Review: Sweet 20 (2017)


Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya.

Terdengar seperti premis yang telah begitu familiar? Yep. Sweet 20 adalah adaptasi terbaru dari film produksi Korea Selatan arahan Hwang Dong-hyuk berjudul Miss Granny yang meraih sukses besar, baik secara kritikal maupun komersial, ketika dirilis di negara asalnya pada tahun 2014. Kesuksesan tersebut kemudian menginspirasi rumah produksi CJ Entertainment untuk bekerjasama dengan beberapa rumah produksi di sejumlah negara untuk memproduksi adaptasi dari Miss Granny seperti 20 Once Again (Leste Chan, 2015) yang dirilis di Republik Rakyat Tiongkok, Sweet 20 (Phan Gia Nhat Linh, 2015) yang dirilis di Vietnam, Ayashii Kanojo (Nobuo Mizuta, 2016) yang dirilis di Jepang, Suddenly 20 (Araya Suriharn, 2016) yang dirilis di Thailand serta beberapa adaptasi lain yang sedang diproduksi dan dijadwalkan untuk rilis di Filipina dan Amerika Serikat. Lalu apa yang membuat Sweet 20 arahan Harahap menjadi sebuah suguhan drama komedi yang istimewa?

Tentu saja, kekuatan utama setiap adaptasi Miss Granny adalah kemampuan dari film-film tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap kultur negara tempat perilisan film. Upi (Pertaruhan, 2017), sebagai penulis naskah Sweet 20, mampu melampaui hambatan tersebut. Upi memang tidak melakukan perubahan yang terlalu radikal terhadap pola penceritaan yang telah disediakan oleh Miss Granny. Namun, Upi secara cerdas berhasil meng-Indonesia-kan Miss Granny, memberikan sentuhan lokal akan perspektif mengenai keluarga maupun hubungan antara setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita sekaligus memberikan pengembangan yang cukup kuat pada banyak bagian pengisahan film. Kecerdasan penggarapan naskah cerita Upi bahkan mampu membuat beberapa elemen penceritaan yang kurang begitu efektif pada Miss Granny menjadi tampil lebih dinamis dan menghibur pada Sweet 20.

Keberhasilan Sweet 20 juga tidak lepas dari kehandalan Harahap dalam menterjemahkan naskah cerita garapan Upi. Dengan naskah cerita yang dipenuhi oleh dialog-dialog komedi, pilihan untuk menyajikan Sweet 20 dalam ritme pengisahan yang cukup cepat jelas merupakan sebuah keputusan yang bijaksana. Hampir separuh dari 110 menit durasi penceritaan Sweet 20 berisi elemen komedi yang akan mampu membuat penonton film ini tertawa lepas di kursi mereka. Pengarahan Harahap sendiri bukannya hadir tanpa cela. Setelah paruh awal penceritaan yang diisi dengan elemen komedi yang kental, Harahap terasa mengalami sedikit hambatan dalam mengubah haluan pengisahan yang mulai bernada drama pada paruh berikutnya. Sweet 20 sempat terasa datar dan kehilangan sentuhan emosionalnya pada masa-masa tersebut namun, untungnya, Harahap mampu secara cepat mengangkat kembali atmosfer pengisahan dan bahkan menjadikan paruh akhir Sweet 20 menjadi sebuah sajian penceritaan keluarga yang begitu menyentuh.

Kesuksesan pengarahan Harahap tidak hanya tercermin dari kelancaran penceritaan Sweet 20. Harahap juga berhasil menyajikan filmnya dengan kualitas departemen produksi dan akting yang berkelas. Pemilihan warna terang dan cemerlang yang menghiasi tiap adegan film memang begitu sesuai dengan sang karakter utama yang memiliki penampilan retro pop a la pemuda di tahun 1970an. Departemen artistik juga memastikan bahwa tata rias dan busana setiap karakter dalam film ini hadir dengan meyakinkan. Sweet 20 juga dihiasi dengan lagu-lagu pop Indonesia klasik seperti Payung Fantasi, Selayang Pandang, Layu Sebelum Berkembang atau Bing yang diaransemen ulang oleh komposer Aghi Narottama dan dinyanyikan kembali oleh Saphira. Harahap membuat sebuah pilihan yang cerdas dengan menampilkan barisan lirik lagu ketika lagu-lagu tersebut tampil dalam beberapa adegan film. Sangat menyenangkan!

Salah satu bagian paling krusial dari Miss Granny dan barisan film adaptasinya adalah pemilihan pemeran utama yang tepat mengingat sang karakter utama merupakan nyawa yang membawa dan mampu mengalirkan jalan penceritaan secara utuh. Saphira adalah aktris handal yang berhasil memenuhi kriteria tersebut. Dalam sebuah penampilan yang jelas akan mendefinisikan karir akting Saphira di masa yang akan datang – sekaligus meroketkan namanya ke jajaran aktris muda papan atas Indonesia, Saphira tampil dengan penuh pesona, daya tarik dan energi yang luar biasa mengikat. Chemistry yang ia jalin bersama dengan para lawan mainnya juga begitu kuat. Para jajaran pemeran pendukung film seperti Karim, Julio, Rahardjo dan Lukman Sardi hadir dalam kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Para pemeran pendukung dengan karakter minor atau sebenarnya kurang tereksplorasi dengan baik seperti Oey, Widyawati Sophiaan, Cut Mini, Alexa Key dan Tika Panggabean juga mampu diberikan kesempatan untuk bersinar dalam karakter mereka. Sebuah kualitas yang akhirnya semakin mempersolid posisi Sweet 20 sebagai drama komedi yang manis, hangat dan jelas sangat, sangat menyegarkan. [B]

sweet-20-film-indonesia-tatjana-saphira-movie-posterSweet 20 (2017)

Directed by Ody C. Harahap Produced by Chand Parwez Servia Written by Upi (screenplay), Shin Dong-ik, Hong Yun-jeong, Dong Hee-seon (original screenplay, Miss Granny) Starring Tatjana Saphira, Niniek L. Karim, Morgan Oey, Kevin Julio, Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Cut Mini, Widyawati Sophiaan, Alexa Key, Tika Panggabean, Nina Kozok, Ardit Erwandha, Tommy Limmm, Febby Rastanty, Vicky Nitinegoro, Karina Nadila, Barry Prima, Rina Hassim, Rima Melati, Henky Solaiman, McDanny, Erick Estrada, Randhika Djamil, Aira Sondang, Joehana Sutisna, Chrissie Vanessa, Rudy Wowor, Regina Rengganis, Paulina Silitonga Music by Aghi Narottama Cinematography Padri Nadeak Edited by Aline Jusria Production company Starvision/CJ Entertainment Running time 110 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

2 thoughts on “Review: Sweet 20 (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s