Tag Archives: Erick Estrada

Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Ketika pertama kali dirilis pada tahun 2003, buku Jakarta Undercover karangan Moammar Emka berhasil menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pecinta literatur Indonesia, khususnya karena buku tersebut berisi kumpulan cerita yang dengan berani mengangkat berbagai sisi kehidupan seksual warga Jakarta yang selama ini masih belum banyak diketahui atau malah dianggap tabu untuk dibicarakan. Emka kemudian melanjutkan kesuksesan bukunya dengan menerbitkan dua seri Jakarta Undercover lainnya, Jakarta Undercover 2: Karnaval Malam yang dirilis pada tahun 2006 serta Jakarta Undercover 3: Forbidden City yang hadir setahun setelahnya. Layaknya banyak novel sukses lainnya, Jakarta Undercover menarik perhatian produser Erwin Arnada yang berniat untuk mengadaptasi buku tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Dengan bantuan penulis naskah Joko Anwar, versi film dari Jakarta Undercover yang diarahkan oleh Lance dan dibintangi Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar serta Christian Sugiono akhirnya dirilis pada awal tahun 2007. Sayang, terlepas dari banyaknya perhatian yang diberikan pada versi film dari Jakarta Undercover akibat deretan permasalahan yang harus dihadapi film tersebut ketika berhadapan dengan Lembaga Sensor Film, Jakarta Undercover mendapatkan reaksi yang tidak begitu menggembirakan, baik dari banyak kritikus film maupun para penonton film Indonesia. Continue reading Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Advertisements

Review: Pizza Man (2015)

pizza-man-posterDalam Pizza Man, tiga orang gadis yang saling bersahabat baru saja melalui salah satu hari terburuk dalam kehidupan mereka: Olivia (Joanna Alexandra) dipecat dari pekerjaannya karena ia tidak mau melayani godaan pimpinan tempat ia bekerja, Nina (Karina Nadila) menerima kabar buruk bahwa kekasihnya lebih memilih untuk kembali ke istrinya daripada berusaha mempertahankan hubungan mereka sementara Merry (Yuki Kato) dijodohkan oleh ibunya dengan seorang pemuda yang sama sekali tidak ia sukai. Untuk melupakan segala permasalahan mereka, ketiganya lantas memilih untuk bersenang-senang dengan mengkonsumsi alkohol dan narkotika. Dalam keadaan setengah sadar akibat bahan makanan yang mereka konsumis, ketiga gadis tersebut kemudian menyusun rencana untuk membalaskan rasa frustasi mereka terhadap kaum pria yang sering dianggap mengecewakan mereka: mereka akan menculik seorang pria secara acak dan lantas memperkosanya. Ide brilian… hingga akhirnya mereka tersadar keesokan harinya dan menemukan sesosok pria dalam keadaan tidak bernyawa lagi di rumah yang mereka tempati.

Harus diakui, naskah cerita Pizza Man yang digarap oleh Gandhi Fernando dan R. Danny Jaka Sembada menawarkan sebuah jalinan kisah komedi yang cukup berani dan berbeda jika ingin dibandingkan dengan kebanyakan film-film komedi Indonesia lainnya. Kedua penulis naskah tersebut sepertinya mencoba untuk mengaplikasikan kegilaan plot cerita yang dahulu pernah disajikan The Hangover (Todd Phillips, 2009) dengan karakter-karakter wanita yang mampu berbuat maupun berkata-kata kotor seperti yang pernah dikreasikan Paul Feig pada karakter-karakternya dalam film Bridesmaids (2011) – dengan, tentu saja, sentuhan kearifan lokal di berbagai bagian penceritaannya. Namun, di saat yang bersamaan, naskah cerita Pizza Man garapan Gandhi Fernando dan R. Danny Jaka Sembada juga memberikan sebuah pertanyaan baru bagi banyak penontonnya: sejauh apakah sebuah guyonan masih dapat disebut sebagai guyonan maupun komedi yang layak?

