Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)


Desir pasir di padang tandus

Hampir satu dekade semenjak masa perilisan film perdananya, kisah cinta sejuta umat – well… tiga juta lima ratus delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh tujuh jika ingin menghitung jumlah raihan penonton yang berhasil didapatkan Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008) – kembali hadir untuk melanjutkan pengisahannya. Masih diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, jalan cerita Ayat-ayat Cinta 2 tidak lagi berputar di sekitar melodrama kisah cinta segitiga antara Fahri, Maria, dan Aisha. Melalui novelnya, El Shirazy sepertinya ingin menjangkau tema pengisahan yang lebih luas atau universal mengenai cinta – meskipun, tentu saja, dengan tetap menggunakan sebuah alur kisah cinta sebagai jangkarnya. Sebuah tujuan yang dapat dirasakan… ummm… mulia namun sayang hadir dengan eksekusi yang terlalu mentah.

Dengan naskah cerita yang digarap bersama oleh Alim Sudio (A: Aku, Benci, & Cinta, 2017) dan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, 2017), Ayat-ayat Cinta 2 melanjutkan kisah perjalanan hidup sang karakter utama, Fahri (Fedi Nuril), yang kini telah tinggal menetap di Edinburgh, Skotlandia, dan bekerja sebagai dosen di salah satu universitas ternama di kota tersebut. Di kota tersebut, Fahri tinggal bersama dengan asistennya, Hulusi (Pandji Pragiwaksono), setelah ia ditinggal oleh Aisha yang menghilang dan tidak diketahui keberadaannya semenjak berangkat ke Palestina. Ditinggal oleh sang istri, banyak wanita yang sebenarnya menaruh hati pada sosok Fahri yang tampan, cerdas, dan berakhlak mulia. Namun, Fahri masih meninggalkan ruang cinta di hatinya untuk Aisha seorang. Hingga akhirnya datanglah Hulya (Tatjana Saphira), gadis cantik yang sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Aisha. Hubungan Fahri dan Hulya secara perlahan berjalan semakin dekat. Fahri bahkan mulai berniat untuk meminang Hulya untuk menjadi pendamping hidupnya.

Sinopsis diatas sendiri sebenarnya tidak mampu menggambarkan secara utuh mengenai berbagai konflik yang ingin disampaikan oleh film ini. Alur penceritaan Ayat-ayat Cinta 2 bahkan masih diisi dengan segudang plot sekunder dan karakter yang menghiasi 125 menit durasi perjalanannya. Mulai dari sekelumit komentar sosial mengenai konflik antara Palestina dan Israel – yang secara tidak terduga ternyata tampil sesuai dengan konflik kedua negara yang sedang memanas saat ini, iklim Islamofobia yang menghadirkan karakter Keira (Chelsea Islan) sebagai tetangga Fahri yang begitu membencinya, hingga permasalahan mengenai hubungan antara Islam dan Yahudi yang menghadirkan pasangan karakter ibu dan anak, Catarina (Dewi Irawan) dan Baruch (Bront Palarae). Deretan plot dan konflik tersebut secara bergantian mengisi alur pengisahan Ayat-ayat Cinta 2 yang sayangnya gagal untuk disajikan sebagai sebuah pengisahan yang utuh dan membuat mereka terlihat bagaikan sketsa atau potongan-potongan kisah yang disatukan dengan tujuan untuk menonjolkan (baca: glorifikasi) sang karakter utama. Kelemahan inilah yang sebagian besar menyebabkan Ayat-ayat Cinta 2 tidak pernah terasa benar-benar kuat mengikat, khususnya pada paruh pertama penceritaan.

