sosok yang cukup eksentrik tersebut?

Continue reading Review: Slank Nggak Ada Matinya (2013)

Review: Fallin’ in Love (2012)

Jelas akan ada beberapa kekhawatiran bagi sebagian orang sebelum mereka menyaksikan Fallin’ in Love: film drama romansa ini diarahkan oleh Findo Purnomo HW – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Love in Perth (2010), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Ayah, Mengapa Aku Berbeda (2011), naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio – yang bertanggungjawab atas keberadaan jalan cerita film Air Terjun Pengantin (2009), Lihat Boleh, Pegang Jangan (2010) dan Pupus (2011), serta diproduseri oleh Firman Bintang – yang, sejujurnya, sama sekali belum pernah menjadi seorang produser bagi film yang dapat disebut berkualitas. Tiga kombinasi yang berbahaya dan… Anda dapat menebak bagaimana kualitas akhir Fallin’ in Love bahkan semenjak sepuluh menit pertama film ini dimulai.

Continue reading Review: Fallin’ in Love (2012)