Guyonan tentang perbuatan perkosaan jelas bukanlah sebuah hal yang layak untuk dipandang sebelah mata. Pernah mendengar anekdot bahwa, berbeda dengan wanita, kaum pria justru akan menikmati jika dirinya diperkosa oleh seorang wanita? Well… penulis naskah cerita Pizza Man sepertinya menggunakan anekdot tersebut dalam jalan cerita filmnya dan menganggap bahwa well… ide mengenai sebuah tindakan seksual yang dipaksakan pada seseorang adalah suatu hal yang lumrah terjadi – jika korbannya adalah seorang pria. Guess what? It’s not! Tindakan perkosaan, baik jika terjadi pada seorang wanita ataupun seorang pria, tetap adalah sebuah tindakan perkosaan. Yang lebih ironis lagi, kedua penulis naskah film ini dengan “cerdasnya” justru memberikan latar belakang pada salah satu karakter wanitanya sebagai karakter yang menderita trauma dan tekanan mental akibat pernah menjadi korban pelecehan seksual. DAN SANG WANITA TERSEBUT KEMUDIAN JUSTRU TURUT SERTA DALAM PERCOBAAN PERKOSAAN PADA SEORANG PRIA ASING YANG TIDAK DIKENALNYA. Come on! Jalan cerita sebuah film komedi (mungkin harusnya) tidak perlu dianggap serius. Namun guyonan dalam sebuah komedi jelas masih memiliki batas. Pernah mendengar guyonan tentang perkosaan dalam The Hangover atau Bridesmaids? Nope. Sekasar atau sevulgar apapun guyonan yang disajikan dalam kedua film tersebut, ataupun banyak komedi berating dewasa buatan Hollywood lainnya, perkosaan jelas adalah satu hal yang tidak akan pernah dianggap sebagai sebuah guyonan yang layak untuk disajikan.

Jika ingin melupakan kesalahan fatal tentang guyonan tidak berkelas yang tersaji dalam beberapa bagian film ini, Pizza Man sebenarnya merupakan sebuah film yang tergarap dengan cukup baik. Naskah cerita film ini memang masih memiliki kelemahan di beberapa eksekusi plot penceritaannya namun sutradara Ceppy Gober mampu mengarahkan cerita filmnya dengan ritme yang berjalan cepat – cukup sesuai dengan nada penceritaan yang dibutuhkan oleh film-film komedi sejenis. Ceppy Gober juga berhasil mengarahkan ketiga pemeran utama filmnya untuk menghasilkan chemistry yang cukup erat dan meyakinkan antara ketiga karakter yang mereka perankan. Harus diakui, pada beberapa bagian – khususnya pada pengisahan drama, ketiga pemeran utama film memang masih hadir dengan penampilan yang goyah. Namun secara keseluruhan, ketiganya mampu tampil baik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan.

Pizza Man juga menghadirkan sederetan aktor, aktris maupun selebritis untuk tampil dalam porsi penceritaan yang terbatas dalam jalan ceritanya. Beberapa penampilan tersebut hadir dalam kesan yang cukup dipaksakan – we’re looking at you, Bran Vargas and Derby Romero – namun kebanyakan diantaranya justru mampu tampil mencuri perhatian dan menjadi bagian yang cukup menghibur dari film ini. Lihat saja penampilan Babe Cabiita atau duo Chika Waode dan Kemal Palevi yang sangat prima dan bahkan layak untuk diberikan porsi penceritaan yang seharusnya lebih besar lagi. Tidak ada permasalahan yang cukup berarti dalam sisi teknikal film ini – seluruhnya mampu dieksekusi dengan cukup baik. Seandainya Pizza Man dapat dihadirkan dengan naskah cerita yang lebih cerdas lagi dalam mengolah guyonannya mungkin film ini akan mampu tampil sebagai sebuah film komedi yang istimewa. [C-]

Pizza Man (2015)

Directed by Ceppy Gober Produced by Laura Karina, Gandhi Fernando Written by Gandhi Fernando, R. Danny Jaka Sembada Starring Joanna Alexandra, Yuki Kato, Karina Nadila, Gandhi Fernando, Chika Waode, Kemal Palevi, Babe Cabiita, Dhea Ananda, Rangga Djoned, Bran Vargas, Hengky Solaiman, Zerny Rusmalia, Dennis Adhiswara, Meisya Siregar, Novita Angie, Dicky Adam, Reza Headline, Wandahara, Fitri Ayu Maresa, Bubah Alfian, Allan Wangsa, Johan Morgan Purba, Mike Ethan, Erick Estrada, Derby Romero Music by Andhika Triyadi Cinematography Laura Karina Editing by Heytuta Masjhur Studio Renee Pictures/Flicker Production Running time 83 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Rock N Love (2015)

rock-n-love-posterMengikuti jejak beberapa kelompok musik lain seperti Wali (Baik Baik Sayang, 2011), Ungu (Purple Love, 2011), Slank (Slank Gak Ada Matinya, 2013), Cherrybelle (Love Is U, 2011) dan JKT48 (Viva JKT48, 2014), Kotak merilis sebuah film berjudul Rock N Love sebagai salah satu media untuk mempromosikan album terbaru mereka. Berada di bawah arahan sutradara debutan Hedy Suryawan, Rock N Love sayangnya tidak mampu berbicara banyak tentang kepribadian maupun musikalitas kelompok musik yang terbentuk dari sebuah ajang pencarian bakat pada tahun 2004 tersebut. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Syamsul Hadi (Heartbreak.Com, 2009) justru hadir dengan penyampaian yang menyerupai opera sabun akan kisah cinta masing-masing personel Kotak hingga paduan yang kurang pas akan komedi yang seringkali terasa hadir tidak pada tempatnya.