Naskah cerita harus diakui memang menjadi elemen terlemah dalam pengisahan Ayat-ayat Cinta 2. Usaha untuk menggambarkan karakter Fahri sebagai sosok pahlawan yang dapat mengatasi berbagai masalah yang datang dari berbagai sudut kehidupannya secara perlahan justru terasa membuatnya terkesan menjadi sosok suci ketika karakter tersebut hadir tanpa pengembangan yang berarti. Fokus (berlebihan) yang diberikan pada karakter tersebut juga seringkali membuat konflik dan plot lainnya dalam film ini terkesan terkesampingkan begitu saja. Sebuah kejutan yang dihadirkan pada paruh ketiga penceritaan bahkan tampil begitu absurd – jika tidak ingin disebut sebagai pilihan cerita yang benar-benar menggelikan.  Beruntung, sutradara film ini, Guntur Soeharjanto (Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea, 2016), entah bagaimana masih berhasil untuk mampu membuat film ini tampil dengan elegan. Potongan-potongan kisah yang tampil dalam Ayat-ayat Cinta 2 memang jauh dari kesan sempurna namun Soeharjanto cukup berhasil mengolah tiap potongan cerita tersebut dengan ritme pengisahan yang tepat sehingga film ini tidak pernah terasa menjemukan kehadirannya.

Soeharjanto juga berhasil mendukung kualitas pengarahannya dengan penataan teknikal yang kuat. Gambar-gambar yang dihadirkan Yudi Datau hadir dengan kesan sinematikal yang begitu memikat dalam menangkap keindahan alam Edinburgh. Komposisi musik garapan Tya Subiakto dan Krisna Purna juga hadir dengan orkestrasi yang tepat dan tidak pernah terasa berlebihan maupun terlalu sentimental dalam melengkapi setiap adegan film. Dan yang paling utama, Ayat-ayat Cinta 2 hadir dengan departemen akting yang sangat, sangat solid. Nuril, Saphira, Islan, Dewi Sandra, Pragiwaksono, Irawan, Palarae, Nur Fazura, dan bahkan Arie Untung menyajikan penampilan terbaik mereka untuk film ini. Pujian khusus rasanya layak disematkan pada Saphira. Seperti penampilannya di Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Saphira hadir dengan penampilan yang bersinar hangat. Banyak momen-momen terbaik film ini terasa menjadi lebih baik ketika Saphira terlibat di dalamnya.

Sejujurnya, cukup sulit untuk benar-benar membenci Ayat-ayat Cinta 2. Kualitas pengarahan, teknikal, serta penampilan akting yang disajikan dalam film ini berada dalam tingkatan kualitas yang memuaskan – kualitas yang lebih layak untuk disajikan dalam film-film yang naskah penceritaannya jelas jauh lebih baik dari naskah cerita film ini. Ayat-ayat Cinta 2 akan bekerja sangat baik bagi para penggemar Ayat-ayat Cinta dan novel garapan El Shirazy. Selebihnya, Ayat-ayat Cinta 2 tampil tidak lebih dari sekedar usaha untuk mengulang kembali sebuah kesuksesan fenomenal tanpa pernah terasa hadir dengan esensi yang diperlukan. [D]

ayat-ayat-cinta-2-film-indonesia-movie-posterAyat-ayat Cinta 2 (2017)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Manoj Punjabi Written by Alim Sudio, Ifan Ismail (screenplay), Habiburrahman El Shirazy (novel, Ayat-ayat Cinta 2) Starring Fedi Nuril, Tatjana Saphira, Chelsea Islan, Dewi Sandra, Nur Fazura, Pandji Pragiwaksono, Arie Untung, Cole Gribbs, Dewi Irawan, Bront Palarae, Timo Scheunemann, Melayu Nicole, Lera Netesa, Millane Fernandez, Jihane Almira, Nino Fernandez, Syifa Hadju, Sellen Fernandez, Mathias Muchus, Tabah Penemuan, Dian Nitami, Thalia Prisia Music by Tya Subiakto, Krisna Purna Cinematography Yudi Datau Edited by Cesa David Luckmansyah Production company MD Pictures Running time 125 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

4 thoughts on “Review: Ayat-ayat Cinta 2 (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s