Dengan judul Rock N Love, film ini jelas berusaha mengangkat dua sisi tersebut dari kelompok Kotak. Bagian “rock” dari jalan cerita film digambarkan dalam alur kisah perseteruan antara Kotak dengan kelompok musik The Rebel Youth dalam sebuah kompetisi musik bertajuk Jakarta Distortion Wave. Bagian ini sebenarnya dapat saja digambarkan sebagai sebuah perseteruan antara dua kelompok musik yang menarik – dengan kedua kelompok musik berusaha menampilkan kelebihan musikalitas masing-masing. Sayangnya, Rock N Love justru memilih untuk menghadirkan persaingan tersebut sebagai persaingan yang terasa personal antara masing-masing anggota kedua kelompok musik tersebut. Yang lebih menggelikan adalah bagaimana film ini menggambarkan setiap anggota kelompok The Rebel Youth sebagai sosok yang begitu mudah untuk meledak: Mereka berteriak, marah, melemparkan barang-barang, berkelahi, mengeluarkan kalimat sumpah serapah pada siapa saja kapanpun mereka mau. Tanpa ada penyebabnya. Begitu berlebihan – seperti halnya akting Ganindra Bimo dalam usahanya untuk menghidupkan karakter vokalis The Rebel Youth, Rotor.

Yang juga berlebihan adalah bagian “love” dari plot naskah cerita film ini. Sebenarnya tidak ada salahnya bagi sebuah film fiksi yang berkisah mengenai sebuah kelompok musik untuk menggali kehidupan romansa masing-masing anggota kelompok musik tersebut. Namun apa yang tersaji dalam Rock N Love terasa terlalu kekanak-kanakan untuk karakter-karakternya (dan penontonnya?) yang jelas telah berusia lebih dewasa. Lihat saja bagaimana konflik romansa dangkal dari karakter Tantri dan kekasihnya, Robin (Vino G. Bastian), yang sepertinya tidak kunjung ada habisnya di sepanjang film. Atau bagaimana karakter Cella yang digambarkan begitu patah hati ketika sang kekasih meninggalkan dirinya lalu kemudian dengan mudah berpaling dengan wanita lain yang baru dikenalnya. Konflik-konflik dangkal semacam inilah yang membuat Rock N Love begitu sulit untuk disukai pengisahannya.

Penempatan unsur komedi dalam jalan cerita Rock N Love juga terasa kurang begitu efektif. Kehadiran beberapa karakter yang memang sedari awal seperti diniatkan untuk menghadirkan unsur komedi secara perlahan mulai terasa mengganggu ketika karakter-karakter tersebut menghadirkan komedi slapstick dalam durasi yang terlalu banyak. Hal ini masih ditambah lagi dengan penggarapan dialog dan karakter yang seringkali hadir terlalu dangkal, khususnya karakter Aldi yang digambarkan sebagai manajer dari kelompok musik Kotak. Penggambarannya sebagai sosok yang (terlalu) cinta damai seringkali lebih sering mengundang cibiran daripada rasa kagum penonton ketika karakter tersebut mengeluarkan dialog-dialog yang sepertinya terinspirasi dari Mario Teguh. Penampilan Denny Sumargo yang sepertinya juga meniru tokoh motivator tersebut dalam setiap penyampaian dialognya juga sama sekali tidak membantu untuk membuat karakter Aldi menjadi lebih terasa alami kehadirannya.

Sepenuhnya buruk? Tidak juga. Sebagai sebuah penampilan akting perdana, masing-masing personel Kotak terasa telah cukup mampu tampil dalam kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Vino G. Bastian yang hadir dalam porsi peran dan penceritaan yang minimalis juga mampu membuktikan bahwa dirinya mampu mencuri perhatian dengan penampilan akting yang kuat bahkan lewat peran yang sedikit. Berbicara mengenai musik, lagu-lagu yang dihadirkan Kotak dalam film ini setidaknya akan tetap mampu memberikan hiburan bagi para penontonnya, bahkan bagi mereka yang sedari awal bukanlah seorang Kerabat Kotak – sebutan Kotak bagi para penggemar mereka. [C-]

Rock N Love (2015)

Directed by Hedy Suryawan Produced by Sandy Tanarius, Hedy Suryawan, Ayu Indirawanty Written by Syamsul Hadi Starring Tantri, Cua, Cella, Denny Sumargo, Ganindra Bimo, Putri Una, Erwin Moron, Coki Bollemeyer, Axel Andaviar, Spencer Jeremiah, Reynold Hamzah, Mono, Erick Estrada, Shae, Vino G. Bastian Music by Tommy Cinematography Tono Wisnu Edited by Lucky Rais Production company Apollo Pictures Running time 92 minutes Country Indonesia Language Indonesian